Talk about Being 10 and on a Constant World Tour

Liam’s (L) voice was so low I had to leaned forward while we were in a brief interview. He is now living the dream of million other children at his age: on a Disney tour around the planet. Fascinating indeed, and exhausting at the very same time. As I interviewed him, Liam was on “Beauty and the Beast World Tour.” Here’s the excerpt of our conversation.

‎AP: Since what age have you started to perform on stage?
L: ‎Maybe 3 or 5 years old and now I’m 10.

AP: How do you feel to be on Disney’s Musical?
L: I haven’t done a show for a while. I should do this and the experience is amazing and I have no regrets saying yes.

AP: How about the jetlag?
L: Quite a bit sometimes. From New York to Bangkok, because our first stop is Bangkok, it was 24 hours and I was definitely sleeping in the day and waking up at night.

AP: How about your school?
L: That’s a bit of a problem but that’s okay. They know that I am working on a tour because this is my job. This is what I have to do. So it’s really hard to leave home, and my friends, family and my pets.

AP: You have pets? What are they?
L: ‎I have two pets. A rabbit and two cats.

AP: What lesson do you want Indonesian kids learn from Ms. Potts? E: Stay positive! Things are gonna work out. She tries to keep the innocent Chip, who is turned into a cup, optimistic. For kids and all audience, I think : stay curious and stay positive, and to look beyond the exterior of somebody. Don’t judge a book by its cover.

‎AP: What’s your most challenging scene in the show?
L: It’s actually when I say:”Mama mama, you’re not gonna believe what I saw!” l Because it’s really long and I have to say it fast. ‎And the other is when I am asking if it’s possible for me to be human again.

E: I think the hardest part of me is when there’s a moment in the show when things don’t seem to work out for Belle and the Beast. And I am the one that kind of have to tell the Beast that because he doesn’t quite realize that things are not gonna work out. And that’s really hard because ‎Ms. Potts has become so optimistic about the whole thing, she always is holding up hope. And there is a moment where it looks like hope is not there anymore. And to tell somebody else that is so heartbreaking.

‎A: What’s the hardest part of the show?
E: I’d say the biggest difficulty for me is keeping it fresh every night because we have done lots of shows and travel a lot. We experience jetlag, different cultures, different time zones, etc. Having to leave all of that, we must put on the costumes and be like the very first time we’re stepping on stage. That’s the challenge of an actor, the hardest and also the most rewarding.

L: When I have to change my tone of voice. Because my voice is low. When I’m getting into the scene, it’s also easy for me to ‎think I am in the movie and I am Chip.

Tips dari Ahok Jika Capek Kerja

Kalau Ahok kerja, ia enggan melihat jadwalnya besok. Kelelahan besok ya untuk besok. “Hari ini susah hari ini. Besok susah tersendiri,” ujarnya.

Kalau sudah sampai maghrib, ia berlega hati. “Lumayan sudah lewat satu hari.” Besok mulai lagi.

Kegiatan sehari-hari Ahok dimulai dari pukul setengah 5 pagi. Tidur bisa pukul setengah 12 atau pukul 1 pagi tetapi tetap bangun pukul 5 pagi.

“Sudah seperti robot, tetapi tidak apa-apa karena bagi saya nama baik lebih berharga daripada harta,” katanya.

Ahok berkata dirinya terobsesi untuk ingin dicatat dan dikenang sebagaimana Ali Sadikin dikenang.

“Kalau saya bisa memecahkan masalah kemacetan dan banijir Jakarta, orang akan boleh bilang, ‘Ini gara-gara Ahok, semua jadi ada,’” katanya. Inilah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Mengenal Jaringan Fascia

800px-Bartolomeo_Passerotti_-_The_Butcher's_Shop_-_WGA17071Dalam beberapa kelas yoga, istilah “fascia” kadang disebut oleh pengajar. Secara sederhana, fascia merupakan sebuah lapisan atau selubung tipis yang berwujud jaringan mirip serat yang menyelimuti sebuah otot atau organ tubuh lainnya. Fascia bisa ditemukan dalam badan manusia dan hewan. Menurut penjelasan Wikipedia, fascia tersusun sebagian besar dari zat kolagen yang terbentuk di bawah lapisan kulit kita. Fungsi fascia sendiri ialah untuk merekatkan, menstabilkan, membungkus dan memisahkan otot-otot dan organ dalam tubuh lainnya.

Dr. Robert Schleip, seorang ahli bedah dari Universitas Ulm Jerman, menggunakan kamera khusus dan meneliti fascia dengan lebih mendalam. Sebelumnya, fascia hanya dikenal sebagai jaringan pembungkus organ dan otot tubuh, tetapi baru-baru ini fascia mendapatkan perhatian lebih banyak dari sejumlah kalangan. Apa pasal? Karena fascia juga memiliki potensi menjadi sumber sakit di tubuh kita.

Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan warna fascia, Anda tidak perlu mengunjungi ruang operasi di rumah sakit terdekat. Cukup lihat kios-kios penjual daging sapi, kerbau atau kambing (atau masjid terdekat, karena sekarang Idul Adha). Tukang daging biasanya membuang semacam lapisan putih yang menyelimuti daging sebelum dijual pada Anda. Itulah yang namanya fascia.

Fascia, menurut penuturan Schleip, memiliki peran yang penting dalam transmisi kekuatan otot dan ia juga berguna sebagai organ sensorik. Bahka sebenarnya fascia adalah organ sensorik yang paling kaya dan vital dalam penerimaan rangsangan. Sehingga jika ada gangguan pada fascia, disfungsi dalam tubuh bisa terjadi atau rasa sakit kronis bisa muncul.

Saat dilepaskan dari tubuh, fascia diketahui (melalui uji laboratorium) masih memiliki kemampuan untuk berkontraksi (menegang) dan mengendur secara independen.

Bagi para peneliti dari Universitas Ulm Jerman tersebut, disimpulkan bahwa rasa sakit dan ketegangan bisa muncul dari jaringan fascia.

Fascia menyelimuti semua otot dan organ kita dan berpartisipasi dalam semua gerakan tubuh kita. Jaringan ini juga mengandung syaraf dan pembuluh darah. Di samping itu, cairan juga mengalir dan beredar dalam fascia sehingga memungkinkannya bekerja bak pompa hidrolik yang halus.

Fascia bisa membentuk adhesi atau kerekatan, mengalami pelubangan (perforasi), atau ketegangan yang kompleks.

“Itulah yang kami ingin teliti, mengenai bagaimana fascia sesungguhnya bekerja,” ungkap Schleip. Ia dan tim penelitinya ingin menemukan cara bagaiman membuat fascia yang tegang menjadi kembali rileks.

Meski letak fascia di bawah kulit, ia bisa dimanipulasi dari luar. Caranya dengan menggunakan Metode Rolfing. Metode yang melibatkan intervensi pada fascia ini biasa dipakai untuk mengatasi keluhan sakit di leher dan bahu.

Menurut Schleip yang berasal dari Divisi Neurofisiologi Universitas Ulm Jerman itu, metode ini juga bermanfaat membantu penyembuhan gangguan dalam sistem otot dan rangka tubuh seperti pengerasan jaringan dan sensasi subjektif (misalnya rasa pegal dan kaku).

Para praktisi metode Rolfing menggunakan teknik-teknik pemijatan yang menyasar jaringan fascia agar kembali ke kondisi sediakala.

(sumber foto: Wikimedia Commons)

6 Kiat Menulis Lebih Baik Menurut Perspektif Neurosains

Boy_seated_at_a_table_writing,_China,_ca._1918-1938_(MFB-LS0248B)-2
Karena menulis itu aktivitas otak, ia juga bisa dikaji sesuai kaidah neurosains. (sumber foto: Wikimedia Commons)

Rasa lelah dan penat setelah menulis yang dialami sebagian orang cukup beralasan karena menulis merupakan aktivitas intelektual yang cukup intens. Apalagi jika si penulis mesti melakukan penelitian atau menggabungkan berbagai gagasan dengan cermat dan logis agar enak dibaca orang. Bak sebuah kaca cembung yang mengerucutkan berkas-berkas sinar yang melewatinya, pikiran/ otak juga berupaya memfokuskan kinerjanya pada satu atau beberapa hal saja dalam aktivitas menulisnya. Dan ini bukan perkara mudah.

Buku The Reader’s Brain: How Neuroscience Can Make You a Better Writer (Cambridge University Press, 2015) yang ditulis oleh Yellowlees Douglas, pengajar komunikasi manajemen di Unversity of Florida, memberikan perspektif baru pada para penulis mengenai bagaimana cara menulis dengan lebih baik. Dan ini tidak hanya berlaku bagi para penulis profesional (mereka yang mencari nafkah dari menulis) tetapi juga semua orang yang ingin kemampuan menulis dasar mereka dalam kegiatan sehari-hari lebih baik lagi. Karena seperti kita ketahui, sejatinya menulis adalah salah satu kegiatan dasar sebagai manusia yang berakal sehat dan berbudaya.

Douglas menegaskan bahwa menulis yang baik memang tidak mudah. Seseorang tidak hanya mampu meniru kalimat-kalimat indah gubahan para sastrawan terkemuka dunia, tetapi lebih dari itu.

Dalam bukunya, Douglas menyarankan 6 kiat menulis dengan lebih baik untuk semua orang.

Kiat pertama dari Douglas ialah siapkan pembaca. Bagaimana caranya menyiapkan pembaca Anda? Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan di bagian isinya, sampaikan gagasan intinya lalu sampaikan lagi mengenai gagasan yang Anda baru sampaikan, begitu ujar Douglas. Mungkin terdengar seperti repetisi/ pengulangan, tetapi inilah tantangannya bagi penulis agar kesan berulang itu tidak terlalu kentara. Pentingnya menyiapkan pembaca ialah agar di kemudian hari mereka bisa mengingat informasi penting yang Anda sampaikan. Karena seberapapun indahnya kalimat Anda, jika informasi intinya tidak tersimpan dengan baik di otak pembaca, sia-sia saja. Kiat ini didapatkan Douglas dari ilmu psikologi dan neurosains. Jadi, ingat untuk selalu menjelaskan tujuan Anda pada pembaca di kalimat-kalimat pertama dalam memo, surel, atau esai Anda. Dengan begitu, peluang mengingat informasi akan lebih besar.

Kiat kedua yakni menggunakan resensi. Menyampaikan gagasan pokok di akhir tulisan akan menguatkan ingatan pembaca karena biasanya manusia lebih mengingat informasi yang baru saja mereka baca daripada yang sudah lebih lama dibaca. Efek resensi ini ampuh untuk memperpanjang ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Para pembaca mengingat kalimat-kalimat terakhir dalam rangkaian paragraf, item di daftar dan paragraf dalam dokumen dengan lebih jelas, tandas Douglas lagi. Terutama bagi seorang copywriter, kiat ini penting karena di akhir tulisan biasanya mereka menambahkan kalimat-kalimat imbauan untuk bertindak (call-to-action) dan kapan tindakan itu mesti dilakukan.

Untuk mereka yang harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan dalam tulisan (misalnya kabar duka cita atau kemalangan lainnya), kiat ketiga akan sangat berharga. Persiapan di awal dan resensi di akhir tadi akan membantu menyiapkan pembaca mengenai hal-hal yang tidak terduga karena bisa membuatnya sedih, gundah atau frustrasi. Menurut Douglas, efek persiapan dan resensi akan membantu penyampaian pesan yang kurang positif itu agar diterima lebih baik oleh pembaca. Karena kadang hal yang kurang baik akan terasa lebih baik jika cara menyampaikannya tepat. Dalam pengalaman saya, kiat ini mirip dengan konsep “roti isi” (sandwich), yang artinya seseorang perlu meletakkan berita buruk/ kritik/ kecaman di tengah dua pujian, mirip dua lapis roti yang enak mengapit sayur mayur yang pahit dan kurang mengundang selera makan tetapi tetap harus dimakan karena nutrisinya dibutuhkan tubuh.

Saran Douglas, Anda juga bisa mengubur berita buruk dengan menyiapkan paragraf pembuka yang netral. Isinya tidak menipu (karena terlalu positif dan mengada-ada) atau memberikan berita buruk secara gamblang dan “telanjang”. Pembaca bisa syok karenanya. Untuk menghindari itu, neurosains memiliki saran untuk tidak menyampaikan berita buruk di awal tulisan. Itu karena ternyata studi klinis membuktikan bahwa dampak berita buruk dalam paragraf pertama bisa berupa resistensi atau keengganan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan sampai akhir. Kalau sudah begitu, tulisan Anda bisa diabaikan padahal mungkin Anda memiliki pesan yang lebih penting di bagian tengah atau akhir tulisan.

Lalu Douglas menyarankan membuka paragraf kedua dengan fokus pada berita buruk dan penjelasannya agar bisa diterima dengan lapang dada oleh pembacanya. Jangan lupa jelaskan penyebab dan konsekuensi dari berita buruk itu dengan lebih rinci. Akhirnya, masukkan isi berita buruk itu dalam sebuah anak kalimat di bagian paragraf kedua ini. Tutup pragraf itu dengan kalimat netral, dengan menyebutkan manfaat apapun yang masuk akal yang masih bisa dinikmati pembaca dari situasi yang kurang mengenakkan itu.

Kemudian susun sebuah paragraf yang pendek dan positif sebagai penutup tulisan. Bagian akhir ini bersifat berorientasi pada masa datang, mempertahankan itikad baik pembaca Anda dengan menggunakan posisi resensi dari dokumen Anda. Pembaca akan mendapatkan informasi pentingnya tanpa harus memusuhi Anda.

Kelima, manfaatkan sebab dan akibat. Dari sudut pandang evolusi, manusia cenderung untuk melihat sebab dan akibat dalam berbagai kesempatan yang penting bagi keberlangsungan hidupnya. Saat Anda menempatkan alasan logis atas diambilnya keputusan yang kurang menguntungkan si pembaca sebelum Anda menyampaikan padanya keputusan tersebut, Anda memaksimalkan kekuatan sebab. Dalam studi-studi ilmiah di tahun 1940-an, para subjek penelitian selalu menggambarkan bayangan persegi dan segitiga sederhana yang terus bergerak sebagai sebab dan akibat. Pembaca Anda juga rawan menyaksikan penyebab. Saat Anda mengubah kalimat menjadi narasi mikro sebab dan akibat, Anda membuat tulisan lebih mudah dibaca dan diingat.

Terakhir, Douglas menyarankan untuk menghindari kalimat pasif. Alasannya sederhana: karena kalimat pasif memperlambat kecepatan membaca, tak peduli sesimpel apapun isinya. (Sumber: Futurity.org)

Menyoal Penggunaan Bahasa Asing di Lingkungan Kerja

Menjelang Oktober yang dikenal sebagai bulan bahasa, tema satu ini menggelitik untuk dibahas. Memang tidak ada yang menyangka bahwa penggunaan bahasa sehari-hari juga perlu diatur oleh perangkat hukum. Toh ini mulut kita sendiri, jadi apapun bahasa yang kita keluarkan juga bukan urusan orang, apalagi negara.

Namun, lain halnya jika bahasa itu digunakan dalam lingkungan kerja yang formal, tak peduli di kalangan pemerintahan, atau swasta sekalipun. Jika ada di teritori Indonesia, bahasa Indonesia harus menjadi opsi utama. Bahasa mancanegara lainnya, termasuk bahasa Inggris, harus mengalah.

Selama ini, kita memang kerap menemui berbagai pelanggaran
aturan-aturan yang dicantumkan di infografis tersebut. Sebagian kaum ekspatriat, misalnya, masih memiliki kecakapan berbahasa Indonesia yang kurang layak. Padahal mereka bekerja dalam waktu yang cukup lama di sini. Dan meskipun ada yang sudah difasilitasi kantor mereka untuk belajar bahasa Indonesia, keengganan menggunakan bahasa nasional di lingkungan kantor terutama untuk komunikasi pekerjaan masih rendah sepengetahuan saya. Bahasa Inggris masih dipilih dalam berbagai kesempatan untuk menyampaikan gagasan, misalnya dalam rapat-rapat bisnis.

Yang menarik (atau menyedihkan?), bahasa Inggris juga kadang masih mendominasi komunikasi bisnis di antara dua pihak yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka. Sempat seorang teman menyampaikan keheranan seorang warga asing terhadap sesama orang asli Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai alat berkomunikasi. Mungkin saja mereka ingin berlatih bercakap-cakap agar kemampuan berbahasa Inggris mereka makin cemerlang, gumam saya. Meski saya akui, penggunaan bahasa Inggris yang paling tepat memang dengan mereka yang sudah tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.

Kalau mau kritis (alias nyinyir), kita sebagai warga negara bisa saja mengeluh:”Kenapa sih negara tidak mengurus hal lain saja? Seperti sudah tidak ada kerjaan saja mengurusi bahasa di kantor”. Itu bisa jadi pernyataan warga negara Indonesia yang masih belum paham mengenai kebanggaan menggunakan bahasa nasionalnya karena sejatinya, bahasa ialah bagian identitas sebuah bangsa atau masyarakat tertentu. Tentu Anda pernah merasa tersisih dan terasing begitu orang-orang di sekitar Anda menggunakan bahasa yang tidak Anda pahami, bukan? Itulah kekuatan bahasa.

Ananda Sukarlan: “Seni Adalah Ekonomi Kreatif Suatu Negara”

Pada hari Selasa, 22 September 2015 ini Ananda Sukarlan, komponis & pianis Indonesia yang tinggal di Spanyol, menjadi penerima termuda Anugerah Kebudayaan 2015 kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru. Pemberian anugerah ini dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan di Teater Jakarta (Taman Ismail Marzuki).

Berikut wawancara eksklusif dengan ANANDA SUKARLAN dengan saya.

Selamat atas penghargaan Anugerah Kebudayaannya, terutama Anda adalah penerima penghargaan tertinggi kebudayaan dari negara yang termuda. Apa arti penghargaan ini untuk Anda? 

Terima kasih! Buat saya, ini bukan hanya untuk saya sendiri, tapi untuk musik klasik (atau yang saya lebih suka sebut musik sastra) Indonesia. Ini adalah pengakuan pemerintah, bahwa musik jenis ini “eksis” di Indonesia dan bisa juga mewakili negara di dunia internasional. Sekarang tugas kami sebagai pemusik adalah memantapkan identitas dan karakter musik klasik / sastra Indonesia.

Apa yang dapat disumbangkan oleh seni & budaya terhadap negara?

Seni & budaya adalah sebuah aset yang harus dibina, dilestarikan dan dikembangkan, karena budaya bagian integral dalam masyarakat yang menjadi ciri khas dan “image” suatu bangsa yang akhirnya membuat dunia internasional tertarik terhadap bangsa kita. Selain itu seni memegang peranan penting dalam sejarah negara. Akhirnya itu akan menarik turis serta investor asing. Itu sebabnya seni adalah ekonomi kreatif suatu negara. 

Kendala apa saja yang masih menghambat kesenian itu menjadi aset negara yang berpotensi tinggi?

Strategi kebudayaan pemerintah masih “njelimet” menurut saya, birokrasi masih ruwet, dan para birokrat seni kebanyakan teori! Seni itu produk para seniman, seniman itu menjual produk, dan tugas pemerintah itu me”marketing” produk seni tsb. Seniman sendiri tidak perlu banyak omong, yang main piano pencetlah tuts dengan benar, yang pelukis bikinlah kombinasi warna yang bagus, dan lain-lain. Produk tersebut tunjukkanlah ke forum-forum publik atau kompetisi dengan juri-juri yang “qualified“, sehingga akhirnya opini publik serta para expert yang menentukan kualitas seni itu, yang kemudian dapat dipakai negara untuk dijual ke dunia internasional. Siapa yang mau ke kota sekecil Salzburg kalau tidak ada musiknya Mozart, atau Florence kalau tidak ada lukisan-lukisan Donatello, Michelangelo, Botticelli, dan sebagainya. Kota besar seperti Madrid pun salah satu daya tariknya adalah Museum Del Prado yang menyimpan lukisan-lukisan terpenting Eropa. Di kota tempat saya tinggal sendiri bisa dilihat, betapa kota yang tadinya “tidak penting” seperti Bilbao meningkat drastis ekonominya setelah dibangunnya Museum Guggenheim. Tapi lihat deh, sampai sekarang Undang-undang Kebudayaan masih menjadi RUU yang tak kunjung disahkan di DPR. RUU tersebut mencoba mendefinisikan kegiatan kebudayaan, perangkat, aktivitas serta elemen-elemen yang ada dalam kebudayaan. Harus dipahami bersama bahwa pengelolaan kebudayaan bukan hanya soal pelestarian saja, namun juga mengembangkan dan menciptakan budaya baru. Ini yang tampaknya terlewatkan dalam RUU ini. Dan di sini peran musik sastra: bagaimana menciptakan identitas musik sastra Indonesia, karena musik sastra adalah musik yang universal. 

Anda selalu menyebut “musik sastra” untuk istilah yang biasanya adalah “musik klasik”. Jadi selalu ada hubungannya dengan sastra?

AS : Oh, bukan begitu. Itu istilah yg saya ajukan untuk mengganti “musik klasik” yang salah kaprah. Saya pernah diwawancara KITA Anak Negeri di YouTube  berjudul “Musik Klasik itu Keren” https://www.youtube.com/watch?v=vVpbiIk6rCM. Dalam video itu saya bercerita tentang  Musik Klasik dan Musik Sastra. Jadi definisinya mudah: musik yg tertulis, jadi sama seperti karya sastra. Artinya musik itu eksis dalam partitur, dan bentuknya sudah baku. Bisa buat instrumen apa saja. Bedanya kalau karya sastra itu dalam huruf, kalau musik sastra dalam not balok (di Eropa diajarkan di tingkat SD, jadi semua orang juga bisa baca, walaupun tidak fasih). Kalau kita sebut “klasik”, kesannya kuno atau komponisnya sudah lama wafat. Nah John Williams (komponis untuk film Harry Potter, Indiana Jones dll) atau saya itu masa menulis musik “klasik”? Jadi, musik sastra itu akan tetap sama sampai kapanpun (hanya interpretasinya saja yang akan berbeda dan berkembang: musik Beethoven “gaya” interpretasinya pasti beda pada abad 19 dan abad 21). Sedangkan musik lainnya : jazz, rakyat, pop, dan lain-lain itu not-notnya, formasinya bahkan durasinya akan berbeda setiap kali dimainkan, karena tidak ada bentuknya yang baku atau tertulis.

Musik ini masih dianggap “minoritas” dan untuk kalangan menengah ke atas. Bagaimana tanggapan anda terhadap persepsi tersebut?

 Memang persepsi itu masih ada, tapi saya mau mengubah situasi ini. Caranya tentu saja bukan dengan mengadakan konser-konser gratis, karena konser gratis itu sudah terbukti justru tidak mendidik (baca deh tulisan saya di The Jakarta Post, saya telah upload di sini : http://andystarblogger.blogspot.com.es/2015/08/my-original-article-for-jakarta-post.html ) . Kalau saja konser itu sudah ada sponsornya, menurut saya penonton tetap harus berkomitmen untuk membayar, walaupun jumlah yang sangat kecil / simbolik saja. Ini untuk menyadarkan bahwa segala seni itu adalah milik semua penikmat, itu menyangkut biaya produksi dan jika ingin menikmati seni, sama seperti menikmati jasa / pelayanan makanan di restoran atau transportasi, semua harus ikut berkontribusi.

Menurut pandangan anda apakah pianis-pianis Indonesia sudah cukup siap bersaing dalam kancah internasional? 

AS:  Di generasi yang sangat muda (artinya 25 tahun ke bawah) ada, dan cukup banyak, seperti Anthony Hartono (21) yang kuliah di National Univ. of Singapore serta Randy Ryan (20) yang kini kuliah di Juilliard School of Music, New York. Saya banyak melihat bakat besar di antara para finalis dan pemenang kompetisi piano Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun lalu, dan saya sangat excited dengan apa yang akan kita lihat dengan prestasi mereka ke depannya. Saya terus terang tidak menyangka bahwa di Indonesia ada bakat2 seperti itu. “Luar biasa” mungkin masih kurang untuk menggambarkan betapa tingginya kualitas dan potensi mereka. Kita bisa sebut beberapa nama, seperti Henoch Kristianto yang telah merekam seluruh 24 Etudes oleh F. Chopin yang setiap nomornya sangat virtuosik, Inge Buniardi yang telah keliling Rusia dan Amerika serta Edith Widayani yang kini sedang mengambil program Doktor di Eastman School of Music dan juga sudah konser di banyak negara. Sayangnya memang mereka tinggal di luar negeri, seperti saya, karena memang kesempatan untuk berkembang masih lebih banyak di Amerika dan Eropa. Dan ya jujurlah, kalau ada tawaran untuk mengembangkan karir di satu tempat/negara, siapa yang menolak, ya kan? Tapi kalau saya lihat, Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan potensial untuk musik klasik di masa depan, bahkan perkembangannya pun sangat pesat. Konser musik klasik di Jakarta kini selalu penuh, dan saya harapkan ini “menular” ke kota-kota lainnya.

Bisa cerita sedikit tentang Kompetisi Piano Ananda Sukarlan Award dan apa rencananya ke depan? 

Kompetisi berikut akan diadakan tanggal 27-31 Juli 2016. Kategori seperti biasa : Senior (di bawah 26 th), Junior (di bawah 18), Elementary (di bawah 12) dan Little Elementary (di bawah 10). Komplitnya, coba saja cek www.anandasukarlancenter.com . Satu hal yang istimewa adalah saya akan memulai membuka 1 kategori yang non-kompetitif, untuk para pianis yang memiliki disabilitas, baik fisik maupun mental. Ini untuk menunjukkan saja bahwa musik itu memang untuk semua orang, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bahkan musik itu punya efek teuraputik.

Apa saja kiat & tips supaya bisa menjadi seperti Ananda Sukarlan?

Musiknya klasik alasannya klasik. Yaitu kerja keras & harus berani mengambil risiko. Karir itu tergantung pada diri kita sendiri bukan tergantung pada orang lain. Misalnya soal kompetisi piano, masih banyak yang tidak mau ikut karena takut kalah. Tidak ada kemenangan tanpa kekalahan. Untuk menang, keinginan untuk menang harus bisa mengalahkan ketakutan akan kekalahan. Dulu, dan sekarang masih, satu-satunya jalan untuk  memulai karir di dunia musik sastra adalah dengan ikut kompetisi. Habis gimana lagi? Saya juga dulu waktu muda kadang kalah, walaupun kebanyakan menang. Kompetisi itu justru untuk membuktikan bahwa kita bukan yang terbaik. Di atas langit masih ada langit . Mengajarkan untuk rendah hati . Kita tidak perlu lebih baik daripada orang lain, kita hanya perlu lebih baik daripada diri sendiri kemarin. Kompetisi jadi sangat penting untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.

Rahasia kesuksesan musik Indonesia bisa“eksis” di dunia musik sastra internasional?

Kita harus membawa sesuatu yang baru dan berbeda tapi berkualitas tentu saja.  Bagaimana mengindonesiakan musik sastra & mengidentifikasi musik sastra Indonesia itu seperti apa. Tidak hanya bisa memainkan komposisi Mozart, Chopin, atau Beethoven . Karena kalau hanya mengandalkan itu artinya kita juga harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan pianis yang memainkan komposisi tersebut, tidak hanya masa kini, tapi juga ribuan pianis di masa lalu. Sudah turun temurun. Tahukah anda bahwa saat ini ada sekitar 40 juta pianis klasik hanya di Cina saja?  Orang mencari sesuatu yang berbeda. Saya tidak pernah capek mengingatkan, pentingnya identitas Indonesia dalam musik sastra yang kita mainkan. Selain untuk karir kita di dunia internasional juga sebagai aset kita. Ini saya sadari begitu saya mulai berkarir di benua lain. Kebetulan, penyanyi muda Mariska Setiawan yang bukan hanya sangat berbakat dalam teknik vokal sopranonya, tapi juga jeli dalam membaca situasi budaya menulis hal yg sama ini di blognya. Saya bersimpati sih dengan dia karena dia pasti mengalami “shock” yang sama sewaktu saya berusia sama dengannya, sekitar 20-an. Baca deh tulisannya, bagus banget : https://mariskasetiawan.wordpress.com/2015/08/22/halo-dunia/

Bisa ceritakan sedikit mengenai perkembangan karya Anda, Rapsodia Nusantara?

Selain passion saya untuk membuat karya-karya piano yang virtuosik, ini juga ternyata strategi yang jitu untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia ke seluruh dunia. Dengan mengemasnya dalam teknik komposisi “klasik” yang mengakar pada musik Eropa, ini akan mudah dipahami dan dicerna secara universal. Instrumennya pun standar: piano itu mudah didapatkan di semua negara, sedangkan kalau masih murni musik etnik, tidaklah mudah menemukan gamelan atau angklung di semua negara. Sekarang cek saja, sudah berapa pianis asing yang memainkan Rapsodia Nusantara di YouTube. Ini tentu mengedepankan keunikan dan kekuatan identitas musik Indonesia, dan saya harapkan bisa mengokohkan statur Indonesia di mata internasional sekaligus menjadi pembentuk identitas kebangsaan yang beragam. Sampai sekarang saya sudah menulis 18 nomor, dari 18 propinsi, doakan yah semua provinsi akhirnya terlaksana! (*/ Akhlis)

Ananda Sukarlan: Setia dengan Musik Sastra

Pada hari Selasa, 22 September ini Ananda Sukarlan, komponis & pianis Indonesia yang tinggal di Spanyol, menjadi penerima termuda Anugerah Kebudayaan 2015 kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru. Pemberian anugerah ini dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan di Teater Jakarta (Taman Ismail Marzuki).

Berikut wawancara eksklusif dengan ANANDA SUKARLAN dengan saya.

Selamat atas penghargaan Anugerah Kebudayaannya, terutama Anda adalah penerima penghargaan tertinggi kebudayaan dari negara yang termuda. Apa arti penghargaan ini untuk Anda? 

Terima kasih! Buat saya, ini bukan hanya untuk saya sendiri, tapi untuk musik klasik (atau yang saya lebih suka sebut musik sastra) Indonesia. Ini adalah pengakuan pemerintah, bahwa musik jenis ini “eksis” di Indonesia dan bisa juga mewakili negara di dunia internasional. Sekarang tugas kami sebagai pemusik adalah memantapkan identitas dan karakter musik klasik / sastra Indonesia.

Apa yang dapat disumbangkan oleh seni & budaya terhadap negara?
Seni dan budaya adalah sebuah aset yang harus dibina, dilestarikan dan dikembangkan, karena budaya bagian integral dalam masyarakat yang menjadi ciri khas dan “image” suatu bangsa yang akhirnya membuat dunia internasional tertarik terhadap bangsa kita. Selain itu seni memegang peranan penting dalam sejarah negara. Akhirnya itu akan menarik turis serta investor asing. Itu sebabnya seni adalah ekonomi kreatif suatu negara.

Kendala apa saja yang masih menghambat kesenian itu menjadi aset negara yang berpotensi tinggi?
Strategi kebudayaan pemerintah masih “njelimet” menurut saya, birokrasi masih ruwet, dan para birokrat seni kebanyakan teori! Seni itu produk para seniman, seniman itu menjual produk, dan tugas pemerintah itu me”marketing” produk seni tsb. Seniman sendiri tidak perlu banyak omong, yang main piano pencetlah tuts dengan benar, yang pelukis bikinlah kombinasi warna yang bagus dll. Produk tsb tunjukkanlah ke forum2 publik atau kompetisi dengan juri-juri yang “qualified”, sehingga akhirnya opini publik serta para expert yang menentukan kualitas seni itu, yang kemudian dapat dipakai negara untuk dijual ke dunia internasional. Siapa yang mau ke kota sekecil Salzburg kalau tidak ada musiknya Mozart, atau Florence kalau tidak ada lukisan-lukisan Donatello, Michelangelo, Botticelli dll. Kota besar seperti Madrid pun salah satu daya tariknya adalah Museum Del Prado yang menyimpan lukisan-lukisan terpenting Eropa. Di kota tempat saya tinggal sendiri bisa dilihat, betapa kota yang tadinya “tidak penting” seperti Bilbao meningkat drastis ekonominya setelah dibangunnya Museum Guggenheim. Tapi lihat deh, sampai sekarang Undang-undang Kebudayaan masih menjadi RUU yang tak kunjung disahkan di DPR. RUU tersebut mencoba mendefinisikan kegiatan kebudayaan, perangkat, aktivitas serta elemen-elemen yang ada dalam kebudayaan. Harus dipahami bersama bahwa pengelolaan kebudayaan bukan hanya soal pelestarian saja, namun juga mengembangkan dan menciptakan budaya baru. Ini yang tampaknya terlewatkan dalam RUU ini. Dan di sini peran musik sastra : bagaimana menciptakan identitas musik sastra Indonesia, karena musik sastra adalah musik yang universal.
Anda selalu menyebut”musik sastra” untuk istilah yang biasanya adalah “musik klasik”. Jadi selalu ada hubungannya dengan sastra?

Oh, bukan begitu. Itu istilah yg saya ajukan untuk mengganti “musik klasik” yang salah kaprah. Saya pernah diwawancarai KITA Anak Negeri di YouTube  berjudul “Musik Klasik itu Keren” https://www.youtube.com/watch?v=vVpbiIk6rCM. Dalam video itu saya bercerita tentang  Musik Klasik dan Musik Sastra. Jadi definisinya mudah: musik yg tertulis, jadi sama seperti karya sastra. Artinya musik itu eksis dalam partitur, dan bentuknya sudah baku. Bisa buat instrumen apa saja. Bedanya kalau karya sastra itu dalam huruf, kalau musik sastra dalam not balok (di Eropa diajarkan di tingkat SD, jadi semua orang juga bisa baca, walaupun tidak fasih). Kalau kita sebut “klasik”, kesannya kuno atau komponisnya sudah lama wafat. Nah John Williams (komponis untuk film Harry Potter, Indiana Jones dll) atau saya itu masa menulis musik “klasik”? Jadi, musik sastra itu akan tetap sama sampai kapanpun (hanya interpretasinya saja yg akan berbeda dan berkembang: musik Beethoven “gaya” interpretasinya pasti beda pada abad 19 dan abad 21). Sedangkan musik lainnya : jazz, rakyat, pop dll itu not-notnya, formasinya bahkan durasinya akan berbeda setiap kali dimainkan, karena tidak ada bentuknya yang baku atau tertulis.
Musik ini masih dianggap “minoritas” dan untuk kalangan menengah ke atas. Bagaimana tanggapan Anda terhadap persepsi tersebut?

Memang persepsi itu masih ada, tapi saya mau mengubah situasi ini. Caranya tentu saja bukan dengan mengadakan konser-konser gratis, karena konser gratis itu sudah terbukti justru tidak mendidik (baca deh tulisan saya di The Jakarta Post, saya telah upload di sini : http://andystarblogger.blogspot.com.es/2015/08/my-original-article-for-jakarta-post.html ) . Kalau saja konser itu sudah ada sponsornya, menurut saya penonton tetap harus berkomitmen untuk membayar, walaupun jumlah yang sangat kecil / simbolik saja. Ini untuk menyadarkan bahwa segala seni itu adalah milik semua penikmat, itu menyangkut biaya produksi dan jika ingin menikmati seni, sama seperti menikmati jasa / pelayanan makanan di restoran atau transportasi, semua harus ikut berkontribusi.
Menurut pandangan Anda apakah pianis-pianis Indonesia sudah cukup siap bersaing dalam kancah internasional? 

AS:  Di generasi yang sangat muda (artinya 25 tahun ke bawah) ada, dan cukup banyak, seperti Anthony Hartono (21) yang kuliah di National Univ. of Singapore serta Randy Ryan (20) yang kini kuliah di Julliard School of Music, New York. Saya banyak melihat bakat besar di antara para finalis dan pemenang kompetisi piano Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun lalu, dan saya sangat excited dengan apa yang akan kita lihat dengan prestasi mereka ke depannya. Saya terus terang tidak menyangka bahwa di Indonesia ada bakat2 seperti itu. “Luar biasa” mungkin masih kurang untuk menggambarkan betapa tingginya kualitas dan potensi mereka. Kita bisa sebut beberapa nama, seperti Henoch Kristianto yang telah merekam seluruh 24 Etudes oleh F. Chopin yang setiap nomornya sangat virtuosik, Inge Buniardi yang telah keliling Rusia dan Amerika serta Edith Widayani yang kini sedang mengambil program Doktor di Eastman School of Music dan juga sudah konser di banyak negara. Sayangnya memang mereka tinggal di luar negeri, seperti saya, karena memang kesempatan untuk berkembang masih lebih banyak di Amerika dan Eropa. Dan ya jujurlah, kalau ada tawaran untuk mengembangkan karier di satu tempat/negara, siapa yang menolak, ya kan? Tapi kalau saya lihat, Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan potensial untuk musik klasik di masa depan, bahkan perkembangannya pun sangat pesat. Konser musik klasik di Jakarta kini selalu penuh, dan saya harapkan ini “menular” ke kota-kota lainnya.

Bisa cerita sedikit tentang Kompetisi Piano Ananda Sukarlan Award dan apa rencananya ke depan?

Kompetisi berikut akan diadakan tgl 27-31 Juli 2016. Kategori seperti biasa : Senior (dibawah 26 th), Junior (dibawah 18), Elementary (dibawah 12) dan Little Elementary (dibawah 10). Komplitnya, coba saja cek http://www.anandasukarlancenter.com . Satu hal yang istimewa adalah saya akan memulai membuka 1 kategori yang non-kompetitif, untuk para pianis yang memiliki disabilitas, baik fisik maupun mental. Ini untuk menunjukkan saja bahwa musik itu memang untuk semua orang, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bahkan musik itu punya efek teuraputik.

Apa saja kiat dan tips supaya bisa menjadi seorang musisi andal seperti Ananda Sukarlan?
Musiknya klasik alasannya klasik. Yaitu kerja keras & harus berani mengambil risiko. Karier itu tergantung pada diri kita sendiri bukan tergantung pada orang lain. Misalnya soal kompetisi piano, masih banyak yang tidak mau ikut karena takut kalah. Tidak ada kemenangan tanpa kekalahan. Untuk menang, keinginan untuk menang harus bisa mengalahkan ketakutan akan kekalahan. Dulu, dan sekarang masih, satu-satunya jalan untuk  memulai karir di dunia musik sastra adalah dengan ikut kompetisi. Habis gimana lagi? Saya juga dulu waktu muda kadang kalah, walaupun kebanyakan menang. Kompetisi itu justru untuk membuktikan bahwa kita bukan yang terbaik. Di atas langit masih ada langit. Mengajarkan untuk rendah hati. Kita tidak perlu lebih baik daripada orang lain, kita hanya perlu lebih baik daripada diri sendiri kemarin. Kompetisi jadi sangat penting untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.

Rahasia kesuksesan musik Indonesia bisa “eksis” di dunia musik sastra internasional?

Kita harus membawa sesuatu yang baru & berbeda  tapi berkualitas tentu saja.  Bagaimana mengindonesiakan musik sastra & mengidentifikasi musik sastra Indonesia itu seperti apa. Tidak hanya bisa memainkan komposisi Mozart, Chopin, atau Beethoven . Karena kalau hanya mengandalkan itu artinya kita juga harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan pianis yang memainkan komposisi tsb, tidak hanya masa kini, tapi juga ribuan pianis di masa lalu. Sudah turun temurun. Tahukah anda bahwa saat ini ada sekitar 40 juta pianis klasik hanya di Cina saja?  Orang mencari sesuatu yang berbeda. Saya tidak pernah capek mengingatkan, pentingnya identitas Indonesia dalam musik sastra yang kita mainkan. Selain untuk karir kita di dunia internasional juga sebagai aset kita. Ini saya sadari begitu saya mulai berkarir di benua lain. Kebetulan, penyanyi muda Mariska Setiawan yang bukan hanya sangat berbakat dalam teknik vokal sopranonya, tapi juga jeli dalam membaca situasi budaya menulis hal yg sama ini di blognya. Saya bersimpati sih dengan dia karena dia pasti mengalami “shock” yang sama sewaktu saya berusia sama dengannya, sekitar 20an. Baca deh tulisannya, bagus banget : https://mariskasetiawan.wordpress.com/2015/08/22/halo-dunia/

Bisa ceritakan sedikit mengenai perkembangan karya anda, Rapsodia Nusantara?

Selain passion saya untuk membuat karya-karya piano yang virtuosik, ini juga ternyata strategi yang jitu untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia ke seluruh dunia. Dengan mengemasnya dalam teknik komposisi “klasik” yang mengakar pada musik Eropah, ini akan mudah dipahami dan dicerna secara universal. Instrumennya pun standard: piano itu mudah didapatkan di semua negara, sedangkan kalau masih murni musik etnik, tidaklah mudah menemukan gamelan atau angklung di semua negara. Sekarang cek saja, sudah berapa pianis asing yang memainkan Rapsodia Nusantara di youtube. Ini tentu mengedepankan keunikan dan kekuatan identitas musik Indonesia, dan saya harapkan bisa mengokohkan statur Indonesia di mata internasional sekaligus menjadi pembentuk identitas kebangsaan yang beragam. Sampai sekarang saya sudah menulis 18 nomor, dari 18 propinsi, doakan yah semua propinsi akhirnya terlaksana! (*/)

4 Steps to a Flawlessly Straight Handstand

Handstand needs your best core strength, which not everyone possesses.
Doing a totally straight handstand needs your best core strength, which not everyone possesses. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Handstand is considered one of the most challenging yoga asanas taught in every modern, especially urban, yoga class. And we all know some yoga enthusiasts are obsessed with it in various degrees. I’m not kidding, because I’ve met a person who willingly and voluntarily spends several minutes of his time to perfect his handstand. He did it every single day. On and on and on, until he injured himself for a while. Nothing but injury can stop him doing the silly self harming practice further.

So the lesson learned is: I’m not going to injure myself from overly repetitive unmeasured practices without knowing and respecting my limit and without no professional supervision. Never ever.

But I was fortunate enough to attend a handstand-themed class days ago and to witness two acroyoga teachers –Claudine and Honza Lafond of Yoga Beyond – teaching doing handstands safely at Anandamaya Wellness Festival in Jakarta, last Saturday (19/9).

First and foremost, prepare the hand at shoulder width. Extend fully the arms. And jump with all force you’ve got.

First, PRESS. Using momentum from a series of jumps only tires you out. After a few jumps, you’ll find yourself too tired to  continue trying. Instead of doing that, Honza and Claudine gave a number of warmups for the handstand beginners like me. Have someone as your assistant and watch as you make attempts at this. Jump forward with all your core strength and widespread fingers as your solid fondation. Bear in mind your legs are still folded and thighs are held close to the abs (a.k.a tuck your legs). Once you find the balance, stay there and press your palms onto the earth!

Second, HUG THE MIDLINE. Squeeze your entire body towards the midline of body.

Third, GAZE. Look to your thumbs. Look towards the back of your head.

Last of all, BREATHE. That’s how we find the balance, advised Honza.

The “exit strategy” after reaching the final pose is slowly come down by tucking your legs onto the abs and then landing smoothly on the ground on tiptoes (instead of on your soles of feet).

Let’s give it a try…

Sarjana.co.id Ingin Bantu Lulusan Baru Lanjutkan Pendidikan dan Mulai Karier

SETELAH berkecimpung di industri minyak dan gas, di tahun 2012 Setra meluncurkan Sarjana.co.id, sebuah situs yang ia maksudkan untuk menjadi suatu solusi terpadu terhadap masalah pendidikan tinggi di tanah air. Ia menyusun database yang berisi perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dan berbagai informasi yang relevan bagi para calon mahasiswa yang hendak memilih jurusan. Dari sini, ia berupaya membuat model bisnis yang efektif untuk bisnis sosialnya tersebut.

Bulan Februari 2012 menjadi saksi perintisan bisnis barunya. Setra merekrut pegawai pertama untuk Sarjana. “Agustus di tahun yang sama, situs kami sudah siap diluncurkan dan sebulan berikutnya kami pun memperkenalkannya terhadap publik,” ujarnya.

Tahun 2004, Setra akan meneruskan pendidikannya. “Saya tidak punya orang untuk bertanya tentang bagaimana membuat keputusan itu karena orang tua saya lulusan sekolah menengah,” kenangnya. Kehadiran konselor di sekolah juga tidak banyak membantu dirinya menetapkan arah masa depannya di bangku perguruan tinggi. Ide untuk mendirikan Sarjana.co.id muncul dari pengalaman masa lalunya ini.

Pemuda asal kota Surabaya ini pernah mengenyam pendidikan di Australia kemudian mengikuti program pertukaran mahasiswa ke AS di tahun 2006. “Karena ekonomi Indonesia kurang bagus saat itu, orang tua saya mengatakan mereka tidak bisa lagi mendanai uang kuliah saya jadi saya harus menemukan sumber pemasukan lain, yaitu dengan bekerja paruh waktu dan mendapatkan beasiswa,” jelas lulusan Teknik Perminyakan ini pada saya.

Prihatin karena masih banyak generasi muda Indonesia yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, Setra mengumpulkan pendanaan dari teman-temannya di AS.

Dari sana, ia mulai membantu beberapa anak muda yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi masih kebingungan untuk menentukan jurusan dan dananya. Setra pun membantu hingga mereka bisa masuk. Dan hal ini terus berlangsung selama 7 tahun.

Selama membantu anak-anak muda itu memilih kampus yang sesuai, Setra menyadari prosesnya cukup rumit. “Kita masih harus membaca brosur, sementara situs kampus-kampus masih banyak yang kurang informatif. Bahkan prosedur pendaftaran tidak dijelaskan dengan baik,” tuturnya tentang kondisi memprihatinkan pendidikan tinggi di Indonesia.

Setra memutuskan untuk memberikan solusi lengkap termasuk melalui ranah digital dalam membantu mereka yang ingin kuliah.

“Saya dirikan Sarjana.co.id sebagai solusi satu atap bagi konseling pendidikan tinggi dan karier,” ungkapnya. Hingga saat ini, Sarjana sudah memiliki 70 ribu pengguna, klaim Setra.

Secara sederhana, Sarjana memberikan penjelasan mengenai masing-masing jurusan, apa yang akan dipelajari di dalamnya dan bagaimana karier yang bisa dipilih setelah lulus. 

Untuk membuat interaksi lebih mudah, Sarjana.co.id juga menyuguhkan fitur ‘live chat’ atau obrolan langsung mengenai masalah pendidikan tinggi kliennya. Ini menjadi salah satu cara bagi Sarjana untuk “menjadi teman bagi penggunanya,” ucap Setra.

Selama 3 tahun ini, Sarjana secara konsisten menyediakan layanan tersebut. “Tidak hanya sporadis atau sesekali saja tetapi kontinu.”

“Kami ingin generasi muda Indonesia menggunakan pemikiran kritis mereka dalam menentukan arah pendidikan tinggi mereka, dan membantu kampus-kampus untuk membidik para calon mahasiswa,” pungkasnya. (*/)

Ananda Sukarlan Tolak Kebarat-baratan

Bertempat di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Jakarta, konser peringatan hubungan diplomatik antara Peru dan Indonesia yang bertajuk “Amistad” digelar tadi malam (8/9) dan berlangsung meriah. Konser tersebut dihadiri berbagai tamu undangan dari kalangan diplomat asing negara-negara Amerika Latin di ibukota dan tamu-tamu lokal. Pianis andal Ananda Sukarlan dan penyanyi sopran Evelyn Merrelita (Indonesia) serta penyanyi bariton Rudi Fernandez Cardenas (Peru) tampil di panggung berkolaborasi membius audiens selama 1 jam 10 menit. 

Sepuluh komposisi yang disajikan dalam konser tersebut telah digubah dan dirampungkan secara bertahap sejak bulan Mei 2015 lalu. Kemudian latihan dilakukan secara mandiri oleh keenam pemusik yang terlibat di dalamnya untuk kemudian berlatih bersama setelah beberapa pekan untuk mendapatkan harmoni secara alami.

Tentang proses kreatifnya dalam konser ini, Ananda menyebutkan ia melakukan penelitian. “Di sini, saya gabungkan musik Sunda dengan musik Peru,” ungkapnya. Pianis itu memilih musik dari tanah Pasundan karena alasan merasa lebih familiar. “Apalagi instrumen gesek dan tiup banyak berasal dari Sunda. Kalau di Jawa lebih banyak didominasi gamelan, alat musik pukul, sehingga kurang cocok.”

Instrumen tiup pan flute dipilih sebagai representasi budaya musik Peru. Alasan lain mengapa instrumen ini dipilih menurut Ananda ialah karena “instrumen ini adalah yang termudah yang bisa dipelajari orang Indonesia dalam beberapa minggu” sementara yang lainnya bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun untuk dikuasai. Alat musik tiup pan flute ini bunyinya mirip seruling tetapi cara memainkan berbeda karena digeser-geser. Dalam konser tersebut, pan flute dimainkan oleh Andika Candra. 

Bersama Ananda dan Andika, dalam komposisi berjudul Amistad yang dimainkan di tengah konser itu Giovani Biga (biola), Dave Nathanael (biola), Ratna Nur Salim (viola) dan Rachman Noor (cello) membuat audiens terbuai dengan dinamika dan kekompakan permainan yang memukau. 

Lebih lanjut, Ananda juga menyorot bagaimana orang Indonesia harus bangga dengan budaya yang mereka miliki, tidak harus meniru Barat melulu. “Itulah yang saya alami dua puluh tahun lalu saat saya seusia Evelyn. Saat saya ke Eropa, justru saya terdorong untuk bisa menawarkan sesuatu yang baru, bukan yang kebarat-baratan,”tukasnya. Dengan bangga menjadi dirinya sendiri, para musisi Indonesia menurut Ananda bisa lebih banyak berkontribusi pada perkembangan musik klasik dunia. (*/)

Merayakan Pertemanan Bersama Rudi Fernandez Cardenas

Siapapun yang bertemu dengan pria asal Quitos, Peru, ini tidak akan menyangka usianya sudah 32 tahun. Wajah Rudi Fernandez Cardenas itu membuat banyak orang salah sangka. Dan ia sangat menikmatinya. “Maaf saya harus menanyakannya karena saya suka mendengarnya (disangka lebih muda -pen),” ucap penyanyi bariton tersebut sambil tersenyum saat disangka masih berusia 20-an tahun.

Penampilannya yang awet muda itu tampaknya berkaitan dengan apa yang ia lakukan sehari-hari. Rudi sangat menikmati pekerjaannya sebagai penyanyi aliran klasik di ibukota Prancis. “Saya tinggal di Paris saat ini dan bekerja di kedutaan Peru di sana,” tuturnya sebelum tampil dalam konser peringatan 40 tahun hubungan diplomatik antara RI dan Peru di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail pada 9 September 2015 lalu.

Menyanyi sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak usia 19 tahun. Di usia 12 tahun, Rudi sudah berani tampil menyanyi di depan publik. 

Dari pengalaman sejak dini itu, mungkin sebagian menduga Rudi dibesarkan dalam keluarga yang sangat artistik dan menjiwai seni vokal. Namun, kenyataannya tidak demikian. “Ayah saya seorang insinyur dan ibu saya ibu rumah tangga,” terang Rudi yang turut bernyanyi bersama penyanyi klasik Indonesia Evelyn Merrelita dalam gelaran bertajuk “Amistad” 8 September 2015 lalu di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Jika bakat sebagian penyanyi ditemukan oleh orang lain, bakat Rudi ditemukan oleh dirinya sendiri. Sadar ia memiliki bakat dalam bidang tarik suara, Rudi pun mulai belajar ke guru vokal dan masuk ke konservatorium untuk mempelajari seni vokal dengan lebih intensif. Ia melanglangbuana ke ibukota Peru, Lima (2000-2004) kemudian ke Paris untuk menimba ilmu tarik suara di sebuah sekolah musik terbesar Prancis, Conservatoire National Supérieur de Musique et de Danse de Paris. Di sana, Rudi belajar berbagai hal tentang musik, tidak hanya tarik suara tetapi juga teori musik.

“Saya menyukai alam,” ujar Rudi yang lahir dan menghabiskan masa kecilnya di wilayah Peru yang tertutup hutan tropis Amazon. Eksplorasi alam di sekitar tempat tinggalnya membuat kekaguman tidak pernah habis.

Pertama kali menyambangi Jakarta, ia merasakan kesamaannya dengan kota asalnya, Quitos. “Hawanya panas dan lembab karena berada di garis khatulistiwa,” tuturnya. Ia juga sempat terkejut menemukan tanaman yang mirip dengan tanaman bernama patikina yang familiar di negeri asalnya. Di sini tumbuhan itu dijumpai sebagai tumbuhan perdu pengisi pot.

Dalam dunia seni, saling memengaruhi bukanlah hal aneh. Rudi mengaku dirinya “tidak orisinal”. Ia banyak terpengaruh oleh penyanyi besar abad ke-20, Maria Callas. (*/)

Survei: Bekerja Lepas Jadi Tren di Negeri Paman Sam

Bekerja untuk korporasi makin tidak digemari di Amerika Serikat. Hasil sebuah studi menunjukkan bahwa 31 persen dari para pekerja AS mempertimbangkan untuk menjadi pekerja lepas atau yang disebut sebagai “free agents”, demikian menurut sebuah survei dari perusahaan riset pasar tenaga kerja dan perekrutan Kelly Services.

Mereka menemukan bahwa jumlah para pekerja lepas, kontraktor independen, pemilik UMKM, pekerja magang atau bahkan buruh serabutan makin banyak di masyarakat. Akan tetapi, mereka tidak termasuk dalam kelompok pekerja tradisional yang mendapatkan sumber pemasukan dari satu pemberi kerja saja.

Mayoritas dari mereka ini mengatakan mereka tidak mau terikat pada satu pemberi kerja. Dan sebagian memasuki dunia ini dengan penuh kesadaran.

Hanya 10 persen mengatakan mereka terpaksa masuk ke sana karena kondisi ekonomi — separuh dari jumlah total di tahun 2011 saat Kelly terakhir melakukan survei tersebut.

Para pekerja yang bebas ini menyatakan tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi daripada pekerja tradisional dalam hal pekerjaan secara keseluruhan, keseimbangan hidup dan keluarga, pengembangan ketrampilan dan peluang lain dalam memajukan karier, ungkap Kelly dalam hasil surveinya.

Saat dikaitkan dengan kemapanan kerja, ada persamaan juga antara mereka yang bekerja secara mandiri dan menjadi karyawan. Mengingat kehidupan pekerja lepas yang lebih kurang menentu, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pekerja tradisional yang berada dalam banyak korporasi besar juga merasakan ketidakmenentuan masa depan itu.

Kelompok pekerja lepas ini tersebar di semua sektor industri, tetapi tampaknya yang paling banyak ditemui adalah di bidang TI, akunting// keuangan, teknik dan pendidikan.

Tidak cuma generasi muda yang masuk ke dalamnya. Survei menemukan bahwa 36 persen generasi Baby Boomers juga rela menjadi pekerja lepas. Sementara itu, hanya ada 26 persen yang berasal dari generasi Millenial (kelahiran tahun 1980 dan selanjutnya).

Perusahaan-perusahaan sering membawa para pekerja senior berpengalaman dan berketrampilan tinggi untuk proyek-proyek mereka terutama jika berkaitan dengan sains, teknologi, teknik dan matematika, ungkap Teresa Carroll, pimpinan senior Kelly Globall Talent Solutions.

Survei ini muncul bersamaan dengan maraknya minat sejumlah pihak seperti pemerintah, peneliti ekonomi dan politisi mengenai skala ekonomi dunia kerja lepas ini, kelebihan dan kelemahannya bagi pekerja yang bersangkutan, dan apakah para pemberi kerja menggolongkan kelompok ini sebagai kontraktor independen untuk memangkas belanja dan kewajiban perusahaan di tengah kondisi ekonomi yang kurang cerah.

Kelompok ini memang lebih murah bagi perusahaan untuk disewa tenaga dan jasanya. Pemberi kerja tak perlu memberi uang lembur, asuransi kesehatan dan cuti berbayar. Mereka juga tak harus membayar ke negara untuk asuransi pengangguran atau dana kompensasi pekerja atas nama si pekerja lepas. Dan pemberi kerja tidak perlu menutup biaya pajak mereka. Pajak harus ditanggung pekerja-pekerja itu sendiri.

Sebagai imbalannya, mereka memiliki kebebasan untuk menentukan kapan, di mana, bagaimana dan untuk siapa mereka akan bekerja. Dan itu akan menjadi sebuah kelebihan apalagi bagi para pemilik ketrampilan yang saat ini sangat dibutuhkan pasar.

(sumber foto: wikimedia commons)

%d bloggers like this: