Miniso: Brand Kombinasi Ciamik Tiongkok-Jepang

 

Sore itu, saya dan seorang teman iseng saja ke sebuah pusat perbelanjaan. Semua barang-barang di dalamnya bisa dikatakan dibanderol lebih mahal beberapa puluh persen daripada di pasar Tanah Abang atau pasar swalayan segmen menengah.

Di sini, teman saya dengan girangnya memasuki sebuah gerai dan berkata dengan enuh antusias,”Lihat deh, ini murah-murah banget. Lo kudu beli.”

Saya lihat nama gerai itu. MINISO.

Saya mengangguk lemah. Karena saya tidak segila dia dalam hal belanja, saya hanya menurut saja dengan ajakannya. Saya pun menelusuri rak-raknya. Setelah beberapa kali mengamati banderol harganya, tidak berlebihan memang apabila teman saya ini menyimpulkan demikian.

Barang-barang di Miniso memang sangat amat murah jika dibandingkan dengan brand Asia Timur lain, seperti Uniqlo [meski sekilas logo mereka sangat mirip, didominasi warna merah]. Barang-barang ini bisa dikatakan mencakup banyak kategori tapi tidak ada makanan atau minuman. Semuanya pakaian dan aksesori, pernak pernik yang, kata perempuan, ‘lucu-lucu’ [saya agak tidak setuju dengan penggunaan kata ‘lucu’ di sini].

Saya sempat ‘tertipu’ mengira brand ini dari Jepang karena melihat foto seorang desainernya yang bernama khas Jepang, Junya Miyake. Padahal ini perusahaan ritel Tiongkok sebetulnya karena markasnya di Guangzhou sana. Dalam lima tahun sejak berdiri, perusahaan yang digawangi Miyake dan rekannya dari RRC, Ye Guo Fu, ini mencapai pemasukan 1,5 miliar dollar AS.

Sangat meyakinkan performa bisnisnya saya akui.

Tapi kombinasi brand Tiongkok yang bisa menghasilkan barang dengan harga murah tetapi masih dengan cita rasa dan desain khas Jepang ini memang bisa dikatakan jitu sekali. Paduan yang mematikan untuk menarik konsumen yang daya belinya rendah di pasar-pasar gemuk seperti Indonesia. Mereka ini kalangan menengah yang mau tampil keren dan modis tapi tidak mau terlalu boros karena banyak pertimbangan. Seperti teman saya ini, yang bisa dikatakan bangga mengatakan dirinya ‘smart shopper‘.

Sebuah arloji pria, misalnya, dijual sekitar Rp100.000 – Rp200.000. Sangat menggiurkan, karena desainnya dan bentuknya mirip arloji keren yang lebih mahal dan biasa dikenakan profesional muda ibukota. Sandal yang nyaman hanya dijual seharga Rp60.000. Ini cukup menarik karena di gerai brand lain seperti Muji dan Uniqlo, harga-harganya tidak ada yang sampai semurah meriah itu.

Indonesia akan terus kebanjiran barang Miniso, sebab diketahui perusahana itu akan terus berekspansi di sini dan menargetkan untuk membuka lebih dari 1000 gerai. Di Indonesia, gerai terbesarnya di Mall Artha Gading Jakut.

 

 

 

 

 

 

Hidup dengan Bahagia

APAKAH TUJUAN HIDUP manusia? Tidak lain dan tidak bukan pada intinya ialah menjadi bahagia. Semua upaya dan jerih payah yang kita lakukan pada dasarnya adalah cara-cara untuk membahagiakan diri kita.

Masalahnya yang muncul kemudian ialah bagaimana masing-masing manusia mendefinisikan kebahagiaan itu. Setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing dan ini membuat banyak hal menjadi saling tumpang tindih dan silang sengkarut, dan memperumit apa yang seharusnya sederhana dan mudah dipahami.

Berikut ini adalah 4 perspektif dari 4 orang dengan rekam jejak dalam peradaban manusia modern yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan satu benang merah yang menyatukan beragam pandangan ini ialah keterkaitannya dengan alam. Bahwa tanpa alam, tiada kebahagiaan bisa diraih. Dan karena alam sangat erta kaitannya dengan hutan, pohon menjadi suatu lambang yang tidak tergantikan untuk merujuk pada keterkaitan kita dengan alam.

Pertama, Helen Keller. Menurut sosok pemikir nan inspiratif ini, kemapanan yang banyak orang anggap sebagai bagian penting dalam mencapai kebahagiaan hakiki ialah mitos belaka. Ia hanyalah khayalan dan imajinasi. “Kemapanan tidak bisa dijumpai di alam ini, tidak juga ada seorang pun dari kita sebagai umat manusia di dunia ini yang pernah merasakannya. Menghindari bahaya tidaklah lebih aman dalam jangka panjang daripada membiarkan diri kita masuk ke dalamnya. Hidup berisi dua pilihan, yakni bertualang dengan gagah berani atau tidak sama sekali. Merupakan suatu kekuatan yang tidak bisa dipatahkan untuk bisa mengangkat dagu dan menghadapi semua perubahan dalam hidup dan berbuat layaknya jiwa yang bebas di hadapan takdir.

Sementara itu, Majorie Kinnan Rawlings berpendapat bahwa setiap manusia semestinya memiliki satu tempat untuk menjadi peraduannya. Tempat ini bisa dianggap sebagai tempat secara fisik atau konseptual. Terserah pada bagaimana Anda memaknai kata “peraduan” di sini. Namun, untuk lebih bagusnya tentu kita bisa mendefinisikan secara lebih luas, yakni peraduan secara lebih abstrak. Dalam pemahaman saya, peraduan itu ialah Tuhan YME.

Kemudian ada David J. Wolpe yang mengumpamakan keingintahuan seorang manusia untuk menemukan kebahagiaan sebagai seorang anak kecil yang berkeliaran di hutan setiap hari. Anak kecil ini kebetulan anak seorang rabbi (pemuka agama Yahudi). Pertama kali mengetahuinya, sang rabbi tidak merasakan adanya keanehan. Namun karena sang buah hati masuk ke hutan setiap hari, akhirnya mau tidak mau ia juga penasaran dan bertanya. “Kenapa kau masuk ke hutan setiap hari padahal di sana banyak bahaya mengintaimu, anakku?” ucapnya dengan sabar. Anak itu menjawab dengan lembut,”Aku ke sana untuk menemukan Tuhan, ayah.” Ayahnya mengangguk senang bahwa di usia semuda itu, anaknya sudah memahami keberadaan Tuhan dalam hdiupnya. “Tetapi mengapa kamu berkeliaran di hutan. Toh Tuhan di mana-mana sama saja bukan?” ungkap ayahnya, masih bersikukuh untuk meyakinkan sang anak agar meninggalkan kebiasaannya masuk hutan. “Betul, ayah. Tuhan sama di mana-mana. Tapi aku tidak,” ujarnya. Dengan kata lain, ia harus menemukan dirinya sendiri sebelum ia bisa menemukan Tuhannya. Dan cara menemukan diri ialah dengan menyepi sejenak dari keriuhan duniawi.

Jiddhu Krishnamurti memiliki pemahaman lain soal kebahagiaan. Menurutnya, kita perlu belajar untuk bisa berteman dengan semua makhluk di alam raya ini. Salah satunya ialah bagaimana menjalin persahabatan dengan pepohonan di sekitar kita. Berkawan dengan mereka bak berkawan dengan manusia juga. Mereka adalah makhluk hidup yang bernapas, bisa berkembang biak dan akhirnya mati.

“Alkisah ada sebuah pohon yang berada di tepian sungai dan kami telah menyaksikannya  hari demi hari saat mentari akan terbit. Saat fajar, pohon ini akan tampak keemasan. Semua dedaunannya cerah dan penuh kehidupan dan saat Anda mengamatinya terus, Anda akan menemukan kualitas luar biasa yang terpancar ke sekelilingnya, ke sungai pula. Dan saat mentari naik, daun-daunnya mulai menari-nari. Tiap jam memberikan kualitas yang berbeda pada pohon tersebut. Begitu hari mulai sibuk dengan aktivitas manusia, dedaunan yang disinari mentari itu terus menari dan memancarkan kecantikannya yang tiada tara. Saat tengah hari, bayang-bayangnya makin pekat dan meneduhi kami semua yang duduk di bawahnya. Kami tak pernah merasa sendirian karena ia menaungi kami. Saat kau duduk di bawahnya, akan terasa bahwa ada rasa aman dan kebebasan yang diberikan oleh pohon itu. Bila kau berteman dengannya, berarti kau juga berteman dengan seluruh manusia. Kau bertanggung jawab atas pohon itu dan semua pohon di dunia ini. Tapi jika kau kehilangan pertemanan dengan makhluk hidup di sekitarmu, kau akan kehilangan hubungan dengan manusia juga di muka bumi ini.”

Spiritualitas ekologi merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan perspektif Henryk Skolimwski mengenai pohon dan manusia serta hubungan keduanya. Untuk bertindak sesuatu di dunia ini, seolah-olah ia bagai suatu tempat suci, ialah dengan membuatnya syahdu dan sakral. Bagaimana alam semesta berubah bergantung pada manusia yang hidup di dalamnya. Perlakukan ia sebagai mesin dan ia akan menjadi mesin. Perlakukan ia sebagai kuil dan ia akan menjadi tempat nan suci. Pemahaman mendalam mengenai ekologi merupakan kekaguman dalam bentuk konkret dan identifikasi yang mengakar mengenai keindahan hidup melalui alam semesta hingga kita melebur ke dalamnya. Maka, pemahaman menjadi empati. Dan empati menjadi rasa hormat yang universal. Rasa hormat ini merupakan bentuk spiritualitas tersendiri. (*/)

%d bloggers like this: