Saat Pria Dilecehkan Pria

1536px-three-legged_race_28579807458329
Orang tua kadang lupa bahwa tidak cuma anak-anak perempuan mereka yang perlu diajari cara merespon para pelaku pelecehan yang mengintai diri mereka. Anak-anak laki-laki lebih jarang diajari perihal isu yang sama, karena menganggap pria tak mungkin dilecehkan. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

KADANG ada hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal padahal terjadi benar. Seperti fenomena sebagian kaum pria yang dilecehkan oleh sesamanya. Pelecehan ini bukan semata dalam konteks verbal atau candaan. Tetapi juga sudah ke pelecehan fisik yang sangat mengganggu dan bahkan traumatis.

Parahnya karena budaya masyarakat yang masih cenderung paternalistik, kaum pria tidak bisa secara baik merespon keadaan yang di dalamnya mereka seharusnya bertindak garang terhadap si oknum peleceh. Ini karena di dalam benak mereka tidak pernah ada contoh kasus seorang pria yang merasa terlecehkan oleh pria lain. Mereka juga tidak pernah diedukasi mengenai bagaimana cara menanggapi tindakan-tindakan yang tak senonoh sesuatu yang sangat berbeda dari para perempuan yang posisinya jauh lebih rentan sejak lama sehingga mereka sudah lebih terampil soal edukasi seperti itu. Kita lihat saja di lingkungan keluarga kita, apakah kita sudah lazim menemukan orang tua yang secara sengaja mengedukasi anak laki-laki mereka jika mereka menghadapi predator atau pelaku pelecehan seksual?

Konstruksi paternalistik yang mengukuhkan ilusi bahwa pria adalah jenis superior ini kemudian melahirkan “toxic masculinity”. Di AS, merebaknya tindak kekerasan penembakan massal di sekolah-sekolah diduga juga turut dipicu oleh bom waktu ‘toxic masculinity’ ini. Secara gamblang, toxic masculinity ini merupakan “elemen maskulinitas yang mendorong dominasi pria dan mencegah pria untuk menunjukkan emosi mereka” (dailybeast). Di dalam cakupan jenis emosi-emosi itu ada juga emosi sedih dan marah yang seharusnya mereka tunjukkan setelah diperlakukan tidak senonoh oleh pihak lain. Tetapi karena banyak pria tidak melihat contohnya di dalam masyarakat sekarang ini, mereka kebingungan dan akhirnya memendamnya sebab tidak tahu ke mana harus menyalurkannya. Akhirnya semua emosi kemarahan dan kepedihan tadi terpendam, meledak dan mencederai lebih banyak pihak yang tak bersalah.

Seorang teman saya, sebut saja Y, menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi korban dari perlakuan tidak senonoh seorang pria saat berada di dalam bu Trans Jakarta yang penuh sesak. Kondisi bus yang penuh memang sangat rawan dengan tindak kejahatan dan pelecehan semacam ini. Dan ini tidak cuma menimpa perempuan! Para pria bisa saja mendapati diri mereka digerayangi dan diremas tanpa persetujuan mereka. Dan ini bukan perdebatan ‘enak atau tidak’, tetapi lebih pada penerobosan tanpa izin ruang-ruang pribadi yang semestinya dipatuhi oleh pihak lain. Jika kaum Hawa lebih rawan dengan tindakan peremasan payudara atau bokong, kaum pria juga bisa dilecehkan jika dada, bokong, atau genitalianya disentuh oleh pihak lain tanpa persetujuan. Kasus yang menimpa teman saya ini mungkin jarang diceritakan karena pria akan malu jika bercerita soal pelecehan yang menimpanya. Dan di TKP, pria juga cenderung akan kebingungan apakah ia akan berteriak untuk bisa menghukum si pelaku atau bertindak sendiri atau membiarkan diri dan menghindar saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman saya ini berdiri dengan penumpang pria lain dan tidak pernah menyangka bahwa seorang pria di dekatnya berupaya menyentuh area pribadinya. Reaksinya saat itu tak begitu jelas, karena ia memilih untuk hanya menatap mata si pelaku dengan tajam untuk memberikannya semacam ancaman. Tetapi toh, pandangan tetap bukanlah suatu hukuman riil yang efektif. Ada peluang ia masih merasa aman dan akan meneruskan perilaku yang sama pada orang lain.

Lain lagi dengan teman saya yang lain, sebut saja F. Ia pernah dua kali menjadi korban tindak pelecehan di kendaraan umum (di kereta penuh sesak) yang ia hanya pendam saja hingga sekarang. Kejadian ini terjadi saat ia masih remaja (duduk di bangku SMP/ SMA). Ia pernah berdiri di gerbong kereta yang sesak. Di depannya seorang pria menghadap ke wajahnya dan tampak serius menatap ke depan tetapi bukan ke wajahnya. Tanpa ia sangka, ia merasakan ada sentuhan tangan yang meremas alat vitalnya. “Karena gue masih kecil, gue belum begitu paham. Kok gini? Gitu aja gue mikirnya. Gue pikir cuma nyentuh ga sengaja tapi lama-lama nggak nyaman,” kata F. Respon F saat itu ialah langsung menjauh dari si oknum. Ini karena ia merasa ada yang tidak benar dengan perilaku orang tersebut. Dan ia merasa ‘beku’, tidak ada yang bisa lakukan dalam kondisi itu. Tindakan yang masuk akal baginya adalah dengan menjauh saja. Meskipun ini bukan solusi yang final dan efektif karena si oknum bisa melancarkan perbuatannya pada calon korban lain.

Di kesempatan sial lainnya, F juga harus berdesakan dan berdiri di kereta. Kali ini ia tidak diserang dari depan sebagaimana sebelumnya. Sekarang ia diburu dari belakang. “Gue berdiri, sementara orang itu juga berdiri di belakang gue. Tiba-tiba gue rasain di pantat gue, orang itu sengaja nyentuhin burungnya ke pantat gue,” Y menceritakan pengalamannya yang pahit itu pada saya. Masalahnya ialah bagian pribadi oknum tersebut mengalami ereksi hebat dan Y merasakan seolah ia dipaksa untuk menjadi pelampiasan seksual si pria di belakangnya. Lagi-lagi, ia tidak bisa berbuat apapun selain menghindar, mencari tempat berdiri lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh si predator seks.

Teman saya yang lain, J, menceritakan dirinya menjadi korban perlakuan tak pantas dari teman SMP-nya. Saat itu, ia berjalan di koridor sekolah dan kemudian seorang anak laki-laki di kelas lain berlari kencang ke arahnya dan tanpa disangka-sangka oleh J, anak laki-laki itu selama sedetik dua detik telah meremas kemaluan J dan terus berlari. “Setelah lanjut berlari, ia berhenti dan menatap saya, seolah menganggap tindakannya itu tidak salah, sepele dan bisa dimaklumi,” terang J kesal.

Bercermin dari semua pengalaman ini, kita semestinya mulai membuka mata bahwa:

Tindakan pelecehan bisa menimpa siapa saja.

Ini bukan soal gender; bahwa pria kebal dari tindakan semacam itu dan wanita pastilah korban. Baik pria dan perempuan bisa menjadi korban. Pelakunya juga demikian, bisa bergender pria dan wanita. Jadi, jangan sampai kita terkecoh! Dan sekarang saatnya jika Anda pria yang merasa pernah menjadi korban tindakan pelecehan semacam ini, Anda tak lagi merasa bungkam dan malu karena membuka pengalaman itu pada orang lain bisa jadi membuka kelemahan Anda juga. Jangan sampai juga pria-pria yang malu dengan pengalaman pelecehan itu membungkam diri dan menyalurkan amarah dan rasa terlukanya ke dalam bentuk-bentuk yang lebih destruktif, seperti tindak kekerasan dan membalas perlakuan serupa ke orang lain yang tak bersalah.

Kaum pria juga mesti membuka diri dengan teman-teman dekat mereka dan menanggapi cerita dan pengalaman ini dengan lebih baik. Tidak menanggapinya sebagai guyonan belaka (meskipun pada awalnya pasti sangat sulit untuk menceritakan ini tanpa adanya komentar-komentar usil dari teman yang mengira kita bercanda atau mengira kita hanya terlalu sensitif atau berhalusinasi). Bila kita dihadapkan pada seorang teman yang sudah mau membeberkan rahasianya pada kita, sebaiknya kita juga tidak menanggapi dengan sembarangan. Seolah hal serius itu merupakan bahan candaan. (*/)

Tanggulangi Peredaran Konten Negatif dengan Cara Ini

Konten bernuansa negatif seakan tiada habisnya diciptakan dan diedarkan di jagad maya. Biasanya konten negatif dikeluarkan dengan agenda tertentu. Misalnya, di tahun politik ini (di Indonesia setiap tahun terasa sebagai tahun politik) rasanya konten negatif bertema pemilihan presiden akan merebak. Konten politik ternyata tak memonopoli, karena konten hoax soal kesehatan juga turut meramaikan kesemerawutan dunia maya kita.

Yang terbaru adalah beredarnya berita palsu mengenai dipukulinya seorang pembicara perempuan setelah berceramah soal sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diangkat lagi menjelang peringatan G30S/ PKI. Di masa rezim Joko Widodo, isu PKI kerap sekali dipakai lawan-lawan politik. Diduga karena Joko Widodo dibekingi oleh PDI Perjuangan yang didirikan Megawati Soekarnoputri. Di masa Orde Lama tatkala ayah Megawati berkuasa, kaum Nasionalis memang dianggap dekat dengan para penyokong Komunisme. Paham Nasakom (nasionalis, agama, komunis) yang diangkat Presiden Soekarno dipandang memberi celah bagi kaum komunis untuk melakukan kudeta di negeri ini. Selanjutnya Anda bisa baca di tempat lain.

Nah, berita soal pemukulan seorang perempuan berjilbab yang berceramah soal sejarah PKI di Bekasi itu kemudian diketahui sebagai kebohongan karena diketahui dari pelacakan foto yang menunjukkan bahwa foto tersebut berasal dari akun Instagram seorang perias Malaysia. Alih-alih dipukuli, wanita di foto itu sengaja dirias agar tampak babak belur dipukuli hingga matanya lebam dan bibirnya berdarah-darah. Padahal itu hanya makeup dengan bahan gelatine prosthetic.
Untuk menanggulangi sirkulasi konten tipu muslihat sejenis ini, ada caranya sendiri. Dan yang penting, siapa saja bisa melakukannya. Ini penting sebab menjadikan kita bisa lebih merasa terlibat dengan dunia maya yang setiap saat kita geluti.

Begini caranya:

  • Simpan hasil tangkapan layar (screenshot)
  • Laporkan ke pengaduan konten http://aduankonten.id/
  • Atau kirimkan hasil tangkapan layar tadi ke email aduankonten@mail.kominfo.go.id
  • Atau laporkan konten negatif itu ke nomor WhatsApp 08119224545

Menjembatani Dunia Akademik dan Industri

Berpendidikan tinggi tidak selalu berarti mudah mendapatkan pekerjaan. Faktanya, menurut data BPS per Februari 2018 persentase pengangguran terbuka berlatar belakang universitas mencapai 6,31%, masih kalah rendah dengan lulusan SD (2,67%) dan SMP (5,18%). Masih menurut BPS, persentase lulusan perguruan tinggi yang terserap pasar tenaga kerja dari jumlah total lulusan perguruan tinggi cuma sekitar 12%. Bila tidak tertangani, masalah ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa.

Apa penyebabnya? Dan bagaimana Sampoerna School System berkontribusi dalam pemecahan masalah besar bangsa ini?

Untuk mengupas isu ini, Marshall Schott (Chief Academic Officer di Sampoerna School System) berdiskusi dengan Desi Anwar dari CNN Indonesia. Kiprah Schott di bidang pendidikan tinggi tidak diragukan lagi. Sebagai catatan, Schott telah memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan tinggi selama 18 tahun sejak bekerja di University of Houston hingga Lonestar College sebelum kemudian bergabung dengan Putra Sampoerna Foundation sejak 2015 lalu untuk menangani strategi dan operasional.

Bagaimana pendapat Anda tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang masih banyak perlu dibenahi, dari mutu SDM dan daya serap lulusan perguruan tinggi yang rendah hingga kurikulum yang terus berubah?

Kami menyaksikan adanya kesadaran dari pemerintah mengenai pentingnya reformasi pendidikan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi RI yang berpotensi menjadi salah satu dari 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebagaimana dikemukakan oleh perusahaan konsultan McKinsey. Penambahan persentase anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN juga menandakan adanya kesadaran tersebut.

Sementara itu, di lapangan ditemukan kesenjangan antara kurikulum yang diajarkan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja sekarang.

Saran untuk pemerintah agar reformasi pendidikan tercapai adalah membangun kerangka kerja berkualitas antara pendidikan, bisnis dan industri; meningkatkan relevansi antara kurikulum dan kebutuhan pasar tenaga kerja; dan memperbaiki mutu pengajar.

Bagaimana peran guru saat ini tatkala pengetahuan dapat diakses dengan sangat mudah?

Guru memiliki peran yang banyak dan kompleks sehingga harus dipilah. Di abad teknologi ini, para guru berperan sebagai fasilitator, bukan lagi sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Bagaimana Anda menyiapkan anak-anak Indonesia yang belum familiar dengan peran guru sebagai fasilitator ini?

Kami melakukannya dengan mengadakan Konferensi Pendidik Nasional tiap dua tahun. Fokus kami dalam konferensi ini ialah pentingnya pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan hibah dari USAID, kami merancang program untuk menarik guru-guru dari berbagai pelosok Indonesia dan menunjukkan cara menggunakan teknologi saat mengajar dengan lebih menarik dan efektif.

Hal apa yang dapat memberikan dampak nyata pada pendidikan Indonesia?

Kami mengusulkan desentralisasi dan deregulasi pendidikan tinggi. Kemendiknas diharapkan memberdayakan institusi dengan wewenang lebih besar untuk meningkatkan otonomi pendidikan. Saat otonomi tercapai, kreativitas dan inovasi dalam mengatasi permasalahan bangsa akan meningkat pula. Standar yang berlaku tidak hanya satu. Bisa berbeda-beda karena kondisi dan situasi tiap universitas juga berbeda-beda.

Dengan sumber daya yang terbatas, perlu dibedakan satu institusi dengan lainnya. Untuk institusi yang mendidik orang dengan kemampuan menengah (misalnya politeknik), diberlakukan standar yang lain dari institusi yang berfokus pada riset, teknologi, komersialisasi dan kepemimpinan kelas dunia.

Seperti apa pendidikan ideal di abad ke-21? Apa makna belajar sesungguhnya?

Saat ini penguasaan materi pelajaran tidak lagi cukup. Ekonomi kreatif dan inovatif membutuhkan berbagai keterampilan lain seperti keterampilan 3C (Critical thinking, Collaboration, Communication). Pengajaran yang bersifat interdisipliner juga membantu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi kreatif.

Karena Sampoerna School System menerapkan metode yang lain dari sekolah lain, kelas kami juga tampak berbeda. Dalam ruang kelas, murid-murid bisa berpindah tempat duduk sesuai kebutuhan proyek yang harus dikerjakan di hari tertentu. Peran guru sebagai fasilitator dan pengarah siswa serta memberi informasi untuk bereksplorasi. Para siswa dididik untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Tak peduli kondisi, mereka akan bisa bertahan di dunia yang makin dinamis berkat keterampilan yang bisa dialihkan.

Materi apakah yang dipelajari di Sampoerna University?

Materi interdisipliner dengan dasar yang luas menjadi materi inti kami. Yang menjadi ciri khas ialah kewajiban mengikuti kelas STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) karena 80% pekerjaan di masa datang akan membutuhkan kompetensi ini.

Bagaimana cara penilaiannya?

Penilaian dilakukan secara terus-menerus dan bersifat kumulatif. Ujian akhir hanya bagian dari keseluruhan, bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Yang dinilai ialah penguasaan materi, penyelesaian tugas, kemampuan komunikasi, kegigihan dan partisipasi. Di sini harus ada keseimbangan antara soft skills dan pertumbuhan pribadi siswa.

Bagaimana semua ini diajarkan?

Kami mengajarkan ini dengan menggunakan konsep abstrak dalam beragam konteks. Siswa mesti dapat menerapkan berbagai pengetahuan dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. (Baca: TEAM Expo 2018: Bangun, Buat, dan Jelajahi Melalui STEAM)

Investasi seperti apa yang diutamakan mengingat keterbatasan sumber daya ini?

Dengan anggaran yang terbatas, kami memfokuskan pada hal-hal yang memengaruhi hasil pembelajaran siswa seperti teknologi dan infrastruktur (kelas, guru dan sumber daya pembelajaran).

Apakah para guru juga harus meningkatkan kemampuan?

Hal ini menjadi tantangan global. Semua guru abad ini harus memperbaiki kualitas mereka. Saya melihat guru-guru muda lebih mudah beradaptasi dalam penerapan teknologi di kelas. (Baca: Meningkatkan Kualitas Guru untuk Persiapan Abad ke-22)

Bisakah ini dibawa ke seluruh pelosok Indonesia?

Kami menjangkau daerah-daerah terpencil dan bekerjasama dengan para guru dan pemimpin lokal untuk menerapkan metodologi pengajaran modern dan kerangka kerja Cambridge yang memiliki keunggulan konten.

Kami terlibat dalam kerjasama di tingkat sekolah dasar di daerah-daerah di Sumatra, Jatim dan Papua. Bentuk kerjasama ini ialah kemitraan bisnis antara perusahaan dan publik. Dengan upaya-upaya ini, industri dan bisnis diharapkan akan makin dekat dengan pendidikan.

Apa yang dibutuhkan dunia kerja saat ini?

Asian Development Bank (ADB) menyatakan hampir 40% lulusan perguruan tinggi menganggur atau setengah menganggur setelah 12 bulan lulus karena adanya kesenjangan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja.

Sampoerna School System mengadakan dua forum dengan bisnis dan industri dalam enam bulan terakhir dan menemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Perusahaan multinasional membutuhkan orang dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk bisa bekerja lintasbatas, berkemampuan komunikasi baik, bekerja baik dalam tim, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kepemimpinan. Semua ini soft skills yang tidak bisa diajarkan dalam kelas seperti materi dan keahlian.

Indonesia kehilangan lapangan kerja karena tidak bisa bersaing dengan tenaga kerja asing yang lebih mumpuni dalam bahasa Inggris. Apakah daya saing generasi saat ini lebih baik?

Potensi, bakat dan semangat memang sudah ada pada generasi Indonesia saat ini. Untuk mengoptimalkan itu semua, kami menggunakan sistem STEAM. Hanya saja patut dipahami bahwa Indonesia begitu luas sehingga untuk menjangkau anak-anak berpotensi dan memberikan mereka peluang belajar masih menjadi tantangan besar. Karena itu, harus ada kerjasama bisnis dan masyarakat dalam penyediaan beasiswa.

Menurut Kemenkeu RI, Indonesia kekurangan 30.000 insinyur per tahun tetapi hanya kurang dari 20% dari siswa di Indonesia yang belajar STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan menguasai STEAM, kita tidak perlu cemas anak-anak kita akan menganggur setelah lulus.Kami bergembira dengan adanya sejumlah inisiatif dari pemerintah sejak 2015 yang memberikan harapan. Salah satunya ialah internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Caranya ialah dengan melihat best practice dari negara-negara lain. Dengan demikian, percepatan pembangunan akan tercapai. (*/)

Supaya Tak Kedinginan di Perkantoran Jakarta [Bukan Advertorial/ Lomba Blog]

408111_sub3SEBAGAI seorang ectomorph sejati (baca: kurus abadi), saya merasa tidak pernah bermasalah dengan suhu ruangan tempat saya bekerja sebagai pengajar meskipun ruangan tersebut dipasangi pendingin udara (AC). Itu karena sebelumnya pola kerja saya masih penuh gerak. Saya banyak berdiri dan berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain dalam sehari. Jadi, setidaknya tubuh tidak mendingin karena suhu rendah dan kurang gerak.

Namun, begitu saya bekerja sebagai penulis di Jakarta, selalu saja saya merasa kurang enak badan karena pola kerja yang sedentari, alias duduk diam saja sepanjang 8 jam sehari. Itu minimal ya. Kalau lembur, malah bisa melebihi porsi 8 jam. Dan jumlah itu belum memasukkan waktu saya duduk di saat istirahat dan naik kendaraan umum. Intinya, memang sangat susah untuk bisa tetap aktif bergerak dengan pekerjaan sebagai penulis yang mengharuskan saya duduk di kursi secara terus-menerus. Awalnya saya tentu membayangkan bisa bekerja dengan lebih sehat dengan memasang meja kerja berdiri tetapi pilihan semacam itu belum lazim di Jakarta. Bahkan segila-gilanya working space atau kantor startup di Indonesia, setahu saya belum ada yang menawarkan itu. Tetapi kalau memang ada, saya juga ingin tahu sampai seberapa jauh para pekerja korporat dan startup di Indonesia mau mengakomodasi pergeseran gaya kerja agar lebih sehat.

Kembali ke masalah gangguan kesehatan akibat suhu rendah di perkantoran Jakarta, saya akibatnya kerap mengalami masalah begitu bekerja di gedung-gedung perkantoran ibukota. Meriang dan linu di sendi, begitu penjelasan singkat dan mudahnya untuk menerangkan apa yang saya rasakan sehabis keluar dari ‘kulkas raksasa’ (sebutan untuk pencakar langit dengan AC yang menusuk tiada ampun).

Awalnya saya pikir saya saja yang mengalami. Saya duga cuma saya yang ‘ndeso’ karena tidak kuat menghadapi AC yang terkendali secara sentral di banyak gedung di Jakarta. Saya tak normal dan karena itu saya malu untuk mengakui saya kedinginan saban masuk ke mall atau kantor. Karena saya melihat banyak orang lain di sekitar saya yang berbusana normal (dengan ketebalan wajar), saya beranikan untuk hanya memakai kaos dalam yang lebih tebal. Namun, ada kalanya kaos dalam tebal tak mempan dalam menghalau hawa dingin tersebut. Dan tangan saya terpapar hawa dingin dan tak sanggup berlama-lama mengetik dengan tingkat akurasi yang stabil. Akhirnya saya buang gengsi dan memakai jaket atau pakaian penghangat lain sepanjang bekerja. Apalagi begitu saya menemukan sejumlah rekan kerja yang merasakan keluhan yang sama soal temperatur ruangan.

Karena putus asa dan lelah mengalami keluhan yang sama berulang kali saban hari kerja (dan juga saat naik kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta), saya putuskan mencari pakaian yang lebih efektif menangkal hawa dingin AC. Ini solusi yang paling masuk akal bagi saya karena di tempat kerja yang suhunya dingin secara artifisial.

Saya suka dengan produk Uniqlo HEATTECH karena tipis tapi efeknya lumayan menghangatkan tubuh di ruangan dingin. Begitu beli, saya langsung coba dan memang fit di badan [karena ukuran tubuh kecil jadi beli saja yang ukuran anak-anak paling besar] dan nyaman bak kulit kedua. Efek menghangatkannya terasa apalagi saat saya duduk di luar ruangan bersuhu normal (cuaca mendung). Badan saya terasa hangat sekali, tak terasa ada angin memasuki pori-pori tubuh, sehingga efektif menahan panas tubuh agar tak lepas begitu saja. Jadi, kalau dipakai di luar ruangan saat cuacanya hangat di Jakarta pastinya akan terasa sesak dan sumpek dan gerah. Tapi kalaupun tak dilepas dan berkeringat, keringatnya akan lekas kering sebab bahannya bersifat cepat kering. Cocoklah buat saya daripada harus lepas dan pakai jaket berulangkali.

Sebagai informasi, saya menulis pengalaman ini dan memilih produk Uniqlo karena kebetulan tinggal dekat di sebuah gerai Uniqlo sehingga sangat masuk akal jika saya lebih memilih produk ini untuk menghangatkan diri.

Urusan harga, pakaian ini memang lumayan mahal sih. Untuk kaos panjang, harganya dipatok 200.000 kurang 1.000. Sementara itu, leggingnya malah lebih murah 70.000. Pilihan warnanya kalau tak mau repot mencuci, pilih saja warna gelap seperti hitam atau biru. Ada juga warna merah dan putih tapi saya kurang sukai. Ingat, ini ukuran XL untuk anak (unisex). Saya duga harganya yang ukuran dewasa lebih mahal tapi ternyata tidak juga. Harganya sama!

Kalau kamu juga pekerja di gedung perkantoran Jakarta dan sering mengeluh kedinginan, bagaimana caramu mengatasinya? Bagikan ceritamu juga dong di kolom komentar di bawah.

Internet, Are You Okay? (Sebuah Diskusi)

Tatkala Mark Surman selaku Executive Director Mozilla Foundation dan Sunil Abraham selaku Vuce President untuk Leadership Program Mozilla Foundation tempo hari berkunjung ke Mozilla Community Space Jakarta, kami diajak untuk berpikir bagaimana kondisi internet sekarang ini.

Apakah internet jauh lebih baik, atau sama saja, atau lebih buruk dari yang kita tahu di masa lalu?

Untuk itu, kami diajak untuk terlibat dalam memikirkan keberpihakan kami pada isu-isu penting semacam beredarnya hoax, pemblokiran konten yang dicap pornografi, dan sebagainya.

Dari diskusi tersebut, kita tahu bahwa semua isu itu sangat rumit. Selalu ada wilayah abu-abu yang membuat kita berpikir keras atau bahkan di tengah jalan berpaling ke arah yang berlawanan. Seperti saat Surman ditanya apakah ia memihak produsen berita hoax yang menguntungkan atau bersama dengan para jurnalis sejati di jalan sunyi untuk membela kebenaran namun tak punya banyak uang. Dalam kuis ini, Surman memilih yang pertama lalu saat dipancing bagaimana jika hoax itu memicu peperangan, Surman beralih ke jurnalisme yang mengutamakan idealisme, tanpa hoax dan clickbait.

Hal ini menunjukkan bahwa semua permasalahan yang kita hadapi sekarang di internet begitu pelik. Dan karena itulah, solusinya juga tidak sesederhana benci atau suka. Selalu ada alasan dan syarat. Saya mendukung itu asal bla bla bla. Saya memihak ini karena bla bla bla. Kita memiliki pembenaran masing-masing dan kadang menggoda lawan untuk berpikir dan menggunakan logika yang sama.

Kini kita tahu bahwa masing-masing orang bisa mengartikan kemajuan dan kemunduran internet dalam berbagai sudut pandang yang subjektif. Karenanya, diperlukan parameter yang lebih objektif. Mozilla menawarkan sejumlah tolok ukur untuk menentukan kesehatan internet. Semua poin itu ada di laporan Internet Health yang mereka susun. Elemen-elemennya antara lain transparansi, keamanan, privasi, inklusi, dan sebagainya.

Di Indonesia sendiri, internet mengalami kemajuan sekaligus kemunduran dari beragam sisi. Pemblokiran situs dan layanan yang dianggap semena-mena, misalnya Vimeo, Reddit, membuat kita berpikir bahwa kebebasan berinternet masih rendah. Kita masih didikte pemerintah. Pemblokiran konten yang menjurus ke pornografi juga dianggap satu pihak sebagai kemajuan tetapi di pihak lain, hal itu dianggap sebagai upaya sia-sia.

Tetapi yang patut disyukuri ialah tarif data yang makin murah, ketersediaan gawai terjangkau juga makin baik. Semua orang asal punya uang dan tinggal di area yang tercakup sinyal seluler, bisa menikmati internet. Bahkan bagi suku-suku di pedalaman nusantara sekalipun.

%d bloggers like this: