Penghargaan Tak Berharga

“Untuk kategori berikutnya, kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta.”

Kita mulai dari juara tiga dalam kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta. Spa Plus Minus Rawa Belong!!!”

(Tepuk tangan meriah)

“Dan juara kedua…. Salon Tiarap Kemang Jakarta!! Selamat!”

(Tepuk tangan lebih meriah membahana)

“Juara pertama jatuh kepada…”

(Hening sejenak)

“Panti Pijat Waru Doyong SCBD!!!”

“Ummm ummm, ini juara kedua atau tiga. Ummm…”

“Kami ulangi lagi. Juara ketiga Spa Plus Minus Rawa Belong. Juara kedua Salon Tiarap Kemang Jakarta dan juara pertama Panti Pijat Waru Doyong SCBD.”

(Tertawa terkekeh, tanpa ada tepuk tangan.)

“Baik kami tunggu perwakilan masing-masing untuk maju ke panggung.”

Boleh naik ke atas panggung untuk diberikan penghargaan.

“Adakah dari Spa Plus Minus Rawa Belong, Salon Tiarap Kemang Jakarta dan Panti Pijat Waru Doyong SCBD??” (mulai kebingungan)

(Hening)

Selanjutnya yang berkenan untuk memberikan penghargaan kepada para pemenang untuk kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta adalah ibu Lampir.

“Kami mohon ibu Lampi R. untuk berdiri memberikan penghargaan pada para pemenang.”

(Juara 2 dan 3 maju)

“Satu lagi… Panti Pijat Waru Doyong!”

“Berarti yang sudah ada ini juara 2 dan 3 ya?!”

“Panti Pijat Waru Doyong SCBD???!!”

“Bapaknya? Bukan? Yang di belakang??”

“Bukan juga.”

“Mungkin lagi sibuk pijit-pijit ya. Kan panti pijat.”

“Ibu silakan… silakan yang mengingat ini panti pijat apa?”

(Tawa meledak)

“Oh Kun Yuk. Miss Kun Yuk!”

“Bener ya namanya Kun Yuk?! Takutnya salah ngomong.”

“Duh saya harus kerja di sini rupanya supaya kenal.”

“Emang miss? Jangan jangan missis.”

“Baik… Bapak atau ibu Kun Yuk??”

“Oke ibu Kun Yuk???”

“Baiklah, yang mewakili ibu Kun Yuk?”

“Mewakili ibu Kun Yuk. Aduh jadi takut salah lho. Aduh, dites ya MC-nya ya??”

“Oke, bapak Jared??!” (Muka penuh harap)

“Oh, tidak ada juga??”

“Oh ya Pak Mulus. Alhamdulillah!! Puji Tuhan!!!”

“Oh pak Jared udah datang!”

“Duh maaf ya pak Mulus ya. Turun balik lagi.”

“Kamu suka PHP!”

“Aduh, dari tadi di pojok ngapain, pak Jared? Aduh duh..”

(Tawa hadirin)

“Oke nggak papa, kita kasih tepuk tangan. Haduh, oke pemenang 3 Spa Plus Minus Rawa Belong, pemenang 2 Salon Tiarap Kemang Jakarta dan yang susah banget dipanggil, juara pertama Panti Pijat Waru Doyong SCBD!! Tepuk tangan dong buat mereka.”

(Mengambil foto)

Jadi mulai sekarang harus diingat ada Panti Pijat Waru Doyong yah.

(Tepuk tangan)

Mengapa Banyak Orang India Pintar Berbahasa Inggris?

Kalau dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea atau negeri Indo China seperti Thailand, kecakapan orang Indonesia berbahasa Inggris masih lebih bagus. Tetapi jika dibandingkan dengan orang Singapura, Malaysia, dan India, kecakapan kita berbahasa Inggris kurang sekali.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Sopir taksi yang pernah saya jumpai menjelaskan mengapa rakyat India banyak yang pandai berbahasa Inggris. Rupanya karena di sana belajar bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran pelengkap atau ekstrakurikuler semata. Semua orang diajari bahasa Inggris gratis.

Pemerintah India juga mendukungnya. Siapapun baik yang bersekolah menengah atau perguruan tinggi dapat dipastikan diajari bahasa internasional ini. Tidak seperti di tanah air yang mengharuskan bayar untuk kursus. Kata sopir taksi yang saya temui itu, kata mantan majikan Indianya dulu, pemerintah India memberikan subsidi untuk rakyat yang mau belajar bahasa pergaulan dunia ini. Jadi jangan heran rata-rata orang India berbahasa Inggris dengan lancar. Karena semuanya gratis! “Gratis, tinggal datang kalau mau belajar bahasa Inggris!”kata sopir taksi itu lagi.

Di India, tampaknya bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu bekal penting dalam kecakapan menjalani hidup. Bukan hanya sekadar formalitas di rapor sekolah yang membuat murid hapal aturan berbahasa tetapi tersendat saat menulis memo atau surat pendek sehari-hari atau tergagap saat berhadapan dengan orang lain yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris sederhana. Mereka yang berpendidikan rendah atau tinggi pun menjadi pintar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sungguh-sungguh menjadi modal untuk lebih maju dan lebih sejahtera.

Mantan majikan sopir taksi itu buktinya. Sekolahnya tidak tinggi tetapi bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dari keahliannya berbahasa (bahkan ia juga sempat belajar berbahasa Indonesia) , ia berani merantau dan berdagang di India lalu meninggalkan lingkungan masa kecilnya nan kumuh di India.

(Sumber foto: Wikimedia – portrait of Shah Nawaz Khan.jpg)

Meski Sunda, Jiwa Jawa

img 20130929 00084
img 20130929 00084

Saya membuka pintu taksi. Di dalamnya seorang sopir menyapa dalam bahasa Jawa.  Logatnya aneh. Bukan orang Jawa, meski harus diakui ia cukup lancar. Namanya Nana R. begitulah yang tercetak di permukaan tanda pengenal pengemudi taksi di dasbor mobil. Remang-remang memang tetapi saya masih bisa membaca dengan jelas.

Nana jelas-jelas orang Sunda tetapi memiliki kebanggaan menggunakan bahasa Jawa. Ia malu-malu mengaku pada saya dirinya belajar bahasa Jawa dari banyak orang Jawa di sekitarnya. “Tapi saya tidak bisa kalau bahasa Jawa halus, mas. Apa namanya? Boso Kromo?”

Nana dan taksinya mengarungi malam yang pekat tanggal 13 Desember itu, mengantar saya menuju tujuan dari Taman Ismail Marzuki.

Ketakjuban Nana pada budaya Jawa tak hanya pada bahasanya yang rumit. Percakapan tiba-tiba bergulir ke batik.

Nana bercerita panjang lebar – tanpa saya pinta dan tanya – bahwa dirinya berkenalan dengan batik saat bekerja dengan orang India.

“Dia tekun sekali. Orangnya ulet. Di negeri asalnya, dia orang miskin tetapi di sini dia kaya raya,” ujar Nana.

Majikannya berasal dari India, tepatnya Bombay. Mungkin juga kebetulan sang majikan dan keluarganya sangat suka menambahkan bawang bombay dalam masakan mereka.

Tan Singh, nama sang majikan, sadar bahwa kain batik bisa menjadi ladang bisnis. Ia pun berkeliling Indonesia untuk mengunjungi sentra-sentra produksi batik di masa orde baru. Saat itu, kaya Nana, majikannya bisa menjual beberapa kontainer batik ke tanah kelahirannya. Nana yang saat itu masih lajang pun bekerja padanya selama 5 tahun. Ia mengaku tak betah karena Tan pelit, cerewet.

Tan tidak hanya membeli batik-batik yang sudah bagus dan kualitasnya memenuhi standar yang ia tetapkan, tetapi ia juga membina sejumlah produsen batik yang potensial sehingga mereka bisa meningkatkan produk mereka dalam hal kualitas dan kuantitas agar nantinya bisa dibeli dan diekspor ke India. Bersama Nana, Tan menelusuri kantong-kantong produsen batik di Indonesia dan membeli dalam partai besar. Tutur Nana,”Dulu saat masanya Pak Harto, batik sudah ekspor. Entah sekarang.”

Sambil menyetir taksinya, Nana bercerita lagi,”Yang laku (dari batik ñ pen) itu kan keunikannya. Sampai merata gitu kan. Ini motifnya sama dan dengan tangan! Terkenalnya Indonesia kan karena itu.”

Batik juga membuat orang mancanegara suka dengan tenaga kerja Indonesia, kata Nana. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa? “Ya kan sabar, rajin, bertalenta, apalagi yang di luar Jawa seperti Dayak.”

Nana menyayangkan sikap sebagian orang Indonesia sendiri yang kurang mencintai batik sebagai kekayaan budaya nasional bangsa. “Orang bule aja setiap lihat di Senayan (antusias – pen). Orang Jepang, Korea, yang lihat, masak orang kita (malah tidak mencintai batik – pen) tapi sekarang sudah mulai sadar sih.”

Semua itu ia ceritakan hingga kami sadar Nana belum menyalakan argo taksinya sejak tadi.

“Aduh, bagaimana ini??!!” ia kebingungan.

Nah, siapa suruh keasyikan cerita!

Transparansi CEO AirAsia Tony Fernandes

Air Asia QZ8501 telah ditemukan tadi sore pukul 15.00 WIB. Mengingat lokasi kecelakaan di perairan terbuka, sulit untuk memastikan sebagian besar korban masih bisa bertahan, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pesawat sudah menjadi serpihan-serpihan. Yang saya bisa lakukan hanyalah mendoakan mereka yang menjadi korban agar diterima di sisi Tuhan YME dan semoga saat detik-detik terakhir itu terjadi, rasa sakitnya begitu cepat hingga hampir tak terasa.

Dikabarkan CNN, CEO AirAsia Tony Fernandes begitu terpukul oleh kabar itu. Tweet pertama darinya yang mengabarkan menghilangnya pesawat tersebut ialah retweet dari kicauan akun resmi perusahaannya @AirAsia dalam bahasa Inggris:

AirAsia Indonesia regrets to confirm that QZ8501 from Surabaya to Singapore has lost contact at 07:24hrs this morning http://on.fb.me/1xpx5pl “ @AirAsia
Retweets 48,664
Favorites 5,989
10:47 AM – 28 Dec 2014

Kemudian ia berkata lagi:
“We will be putting out another statement soon. Thank you for all your thoughts and prays.we must stay strong.”

Retweets 4,857
Favorites 1,593

11:52 AM – 28 Dec 2014

Tony kemudian me-retweet kicauan @AirAsia yang mengeluarkan pernyataan pers resmi:

Updated statement: QZ8501 on.fb.me/1H6rusl

Sang CEO terus memberikan kabar terbaru.

On my way to Surabaya where most of the passangers are from as with my Indonesian management. Providing information as we get it.

Retweets 2,988
Favorites 1,050

2:58 PM – 28 Dec 2014

My only thought are with the passangers and my crew.We put our hope in the SAR operation and thank the Indonesia, Singapore and Malaysian governments.”

Retweets 1,516
Favorites 688

3:40 PM – 28 Dec 2014

I am touched by the massive show of support especially from my fellow airlines. This is my worse nightmare. But there is no stopping.”

Retweets 2,374
Favorites 1,103
6:06 PM – 28 Dec 2014

To all my staff Airasia all stars be strong, continue to be the best. Pray hard. Continue to do your best for all our guests. See u all soon

Retweets 3,167
Favorites 1,355

6:09 PM – 28 Dec 2014

I as your group ceo will be there through these hard times. We will go through this terrible ordeal together and I will try to see as many of you.

Retweets 744
Favorites 440
6:11 PM – 28 Dec 2014

Our priority is looking after all the next of Kin for my staff and passangers. We will do whatever we can. We continue to pass information aa it comes.”

Retweets 652
Favorites 380

6:13 PM – 28 Dec 2014

Tony me-retweet kicauan akun @andiistiabudi:

“Let’s keep optimism and positive thinking. My full support to you, Air Asia and all SAR team for the missing airplane …

Retweets 134
Favorites 142

6:01 PM – 28 Dec 2014

[Updated statement] QZ8501 as at 10:35pm (GMT+7) http://on.fb.me/1A2p0YK

Retweets 938
Favorites 386

10:35 PM – 28 Dec 2014

In Jakarta this morning to communicate with Search and Rescue. All assets now in region. Going back to Surabaya now to be with families.”

Retweets 394
Favorites 207

11:58 AM – 29 Dec 2014

Keeping positive and staying strong. My heart bleeds for all the relatives of my crew and our passangers. Nothing is more important to us.

Retweets 1,617
Favorites 619

11:59 AM – 29 Dec 2014

My Allstars in Surabaya and red house in Jakarta have been amazing. Its at times like this you see the true quality of humans.”

Retweets 522
Favorites 318

12:20 PM – 29 Dec 2014

“The staff in Indonesia have been brave, strong, committed and doing 150 percent for all our guests. My pride for them is enormous.”

Retweets 1,178
Favorites 607

12:22 PM – 29 Dec 2014

The warmth and support from the people of Indonesia has been incredible. Everywhere I go. Nothing but pure support.

Retweets 1,460
Favorites 674

12:41 PM – 29 Dec 2014

Been one of my toughest days. Spent a large part of day meeting families of passangers. Doing whatever we can.

Retweets 652
Favorites 440

4:44 AM – 30 Dec 2014

I also met the families of my crew and pilots. Not been able to see 3 families. Engineer, fo and one crew.”

Retweets 356
Favorites 258

4:45 AM – 30 Dec 2014

The relatives of my crew were inspirational and so moving. Their support and love for Airasia was unbelievable. Gave me huge strength.”

Retweets 857
Favorites 593

4:48 AM – 30 Dec 2014

My heart is filled with sadness for all the families involved in QZ 8501. On behalf of AirAsia my condolences to all. Words cannot express how sorry I am.”

Retweets 8,996
Favorites 2,109

3:11 PM – 30 Dec 2014

I am rushing to Surabaya. Whatever we can do at Airasia we will be doing.”

Retweets 3,208
Favorites 1,348

3:12 PM – 30 Dec 2014

Tidak heran jika @essentialairsvc mengatakan Tony sebagai CEO yang paling transparan. Tetapi jika saya boleh berkomentar, saya hanya ingin bertanya: Apakah ini Anda sendiri yang berkicau, pak Tony? Atau ada admin? Kalau ada admin, pastinya admin itu amat piawai mengolah kata agar jitu menyampaikan pesan dalam batasan karakter tanpa membuang esensinya.

Kehadiran Tony secara langsung di Surabaya juga menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam menangani krisis yang sedang terjadi. Ia menunjukkan komitmen tinggi bahwa semua tanggung jawab AirAsia sebagai maskapai penerbangan akan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam konferensi pers, Tony tak mencoba berkelit dari tanggung jawab. Jika Tony masih menunjukkan determinasi yang sama untuk menjaga citra brand AirAsia, harga saham AirAsia yang sempat turun di bursa saham Malaysia mungkin tak akan lama mengalami masa suram.

Menyoal “Menjadi Budak Korporat”

Budak korporasi, buruh pemerintah, pekerja kantoran, atau apalah sebutannya di zaman kolonial memang bergengsi tetapi seiring dengan kemajuan zaman, apakah anggapan masyarakat masih begitu? (Sumber foto: Wikimedia)
Budak korporasi, buruh pemerintah, pekerja kantoran, atau apalah sebutannya di zaman kolonial memang bergengsi tetapi seiring dengan kemajuan zaman, apakah anggapan masyarakat masih begitu? (Sumber foto: Wikimedia)

Membaca tulisan Alanda Kariza (23) yang berjudul “Menjadi Budak Korporat“, saya tergelitik memberikan sudut pandang lain. Jika Anda sudah membaca, Anda akan tahu Alanda memberikan sejumlah alasan mengapa bekerja untuk korporasi besar tak seburuk dan menderita yang orang kira.

Alanda dan saya mungkin sama-sama budak korporat. Mungkin juga Anda yang sedang membaca tulisan ini. Namun, kami berbeda dalam hal tujuan masuk ke korporat. Ia ingin memperkaya pengalaman hidupnya dengan menghamba pada perusahaan besar. Sah sah saja.

Namun, mengawali tulisannya dengan kutipan “Kok lo kerja kantoran sih?“, muncul kesan bahwa kerja untuk korporasi itu hina bagi orang seperti Alanda.

Ada beberapa kemungkinan mengapa hipotesis itu muncul. Pertama, ia berasal dari keluarga yang sangat amat berkecukupan. Lihat saja neneknya yang menjadi dokter bedah plastik pertama di Indonesia (sumber: Wikipedia). Dokter, bedah plastik pula. Kedokteran, kita semua tahu, bukan disiplin ilmu yang murah untuk dipelajari. Dibutuhkan dana ratusan juta bahkan miliaran sekarang ini untuk membiayai sekolah kedokteran hingga selesai.

Kedua, Alanda sudah bisa mencari nafkah dan memiliki aset lain yang lebih berharga daripada gaji bulanan dan tunjangan kantor. Intinya, Alanda bukan ditakdirkan sebagai bagian dari dunia perbudakan korporasi modern. Ia sudah mencapai tingkatan yang “lebih baik” bagi mayoritas orang, terutama dalam kacamata pekerja kantoran biasa seperti saya. Dan ia memang sosok yang memiliki keistimewaan. Ia masih muda tetapi telah mencicipi berbagai pengalaman berharga di kancah nasional dan internasional. Di usia 14 tahun ia sudah menjadi penulis yang karyanya diterbitkan penerbit aliran utama alias mainstream. Sebuah pencapaian yang saya saja masih belum bisa lakukan. Tidak bisa disangkal ia amat berbakat dalam bidang penulisan kreatif. Ia seolah ingin membuang kehidupannya yang nikmat itu untuk menjajal sedikit sengsara. Bagai dewa-dewi yang turun kahyangan dan menjelma sebagai manusia biasa untuk mengetahui penderitaan manusia.

Di sisi lain, ada seorang teman yang begitu mendamba menjadi budak korporat. Ia begitu bangga bercerita bahwa dulu ia tinggal di jantung Jakarta, bekerja di gedung pencakar langit, bertemu dengan orang-orang yang berpakaian bagus, berambut penuh gaya, tanpa bau keringat sama sekali karena seharian berada di dalam ruangan berpendingin udara, memiliki gaji di atas Upah Minimum Regional DKI Jakarta meskipun mungkin hanya berlaku selama 6 bulan karena ia hanya seorang karyawan kontrak. Bagi teman saya ini, menghamba pada perusahaan besar membuatnya bisa naik kelas di masyarakat tempatnya berasal yang materialis. Kini ia juga bisa mengajukan permohonan kartu kredit (meski harus sedikit memodifikasi data pribadi dan pekerjaan agar diloloskan).

Saya agak berbeda dari mereka berdua. Saya bukan penulis terkenal seperti mereka yang iseng masuk ke dunia korporasi untuk bereksperimen untuk mengetahui rasanya menjadi bagian terendah dalam roda bisnis perusahaan. Saya masuk ke korporasi untuk belajar agar bisa ‘naik kelas; nantinya. Saya segan menghabiskan usia produktif saya untuk kemajuan perusahaan orang lain. Saya selalu ingin menjadi penulis yang mandiri secara finansial sehingga saya tak perlu lagi menanti gaji bulanan di rekening saya setiap tanggal 25.

Akan tetapi, saya tidak begitu bangga seperti teman saya yang bekerja di korporasi. Perlu Anda ketahui, teman saya itu juga penulis. Ia novelis dan beberapa karyanya sudah diterbitkan. Sayangnya, ia tak seberuntung Alanda. Bahkan saya masih lebih beruntung darinya karena saya berstatus karyawan tetap. Saya tak perlu cemas djelang akhir masa kontrak. Kesejahteraan saya lebih terjamin. Posisi Alanda juga tak kalah rapuh karena ia harus menjalani masa pelatihan selama 3 tahun. Ia bisa tersingkir kapanpun. Posisinya lebih gawat dari karyawan kontrak bahkan. Tetap saja saya tidak begitu bangga. Saya terlihat besar hanya karena saya berada dalam perusahaan besar. Apakah sejatinya saya juga besar? Tidak serta merta begitu. Saya mungkin baru bisa mengetahui sebesar apa diri saya jika saya melepaskan diri dari perusahaan ini.

Tentu saya sepakat saat Alanda mengatakan:”Saya merasa perlu belajar dari suatu institusi yang lebih besar, dari orang-orang yang memiliki keahlian di bidang tertentu (yang tidak terkenal, mungkin karena mereka tidak memamerkan pengetahuannya melalui media sosial).”Saya juga masih bertahan dengan alasan yang kurang lebih sama di perusahaan ini. Bekerja di sini membuat saya lebih leluasa bertemu dengan sosok-sosok hebat, entrepreneur-entrepreneur gila dan inspiratif, orang-orang baru yang memiliki optimisme yang membuncah.

Kebosanan dengan hal yang selama ini kita lakukan juga ternyata mendorong kita melakukan sesuatu yang di luar kelaziman diri. Alanda yang sudah akrab dengan dunia penulisan kreatif dan suasana kerja yang lebih soliter bosan dengan semua itu. Saya bosan dengan dunia korporasi yang mengharuskan saya bertatap muka dengan orang-orang yang tak saya kehendaki, orang-orang yang lebih banyak mendemotivasi daripada memotivasi saya bekerja untuk mencapai yang terbaik. Saya ingin bekerja sendiri atau setidaknya bekerja dengan mereka yang saya bisa percayai dan memiliki visi dan misi yang serupa. Sebisa mungkin saya ingin bekerja, berkreasi tanpa batas. Di korporasi, banyak sekali kompromi yag harus dilakukan karena terbentur sana sini. Ruang geraknya jelas terbatas. Sebelum melangkah harus ada persetujuan dari atas.

2014, The Most Unbelievably Stunning Year… Bloggingwise

lee kyWordPress recently sent me a blogging performance summary in 2014. It reads:

“To kick off the new year, we’d like to share with you data on your blog’s activity in 2014. Start scrolling!

Crunchy numbers

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 430,000times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 18 days for that many people to see it.

There were 419 pictures uploaded, taking up a total of 163 MB. That’s about a picture per day.

The busiest day of the year was July 13th with 183,181 views. The most popular post that day was Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1).

Posting Patterns

In 2014, there were 429 new posts, growing the total archive of this blog to 1,304 posts.

010203040506070809101112

LONGEST STREAK

11 July – 25 July

BEST DAY

with 103 posts total

Attractions in 2014

These are the posts that got the most views in 2014. You can see all of the year’s most-viewed posts in your Site Stats.

Some of your most popular posts were written before 2014. Your writing has staying power! Consider writing about those topics again.

How did they find you?

The top referring sites in 2014 were:

  1. facebook.com
  2. twitter.com
  3. kompasiana.com
  4. politik.kompasiana.com
  5. indonesiasatu.kompas.com

Where did they come from?

That’s 141 countries in all!
Most visitors came from Indonesia. Singapore & The United States were not far behind.

Who were they?

Your most commented on post in 2014 was Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (3-Habis)

These were your 5 most active commenters:

Perhaps you could follow their blog or send them a thank you note?

See you in 2015

If you like what you saw in this summary and want to know more about how your blog is doing, you can always visit your Site Stats, where our helper-monkeys are working day and night to provide you with pages and pages of detail on how your blog is doing.

Thanks for flying with WordPress.com in 2014. We look forward to serving you again in 2015! Happy New Year!”

On Our Fears and Our Fates…

I’ve never been a person with fondness of huge festivity in any occasions. So when people flock during year’s end to celebrate a new year, I prefer being with the closest. Not too many, just the closest, the warmest.

And it is no wonder that December – holiday season – seems to be the most saddening and somber month of all. After the tsunami a decade ago in Aceh, intermittent floods in Jakarta, the arson at one of the largest traditional textile markets in Indonesia Pasar Klewer in Solo, the missing AirAsia QZ8510, I guess there’re more people who now are listening to their conscience. It’s time to ponder. It’s time to appreciate more what they have, not what they crave.

The fears and fates are so intertwined they can’t be separated with each other. And this very song of Jimmy McCarthy sung by the Corrs, my favorite band, suits that mood perfectly. Enjoy…

“No Frontiers”

If life is a river and your heart is a boat
And just like a water baby, baby born to float
And if life is a wild wind that blows way on high
Then your heart is Amelia dying to fly
Heaven knows no frontiers
And I’ve seen heaven in your eyes

And if life is a bar room in which we must wait
‘Round the man with his fingers on the ivory gates
Where we sing until dawn of our fears and our fates
And we stack all the deadmen in self addressed crates
In your eyes faint as the singing of a lark
That somehow this black night
Feels warmer for the spark
Warmer for the spark
To hold us ’till the day
When fear will lose its grip
And heaven has its way
Heaven knows no frontiers
And I’ve seen heaven in your eyes

If your life is a rough bed of brambles and nails
And your spirit’s a slave to man’s whips and man’s jails
Where you thirst and you hunger for justice and right
Then your heart is a pure flame of man’s constant night
In your eyes faint as the singing of a lark
That somehow this black night
Feels warmer for the spark
Warmer for the spark
To hold us ’til the day when fear will lose its grip
And heaven has its way
And heaven has its way
When all will harmonise
And know what’s in our hearts
The dream will realise

Heaven knows no frontiers
And I’ve seen heaven in your eyes
Heaven knows no frontiers
And I’ve seen heaven in your eyes

{Image credit: Wikimedia}

Kim Jong-Il, Dasamuka dari Korea

‎”Bagus ya lukisannya. Sudah tahu maknanya kan?”

“Hmm… Iya, saya suka. Tahu saja saya suka lukisan. Membuat saya ingin menerka maksud si seniman yang membuatnya.”

“‎Oh begitu ya? Itu tadi lukisan Aing Dasamuka, mirip Rahwana dalam kisah Rama Shinta. Satu orang dengan sepuluh wajah.”

“Iya sudah diterangkan.”

“Lukisan itu dibuat karena pelukisnya benci dengan Suharto, penguasa yang sudah memenjarakannya selama bertahun-tahun karena alasan yang tak masuk akal.”

‎”Oh…”

“Penguasa yang bermuka sepuluh. Begitu ia mengibaratkan Suharto.”

“Hmm…”

“Diktator. Seperti Kim Jong-Il.”

“Saya benci sekali Kim Jong-Il.”

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena saya ‎pernah ‘terpenjara’ selama dua tahun karena dia.”

“Maksudnya?”

“Tahu kan kalau gara-gara dia kami harus wajib militer selama 2 tahun? Saya benci orang itu. Membuat kami semua sengsara saja.”

Yuk Bergabung Jadi Relawan Media Center YogFest 2015!

Dibutuhkan 22 relawan media center ( 10 photographers, 10 bloggers, 2 social media and website administrators) untuk YogFest 2015 tanggal 24,25,26 April 2015 yang akan bertempat di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta. Ingin informasi lebih lanjut atau berminat, silakan hubungi akhlispurnomo@gmail.com dengan menulis di subjek email:”relawan media center yogfest 2015″.

Bagi kawan fotografer, silakan bawa kamera DSLR masing-masing.

Untuk kawan-kawan blogger, disyaratkan harus mampu menulis reportase singkat dan menarik bertema yoga dan sejenisnya dengan cepat.

Untuk social media admins, diwajibkan menguasai kemampuan teknis dan passion di bidang tersebut.

Para relawan akan bekerja sesuai ketersediaan waktu dan tenaga mereka, sehingga tidak ada paksaan. Di waktu senggang setelah tugas selesai, relawan dipersilakan mengikuti kelas yang diinginkan secara cuma-cuma.

Namaste…

====
Update:

Berikut nama yang sudah mendaftar:

PHOTOGRAPHERS
1. Hairil Saleh
2. Uci Duck Himura
3. Lina Lee
4. Andi Gunawan
5. Ryeska Fajar
6. Indra Juanno Justian
7. Dyah Pratitasari
8. Mya Radani
9. Adhi ArThur Prayitno Djogoredjo
10. Devi Frida

11. Faris Aqomaddin

BLOGGERS
1. Rohmah Sugiarti
2. Rhani Pribadi
3. Vera Razid
4. Ini Nisa
5. Eko Retnani
6. Agustar Tridasmen
7. Muchdlir Johar Zauhariy

8. Rizky Amalia

9. Catur Ratna

10. Ranirun

SOCIAL MEDIA AND WEBSITE ADMINS
1. Ricky Iskandar
2. Dina Begum

11 Kiat Rawat Batik Tulis bagi Para Kolektor

Telah mengenal dan mengoleksi batik tulis sejak 4 dekade lalu, Neneng Iskandar yang juga pengurus Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia itu memberikan 11 kiat singkat merawat kain batik tulis yang harganya tidak murah bagi kantong kebanyakan orang. Berikut adalah 11 yang terpenting sebagaimana saya sarikan dari penjelasan beliau sepekan lalu (20/12/2014) di acara diskusi batik sekar jagad koleksi Kurnia Effendi di Galeri Batik, Museum Tekstil, Jl. KS Tubun, Jakarta Barat.

Hindarkan kain batik dari kelembaban tinggi
Tinggal di Indonesia yang tingkat kelembaban udaranya tinggi memang harus membuat kolektor batik hati-hati. Cara memerangi kelembaban ialah dengan membuka dan mengeluarkan kain batik itu dari almari atau peti penyimpanannya secara rutin. Istilahnya, diangin-anginkan di udara terbuka agar tidak lembab.

Almari atau tempat penyimpanan kain batik itu juga idealnya diberikan alas berupa kertas bebas asam yang biasa diimpor dari Jepang tetapi jika tidak memilikinya, gunakan kain belacu yang sudah dicuci atau direbus (agar kuman-kumannya mati). Dengan menaruh kain ini sebagai alas almari dan peti penyimpan kain batik, risiko kelembaban dan hewan kecil untuk masuk bisa ditekan.

Jika masih ingin memastikan agar koleksi batik tulis Anda yang berharga itu lebih terhindar dari kelembaban, gunakan saja silicon gel yang bisa didapatkan di toko-toko. Letakkan saja dalam bentuk kantong-kantong kecil dan masukkan ke tempScreen Shot 2014-12-26 at 09.34.30at penyimpanan batik tulis Anda.

Jangan diberi kapur barus
Serangan rayap atau binatang-binatang kecil memang masih susah dihindari. Namun, Neneng menyarankan sesuai anjuran dari gurunya mendiang Go Tik Swan:”Jangan diberi bahan-bahan apapun seperti kapur barus, akar wangi, dan sebagainya. Lebih baik diberi merica.” Pengasapan dengan ratus membuat kain batik lebih segar baunya tetapi menurut Neneng tidak banyak membantu mengusir hewan-hewan itu.

Sekali lagi Neneng menekankan, kalau Anda tidak mau menyesal, jangan diberikan bahan-bahan pewangi lainnya agar kain tetap awet.

Gunakan biji lerak
Lerak mungkin sudah lebih jarang dipakai oleh banyak orang saat mencuci pakaian dibandingkan deterjen kimia yang menggunakan surfaktan minyak bumi yang mencemari persediaan air bersih dalam tanah. Neneng mengatakan dirinya lebih memilih menggunakan lerak dalam bentuk biji utuhnya, bukan yang sudah dikemas dalam botol-botol. Ia mengaku ada seorang teman yang menjualnya. Atau kalau tidak, ia pergi ke Yogyakarta dan Solo untuk memborong biji-biji lerak untuk persediaan mencuci koleksi batiknya.

“Simpan saja biji lerak tadi di botol, kalau sudah agak kering, rebus dulu sebelum dipakai mencuci,” tukas Neneng. Ia menandaskan dirinya selalu setia memakai biji lerak, tidak pernah memakai yang lain. Sekalipun itu lerak instan.

Jemur di tempat teduh
Saat kain batik sudah selesai dicuci dengan lerak, rentangkan di tempat yang teduh atau tak terkena sinar matahari langsung.

Gunakan kanji
Berikan kanji pada kain batik Anda. “Karena kanji itu sifatnya melindungi kain (batik -pen),” imbuhnya.

Lipat di bagian berbeda
Setiap Anda melipat kain batik tulis, usahakan selalu ubah arah dan cara pelipatannya. Intinya selalu ubah cara pelipatannya. Intinya, lakukan rotasi. “Agar tidak ngecap, apalagi kalau kainnya tidak disentuh bertahun-tahun, bisa rusak kalau dilipat dengan cara yang sama.”

Hindari wiron
Wiron atau wiru adalah lipatan-lipatan kecil di kain batik khususnya jarik/ tapih yang dipakai oleh orang Jawa dahulu untuk membuatnya lebih rapi dan menarik dipandang mata. Menyimpan kain saat masih dalam bentuk wiron akan membuat kain batik makin lama makin keras (getas) sehingga jika dipegang nantinya akan rapuh dan bisa sobek dengan mudah.

Jangan pakai penjepit kertas
Terkait dengan wiron, Neneng juga mengatakan sebaiknya hindari menjepit kain batik dengan penjepit kertas dari bahan logam yang berpotensi merusak kain.

Setrika dengan suhu sedang
Neneng mengatakan boleh saja menyeterika kain batik tulis tetapi tidak dalam suhu tinggi. Untuk di-press boleh saja, katanya, karena bisa diberi kanji.

Beri furing
Kalau memiliki kain batik yang usianya sudah berpuluh-puluh tahun, jangan ragu untuk memberinya lapisan furing. Alasannya, menurut Neneng, agar kain yang amat berharga itu tidak mudah sobek saat dipamerkan, terutama karena terkena jarum. “Jadi yang kena jarum adalah furingnya, bukan kain batik aslinya,” jelas wanita kolektor batik itu.

Tisik jika sudah mulai robek
Bagaimana jika sudah mulai robek? Kata Neneng, jangan mengabaikan robek sesedikit apapun dalam kain batik tulis karena bisa tambah parah.

 

Semoga bermanfaat!

(Sumber foto: Kurnia Effendi)

Metta Dharmasaputra tentang Suka Duka Peliputan Investigatif (2 – Tamat)

MD-3
Metta mengungkap sekelumit cerita mengenai peliputan investigatif yang ia lakukan di Tempo beberapa tahun lalu. (Sumber foto: Wikipedia)

Sebelumnya di bagian pertama Metta mendorong pemerintah Indonesia untuk memperbaiki database bisnis yang akan mempermudah kerja jurnalis dan kini ia bercerita tentang peliputan kasus Asian Agri yang panjang sehingga cukup menguras energi bagi Metta dan keluarganya. Asian Agri sendiri adalah salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di tanah air. Luas lahan perkebunannya mencapai 150.000 hektar. Struktur perusahaannya sangat kompleks. Hanya ada 15 perusahaan yang pertahanannya dapat ditembus oleh aparat Indonesia. Untuk perusahaan-perusahaan lainnya yang berlokasi di luar negeri, aparat RI tidak bisa menjangkaunya. “Kerugiannya sungguh masif, Rp1,3 triliun, dengan 11 tersangka.”

Tahun 2006 ia menemui Vincent, seorang whistleblower kasus tersebut dan dari percakapan itu ia melahirkan tulisan investigatif untuk majalah Tempo. Vincent pernah bekerja sebagai financial controller Asian Agri sehingga tahu persis ‘jeroan’ perusahaan itu.

Demi memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kasus tersebut, pada tahun 2013 Metta juga meluncurkan “Saksi Kunci”, sebuah buku yang khusus membahas seluk beluk kasus Asian Agri. “Penulisan buku ini juga menjadi upaya saya untuk membantu Vincent menuju ke ‘tempat yang terang’,” katanya.

Metta menceritakan bahwa di sebuah kedai McDonald’s di Singapura, Vincent merapikan dokumen-dokumen vital sebagai bukti kasus penggelapan pajak Asian Agri selama tahun 2002-2005 tersebut. Nilai penggelapan mencapai Rp1,1 triliun. Modusnya ialah menekan biaya pajak di luar negeri dengan transfer ke luar negeri.

Vincent yang membantu Metta dalam penguakan kasus Asian Agri itu harus meringkuk dalam tahanan selama 11 tahun karena didakwa melakukan pencucian uang yang Metta yakin tidak dilakukan Vincent. Setelah bebas, justru Vincent makin tidak aman.

Metta meyakini dengan ditegakkannya ‘good corporate governance’ (GCG), cost per capital bisa ditekan. GCG juga memberikan manfaat lebih bagi perusahaan yang menerapkannya, yaitu daya tarik yang lebih tinggi bagi investor asing.

Namun demikian, Metta juga menyebutkan bahwa kondisi di lapangan tak selalu demikian. Ia menebut nama seorang pengusaha terkenal di tanah air. Pengusaha itu ia anggap sebagai anomali karena meskipun ia sudah ditulis media sebagai pebisnis ulung dan bahkan diganjar penghargaan oleh sebuah lembaga pendidikan kenamaan dunia seperti Wharton School, sebenarnya pengusaha tersebut memiliki catatan kelam.

Tahun 2001, kata Metta, bank milik si pengusaha ini dibekukan (namanya Unibank). “Tiba-tiba ia sudah memecah sahamnya, sehingga kepemilikan sahamnya sendiri di bawah 5%,” tutur Metta mengungkap strategi licik si pengusaha untuk menghindari kewajiban membuka pemilik saham sebenarnya dari Unibank pada publik. Metta menambahkan, sehari sebelum bank itu dibekukan, si pengusaha itu sudah kabur  ke Singapura dan pemerintah tak bisa lagi mencari pihak yang bertanggung jawab. Alhasil, pemerintah harus ‘nombok’ Rp1,4 triliun.

Korporasi-korporasi juga bukan lawan yang enteng bagi aparat penegak hukum dan wartawan investigasi. Mereka memiliki koneksi yang juga tidak kalah berpengaruh dalam tubuh aparat penegak hukum itu sendiri. Metta menceritakan saat aparat menyita 9 truk dokumen dari sebuah tempat penyimpanan di kompleks Duta Merlin. Anda bisa bayangkan isinya, ada 1400 kotak lembaran dokumen yang sengaja disembunyikan di sana. Saat aparat pajak datang dengan pengawalan Brimob, mereka tertahan di luar. Apa pasal? Brimob itu tak bisa menembus pertahanan di dalam yang diperkuat oleh Kopassus. “Di dalam sudah ada baret merah, Kopassus,” ujar Metta. Para petugas KPK dan pajak baru bisa masuk ke dalamnya setelah mengajak pasukan Marinir. Begitulah kuatnya perlindungan korporasi pada aset-asetnya, tukas Metta. “Dan ini lawan yang sungguh massif.”

Metta mengisahkan besarnya peran whistleblower Vincent. “Ia memberi saya softcopy sebesar 16 MB yang berisi banyak sekali data.”

Sebagai whistleblower, Vincent ternyata turut memiliki andil dalam tindak kriminal itu. Ia terlibat dalam pencurian uang sebesar 3,1 juta dollar. Dan Vincent menyebutnya sebagai jumlah yang “paling kecil”. Metta tetap tidak bisa memakluminya.

Lebih lanjut Metta membeberkan kisah pelarian Vincent saat di negeri jiran Singapura. Ia mengembara dengan tinggal di hotel-hotel mungil di sana agar tidak mudah terlacak aparat Indonesia. Vincent juga bisa lolos ke Singapura karena paspor miliknya dibuat secara manual.

“Saat itu Vincent memiliki 3 pilihan:bunuh diri dari kamar hotelnya yang berada di ketinggian, atau menyerahkan diri ke aparat penegak hukum Singapura yang menurutnya lebih adil atau kembali ke Indonesia,” ujar Metta yang kemudian meminta bantuan ke Bambang Harimurti di KPK. Metta belum bisa berlega hati karena keselamatan Vincent masih terancam, apalagi KPK mengatakan pihaknya belum pasti bisa menanganinya. Metta pun meyakinkan Vincent untuk membuka diri dan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia membongkar kasus pajaknya hingga semaksimal mungkin agar terhindar atau setidaknya tidak dihukum sangat berat.

Mendengar bujukan Metta tadi, Vincent pun memutuskan kembali ke tanah air dengan bantuan intelijen agar takterendus aparat kepolisian Indonesia. Namun, siapa sangka informasi itu bocor. Kepolisian menguntit Vincent dan KPK yang mengawalnya. Akhirnya KPK harus menyerahkan Vincent ke Kepolisian juga.

Tidak hanya dalam diri sang whistleblower konflik bisa terjadi, dalam diri Metta sebagai wartawan pun ikut bergolak konflik batin. Apakah ia harus membantu Vincent atau pasrah begitu saja karena toh tugasnya hanya sebagai wartawan yang tak bisa membantu dalam urusan hukum? Metta memutuskan pada akhirnya bahwa dirinya “membuka baju jurnalisme” yang ia sandang dan berdiri sebagai seorang manusia yang merasa kurang etis dan bermoral jika membiarkan orang yang dalam bahaya dimangsa begitu saja. “Seolah memberikan daging mentah ke seekor anjing yang lapar,” kata Metta memberikan analogi.

Metta mengemukakan betapa melelahkannya penelusuran bukti agar si tersangka tak bisa berkelit dari tuduhan. Dan masalahnya bukan karena bukti itu terlalu sedikit, tetapi karena bukti itu ada begitu banyak (bayangkan ribuan lembar dokumen berupa bukti transaksi di sebuah gudang misalnya) dan harus dirangkai sedemikian rupa agar menjadi sebuah kumpulan fakta yang tidak terbantahkan dan bisa diverifikasi ke pihak-pihak lain secara empiris dan meyakinkan. Waktu, tenaga dan pikiran jurnalis akan sangat dibutuhkan di sini.

Dari beberapa truk dokumen tersebut, Metta pun akhirnya menemukan bukti transaksi yang membuktikan adanya aliran dana dari hulu ke hilir yang terjadi tanggal 1 November 2004. Transaksi ini menyangkut biaya fiktif alias rekaan dan kemudian dibengkakkan (mark-up) agar bisa menekan jumlah pajak yang harus dibayarkan perusahaan.

Asian Agri telah menyiapkan semuanya dengan baik agar pembukuan mereka rapi. Di kantor pusat Asian Agri di Medan, Sumatra Utara, ditemukan satu lantai khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan pembuatan faktur dan dokumen palsu sehingga jika diaudit oleh akuntan publik. Semuanya terkesan ‘clear’ karena memang sudah didesain untuk saling melengkapi.

Sebuah artikel peliputan investigatif bisa ‘diturunkan’ ke publik jika memang sudah didapatkan konfirmasi dari dua pihak yang terkait: si penuduh dan tertuduh. Dalam kasus Asian Agri, bukti dari Vincent itu tidak ditanggapi lebih lanjut oleh Asian Agri yang menurut Metta cuma mengatakan:”Kami tidak mau menanggapi pernyaataan pencuri seperti Vincent”.

Meski mengakui bahwa dalam hal kecepatan para jurnalis investigasi masih kalah cepat dibandingkan pewarta media online dan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, Metta bangga bahwa karya jurnalisme investigatif biasanya lebih terverifikasi dengan baik sehingga lebih dapat dipercaya. Ia menyayangkan banyak orang yang begitu saja percaya dengan kabar yang beredar luas begitu saja di jejaring sosial padahal belum tentu terverifikasi sesuai dengan kaidah jurnalistik profesional. Biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik investigatif memang sangat besar. Namun, tetap saja jurnalisme investigasi harus tetap dilakukan untuk mempertahankan tradisi penggalian berita yang terancam musnah di era informasi instan seperti sekarang. Dengan optimisme tinggi, Metta mengatakan apa yang ia lakukan itu hanya upaya nyatanya untuk tidak merutuk kegelapan tetapi juga menyalakan lilin.

Dan tentang pengusaha yang Metta ceritakan itu, yang dimaksud ialah Sukanto Tanoto, yang menurut keponakannya sendiri Lina Tanoto telah mengkhianati, mengambil alih asetnya setelah membunuh sang kakak secara berencana (sumber: sukantotanoto.co).

(Disarikan dari presentasi Metta Dharmasaputra dalam ‘Corporate Governance, Ethics and Journalism: The Benefits of Good Media Reporting” yang digelar IFC dan Antara, Hotel Kempinski Bali Room, tanggal 21 Mei 2013)

Ini Bedanya Orang Korea dan Orang Indonesia dalam Urusan Keamanan Data Elektronik

Semua orang di gerai penjual ponsel besar itu memandang‎ nanar pada kami berdua sore tadi. Bukan saya yang berbuat onar, atau melakukan perbuatan kriminal dan tidak beradab. Teman saya si orang Korea itu juga tidak. Ia hanya tidak bisa memahami mengapa data finansial sepeka nomor kartu kredit dan akhir masa berlaku kartu kreditnya di‎catat oleh pihak penjual.

Drama berawal saat orang Korea yang sebut saja dengan Ryu itu mengajak saya masuk ke gerai ponsel pintar di pusat perbelanjaan. Ia mau beli satu ponsel lagi. “Saya mau beli satu lagi yang lebih jelek untuk nomor Indonesia buat menghubungi kalian bulan depan. Yang bagus sudah ada,” terangnya sambil melirik Samsung Galaxy seri teranyar di genggamannya. Sepuluh juta harganya, kata dia. Kami berkeliling, bertanya-tanya tentang spesifikasi, harga, dan kemampuan ponsel dipakai di seluruh dunia. Nokia, tidak. Samsung, sudah ada. Smartfren, cuma lokal di Indonesia. Maklum Ryu sangat aktif menjelajah dunia. ‎Konon, ia sudah menjejakkan kaki di 35 negara.

Karena pengalaman bepergian yang sering itulah ia juga menjadi sangat waspada. Setelah mengalami kejadian pembobolan kartu kredit di Thailand karena kecerobohannya membiarkan data kartu kreditnya begitu saja pada pihak penjual barang atau jasa, tingkat kewaspadaannya makin tinggi dalam setiap transaksi.

Ia memilih Huawei layar sentuh yang harganya cuma Rp1,2 juta itu. Tak punya uang tunai, ia keluarkan kartu kredit itu.

Semuanya tampak normal, wajar dan mulus. Pegawai tersenyum. Saya dan Ryu senang menerima hadiah gantungan kunci dari mereka.

Kartu kredit digesekkan dan begitu keluar kertas hasil transaksi, si pegawai yang tampak tenang itu meminta tanda tangan Ryu.

Air muka Ryu berubah murka. Nada suaranya meninggi. Ia sungguh gusar tatkala menemukan pegawai itu mencatat nomor kartu kredit dan akhir masa berlakunya di bukti transaksi yang disimpan pihak penjual.

“Ini ilegal!” suaranya menggelegar. Dalam bahasa Inggris, ia mengoceh tentang bagaimana ia sudah bepergian dan menggunakan kartu kredit di mana-mana tetapi baru kali ini ia mendapati datanya dicatat tanpa persetujuannya.

Pegawai itu menjawab pelan,”Ini untuk catatan kami, pak.” Saya sebagai penerjemah menyampaikan itu pada Ryu. Ia tetap tak terima.

“Bagaimana kalau data kartu kredit saya bocor dan disalahgunakan?!! Siapa yang mau tanggung jawab?? Tidak boleh dicatat!” ia geram dan mencoret-coret catatan nomor kartu kredit tadi dengan harapan agar data kartu kreditnya aman.

‎Pegawai itu memanggil bala bantuan. Seorang wanita yang mungkin supervisornya maju dan ikut menyaksikan. Mukanya keruh. Beberapa pegawai mengelilingi kami. Suasana toko berubah mencekam. Sedikit mencekam.

“Saya mau bicara dengan atasan kalian! Customer service! Cepat!” Sejurus wanita tadi beranjak masuk.

“‎Bapak, ini sudah SPO (standard operational procedure) kami jika bertransaksi dengan kartu kredit di sini,” terang si pegawai. Dan selama ini tak ada yang mempermasalahkan. Karena bodoh atau abai atau percaya sekali? Entahlah.

Ryu bersikeras tindakan pencatatan itu ilegal dan sama sekali tak bisa diterima.

‎Hanya ada dua opsi, kata seorang pegawai pada kami, pembelian dibatalkan atau memakai opsi pembayaran lain. Ryu memilih membatalkan.

“Maaf pak, gantungan kuncinya juga dikembalikan ya,” kata si pegawai malang itu lirih. Ryu yang masih menggenggam gantungan kunci itu menyadarinya dan membuka tangannya lalu melempar lembut hadiah itu ke meja pamer gawai. Ekspresi wajahnya seperti orang jijik.

Kami melenggang dari toko yang menggunakan brand besar dan terkenal itu tanpa ‎membawa apapun kecuali pengalaman: jangan percayakan data-data keuangan Anda dengan mudah pada orang lain.

Saat kami beberapa langkah jauhnya dari toko tadi, saya teringat dengan peretasan massal pada sejumlah pihak penerbit kartu kredit di Korea. Saya bertanya apakah itu juga yang mendasari kekhawatirannya. Tentu saja, ia berujar. Kalaupun tidak diretas besar-besaran, bisa saja kartu kreditnya dibobol dalam jumlah yang samar karena begitu kecil dan remeh tetapi dilakukan secara teratur oleh para peretas atau pihak yang tak bertanggung jawab. Dan kalau bukti transaksi sudah begitu meyakinkan karena kecerobohan sendiri, bagaimana bisa bank mengatakan Anda bebas dari penagihan? Anda tetaplah yang harus membayar tagihan itu.

%d bloggers like this: