Tirta Lebak Buana: Pemandian Air Panas yang Benar-benar Panas

LEWAT sebuah video YouTube saya tahu di Lebak sini ada sebuah tempat pemandian air hangat yang bisa dikunjungi di akhir pekan.

Namanya Tirta Lebak Buana. Lokasinya di Jl. Raya Rangkasbitung-Bogor Km. 37, Jl. Nasional 1, RW.1, Cipanas, Kec. Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten 42372. Katanya sih ada 2 pemandian di sini yang dikelola pihak pemerintah dan swasta.

Dari tempat saya tinggal jaraknya 1 jam naik mobil. Saya sengaja tidak naik sepeda motor karena tahu bakal ngeri medan perjalanannya.

Sepanjang perjalanan ke Tirta Lebak Buana saya melihat rumah-rumah penduduk dan perumahan baru tapi masih lebih banyak kebun dan lereng dan punggung bukit yang kosong dan cuma dipenuhi vegetasi.

Di perjalanan saya juga lihat banyak desa yang masih mengandalkan ekonomi pada sektor pertanian dan tambang pasir. Sungguh memprihatinkan sih kalau melihat.

Begitu saya sampai di pemandian ini, saya masuk dan membayar Rp15.000 tapi harga tiket masuknya saya lihat di video YouTube seseorang seharusnya Rp10.000. Pungli? Sudah pasti.

Kesan saya pertama kali masuk pemandian ini adalah tempat ini sudah tua dan perlu pemeliharaan dan pemugaran.

Tapi yang paling mencurigakan sebenarnya adalah tidak adanya pengunjung yang berendam dalam kolam.

Hmmm, ternyata benar saja. Suhu air kolam ini terlampau panas di luar batas nyaman manusia.

Begitu saya berganti pakaian, saya mencoba merendam ujung jempol kaki ke dalam air dan merasa terkejut dengan suhunya yang di luar kenyamanan.

Saya letakkan tas di bangku semen dekat kolam lalu berusaha membenamkan sedikit demi sedikit badan ke kolam tapi begitu merasa agak kepanasan, saya naik ke tepian lagi. Begitu berulang kali.

Karena panasnya itu, saya merasa haus dan pusing dan mesti keluar kolam sebentar lalu turun lagi. Dan saya juga putuskan makan biskuit demi mengganjal perut di siang bolong yang mendung itu.

Selama 1,5 jam saya berulang kali turun berendam lalu naik lagi melihat ponsel, lalu turun lagi. Karena kalau terlalu lama di atas, badan jadi kedinginan kena angin tapi kalau kelamaan di kolam juga bisa dehidrasi karena saking panasnya.

Selain suhunya yang membuat tak nyaman berendam, kondisi air kolam juga agak kotor kena dedaunan yang rontok dari pepohonan di sekitar pemandian. Saya sih masih bisa memaklumi itu. Tak masalah kok, selama kotoran yang jatuh bukan kotoran burung atau binatang atau manusia.

Seharusnya perlu dipikirkan bagaimana membuat suhu air ini bisa lebih nyaman di kulit pengunjung. Caranya mungkin dengan mencampur air panas dari gunung ini dengan air sungai atau sumber air tawar di sekitarnya.

Tapi sekali lagi, itu kalau sudah ada duit untuk merealisasikan. Dan nampaknya tempat ini belum dilirik investor atau pengelola yang profesional.

Karena di dalam pemandian tidak ada tempat makan yang layak, saya keluar dan naik ke sebuah tempat makan/ kafe di atas bukit. Namanya Wafa Cafe and Resto.

Di sini saya pesan makan siang dan minuman untuk sekadar mengisi cairan tubuh yang hampir habis selama berendam. Bahkan saya memangkas rambut di sini karena di sebelah kafe ada barber shop.

Saya lihat pemandangan di sini sangat bagus. Kafe ini terletak pas di pinggir tebing yang pemandangannya tak terhalang apapun. Terhampar di depan kita sebuah lansekap perbukitan dan panorama yang elok bak lukisan khas anak SD. Rumah-rumah dan sawah dan gunung dan bukit.

Yang saya sayangkan malah justru adanya tangga dan balkon yang dicat warna-warni, tanaman dan bunga plastik dan lengkungan (arch) yang seakan dibuat untuk mempercantik tapi malah mempernorak suasana yang aslinya sudah indah.

Sangat disayangkan…. Serius.

Kalau saran saya sih bukannya menambah pernak-pernik buatan tapi justru cukup dengan mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan itu saja sudah lebih dari cukup. Terlalu sering orang Indonesia sibuk menambah-nambahi dan membangun ini itu untuk mempercantik pemandangan tapi lupa menjaga kebersihan dan kerapian.

Ini saya katakan bukannya tanpa alasan, karena dari meja kafe kalau saya tengok ke bawah, saya bisa melihat sampah plastik berserakan. Haha. Begitulah kekurangan pedesaan-pedesaan semacam ini. Mereka belum punya sistem manajemen sampah organik dan anorganik yang bagus dan efektif sehingga penduduk ya asal buang di sana-sini di sekitar rumah mereka. Solusinya ya dibakar saja seringnya. Padahal bukannya melenyapkan sampah, justru menimbulkan pencemaran udara plus sisa pembakaran masih ada juga kok. Jadi kebiasaan bakar sampah itu memang sudah harus dihindari. kalau yang dibakar daun kering sih mungkin emisinya cuma karbon dioksida tapi kalau yang dibakar bahan plastik yang notabene ada zat-zat kimiawi berbahaya, ya sama saja meracuni diri sendiri.

Saya sendiri memutuskan untuk pulang setelah itu meskipun di peta saya lihat ada penginapan yang tersedia di dekat kafe. Tapi saya gamang apakah kondisinya sesuai ekspektasi saya atau tidak. Dan daripada saya tak bisa tidur malam harinya, saya putuskan pulang saja. (*/)

Perjuangan Manusia Mencari Makna (Sebuah Ulasan Santai)

VIKTOR FRANKL adalah seorang psikiater berdarah Yahudi yang masa kecilnya yang sangat traumatis. Semua anggota keluarganya kecuali saudara perempuannya mati di kamp Nazi. 

Di buku ini, dia mencoba menelisik alasan kenapa seburuk apapun hidup yang dijalani seorang manusia, pasti ada setidaknya satu alasan untuk mempertahankannya.

Keinginan untuk bunuh diri memang wajar saat seorang manusia merasa hidup nggak berjalan sesuai harapan. Ya siapa sih yang mau hidupnya ada masalah berat yang rasanya nggak terpecahkan sampai mati? 

Tapi niat bunuh diri yang melintas itu sesungguhnya bukan kehilangan semangat hidup. Semangat hidup itu masih ada tapi dikalahkan rasa ketidakberdayaan mengubah hidup yang ada menjadi kondisi hidup yang diinginkan. Eh ini bukan pemikiran Frankl tapi opini gw aja. Jiah!

Pendekatan Frank disebut logotherapy. Beda dari Sigmund Freud yang fokus ke akar penyebab kelainan mental berupa kecemasan akibat dorongan-dorongan yang saling bertentangan dan bersifat bawah sadar, Frankl lebih membahas soal jenis-jenis neurosis (sejenis kelainan mental ringan yang gejalanya meliputi kecemasan, perilaku obsesif, depresi, dan hipokondria) dan merunut akar kelainan ini hingga ke kegagalan penderitanya dalam menemukan makna dan tanggung jawab atas hidupnya.

Ide utama eksistansialisme ialah bahwa hidup itu penderitaan dan menderita adalah cara menemukan makna. Makna ini yang manusia sekarang banyak yang nggak paham, karena mereka menghindari penderitaan dan tenggelam dalam kenyamanan. Kalau ada penderitaan pun bisa dihindari pakai duit, bayar orang lain buat menderita demi kita. 

Manusia supaya ada semangat hidup ya harus bisa memaknai hidupnya. Masalahnya makna hidup tiap manusia berbeda. Dan itu nggak bisa didapet secara instan. Butuh perjalanan dan perenungan panjang. Bisa karena secara sengaja atau terpaksa. Dalam kasus Frankl ia menemukan makna hidupnya karena paksaan Nazi. Karena itulah ia sepakat dengan pendapat Nietzsche: “Barangsiapa yang memilki alasan untuk hidup bakal bisa bertahan dengan hampir semua cara.”

Di buku autobiografi ini, Frankl menceritakan kisah masa kecilnya yang mengenaskan untuk menjelaskan bagaimana ia sadar ia cuma punya satu nyawa untuk dipertahankan walaupun kemungkinannya sangatlah kecil untuk selamat dari Nazi yang jauh lebih kuat daripada seorang anak kecil. Di kamp, ia sadar kalo semua hal di luar dirinya nggak bisa dikendalikan. Ia cuma bisa mengendalikan satu hal: dirinya sendiri. Maksudnya, ya mengatur bagaimana respon dirinya terhadap situasi yang menyiksa dan brutal ini. Apakah dia sebaiknya nyerah aja dengan keadaan atau bertekad mempertahankan hidup bagaimanapun juga?

Recommended banget buat dibaca sama kamu yang lagi overthinking malem-malem soal makna dan tujuan hidup yang absurd ini. Dan ini nggak cuma buat anak muda yang sering disebut terbelit “krisis seperempat abad” yang udah overhype. Krisis tujuan dan makna hidup itu universal dan nggak kenal usia dan faktor lainnya kok. Anak kecil bisa aja udah mikir ginian, buktinya Frankl. Yang udah keliatan mapan dan usianya uzur juga masih bisa dilanda pertanyaan: “Lho ini hidup gw udah bener belom sik? Apa jangan-jangan gw salah jalan?”

Penting juga buat kita buat nggak melarikan diri dari pencarian makna hidup ini dan memilih kenyamanan semu yang ditawarkan dunia kayak berbagai macam adiksi dari yang jelas jelas negatif kalau dikonsumsi seenaknya kayak narkotika dan miras sampai ke yang ‘abu-abu’ dan dicap nggak harmless kayak kecanduan nonton film atau traveling atau apapun itu demi menutupi lubang kekosongan makna hidup tadi. Manusia modern ngerasa hidupnya meaningless karena ya jarang banget berpikir soal makna dan tujuan hidupnya. Lebih gampang dan nyaman dengar musik atau nonton film buat mengalihkan pikiran dari ketidaknyamanan tadi . 😌

=======

VIKTOR FRANKL menceritakan masa kelamnya sebagai tahanan kamp konsentrasi Nazi. Di situ dia jadi budak yang disuruh gali terowongan. Di situ orang-orang Yahudi yang ditahan dijadikan kayak biri-biri aja, dikasih nomor dan nggak dipedulikan lagi siapa namanya, latar belakang ekonomi dan sosialnya.

Nazi (SS) pinter banget karena merekrut sejumlah tahanan Yahudi yang bertabiat bengis sebagai “capo”. Inilah orang-orang yang diberi hak buat nentuin mana tahanan yang sakit dan nggak bisa kerja berat sehingga bisa dieksekusi di kamar gas karena udah nggak bisa kasih faedah lagi buat masyarakat. 

Di sini penentuan siapa yang bisa diangkut ke kamar gas beracun didasarkan pada hubungan keluarga dan pertemanan. Kalau si capo bisa dibujuk buat menyelamatkan 1 orang, maka ia mesti cari korban lainnya. Pokoknya kudu pas sesuai kuota yang ditentuin tentara Nazi.

Frankl beruntung karena masih bisa kerja kasar dan nggak sakit-sakitan meski kelaparan parah. Dia beruntung dapet kupon yang bisa ditukar dengan rokok atau sup. Buat mereka yang masih ingin bertahan hidup, pasti pilih sup. Tapi buat mereka yang udah mikir pendek dan ingin menikmati hari terakhir, ya udahlah sebatz ajah. Besok mati yang penting sekarang bisa sebattt!

Menurut Frankl, ada 3 fase saat seseorang masuk jadi tahanan kamp konsentrasi. Pertama saat dijebloskan masuk ke kamp, kedua saat bergulat dengan rutinitas kamp, dan ketiga saat ia berhasil bebas.

Di kamp konsentrasi Auswitch, Frankl beruntung tidak dikirim ke kamar gas. Ia bersama tahanan seangkatannya ditelanjangi, dicukur gundul, disuruh mandi bersama di udara terbuka yang dingin di musim gugur, diharuskan menyerahkan semua harta benda, dan tidur berdesakan di atas papan keras bak 100 ikan bandeng dipepes dalam satu lembar daun pisang.

Tapi di sini ia paham betapa sesungguhnya manusia itu makhluk yang kuat dalam soal bertahan hidup, bahkan melebihi kecoa! Diinjak masih bisa lari, dikejar terbang makin tinggi tanpa bisa ditebak arahnya. Manusia boleh merengek atau sambat ini itu tapi toh ia berusaha mencari solusi supaya bisa lebih nyaman di antara tantangan yang bikin nggak nyaman.

Dari pengalamannya itu, Frankl setuju dengan pernyataan penulis Rusia Fyodor Dostoyevsky bahwa manusia adalah makhluk yang bakal bisa beradaptasi dengan apapun. Kondisi yang seabsurd dan seenggak enak apapun bakal bisa ditolerir manusia karena mereka punya 1001 cara buat menyiasatinya.

Dan kita sendiri juga kadang mengalaminya. Kita merasa nggak cocok sama lingkungan ini atau itu tapi kok ya dijalani ya jadinya betah-betah aja. Bilang hubungannya toksik ini itulah tapi ya bertahan sampe tua. Capek macet-macetan tapi abis dijalani ya enjoy aja. Di Mars yang dingin dan gersangnya segitu aja masih mau didatengi buat dijadiin tempat tinggal. 

Yang mengesankan ialah meski Frankl tahu peluang hidup di kamp ini sangat rendah dan semua temannya terlintas pikiran bunuh diri, ia berjanji pada dirinya sendiri buat nggak bunuh diri dengan menyentuh kawat berduri yang beraliran listrik tegangan tinggi.

Di fase pertama ini, tahanan kamp merasa nggak takut mati. Malah mereka cari mati. Ancaman eksekusi kamar gas bahkan nggak bikin mereka bijak dalam berpikir.

Seorang teman menasihati: “Kamu jangan takut mati di sini. Jangan juga takut pas pemilihan buat eksekusi kamar gas. Rawat dirimu dengan sebaik-baiknya. Cukur jenggot tiap hari supaya kelihatan fresh dan lebih muda. Kalau mau tetep hidup, perlihatkan tampilan bahwa kamu bisa kerja fisik.”

Yang agak menyudutkan mereka menggunakan istilah “muslim” buat manggil orang-orang yang putus asa dan berpenampilan lusuh, tak merawat diri dan pandangan matanya lesu dan bertubuh lemah. Mereka yang begini bakal dipilih buat dieksekusi di kamar gas, katanya.

Di kondisi yang nggak normal ini, lebih mudah emang buat mengeluarkan respon yang nggak normal (dengan bersikap pesimis dan ingin bunuh diri) tapi justru malah kita harus memilih sikap yang normal (dengan menjadi optimis dan merawat semangat hidup). Jadi ini permainan mental aja, guys. 

Di tahap kedua, para tahanan mengalami kematian emosional. Karena saat mereka menunjukkan emosi seperti jijik, sedih, atau sakit, mereka akan dihukum fisik. Dengan memasang muka datar saat ada tahanan ditendang, ada anak 12 tahun dihukum kerja tanpa sepatu di cuaca beku sampai kena frostbite, atau saat ada tahanan bersihin saluran air penuh tinja yang tiba-tiba muncrat ke wajah, mereka bisa terhindar dari hukuman. Dan juga capek sih kalo terus bereaksi dengan semua hal keji dan jijik yang terjadi terus-terusan. Lama-lama kita juga jadi kebas: “Ya udahlah…”

Di fase ini, Frankl bahkan nggak merasa sedih lagi saat menyaksikan ada tahanan di depan matanya meregang nyawa lalu mati karena demam tinggi akibat tipus. Tahanan lain begitu tau temennya mati juga malah hepi bisa dapet sisa makanan yang nggak kemakan, dapet peninggalan sepatu dari si almarhum, dan sebagainya. Brutal. Tapi mau gimana lagi. Anggep udah bagian hidup sehari-hari aja.

Tapi kematian emosi ini nggak sepenuhnya buruk buat manusia. Justru ada manfaat perlindungannya sebenernya karena kalau jadi terlalu peka, dikit dikit nangis, dikit dikit mewek padahal kondisi sekitar sebrutal itu ya bakal lelah juga ya. Ibarat nangisin tiap kematian karakter di game yang temanya bunuh-bunuhan. 

====

VIKTOR FRANKL beruntung karena Capo atau Yahudi yang jadi pemilih orang buat dieksekusi di grupnya malah jadi temen deketnya. Dia tahu Frankl seorang dokter spesialis kejiwaan dan senang dapet banyak nasihat soal kondisi mentalnya. Si Capo di tempat Frankl mengangkat Frankl jadi dokter pribadinya dan memberinya tempat di barisan terdepan, sebuah posisi yang bagus karena orang-orang yang dieksekusi biasanya dipilih dari barisan terbelakang. Dia dapet pasokan makanan sup tiap hari dan bahkan sesekali kasih kacang polong buat ekstra asupan.

Ini salah satu faktor kenapa dia bisa selamat dari kerja paksa dan penyiksaan serta pembunuhan massal di kamp konsentrasi Auswitch.

Ketidakadilan yang dirasakan Frankl bikin dia kadang emosi dan geram pada para opsir yang asal njeplak, mencoba merendahkannya tanpa tahu latar belakangnya sebagai seorang profesional di bidang kesehatan yang tentu dipandang tinggi oleh masyarakat. Dia marah saat ada opsir kamp yang ngata-ngatain “Kamu ga becus kerja ya. Jangan jangan pengangguran?” Marahlah dia tapi dia lupa dia di posisi lemah. Dipukullah sampe pingsan oleh si opsir.

Dari sini kita tahu bahwa ego itu emang susah ditundukkan sekalipun kita terang-terang lebih lemah dan tertindas. Bahkan saat di momen terjepit, justru ego ini bekerja lebih keras untuk menyelamatkan kita dari penindasan manusia lain yang kita anggap musuh. Jadi ya ego itu emang ada karena ada fungsinya. Bukan buat dimusuhi kok kayak yang digembor-gemborkan sebagian orang. Ego kita itu diciptakan Tuhan ya buat melindungi eksistensi kita. Kalo kita nggak punya ego, kita ya diem aja kayak batu kalo diinjak-injak orang. Manusia yang hidup pasti punya ego yang membuatnya meronta dan menentang penindasan pada dirinya. Tapi ya idealnya ego mesti diajari kapan harus kerja dan kapan mesti rileks. 

Saat manusia mengalami tekanan dan pembatasan yang di luar kewajaran sehingga kebutuhannya tak bisa terlampiaskan, kondisi kejiwaan mereka mundur ke level primitif. Maksudnya, hal-hal yang mereka butuhkan itu terjadi jelas dalam setiap mimpi saat mereka tidur. Mimpi mereka penuh dengan keinginan makan roti, kue, rokok dan mandi air hangat yang mereka mustahil dapatkan saat di kamp yang menyengsarakan ini.

Ini patut dimaklumi karena dorongan itu begitu kuat jadi alam bawah sadar aja nggak sanggup menampungnya dan ia menerobos lalu muncul ke permukaan lewat mimpi. Karena kebutuhan dasar kayak makanan yang layak dan bebersih yang pantas aja nggak terpenuhi, mimpi-mimpi para tahanan ini ya didominasi makanan lezat kesukaan masing-masing, dan aktivitas kegemaran yang tak bisa dilakoni di kamp. Semua hal yang sebelumnya pokok dan basic tiba-tiba jadi mewah dan tak terjamah.

Mimpi orang yang sedang terhimpir beban hidup hebat memang beda dengan yang menjalani kehidupan biasa-biasa saja. Mimpi orang yang hidupnya normal, tanpa kondisi yang memicu stres hebat, lebih subtil, sulit dijelaskan artinya. Mungkin karena dorongan-dorongan itu masih bisa disalurkan lewat saluran-saluran lain sebagai pelampiasan. Jadi ibaratnya yang satu dibendung jadi satu dam besar sehingga begitu jebol ya jelas ngerinya dan yang satu dibiarin ngalir merembes tipis-tipis smapai susah ditemuin mana celah atau retakan sumber bocornya.

=== 

Bukan kebetulan kalo dalam banyak agama dan kepercayaan, puasa itu dijadikan alat untuk mengenal diri yang sejati. Apa yang dialami Frankl selama di kamp pada dasarnya adalah penerapan puasa secara paksa. Para tahanan dilaparkan sedemikian rupa dengan cuma memberi makan sekali sehari. Itu pun cuma secuil roti dan semangkok sup encer yang nggak mungkin cukup buat memenuhi kebutuhan energi selama kerja paksa seharian di cuaca dingin dengan pakaian apa adanya. Nggak heran para tahanan udah kayak tengkorak hidup. Yang dulu gemuk atau berotot lama-lama kempes pes pesss tinggal kulit dan tulang.

Saat manusia dihadapkan pada kondisi kekurangan, tabiat asli mereka pelan-pelan terkuak. Ada yang cenderung suka memuaskan nafsu makan pada saat terima makanan. Ada yang memilih membagi makanan yang diterima jadi beberapa bagian supaya bisa dikonsumsi beberapa kali sehari. 

Yang maunya menghabiskan makanan pada saat terima bilang bahwa pilihan itu lebih aman karena ga bakalan ada yang bisa rampas makanan yang udah masuk ke perut. Sementara yang memilih membagi makanan beralasan bahwa makanan bisa dijadikan penyemangat hidup saat badan lemas saat bekerja. Frankl memilih membagi makanannya agar bisa dimakan beberapa kali sehari.

Ini juga mirip orang-orang sekarang. Ada yang pandangannya YOLO melulu. You only live once! Makanya kalo dapet duit ya dihabisin terus. Kan duit ga dibawa mati. Kalau bisa seneng-seneng sekarang kenapa ditunda besok-besok, keburu tua! Duit JHT nggak mau disimpen bertahun-tahun nunggu 56 tahun. Ngapain lah? Wkwkw. Iya kalo dikelola dengan jelas dan balik utuh. kalo nggak, nyaho deh.

Di sisi lain ada yang ngirit-ngirit dan nabung, menunda kesenangan saat ini agar bisa berjaga-jaga saat kondisi lebih buruk datang. Ini pola pikirnya orang-orang yang demen investasi, ngerem gaya hidup. Lebih bijak sih emang tapi kadang jadi korban juga kalau apes nyerahin duit ke pihak yang ga becus.

====

Ada 2 topik utama pembicaraan manusia dalam kondisi krisis seperti yang dialami Frankl di kamp konsentrasi: AGAMA dan POLITIK. Dan 1 topik yang nggak pernah disinggung sama sekali: BUDAYA. Miriplah sama situasi pandemi kemarin-kemarin.

Saat manusia dihadapkan pada kondisi antara hidup dan mati, agama seketika mendominasi topik pembicaraan karena ada perasaan kewalahan sebagai makhluk biasa yang sebelumnya arogan luar biasa tapi kemudian baru menyadari bahwa dirinya cuma sebutir debu yang dipermainkan angin di alam semesta ini. 

Teman-teman Frankl menemukan diri mereka menjadi pemeluk agama yang paling taat di dalam kamp. Naluri mereka sebagai manusia selalu mencari perlindungan di saat kritis kepada suatu kekuatan di luar diri mereka rasanya makin menguat karena kalau mengandalkan kekuatan dan kecerdasan diri sendiri pun sudah tak sanggup. Di sini kita tahu bahwa dorongan untuk meyakini adanya suatu kekuatan di ‘atas’ kita itu sudah ada dalam diri kita sejak dulu, sekalipun manusia itu mengaku atheis atau agnostik sekalipun. Agama memberi harapan yang meskipun dicap Karl Marx sebagai candu tapi bisa memelihara semangat hidup yang sudah hampir padam.

Politik juga selalu jadi buah bibir karena faktanya tak cuma Tuhan yang menggenggam takdir manusia termasuk hidup mati mereka tapi juga kehendak dan tingkah polah para elit dan badut politik yang mengambil kebijakan dengan dampak yang skalanya sangat luas dan mencakup kehidupan jutaan manusia lainnya. 

Di saat terjepit seperti ini, manusia yang logis sekalipun mulai mempercayai hal-hal spiritual dan klenik yang menurut mereka nggak ilmiah dan di laur logika pengetahuan dan sains. Bahkan para dokter dan spesialis kayak Frankl dan koleganya yang diangkat jadi dokter di kamp meski statusnya tahanan juga. Suatu malam mereka berkumpul secara diam-diam cuma buat bikin ritual manggil arwah. Semacam main jaelangkung gitu dah. Bayangkan itu terjadi sekarang: sekumpulan dokter gabut main jaelangkung. Apa kata pasien-pasiennya ya?

Tapi ini semua dilakukan mereka demi menjawab rasa penasaran mereka: “Kapan semua siksaan ini akan berakhir? Kapan aku akan bebas? Kapan aku bisa kembali ke kehidupan normal?” Inilah juga yang kita rasakan saat Covid-19 mulai menerjang 2020 lalu. Saat itu mereka yang nggak relijius tiba-tiba juga rajin beribadah, saking nggak taunya harus gimana.

Punya kehidupan spiritual dan internal yang kaya itu sebuah kelebihan bagi seseorang dalam kondisi terjepit kayak di kamp konsentrasi dan pandemi. Kenapa bisa? Karena saat kita terpenjara entah itu karena paksaan rezim atau manusia lain atau virus, jiwa kita sesungguhnya tetap bebas sebebas-bebasnya. Cuma badan kita yang bisa dipenjara. Manusia lain mau bagaimanapun nggak bisa mengendalikan dan mengatur apa yang jiwa dan pikiran kita rasakan jika kita memiliki kekuatan internal yang baik.

Di kamp, Frankl mengamati mereka yang memiliki sisi spiritual yang solid dan penguasaan diri yang baik bertahan lebih baik daripada tahanan yang badannya kelihatan sangat kuat sekalipun.  

Saat pandemi juga kita bisa menemukan hal yang sama. Mereka yang terbiasa mencari kepuasan di luar diri pas pandemi ya jadi yang paling tersiksa. Sementara itu, manusia-manusia yang tahu cara dan seninya mencari kedamaian dan kekuatan ke dalam jiwa dan pikiran mereka berpeluang lebih tinggi untuk bertahan hidup. Istilah kerennya: MIND (AND HEART?) OVER MATTERS.

Budaya dan seni seolah tersingkirkan saat kita ada dalam krisis hidup mati. Ini bener banget dan nggak cuma terjadi di kamp Frankl tapi juga sampe sekarang. Di masa pandemi kemarin, masyarakat menganggap para nakes sebagai pekerja esensial. Mereka manusia paling berharga, paling berjasa dan sebagainya. Sementara itu, orang-orang yang kerjanya menulis, menyanyi, menari, berakting seketika dianggap tidak esensial. Ini beneran hasil sebuah survei media Singapura, kalau nggak salah Strait Times. 

Nggak ada yang salah memang kalau nakes dianggap esensial. Jasa mereka sungguh besar bagi kita dalam bertahan melewati pandemi.

Tapi jangan melupakan jasa-jasa para seniman yang menghibur kita kala karantina mandiri. Mereka inilah yang memproduksi lagu di Spotify yang kita dengerin, nulis buku atau novel yang kita baca, membuat komik atau kartun yang menghibur, bikin konten yang edukatif dan informatif di medsos, film film bagus buat ditonton di Netflix. Karena jasa dan karya mereka kita jadi nggak gila karena bengong di kamar selama PPKM yang berjilid-jilid itu lho.

Menurut gw sendiri sih esensialnya budaya dan seni itu emang nggak bisa dibandingin dengan esensialnya sektor kesehatan. Keduanya saling melengkapi dan membutuhkan. Janganlah dianggap ada yang lebih rendah atau tinggi. 

======

FRANKL masih terus menjalani kehidupan yang terkekang di kamp dan ia menyadari bahwa dirinya bercakap-cakap dengan istrinya dalam bayangannya. Di sini ia berpikir bahwa apakah istrinya sudah mati atau masih hidup tak berarti lagi. Karena toh ia juga tidak berdaya untuk mencari tahu nasib istrinya. Kelelahan menjalani kehidupan keras kamp membuatnya berpuas diri dengan merasakan kehadiran istrinya dalam imajinasinya. Dan di sini ia merasakan bahwa benar cinta sejati tak terbatas oleh ruang dan waktu. Saat kita masih bisa mengingat orang itu, orang itu akan terus hidup. Setidaknya dalam ingatan kita.

Hal ini juga dirasakan tahanan lainnya. Mereka menggunakan kehidupan internal dalam diri mereka sebagai sarana pelarian dari kehidupan yang kejam dan keras di kamp. Untuk meringankan penderitaan fisik yang begitu besar, ia menggunakan imajinasi dan memori mengenai kejadian-kejadian sepele dan konyol di masa lalu yang indah. Ingatan akan hal-hal paling sepele pun bisa membuat mereka para pria yang hatinya keras sekalipun jadi berurai air mata.

Hal lain yang bisa membuat manusia melupakan penderitaan terhebat sekalipun adalah seni dan alam. Frankl merasakan kekaguman pada alam saat melewati pegunungan Salzburg tatkala ia dalam perjalanan dari kamp Auschwitz ke Bavaria. Saat jiwanya mengagumi keindahan alam, Frankl lupa sejenak dengan kenyataan getir bahwa hidupnya bisa berakhir kapan saja di tangan Nazi. Ada kejadian saat mereka lelah kerja fisik seharian dan seorang tahanan mengabarkan dengan gembira kalau pemandangan matahari tenggelamnya bagus di halaman. Mereka pun berhamburan ke halaman kamp dan seseorang di antara tahanan berceletuk: “Dunia bisa terlihat indah juga ya…”

Hal ini juga bisa pakai sebagai trik ‘healing’ sebenernya. Kalau capek dengan kehidupan maya dan ambisi keduniawian yang nggak ada habisnya, tutup aja gawai dan nikmati alam di sekitar kita. Sepelik apapun masalah hidup, kita jadi disadarkan bahwa bumi masih berputar, buktinya alam dan hewan semuanya masih hidup seperti sediakala dan itu mengingatkan kita bahwa kita juga masih punya harapan. Dunia belum kiamat kok. Jadi bolehlah jalan-jalan buat healing tapi lebih nikmati aja pengalamannya buat diri, bukan buat konten medsos.

[bersambung]

Tahan Lama Nggak Kira-kira (Ulasan Jam Cerdas Olahraga HR 500 Kalenji dari Decathlon)

Puasss! (Foto: Dok. pribadi)

KALAU Anda pernah baca kejengkelan saya sebagai pengguna smartwatch Garmin yang sudah diskontinu, Anda pasti paham bagaimana saya ingin smartwatch yang lebih tahan lama dalam penggunaannya.

Maksudnya penggunaan di sini adalah termasuk pelayanan purnajualnya. Karena begitu dibeli, setelah itu kita pasti butuh ganti baterai atau strapnya jika rusak.

Nah dalam kasus Garmin yang kemarin itu, ternyata seri jam itu sudah diskontinu sehingga saya terpaksa membiarkan arloji saya yang sebenarnya masih bagus itu tak terpakai. Kesal! Buang uang dan menambah sampah.

Lalu saya akhirnya membulatkan tekad untuk membeli satu produk smartwatch yang tak terlalu mahal (Garmin itu Rp1,8 juta saat saya beli tahun 2018).

Pilihan saya jatuh ke smartwatch keluaran Decathlon dengan brand Kalenji-nya.

Harga belinya saat saya beli awal Februari 2022 secara daring dari Decathlon Alam Sutera adalah Rp855.000.

Pertama-tama menggunakan jam ini saya terkesan dengan ketahanan baterainya. Tanpa banyak dipakai untuk mengukur detak jantung saat berolahraga, jam ini bisa bertahan 30 hari sekali cas. Amazing!

Dan memang saya cuma sesekali fitur-fitur olahraganya itu. Kebanyakan saya pakai cuma sebagai penunjuk waktu.

Kalau Anda mau, sebenarnya Anda bisa memakai jam ini dengan aplikasi Decathlon untuk mengukur kalori yang terbakar dan detak jantung saat berolahraga. Aplikasi ini sendiri memberi pilihan jenis olahraga yang cukup menarik.

Untuk berenang yang dangkal, rasanya memakai jam ini tak masalah. Tak bakal mati cuma karena basah dipakai saat wudhu atau hujan-hujanan. Jadi sehari-hari pun saya juga jarang lepas kecuali saat mau mandi.

Per hari ini saya coba berikan ulasan di website Decathlon dan ternyata arloji yang sama sudah turun harganya sampai Rp500.000! Sontak saya terkejut sih. Cuma dalam waktu 2 bulan sudah turun 300 ribu?

Saya jadi bertanya: Apakah produk ini bakal didiskontinu atau dihentikan dukungan purna jualnya begitu sudah didiskon semurah ini untuk menghabiskan stoknya?

Satu lagi masukan saya sebenarnya untuk Decathlon dan produsen semua smartwatch di pasaran: tolonglah supaya bagaimana caranya supaya produk Anda semua itu bisa dicas tanpa harus pakai kabel cas khusus!

Bayangkan betapa praktisnya jika semua gawai kita dari ponsel, laptop dan jam tangan bisa dicas dengan satu tipe kabel. (*/)

Dinasti Romanov dan Revolusi Bolshevik (Dari “The Last Czar”)

Kalau ditanya mana keluarga terkaya di dunia? Keluarga Rotschild? Keluarga Guggenheim? Atau … keluarga Romanov?

Rotschild dan Guggenheim mungkin bisa menguasai keuangan dunia tapi mereka tak punya wilayah fisik dan rakyat. Sementara keluarga Romanov punya itu semua. Mereka berkuasa selama 300 tahun lebih di tanah Rusia.

Tapi kejayaan dinasti itu mulai luntur saat Nicholas yang baru 26 tahun diangkat menjadi tzar untuk menggantikan ayahnya yang meninggal tiba-tiba. Perkabungan ini berlangsung padahal ia masih dalam masa bulan madu dengan istri barunya Alexandra Hesse, seorang bangsawan asal Jerman yang juga cucu Ratu Viktoria dari Inggris. Meski diangkat sebagai tzarina atau ratu, Alexandra belum bisa berbahasa Rusia. Menariknya, lain dari pasangan kerajaan Eropa yang dijodohkan, mereka menikah atas dasar cinta. Jadi pernikahan mereka harmonis dan konon mereka tak pernah pisah ranjang hingga ajal menjemput.

Nicholas memiliki kepribadian yang peragu, berkarakter lemah, kurang percaya diri dalam mengemban tampuk kepemimpinan Rusia jelang abad 20. Dan karakternya inilah yang menjadi bibit keruntuhan kekaisaran Rusia.

Sebagai tzar muda, ia masih dibayang-bayangi dan disetir oleh pamannya yang konservatif dan asertif Sergei. Ia selalu mendorong Nicholas yang berjuluk Tzar Nicholas II ini untuk menampilkan citra pemimpin yang tegas dan berwibawa di mata rakyat Rusia.

Penguasaannya dalam ilmu kepemimpinan dan kenegaraan memang minim sehingga Nicholas cuma memerintah dengan pemahaman yang ia miliki, bahwa tzar adalah perwakilan Tuhan di muka bumi. Untuk memenuhi imaji ini, ia mesti bertindak sebagai sosok yang keras dan berkharisma. Ia masih mengira bahwa di abad ke-20 rakyat Rusia masih bakal mendukung kekaisarannya tanpa membangkang meski kesejahteraan mereka tak begitu diprioritaskan.

Di saat yang sama di sebuah desa di Siberia yang jauh sekali dari Saint Petersburg/ Petrogard tempat Nicholas II sebagai pemimpin negara tinggal, Gregory Rasputin muncul. Ia seorang pria dengan asal usul yang tidak begitu jelas. Karena miskin, ia mencuri demi memberi makan keluarga dan akhirnya mesti dibuang dari desanya. 

Rasputin di tahun 1897 mulai mengembara ke hutan rimba di Rusia dan menyadari kekayaan alam bangsanya. Sampailah ia di sebuah biara bernama Verkhoturye yang dikenal sebagai biara Kristen Ortodoks.

Ia belajar banyak soal agama Kristen Ortodoks yang menjadi agama mayoritas di sana. Namun, setelah belajar Rasputin memiliki pendekatan yang berbeda terhadap ajaran agama yang ia pelajari. Ia suka semangat kebebasan dan kemudian bergabung dengan sekte Khlysty yang dikenal dengan ritual seksnya yang liar. Rasputin kemudian sampai ke pemahaman bahwa dosa bukanlah sesuatu yang mesti dipantang tapi justru harus dianggap sebagai sebuah alat pertobatan. Menurut logikanya, bagaimana bisa kita bertobat dan dekat dengan Tuhan kalau belum pernah berbuat dosa? Dengan berdosa, kita akan bisa bertobat.

Di masa ini, Rusia sedang mengalami kemiskinan di mana-mana. Dan untuk merayakan penobatannya, Nicholas dengan dibantu pamannya Sergei menyelenggarakan sebuah pesta bagi rakyat jelata dari berbagai pelosok Rusia. Sergei mempersilakan rakyat kecil datang ke Khodynka di St. Petersburg untuk berbagi bahan pangan gratis. Tak dinyana yang datang jauh lebih besar. Ratusan ribu petani kecil rela berdesak-desakan mengantre makanan gratis dan akibatnya sekitar 2000-3000 jiwa melayang akibat terinjak-injak. Mirip insiden Terowongan Mina gitu deh.

Nicholas tampaknya kurang bijak dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin. Ia mengobarkan perang dengan Jepang pada saat rakyat didera kemiskinan dan kelaparan. Gobloknya lagi, di perang lawan Jepang itu Rusia kalah. Makin turunlah pamor si tzar anyar.

Nggak heran kalau rakyat gerah banget punya pemimpin ga becus yang masih ingusan gini. Muncul bibit gerakan revolusioner karena tzar baru tak mau mendengarkan aspirasi rakyat.

Sementara itu, Alexei anak laki-lakinya yang didapat dengan menanti susah payah (karena mereka bener-bener berjuang dapet bayi laki untuk calon putra mahkota setelah kelahiran 4 orang putri) malah punya penyakit hemofilia, sebuah penyakit yang lazim ditemui di keluarga Alexandra Hesse. Penyakit ini bikin darah nggak bisa membeku sehingga penderitanya kalo lecet dikit aja susah berhenti. Bisa bikin mati. Dan ini udah kejadian sama beberapa kerabat Alexandra.

Tentunya penyakit Alexei itu disembunyikan dari semua orang. Bahkan dari lingkaran kerabat kerajaan sendiri. Semua isu soal hemofilia Alexei dicap gosip dan desas-desus. Ya karena kalau ketauan juga Alexei bakal diturunin sebagai putra mahkota pengganti Nicholas nantinya. Masak tzar penyakitan? Nggak boleh lecet dikit. Padahal tzar harus berani berperang juga.

Karena penyakit inilah nantinya Alexandra bakal ketemu dengan Rasputin, yang mulai dikenal masyarakat sebagai paranormal dan penyembuh dengan kekuatan magis. Ia konon bisa membaca masalah batin dan pikiran orang. Tapi Rasputin juga punya sisi kelam, ia seorang pemuka agama yang suka orgy dan nggak segan berbuat dosa sebagai alasan untuk bisa bertobat dan dekat dengan Tuhan.

Saat keluarga Romanov terdesak tuntutan rakyat, Sergei pamannya terbunuh oleh seorang pemnyair revolusioner yang melempar bom ke keretanya.

Nicholas tak mau mendengarkan suara rakyat. Seorang penasihat menyarankan agar ia membuatkan sebuah dewan legislatif supaya benih pemberontakan bisa ditumpas dari dini. Ibarat gulma tanaman, harus dicabut selagi masih tunas, akarnya belum dalam banget. Akhirnya dibentuklah Duma, sebuah dewan rakyat tapi kekuasannya masih di bawah tzar karena keputusan Duma masih bisa diveto tzar. Ya akal-akalan aja biar kelihatan demokratis.

Rasputin masuk ke dalam keluarga Romanov sebagai sosok penyembuh bagi putra mahkota Alexei.  Saat Alexei mengalami pendarahan hebat karena luka saat bermain, ia bisa sembuh dan tenang saat Rasputin hadir. Ini tentunya keajaiban buat Alexandra dan Nicholas yang udah ketar-ketir anaknya bakal mati kalau lecet dikit aja. Karena ini, Grigory Rasputin makin mendapat kepercayaan Tzar Nicholas dan Tzarina Alexandra.

Alexandra  seneng banget Rasputin bisa melindungi Alexei anak laki-laki kesayangannya. Tapi di luar tembok istana, rakyat makin nggak seneng sama tzar baru ini.

Tzar bersikap makin represif dan keras. Kaum revolusioner dibantai dan ia percaya kaum Yahudi merongrong ekonomi Rusia. Perdana Menteri mengundurkan diri karena ngerasa ga kuat lagi kerja di bawah pemimpin yang nggak mau denger rakyat. Meski PM Stolypin ini juga setuju untuk menekan kaum revolusioner, Stolypin juga bersikukuh bahwa Rusia perlu berubah menjadi kerajaan yang berpihak pada rakyat seperti Inggris. 

Tapi bukannya percaya nasihat PM-nya, Nicholas malah lebih percaya perkataan Rasputinbahwa rakyat bakal selalu setia dan ikut tzar mereka yang diyakini sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi Rusia. Stolypin jadi sakit hati.

Rasputin emang sosok yang berkharisma, daya tarik dan daya magis yang hebat di antara kalangan wanita kelas atas di Petrograd (St. Petersburg). Rasputin berhasil tidur dan berbuat tak senonoh dengan banyak perempuan bangsawan Rusia dan tidak ada yang mengadu itu pelecehan seksual. Bahkan Alexandra tak luput dari pesonanya.  Dan ini bakal jadi masalah besar buat dia dan keluarganya.

Dari info telik sandi alias informan yang dikirimnya ke kampung halaman Rasputin, PM Stolypin mengungkap latar belakang Rasputin ke keluarga Romanov. Pada Nicholas dan Alexandra, Stolypin menguak fakta bahwa di kampungnya Rasputin ini punya banyak rekam jejak gelap. Ia terlibat dugaan pemerkosaan dan tindak asusila yang tak bisa dicap sepele.

Tapi logika udah nggak bekerja di otak tzar dan tzarina. Udah dikasih laporan gitu, malah Stolypin yang dibilang fitnah. Masak sih orang yang bisa menyembuhkan anakku jahat, gumam keduanya.

Sebenernya Nicholas juga gamang: apakah ia harus membela PM kesayangannya atau membela istrinya yang percaya kekuatan magis Rasputin yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit hemofilia Alexei?

Stolypin mengkonfrontasi Rasputin tapi Rasputin nggak peduli. Akhirnya Stolypin tewas tertembak di Kiey Opera House pada tahun 1911. Apakah ini rencana Rasputin? Nggak ada kejelasan juga.

Rasputin ketemu pendeta Germogen, Iliodor di St. Petersburg dan ingin mendepak Rasputin dari lingkaran keluarga tzar. Tentu Rasputin ogah dan dia membangkang.

Saat pertemuan itu berakhir, tas Rasputin ketinggalan dan di dalamnya ada surat pribadi dari Alexandra . Disebarluaskanlah isi surat ini ke masyarakat dalam bentuk pamflet. Terkuaklah skandal ini. Isinya juga emang agak intim sih ya. Bisa disalahartikan sebagai surat cinta. Nicholas marah besar lah, dan Rasputin dikirim pulang ke Siberia. 

Tapi begitu Alexei luka karena kecelakaan sekali lagi, Rasputin dipanggil balik ke istana lagi. Seolah mereka udah ketergantungan pake jasa penyembuhan Rasputin. 

Di kampungnya sendiri, Rasputin jadi sasaran amarah warga. Ia ditusuk sampai hampir tewas tapi selamat aja. Emang sakti dia. Di tempat tidur, ia baca surat kabar yang isinya berita meledaknya perang di Eropa. Rusia memutuskan berperang melawan kekaisaran Austro Hungaria dan Jerman, negara asal Alexandra.

Rasputin dan Alexandra makin disorot akibat api skandal yang Rasputin percikkan dengan membanggakan hubungan dekatnya dengan sang tzarina.

Nicholas mengambil alih jabatan panglima perang. Tindakannya ini bikin pengaruh Rasputin dan Alexandra makin menggila. Sementara itu, di medan perang Nicholas makin disepelekan. Dia nggak punya andil dalam strategi perang. 

Ibunya Nicholas tak mau Alexandra dan Rasputin makin membahayakan pemerintahan dan menyuruh Nicholas bertindak tegas pada Rasputin. Dia sendiri eneg sama menantu perempuannya.

Perang dengan Jerman makin memburuk dan rakyat Rusia makin nggak puas dengan kinerja tzar dan pemerintahannya.

Reputasi keluarga Romanov makin turun di kalangan militer karena peperangan yang menyengsarakan bangsa ini nggak segera diakhiri. Seorang prajurit Rusia di medan perang bernama Yakov Yurovsky memprotes keluarga kerajaan. Makin banyak orang tak suka Alexandra karena tzarina ini keturunan Jerman dan dipengaruhi seorang rahib gila yang pendosa bernama Rasputin.

Felix Yusupov, seorang putra keluarga ningrat kaya, muak pada Rasputin. Dia pengen bunuh si rahib genit ini agar pengaruh buruknya bisa ilang. Yusupov pura-pura dengan ramah mengundang Rasputin untuk konsultasi berobat dengan mengaku sakit. Yusupov meracik anggur  dan racun lalu menembaknya tapi Rasputin tak langsung mati. Baru setelah dikejar dan ditembak beberapa kali lagi, barulah dia bener-bener tamat.

Jasad Rasputin ditemukan esoknya di sungai Malaya Nevka tanggal 19 Desember 1916. Badannya penuh luka pukulan dan ada tembakan di jidat.

Keluarga Romanov berduka cita. Alexandra syok berat karena ia takut bagaimana dengan nasib Alexei. Siapa yang bakal bisa menyembuhkan anaknya dari hemofilia?

Sepeninggal Rasputin, Nicholas terus mengabaikan nasihat ibunya untuk fokus memperbaiki negara dengan memilih menteri yang komp[eten dan memenangkan hati rakyat. Kalau nggak, kata ibunya, bakal terjadi anarkisme di Rusia.

Nicholas malah makin benci keluarganya termasuk Yusupov yang masih keluarga jauh dan sudah menghabisi Rasputin. Alexandra mengingatkan Nicholas untuk tetep mempercayai nalurinya sebagaimana nasihat Rasputin.

Perang melawan Austro Hungaria ini menyengsarakann rakyat dan mengeret negara ke krisis pangan dan ekonomi. Banyak rakyat kelaparan dan kaum pekerja ditekan untuk terus berkontribusi pada negara. 

Bermunculanlah banyak gerakan revolusioner yang ingin perubahan kondisi negara. Di antaranya adalah kelompok Bolshevik yang dipimpin Lenin. Saat Nicholas ke medan peranbg, kaum buruh Petrigrad/ St. Petersburg mogok kerja dan demo meluas.

Misi grup Bolshevik adalah menggulingkan keluarga Romanov yang nggak becus memimpin Rusia.

Kondisi angkatan bersenjata Rusia udah kepayahan. Mereka kalah di mana-mana. Dan pamor tzar udah nggak bisa diselamatin lagi.

Makin banyak prajurit Rusia muak dengan tzar dan bersimpati pada Gerakan Bolshevik Lenin.


Pas peringatan Hari Wanita Sedunia, kaum wanita Rusia berdemo karena stok roti kayak stok minyak goreng di Indonesia sekarang, LANGKA. Kerusuhan meluas bahkan sampai ke Moskow.

Nicholas dan Alexandra belum paham parahnya situasi negara. Alexandra masih terus berkabung dengan kematian Rasputin padahal dia mesti urus keluarga dan negara. 

Demonstrasi atas langkanya pasokan roti berubah jadi emo akbar menuntut turunnya tzar. Menteri Dalam Negeri diduga berbohong dalam laporannya dengan menurunkan skala demonstrasi sehingga Nicholas mengira kondisinya nggak parah banget.

Nicholas setelah tau kondisi di lapangan langsung memerintahkan untuk membubarkan unjuk rasa. Pertumpahan darah tak terhindarkan. Bahkan kelompok prajurit ada yang ikutan membela rakyat dan turun ke jalan.

===

Di medan perang, pasukan Rusia bubar dan pulang karena semangat mereka udah nggak ada lagi. Mereka bergabung dengan rakyat yang ingin menggulingkan dinasti Romanov. Unjuk rasa makin membesar tanpa adanya pemimpin. Pemimpin kaum revolusioner kayak Stalin pada diasingkan. Stalin dibuang ke Siberia dan Lenin sendiri di Swiss saat itu. Jadi unjuk rasa ini memang murni keinginan rakyat.

Ibu Nicholas (Maria Fedorovna) makin cemas dengan kondisi Petrograd. Ia sendiri berada di Kiev, Ukraina. Kepulangan Nicholas ke Petrograd tertunda akibat blokade jalur KA oleh kaum revolusioner.

Alexandra masih bersikeras tinggal di istana bersama 5 anaknya yang kena cacar. Kaum militer yang selama ini menjadi sandaran Nicholas mendadak bergabung dengan rakyat. Mereka juga ingin menggulingkan tzar dan tzarina.

Dalam istana, Alexandra masih berusaha menyangkal parahnya kondisi kerusuhan meski para penjaga istana ditembaki, listrik dan air bersih diputus.

Para serdau masrinir yang diperintahkan melindungi keluarga Romanov malah meninggalkan istana. Di titik ini Nicholad mencoba memberi kekuasaan lebih pada Duma / Dewan Rakyat tapi tentu udah telat banget.  Revolusi udah nggak terbendung lagi.

Militer menawari Nicholas buat turun tahta dan mengangkat Alexei tapi Nicholas nggak mau karena Alexei sakit dan bisa mati kalo jadi tzar. Dengan persetujuan turun tahta itu, kekuasaan dinasti Romanov selama 3 abad berakhir. Rusia menjadi bergejolak dengan hilangnya otokrasi Rusia ini.

Begitu meletakkan kekuasaan, Nicholas bisa pulang dengan kawalan ke istana. Karena tzar udah turun, Rusia jadi kacau balau dan ada 2 badan yang berebut kekuasaan yakni Duma dan Petrograd Soviet. Periode ini disebut sebagai Era Dvoyevlastiye (Kekuasaan Ganda). Pemerintahan baru sementara terbentuk dengan arahan Alexander Kerensky yang merupakan sosok penghubung antara Duma dan Petrograd  Soviet. Anehnya Kerenskuy ini diserahi tanggung jawab memgamankan keluarga Romanov. Ia ingin menyelamatkan keluarga ini dari kelompok Petrigrad Soviet yang radikal. Ia sarankan Nicholas buat ninggalin Petrograd dan pindah ke Tobolsk di Siberia.

Tiga bulan bekerja, pemerintahan sementara Kerensky digulingkan. Kerensky sendiri kemudian pindah ke AS dan mengajar sejarah Rusia di Stanford University. Dia meninggal di New York tahun 1970. Ia sempat mendapat musih karena dianggap sebagai salah satu pemicu kemenangan Bolshevik sehingga Rusia carut marut pas saat itu.

Nasib keluarga Romanov kini berada di tangan Lenin yag jadi pentolan Bolshevik.

Yakov Yurovsky, seorang mantan petugas medis di perang sebelumnya, diperintahkan menjadi polisi rahasia untuk membawa keluarga Romanov ke Yekaterinburg, sebuah kota di luar Petrograd. Ternyata ini perintah langsung Lenin.

Keluarga ini dibagi 2 grup. Nicholas, Alexandra dan satu orang putrinya berangkat duluan dan baru grup kedua menyusul. Mereka dimasukkan ke Patiev, sebuah rumah besar yang disebut “Rumah dengan Tujuan Khusus”. Mereka berkumpul kembali dan Nicholas masih percaya bahwa mereka akan diselamatkan dan keadaan akan membaik segera. 

Bolshevik melemah dan muncullah Pasukan Putih yang terdiri dari para mantan serdadu dan perwira tzar. Situasi makin keruh dengan masuknya Peranic dan Inggris ke Rusia yang sedang bergejolak untuk mengenyahkan kaum Bolshevik.

Kaum Bolshevik makin cemas dan ingin segera menghabisi keluarga Romanov supaya mereka ini tidak dipakai sebagai panji-panji untuk menyingkirkan Bolshevik. 

Nicholas menerima surat-surat dari luar rumahnya secara sembunyi-sembunyi yang mengatakan mereka akan diselamatkan padahal semua surat tadi dikirim oleh kelompok Bolshevik Ural yang memancing mereka keluar rumah agar bisa dihabisi.

Para penjaga keamanan di rumah Ipatiev masih muda dan tergoda dengan kecantikan anak-anak gadis Romanov yang sudah puber. 

Tahu soal ini, Yakov menyuruh pengetatan keamanan Ipatiev. Digeledahlah rumah itu habis-habisan. Seorang penjaga yang tertangkap bermesraan dengan Maria, salah satu putri Nicholas, dibunuh. Sejak itu tidak diperbolehkan ada penjaga yang mendekati anggota keluarga Romanov.

Sementara itu, Pasukan Putih mendekati Yekaterinburg dan Lenin berpesan agar jika Pasukan Putih mendekat, mereka bisa segera mengeksekusi semua orang Romanov di rumah Ipatiev. 

Perang saudara antara Bolshevik yang pro revolusi dan Pasukan Putih yang pro tzar berkecamuk di dekat Yekaterinburg. Lenin memerintahkan eksekusi keluarga Romanov segera.

Malamnya mereka semua dibangunkan dan diberitahu harus keluar rumah agar selamat. Dengan pakaian yang menyimpan banyak perhiasan untuk membiayai pelarian, semua anggota dinasti Romanov terakhir ini digiring ke ruang bawah tanah.

Mereka diberitahu untuk menunggu truk untuk bisa keluar rumah dan melarikan diri.

Sampai saat itu, semua keluarga inti Romanov ini tak ada yang tahu bahwa mereka di situ biuat dibantai, bukannya dibantu keluar agar selamat.

Para penjaga termasuk Yakov berpura-pura menunggu truk, lalu mereka berbalik dan tiba-tiba memberondong semua anggota keluarga Romanov tanpa kecuali.

Menariknya, karena anak-anak gadis Romanov ini tadi pakai pakaian dalam yang dilapisi perhiasan dan batu berharga, mereka jadi lebih susah mati. Mereka harus diberondong peluru lebih banyak supaya bener-bener tewas.

Begitu keluarga Romanov sudah dibantai tuntas, kerabat dekat Romanov langsung diburu juga oleh kaum Bolshevik. Maria Fedorovna ibu Nicholas, sepupu Nicholas Nikolasha, dan semua kerabat wanitanya juga diburu. Bahkan Felix Yusupov yang lari ke Paris.

Mereka kerabat dinasti Romanov yang masih tersisa melarikan diri  dari Krimea yang masih wilayah Ukraina sekarang dengan naik kapal Inggris HMS Marlborough. 

Pasukan Putih merebut kota Yekaterinburg dari kaum Bolshevik seminggu setelah pembantaian keluarga inti Romanov.

Seorang guru anak-anak Romanov bernama Pierre Gilliard pergi ke Yekaterinburg dan masuk ke rumah Ipatiev. Tapi mayat keluarga itu nggak ada.

Bolshevik hampir menang dalam perang saudara ini. Dan memang kemudian jaya di Rusia.

Di Berlin beberapa tahun kemudian muncul Anna Anderson, seorang wanita yang terus mengaku sebagai Anastasia, salah satu anak Romanov. Ia mengklaim selamat dari pembantaian di Ipatiev.

Tapi Pierre Gilliard dan seorang kerabat Romanov yang selamat dan tinggal di Berlin, Olga, menolak mengakuinya sebagai Anastasia karena ternyata didapat bukti bahwa dia berlatih untuk bisa menjiplak tandatangan Anastasia. Kelak saat DNA Anderson dites juga nggak cocok sama DNA Romanov.

Tahun 1979, 2 sejarawan menemukan sejumlah tulang belulang manusia di hutan dekat Yekaterinburg. Tapi kondisi Soviet saat itu belum memungkinkan untuk penyelidikan.

Baru saat Soviet runtuh di era Boris Yeltsin, tahun 1991 mayat-mayat ini digali dan diteliti.

Dan benar tulang belulang itu milik keluarga Romanov yang dibantai.  

Yeltsin menguburkan kembali dengan layak semua jenazah keluarga Romanov di Katedral Peter and Paul yang udah dijadiin area makam keluarga Romanov.

Anehnya ternyata ada 2 mayat lagi yang belum ketemu dan utuh. Tahun 2007 2 mayat sisanya milik Alexei si putra mahkota dan Maria ditemukan dan masih belum dikebumikan. (*/)

Pandemic Diary: Is It Really The End?!

OMICRON yang menandai gelombang ketiga, setelah Delta sebagai gelombang kedua, katanya memang lebih menular tapi tak semematikan varian-varian terdahulu.

Apakah Coronavirus makin jinak dan terkendali?

Mungkin juga sih.

Tapi pemerintah Indonesia sudah optimistis dengan ini dan tak sabar untuk melonggarkan PPKM.

Kini siapa saja yang mau bepergian ke mana saja bahkan dengan pesawat dan kereta api di Indonesia bisa melenggang masuk kendaraan umum tanpa harus tes antigen atau PCR yang mahal. Asal harus sudah divaksinasi 2 kali. Kalau sudah diberi booster malah makin bagus.

Mereka yang punya penyakit komorbid sehingga tak bisa divaksin katanya harus menyerahkan hasil tes antigen dan SWAB dalam kurun waktu 3x 24 jam.

Mereka yang baru divaksin dosis pertama juga wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR 3×24 jam. kalau antigen wajib 1×24 jam sebelum berangkat.

Pusing banget yak, berubah-ubah terusss!

Tentu saja bagi mereka yang sudah menahan diri sejak 2 tahun ini, kabar ini sangat menggembirakan.

Tapi ya bagaimanapun juga masih harus waspada karena vaksinasi belum menyentuh semua orang.

Ini ditambah lagi dengan angka hunian RS yang menurun.

Positivity Rate Indonesia sendiri masih tinggi, 15% kalau kata pakar.

Kommuter Line sebagai pihak pengelola komuter juga sudah melonggarkan aturan jaga jarak di tempat duduk mereka. Tapi konon jaga jarak untuk yang berdiri masih diterapkan. Dan aturan ini masih membingungkan karena saat antre, orang disuruh jaga jarak tapi begitu masuk gerbong berjejalan lagi. Haha. Komedi benar!

Bali langsung bersorak riang. Ini artinya bakal ramai lagi deh..

Tapi di saat yang sama masih ada kok kasus positif dan meninggal. Namun memang trennya melandai.

Dan seakan-akan pandemi sudah usai karena masjid juga sudah lama penuh kembali, berdesakan tanpa masker.

Seiring dengan memudarnya pandemi, ancaman lain datang: RESESI EKONOMI.

Iya, invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu sudah membuat dunia ketar-ketir karena kondisi ekonomi bakal turun lagi.

Rusia dapat sanksi banyak banget dari Eropa dan AS. Dan ekonomi kena dampak karena ya namanya politik kayak gini pasti merembet ke mana-mana.

Lalu Indonesia ancang-ancang. Kemendag sudah bersiap untuk menghadapi turunnya pertumbuhan ekonomi global. Kinerja ekspor beberapa negara pun turun akibat konflik Ukraina-Rusia yang berdampak ke ekonomi RI.

Mendag berfatwa strategi yang sudah diterapkan 30 tahun terakhir bakal diubah karena perang Ukraina. Pertumbuhan ekonomi dunia sudah menurun, ekspor AS turun minus 3%, bahkan Eropa sudah turun 2 digit. Jadi walaupun jauh, Indonesia lama-lama ya kena getahnya juga deh.

Akibat ini semua, proyeksi pertumbuhan ekonomi global turun jadi cuma 4,1-4,5% dan Indonesia masih dengan kukuhnya berkata bakalan bisa mencapai pertumbuhan ekonominya sampai 5,2%.

Sementara itu di dalam negeri Indonesia masih kepayahan menangkal seretnya pasokan minyak goreng. Ada laporan pedagang tahu ditipu penjual minyak oplosan yang diberi air. Haduh, siapa suruh tergiur harga murah. Dan belinya di penjual yang nggak kenal? Heran deh orang sekarang. Nggak mikir panjang. (*/)

Institusi Pendidikan Tinggi Tak Bisa Dipercaya Lagi?

Di abad ke-21 semuanya berubah. Akses pendidikan seperti pintu gerbang yang terbuka lebar bagi semua orang. Pendidikan juga menjadi alat mobilitas sosial vertikal yang legal di banyak masyarakat. Maksudnya, orang tak peduli latar belakangnya kalau menuntut ilmu dengan baik pasti akan mendapat tempat di masyarakat. Yang miskin kalau mau belajar rajin pasti bisa lebih kaya melalui pendidikan yang dia punya. Hidupnya lebih sejahtera dan harapan hidupnya lebih panjang. Ya karena konon pendidikan tinggi tak cuma memberikan kecerdasan tapi ia juga membekali dengan kearifan, daya pikir dan kemampuan beradaptasi yang lebih baik dengan dunia yang terus berubah ini.

Tapi entah kenapa semakin hari terjadi pergeseran pola pikir yang memandang pendidikan sebagai hanya alat untuk meraih posisi dan kekuasaan di masyarakat. Pendidikan tinggi bukan lagi dicapai untuk tujuan mulia seperti meningkatkan taraf hidup masyarakat atau meratakan akses menuju ‘kolam’ pengetahuan bagi mereka yang ‘haus’.

Saat ini muncul semacam tren yang seolah menunjukkan pada kita bahwa pendidikan tinggi bisa dibeli. Untuk masuk ke perguruan tinggi yang berkualitas, kita bisa ‘membeli’ bangku dengan segepok duit.

Di sini saya ingin mengangkat 2 film yang membuka mata kita terhadap fenomena global ini. Betul, tren memprihatinkan ini tak cuma terjadi di Indonesia kok. Bahkan di negara-negara yang konon dicap lebih maju baik Barat dan Timur, hal yang sama juga ada dengan intensitas berbeda-beda. Untuk memberi gambaran tentang tren ini di dunia Barat saya pilih satu film dokumenter dan satu yang mewakili dunia Timur saya akan ambil sebuah serial drama Korea.

PENDIDIKAN SEBAGAI KOMODITAS DAGANG DAN SIMBOL STATUS

Film dokumenter pertama yang menyoroti fenomena turunnya kredibilitas perguruan tinggi ini adalah “Operation Varsity Blues: The College Admissions Scandal” (2021) yang tayang di Netflix. 

Kalau Anda pernah mengikuti berita tahun 2019, pernah ada kasus terkuaknya skandal penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus terkemuka AS yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang berprofesi sebagai pesohor, eksekutif top perusahaan, orang kaya, dan sebagainya.

Sosok yang kemudian ditemukan sebagai biang keladi ialah Rick Singer, yang melabeli dirinya sebagai seorang “konsultan independen”. Di sini istilah ini memakai tanda petik karena memang apa yang dilakukan oleh si Singer ini tak cuma memberi konsultasi soal pendidikan. Tapi masih banyak pekerjaan ‘plus plus’ yang dilakukannya agar para klien menjadi puas 1000%.

Di zaman sekarang, saat semua bisa dilakukan dengan alat komunikasi digital yang serba efisien dan cepat, rasanya memang bodoh untuk beralih ke dunia analog. Tapi yang tak banyak orang sadari ialah saat kita berkomunikasi secara analog alias tatap muka, kita lebih aman dari peretasan dan penyadapan. Untungnya, Singer ini tak berpikir sampai ke situ dan karena itulah penyelidikan FBI bisa berjalan lebih lancar jaya.  

Rick Singer mulanya cuma konsultan pendidikan biasa. Ia menjalani profesinya secara legal. Tak macam-macam. Namun, di tengah perjalanan ia makin paham bahwa ada tuntutan dari masyarakat terutama kelas atas untuk bisa memasukkan anak-anak mereka ke kampus-kampus bergengsi di AS dengan menghalalkan berbagai cara. Karena kita tahu, anak orang kaya belum tentu lebih pintar dan berbakat dari anak orang yang lebih proletar. Dan untuk menutupi kekurangan, anak-anak kaya ini dibantu orang tua mereka yang punya duit dan kekuasaan untuk masuk dengan bantuan Singer.

Secara legal, pekerjaan seorang konsultan pendidikan di AS ialah membantu persiapan tes SAT dan membantu anak menemukan kampus yang tepat untuk minat dan bakat mereka.

Singer mendirikan perusahaan layanan beasiswa atletik dan akademik “Future Stars” dengan ia sendiri sebagai presidennya. Lokasi Future Stars ada di Sacramento, California. Kelak perusahaan ini menjelma sebagai Singer Group yang mencap dirinya sebagai perusahaan konseling pendidikan dan bimbingan hidup makin ‘menggurita’.

Sebagai seorang pribadi, Singer dikenal sebagai guru les biasa. Ia dingin, jarang senyum, serius, dengan selera pakaian yang biasa saja. Untuk memberi kesan serius dengan profesinya sebagai pelatih akademik, ia memakai pakaian pelatih basket saat bekerja membimmbing anak-anak yang orang tuanya memilih jasanya.

Untuk bisa menjaring klien jetset, tentu tak bisa cuma mengandalkan marketing pola lama seperti word of mouth. Ia mencari kesempatan untuk presentasi di depan anggota klub country yang dihadiri orang-orang kaya raya yang memiliki anak usia sekolah. Dan di presentasinya, tentu ia tak bisa bersikap rendah hati. Ia menjanjikan hal-hal bombastis dan kadang kebohongan jika diperlukan untuk menarik para calon klien yang menggiurkan.

Dan Singer sanggup untuk berbuat apa saja demi keberhasilan anak-anak di bawah bimbingannya dalam mendapatkan kampus idaman. Tak jarang ia memalsukan data untuk mendaftar demi bisa memasukkan anak bimbingannya ke universitas pilihan. Kecurangan ini bahkan memalsukan jenis ras. Karena kampus-kampus ada kebijakan proporsi rasial, ada slot khusus untuk mereka yang bukan ras Kaukasia (kulit putih). Sehingga mereka yang mengaku ras Asia, Hispanik, kulit hitam bisa mendapatkan kesempatan masuk.

Diperkirakan ada sogokan 25 juta dollar yang dikumpulkan Singer dari ortu murid kaya untuk disalurkan ke para pelatih olahraga (untuk peminat beasiswa atletik) dan administrator universitas.

Kekeliruan dalam memandang perguruan tinggi, bukan sebagai wadah untuk meningkatkan kualitas manusia tapi malah menjadi alat mendapatkan prestise (yang berasal dari kata dalam bahasa Perancis yang artinya “tipu daya”) menjadi akar permasalahannya.

Masalah makin rumit saat pertumbuhan penduduk makin tinggi. Jumlah anak muda yang bersaing makin banyak. Meski sudah pintar kalau jumlah kursi yang tersedia tak bertambah juga percuma. Perbandingan pendaftar dan yang diterima makin menciut dari tahun ke tahun.

Sementara itu, universitas-universitas ini juga makin tersedot dalam kompetisi ranking “Best Universities” yang diperbarui dari tahun ke tahun dan seolah menjadi satu-satunya standar penentuan mutu pendidikan di sebuah universitas. Padahal ya belum tentu bisa mencerminkan standar kampus itu secara utuh dan objektif. Inilah yang namanya ilusi/ tipu daya.

Fakta lain yang menarik juga adalah bahwa olahraga kini juga dipakai sebagai alat untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun, olahraga ini bukan olahraga yang lazim. Olahraga yang dimaksud adalah yang identik dengan kaum elit misalnya dayung, anggar, menunggang kuda yang tak bakal bisa dilakoni orang-orang dengan latar belakang kurang mampu atau di luar lingkaran elit kulit putih. Anak-anak kaya juga bisa dibantu untuk menonjol dan lebih dipertimbangkan dengan pemberian donasi berjuta-juta dollar kepada pembinaan olahraga tadi di kampus yang menjadi tujuan. Menantu Donald Trump Jared Kushner misalnya sebenarnya cuma anak berkecerdasan rata-rata tapi karena ayahnya bisa berkomitmen donasi 25 juta dollar ke kampus Harvard ya dia diterima.

Sejumlah pelatih olahraga di kampus Ivy League yang terjerat skandal ini bersama Singer di antaranya John Vandemoer pelatih tim layar di Stanford University, Donna Heinel direktur atletik senior, Jovan Vavic pelatih polo air di USC.

Tingkat stres di antara para calon mahasiswa juga makin mengkhawatirkan. Banyak yang merasa hidupnya hancur hanya karena gagal masuk ke universitas unggulan (‘Ivy League’). Padahal masih banyak universitas lain yang bisa dituju tapi karena kalah pamor, universitas-universitas tadi tak banyak dilirik.

Konspirasi Singer terendus pihak berwajib tatkala seseorang yang ditahan karena kasus sekuritas malah menyebut nama Rudy Meredith, seorang pelatih di Yale University, yang disebutnya meminta disuap. Dari Meredith, disebutlah nama Singer dan berawal dari sini pelan-pelan semuanya terbongkar.

Dalam pengawasan pihak berwajib, Singer diminta berkomunikasi terus dengan para CEO, selebriti yang menjadi kliennya dan terus mencatat percakapan mereka sebagai bukti persidangan. 

Sebanyak 50 orang yang terdiri dari pesohor, pelatih olahraga dan CEO terseret dalam skandal nasional memalukan ini. Termasuk di antaranya Lori Loughlin dan Felicity Huffman.

Yang disayangkan adalah begitu skandal ini terungkap, masyarakat malah makin memaklumi bahwa memang harga dan pengorbanan yang harus dibayar untuk bisa masuk kampus Ivy League memang tak bisa ditebus sembarangan orang bahkan mereka yang kaya dan terkenal sekalipun.

Dan inilah yang terjadi, karena kalau Anda cek di website pemeringkat universitas sedunia usnews.com, peringkat Stanford University, Harvard University, Yale University dan universitas yang namanya muncul di kasus ini tetap bertengger di peringkat atas.  

Yang perlu dibongkar lagi ialah persepsi masyarakat bahwa masa depan ditentukan oleh asal kampus seseorang, bahwa cuma lulusan kampus berperingkat top 10 atau top sekian di dunia yang bakal sukses dalam hidup. 

Yang terlupakan adalah bahwa pendidikan bisa dicapai di mana saja, di kampus mana saja, tak perlu kampus top menurut lembaga tertentu. Sekali lagi, masih banyak yang tertipu prestise yang cuma ilusi belaka. 

ASIA TAK BEDA

Di Asia, budaya menuhankan prestasi akademis juga tidak kalah dari Barat. Di negara-negara Asia yang dikenal sangat mengejar mutu SDM yang tinggi, pendidikan sudah seperti kebutuhan pokok. Ada bagusnya memang karena pendidikan bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat tapi saat terlalu ekstrim, sebagian masyarakat menyalahgunakan pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan dan tentunya gengsi alias prestise yang cuma ilusi. Dan akibatnya kesehatan mental anak-anak jadi korban juga.

Fenomena ini diangkat di drama “Sky Castle” yang ingin menyorot kegilaan orang Korea soal pendidikan tinggi yang bisa memberi mereka akses menuju ke kehidupan yang lebih ‘segala-galanya’ bagi anak-anak mereka. Tapi karena ini sudah menggejala di banyak negara Asia (tak cuma Korea), rasanya orang-orang tua Asia perlu juga menontonnya agar tidak menganggap pendidikan sebagai alat semata untuk keuntungan diri atau cuma sebagai pengatrol status ekonomi dan sosial keluarga.

Di “Sky Castle”, kita bisa menyaksikan pertarungan 4 keluarga demi prestise dan kebanggaan keluarga mereka masing-masing melalui prestasi akademis anak-anaknya. Diceritakan ada 4 ibu rumah tangganya yang menjadi titik pusat perhatian: Han Seo Jin (Yum Jung Ah), Lee Soo Im (Lee Tae Ran), No Seung Hye (Yoon Se Ah), dan Jin Jin Hee (Oh Na Ra). Ya patut dimaklumi, karena ibu-ibu seolah punya kewajiban mendidik anak-anak mereka sampai sukses. Sementara suami-suami menyibukkan diri mencari nafkah. Sistem patriarki yang kita juga bisa kita temui di tengah masyarakat Indonesia.

Masalah muncul saat masing-masing keluarga mencoba menggunakan anak-anak dan pencapaian akademis mereka di sekolah sebagai alat untuk mengatrol atau setidaknya mempertahankan status sosial ekonomi dan prestise di tengah kalangan terdidik, kaya dan sukses ini.

Muncullah sosok Kim Joo Young, seorang konsultan akademis yang berani menjamin anak-anak bimbingannya bisa siap masuk ke perguruan tinggi bergengsi idaman (orang tua) mereka. Profesi Kim ini mirip apa yang dilakoni Rick Singer juga. Layanan yang ia berikan cuma bisa diakses orang kaya dan terpandang yang ingin anak-anak mereka masuk ke perguruan tinggi bergengsi dengan menghalalkan segala cara.

Kim dibayar tinggi oleh para orang tua ini dan diamanati untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuan akhir: mengantar anak-anak kaya ini lolos ujian masuk perguruan tinggi bergengsi di negara mereka. Sayangnya, cara-cara Kim membuat anak-anak itu rentan terhadap masalah psikologis dan mental juga. 

Di sini kita bisa perhatikan bahwa saat kompetisi dalam kehidupan masyarakat makin sengit, pendidikan tinggi digunakan sebagai salah satu cara ampuh untuk tetap berada di atas manusia-manusia lainnya. 

KEMBALI KE PENDIDIKAN TINGGI YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

Rasanya tidak berlebihan kalau kita harus kembali ke fitrah pendidikan yang hakiki. Yang lebih tinggi dan agung daripada sekadar keuntungan pribadi atau keluarga dan golongan atau demi tujuan jangka pendek.

Kalau mengutip pemikiran mulia para pemikir, tujuan-tujuan pendidikan yang ideal ialah sebagai berikut:

“[…] the cultivation of curiosity and the disposition to inquire; the fostering of creativity; the production of knowledge and of knowledgeable students; the enhancement of understanding; the promotion of moral thinking, feeling, and action; the enlargement of the imagination; the fostering of growth, development, and self-realization; the fulfillment of potential; the cultivation of “liberally educated” persons; the overcoming of provincialism and close-mindedness; the development of sound judgment; the cultivation of docility and obedience to authority; the fostering of autonomy; the maximization of freedom, happiness, or self-esteem; the development of care, concern, and related attitudes and dispositions; the fostering of feelings of community, social solidarity, citizenship, and civic-mindedness; the production of good citizens; the “civilizing” of students; the protection of students from the deleterious effects of civilization; the development of piety, religious faith, and spiritual fulfillment; the fostering of ideological purity; the cultivation of political awareness and action; the integration or balancing of the needs and interests of the individual student and the larger society; and the fostering of skills and dispositions constitutive of rationality or critical thinking.” [sumber: https://www.britannica.com/topic/philosophy-of-education/Problems-issues-and-tasks]

Di negara kita, pendidikan direduksi menjadi cuma sarana meraih gelar atau tempat mencetak calon angkatan kerja produktif yang akan menyumbang nilai ekonomi ke GDP negara karena negara butuh pertumbuhan ekonomi yang cemerlang dan mesti naik dari tahun ke tahun. Tujuan mulia pendidikan seperti yang diungkap di atas malah terlupakan sama sekali dan bahkan digadaikan demi keuntungan jangka pendek.

Di sini, kita juga jumpai gelar-gelar akademik sebagai sebuah alat politik dan kekuasaan. SBY pernah dihadiahi gelar profesor kehormatan oleh Unhan. Yang kontrovesial adalah pengangkatan Megawati Soekarnoputri sebagai guru besar kehormatan Unhan karena kapasitas akademik dan karya ilmiahnya beliau dipertanyakan. Masalahnya adalah Megawati mengangkat topik yang berkaitan dengan dirinya sendiri sehingga otomatis objektivitasnya dipertanyakan. Karya tulisnya yang dianggap memuji-muji diri sendiri itu adalah “Kepemimpinan Presiden Megawati Pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004”. 

Yang lebih menggemparkan adalah pemberian gelar guru besar pada Nurdin Halid oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes, setahun lalu (2021). Motivasi guru besar FIK Unnes yang memberikan gelar ini pada Nurdin dipertanyakan rekan sejawatnya sampai ia didepak dari grup WhatsApp Majelis Profesor Unnes. 

Keputusan FIK ini wajar dan patut dipermasalahkan karena sosok Nurdin memang sangat kontroversial dengan rekam jejaknya yang tak bisa dibilang bersih. Ia mantan terpidana korupsi. Sebagai pucuk pimpinan PSSI dulu, Nurdin juga dianggap biang keladi kemunduran sepakbola Indonesia. Menjamurnya mafia bola dan kultur bola yang tak mendukung perkembangan pesepakbola negeri ini pun dijadikan alasan mengapa Nurdin tidak pantas mendapat gelar kehormatan itu. Keputusan itu akhirnya menyulut api kemarahan BEM Unnes juga.

Akhirnya semua berpulang ke kita sebagai manusia pelakunya. Apakah kita akan mengizinkan semua ini terjadi terus-menerus sampai mengikis tujuan pendidikan yang ideal tadi? Atau kita akan mengambil tindakan konkret sebisa kita agar semua ini bisa disetop atau setidaknya dihalau agar tidak meluas di lingkungan terdekat kita? (*/)

Bahas Santai “The Origins of the Slavic Nations” untuk Memahami Akar Konflik Rusia-Ukraina 2022

PERANG Ukraina-Rusia yang sedang berkecamuk sekarang ini membuat orang bertanya-tanya, kenapa ya kok bisa terjadi? Bukannya mereka itu orangnya mirip-mirip. Lihat aja wajah dan perawakannya. Bahasanya juga sebelas dua belas. Buat orang luar, 2 negara ini tuh kayak nggak ada bedanya lho.

Di sini kita bisa belajar sih kalau persamaan itu nggak selalu dan pasti bakal berujung kerukunan dan keharmonisan. Sama rasnya kok ya masih bertengkar, kayak Korsel-Korut, Taiwan-Republik Rakyat China. Sama akar agamanya, tapi ya masih gontok-gontokan kayak Syiah-Sunni, kayak Saudi Arabia-Iran.

Di sini kita bakal coba bahas dikittt aja isi bukunya om Serhii Plokhy, dosen dan pakar sejarah Rusia-Ukraina, yang judulnya bisa dibaca di gambar di atas. Gamblang banget: “Asal Usul Bangsa Slavia Timur“. Ini cuma salah satu bukunya yang membahas soal isu yang sama.

Buku ini menurut Plokhy ingin mengurai akar konflik Rusia-Ukraina yang sejarahnya panjang juga meski nggak sepanjang konflik Israel-Palestina. Dia ingin mengemukakan pemikirannya yang diklaimnya lebih bebas dari agenda politik masing-masing negara dan bangsa yang terlibat di dalamnya, yakni Rusia milik Putin, Belarusia dan Ukraina. Dia ibaratnya ingin menjelaskan duduk perkara masalahnya supaya nggak ada kesalahpahaman lagi dan konflik berdarah lagi.

Seorang teman protes saat gw berkata “Sejarah itu kayak campuran fakta dan fiksi yang komposisinya nggak jelas.” Dia bilang ada metode penulisan sejarah jadi nggak serandom fiksi juga lho. Iya iya, tapi tetap saja ada sejumlah subjektivitas sejarawan atau pihak berkuasa dalam penulisan sejarah itu. Kepentingan politik penguasa pasti masuk ke dalam narasi sejarah tadi. Nggak mungkin nggak. Bisa jadi sejarawannya emang nggak bohong tapi dengan secermat mungkin memilih dan menyaring fakta yang bisa mendukung pemikiran dan pendapatnya. Tapi di saat yang sama menyingkirkan fakta lain yang dianggap nggak mendukung opini besarnya. Ini yang pembaca nggak tahu-menahu. Jadi sebagai pembaca sejarah, kita mesti tetap kritis deh. Jangan baca cuma satu dua sumber tapi sebanyak mungkin. Jadi paham banyak perspektif.

BAGAIMANA SEMUA BERAWAL?

Salahkan Mongol yang dulu menyerang negara bernama RUS’ KIEV yang berlokasi di kota Kiev saat ini. Karena serangan ini, bangsa yang semula satu jadi kocar-kacir dan berkembang sendiri di kemudian hari: Rusia, Belarusia dan Ukraina.

Kita ibaratkan ketiganya sebagai 3 saudara kandung yang berbeda kepribadian dan perilaku. Rusia menjadi figur kakak pertama yang dominan dan merasa menjadi pewaris bangsa Rus’ Kiev. Belarusia seperti anak kedua yang membeo si anak pertama. Dan Ukraina tumbuh sebagai anak bungsu yang punya kepribadian yang berbeda sendiri dalam keluarga.

Mereka pernah bersatu pas era Uni Soviet tapi kemudian bercerai berai lagi begitu Soviet runtuh.

Rusia tumbuh sebagai negara diktatorial. Belarusia yang banyak terpengaruh oleh kakaknya juga awalnya kebingungan mau bagaimana tapi kembali ke ‘fitrah’ sebagai bangsa dan negara yang otoriter. Sementara itu, Ukraina si anak bungsu malah berulah karena menunjukkan gejala-gejala mau ganti ‘agama’ sosialis komunis ke kapitalis ala Barat.

Masalah muncul saat Rusia berpikir gimana pun juga mereka masih satu keluarga besar Kievan Rus’. Nggak bisa keluar dari ‘agama’ keluarga seenaknya aja. Pokoknya nggak gitu konsep bersodara ala Rusia. 

Ukraina membantah pemikiran kakaknya: “Kita tuh nggak mirip-mirip amat kok, cuma kebetulan aja nama ortu sama di KK tapi sekarang jalan hidup kita udah beda, kak. Nggak usah maksa-maksa gw. Hidup gw, pilihan gw. Setop mendikte pilihan hidup gw. Gw udah ada circle baru ama anak-anak komplek kapitalis Barat sana.”

Kakak kedua Belarusia jadi agak gamang gitu denger argumen adiknya. “Bener juga ya, gw sebenernya juga nggak mau didikte dan dianggap sama ama kakak pertama terus. Gw punya identitas sendiri kok.” Tapi Belarusia ngga seberani itu buat ngebantah kakak pertama yang suka main tangan kalo dibantah dikit.

Kakak pertama nggak sepakat karena curiga dengan membiarkan adik ketiganya ‘membelot’, itu akan jadi titik awal musnahnya keluarga dan warisan budayanya. Pertama satu lalu pelan-pelan dipaksa ‘convert’ deh satu keluarga sama circle komplek Barat itu.

Jadi intinya kakak-kakaknya Ukraina ngerasa ada ancaman terhadap eksistensi mereka makanya jadi defensif banget. 

Penulis buku ini berpendapat bahwa setelah terpecah akibat serangan Mongol, 3 bangsa turunan Kievan Rus’ ini berkembang dengan punya jatidiri masing-masing. Nggak bisa diseragamkan meski bahasa dan budaya serta ciri fisik orang-orangnya itu mirip. 

Liat aja Indonesia & Malaysia deh. Semuanya ya mirip-mirip tapi ya ga bisa disamakan karena ada perbedaannya. Nah kan bingung semua? Sama tapi beda. Beda tapi ya sama. Wakwaw…

Kalau mau dipaksa jadi 1 negara, kok susah. Tapi dibiarin merdeka sendiri-sendiri, tetep aja gesekan mulu. 

Bedanya Indonesia-Malaysia konfliknya nggak frontal. Halus-halus aja tapi terus. Mungkin karena ‘misqueen’ dan ga ada komitmen kuat pemerintahnya dan ga ada anggaran sebesar Rusia buat rakit senjata canggih dan nuklir. 

Serhii Ploky yang nulis buku ini berasumsi bahwa tidak akan ada kesukuan atau konsep bangsa tanpa adanya jatidiri yang unik dan khas. Karena menurutnya sebuah bangsa itu ada karena ada jatidirinya. Nggak bisa cuma ngaku-ngaku sepihak berbeda lalu merdeka atau dipaksa bersatu ke negara lain. Jadi perspektif dia lebih objektif.

Emang udah bener Elon Musk bikin koloni baru di luar planet ini. Nggak ada konflik ginian di Mars. Setidaknya sampai ada manusia beranak pinak dan jadi buanyak di sana mungkin yah…

Suasana kota Kiev, ibu kota Ukraina. (Foto: KKTV)

KONSEP BANGSA

Serhii Plokhy yakin bahwa konsep bangsa itu udah ada jauh sebelum umat manusia memasuki era modern. Ini bisa dilacak dari sejarah etnisnya. Memang bangsa-bangsa di masa-masa pramodern (belum kenal aksara) itu nggak sesistematis dan terorganisir kayak sekarang yang udah ada undang-undangnya, lembaga ini itunya, kantor ini itunya tapi setidaknya udah ada konsep jatidiri itu. Dengan kata lain, hanya karena belum ada bukti tertulisnya bukan berarti bangsa itu nggak ada dan nggak bisa diakui.

Lagi-lagi ini masuk ke ranah politik identitas. Udah kenyang lah ya kita sama ‘mata kuliah’ satu ini pas Pilpres dan Pilkada Jakarta yang legendaris kemarin itu, yang sampe sekarang dampak ‘damage’-nya ke rakyat Indonesia itu masih ada dalam hal penyebutan “kadrun” vs “cebong”. 

Identitas/ jatidiri dimaknai sebagai fenomena yang mewujud secara alamiah dalam kesadaran dan tindakan dalam diri tiap individu dan bersama (kolektif). Jadi simpelnya kalo ngaku bangsa Indonesia tapi nggak mengakui Pancasila, nggak bisa dan nggak mau ngomong bahasa Indonesia dan menolak hukum dan pemerintahan yang sah ya nggak dianggap rakyat NKRI.

Dan susahnya ini sebuah spektrum gitu. Bukan YES or NO, hitam atau putih. Tapi berskala, dari 0 sampe 100. Dari yang sama sekali menolak identitas sampe bener-bener bisa menghayati jatidiri itu. Dan kebanyakan rakyat ada di skala tengah-tengahnya: mendukung bangsa saat sesuai dengan cara pikir dan agendanya sendiri-sendiri dan menentang saat bangsanya bergerak ke arah yang nggak sesuai ekspektasi.

Tapi kenyang bukan berarti terampil menguasai diri di masa mendatang agar tidak jatuh ke ‘lubang tai’ yang sama berkali-kali. Manusia kadang lebih parah dari kebo. Udah jatuh berkali-kali ya tetep ngotot ngaku dirinya makhluk paling sempurnaaa… Takaburrr parah emang. wqwqw (lalu ngaca).

LIHAI GUNAKAN SEJARAH DAN AGAMA

Putin di usia 60-an masih fit dan berani mengumbar bodi pas liburan musim panas di Siberia. Foto yang disebar via Kremlin ini seolah ingin menegaskan maskulinisme Rusia, mengirimkan pesan ke dunia bahwa Rusia itu perkasa dan siap menantang Amerika. (Sumber foto: Business Insiders)

Putin menurut gw mirip kayak Patih Gajah Mada yang bersumpah menyatukan nusantara. Pakdhe Putin pandai memanfaatkan narasi sejarah untuk melancarkan agenda politiknya agar Rusia tetap stabil dan besar. Nggak salah sebenernya. Itu manusiawi dan alami. Siapa sih yang mau negara dan bangsanya makin kecil, surut dan lama-lama lenyap? Maunya ya pasti makin besar, jaya, makmur, bla bla bla. 

Dalam kasus Rusia-Ukraina, konsep “nusantara” itu bisa disamakan dengan konsep “Русский Мир” (Russkiy Mir) atau “Dunia Rusia” yang mensyaratkan adanya penyatuan antara Rusia yang sudah adidaya dan “Rusia Kecil”, si ‘adik kecil pemberontak’ Ukraina. Ini disampaikan Putin melalui pidatonya 21 Februari 2022 sebelum memulai invasi ke Ukraina.

“Ukraina milik Dunia Rusia,” kata Putin. Bahkan nggak cuma Ukraina dan Belarusia, Dunia Rusia versi Putin juga mencakup wilayah yang warganya adalah mayoritas etnis Rusia, berbicara bahasa Rusia dan punya pertalian sejarah dengan budaya Rusia. Jadi wilayah Dunia Rusia bisa mencakup Kazakhstan utara, Belarusia, wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina Timur dan Moldova, Ossetia Selatan dan Abkhazia di Georgia. Bahkan Serbia dan Israel pun masuk ke definisi Dunia Rusia Putin.

Serakah? Ya namanya juga penguasa. Sah-sah aja asal ada anggaran berlimpah dan kemampuan militer buat mewujudkannya.

Kini kita paham kenapa Papua terus bergejolak juga ya. Ya bisa banget dimaklumi karena mereka merasa akar budaya, bahasa dan jatidiri dengan masyarakat Indonesia (yang sangat Jawasentris) itu hampir nggak ada. Persamaan fisik apalagi. Satu-satunya penyatu ya cuma pernyataan setia ke NKRI dan pemerintahan beserta segala aturannya. Itulah kenapa Papua sangat amat ‘rapuh’.

Kembali ke Rusia, untuk menyebarkan propaganda Dunia Rusianya, Putin membentuk Yayasan Russkiy Mir di tahun 2007 dan ‘mencatut’ pernyataan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia bahwa inti Dunia Rusia itu Rusia saat ini, Ukraina dan Belarusia. Ia meyakinkan masyarakat dunia bahwa keyakinan itu juga diamini oleh Gereja Ortodoks Rusia lho. Jadi fix, meyakinkan 100%. No debate pokoknya! ‘Bukti’ sejarah udah dapet. Dukungan agamawan juga udah. 

Tapi Ukraina nggak mau tunduk. Saat Rusia mencaplok Krimea tahun 2014, alasan yang digunakan adalah karena membela etnis Rusia di wilayah timur Ukraina yang konon dilarang menggunakan bahasa Rusia dan didiskriminasi pemerintah Ukraina.

Alasannya agak dibuat-buat emang tapi sekali lagi bukankah begitu ya politisi kalo ngomong? Nyerang karena ada alasan ‘baiknya’. Wqwq. Emang pinter cari angle yang pas. Bisa aja pokoknya.  

Buku “The Origins of the Slavic Nations” tulisan Serhii Plokhy ini membahas beragam lapisan dan aspek jatidiri Slavia Timur dari bahasan etnis dan bangsa, agama, politik, dan sosial. Dan buku ini bisa jadi gerbang buat memahami perang yang sedang berkecamuk sekarang ini.

PERJALANAN CARI JATIDIRI

Buat gw, naif banget buat kita untuk bersikap 100% pasifis dan bilang “no war” ke mereka yang bertikai dan berharap kelar secara instan. Terlepas dari korban jiwa atau luka, emang ini udah mirip ‘bom waktu’ kok. Bisa meledak kapan aja. Emang udah jalannya perang ya mau diapain lagi. 

Ini proses yang harus dijalani bangsa Rusia dan Ukraina dalam mengurai akar jatidiri dan mungkin menemukan jatidiri baru mereka. Nggak mudah emang.

Kita yang di Indonesia kayak tetangga yang rumahnya agak jauh tapi masih kena getahnya pas ada saudara kandung lagi bertengkar tengah malem lempar piring dan bacok-bacokan ga abis-abis padahal pengen tidur. Kesel, mau mendamaikan tapi kok ya urusan rumah tangga orang. Tapi kalo nggak dilerai, juga salah kita sebagai tetangga kok nggak peduli. 

(Foto: BioMed Central)

WAKTU YANG NGGAK TEPAT

Tapi timing-nya emang kerasa nggak banget buat dunia yang lagi berusaha pulih dari Covid. Tapi kalau mau menilik ke sejarah lagi, perang dan pandemi itu sama-sama eratnya lho.

Liat aja pandemi Flu Spanyol dan Perang Dunia 1 usai. Perang Dunia 1 pecah tahun 1914 dan usai 1918. Disusul munculnya pandemi di tahun 1918 dan 1919. Sepuluh tahun kemudian ekonomi dunia rontok tok tokkk dengan adanya “Great Depression”. 

Jadi kalau di abad ke-21 ini, kita udah alami “Great Recession” tahun 2009. GDP dunia turun ‘cuma’ 1% dan ekonomi dunia rasanya udah lesu darah. Lalu Covid-19 muncul akhir 2019 dan GDP total dunia drop 4,5% ‘saja’ dan kita merasa itu udah kayak mau akhir dunia. Dunia udah rasanya morat-marit karena satu virus baru.

Ditambah dengan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III, kita bisa kehilangan pertumbuhan ekonomi global lebih banyak. Dari pengalaman Perang Dunia I, GDP yang lenyap karena disedot perang mencapai 9,5% dari tahun 1914 sampai 1920. Sementara itu, pasca PD II, GDP tercatat turun sampe 11% (menurut history.com). Dan kakek nenek kita ngalami zaman yang nggak enak itu. Zaman perang di mana-mana, ekonomi morat-marit. Ugh!

Bayangkan sendiri nanti dunia abis PD III kalo beneran terjadi. Haha. Disimpen dulu gilanya buat nanti.

TATA ULANG SEJARAH

Kembali ke buku “The Origins of the Slavic Nations” tulisan Serhii Plokhy ini, tujuan utamanya ialah menyusun ulang tahapan perkembangan jatidiri bangsa East Slavic berdasarkan data yang ada. Garis besar ya, DATA. Bukan narasi politik penguasa.

Dan serunya buku ini juga bahas bangsa mana sih dari ketiga ini yang secara historis paling berhak mengklaim dirinya sebagai bangsa keturunan paling setia pada warisan sejarah Kievan Rus’ yang jadi nenek moyang mereka itu. Apakah Rusia milik Putin, Belarusia, atau Ukraina?

Tujuan lainnya yang nggak kalah seru adalah mendefinisikan ulang jatidiri East Slavic yang jadi pokok permasalahan ini. Dari sini diharapkan adanya penyusunan ulang konsep mengenai sejarah pramodern bangsa Rusia, Ukraina dan Belarusia.

Tapi ngenesnya, apa Putin mau baca dan mengadopsi pemikiran Ploky ini ya? Very very unlikely sih. Tapi let’s see kalau Putin udah mokat atau lengser atau ada revolusi di Rusia. 

Kita tunggu aja Alexei Navalny, tokoh oposisi Putin dan aktivis antikorupsi yang sempat diracun oleh orang suruhan Putin, menggulingkannya entah kapan. Karena kasus racun ini, Federal Security Service Rusia sampai diberi sanksi oleh Uni Eropa dan Inggris.

Navalny ini mendukung juga aksi protes kelompok prodemokrasi di Belarusia tahun 2020 karena pemilihan presiden Belarusia yang sengit. Bahkan dia percaya diri bilang kalo revolusi di Belarusia bakal sampai ke Rusia juga. Putin, yang mantan agen KGB, ya nggak tinggal diam lah.

Kejengkelan Navalny patut dipahami karena Putin udah memangku jabatan presiden dan perdana menteri dari tahun 1999 sejak ia menggantikan Boris Yeltsin. Udah jadi presiden selama 23 tahun (meski pernah 4 tahun dari 2008-2012 turun untuk sekadar jeda antar masa jabatan biar nggak dibilang diktator aja)! Sukarno aja cuma 22 tahun. Haha.

Sebelumnya wajah Navalny juga udah pernah disemprot zat kimia sampai matanya hampir buta. Pokoknya ngeri dahhh kalo berani-berani menentang Putin. 

PUTIN DAN MUSLIM RUSIA

Seorang teman ada yang berseloroh: “Coba kalau yang diserang itu Palestina, bukan Ukraina, pasti Indonesia udah vokal duluan…”

Tapi emang pemerintah Rusia dari dulu sampai rezim Putin ini nggak ada masalah besar sama muslim di Rusia. Setidaknya sampai sekarang nggak ada berita diskriminasi atau penindasan layaknya yang dilakukan China ke suku Uyghur yang diberitakan mengalami genosida masif supaya nggak jadi bibit-bibit kelompok radikal yang bisa membahayakan persatuan dan kesatuan China Raya. Jadi mau protes apa wong emang hubungan mereka dengan presidennya baik-baik aja.

Seperlima rakyat Rusia adalah muslim dan karena mereka bisa melebur dengan mulus dengan masyarakat Rusia, muslim Rusia jadi nggak dianggap sebagai masalah. Ini lain dari kehadiran muslim di Eropa terutama di Eropa Barat yang dicap agak miring.

Dibandingkan negara-negara yang didominasi ras Kaukasia di Eropa, jumlah warga muslim Rusia itu terbesar lho. Belum digabungkan dengan dua wilayah Rusia dengan warga mayoritas muslim yang bergejolak: Chechnya dan Ingushetia.

Rusia juga menyatakan Islam sebagai agama yang diakui di depan hukum  dan bagian dari warisan sejarah Rusia sampai mendapatkan subsidi dari pemerintah. Di Rusia, Islam disejajarkan dengan Kristen Ortodoks. Bagi Putin, Islam bahkan lebih dekat dengan Kristen Orthodoks daripada Katholik (yang memang markasnya di Vatikan yang notabene di Barat).

Dari zaman Catherine Yang Agung, kaum muslim Rusia juga setia pada kekaisaran Rusia dan nggak mau memihak Turki yang menyerang mereka meski Turki ini muslim juga.

Di era Uni Soviet, Islam yang ajarannya berseberangan dengan atheisme yang dianut negara jadi tersisihkan dan ditindas bahkan orang muslim Chechnya sempat kena genosida tapi begitu Uni Soviet runtuh, Islam dapat posisi lagi.

Putin bahkan memasukkan tokoh muslim ke dalam lingkaran politiknya dan memberi subsidi ke masjid-masjid dan madrasah, sebuah langkah yang tentu nggak bakal Barat (Eropa dan AS) lakukan. 

Di sini Putin emang cerdik memanfaatkan simpati muslim supaya mau berpihak ke rezimnya. Itulah kenapa mungkin ada sebagian orang kita yang menganggap perang Ukraina ini lelucon dan kurang bersimpati. Ya karena mereka anti Barat, anti AS dan Eropa yang juga musuh Rusia.

Muslim di Rusia memang pernah nggak harmonis sama pemerintahnya. Orang-orang muslim di wilayah Chechnya punya sejarah panjang konflik dengan Rusia bahkan pernah mencoba memerdekakan diri tahun 1917 tapi Rusia berhasil menundukkan. 

Di masa Soviet, muslim di Chechnya mencoba mendapatkan pengakuan sebagai bangsa yang terpisah lagi tapi Boris Yeltsin menolak karena takut akses energi dan ekonomi putus. 

Chechnya berusaha memerdekakan diri lagi tahun 1991 dan peperangan besar meletus dari 1994 sampai 1996. Terbunuhnya presiden terpilih Chechnya kemudian disusul perjanjian damai tahun 1997.

Insiden demi insiden berdarah dikaitkan dengan gerakan separatis muslim Chechnya. Rusia yang nggak mau Chechnya lepas jadinya makin mengetatkan operasi anti radikalisme di sana. Referendum sampai diadakan dan hasilnya ya pastinya menguntungkan Rusia yang emang udah merekayasa supaya pemerintah lokal Chechnya bersikap pro Rusia.

Tahun 2004 pasca pembunuhan massal di sebuah sekolah di Beslan oleh kaum separatis Chechnya, Putin langsung mengetatkan cengkeramannya di sana.

Tapi menariknya di saat yang sama di luar Chechnya juga sejak 1990an sudah ada tren merangkul Islam di Rusia. Dan warga muslim yang tinggal di wilayah Rusia diizinkan beribadah haji, bangun masjid dan madrasah bahkan universitas, menerbitkan media pers sendiri.

Sikap Putin yang tampak pro Islam ini ditunjukkan pada muslim yang masih mau setia ke Rusia. Muslim yang ingin membentuk negara dan bangsa sendiri terpisah dari Rusia akan diperangi habis-habisan. 

Hebatnya Putin, ia sanggup mengubah opini mayoritas muslim Rusia menjadi lebih pro perang Suriah. Dan ini ditambah lagi dengan hasil riset Pew Research Center yang mengatakan bahwa sebagian besar (76%) masyarakat Rusia punya persepsi positif mengenai muslim di negara mereka.  

Muslim Chechnya juga baru-baru ini berkomitmen bantu operasi militer Putin di Ukraina. Muslim Chechnya (yang dulunya ditindas di era Uni Soviet) kini berbalik mendukung Rusia dan sebanyak 12 ribu orang muslim Chechnya menyatakan bersedia menjadi relawan perang, membantu Putin menaklukkan Ukraina. Ini dari sumber WIKIPEDIA.

Tapi gw baca dari Slate.com, faktanya nggak sesempurna survei dan opini tadi. Di Moskow, warga masih intoleran sama kehadiran muslim terutama kalau mereka sedang beribadah salat Jumat yang emang memakan tempat sampai ke jalan umum. Ya mau gimana dong wong pemerintahnya juga nggak izinin buat bangun lebih banyak masjid? Jadinya luber ke jalan-jalan deh. Pas Iduladha juga warga Moskow yang nonmuslim masih syok liat darah binatang qurban di trotoar.

APAKAH PERANG EFEKTIF?

Kembali ke isu perang ini, sejarawan dan penulis buku terkenal Yuval Noah Harari melalui Guardian.com menyatakan bahwa langkah agresif Putin malah bisa jadi bumerang bagi Rusia.

Bumerang gimana ya?

Gini maksudnya Yuval: pakai kekerasan dan senjata malahan bakal menguatkan identitas dalam diri orang-orang Ukraina. Karena ya mereka merasa menderita bersama-sama. Mereka malah sekarang punya musuh bersama yang nyata: Rusia dengan Putin sebagai dalangnya.

Impian Putin untuk menyatukan kekaisaran Rusia selalu bersandar pada sebuah kebohongan bahwa Ukraina bukanlah sebuah bangsa yang mandiri. Ukraina ialah sebuah bangsa dengan sejarah lebih dari 1000 tahun dan Kiev sudah menjadi kota mandiri yang maju bahkan saat Moskow masih terbelakang. Namun Putin terus mengumandangkan kebohongan tadi.

Rusia memang berada di atas angin dalam hal kekuatan militer dan sumber daya minyak dan gas, yang membuat posisi tawarnya di mata Barat (NATO) tak tergoyahkan. Yang bisa diberikan Barat cuma sanksi, sanksi dan sanksi. Tapi mereka masih menahan diri untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina.

Yuval mengatakan lebih mudah bagi sebuah bangsa untuk menaklukkan bangsa lain. Yang lebih susah adalah bagaimana mengendalikan bangsa yang lebih lemah ini. Rusia memang adidaya dan lebih kuat dalam segi manapun tapi itu bukan berarti ia bisa menyetir bangsa Ukraina.

Dengan menumpahkan darah dan menghancurkan Kiev, Putin malah mematrikan kebencian dalam sanubari bangsa Ukraina. Padahal kebencian ini sebenarnya bisa dijadikan alat pemersatu Ukraina. (*/)

%d bloggers like this: