Marco Kusumawijaya tentang Gerakan Middle Class yang Disokong Media Sosial

Penggunaan media sosial meningkat. Kelas menengah meningkat. Urbanisasi meningkat. Apa hubungan antara ketiganya?

Bagian terbesar kelas menengah sebuah negara terletak di kota-kota besar. Demikian juga bagian terbesar tingkat pertumbuhannya, terjadi di kota-kota besar. Media sosial, sebagaimana sambungan Internet, paling banyak digunakan di kota-kota besar.

Logika klasik perkotaan kembali berlaku: makin tinggi kepadatan penduduk, makin mampu mereka berbagi makin banyak prasarana dan sarana.

Pada satu sisi, suatu masyarakat perkotaan metropolitan mungkin memang memerlukan media sosial untuk menghubungkan diri mereka menjadi suatu kesatuan. Untuk kasus Jakarta lebih-lebih lagi, ketika mobilitas kelas ini nampaknya untuk waktu yang cukup lama tidak akan tertampung oleh sistem yang ada. Berbeda misalnya dengan Tokyo atau Seoul yang didukung sistem angkutan umum yang sangat andal dan dapat dikatakan terbaik di dunia.

Di kota-kota seukuran Tokyo, Jakarta, Seoul dan Sao Paolo, mungkinkah akan muncul kelas menengah yang memiliki sifat yang berbeda dari jaman sebelumnya, karena penggunaan Internet dan media sosial yang dominan ini?

Ada beberapa contoh komunitas online/offline yang baru-baru ini muncul, misalnya @JalanKaki, @KeluaRumah, @PiknikAsik dan @SocialYogaClub.

Gejala yang menarik dan penting adalah gerakan-gerakan online ini sebenarnya cermin dari gerakan-gerakan offline. Tidak benar bahwa mereka tidak nyata. Hal ini sangat tercermin dari nama-namanya, yang semuanya menunjukkan kegiatan di dalam ruang nyata perkotaan. Ini berarti media sosial sudah berperan membantu (bila bukan membentuk) komunitas-komunitas perkotaan yang nyata, yang langsung berkepentingan dengan kualitas ruang kota.

Mereka juga bercirikan hal yang mendasar: kepentingan sekuler, bukan identitas primordial.

Tiga komunitas pertama yang disebut di atas bahkan telah berkolaborasi pameran foto di @pictfest. Melalui kolaborasi dan pertemuan lintas komunitas, mereka sedang dalam proses menjadi “masyarakat kota” yang terdiri dari warga-warga yang memupuk “saling percaya” dan saling mendukung perjuangan masing-masing, karena saling menguntungkan.

Sejauh apa selanjutnya media sosial akan mengubah (kehidupan) metropolis Jakarta? Hanya burung hantu yang tahu jawaban pasti. Tetapi, setidaknya ia telah membantu kelas menengah menjadi ekspresif, fasih, dan tanggap atas ruang-ruang kotanya. Pertanyaan berikut, “sejauh apa kelas menengah dengan bantuan media sosial ini akan efektif mengubah/memperbaiki kota”, juga mungkin baru bisa dijawab beberapa tahun mendatang.

Kelas menengah yang aktif (dengan apapun alatnya, media sosial atau bukan) hanyalah berarti meningkatnya artikulasi dan pengorganisasian serta jumlah permintaan. Seberapa baik sisi suplai (pemerintah, badan-badan perwakilan) akan menanggapinya adalah soal lain sendiri dan yang akhirnya akan menuntukan seberapa jauh kota akan menjadi lebih baik.

Tetapi, untuk sekarang tidak ada ruginya mencoba dan menggalakkannya terus, untuk menjadi modal besar perubahan di masa depan.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

(sumber: http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/kelas-menengah-baru-berbasis-media-sosial.html)

“Yoga Peduli untuk Bumi Sehat”: Mari Kembali pada Mekanisme Alam

Suasana sebelum yoga session

Siang ini jika Anda sempat melintas di Epicentrum Walk, kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Anda disambut dengan sekelompok orang yang asyik beryoga. Tak hanya itu, sejumlah ibu hamil juga terlihat bersama pasangan mereka ikut beryoga bersama di udara pagi yang masih segar.

 

Acara “Yoga Peduli untuk Bumi Sehat” ini digagas oleh komunitas Social Yoga Club bersama dengan Majalah Nirmala, komunitas Gentle Birth dan Respect Magazine.

Didesain untuk mengakomodasi sebanyak mungkin orang, acara dibuka dengan yoga bersama sekitar pukul 7.00 dengan pembagian instruktur sesuai dengan level dan kondisi khusus. Instruktur utama Yudho Widdyantoro dibantu oleh Yanti Warso untuk level advanced, Ay Pieta untuk level beginner, dan Irma untuk ibu-ibu hamil yang ingin mencoba yoga pre-natal.

 

Satu pose atau asana bisa diterjemahkan sesuai kemahiran dan kondisi masing-masing sehingga risiko cedera bisa ditekan. Hal ini menunjukkan bagaimana yoga bisa dipraktikkan oleh siapa saja, usia berapapun juga, dengan kondisi apapun asal, seperti yang selalu dinyatakan oleh Yudhi, seorang manusia itu masih bisa bernafas.

Menuju pukul 9.00, sesi pun berganti dengan sharing yang menghadirkan Reza Gunawan, praktisi healing dan Dewi Lestari serta dimoderatori oleh Dyah Pratitasari yang semuanya sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan konsep gentle birth. Secara singkat, gentle birth sendiri bisa diartikan sebagai sebuah upaya / proses kelahiran yang melibatkan si ibu-ayah, janin dan lingkungannya dengan kesadaran yang lebih tinggi. Dan intinya gentle birth bukan hanya mengenai persalinan normal tetapi bagaimana bersalin dengan lebih alami sesuai kondisi sembari meminimalkan campur tangan medis. Gentle birth bukan menolak kedokteran modern tetapi menempatkannya sebagai pertolongan terakhir yang harus dilakukan jika proses alami tidak bisa berjalan lancar.

 

Di sini kita bisa dapatkan sebuah benang merah antara yoga dan gentle birth: kembali ke alam. Dan alam itu sendiri bukan melulu semua yang ada di luar tubuh kita, tubuh kita sendiri pun adalah bagian tak terpisahkan dari mekanisme alam yang menakjubkan, jauh lebih menakjubkan dari segala produk ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh otak manusia tercerdas sekalipun. Sering kita manusia jaman sekarang lebih mendengarkan ‘asumsi-asumsi’ yang dianggap sebagai dogma yang mutlak kebenarannya, meski harus berbenturan dengan hukum dan mekanisme alam yang sudah ada.

 

Kini, siapapun kita bisa memulai untuk lebih mendengarkan naluri dan nurani kita masing-masing. Jangan hanya karena merasa orang lain merasa kita kurang sesuai standar ‘umum’ maka kita buru-buru memaksakan dengan cara apapun untuk mengubah diri sesuai keinginan pihak enternal dengan melukai diri kita sendiri.

 

Hal ini juga dijumpai dalam yoga maupun dalam peran sebagai orang tua terutama ibu yang mengandung dan melahirkan. Yoga mengajarkan prinsip ahimsa, tidak melakukan kekerasan, dan saat kita mencoba memanipulasi proses alami dalam tubuh kita, maka itu juga serupa dengan melakukan kekerasan. Begitu juga dengan ibu hamil, dengan menyerahkan proses kelahiran dan nasib bayi kepada orang lain meskipun itu dokter kandungan paling ahli atau klinik gentle birth terlengkap sekalipun, jika tidak disertai dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang mantap tentang gentle birth serta kesadaran penuh (mindfulness) atas keinginan alami janin dan ibu, semua itu sia-sia dan sama saja melakukan kekerasan pada janin dan ibu.

 

Sesuai dengan tujuan penyelenggaraan acara, diserahkan pula donasi dari Komunitas Yoga Gembira di depan sekitar 60 orang audiens sebagai saksi. Semula sumbangan akan diserahkan langsung kepada Robin Lim penggagas Klinik Bumi Sehat di Bali yang sudah memfasilitasi kelahiran gratis untuk masyarakat kurang mampu. Namun karena beliau baru saja kembali dari undangan CNN Heroes 2011 maka uang donasi yang terkumpul diberikan secara simbolis oleh Yudhi Widdyantoro selaku pegiat utama Komunitas Yoga Gembira atau Social Yoga Club di Taman Suropati kepada Dyah Pratitasari.

 

 

 

Yoga, Gentle Birth, Charity, Klinik Bumi Sehat, Mothers’ Day and Robin Lim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Robin Lim, the winner of CNN Heroes Awards, is invited to this social event but I don’t hope much she’ll make it as she is planned to come back to Indonesia on Saturday (17/12), a day before this event. But regardless of her presence or absence, this event is dedicated to our women, mothers. Yours and mine. And by the way, I’m a bit disturbed by the typo. I’m Akhlis, not Ahlis.

Getting Disconnected is Fun…and Healthy! (Cell Phone Radiation Controversy)

Years ago, when I was no cell phone user, it came to think of the danger of cellular radiation. I then swore not to use any cell phone. But things changed. More and more of my classmates bought and used cell phones on a daily basis to communicate with each other. And it’s true, someone who doesn’t adopt the current technology may live normally but they’re technically and intelligently left behind. Suddenly what seems tertiary turns primary.

Thank God the calling tariff was still relatively high at the time so we preferred texting to calling. At last, I succumbed. I officially used a cell phone one day in 2003, which was 8 years ago. It was a simple Nokia 3315 phone everyone may know.

Rina, one of my classmates, was always alarmed at us every time she saw us put the cell phone inside our trousers pocket. She yelled,”You can develop cancer by doing so or even worse, get infertile”. Well, then it sounded like she really exaggerated, I dished her seemingly groundless critic. This is the link to the video http://techcrunch.com/2011/11/29/keen-on-how-your-cell-phone-might-be-killing-you-tctv/#ooid=xidDMwMzoC0CHzWB5_BRQXjf-5fxbhQu.

The video above presented Dr. Devra Davis. She revealed some gruesome facts related to the dangers of cell phone radition. And evreyone must listen, I said MUST LISTEN. For the more detailed conversation script, go to http://techcrunch.com/2011/11/29/keen-on-how-your-cell-phone-might-be-killing-you-tctv/#ooid=xidDMwMzoC0CHzWB5_BRQXjf-5fxbhQu

Basically, Dr. Davis advised that we should:

1. Use handsfree more often

2. Not use an active cell phone near our head all night long as an alarm

3. Never use cell phones as a pacifier or toys for kids. They’re more prone to the dangers of radiation.

4. Get disconnected or place your cell phone as far as possible from your body.

And look what I just found! An Android app that helps us avoid getting overly prolonged exposure of cell phone radiation! It’s called TAWKON (www.tawkon.com). I was rushing to go to Android Market and BAMM!!! It says: “YOUR DEVICE IS NOT COMPATIBLE WITH THIS ITEM”. Great….Look forward to  the compatible version though!

<div style=”width:425px” id=”__ss_10484661″> <strong style=”display:block;margin:12px 0 4px”><a href=”http://www.slideshare.net/amitlubovsky/tawkon-droidcon-nl-nov2011&#8243; title=”Tawkon droidcon nl – nov-2011″ target=”_blank”>Tawkon droidcon nl – nov-2011</a></strong>

<div style=”padding:5px 0 12px”> View more <a href=”http://www.slideshare.net/&#8221; target=”_blank”>presentations</a> from <a href=”http://www.slideshare.net/amitlubovsky&#8221; target=”_blank”>Amit Lubovsky</a> </div> </div>

Want an iPad 2 for FREE? Try This Blogging Contest!

 

 

 

This blogging contest run by EECCHI (Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia) offers you an iPad 2 for free so long as you’re chosen the winner. And to be a winner,it takes you at least 6 energy conservation and saving posts on your blog. This is the flyer I just received this afternoon from Astrid, the person in charge I met with last Saturday at Annex Building (10/12).

And because this blog post is about energy saving I think I should end my post now and draft some posts on a sheet of paper instead to save some electricity. No, I’m joking.

Fit Yoga Magz

Temen-temen Yoga yang saya cintai,

 

Di majalah Fit edisi November – yang covernya Dewi Sandra, ada sisipan Fit Yoga yang mengulas banyak tentang dunia peryogaan. Ternyata banyak wajah-wajah yang saya kenal muncul di situ. Ada Devi Asmarani tampil dengan sequence vinyasa, Koko Yoga + Dewi Deera sedang memimpin acara event yoga di Segarra Ancol. Ada juga liputan tentang komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati dengan fotonya teman dari Komunitas Meditasi Bulan Purnama Liang dan Maman sedang berusaha melakukan postur perahu secara berpasangan . Ini dari temen-temen baik yang sudah jadi seperti keluarga bagi saya. Ada juga sih liputan tentang workshop Iyengar Institute serta peresmian Institute itu di Inodonesia yang dihadiri cucu dari BKS Iyengar. Ada tentang Yoga Mala. Pendek kata cukup variatif. Bisa dibilang memperliahatkan demam yoga sedang melanda Jakarta.

 

Melihat fenomena itu, redaksi meminta saya menulis atau bagaimana saya membaca peristiwa sosiologis-antopologis di dalam dunia peryogaan di tanah air ini… Tulisan itu, adalah versi (sangat) singkat dari essay panjang saya tentang kelakuan para praktisi yoga dan yoga centers dalam kajian budaya…  Mungkin versi panjang itu ada di, kalau jadi, proyek penulisan buku saya berikut… Dan inilah yang muncul di majalah FIt itu. Kalau sempat, mungkin teman-teman bisa lihat di edisi cetaknya krn lebih enak, ada foto-fotonya segala…

 

Monggo…

Namaste!

 

Memahami Demam Yoga di Jakarta

 

Oleh: Yudhi Widdyantoro *

 

Lima tahun terakhir kegandrungan orang Jakarta untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Kalau mau dirunut, perhatian orang pada yoga sudah mulai terlihat ketika krisis ekonomi nasional pada akhir 90-an yang juga berdampak pada sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan. Sakit menjadi sangat mahal. Orang pun mulai berpaling pada sehat alami, antara lain dengan beryoga.

 

Kondisi ini dipupuk oleh para mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya AS, yang sudah merasakan manfaat yoga dan “menularkannya” ke tanah air. Banyak pula orang Indonesia yang cukupngeh dan terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial, turut menjadi amunisi bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia. Belum lagi riuhnya publikasi di media soal para pesohor Hollywood berlatih yoga. Sebut saja Madonna, Cyndy Crowford, Sarah Jessica Parker, Britney Spears, sampai Sting sebagai trendsetter beryoga. Di Indonesia, polanya mirip-mirip. Para pesohor Indonesia, selebriti, dan golongan menengah atas, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Dan, demam yoga pun menular.

 

Hingga kini, banyak terdapat yoga center dengan beragam konsep ‘jualan’ pula. Dari asongan sampai hypermarket. Ada yang menjual hanya satu ‘dagangan’ saja (yaitu yoga), ada yang bermacam-macam ‘komoditi’, yaitu memfasilitasi beragam aliran atau style yoga. Ada juga yang mengkhususkan mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM). Di tempat lain lagi, yoga bisa menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lain dengan iringan musik yang dinamis.

 

Yoga yang menentramkan

 

Menarik juga mengamati setiap center menjalankan kegiatannya. Tapi, karena ada juga persaingan yang cenderung mengarah menjadi urusan pribadi, penulis sebagai pecinta dan praktisi yoga, menyayangkan hal ini.

Mungkin juga karena secara kelembagaan belum ada aliansi atau asosiasi yang mewadahi yoga dari berbagai tradisi atau style di Jakarta, seperti yang dilakukan di negara maju. Gairah orang Amerika untuk beryoga memang telah melampaui kebutuhan exercise atau kesehatan fisik. Yoga sudah menjadi gaya hidup. Asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar, Ashtanga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian. Ada pula International Yoga Alliance (IYA). Mereka membuat standar sampai kurikulum penyelenggaraan teacher training. Harus diakui, bahwa dalam membuat sistematika, mengemas dan kemudian ‘memasarkannya’, orang Amerika sangat piawai.

 

Memang, pendidikan yoga berhubungan erat dengan pengembangan kepribadian manusia dan menyangkut unsur spiritualitas. Karenanya tidak dapat disamakan dengan produk massal mesin pabrikan. Menilik fakta bahwa profesi pengajar yoga sudah menjadi semacam karier, mungkin perlu juga dipikirkan penjenjangan kepengajaran di sini.

Dan, karena menyangkut wilayah bisnis, perlu ada semacam komisi pengawas persaingan usaha, agar tidak saling sengketa. Pada titik ini, yoga tampaknya perlu dibuat sekuler. Perlu juga mendemistifikasi kehebatan guru, karena sehebat-hebatnya guru dia juga manusia. Bagi penulis, secara pribadi, mungkin diperlukan sikap yang humble, kerendahan hati. Apalagi selama ini merasa, materi yang diajarkan ke kelas hanyalah hasil daur ulang atau mengcopy dari guru-guru yang lebih senior. Jadi persis seperti mengikuti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, atau seperti dikatakan BKS. Iyengar (Light on Yoga, 1966): “Gentleness of mind is an attribute of a yogi”, karena “power without humility breeds arrogance and tyranny.”

 

 

* Pengecer jasa Yoga

PUBLIC INVITATION: HADIRI SHARING BERSAMA YOGA GEMBIRA DAN KOMUNITAS GENTLE BIRTH

Achtung!

Dalam rangka menyambut hari ibu dan merayakan kemenangan Ibu Robin sebagai CNN Hero 2011, komunitas Social Yoga Club bersama Gentle Birth Untuk Semua menggelar gathering pada:

Minggu, 18 Desember 2011
Pukul 07.00-12.00 WIB
di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta

Acara:

07.00-09.00: yoga bersama, dipandu Yudhi Widdyantoro (yogamaster, Social Yoga Club)

09.00-selesai: kupas tuntas ttg Gentle Birth ( pengertian, mengapa gentle birth, persiapan, tips-trik dan sharing info dari praktisi) bersama Reza Gunawan, Dewi Lestari, dan Dyah Pratitasari (GBUS)

Puncak acara pengumpulan donasi dan penyerahan dana untuk Bumi Sehat

*) Ibu Robin Lim sedang dlm konfirmasi utk hadir

Mohon membawa alas untuk yoga, makanan dan minuman, serta pakaian yg nyaman.

Ayo serbuuuuuu!!!! Sampai ketemu di sana ya… 😉

Another Scam on the Web

This email below is sent by someone I just bumped into on HospitalityClub.org. S/he blurted about being Muammar Gaddafi’s far relative or such. And as always this scam leads to a promise of financial benefit, which is too good to be true. In case you read an email in this tone, believe me it’s fake.

Hello my dear ,I pray this message reaches you in happy mood . Actually , I will like to have a business and personal relationship with you despite us not knowing each other better before now . I am of the opinion that the above statement , that is , ‘us not too familiar with each other’ will be addressed as we grow mutual understanding on the process of building this friendship and business relationship .

Without wasting much time, I will like to use this opportunity to introduce myself to you . I am 19 years old , Ms. Anibe Nasr , daughter and only child of Huneish Nasr from Libya . My father was the personal driver to the now late Libyan leader Muammar Gaddafi, he was his personal driver for three decades . My father is currently in the cell in Misrata’s military barracks in Libya. Meanwhile , my beloved mother died in the cause of the war too , so now I am alone in this whole wide world , and I can not go back to my country because  if the power that be in my country noticed that I am still alive they will throw me in jail just as they did to my father .

So , in light of above, I pray you to keep my affair with you secret ,  don’t disclose my true identity to anyone . Current, I am living as a refugee in Dakar, Senegal , and I am also hiding my real identity to every one here in this camp, I keep low life .  And life here in this refugee camp is a difficulty one ,I am not used to it , I want to leave here as soon as possible . In fact , I have to open up to you more because I am having limited option , All I am asking for is your sincerity and total commitment and I am going to reward you heavily for the efforts you will put to make this a success .

You know what, within the very first month the civil unrest started in my country which later led to the dethronement of Muammar Gaddafi now dead , my father been part and parcel of that government then sensed great danger ahead just as it finally happened . But he was left with no other option that to stick his head with his former boss whom he has served for 3 good decades , too bad this loyalty he maintained despite the great sign of danger has put him in jail and it is eventually going to cause him his life , this I know because the new Libyan government will either jail him for life or worse still sentenced him to death very soon , my dear I weep as I write this now but this is the true situation of things . I am emotionally devastated.

Well , I wish to confide in you the main reason why I am currently here in Senegal as a refugee is because my father has a considerable amount of money he deposited with an international bank domiciled in this country with me as the next of kin . The amount involved is $3,600,000 ( Three Million Six Hundred Thousand US Dollars ) , this fund is deposited as a secret fund with the bank . All I need from you now is to indicate your interest to help me move this fund to your position/account ,  after our success in the transfer of the fund I will then leave this country to arrive to you peacefully . I will be ready to reward you with 20% of the total fund , on condition that you will sincerely help me see through the transfer of this fund to your account , and that you will keep this affair secret without disclosing it to a third party/any other person no matter how close the person might be to you . The bank will carry out the transfer process in legal way but all most be done secretly , so your full co-operation is very important in the cause of this .

Please , note that in my position as a refugee here I can not access this fund directly on my own , even outside that considering my background I have to make sure this huge amount is not traceable to me , thus my decision to move it to your position . After the successful transfer of the fund to your account , and after you take the 20% as I have pledged to reward you , the remnant I will expect you to incorporate a business in your name which we will run as a joint venture ,this we will discuss how to share the profits after my arrival to you . Please , consider my proposal and get back to me if you found your self ready and worthy to accomplish this affair with me in honesty  . One more thing , please note that the bank has given me their assurance to carry out the transfer on 100% risk free , so we have no cause to panic .

Just indicate your interest by Writing back to me, to enable me present you to the holding bank as my trustee :

I wait impatiently to read from you .

My regards
Anibe

Glenn Marsalim: Ayo @JalanKaki, Jakarta!

Pagi ini jamaah Suropatiyah di Taman Suropati mendapat kehormatan untuk menghadirkan Glenn Marsalim dan Marco Kusumawijaya. Sayangnya, pak Marco kesiangan bangun jadi tidak bisa datang (demikian keterangan yang bersangkutan via Twitter). Akhirnya Glenn tampil sendirian untuk menjelaskan gerakan yang ia cetuskan bersama dengan Marco.

Awalnya Glenn terilhami untuk memulai @JalanKaki dari pertemuannya dengan para aktivis NGO (lembaga swadaya masyarakat/ non-government organizations) yang menganalogikan ketersediaan fasilitas pejalan kaki sebagai telur dan ayam. Bagaimana bisa? Karena saat pejalan kaki makin banyak, pemerintah akan makin memberikan perhatian untuk peningkatan fasilitas pejalan kaki ini. Tapi apa yang kita temui sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang diidealkan. Sering orang terutama di Jakarta yang begitu malas untuk berjalan kaki, meski trotoar sudah bagus, lapang, bersih. Glenn mencontohkan betapa banyaknya temen-temannya yang menolak berjalan kaki hanya untuk menuju tempat yang sangat dekat , yaitu dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia.This is absurd but real!

Hal lain yang turut mendorong kelahiran gerakan @JalanKaki juga yakni kecemburuan atas kenyamanan yang didapatkan pejalan kaki di negeri jiran, salah satunya menurut Glenn yaitu Singapura. Saat pejalan kaki di Jakarta harus mengeluhkan lebar trotoar yang sudah sempit tetapi masih juga harus berlomba dengan pesepeda motor yang ugal-ugalan menembus macet di trotoar atau menemui kesulitan berjalan dengan nyaman karena trotoar ‘habis’ dimakan pedagang kaki lima dan pembuatan gorong-gorong yang tak kunjung usai (lihat saja Jl. Sudirman), pejalan kaki di Singapura bisa melenggang kangkung dengan bebas di trotoar yang rata, bersih dan dipayungi pepohonan teduh serta, tak kalah pentingnya menurut Glenn,karya-karya seni yang menyejukkan mata. 

Untuk itulah, Glenn mencoba mengajak lebih banyak orang metropolis (demikian ia menyebut orang-orang yang tinggal di Jakarta dengan strata ekonomi menengah atas) untuk lebih rajin berjalan kaki tanpa harus sepenuhnya meninggalkan kesenangan mereka seperti berbelanja, nongkrong, bersosialisasi dan sebagainya. Dengan nada kocak dan lantang tanpa malu-malu, ia berkata, “Kami kaum hedonis metropolis ini tidak mau kesenangan kami terganggu tetapi pada saat yang sama kami juga ingin untuk berbuat kebaikan”. Dan karena berjalan kaki lebih erat kaitannya dengan pemakaian moda transportasi umum, Glenn juga berupaya untuk mengajak kita lebih banyak gunakan jenis transportasi umum seperti busway, angkot, dan sebagainya. 

Agak mustahil untuk mengajak orang sepragmatis kaum perkotaan ini untuk meninggalkan kenyamanan mereka berkendaraan pribadi tanpa memberikan reward. Kemudian Glenn terpikir untuk memberikan sebuah insentif bagi tiap orang yang mau berjalan kaki dan mengunggah foto-fotonya lewat Twitter. Tweet tentang perjalanan berjalan kaki itu kemudian dianggap sebagai tiket untuk bisa mendapatkan insentif. Nah, insentif ini, kata Glenn, bisa bermacam-macam, dari berupa kopi gratis di Starbuck hingga potongan harga sekian persen di toko/ merchant tertentu yang sudah bekerjasama dengan @JalanKaki.

Salah satu pegiat Yoga Gembira, Larasati, menanyakan mekanisme yang digunakan untuk mengatasi kebohongan yang bisa saja dilakukan orang untuk mendapatkan insentif. Misalnya, kata Larasati, jika seseorang sudah berjalan beberapa waktu yang lalu dan kemudian ia mengunggah foto yang sudah lama tersebut di Twitter dengan menyebut @JalanKaki hanya untuk dapatkan kopi gratis. Glenn menjawab keraguan tersebut juga sudah dinyatakan oleh merchant yang ia ajak kerjasama, tetapi satu hal yang patut dipercaya dalam sebuah gerakan sosial seperti @JalanKaki ialah bahwa semua orang dianggap pada dasarnya beritikad baik. Dan meskipun ada yang curang, Glenn memperkirakan tidak akan banyak. “Sekarang saja sudah ada orang yang begitu sering mengunjukkan foto-fotonya berjalan kaki pada kami padahal ia tidak mendapat insentif apapun,” kata Glenn. Dan karena semua ini dibangun atas dasar adanya komunitas, Glenn mengatakan tindak curang akan secara alami mendapat hukuman dari anggota komunitas yang lain sehingga ia tidak terlalu khawatir akan kemungkinan curang.

Tampaknya antara @JalanKaki dan Yoga Gembira juga memiliki satu benang merah: tekad untuk mempertahankan ruang dan fasilitas publik yang makin tergerus. Kekuatan sebuah komunitas yang solid, menurut Glenn, adalah hal yang mampu mempertahankan ‘godaan’ bagi pemerintah untuk lebih banyak membangun mall hanya karena warga ibukota lebih jarang  menggunakan ruang-ruang publik yang ada seperti taman-taman, trotoar, dan sebagainya. Tak ada yang lebih efektif, bahkan dibandingkan lobi atau approach ke birokrat atau unjuk rasa pembakaran diri sekalipun, untuk bisa menentukan arah kebijakan pemerintah kita yang sering kurang peka selain dengan bersama-sama, bahu membahu mempertahankan kepentingan dan fasilitas publik untuk bisa hidup lebih manusiawi di Jakarta yang sudah sumpek dan ruwet ini. Karenanya, ayolah manfaatkan ruang publik terbuka di sekitar Anda sebelum digusur menjadi mall!!!

Finally, I Can Type Faster on the Go!

pic.twitter.com/HuWxvAH2

EECCHI Workshop: Raising Awareness of Energy Efficiency through Blogging

Anyone knows what EECCHI is? Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) is a service facility under the Indonesian Ministry of Mineral Resources and Energy. Aiming to raise awareness of energy conservation and efficiency, they invited us bloggers to get to know how it feels to be working and staying inside a retrofitted building. Nice!

As you can see on the video above, S. Astrid Kusumawardhani ( Information, Communication & Stakeholder Management  ) was giving us a brief tour. It was only three of us as I was a late comer. So while other bloggers went home already, we were enjoying the tour (sadly we missed the games).

To my surprise, there were fewer than 10 people in the room. Well, I just thought there should’ve been more. Is the topic not that ‘sexy’ to blog about?  It’s kind of sad to see fewer bloggers are interested in such common environmental issues like these.

But anyway, I was pretty excited to let people know what I really want to share on this competition. I’m not that interested in making people think the way we want, or in forcing the government to amend their thoughtless behaviors (I’ve often seen a lot of public officials and offices managers take energy for granted) or in making people around us more committed to energy efficiency and conservation efforts. I’m no huge fan of pushing the bureaucracy or big corporates, but I simply want to start with myself. I love practical, simple, ‘trivial’ things that eventually accumulate and create bigger impact on everyone around me.

With a topic this large, I think every blogger can write more than 6 posts throughout the competition. If you know you can do something to help this planet and let people around you learn and live in a more energy-conscious way, you’ll naturally find this blogging competition very interesting.

And thanks to Sekar Sosronegoro for letting me know this workshop.

p.s.: As soon as they email the details of the competition, I’ll let you know soon. In the meantime, write as many inspiring blog posts on the topic!

pic.twitter.com/kWhp5XWO

(image credit: @EECCHI)

14 Raksasa Elektronik: Mana yang Terhijau?

English: HP desktop keyboard, QWERTY layout
Image via Wikipedia

Dalam dongeng Jawa “Timun Mas”, nama karakter antagonis “Buto Ijo” (Raksasa Hijau, Ind) sangatlah legendaris. Raksasa yang entah kenapa warna tubuhnya hijau ini menitipkan Timun Mas saat bayi pada sepasang petani desa untuk dimakan jika kelak sudah menjadi dewasa. Tapi seperti layaknya dongeng-dongeng lainnya, kisah berujung manis dengan kalahnya Raksasa Hijau yang karnivor.Berlawanan dengan apa yang digambarkan dalam kisah “Timun Mas”, kali ini kita justru kita harus menemukan raksasa ‘hijau’ yang bukan pemakan daging tapi ramah lingkungan. Bukan raksasa sembarangan karena raksasa-raksasa di bawah ini adalah sekumpulan korporasi kaliber global penghasil barang-barang elektronik yang sehari-hari kita genggam, pencet, sentuh, dan lihat.

Greenpeace, organisasi pembela hak-hak bumi yang tersohor dengan aksi aktivis-aktivisnya yang kadang membuat rahang hampir jatuh itu, pada awal 2010 telah memperbarui daftar yang memuat prestasi terbaru yang dicetak sejumlah perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Nokia, Apple, Sony Ericsson, HP, Dell, dan sebagainya dalam mengenyahkan bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya dari bahan baku jajaran produk-produk mereka. Semakin ‘hijau’, semakin minim penggunaan bahan kimia beracun seperti Vinyl Plastic (PVC-bahan khas pembuat pipa air) dan Brominated Flame Retardants (BFRs-bahan tahan api yang mengandung bromida). Tiap perusahaan dinilai dari absennya bahan berbahaya tersebut dari 4 kategori produk yang ia rilis ke pasar. Kategori-kategori itu ialah komputer desktop, ponsel, laptop/ notebook, dan monitor/ layar komputer. Urutan di bawah ini bukan menunjukkan ranking tetapi mengacu pada urutan di tabel yang diterbitkan Greenpeace (http://www.greenpeace.org/international/campaigns/toxics/electronics/how-the-companies-line-up/which- companies-really-sell-gr). Penasaran perusahaan mana yang paling ramah lingkungan?

1. APPLE

Jika ini adalah hari penerimaan rapor di sebuah kelas yang berisi 14 orang siswa, Apple adalah juara pertama yang patut berbangga diri karena nilainya nyaris tanpa cacat. Apple berhasil memenuhi ekspektasi Greenpeace dalam semua kategori yang ada. Alhasil, ia mendapat 4 bintang hijau di semua lini. Great job, Steve Jobs! Sayangnya, Apple telanjur terkenal dengan banderol produknya yang selangit sehingga cuma sedikit pengguna yang bisa membeli produknya (tanpa harus mengangsur beberapa kali!).

2. Sony Ericsson
Perusahaan gabungan Swiss-Jepang ini menunjukkan kinerja yang bagus dengan menghindari penggunaan bahan PVC dan BFRs dalam produk ponselnya. Meskipun sebenarnya masih ada pengecualian di beberapa komponen.

3. Nokia
Seluruh ponsel kreasi perusahaan Finlandia ini bebas dari PVC dan nyaris semuanya juga bebas dari BFRs.

4. HP (Hewlett Packard)
HP mendapatkan bintang hijau yang lebih kecil dari ketiga pesaingnya di atas dalam kategori komputer desktop. Pantas saja, karena HP hanya menelurkan 3 model komputer desktop yang bebas PVC dan BFRs, yaitu 8000f Elite desktop, seri notebook Elitebook 8440 dan Elitebook 8450. Sementara itu, di kategori laptop, HP berhasil meminimalisir penggunaan PVC dan BFRs meski tidak 100% dengan dipasarkannya laptop HP ProBook 5310m. Di kategori monitor, HP sama sekali tidak memenuhi standar Greenpeace.

5. Acer
Perusahaan asal Taiwan ini gagal di kategori komputer desktop dan monitor desktop. Untungnya, ada laptop Aspire 3811 TZ dan Aspire 3811 TZG yang mampu menyelamatkan muka Acer di kategori laptop. Fiuh!

6. Toshiba
Sungguh mengerikan! Toshiba tidak punya satu pun produk yang bebas PVC dan BFRs.

7. Dell
Prestasi Dell tidak istimewa. Gagal total di kategori komputer desktop dan laptop. Perusahaan pimpinan Michael Dell ini juga kurang cemerlang di kategori monitor, hanya sanggup mempersembahkan monitor yang hampir bebas PVC dan BFRs. Sementara PC merk Dell yang bebas bahan-baha tersebut sama sekali belum ada.

8. Lenovo
Lenovo tumbang di kategori komputer desktop, laptop, dan ponsel. Sedikit bisa tersenyum karena bisa menyuguhkan produk monitor desktop yang nyaris tanpa bahan tak ramah lingkungan. PC buatan Lenovo bahkan lebih buruk karena masih mengandung PVC dan BFRs.

9. Samsung
Kilap permukaan produk Samsung yang biasanya terlihat elegan dan mewah itu ternyata tak mencerminkan kilap komitmen Samsung dalam menjaga alam. Sungguh buram prestasi Samsung karena hanya bisa menghasilkan 2 ponsel bebas PVC dan BFRs, yaitu Blue Earth GT-S7550 dan Reclaim M650. Semua laptop, monitor dan komputer desktop Samsung dipastikan mengandung PVC dan BFRs.

10. LGE (LG Electronics)
Sama-sama dari Korea, sama-sama mengecewakan. Itulah Samsung dan LGE. Tidak ada satupun produk LGE yang ramah lingkungan kecuali satu ponsel berseri GD510.

11. Fujitsu
Perusahaan ini membuat monitor, desktop PC, dan laptop. Dan tidak ada produk Fujitsu yang bebas 100% dari bahan berbahaya bagi lingkungan.

12. Sony
Seperti rekan senegaranya Fujitsu, Sony juga tidak memenuhi standar Greenpeace.

13. Motorola
Raksasa penghasil ponsel negeri asal Al Gore ini rupanya juga tidak terlalu baik prestasinya. Hanya ada satu ponsel keluaran Motorola (A45 ECO) yang tergolong bebas PVC dan BFRs. Meski begitu, Motorola masih memberikan harapan untuk lebih giat membuat ponsel-ponsel yang ramah lingkungan.

14. Panasonic
Tak ada satu produk pun yang bisa dilabeli “ramah lingkungan” di 4 kategori yang ada. Panasonic memiliki produk bebas PVC dan BFRs. Namun tidak tergolong dalam 4 kategori yang dipertandingkan. Panasonic juga tidak menyatakan komitmennya.

Untuk lebih lengkapnya silakan klik tautan berikut:http://www.greenpeace.org/international/campaigns/toxics/electronics/how-the-companies-line-up/which- companies-really-sell-gr.

Semoga dengan mengetahui ini kita bisa menentukan pilihan yang tepat, tidak hanya bagi anggaran dan selera kita, tapi juga kelestarian bumi kita ini saat hendak berbelanja peralatan elektronik dan sejenisnya. Sudah saatnya kita merevolusi orientasi berbelanja kita dari semata-mata konsumtif menjadi lebih hijau, karena dengan memilih produk dari perusahaan yang peduli lingkunganlah kita bisa lebih aktif untuk turut serta menjaga bumi dan isinya. Dan ingat bahwa pembeli adalah raja. Apa yang mau mereka lakukan jika seluruh konsumen bersatu padu untuk memilih produk ramah lingkungan dan meninggalkan produk yang berpotensi merusak bumi? Seperti people power (kekuatan rakyat), costumers power (kekuatan pelanggan/ pembeli) juga tak kalah kuatnya bukan?

%d bloggers like this: