“Janji Toba” Ingatkan Indonesia untuk Tetap Satu Asa

Janji itu berat. Dan sekali terucap, tidak akan bisa ditarik kembali.

Itulah beratnya beban janji yang ditanggung Toba, seorang pria muda yang tak kunjung mendapat jodoh. Didesak terus oleh seorang sahabat, ia pun akhirnya menikah. ‎Tetapi ini bukan pernikahan biasa antarmanusia. Dan di samping janji suci pernikahan, ada janji lain yang tak kalah besarnya: janji untuk menjaga lidahnya agar tak menghardik anaknya nanti dengan sebutan anak ikan. Toba memang menikahi seorang perempuan molek yang jelmaan ikan, Tiomasna. Ikan cantik itu berhasil ia dapat setelah beberapa waktu tak mendapat tangkapan. Mereka berdua pun memiliki Samosir — seorang anak laki-laki yang nafsu makannya begitu besar, sampai-sampai saat makan ia begitu lahap tetapi tak pernah kenyang, mirip seekor ikan yang terus meminum air di sekelilingnya tetapi tak pernah merasa kembung. Kulminasi kemarahan Toba memuncak tatkala Samosir menghabiskan makanan yang semestinya untuk jatah makan siang selepas si ayah bekerja keras di ladang. Kalimat terlarang itu pun terlontar begitu saja. Dan musnahlah mereka semua seisi desa karena pelanggaran janji oleh Toba. Hanya Samosir yang dikisahkan selamat dari gempuran air bah.

Begitu kira-kira ringkasnya kisah Janji Toba ini dalam satu alinea. Kekayaan kisah rakyat atau folklore dari Sumatra Utara itu memukau kami yang menonton selama 90 menit tanpa putus.

Legenda Danau Toba yang turun temurun dituturkan dalam masyarakat Batak berhasil dikemas dengan apik oleh Banyu Wening Production dengan diperkuat oleh Anggiyat Tobing (yang menggantikan Bams Samson yang jatuh sakit), Cindy, dan para aktor yang salah satu di antaranya ialah Indro Warkop sore kemarin (29/8).

Di sela konferensi pers sehari sebelum pertunjukan musikal di Ciputra Theatre, Indro yang dituakan para pemeran lainnya itu menjawab pertanyaan para nyamuk pers dengan bijak bahwa meskipun pertunjukan musikal itu diangkat dari kisah rakyat Batak, tak semua pemeran/ aktor atau kru di dalamnya merupakan‎ orang Batak. Dan itulah yang ingin dikemukakan Indro, bahwa kekayaan budaya Batak juga harus didukung oleh segenap bangsa, bukan suku Batak saja. “Dulu Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Java dan lainnya sepakat mendukung berdirinya Indonesia, tetapi sekarang malah justru semangat kedaerahan itu menguat. Itu membuat kita harus prihatin,” pelawak itu berujar.

‎Secara teknis, pertunjukan sudah harus dimulai pukul 3 sore tetapi tertunda entah karena alasan apa. Sekitar 15-20 menit kemudian barulah tirai panggung tersibak.

Yang menyita perhatian penonton di panggung pertama-tama ialah sajian apik aerialis perempuan yang menggambarkan gerak gerik ikan bersisik keemasan nan ajaib dari kahyangan. Inilah perlambang Tiomasna. ‎Tanpa tali pengaman, si aerialis meliuk-liuk dengan kain-kain panjang. Suatu keahlian yang membuat kami berdecak kagum.

Agar tidak membosankan, dialog-dialog jenaka disisipkan. Karakter sahabat Toba, Marihot, dan saudara perempuannya Lisda membuat perut terkocok. Bergantian mereka membuat kami terpingkal. Gerak tubuh teman setia Toba itu juga cukup merangsang tawa, terutama saat ia mengiming-imingi Toba soal nikmatnya berumah tangga. Sementara Li‎sda yang bertubuh subur tetapi genit dan kelewat percaya diri itu bisa membuat perempuan-perempuan lajang bertubuh ekstra di samping saya juga ikut tertawa lepas. Itulah salah satu tujuan seni, untuk bisa menertawakan diri sendiri tanpa harus sakit hati pada orang lain.

Koreografi, musik dan lirik juga tertata apik. Para penari di adegan-adegan berkumpulnya muda-mudi kampung serta saat bekerja gotong royong di ladang membuat saya tersadar masih kuat dan mengakarnya budaya agraris di negeri ini meski ekspansi industri sudah menggila pula. Hal-hal inilah yang membuat kita Indonesia dan ironisnya semua hal itu luntur dari kita.‎ Kearifan lokal sudah tergerus dengan pemikiran-pemikiran kontemporer dan rasanya tidak ada satu upaya pun bisa membalik arus ini. Terjebak di kondisi ini ialah sebagian orang yang terus merindu lestarinya ke-Indonesia-an kita.

Janji Toba mungkin hanya diucapkan Toba, dan melibatkan dirinya dan Tiomasna. Tetapi begitu terlanggar, konsekuensinya tidak hanya melanda keluarga mereka. Seisi kampung ikut menanggungnya.

Itulah yang juga terjadi di negeri ini. Janji para elit memang cuma dilontarkan oleh bibir mereka semasa periode kampanye. Janji itu awalnya melibatkan mereka dengan para pendukung saja tetapi begitu terangkat ke posisi publik dan mulai bekerja, sukses gagalnya akan berdampak tak cuma pada kehidupan konstituen tetapi semua orang di tanah air, dari yang tidak tahu apa-apa sampai mereka yang setia dengan penguasa.

Donat Keramat

‎Ada semacam “official legend”, mirip dengan “urban legend” tetapi hanya berlaku di kantor kami, bahwa donat dengan nama brand itu amat berkhasiat membuat si karyawan pemberinya minggat. Untuk yang sudah penat, celetukan itu malah menambah semangat.

Awalnya tidak ada yang peduli dengan makanan yang dipesan saat seseorang berpamitan. Kami cuma makan saja, tanpa perasaan. Toh nanti juga bisa bertemu lagi luar tembok perusahaan. Ini bukan akhir segalanya, kami menghibur diri.

Donat ini rasanya manis seperti ekstrak 1000 ton gendis (gula dalam bahasa Jawa -pen). Tepungnya juga halus bukan main, mungkin sampai seukuran partikel nano. Tanpa banyak upaya, gula dan karbohidrat itu tertelan masuk ke usus kami dan menjalar ke peredaran darah, membuat kami bergembira, cerah ceria, meski cuma sementara karena banjir glukosa. Cukuplah sebagai obat penambah tenaga saat mengantar rekan yang akan meninggalkan posisinya dengan bersukacita.‎

Rekan kerja yang lelah itu berseloroh agar saya tak mengambilnya. “Jangan makan yang polos! Bisa langsung resign nanti,”‎ serunya memperingatkan dalam nada jenaka. Namun, saya tak menggubrisnya. Justru makin dilarang, saya makin terangsang. Saya telan saja donat berhias selai coklat muda itu. Sejenak saya singkirkan imajinasi lonjakan gula darah yang mencemaskan itu.

Ah, euforia glukosa yang membuat gundah gulana sirna seketika! Aku suka.‎..

Merdeka Ala Ala

‎10:33
Pesawat ini melayang di udara
Persis dengan jadwal yang tertera
Tepat waktu juga
Kalau begini aku bangga jadi orang Indonesia
Duduk di bagian kokpit terdepan, kursi 1A
Sungguh tidak biasa, kecuali kondisi terpaksa
Di samping seorang pria cepak dari angkatan bersenjata,
dengan ponsel yang terus menyala,
meski sudah ada peringatan nyata
“Matikan telepon genggam Anda”
Di hadapan matanya
Tidak, ia tidak buta
Hanya
Tuna
Peka
Membuat saya kecewa
Di hari merdeka

Tak Berarti, Jika Pengetahuan Tak Dibagi

Suatu siang yang terik, di sebuah agen pengiriman barang di Satrio saya pertama bercakap-cakap dengannya. Usianya tak lagi muda. Mungkin setara ayah saya, atau lebih tua. Saya tidak tahu persis. Namun, ada kesamaan yang saya tahu benar: ayah saya dan pria ini sama-sama diabetesi (sebutan untuk orang yang hidup dengan diabetes).

Saya mengetahui kondisi ‘istimewa’ pak Hans itu saat saya kedapatan mengirim beras hitam dan alas sepatu khusus yang lebih empuk untuk ayah di rumah. Saya ingin ayah beralih ke nasi hitam yang lebih sehat, jadi saya kirimkan saja dengan harapan besar akan menyingkirkan nasi putih sepenuhnya dari menu. “Ah, ayahmu punya diabetes ya? Saya juga,” tanya pria itu sembari mengisi tanda terima pengiriman paket saya dengan mesin ketik manual tua.

Pak Hans lalu beranjak dari kursinya, menjelaskan dirinya aktif di Persadia, Persatuan Diabetes Indonesia. Setelah memastikan paket saya terkemas, ia melepas kacamatanya, menghela napas panjang seolah ingin mengatakan sesuatu yang berat bagi orang yang mendengarnya.

“Hati-hati. Kamu juga bisa kena. Atur gaya hidup dari sekarang,” nasihat beliau perlahan, begitu lirih hingga kata-katanya itu hampir luruh tertelan keriuhan lalu lintas jalan yang cuma beberapa meter dari kiosnya.

Tanpa mendebat, saya terima sarannya. Saya mulai menerima kenyataan bahwa risiko itu ada dan harus dihadapi meskipun tidak bisa sepenuhnya disingkirkan. Saya tahu kadar gula darah saat puasa saya sudah masuk level pradiabetes (di atas 110 tetapi belum melampaui 140). Dan untuk mencegah masuk ke level diabetes yang sebenarnya, saya harus cermat dengan pengaturan asupan dan gaya hidup sehari-hari atau harus menebusnya kelak.

Harus diakui bahwa ada sisi di dalam diri yang membisikkan:”Hidup hanya sekali, Akhlis! Nikmati sajalah! Pikirkan itu saat nanti sudah uzur. Sekarang, makan apa saja dan berperilakulah suka-suka. Ini hidupmu, bukan milik orang tua itu!”

“Dulu juga saya berpikir masa bodoh,” lanjut pak Hans seolah membaca pikiran saya. “Tetapi setelah melihat sebagian teman-teman diabetesi menderita karena komplikasi yang diakibatkan gaya hidup mereka sendiri yang seenak perut, saya jadi sadar. Saya bisa menunda agar kondisi ini tidak makin buruk lebih cepat dari semestinya.” Ia tahu sulitnya menasihati orang berusia senja. Dan ia bisa membayangkan menantangnya memberi saran semacam itu pada mereka yang jauh lebih muda, saat penderitaan akibat diabetes masih jauh dari pelupuk mata. “Lihat diriku masih sehat-sehat saja!”begitu mungkin teriak muda-mudi yang kebanyakan gemar memanjakan diri dengan berbagai sajian kuliner olahan masa kini yang sejatinya mendorong mereka lebih cepat menjadi diabetesi terlalu dini.

Lalu saya becermin pada gaya hidup ayah saya di masa muda. Beliau terlalu sering mengkonsumsi nasi putih dan tidak bisa meninggalkan minuman sirup dingin dan teh manis setiap hari. Pernah menderita sakit kuning, beliau bertekad tidak ingin terkena lagi. Masalahnya, ternyata tubuh tidak memerlukan gula sebanyak itu.

Pak Hans menyelesaikan penjelasannya dengan memberi saran pengobatan alami untuk diabetesi, dari bubuk kayu manis untuk menurunkan gula darah sampai rebusan daun seledri untuk membersihkan ginjal diabetesi yang sudah dibombardir obat-obatan tiap hari. Seperti ginjal ayah saya.

Dari pak Hans, saya belajar untuk tidak hanya menyimpan pengetahuan untuk diri, tetapi juga tanpa pamrih berbagi. Karena jika tak dibagi, pengetahuan tak punya arti.

(foto: wikimedia)

Ingin Multitasking Lebih Trampil? Meditasilah Dulu

‎Bermeditasi dan mengerjakan lebih dari satu hal sekaligus sekilas seperti minyak dan air, tak bisa disatukan. Tetapi siapa nyana, keduanya berkaitan.

Pelatihan meditasi sebelum bekerja secara multitasking bisa membuat pekerjaan lebih efisien dan tingkat stres yang relatif lebih rendah.

Dikemukakan oleh para pengajar University of Washington bernama David Levy dan Jacob Wobbrock bahwa latihan meditasi bisa membantu orang yang bekerja dengan informasi mengerjakan tugasnya lebih lama dengan gangguan lebih minimal dan juga meningkatkan ingatan dan mengurangi stres.

Makalah ini dipublikasikan di edisi Mei Proceedings of Graphics Interface.

Levy, ilmuwan komputer, dan Wobbrock, peneliti interkasi komputer dan manusia, melaksanakan studi bersama dengan kandidat doktor Information School Marilyn Ostergren dan Alfred Kaszniak, pakar psikologi syaraf di University of Arizona.

“Bagi kami, inilah riset perdana yang mengeksplorasi bagaimana meditasi bisa mempengaruhi multitasking dalam suasana kerja yang sebetulnya,” ujar Levy.

Peneliti membagi para subjek menjadi 3 grup yang terdiri dari pada manajer SDM. Satu grup menerima pelatihan meditasi selama 8 pekan, yang satu menerima pelatihan relaksasi badan 8 pekan dan satunya tak mendapat pelatihan apapun namun setelah 8 pekan diberi pelatihan meditasi.

Sebelum dan setelah 8 pekan, para peserta studi diber ujian stres dalam bentuk tugas multitasking dari menggunakan surel, kalender, pesan instan, ponsel dan software pengolah kata untuk menyamai pekerjaan khas di lingkungan kantor.

Ternyata kelompok yang belajar meditasi mencetak kecepatan, akurasi dan durasi ketahanan kerja multitasking lebih baik. Stres yang mereka alami di pikiran lebih terkelola dengan baik meski dibebani pekerjaan bertubi-tubi. Sementara 2 kelompok berikutnya tak memberi laporan yang sama. Saat grup 3 diberi pelatihan meditasi, laporan mereka menjadi serupa dengan laporan grup 1 yang sudah belajar meditasi lebih awal.

Disimpulkan bahwa meditasi tampaknya membantu peserta berkonsentrasi lebih baik. Perhatian dan fokus peserta yang telah belajar meditasi lebih baik dan tak mudah terpecah. Subjek studi yang bermeditasi mampu bertahan lebih lama dalam multitasking dan tidak berganti pekerjaan lebih sering. Namun, waktu yang mereka gunakan lebih efisien dalam penyelesaian pekerjaan.

Wobbrock menegaskan banyak penelitian di bidang teknologi-manusia mencoba menciptakan teknologi yang mengumpulkan kemampuan manusia,” ungkap Wobbrock. “Riset tentang meditasi ini tak lazim dalam hal ia mencoba mengumpulkan kemampuan manusia bukan melalui teknologi namun karena teknologi, karena permintaan yang dibebankan teknologi pada kita dan kebutuhan kita untuk menjawab tuntutan tadi.”

(sumber :www.washington.edu/news/‎ foto: wikimedia)

Aplikasi Slack Mudahkan Live Blogging bagi Blogger dan Jurnalis

‎Kalangan awam lebih suka memakai aplikasi chat seperti WhatsApp, BBM, Kakao Talk, atau Line karena mudah digunakan dan dipakai banyak orang. Sementara jurnalis cenderung memakai Twitter untuk menggali sumber informasi terkini. Facebook juga bagus tetapi entah kenapa menurut entrepreneur media Jason Calacanis, karakternya kurang sesuai untuk menyebarkan berita. Kurang viral. Di Twitter, viralitas jauh lebih tinggi dan cepat daripada Facebook. Ada benarnya juga. Tetapi meski begitu, bukan berarti Facebook tak berguna sama sekali.

Di antara semua itu, aplikasi Slack mungkin belum semasyhur WhatsApp atau BlackBerry Messenger di sini sebagai aplikasi percakapan sosial. ‎Buktinya, saya tanyakan ke rekan-rekan saya di tempat kerja, dan tak ada yang menjawab tahu apalagi pernah memakainya secara aktif.

Saya juga belum pernah, meski jujur pernah mendengar aplikasi yang konon demikian populer di negeri asalnya Amerika Serikat itu. Suatu kebalikan dibandingkan Path yang terabaikan di negeri Paman Sam tetapi terpakai secara luas di sini.

Dilansir dari Nieman Lab, aplikasi Slack dipakai oleh reporter dan editor The New York Times sebagai alat ‎untuk memudahkan live blogging. Saya membaca bagaimana Slack yang berupa aplikasi mobile dan desktop ini bisa memudahkan koordinasi tim redaksi dalam sebuah lembaga pers untuk menayangkan perkembangan sebuah peristiwa detik itu juga. Sang reporter mempublikasikan di kanal tertutup organisasinya, lalu editor menyalin rekat dan menyunting kalimat si reporter untuk diterbitkan dalam kolom live blogging. Ini menjadi cara alternatif bagi jurnalis dan editor untuk mentransfer informasi secara real time. Selama ini Google Chat atau Yahoo Messenger juga bisa dipakai sebagai alat live blogging tetapi mengirimkan konten multimedia atau dokumen tampaknya belum terakomodasi dengan baik di sana. Beda dengan Slack yang mampu melakukan semua itu dalam satu platform.

Itu untuk‎ jurnalis media besar. Bagi blogger yang biasa bekerja sendiri tanpa editor atau jurnalis di media kecil yang bahkan editornya tak sempat menyunting, live blogging bisa dilakukan dengan menginstal langsung aplikasi platform blogging ke smartphone. Yang paling lazim tentunya WordPress.

‎(foto: itunes)

Kedinginan di Kantor? Salahkan Standar Usang Ini!

Kantor terasa bak kulkas raksasa? Salahkan standar usang yang dipakai oleh manajemen bangunan Anda.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan dua peneliti Eropa yang dikutip laman CNN Money mengungkapkan bahwa sebagian besar perkantoran modern menggunakan sistem kendali suhu ruangan yang dioperasikan berdasarkan pada tingkat metabolisme rata-rata seorang peempuan berusia 40 tahun yang memiliki berat badan 155 pounds atau setara dengan sekitar 70,3 kg.

Itulah yang mungkin bisa menjelaskan mengapa para pekerja saat ini kerap merasa kedinginan di kantor mereka. Ternyata standar usang yang dipakai pertama kali tahun 1960-an itu masih dipakai dan sudah tidak relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

“Kami menemukan bahwa standar dunia – setidaknya untuk tingkat metabolisme – berdasarkan pada rata-rata pria,” ujar peneliti Boris Kingma pada laman CNNMoney.

Kingma dan Wouter van Marken Lichtenbelt, keduanya dari University of Maastricht Medical Center di Belanda, mempublikasikan temuan ilmiah mereka dalam jurnal Nature Climate Change hari Senin kemarin.

Keduanya yakin bahwa standar suhu tersebut sudah seharusnya diatur menurut “komposisi tubuh” manusia di suatu bangunan tertentu atau kantor tertentu. Hal itu akan memberikan suhu ideal bagi sebagian besar orang di dalam bangunan.

Masalah ini ternyata tidak cuma tentang gender namun juga mengenai “subpopulasi”, seperti warga lansia atau anak-anak, denan tingkat metabolisme yang berbeda daripada manusia tahun 1960-an yang masih dipakai sebagai standar.

Tentunya, karena para perempuan masih menjadi bagian substansial dalam tenaga kerja di dunia, mereka juga kerap terlihat di kantor memakai baju-baju tebal saat bekerja.

“Para perempuan umumnya lebih kecil dari laki-laki dan memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Sehingga tingkat metabolisme mereka lebih rendah 20 sampai 35 persen,” ujar Kingma yang bekerja sebagai pakar biofisika.

Dalam sebuah studi terkendali yang dilakukan pada 16 perempuan pekerja, para peneliti menemukan bahwa suhu ideal bagi perempuan ialah hampir 5 derajat Fahrenheit lebih tinggi daripada suhu ideal bagi kaum Adam.

Dan jangan lupa, tidak cuma wanita. Para pria dengan tingkat metabolisme yang berbeda dari standar tadi juga bisa menderita. Seperti saya, yang harus menghangatkan jari jemari yang kaku sepanjang jam kerja!

Kiat Melek Keuangan untuk Para Blogger (Live Blog) @Sunlife_ID

Siapa orang kaya itu? Ia adalah orang yang pengeluarannya tidak lebih besar dari pemasukannya sembari melakukan investasi pada saat yang bersamaan. Ini bukan masalah jenis profesi saja. Misalnya seorang karyawan, profesional dan pengusaha. Kekayaan tidak dilihat dari banyaknya barang konsumtif yang Anda punyai, gawai yang Anda miliki. Tetapi lebih ditentukan oleh INVESTASI. “Investasi yang Anda punya menentukan kaya tidaknya Anda,” kata pakar perencanaan keuangan terkemuka Safir Senduk siang ini (1/8/2015) di acara jumpa blogger bersama perusahaan jasa keuangan tepercaya Sunlife Financial Indonesia. “Investasi apa saja yang sudah kita punya?”tanya sang pakar pada lusinan blogger yang memenuhi kafe XXI Plaza Indonesia.  Dahi kami yang hadir pun menjadi berkerut.

Tips khusus mengelola keuangan bagi blogger di jejaring sosial: Follow @safirsenduk untuk tips keuangan Follow @sunlife_ID untuk informasi jasa keuangan

Karakter pribadi menentukan gaya dalam mengelola keuangan kita. Saat seseorang suka narsis, seseorang akan menghabiskan dananya untuk berdandan. Bagi yang ingin menyenangkan orang lain, akan sering menghabiskan uang untuk mentraktir teman-teman. Ada orang yang tidak mencukupi meski gajinya setinggi langit. Orang dominan otak kiri akan lebih suka menjadi spesialis. Sementara orang yang dominan otak kanan akan lebih cenderung untuk menjadi generalis. Bagi orang yang dominan otak kirinya, jangan terlalu serius. Caranya sedikit nikmati hidup. Bagi orang yang dominan otak kanan, jangan terlalu santai. Caranya lebih banyak membaca.

Safir juga menjelaskan 3 cara mengelola cash flow. Yang pertama ialah orang MISKIN, yaitu orang-orang yang penghasilannya sama saja dengan pengeluaran. Tak peduli berapa pun pemasukan, kalau jumlah pengeluaran tetap sama dengan pemasukan, Anda disebut orang miskin. Yang kedua ialah orang MENENGAH, yaitu mereka yang menghabiskan pemasukan untuk barang-barang kebutuhannya tetapi tidak sampai menyamai jumlah pemasukan. Angsuran atau cicilan barang-barang dan aset juga termasuk ke dalam pengeluaran kaum menengah. Tetapi kelompok ketiga ialah orang KAYA, yang selain memenuhi kebutuhan sekarang, mereka menyisihkan dana untuk berinvestasi.

Elektronik, kendaraan, busana dan aksesoris, adalah beberapa jenis barang yang menurun nilainya dan tidak bisa dijadikan instrumen investasi, kata Safir.

Tiga cara mengelola keuangan:

  1. Miliki investasi sebanyak mungkin
  2. Siapkan dana masa depan
  3. Atur pengeluaran

MILIKI INVESTASI

Tetapi banyak orang beralasan menunda investasi karena merasa dananya cekak. Salah! Mulailah berinvestasi sedini mungkin meski dana yang ada masih kecil.

Di mana pun posisi keuangan kita, perlu disiasati cara dan instrumen berinvestasinya yang perlu dipilih sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Mirip dengan memilih tempat duduk di pesawat terbang, kata Safir.

Jenis-jenis instrumen investasi yang disarankan Safir ialah:

  1. Saham: Memiliki saham sama dengan memiliki sebuah bisnis tanpa banyak campur tangan. Pemasukannya berupa dividen dan keuntungan saat menjual jika harga saham itu lebih tinggi (capital gain). Sebanyak 70-80 persen orang di Indonesia berharap untung dari capital gain, yang membuat orang menjadi cemas tiap hari. Safir menyarankan untuk fokus pada dividen agar kita lebih tenang dan bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.
  2. Manajer investasi: Dana Anda akan dikelola oleh pihak ketiga dalam investasi. Reksadana dan unit link merupakan dua jenis produk manajer investasi saat ini di Indonesia. UL dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Reksadana dikeluarkan oleh perusahaan manajemen keuangan. Kiat berinvestasi dengan manajer investasi ialah perhatikan reputasi manajer investasi/ perusahaan asuransi (untuk unit link) yaitu berapa lama sudah berdiri dan bertahan melewati krisis, orang-orang yang berada di dalam jajaran manajemennya (apakah pernah terjerat hukum atau tidak?), arah mereka berinvestasi (apakah mereka banyak membeli saham-saham ritel yang tahan krisis?), prestasi selama ini (apakah mereka pernah turun selama ini? Bagaimana mereka pulih?).
  3. Properti: Menurut Safir ini instrumen investasi terbaik meski lebih susah dijual kembali. Kalau Anda tidak pernah berpengalaman jual beli properti, jangan membeli properti untuk investasi karena yakin harganya naik, kata Safir. “Beli properti untuk investasi untuk disewakan saja. Laba penjualan nantinya bisa dianggap bonus,” sarannya.

Tips menyewakan properti ala Safir Senduk:

  1. Menyewakan dengan masa sewa pendek misalnya sebulan sekali, sepekan sekali, atau bahkan harian. Sewa per jam juga bisa kalau kondisi pasar memang memungkinkan.
  2. Sewakan ke banyak penghuni: Bisnis kos adalah contohnya. Satu rumah bisa disewa banyak orang.

Jangan tergiur tawaran investasi yang bodong, Safir mengingatkan. Apa saja ciri-ciri investasi bodong?

  1. Investasi bodong bunganya tinggi sekali.
  2. Menjanjikan uang tunai bulanan.
  3. Dijamin tidak akan rugi.
  4. Bonus jika ada member baru.
  5. Kalau disuruh presentasi, skemanya tidak masuk akal.

SIAPKAN DANA MASA DEPAN

Safir menjelaskan kita harus menyiapkan dana untuk pos-pos berikut ini:

  1. Pernikahan: Ini berlaku terutama bagi yang masih lajang. Meski secara budaya, orang Indonesia menikah dengan menggunakan dana patungan keluarga, mempelai juga harus memikirkan dana pernikahan.
  2. Kendaraan: Ini lebih berkaitan dengan pola kerja dan mobilitas, apalagi jika Anda bekerja dengan mobilitas tinggi.
  3. Rumah: Kredit atau tunai? Safir mengatakan beli rumah secara tunai lebih murah dan mencicil lebih mahal. Tetapi tidak masalah jika mencicil karena biasanya kenaikan nilai properti bisa menebus selisihnya dalam 15-20 tahun lagi. Ini lain dengan kasus pembelian mobil, yang kata Safir lebih baik dibeli tunai. Bahkan Safir  menyarankan tidak usah melunasi kredit lebih cepat dan mengakolasikan dana ke pos lain yang lebih diperlukan atau darurat.
  4. Dana pendidikan anak: Sisihkan dana pendidikan tinggi untuk anak Anda. Jurusan-jurusan tertentu juga menghabiskan dana lebih banyak seperti kedokteran dan teknik. Sementara itu jurusan-jurusan ilmu sosial yang lebih murah.
  5. Pensiun: Memiliki sumber pemasukan saat pensiun itu penting. Investasi surat berharga, properti dan sebagainya diperlukan untuk masa senja ini.

ATUR PENGELUARAN ANDA!

Hidup itu indah, tetapi yang tidak itu tagihan-tagihannya, seloroh Safir.

Safir mengatakan kita perlu mengetahui sumber keborosan itu. Mirip dengan menemukan lubang dalam kapal yang sedang bocor!

Berbeda dari keyakinan umum, pria dan wanita sama-sama boros! Perempuan umumnya boros untuk penampilan. Pria banyak boros untuk hobinya. Perempuan memang lebih piawai menawar barang tetapi lebih sering membeli. Pria memang lebih jarang membeli barang tetapi lebih segan menawar sehingga lebih boros dalam sekali atau beberapa kali pembelian. Safir menyarankan kita untuk menuliskan sumber-sumber kebocoran keuangan tadi dan mencari cara untuk mengendalikannya.

Tiga jenis pengeluaran manusia:

  1. Wajib: Kebutuhan pokok ini memiliki batas.
  2. Butuh: Kebutuhan ini semacam pulsa ponsel. Masih ada batasnya.
  3. Ingin: Segala macam barang mewah dan sekunder. Ini tidak ada batasnya dan harus Anda kendalikan.

Keputusan membeli biasanya didominasi rasio dan emosi, bergantung pada dominasi otak seseorang. Mereka yang berlogika menonjol akan mengutamakan kualitas, fungsi, dll. Sementara mereka yang mengutamakan rasa akan mengutamakan tampilan, rasa dan sebagainya.

4 Prioritas Pengeluaran berdasarkan konsep melek keuangan:

  1. Cicilan utang: Max 30 persen dari pemasukan
  2. Tabungan dan investasi: Max 10 persen
  3. Premi asuransi: Max 10 persen
  4. Biaya hidup: Max 50 persen

Miliki asuransi untuk membayar pengeluaran tidak terduga yang jumlahnya besar sekali, kata Safir.

Safir juga mengatakan tidak semua SALE itu benar-benar memberikan potongan harga. Waspadalah! Hitunglah lagi dengan cermat sebelum membeli barang-barang dalam sale.

Kemeriahan siang itu ditutup dengan sesi tanya jawab dan kuis yang sungguh penuh semangat. Sejumlah smartphone dan hadiah lain pun dihadiahkan bagi para blogger yang mampu menjawab pertanyaan dan mau mengajukan pertanyaan terkait masalah manajemen keuangan pribadinya.

%d bloggers like this: