Kenapa Resign?

Saat seorang rekan kerja generasi Y memutuskan berhenti dari tempat kerja setelah hanya bekerja selama 4 bulan, rasanya pantas untuk melontarkan pertanyaan satu ini:

Kenapa resign?

Bahkan jika sebuah tempat kerja begitu tidak enak, waktu 4 bulan terasa terlalu singkat untuk memutuskannya.

Atau apakah ia hanya lebih reaktif dan peka saja?

Atau ia cuma kurang gigih?

Atau apakah ia cuma  bosan dan tidak melihat adanya tantangan di jalur yang ia tempuh sekarang?

Bisa jadi.

Namun, kata para penulis di HBR.org, seseorang bisa memutuskan untuk berhenti bekerja di sebuah organisasi hanya karena satu sebab: ATASAN YANG BURUK.

Jika seseorang di tingkatan bawah tidak bisa lagi menahan, kemungkinan mereka untuk mendapatkan solusi hanya satu: keluar. Mereka tentu ingin memecat atasan mereka tetapi apa daya, kekuasaan tiada.

Tapi saat atasan langsung kita sudah relatif baik dan tidak ‘rese’, apakah serta merta kita bertahan terus di sebuah organisasi?

Belum tentu juga lho!

Masih menurut HBR.org, orang yang mereka survei mengatakan bahwa mereka pindah tempat kerja karena:

  • pekerjaan mereka tidak nikmat dan ‘rewarding
  • kelebihan dan bakat terbaik mereka tidak digunakan secara maksimal oleh organisasi
  • tidak ada peluang peningkatan karier di situ

Menurut saya, ada sederet alasan lainnya yang sebetulnya juga bisa menjadi alasan untuk mengundurkan diri dari sebuah organisasi.

Misalnya:

  • Kurang cocok dengan perubahan terbaru di organisasi
  • kurang harmonis dengan rekan-rekan kerja terutama yang berhubungan secara intens dan frekuensi interaksinya sangat sering
  • Keseimbangan hidup terganggu karena tuntutan yang makin tinggi
  • Satu gaji, dua atau lebih posisi dan tanggung jawab (apes!)
  • Kesemena-menaan yang berlangsung terlalu sering dalam organisasi

Kalau Anda sendiri, alasan resign dari tempat yang sebelumnya apa? Bagikan di kotak komentar ya. (*/)

Kenapa Sopir Ojol Makin Tertib

Sopir ojol (ojek online) saya kali ini memiliki pembawaan tenang. Dan saat saya suruh berputar di titik yang tidak ada rambu-rambunya, ia dengan penuh keyakinan menolak.

Wow, keren! Pikir saya.

Tetapi itu semua ada alasannya.

“Sekarang miris, mas. Kalau ketahuan melanggar bisa diaduin ke [sebut perusahaan pemberi kerja]. Plat nomor langsung dikirim ke perusahaan dan kita dipecat jadi pengemudi,” kata sopir saya ini.

“Oh ya?” Saya pura-pura antusias.

Ia mengimbuhi: Temannya baru saja mendapati dirinya menjadi korban pengaduan polisi. Entah apa pelanggarannya, ia tahu-tahu diberi suspensi atau hukuman sehingga tidak bisa bekerja alias ‘narik’ selama 3 hari berturut-turut. Alhasil, ia tak bisa memberi nafkah keluarga.

“Sekarang sadis, mas. Perusahaan makin agresif pecat sopirnya yang dianggap ‘nakal’. Berulah dikit, langgar dikit, langsung kena skorsing. Kalau masih kena lagi, langsung dipecat tanpa ampun!” keluhnya lepas.

Pahit memang hidup sebagai orang kecil di Jakarta yang begini ganas persaingannya.

Tetapi di sisi lain, ia juga membenarkan bahwa tampaknya perusahaan hanya ingin mempertahankan pengemudi-pengemudi yang berperilaku baik di jajaran mereka. Dan sebagai ganjarannya, jika pengemudi ini taat berlalu lintas, mereka akan dilindungi dengan asuransi.

“Seratus dua puluh juta rupiah kalau ada kecelakaan yang menimpa pengemudinya sekarang, mas. Penumpang juga dapat,” terangnya.

Makanya, ia kini sering merasa deg-degan jika ketemu polisi dan bahkan petugas DLLAJR dan pria berseragam yang mengatur lalin. Jika macam-macam, plat nomornya bisa difoto dan langsung dikirim ke perusahaan yang mempekerjakannya. Tamat riwayatnya sebagai pengemudi sebab aib itu akan juga diketahui perusahaan ojek online pesaing dan ia tak akan bisa mengemudi lagi sebagai sopir ojol di manapun.

Beberapa waktu lalu, lanjutnya, ada seorang wanita yang mengklaim asuransi tadi. “Ia kecelakaan, mas. Kakinya kelindes truk. Cacat deh seumur hidup! Terus mau klaim asuransi. Tapi nggak bisa,” tuturnya perih.

Cerita lengkapnya begini: Si perempuan mengemudikan kendaraan ojol di suami yang sedang sakit. Sudah dibilang tidak boleh tapi bersikeras. Di tengah jalan, ia mengemudi dan kaget serta kehilangan keseimbangan karena tidak menyangka ada lubang besar menganga di depan. Sejurus kemudian, ia tersungkur di bawah truk dan kakinya terlindas. Habis sudah!

“Masih hidup pak sampai sekarang?” tanya saya miris. Saya memiliki pengalaman buruk dengan kecelakaan lalin seperti ini. Saya pernah jadi korban juga.

“Masih. Mana anaknya masih kecil lagi. Makanya sekarang ia hidup mengenaskan. Sudah cacat, tidak bisa ke mana-mana, dan …yah gitu deh,” tambahnya dengan detail yang lebih mengiris hati.

Perusahaan mungkin terasa kejam di mata mereka tetapi bagi saya ini memang ada benarnya juga. Secara bertahap, kita memang harus mendukung berbagai upaya dari semua pihak yang berkepentingan untuk menjaga perilaku berlalu lintas di jalan raya. Meski itu awalnya terkesan sadis dan tidak tahu rasa kemanusiaan.

Masih mau melanggar aturan?

Makanya sebagai penumpang, kita juga harus mulai menghindari kelakuan minus yang menyarankan pengemudi untuk melanggar aturan lalin. Apalagi mengebut!

“Kebanyakan penumpang cewek tuh yang suka nyuruh saya ngebut. Takut telat ke kantor. Lha kenapa nggak berangkat lebih pagi aja?” pungkas sopir ojol ini lagi.

Yah, mungkin niatnya berangkat pagi tapi karena kelamaan mandi dan merias diri, eh tahu-tahu sudah hampir masuk jam kerja. Maklum saja ya, pak… (*/)

 

​Sopir Ojol Punya Cerita

MENGGEBU-GEBU sore itu ia bercerita pada saya. Soal customer yang orang kantoran tapi malas. Malas jalan kaki untuk menyeberang jalan dan malas berpikir, katanya.

"Maaf ya pak tadi nyuruh nyebrang tapi kan emang lebih hemat waktu aja daripada saya muter. Soalnya di puteran situ kan macet banget…," jelasnya tanpa saya minta.

Padahal saya juga diam saja, tidak jengkel di chat kami. Saat ia membalas dengan permintaan agar saya mau menyeberang sehingga ia bisa memangkas rute, saya bahkan hanya membalas "OK". Tidak ada penolakan, alasan, cing cong. Karena saya juga paham kemacetan yang bisa dihindari jika saya mau berjalan kaki menyeberang sebentar saja.

Ia mengambil kesempatan ini untuk mengguyur saya dengan uneg-uneg dalam hatinya.

"Ada orang kantoran yang nggak mau mikir tuh, pak. Saya udah bilang dia kalau mau cepet tinggal nyebrang aja. Eh, nggak mau. Di chat, nanya-nanya terus. Kapan sampe?!! Saking keselnya, pas saya udah sampe, saya cancel di depan mata dia. Biar kapok!" serunya gregetan.

"Cuma bayar delapan ribu aja udah sok!" katanya gemas. Ia sengaja membatalkan order di depan customer rese itu karena ia sudah lelah secara psikologis.

"Kita butuh duit tapi kalau caranya gitu, saya masih punya harga diri lah. Batalin aja. Dia teriak, ‘Kok dibatalin!’ Saya bilang,’Ya jangan mentang-mentang situ customer terus bisa seenaknya…’"

Rupanya dendam kesumatnya meledak setelah melihat si customer ini mengomel di chat aplikasi dan pengemudi ojol kita ini cuma diam saja. "Emang saya biarin," ucapnya lagi.

Saya hanya mengiyakan sepanjang ia berkeluh-kesah. Terus saja ia bercerita seakan orang-orang kantoran adalah makhluk bebal.

Tampaknya kita makin harus memaklumi bahwa dalam sharing economy ini setiap orang juga memiliki kedudukan yang setara. (*/)

​SPT: Sumber Prustrasi Tahunan

Jadi siang itu kami menuju ke kantor Pajak terdekat. Lengas sekali udara siang itu. Mendung merundung tapi tidak sejuk dan tidak pula hujan.

Saya masuk dengan kepercayaan diri yang dibuat-buat, untuk menutupi ketakutan saya bahwa urusan tahunan perpajakan ini tidak akan berbuntut panjang.

“Semoga langsung kelar sejam aja,” batin saya begitu pintu terbuka.

Kantor Pajak satu ini cuma segelindingan arah utara dari tempat kerja sehingga saya mau tidak mau menyerahkannya sebelum bulan berganti April, yang mana bisa berarti saya dikenai denda. Tidak!!!

Berbekal pengalaman bertahun-tahun lalu yang kurang mengenakkan soal pelaporan SPT ini, saya pun merasa stres. Entah kenapa. Ada rasa tidak percaya dengan segala birokrasi Indonesia.

Tetapi dengan segala reformasi yang dilancarkan Menteri Keuangan sekarang, saya menaruh banyak harapan agar proses ini menjadi lebih nyaman dan cepat. Itu artinya, saya tak mau mengantre lama; saya malas mengisi formulir yang rumit dan susah dipahami; saya mau otomatisasi dan kepraktisan.

Karena belum memiliki E-Fin, saya diarahkan ke loket di lantai dasar untuk mendaftar. Cuma semenit mengisi formulir lalu keluar nomornya yang bisa segera diaktivasi via email dan bisa melaporkan SPT di lantai 4.

Saya bergembira bisa mendapatkan E-Fin karena untuk selanjutnya saya tak akan perlu lagi ke kantor pajak seperti ini.Cukup duduk manis di kantor atau di mana saja, ketik dan klik sana sini dan urusan beres.

Begitu masuk ruangan pelaporan SPT secara elektronik, saya menemukan beberapa meja yang dipenuhi orang dengan komputer yang terpasang.

Karena saya baru saja membuat E-Fin, saya harus aktifkan dengan mengirim konfirmasi via email dan baru bisa menggunakannya sebagai alat untuk melaporkan SPT saya tahun 2018.

Sampai titik ini terasa mudah. Saya masih belum lega.

Di setiap meja ada petugas pemandu. Teman-teman saya mengisi dengan panduan mereka, sementara saya agak sial karena didampingi petugas wanita yang lebih banyak memandangi layar ponselnya daripada siap sedia memandu saya dalam proses ini. Dan bukan cuma itu, saya ditinggalkan beberapa menit dan terpaksa mengira-ngira pengisiannya formulir elektronik itu sendiri.

“Duh gimana nihh?!!” keluh saya. Ya, sudahlah, saya isi sebisanya.

Begitu saya sampai di lembar terakhir, ia masuk dan duduk di sebelah saya lagi dan barulah saya pastikan saya bisa mengakhiri proses ini dengan damai. Saya cari tombol KIRIM di bawah. Dan ternyata harus ada proses verifikasi lagi yang dikirim ke email. Bentuknya nomor token yang dikirim secara real time, dan saya yang sudah tak sabar, menunggu token itu. Tapi semenit dua menit berlalu sampai 10 menit berlalu dan si petugas keluar masuk lagi, token itu tak kunjung muncul di kotak masuk surel saya. Sial benar!

“Lho kok bisa gitu? Tadi gimana ngisinya?” keluh si petugas.

“Lhah, mana saya tahu juga? Siapa suruh tadi saya ditinggal-tinggal?” gumam saya dalam hati.

“Itu alamat emailnya bener kan? Yang tadi dibuat daftar? Yakin?? Kok nggak masuk??” si petugas memberondong saya dengan pertanyaan yang bernada memojokkan.

Sampai saya periksa kotak spam dalam akun surel saya, dan tak kunjung ada email baru jua!

Saking stresnya, ia mencermati lagi peringatan di halaman terakhir dan melacak mundur lembar formulir elektronik yang sudah saya isi.

“Nah, ini kolom harta nggak diisi!” ia berkomentar.

Mampus!

“Udah dikira-kira aja berapa tabungannya,” ucapnya dengan nada tak sabar, mengira bahwa saya akan benar-benar berusaha mengingat angka saldo dalam rekening bank saya.

Saya, yang tak kalah tak sabarnya dengan dia, kemudian mengetikkan dengan secepat yang saya bisa.

“Nah, baru klik itu,” ia mengarahkan.

Grhh..

Saya klik tombol yang ia maksud untuk mengirimkan token ke email saya dan voila! Token itu muncul di email saya dan secara resmi sumber stres tahunan ini berakhir manis!

Sebagai penutup, saya harus memilih “Puas” dan “Tidak Puas” di laman yang memuat pertanyaan tentang mutu layanan.

“Puas ya…,” petugas itu setengah menginstruksikan dengan nada penuh komando.

Saya menelan ludah dan mengklik PUAS segera.

Sementara itu, di luar ruangan teman-teman saya sudah menikmati kopi gratis. “Kok lama? Aku aja bentar, tadi diisiin mbaknya pula. Jadi cepet deh,” teman saya berkata.

Saya diam, mengambil napas panjang.

“Sana ambil kue,” suruhnya.

“OGAH,” ucap saya.

Episode SPT (Sumber Prustrasi Tahunan) kali ini dengan demikian saya pungkasi. (*/)

Bocah Ngapak: Perlawanan Jakartasentrisme dalam Dunia Hiburan Indonesia

Adalah Rendra, seorang youtuber yang mengangkat dialek Ngapak Jawa dalam serial komedi situasi di kanalnya. Tokoh utamanya tiga anak-anak usia SD yang bernama Ilham, Azkal dan Fadly.

Isi tayangan ini ringan saja: kisah-kisah lucu nan menghibur yang dihadirkan di antara keseharian. Latar yang dipakai juga simpel, perkampungan di sebuah tempat di pulau Jawa.

Tayangan tersebut awalnya cuma beredar di YouTube tetapi belakangan stasiun televisi swasta Trans TV mengadopsinya menjadi salah satu mata acaranya.

Bagi saya sendiri, tayangan ini mengejutkan karena keluar dari pakem kesuksesan sebuah tayangan hiburan di pertelevisian nasional kita yang menjemukan ini.

Pakem itu adalah APBN.

“Asal Putih Bisa Ngomong”…

Tengok saja deretan tayangan di televisi kita.

Paling utamanya ialah sinetron.

Proragonis-protagonisnya tidak bisa tidak adalah orang-orang yang dipilih sedemikian rupa karena kemulusan kulit, kemiripan fisik dengan standar keelokan aka Kaukasia atau Korea. Tinggi, kurus, kadar melanin sesedikit mungkin.

Lalu ditambah dengan lansekap politik yang penuh drama dari hari ke hari. Ada saja polah tingkah politikus kita. Semuanya mau menarik perhatian rakyat. Meski itu artinya menggadaikan harkat dan martabat.

Sementara itu, tayangan berjenis reality show abal-abal tidak kalah memuakkannya. Entah itu rekayasa atau benar, tetap saja mempertontonkan hal-hal privat di televisi nasional itu jauh dari ideal. Saya mempertanyakan pentingnya kita mengetahui makan siang keluarga selebriti muda, alasan kenapa anaknya ngambek, atau asisten pribadi yang dijadikan korban keisengan.

Gosip selebriti juga makin memperparah kondisi. Semuanya tentang kehidupan mewah yang tidak terjangkau. Pesta pernikahan yang serba berlebihan, belanja harian yang di luar batas kelaziman bagi standar masyarakat kebanyakan, mobil sports, tas mahal, dan lain sebagainya.

Dan semua ini bersumber dari Jakarta.

Jakartasentrisme benar-benar merasuki tiap tontonan kita.

Jadi, bisa dipahami betapa melegakannya bisa menemukan tayangan “Bocah Ngapak”.

Pertama, karena tidak ada wajah-wajah mulus artifisial karena hasil facial dan penggunaan krim dermatologis di sini. Semua pemerannya bukan pelakon ibukota yang berakting jadi orang desa. Saya paling jengkel kalau menonton FTV dengan karakter utama orang yang ndeso tapi muka kota. Wagu tur lucu! (Aneh dan lucu). Apakah tidak ada talent dari daerah yang bisa memerankannya? Saya jadi bertanya, jadi aktor ini dipilih cuma karena penampilan fisiknya, bukan karena kemampuan aktingnya yang meyakinkan. Terang sudah para produser dan pelaku industri tak mau ambil risiko. Asal terkenal, ya sudahlah.

Kedua, karena tidak ada aktor-aktor yang berlatar belakang istimewa. Mereka tidak dipilih karena beruntung terlahir dari pasangan aktor dan aktris terkenal. Mereka ada di dalamnya karena memang pas dan cocok secara alamiah.

Yang perlu diantisipasi dari tayangan ini ialah kesan peyoratif yang melekat pada bahasa Ngapak, yang semestinya bisa dipandang setara dengan bahasa gaul semacam dialek Betawi Jakarta yang sudah malang melintang di tayangan-tayangan hiburan kita. Entah kenapa penggunaan dialek Ngapak dianggap lucu semata karena para penuturnya kebanyakan adalah orang rural, bukan urban (baca: Jakarta). Mereka juga dipandang marjinal dan suplemental, bukan sentral.

Ada yang berharap Ilham, Fadly dan Azkal menjadi pengganti Dono, Kasino dan Indro. Namun, menurut saya itu mustahil. Mereka berbeda, dan tidak bisa disamakan begitu saja. Bukannya trio Bocah Ngapak ini tidak setara tetapi biarlah mereka memiliki ciri khasnya sendiri. Bukan sekadar mengekor Warkop DKI nan legendaris tersebut.

Pemijat Izin Curhat

man lying on bed
Pemijat sering bungkam. Sekali buka mulut, langsung nggak bisa berhenti. (Foto oleh Pexels.com)

“Sekarang mau pakai aplikasi ini harus setuju aturan baru ya, pak?”

“Oh iya. Hari ini ya mulainya?”

“Iya, saya tadi pas order dapet gituan.”

“Ya habis ada dua kasus dugaan perkosaan itu di Batam dan Bandung, pak. Semua terapis disuruh datang ke kantor.”

“Oh…” [Keenakan menikmati pijatan]

“Disuruh tandatangan di atas materai.”

“Oh…” [Enak bego]

“Sebagai bukti nggak akan kasih servis yang ‘plus-plus’.”

“Oh…” [Masa bodo]

“Sekarang aja jam 10 nggak bisa.”

“Jam 10 malem???”

“Iya, jam 10 malem udah tutup. Nggak bisa order lagi.”

“Ya harusnya sih.”

“Tadinya jam 12 malem. Sekarang mundur lagi jam 10.”

“Uhm…”

“Sekarang lagi pada meeting. Semua terapis di beberapa area ada yang mau jam 12 tutup, ada yang maunya jam 10.”

“Tergantung kesepakatan?”

“Iya.”

“Itu yang dilaporkan cewek? Eh?”

“Kastamernya [sic] cowok, terapisnya cewek.”

“Owh..”

“Terapisnya ngaku diperkosa tapi kata kastemer pas dipanggil mau sama mau.”

“Uhmm…waduh…”

“Kadang ada terapis yang bandel juga sih, pak.”

“Iya sih.”

“Kalau kayak gini kan yang nggak ikut-ikutan jadi kebawa-bawa.”

“Kalau masnya sendiri selama ini nggak aneh-aneh gitu kan yaaa?”

“Ehm, kalau laki-laki ada…” [tersipu-sipu]

“Oh…oke.” [tersentak, lalu rileks lagi]

“Maksudnya, tanda kutip ‘mintak’ gitu, pak.” [memelankan pijatan]

“Uhh….”

“Cuman saya udah nggak heran sih. Ceritanya kan, kalau kita bilang nggak bisa dan ngomongnya sopan kan nggak mungkin kastemernya memaksa kan ya, pak?”

“Oh gitu…”

“Kastemer perempuan juga ada.”

“Eh?”

“Kalau yang kejadian di Batam sama Bandung itu, nggak mungkin juga kalau tamu sampai berlebihan begitu. Mungkin kastemernya menyambut karena si terapis juga ..”

“Membuka diri?”

“Ngasih lampu kuning…”

“….? Kok kuning.”

“Dia juga ngasih tarifnya lebih ke kastemer. Sementara si kastemer nggak mau rugi. Ya kalau pijat biasa dilebihin sedikit mah wajar. Kalau kebanyakan, jadi tanda tanya.”

“Mungkin kastemernya mintanya kebanyakan jadi terapisnya nggak rela gitu?”

“Mungkin aja karena merasa kurang begitu kelar. Nah, kastemernya ambil kesempatan,’Nih terapis kayaknya mau.’ Cuma bayaran aja yang kurang jadi dipaksa. kalau feeling saya gitu. Jadinya pengaduannya gitu.”

“Wadu, puyeng…”

“Ya kalo terapisnya bilang,’Maaf pak, nggak bisa.’, kan nggak mungkinlah tamu sampai segila itu.”

“Biasanya sih harusnya rikuh ya kalau sudah ditolak dengan sopan.”

“Iya.”

“Kasusnya sudah sampai meja hijau atau gimana?”
“Sudah di polisi tapi masalahnya kekurangan saksi. Peristiwanya di dalem kamar. Tetangga nggak denger. Tapi terapisnya ngaku sudah teriak-teriak. Saksinya kurang banget. Alhasil, sampe sekarang nggantung.”

“Owhh…”

“Kecuali dia punya rekaman gitu ya, pak.”

“Uhmmmm….”

“Kastemer laki-laki juga ada yang…,’Mas, bisa nggak ngocokin saya?’ Sambil narik-narik kita kan gimana ya…”

“Ugh…”

“Ada yang orangnya super gokil ada juga. Saya udah bilang nggak bisa, eh dia yang ngocok sendiri. Itu ada juga.” [Menghela napas]

“Ohh….”

“Cuman abis itu kita tandain lah, kalao masuk ordernya lagi jangan diambil.”

“Bisa dilaporin kan pak bukannya kalau ada kastemer kayak gitu?”

“Bisa pak. Tapi kalau nggak sampai parah banget, misalnya saya sampai dipaksa, nggak bakal saya laporin juga.”

“Soalnya saya pernah diceritain terapis cowok juga, dia sampe dipaksa, bajunya sampe dibredel. Kan ngeri pak.”

“Pernah juga yang dipijit bapak-bapak, sepanjang dipijit ngobrolnya topik seks melulu. Seminggu berapa kali gituan, gayanya gimana… Cuman saya jawab ala kadar lah. Tapi masih untung cuman ngobrol. Untung saya orangnya masih toleran. Asal dia tangannya nggak megang-megang ke mana, saya sih nggak masalah. Ada yang pas dipijit, kamarnya digelapin. Terus tangannya ke arah saya, saya tepis terus. ‘Pak maaf ya…'”

“Waduh…”

“Ya namanya orang beda-beda pak ya.”

“Iya…”

“Kalau ada terapis yang nawarin macem-macem juga bisa dilaporin, pak. Pijat kejantanan lah,  vitalitas lah…”

“Oh gitu.”

“Plus terapis yang membuat kastemer trauma. Membuat kastemer yang nggak pernah dikasih layanan gituan jadi risih dan nggak mau order terapis laki-laki lagi. Akhirnya yang rame orderannya terapis cewek terus. Kan terapis laki-laki yang kerjanya mau yang bener dan lurus kayak saya bisa rugi.”

“Ho’oh…”

“Pernah juga dapet kastemer yang meski sudah punya istri tapi malah nawarin istrinya ke saya. ‘Mas, mau nggak gituin istri saya?’ Lhah!”

“Wow!”

“Perempuan juga ada tuh. Kerja kantoran gitu, umur 35 tapi belum nikah. Wah, awalnya malu-malu. Lama-lama dibuka semua pakaiannya, pakkk! Saya napasnya ngos-ngosan.”

“Kenapa ngos-ngosan???”

“Ya bingung. Mau konsen mijit apa….”

“Ohhh….No!”

(Tamat)

 

Pilah Pilih ‘Kambing Putih’‎

MUSIM politik begini, yang lebih segar pastinya membicarakan soal beragam sisi kehidupan di luar politik itu sendiri. Memang kita “zoon politicon” tapi apa perlu semua disangkut pautkan dengan politik? Di foto, canda seseorang, menunjukkan satu atau dua jari bisa dianggap sebagai simpatisan capres tertentu.

Pusing!

Jadi bersyukurlah para penduduk kota mungil bernama Fair Haven. Mereka ini memilih pemimpin kotanya secara demokratis, tanpa kampanye yang menghabiskan duit miliaran, tanpa sebar tempel selebaran dan materi promosi di mana-mana, tanpa bikin jengah orang yang menonton televisi karena dibombardir dengan iklan politik.

Walikota yang terpilih bernama Lincoln. Bukan Abraham Lincol yang berjenggot kambing itu. Tetapi Lincoln ini memang benar-benar seekor kambing.
Lincoln tidak bisa diremehkan. Ia bukan sembarang kambing. Sebagai pendatang anyar di kancah politik, silsilahnya yang terdokumentasi dengan baik membuatnya bisa mengungguli kandidat lama sekalipun.

Lincoln menang setelah menggugurkan lebih dari 15 calon walikota lain yang berasal dari berbagai jenis spesies di luar Homo Sapiens. Sammie, seekor anjing, menjadi saingan beratnya.

Apakah ia akan menjalankan roda pemerintahan? Tentu tidak. Lincoln yang baru berusia 3 tahun ini menang dalam jajak pendapat yang ditujukan untuk mengumpulkan dana pembangunan taman bermain anak -anak. Jumlahnya mencapai lebih dari 100 dolar saja.

Dikatakan ini upaya untuk menarik anak-anak belajar soal demokrasi dan pemerintahan yang kerap sulit dipahami karena rumit dan berliku-liku.

Lincoln tidak akan menjadi walikota sebenarnya. Tugas itu dijalankan Joseph Gunter, yang diberi mandat sebagai Manajer Kota.

Tugas Lincoln cuma mewakili walikota dalam event parade di kota itu selama setahun. Di Fair Haven, ada banyak parade yang digelar saban Jumat sepanjang musim panas, dari Parade Memorial Day, Apple Fest sampai acara-acara lain yang terbuka bagi masyarakat.

‎Andai saja pilpres juga sama mudahnya seperti memilih walikota fauna semacam ini. Hewan lebih mudah dipilih karena mereka lebih apa adanya, tidak ada ‘topeng’, tanpa rekayasa dan rencana tim sukses, dan tidak ada segerombol manusia berbibir tipis dan berjempol ringan dalam melayangkan komentar sepedas merica dan tamparan sandal tipis. (*/)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

Takut Mana: CCTV Atau Tuhan?

“Kemarin adik ipar gue beli kambing 26 juta.”

“Buat dijual pas lebaran haji ye?”

“Iye. Kan mayan tuh. Kambing Jawa gitu, bukan domba.”

“Wah mahal juga bisa nanti pas dijual. Bisa empat jutaan.”

“Makanya lagi mikir mikir juga enaknya beli juga nggak?”

[suara orang bicara di telepon dalam bahasa Sunda]

“Tuh, dia langsung telepon bininya suruh beli kambing buat dipelihara.”

“….” (mimik muka sedih, bokek)

“Mas, beli kambing tuh! Untungnya gede!”

“Lah, meliharanya gimana, pak Kasih makan apaan??”

” Rumput lah. Masak kambing mau dikasih makan batu??”

“Iya maksudnya, itu rumput beli ato cuma ambil di mana? Kan di sekitar rumah saya nggak ada lapangan rumput, pak.”

“Oh gitu.”

“Lagian siapa yang mau jagain? Kan saya juga seharian kerja di sini.”

“Diiket aja di pager kambingnya…”

“Lhah, emang ga bakal dicuri kalo cuman disangkutin di pager aja?”

“Ya nanti dikasi CCTV.”

“Duh, nggak balik modal lah, pak! Beli CCTv kan mahal beuts!”

“Ya jangan yang asli lah. CCTV-nya cuma boongan. Kaleng gituan aja, tinggal dikasih tulisan ‘AREA INI DALAM PENGAWASAN CCTV’!”

“Hah, percuma dong!”

“….”

“Jadi, manusia itu takut ama CCTV atau Tuhan?”

“Ya elah mas. Ama pencuri ngomongin Tuhan. Pencuri mah mikirnya dapet nggak dapet ajah!”

“Iya nih ribet mikirnya!”

(Foto oleh Noel Feans di Wikimedia Commons)

 

Antara Pasar Minggu dan Rumania

woman sitting down in front of glass table
Pexels.com

CLAUDIA, sebut saja begitu, sedang sibuk menyiapkan sarapan paginya di pantry. Sekilas ia mirip Claudia Schiffer, supermodel yang tampil di video klip Westlife “Uptown Girl”. Cuma kakinya lebih pendek, rambutnya legam, tingginya 150 cm kotor.

Anehnya, bukannya menyiapkan buah-buahan seperti biasa yang ia makan di pagi hari tetapi ia malah mengoleskan margarin yang penuh lemak trans ke lembaran-lembaran roti putih yang dikenal sebagai sumber karbohidrat yang lebih ‘jahat’ daripada roti gandum utuh.

Jadi, begitu saya masuk ke pantry dan membuka bungkus oatmeal utuh, ia langsung berkomentar kencang dan lantang: “Wowwww, sehat banget sih kamuhhh!!!”

Buru-buru saya bungkam mulutnya dengan serbet kotor di atas pemanas air.

“Nggak kok, Claud,” tampik saya. “Nggak sehat-sehat banget. Nggak sesehat elo.”

“Nih liat aja gue bikin roti pake margarin ama meses cokelat. Ga sehat tauk!” ia menyanggah.

Saya mengangguk saja agar ia puas dan diam.

Tetapi namanya Claudia tidak bisa diam begitu mudahnya.

“Tidak sesehat temen kita itu. Mas Cong kan bikin oatmeal saban pagi,” kata saya lagi, mencoba mengalihkan perhatian.

“Ah nggak juga kok. Gue tau dia mah suka makan nasi apa gitu pesen dari luar kalau siang,” Claudia membocorkan.

Claudia berkata ini memang hari saat ia sedang ingin ‘cheating‘. Alasannya apa? Saya tidak tahu persisnya. Padahal dia tergolong rajin untuk makan sehat.

Tiba-tiba tanpa dipancing, Claudia menguak sendiri kegemarannya belanja sayur dan buah. “Dulu ya aku emang belanja di R*#%%@ situ. Secara deket apartemen gue tapi sejak setaun ini tau kalo di Pasar Minggu harganya mureh mureh, gue ke sono aja lah.”

Ia menyibak rambutnya dan melanjutkan ceramah belanja sehat dan hematnya,”Cari duit susah, cuy. Ya nggak, bang?”

Bang Irum yang sedang sibuk cuci piring di sebelahnya seakan dipaksa menjawab. Pria itu cuma melenguh,”Ho’oh…”

Siang malem carinye, celetuknya lagi.

“Yah, kenapa jadi pada curcol sih?” Tukas saya tentang kegelisahan finansial kolega-kolega ini.

Claudia menimpali begini:”Gue ke Pasar Minggu justru malah disuruh pacar gue. Die justru yang punya ide masak atau kalo nggak, dia ngingetin ke pasar.”

Tanpa diminta, Claudia terus merinci kebiasaan kekasihnya. “Dia tuh bukan orang sini…” ungkapnya lirih. Kami tahu nada itu mengungkapkan makna bahwa pacarnya itu ‘elub’ alias ekspat.

Desiran udara mengambang di dalam dapur. Claudia mungkin menunggu reaksi kaget atau kagum dari kami, entah itu bang Irum atau aku. Sayangnya, kami bungkam dan hanya mendengar. Tidak berminat melontar komentar. Sedikitpun. Cuma menahan napas sambil berkata,”Yaelah, pamer… Malesin.”

“Dia maunya mashed potato. Tapi ga pake susu.” Lanjut Claudia lagi, menjejalkan info intim ke liang telinga kami berdua yang ‘terjebak’ di sini.

Saya diam. Lalu memberanikan diri mengatakan,”Kalo gak pake susu, pake apa?”

Bukannya dijawab, malah Claudia beralih ke topik berikutnya.

“Dia orang mana?” Bang Irum memancing.

“Jauh…Rumania..,” tukas Claudia.

Bayangan saya melesat ke sosok drakula pucat dari Transylvania dan pesenam putri Rumania nan legendaris Nadia Comăneci.

Tapi dia kerja di Jerman, tutur Claudia lagi. Kali ini dengan nada memelas dan sendu, mungkin sekadar menandaskan begitu gaya baku seharusnya saat seorang pelaku hubungan asmara lintas negara berjauhan dari yang dicinta.

“Dia udah pesan tiket pesawat balik. Dia tuh kalo cuti lama. Bisa sebulanan gitu, bang. Kalo aku cuma bisa cuti 12 hari,” terus saja mulutnya ‘diare informasi’.

Oatmeal saya hampir matang. Syukurlah.

30 detik…

“Emang kalo kerja di luar itu lebih diperhatiin kesejahteraannya. Libur lebih banyak… awewewe awewewe…” wanita itu masih tidak bisa berhenti.

20 detik…

“Contohnya nih ya, dulu aja papa aku kerja di perusahaan Amrik, … awewe awewe…..”

Saya hampir ingin muntah.

10 detik…

“Dia cutinya bisa… awewe awewee…”

Claudia terus memberondong bang Irum yang malang.

(((Tinggg!!!)))

Microwave itu berdenting.

Tak peduli masih panas membara, mangkuk oatmeal saya angkat tanpa kain dan pamit,”Bye. Makan dulu yah!!!”

Akhirnya saya bisa pamit, keluar dari pantry yang disumpal dengan aroma pembualan tanpa jeda. (*/)

Ter-Syahreino

Ngene iki kahanane saben jam rolas ning kene. Kebak wong ngomongake pasangan anyar sing paling hot jaman ‘now’ #SyahReino.

Saiki bar rabi, ana maneh videone sing lagi viral. Isine mung Reino sing jare Gamalama ngguanthenge ora karu-karuan kuwi lagi ning apartemene sing gedhene ora baen-baen. Lapangan bal wae kalah.

Ning video kuwi, Reino sing model rambute jarene persis Kutaro Minami kethok lagi mamerake isi omahe sing apik, tumata, kebak karo barang-barang larang lan langka.

Asilatan sing paling apdet perkara berita perkembangan anyar Syahreino muni karo Gamalama,”Heh mbak, wis ngerti durung? Ana video anyare Reino lho. Omahe jian geudhi lan jembar banget!!! Pirang-pirang hektar. Kerathon!”

Gamalama gathel barang, ngomentari ngene:”Yo pantes, netijen kuwi ngomong, pantes gelem dilamar karo Reino. Lha wong sugihe kaya ngono…!”

Wong-wong sak ruangan langsung ngrubuti.

Ora lanang, ora wadon, tetep pengen ngerti.

Teman-teman, Salah Satu Faktor Penentu Panjang Pendeknya Usia Anda

group of friends hanging out
Seberapa pentingnya pilah pilih teman sampai bisa menentukan umur kita?  (Foto oleh Pexels.com)

PERNAH saya ditanyai seorang pria sepuh. Kakek ini mungkin sudah berusia 70-an. Kepalanya membotak, rambut yang tersisa memutih, kulit keriputnya menggantung dan bulu-bulu mencuat keluar dari lubang hidung dan telinganya. Saya membayangkan apakah saya juga akan seperti itu jika sudah seusianya.

Sekonyong-konyong, ia memanggil saya yang sedang melakukan yoga di taman, dan bertanya,”Jadi, tujuannya latihan yoga itu apa?”

Saya mencoba mencari jawaban yang memuaskan, yang keren, yang tidak memberikan kesan idiot atau naif.

Sejurus kemudian saya belum berhasil menemukan jawaban dan ia sudah menyambar:”Kalian yoga karena takut mati, kan?”

TAKUT MATI?

Kalau tidak takut mati, lalu kenapa serajin ini bersusah payah berkeringat sampai seperti itu? Kakek ini terus menjejalkan persepsinya pada saya.

Saya hanya bisa tertawa. Sebagian karena jawabannya memang mengena. Telak. Siapa sih di antara semua orang yang ikut yoga mau hidupnya pendek? Mereka pasti datang bersusah payah bangun pagi dan membawa diri ke sini untuk bisa menikmati kualitas hidup yang baik dan bisa selama mungkin menikmati apa yang ditawarkan dunia.

Termasuk saya. Saya juga mau panjang umur dan sehat hingga akhir hayat.

Tetapi begitu ia menjawab begitu, saya amati kakek itu juga tidak luput dari perkataannya sendiri sebetulnya. Saya lihat ia berjalan kaki. Sejenak kemudian ia disapa teman sebayanya,”Sudah berapa putaran?”

Ia menjawab sudah banyak dan sekarang saatnya istirahat.

Saya tertawa dalam hati karena kakek itu sendiri juga ketakutan untuk mati lebih cepat. Buktinya, ia sendiri masih meluangkan waktu berolahraga! Meskipun itu seringan jalan kaki, olah tubuh tetaplah olahraga.

Saat kedua kakek itu berjalan kaki menjauh dari tempat saya berdiri, saya ingat dengan sebuah studi ilmiah yang menemukan bahwa teman-teman yang kita miliki terutama di saat kita sudah berusia senja secara signifikan menentukan apakah kita akan bisa menikmati usia yang lebih panjang atau pendek.

Pertemanan, menurut ilmuwan dari Michigan State University dalam laporan studi mereka yang dipublikasikan di jurnal Personal Relationships mengatakan bahwa di antara orang dewasa yang sudah lanjut usia, pertemanan berperan besar dalam menentukan kesehatan dan kebahagiaan. Bahkan jika pertemanan dibandingkan dengan hubungan dengan keluarga kandung, demikian ungkap penelitian tersebut. Dan ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sudah renta tetapi juga bagi manusia di semua rentang usia.

Tidak ada keraguan dalam hasil penelitian ini karena skala penelitiannya tidak kecil. Sebanyak hampir 280 ribu subjek penelitian yang tersebar di hampir 100 negara di dunia dilibatkan. Di studi kedua, peneliti berfokus pada kondisi pertemanan/ hubungan keluarga serta penyakit yang dialami pada 7 ribu lebih subjek di AS.

Pertemanan semakin penting seiring dengan pertambahan usia seseorang tak peduli jenis kelamin, usia, ras, dan sebagainya.

Tetapi bukan sembarang teman yang dimaksud di sini. Teman di media sosial tentu belum tentu bisa dianggap sebagai teman sejati.

Mengapa hubungan pertemanan lebih berpengaruh pada kesehatan jiwa dan fisik seseorang dibandingkan hubungan keluarga? Itu karena manusia bisa memilih teman. Seiring perjalanan waktu, mereka bisa memilih teman-teman yang membawa kebahagiaan pada diri mereka dan pada saat yang sama meninggalkan teman-teman yang lebih sedikit membawa kebahagiaan pada diri mereka. Maka, saat seseorang memiliki masalah pada pertemanannya, kesehatan jiwa dan fisiknya relatif terdampak secara signifikan. Hal ini semakin kentara pada mereka yang telah hidup sendiri tanpa keluarga atau tidak memiliki keluarga sebagai sandaran saat dibutuhkan.

Hubungan keluarga juga memberikan dampak, kata ilmuwan. Hanya saja, terkadang hubungan kekeluargaan membawa nuansa serius, negatif dan membosankan pada interaksi. Hal ini berbeda dengan interaksi pertemanan yang bersifat lebih opsional. Dalam hubungan keluarga, sifat opsional itu tidak ditemukan.

Temuan ilmiah itu membuat saya memandang kedua kakek tadi dengan iri. Bisa jadi bukan jalan kaki rutin setiap pagi saja yang membuat mereka bisa panjang umur tetapi mengobrol, berjalan kaki, lalu makan bersama-lah yang membuat mereka bahagia dan menikmati hidup lebih lama. (*/)

Menang Endi: Reino Barack apa Bocah Ngapak?

Isuk isuk ning kantor wis pada gremang gremeng. Opo maneh kanca-kanca kerja sing ibu-ibu kuwi. Ana loro sing durung ibu-ibu tapi ya kelakuane dadine kaya ibu-ibu. Sithik sithik ngomongno artis.

Dina iki korbane pasangan anyar Syahrini lan Reino Barack. Amarga ora tau nonton tivi opo meneh maca berita gosip ning Line Indonesia utawa tabloid Bintang, tak kiro sing jenenge Barack kuwi adhine Barack Obama, bekas presiden Amerika sing uwis diganti Donald Trump sing ora ngerti aturan kuwi. Jebule wonge beda. Ora keturunan Afrika tapi Jepang.

Lho kok aku ngerti? Sik, aku ngerti kuwi ya saka omongane kanca-kanca kerja.

Aku sampek gumun, wis ngelu urusan gawean lha kok isih ana wektu kanggo mbahas bab kaya ngene?

Gamalama salah sijine. Kancaku siji iki teka kantor wis kawanen, ora kesusu ndang mulai kerja malah mbukak hapene sing wis rada angel dienggo amarga batrene jebol sak jebol-jebole.

“Wih, deloken kuwi instagrame Syahrini an Reino Barack. Edyan tenann, saiki wani ngepos bareng bareng!!!” Jare Gamalama perkara pasangan sing paling kasuwur sakiki amarga ana drama karo Luna Maya, artis indo sing terkenal karo Ariel “Noah” sing senajan ora pathi gantheng lan dhuwur jejege ananging ndhuwe karisma kaya Janaka. Lelananging jagat lah, istilahe.

Sing liyane langsung pada nanggepi Gamalama. Contone Riya. Sanajan kayane alim tapi ngikuti perkembangane kedadean iki saka Instagram.

“Iya kuwi, mbak! Storine wis dihapus tho? Aku ya ngerti. Ya Allah, kok mesakne ya Luna Maya…,” Riya ngomentari nasipe Luna Maya sing nelangsa amarga pacare malah rabi karo Inces Syahrini sing kalah ayu saka Luna sing dhuwur, langsing, lan luwih ‘greng’. Riya ngerti Luna Maya saiki ning Mekah kanggo umroh.

“Piye kuwi nek dadi Luna Maya? Ditinggal rabi pacar sing wis limang taun,” Riya durung puas komentar.

Gamalama ora gelem kalah saka kancane sing kalem. “Nek takpikir pikir, keluargane Reino mesthi ora setuju.”

Tino sing ana ning cedhake Gamalama langsung nyamber,”Aku ya krungu saka kancaku menawa keluargane Reino isih termasuk taat. Dadine Luna ya ra bakal disetujui. Wong wis tau ‘nganu’ karo Ariel..”

Senajan aku pengin ora krungu, tetep wae krungu sebabe wong-wong iki kabeh bengok-bengok saking semangate olehe ngomongne Syahrini lan bojo anyare sing nggantheng lan sugihe pol kuwi.

Istirahat siang, Dino lan Isanto lan Gamalama ndeleng video sing lucu. Bocah cilik sing ana telu kuwi jenenge Bocah-bocah Ngapak #polapike. Sing gering lan paling ndagel jenenge Ilham. Sing gering liyane Fadhli. Siji maneh sing rada lemu jenenge Azkal.

Gamalama wis lali karo gosip Reino Barack. Nonton video Bocah Ngapak ning komputere Dino sing layare sakgedhe layar tancep ning ndeso-ndeso jaman semono, Gamalama lan kanca-kancane kuwi ngguyu mekekelen. Ora enthek enthek pokoke.

Apa meneh Dino. Menawa ngguyu wis kelangan kendali. Isa nganti kepuyuh-puyuh. Nyekel-nyekel weteng amarga mules. Sithik maneh metu sithik menawa malah. Wis wis, pancen…

Lagi ngguyu rame kaya wong edan ucul saka rumah sakit jiwa, eh ladalah kok ana imel saka Mister Endhog. Diarani kaya ngunu amarga sirahe kaya endhog pithik. Lonjong dhawa maring ndhuwur.

“Aja kakean nggluweh. Diamput, isa krungu saka kene!!!” Mister Endhog nulis kaya ngunu ning imel. Saking ora geleme mlaku metu ruangane.

Saka kedadean kuwi, taksimpulna gosipe Reino Barack lan Syahrini ora seheboh serial Bocah Ngapak sing marai wong sakkantor diamuk bose.

Rasakno kowe!

%d bloggers like this: