On tiktok and content consumption pattern

I have known some youtubers getting comments on their channels from their subscribers: “Hey why don’t you create TikTok videos? This could be viral. So useful and eye-opening…”

But not all youtubers welcome such encouragement to swift their territory. YouTube has become their comfort zone. 

I myself came from different content background. I grew up as a digital citizen as a blogger. I write stuff. I have never seen myself as an expressive personality that eloquently gets my messages across with my own voice, demonstrate things, and show my face carefreely for unclear purposes. As a yoga instructor, I know I have to show my body because this is my tool. But to show off my face is a different thing. I am no beauty blogger or model. 

With such prohibition in mind, i entered the TikTok world to share what I know and experience as a yoga and general movement practitioner. 

TiktTok has brought us to the new era of content packaging. Now we don’t have to make so much effort to create serious and professional YouTube content or a well researched blog post that may take days or weeks to craft and edit and polish. 

One can just record or even stitch videos and add a home-made, amateurish, blurry and shaky video with least preparation and simplest tools and it gets viral. Boom! Million views in a day. Crazy! 

The instant gratification is so much higher on TikTok than on Instagram or any other social media platforms. So high they are pushing themselves harder than ever before to surpass TikTok and its algorithm. 

Self-Help Books: Are They Worth Reading?

At least once in a lifetime we read a self help book. 

One of the most popular self-help books I once read is one by Mario Teguh.

The self-help book industry is massive and profitable and the market seems to love this genre.

But did you know that readers of self-helps books tend to feel more stressful?

You may not believe it but self-help book readers have higher levels of cortisol (stress hormone) than non self-help book readers.

A study by researchers of the Centre of Studies on Human Stress (CSHS) found that readers of self-help books focusing on problem solving and growth orientation show depressive symptoms and higher stress.

Why is it so?

Because reading these books won’t instantly solve any of your life problems.

Reading such books may help us understand our problems better but not necessarily solve them.

What to read if you want to improve ourselves?

Read books written by scientists, researchers or clinicians that include scientifically proven facts. (*/)

On TikTok and Mental Health

I have been active on TikTok in these recent three weeks. The purpose of my presence on TikTok is to share things that I know and learn. To get heard of course is one of my goals here. My message is that everyone should be self motivated to get fit and active for the sake of their own wellbeing as this is what I have enjoyed and reaped from my practice (both yoga and the mixture of other physical disciplines that I adore and believe, such as gymnastics, ballet and pilates).

And what I can notice and be aware of is my sleeping intensity is disrupted at night, which causes a bit sluggishness during the day. This has not impacted my work performance significantly so far but I can tell I yawn during the working hours, something I never experienced before. And that is alarming to me because sleep is sacred to me! 😅

Thus far I am still lucky to have only kind followers and commenters who leave nice words. Which is why I can never imagine how it will impact me and my sanity if I find a harsh comment or a rude follower.😭

I found a comment or two about my body shape. Despite the fact that I am a man, this also hits me hard. So far it has been only compliments. Nothing is abrassive or offensive. So i thank everyone here for that 🙏🏼because I have seen another Tiktoker defending himself for something unnecessary or to prove something wrong. I don’t need to do such a thing for I am a pacifist Tiktoker, I should say. 😂

But the good things and amazing potentials from tiktok are also numerous. 

Never have I gained so many followers in a matter of weeks on instagram or any other social media platforms. My twitter following is stuck at 900-ish. Such a shame considering I have been actively tweeting since 2009.😆😆

So i kind of understand as to why Meta as the parent company of instagram is furious about tiktok’s rise. Instagram might be still going strong for now but we will never know what will happen even in the following months in 2022. That is why instagram copies all tiktok’s amazing features but again if you are a follower, you will always come second regardless of how smart or unbeatable you are in reality. 

One thing i noticed even more on tiktok is the body image issue. It is so amplified here! Instagram is problematic but tiktok is just as messy as instagram was and is. 

At first i had a hunch that these people on tiktok only care about shallow stuff like ideal body images. In this case, i somehow find it true and wrong. 

It is true because showing off your physical body like fitness models, financial assets like Sisca Kohl, quirky and outlandish talents like Popo Barbie, or the most ridiculous and bestial side of humanity is the most effective intangible capital to get likes here. 

This is why my first most popular content is abs workout. 🤣 i kind of read these people’s insecurities about their beer bellies and dad bodies. They don’t want to look fat and ugly and horrible. 

But i also find that some tiktok users also are not as shallow. They are wise, polite, educated even. They crave for more self improvement. And i discovered this by means of my split tiktok tutorial video, which is a blast. They liked it so much apparently. It wasn’t shared or liked by millions but still, you know, it means a lot to microinfluencers like myself😌.

To conclude, I want to say that I am not going to leave Tiktok anytime soon because if used properly and moderately it offers so many benefits. For example I can reach out new people who don’t even know yoga before or motivate those who don’t even know how to start an active lifestyle.  (*/)

Review Sepeda Perkotaan (Citybike) Elops 100 Merek BTwin dari Decathlon Indonesia

https://platform.twitter.com/widgets.js
Sepeda elops 100 B Twin dari Decathlon Indonesia

Karena melihat foto sepeda di website decathlon ini, saya jadi tergiur memiliki sepeda dengan desain jadul ini.

Dan harus saya akui saya cukup puas dengan pembelian yang saya lakukan ini, dengan beberapa catatan tentunya. Hmm. Simak saja tulisan ini sampai habis ya.

Dari tampilan sekilas, desainnya mirip sepeda onthel Phoenix yang legendaris itu. Sampai beberapa orang tetangga yang melihat mengatakannya. Sangat nostalgik!

Dan memang itulah yang menjadi salah satu kelebihan sepeda keluaran Decathlon ini.

Dari apa yang saya temui di internet, ada orang yang mencap sepeda serupa yang dirilis di Eropa lebih baik mutunya daripada yang dirilis di pasar sini.

B Twin sendiri punya reputasi bagus di benua biru sana. Jadi saya cukup percaya dengan keandalannya.

Bagi Anda yang ingin membeli sepeda ini secara online dan rumah Anda jauh dari outlet Decathlon, siap-siap untuk membayar mahal ongkos kirim dan kesabaran.

Untuk ongkir saya mesti menebus Rp400.000 dan sampainya pun sdeminggu lebih dengan ditambahi sedikit ‘bumbu drama’ karena kurir JNE dua kali ke rumah saat saya di luar. Padahal kan bisa saja di-SMS atau ditelepon beberapa menit sebelumnya agar saya bisa standby atau pulang cepat atau minta dititipkan ke sekuriti atau tetangga. Jadi saya harus menghubungi service center JNE cuma untuk mengomel. Apa gunanya saya kasih nomor ponsel jika tidak dihubungi dulu? Haha. Ada-ada saja ya. Padahal itu jauh dan paketnya besar. Akhirnya balik lagi ke gudang penyimpanan dan saya mesti menunggu lagi tanpa kepastian.

Begitu sampai, paketnya memang besar sekali karena sepeda tidak dipereteli. Sudah terakit baik. Cuma bannya kempesss.

Saya mesti beli pompa ban sepeda dan itu merepotkan sedikit tapi ya sudahlah.

Saya harus memasang pedal sendiri dan bisa dilakukan tanpa alat sih.

Yang saya sayangkan adalah di paketnya tidak ada manual pemasangan pedal atau apa lah supaya pengguna tidak kebingungan memasang pedal ini.

Saya sempat salah pasang dan kurang kokoh sehingga pedalnya lepas saat dikayuh di jalan. Saya pikir rusak tapi ternyata cuma karena saya kurang ‘masuk’ saat memasangnya.

Karena tidak ada ‘gigi’, jadi ya saya pasrah saja mengayuhnya. Memang agak berat kalau mengayuh di medan yang menanjak tapi bagus buat latihan kaki. Haha. Paha saya jadi kencang juga.

Setelah saya pakai 2 bulan, saya simpulkan produk sepeda ini cukup pantas dimiliki bagi Anda yang tinggal di lingkungan perumahan dan cuma ingin bersepeda untuk tujuan rekreasional. Bukan yang kompetitif.

Makanya bodi sepeda ini lumayan berat tapi kelebihannya adalah desainnya yang klasik banget dan bikin orang melirik dan bernostalgia.

Ada tetangga yang membandingkan dengan sepeda listrik tapi saya pikir tidak apple-to-apple karena pakai sepeda ini saya bisa berolahraga tapi sepeda listrik tidak. Saya mau bergerak dan sembari menikmati pemandangan tanpa menghabiskan bensin yang harganya makin naik. (*/)

Blog sebagai Pusara Digital

Ridwan Kamil dan Emeril Kahn anak sulungnya. (Foto: https://sumbar.suara.com)

UNTUK apa menulis blog?

Bagi orang awam mungkin tidak ada arti yang signifikan ya.

Blog buat sebagian orang untuk menumpahkan uneg-uneg, mirip diare kata-kata. Tidak jelas isi pesannya apa tapi pokoknya asal banyak dan keluar setiap hari. Begitulah, seperti membuang kotoran tiap hari.

Tapi tidak semua orang harus menikmati ‘kotoran’ tadi.

Kita bisa seleksi agar blog kita berisi hal-hal yang indah dan baik serta menenteramkan hati juga lho.

Kenapa begitu?

Ya karena nantinya kita semua bakal mati.

Dan blog adalah salah satu peninggalan yang berupa jejak digital kita yang bisa jadi lebih abadi daripada jejak kita di dunia nyata.

Hal ini baru saya sadari setelah ada berita soal blog almarhum Emeril Kahn, anak gubernur Jabar Ridwan Kamil yang beberapa waktu lalu meninggal dunia tenggelam di sungai Are, Eropa sana. Tenggelam di awal musim panas saat semua es melebur sehingga air sungai melimpah ruah.

Blog milik Emeril sebenarnya bukan blog yang wow banget. Bahkan blog ini terkesan apa adanya, blak-blakan, amatiran, karena inilah pemikiran-pemikiran anak muda seusianya.

Meski bahasa Inggris yang dituliskan Emeril di situ kurang tertata secara gramatikal, saya maklumi saja karena dia anak Bandung, bukan London atau New York.

Artikel-artikel di situ juga beragam topiknya, dari sebuah pembukaan restoran pizza di Bandung bernama Papa Jabroni’s Pizza hingga catatan soal class meeting khas anak SMA. Sungguh khas anak muda.

Tapi satu tulisan menurut saya cukup berisi dan bisa jadi dikatakan sebagai tulisan unggulan di blog itu, yakni sebuah artikel berjudul “Interview” yang Emeril publikasikan tanggal 27 Mei 2015.

Isinya soal pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada sang ayah soal apa dan mengapa ayahnya bersedia menjadi walikota Bandung saat itu mengingat Ridwan sudah mengecap kesuksesan besar dengan menjadi arsitek yang termasyhur di mana-mana.

Di sini saya kagum bahwa Eril di usia yang begitu muda sudah lumayan bisa mengendalikan caranya menggunakan media sosial dan internet. Itu artinya ada peran orang tuanya yang mendidiknya supaya memelihara etika dan sopan santun di dunia maya.

Jika kita bisa runut ke belakang, tidak pernah ada satu pun berita buruk soal Eril. Bandingkan dengan anak-anak muda yang seolah berlomba membuat sensasi dan berita tak peduli baik atau buruk demi bisa viral di media sosial.

Ini menandakan sebuah keluarga yang orang tuanya tidak disfungsional. Baik Ridwan dan istrinya mampu mendidik Eril sedemikian rupa sehingga ia bertindak tanduk baik selama hidupnya yang relatif singkat itu.

Jadi ini menjadi semacam teguran bagi kita agar mencatatkan hal-hal baik di akun media sosial dan blog kita.

Agar saat kita meninggalkan dunia ini, orang bisa melihat dan mengenang sisi baik kita. Bukan sisi buruk dan gelap kita. (*/)

Svetlana Romashina, Ratu Renang Indah Rusia

Sang ratu renang indah ingin membuat cabang olahraganya sepopuler seluncur es di negaranya. (Foto: Olympics.com)

SVETLANA ROMASHINA adalah salah satu nama perenang indah (artistic swimmer) yang paling berpengaruh dan berprestasi di Rusia dan dunia. Rusia sendiri sudah merajai renang indah sejak tahun 2000. Dominasi ini tak terpatahkan salah satunya berkat kehadiran Romashina di kolam pertandingan.

Hingga tulisan ini dibuat, sudah 7 medali Olimpiade yang dikantonginya. Ini belum termasuk medali yang disabetnya dari ajang kejuaraan renang indah sedunia.

Romashina yang kini menjadi duta sejumlah mereka produk dan layanan olahraga di Rusia ini mengaku dirinya ingin terus bekerja keras mempopulerkan cabang olahraga renang indah yang menurutnya belum setenar seluncur es (ice skating) di negaranya.

Dalam sebuah wawancara siniar di Olympics.com, Romashina mengaku dirinya tidak pernah bosan dengan renang indah yang dulunya disebut “synchronized swimming” dan sekarang dinamai menjadi “artistic swimming”. 

Presiden Vladimir Putin dan Svetlana Romashina dalam sebuah seremoni penghargaan atlet nasional negara tersebut. (Foto: Wikimedia Commons)

Cabang olahraga ini sendiri unik karena menjadi salah satu cabor yang tidak membuka diri bagi atlet pria, selain senam ritmik (rhythmic gymnastics) yang juga cuma diperbolehkan diikuti perempuan di ajang Olimpiade. 

Renang indah adalah hidupnya, dan ia memiliki karakter yang kuat dan keinginan kuat untuk mengejar kemenangan.

“Saya akan melakukan apapun agar bisa menang,” ungkapnya.

Ia tak ingin menyerah dan itulah ia terapkan dalam kehidupannya juga.

Pasca kemenangan di Olimpiade Rio 2016, Romashina mengaku dirinya makin matang dan tak mudah meledak.

//www.instagram.com/embed.js

Dulu ia lebih mudah emosional dan bisa berdebat dengan pelatihnya. Kini ia lebih mudah dalam mengendalikan diri.

Romashina berkata mungkin karena ada pengaruh dari perubahannya sebagai seorang ibu baru. Juga karena ia makin dewasa dan pengalamannya sebagai atlet makin banyak.

Dalam renang indah, Romashina mengaku justru makin bisa menyempurnakan diri karena pengalaman yang sudah ia miliki memberinya peluang untuk itu. Ia bisa berpikir lebih cepat dan responsif.

Saat ditanya hal apa yang paling sulit dalam renang indah, Romashina berkata senyum. Walaupun gerakannya sulti bagaimanapun akan terasa lebih mudah saat mereka bisa tersenyum saat memperagakannya.

//www.instagram.com/embed.js

“Kami ingin menunjukkan pada orang bahwa ini terlihat mudah padahal tidak demikian,” tukas perempuan yang sejak invasi Rusia ke Ukraina berhenti menggunakan media sosial Instagram dan beralih ke Telegram ini.

Ia juga menandaskan bahwa synchronized swimming yang ditekuninya ini mencakup banyak elemen dari cabang olahraga lain misalnya renang, loncat indah (diving), akrobat, bahkan balet juga.

Sebagai seorang ibu, ia memahami alasan partner renang indahnya, Natalia Ischenko, pensiun. Di pusat pelatihan, tentu atlet tidak bisa bersama keluarga dan itu sungguh berat bagi seorang ibu. Romashina sendiri memiliki anak bernama Alexandra dan ia mengaku hal itu sangat berat baginya.

Pasca pensiunnya Ischenko, Romashina terus bertanding dengan partner berbeda, Svetlana Kolesnichenko. 

 (Michael Dalder/Reuters photo)

Meski sudah begitu berprestasi di dunia renang indah, Romashina tidak memaksa sang anak untuk mengikuti jejaknya. Itu terserah Alexandra, katanya. Tugasnya sebagai ibu adalah mendukung pilihannya.

Romashina memandang banyak potensi yang bisa digali dari ice skating karena di Rusia, ice skating punya banyak event pertunjukan yang memukau banyak penonton. 

Ini berbeda dari renang indah yang meski juga sama memukaunya, tidak banyak event yang spektakuler. Cuma ada dua pertunjukan renang indah di Rusia hingga saat ini, ungkap Romashina. 

Ia merasa terpanggil untuk mempopulerkannya bahkan hingga di Asia, luar Rusia. Namun, itu mungkin akan dilakukannya jika kariernya usai dan ia pensiun.

Saat ditanya siapa atlet ice skating favoritnya, Romashina menjawab Alina Zagitova. Untuk atlet pria, ia suka Yuzuru Hanyu dari Jepang.

Romashina juga mengidolakan Michael Phelps, Michael Jordan dan Michael Schumacher. 

Meski ada kabar berhembus soal pensiunnya Romashina sebelum Olimpiade Tokyo 2020 lalu, toh ia masih berlaga juga di sana dan menyabet dua medali emas lagi. Total ia mengantongi 7 medali Olimpiade selama kariernya hingga sekarang.

Pasca skandal mega doping yang diduga Barat melibatkan sejumlah atlet dan pemerintah Rusia, Romashina terus bertanding di Olimpiade karena sanggup membuktikan dirinya bersih dari doping dan tidak terkait dengan skandal tersebut.

Secara keseluruhan, Romashina bisa dikatakan atlet veteran dengan partisipasi di 3 olimpiade dan memegang 21 gelar juara dunia. 

Sejak invasi Rusia yang lalu, Romashina makin jarang beraktivitas di Instagram.

Akhirnya ia mengumumkan akan mundur dari Instagram dan beralih ke sebuah kanal Telegram khusus yang tersedia bagi para penggemarnya dari seluruh dunia. 

Di Telegram, ia masih aktif menyebarkan berita soal aktivitas dan event yang ia hadiri. Ia makin banyak berenang indah di event-event publik di Rusia. Semuanya dengan tujuan untuk menarik generasi muda Rusia untuk menekuni olahraga tersebut.

Romashina berencana akan melahirkan anak keduanya sebelum Olimpiade Paris 2024 nanti.

Sampai kapankah ia akan terus berkompetisi? Kita lihat saja nanti. (*/) 

Kisah Marly, Penulis Naskah Telepon Seks

Serial ini bisa ditonton di Netflix. (Foto: Rotten Tomatoes)

Awalnya Marly, seorang gadis muda yang masih duduk di bangku kuliah, melamar kerja di sebuah perusahaan rintisan yang menjual layanan telepon seks di era 1980-an di negara kincir angin.

Di situ, ia membaca sebuah naskah dan membaca dengan nada datar. Dan tentu saja ia ditolak karena cara dan nada berbicaranya kurang ‘mengundang’, tidak membuat para konsumen pendengarnya bergairah. Dan sialnya, wajahnya tersorot kamera saat seorang reporter meliput bisnis pertama yang menjual layanan unik di Belanda.

Tak lama, perusahaan rintisan itu batal diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar dan mapan sehingga Frank dan Ramon dua pentolannya kebingungan.

Di saat yang sama Marly juga kesal karena ia tak dapat pekerjaan sampingan menjadi pembaca naskah seks tadi dan malah wajahnya tersiar di seantero negeri. Ia dicap menjadi perempuan muda yang jorok, kotor dan binal.

Stigma itu membuat kedua orang tua Marly yang konservatif mengusir Marly dari rumah.

Antara bersyukur dan sedih, Marly pun menjalani kehidupannya sendiri di luar. Dan ia dipaksa melakoni pekerjaan apapun asal bisa menyewa apartemen yang layak.

Marly kemudian bertemu Frank kembali dalam sebuah kesempatan. Saat itu ia mengusulkan pada si petinggi perusahaan bahwa ia tak seharusnya cuma melayani kelompok pria heteroseksual yang selera seksnya mainstream alias mudah ditebak karena saking banyaknya.

Marly mengusulkan Frank untuk membuka layanan telepon seks juga bagi konsumen homoseksual/ gay, lesbian, bahkan bagi mereka yang punya ‘fetish’ atau kecenderungan terpancing gairah seksualnya dengan benda atau objek tertentu yang tak lazim.

Setuju dengan ide Marly, Frank pun direkrut menjadi penulis naskah seks di perusahaan itu. Sebagai percobaan pertama, Marly wajib menghasilkan konten naskah untuk 300 saluran telepon yang berbeda untuk segmen konsumen yang non-mainstream ini.

Menyadari betapa berat tugas itu, ia pun menyesali ‘mulut besarnya’.

Tapi justru dari situ, Marly memiliki kesempatan besar untuk menggali potensinya karena sebenarnya ia memiliki jalur yang tepat untuk menghasilkan konten yang menarik. Marly sedang kuliah dan belajar soal seksualitas dan seks di kampusnya dan banyak mater kuliahnya yang sebenarnya bersinggungan dengan bidang pekerjaan yang banyak membahas soal seks ini.

Per minggu, gadis cantik berkulit cokelat dan berambut keriting yang terlahir di Belanda dari pasangan imigran Afrika itu harus menyerahkan 20 naskah seks untuk dibaca bagi konsumen layanan telepon seks ini.

Saya menemukan serial Dirty Lines ini di Netflix dan cukup menikmatinya sebab banyak adegan yang sangat menohok bagi kita yang mengakui sebagai orang Asia yang berpegang teguh pada adat ketimuran yang menjauhi obrolan kotor semacam seks.

Dari situ, Marly malah menemukan keasyikan dalam menulis konten ini. Ia mengadakan pengamatan pada teman-teman di asramanya yang berhubungan seks secara sembarangan bahkan di kamar mandi umum.

Lalu ia juga turun ke jalanan bertemu penjaja seks demi studi lapangan. Semua karena perfeksionismenya.

Seperti apakah perjalanan Marly yang diperankan dengan apik oleh aktris Joy Delima selanjutnya di sini? Ikuti saja serialnya. (*/)

%d bloggers like this: