Apakah Burung Pelikanmu? (Ulasan Film Perancis “MILF”)

Film cinta-cintaan ‘berondong’ dan tante-tante yang cukup menarik. (Foto: whatsnewonnetflix)

“MOTHERS I LIKE TO FUCK” bukan jenis film yang relijius. Ini karya sinematik yang penuh dengan adegan tak patut jika ditilik dari standar orang ‘Timur’. Meski Barat juga sebetulnya pernah sesetia itu dengan dogma-dogma moral dan agama besutan gereja mereka.

Di sini dikisahkan ada Elise, Cecile, dan Sonia, 3 wanita yang sudah menginjak kematangan dalam perjalanan hidup mereka. Elise dan Cecile sudah menikah dan memiliki anak. Cecile baru 3 tahun menjanda, masih terbayang-bayang almarhum suaminya. Sonia sendiri berada dalam hubungan pacaran yang labil dengan seorang pria yang ‘menggantungnya’ seenaknya saja. Dan Elise sudah beranak satu tapi masih sangat menikmati kebebasan meski tak ada suami karena cerai hidup. Mereka wanita lajang dan sangat matang dengan kondisi hidup yang berlainan.

Saat Cecile mengajak Sonia dan Elise membantu menyiapkan rumahnya agar siap dijual ke orang lain, eh secara tak sengaja mereka malah bertemu dengan 2 orang pemuda instruktur surfing di pantai dekat rumah Cecile. Paul dan Julien kalau menurut Elise mirip David Hasselhof yang dikenal di era 90-an dengan tubuh atletis dan kulit terbakar matahari serta adegan lari di pantai yang legendaris itu. Tubuh mereka juga tipikal badan penjaga pantai Baywatch.

Paul dan Julien. (Foto: Dunnozmovie)

Sementara kedua temannya mulai bermain api asmara dengan 2 berondong yang usianya selisih belasan tahun, Cecile justru malah bertemu dengan Markus, seorang anak muda yang ia kenal dulu sebagai pengasuh anak-anaknya yang sekarang sudah jadi remaja. Cecile kaget kini Markus sudah menjelma sebagai seorang pria muda yang tubuhnya menjulang melebihi dirinya. Kekagetan khas emak-emak di Indonesia juga kalau bertemu keponakan atau anak saudara jauh yang jarang bertemu. Markus tinggal dan bekerja bersama Paul dan Julien juga dalam sebuah bisnis kursus surfing di tempat itu. Dan ia menjabat sebagai manajer, ia mengaku.

Burung pelikan di kamar Cecile. (Foto: Dunnozmovie)

Saya tak akan membocorkan plot cerita tapi yang menarik di situ adalah saat Cecile menemukan seekor burung pelikan besar yang tak mau diusir dari kamar tidur Cecile sehingga wanita itu rela untuk tidur di lantai bawah saja.

Bersama Sonia dan Elise, Cecile mencoba segala cara agar satwa ini mau enyah. Dijerat dengan tali, tak berhasil. Dipancing dengan makanan, tak mau. Gagal semua. Akhirnya mereka pasrah.

Namun, di akhir film, si burung ini ditampilkan sedang bertengger di jendela kamar Cecile dan akhirnya mau mengepakkan sayapnya keluar. Meninggalkan kamar Cecile selama-lamanya.

Di film ini kita bisa temukan beberapa tipe manusia. Ada manusia yang terlihat siap, agresif, terbuka pada segala kemungkinan dan optimis dalam menyambut peluang. Namun, pada kenyataannya di titik tertentu, saat kondisi di sekitarnya mengizinkannya untuk melejit dan tumbuh ia malah membatasi diri. Ia tak mau meninggalkan zona nyamannya.

Lalu ada tipe manusia yang terlihat sudah optimis, berpikiran terbuka, siap berjuang demi impian meski itu artinya menentang norma atau aturan masyarakat. Namun, sayangnya ia malah dipatahkan oleh manusia lain atau hal lain yang dikiranya akan melambungkannya. Sakitnya sungguh luar biasa.

Sementara itu juga ada manusia yang peragu. Awalnya meragukan dunia di sekitarnya, apakah dunia ini akan mendukung impiannya yang tak masuk akal? Ia sudah siap menyerah bahkan jika harus mengecewakan manusia lain yang berharap ia maju. Lalu entah bagaimana ia pun maju juga dengan enggan tapi juga menikmatinya.

Ada juga yang terlihat tak serius, bermain-main, tapi sesungguhnya serius sekali dan berharap tinggi. Sayang ia malah diragukan manusia lain yang seharusnya mendukungnya maju. Lalu ia pun tetap setia bagaimanapun akhirnya.

Dan anehnya ada lagi yang diam-diam saja. Tak banyak koar-koar, tak banyak ulah dan keributan. Tapi tiba-tiba membuat gebrakan. Dan malah mencetak kemajuan yang lebih dramatis dari yang sejak awal blak-blakan.

Markus dan Cecile (Foto: Dunnozmovie)

Begitulah manusia. Tingkah polahnya ada-ada saja. Aneh. Tidak ada habisnya.

Tapi yang paling menyenangkan adalah tipe manusia yang meski digunjing, dicerca, tapi malah sepenuh hati membantu mereka yang membuatnya menjadi bahan ghibah dan olok-olok.

Mungkin burung pelikan itu sebuah metafora yang dibuat sutradara untuk sebuah hal yang kita harus lepaskan, relakan, pasrahkan untuk lenyap dan meninggalkan kekosongan dalam hidup kita. Karena dengan kekosongan itu, akan ada ruang untuk menyambut hal atau manusia baru yang bisa hadir dalam hidup kita.

Satu kutipan yang juga tak kalah menarik dari Markus ialah saat ia disamakan dengan anak-anak Cecile, ia berkata: “Aku mungkin seusia anakmu tapi aku bukan anakmu.”

Ya bayangkan di Perancis saja prasangka masih sekental itu ya. Apalagi di Indonesia yang sejak dini masyarakatnya sudah ditanamkan untuk tidak menikahi wanita yang usianya sepantaran ibu mereka melalui kisah Tangkuban Perahu… ? Ya itu kan dilarang karena Dayang Sumbi ibu kandungnya Sangkuriang. Kalau tidak, ya tak masalah seharusnya. (*/)

Fenomena ‘Oversharing’ dalam Kehidupan Para Penulis

(Sumber foto: https://news.newonnetflix.info/news/see-nina-dobrev-in-holiday-rom-com-love-hard-coming-soon-to-netflix/)

“LOVE HARD” selintas mirip film klise dengan premis reguler yang mudah tertebak. Seorang perempuan mencari pacar di aplikasi kencan dan bertemu dengan pemuda idamannya yang kelihatan sempurna.

Tapi konflik muncul ketika pemuda yang ditampilkan di aplikasi kencan tadi bukan yang asli. Di realita, ia pemuda rumahan berdarah China yang kalem dan berambut lurus, sementara di aplikasi ia Kaukasia bermata biru dan berambut ikal dan penyuka kegiatan luar ruangan.

Tentu si gadis kesal bukan kepalang.

Masalah lainnya adalah si gadis ini bekerja sebagai penulis kolom. Ia dikenal sebagai kolumnis yang berkencang dengan banyak pria di aplikasi online dan terus saja gagal. Padahal ia dideskripsikan sebagai wanita muda penuh semangat, cantik, berbadan ideal, modis, kariernya bagus, bla bla bla.

Sang atasan di kantor menyuruh sang gadis kolumnis untuk segera mengunjungi si pemuda tadi di rumahnya dan tentu saja si pemuda itu tak menduga. Makanya ia tertangkap basah berbohong.

Tapi bukan itu yang akan saya kupas di sini…

Saya justru ingin mengatakan bagaimana kaum penulis sering mendaur ulang pengalaman pribadi mereka menjadi material buku atau karya fiksi yang mereka akan jual ke pembaca. Ada juga yang seperti gadis kolumnis ini, terang-terangan menceritakan kehidupan percintaannya yang terus saja kandas. Tentu ia tak mau begitu terus, jadi olok-olok orang, tapi si atasan/ editor justru suka karena itu membuat banyak orang datang membaca media mereka.

Seorang kenalan cerpenis juga kerap melakukan hal serupa. Ia menggunakan kejadian-kejadian yang sebenarnya tak boleh diumbar ke publik karena terjadi dalam lingkup rumah tangganya dan menjadikannya bahan cerita pendek yang kemudian ia jual ke media massa yang berkeinginan memuatnya.

Salah atau ilegal? Ya tidak juga kok. Tapi yang menjengkelkan adalah saat cerpen itu ditemukan dan dibaca oleh anggota rumah tangganya sendiri yang terlibat dalam insiden tersebut. Nama karakter bisa diubah, nama lokasi dan waktu juga. Tapi jalan cerita dan tabiat si tokoh tak bisa. Jika ada kemiripan pasti terasa.

Ini akan sangat menjengkelkan apalagi jika si penulis adalah pemula. Ia seperti menulis diary dan memamerkannya ke masyarakat tanpa bersusah payah berpikir: “Apa yang akan dipikirkan jika pihak yang terlibat membaca ini dan menjadi sakit hati atau tidak rela?”

Seolah pemikiran itu dikesampingkan.

Seolah pasti tidak akan ada keberatan dari pihak lain yang dimasukkan dalam cerita itu.

Seolah mereka yang tak tahu menahu dirinya menjadi bahan eksploitasi pasti rela menjadi demikian demi keuntungan si penulis.

Jadi penulis sebaiknya hati-hati karena siapa tahu giliran mereka menjadi komoditi juga akan datang.

Dan pada saat itu terjadi, rasanya tak bisa lagi penulis berteriak: “Saya ingin privasi saya kembali!” (*/)

Gaya Menulis Karya Fiksi yang Berpeluang ‘Bestseller’

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

SAAT ini saya sedang bergelut dengan pekerjaan editor. Tiap hari saya tenggelam dalam draft yang dikirimkan via surel.

Ada beberapa penulis pemula yang memang saya amati memiliki gaya menulis yang sudah lumayan jelas. Meski saya yakin itu belum otentik tapi setidaknya saya amati ia berusaha untuk mengikuti gaya menulis para pengarang yang sukses. Tidak semaunya sendiri.

Tapi apakah gaya menulis yang berpeluang membuat seorang penulis fiksi menjadi sukses atau karyanya digemari pembaca?

Peneliti dari Stony Brook Department of Computer Science, Yejin Choi, mengemukakan sebuah temuan yang cukup membantu para editor fiksi.

Choi meneliti kaitan antara gaya menulis dan karya sastra dari berbagai genre yang sukses di pasar.

Ia menggunakan analisis statistik bernama “statistical stylometry” yang berguna untuk membedah gaya sastrawi dari satu orang penulis atau satu genre tertentu dengan yang lain. Stylometry ini memiliki tingkat akurasi sampai 84%, klaim Choi.

Tim peneliti Choi mengukur kesuksesan sebuah karya sastra dengan membandingkan angka penjualan di Amazon, banyaknya penghargaan seperti Pulitzer, dan naskah film juga diteliti dengan mengukur skor di imdb.com.

Lalu apa sih ciri-ciri karya fiksi yang potensial menjadi karya yang laris manis di pasar? Dan kiat-kiat apa yang bisa kita ambil dari temuan ilmiah ini?

MEMAKAI LEBIH BANYAK KATA PENGHUBUNG

Kata-kata penghubung antargagasan seperti “dan”, “tapi”, serta “atau” ditemukan lebih banyak di buku-buku fiksi yang meledak di pasar.

Frekuensi penggunaan preposisi atau kata depan, kata benda, kata ganti orang, determiner (kata sandang) dan kata sifat yang lebih banyak juga memberikan peluang sebuah karya fiksi menjadi lebih laris.

Sebaliknya, karya yang jeblok dan tak banyak diminati pembaca adalah karya yang lebih banyak dipenuhi dengan kata kerja (verba), kata keterangan (adverbia), dan kata-kata asing.

HINDARI TEMA KLISE

Selain itu, karya-karya fiksi yang tak diminati biasanya bertema klise. Temanya biasanya romansa, percintaan, yang plotnya mudah ditebak. Lokasi atau latar tempat juga sangat tipikal (bisa jadi Jakarta kalau dalam khasanah penulisan kita). Juga ada lebih banyak kata-kata dengan asosiasi ekstrim dan negatif di dalamnya.

GUNAKAN KATA-KATA TENTANG PROSES BERPIKIR

Kalau Anda mau karya fiksi Anda lebih laris, hindari menggunakan kata-kata yang secara terang-terangan menggambarkan tindakan dan emosi. Misalnya kata “menghendaki”, “mengambil”, “berjanji”, “menangis”, “bergembira”).

Logikanya, pembaca tidak mau disuguhi deskripsi yang terlalu gamblang, seolah mereka diperlakukan seperti anak kecil yang tidak bisa menyimpulkan sesuatu sendiri dan harus ‘disuapi’ atau ‘dicekoki’.

Sementara itu, karya-karya fiksi yang ‘bestselling‘ cenderung memakai kata-kata yang lebih menggambarkan proses berpikir misalnya “mengenali”, “mengingat”. Bisa juga dipakai kata-kata kerja yang berfungsi untuk menunjukkan kutipan kalimat, contohnya “mengatakan”, “mengucapkan”. (*/)

“I Care A Lot” Kukuhkan Reputasi ‘Bad Girl’ Rosamund Pike

Karakter Marla Grayson ini mengingatkan kita dengan Elizabeth Holmes dari Theranos. (Sumber: productplacementblog.com)

HARUS diakui kemampuan Rosamund Pike menyelami karakter penulis perempuan keji dan licik seperti Amy Eliott Dunne di “Gone Girl” tidak bisa lepas dari benak saya selama ini.

Pike di situ membuat siapa saja yang menonton sangat membenci wajahnya. Rupanya yang sangat cantik menjadi representasi dari seorang tokoh perempuan yang manipulatif dan sanggup menghalalkan segala cara demi agendanya. Bisa dikatakan Pike sukses besar menghidupkan imajinasi Gillian Flynn mengenai seorang karakter yang perempuan tangguh dan tak ragu menempuh jalan yang ‘keras’ dan berdarah demi membalaskan dendam dan sakit hatinya setelah disakiti pria.

Akibat peran Amy Dunne ini, Pike diganjar banyak penghargaan bergengsi.

Di film “I Care A Lot”, Pike juga menggila lagi.

Saat membayangkan saya adalah kerabat atau anak dari seorang klien Marla Grayson yang diperankan Pike, tentu saja saya ingin menganiayanya atas apa yang ia lakukan pada orang tua atau kerabat sepuh saya.

Di dalam semesta “I Care A Lot”, Grayson dideksripsikan sebagai seorang perempuan super ambisius yang gigih mengejar tujuannya menjadi kaya raya, tak peduli dengan cara yang semi legal dan amoral. Saya katakan “semi legal” karena ia mampu mengakali hukum agar tindakannya bisa terlihat legal di mata banyak pihak (kecuali keluarga si klien).

Barulah ia ‘kena batunya’ saat mencaplok harta Jennifer Peterson, seorang mangsa yang menurutnya empuk dan menjanjikan.

Memang benar sih Nyonya Peterson ini mangsa yang tidak membuat rugi. Terbukti hartanya berlimpah ruah meski tak sebanyak Elon Musk atau Bill Gates atau Mark Zuck.

Tapi Pike berkali-kali mendapatkan ancaman agar mau melepaskan Peterson yang tak bersalah.

Dan bahkan meski hampir tewas dan giginya rontok pun, ia tak mau bertekuk lutut.

Ia pun berhasil memukau dunia dengan mendaki tangga kesuksesan dengan bisnis abu-abunya itu.

Saat ia merasa jumawa, di atas angin, tak bisa ditumbangkan, tiba-tiba semuanya harus ia rebut. Ia lupa bahwa apa yang sudah menjulang pastinya akan tumbang. Cepat atau lambat.

Bagaimana Grayson tumbang? Mungkin Anda bisa menyaksikannya sendiri di Netflix. (*/)

Kisah Seorang ‘Kucing’ Pemburu Gadun Termasyhur dalam Sejarah

WHO rules the world?

Bukan perempuan. Sori ya, girls.

Orang-orang yang memimpin dunia adalah mereka yang merasa dirinya spesial dan dunia sepakat dengan itu.

Sementara itu, para pecundang adalah mereka yang sama juga merasa diri mereka istimewa tapi sayangnya…dunia tak setuju dengan pendapat itu.

Seperti itulah rasanya menjadi Andrew Philip Cunanan, tokoh antagonis yang justru menjadi pusat cerita dalam serial “The Assassination of Gianni Versace“.

Cunanan mati bunuh diri di usia 27 tahun setelah membunuh sejumlah pria dari berbagai latar belakang. Jika ia tak membunuh Gianni Versace, desainer kondang, mungkin namanya bakal tenggelam dalam sejarah seperti pembunuh serial biasa.

Dan pada kenyataannya, Cunanan memang spesial. Setidaknya dalam hal rupa.

Dalam istilah anak muda sekarang, ia ditakdirkan punya wajah glowing, good looking. Perpaduan pas antara gen Asia (Filipina) dan Kaukasia.

Andrew dibesarkan oleh ayah kandung Modesto yang tukang tipu dan pembual besar. Ia pernah bekerja untuk Meryll Lynch tapi begitu tersandung kasus penjualan saham gelap, ia didepak dari pekerjaannya dan melarikan diri ke negeri asalnya, tak peduli masa depan Andrew dan istrinya.

Alhasil, Andrew yang dibesarkan dengan keyakinan yang ditanamkan Modesto secara terus-menerus sejak usia dini bahwa dirinya adalah individu yang istimewa dan dengan demikian berhak diperlakukan spesial dan hidup dengan gaya hidup yang juga di atas rata-rata (doi ogah kerja keras) akhirnya terjebak pada ilusi tersebut hingga akhir hidupnya.

Untuk bisa memiliki gaya hidup borjuis itu, Andrew sudah mencicipi menjadi ‘kucing’ (pria muda yang melacur pada om-om alias gadun yang berduit banyak).

Dari sana ia mengincar lebih banyak laki-laki tua yang berumur senja dan kaya-raya tentunya.

Namun, di samping itu ternyata ia juga menyempatkan menebar pesona kepada sejumlah pria sebayanya. Dua di antaranya ialah Jeffrey Trail, seorang mantan tentara AS yang menyembunyikan orientasi seksualnya, dan David Madison, seorang arsitek muda yang meminati sejenis.

Semua pengembaraannya itu bermuara pada Gianni Versace yang tak menunjukkan ketertarikan untuk dekat dengannya padahal Cunanan merasa dirinya sudah berdandan dan mengerahkan segala cara untuk memikat ‘gadun’ ini habis-habisan. Penolakan Versace membuat Cunanan terhina dan ia mencari cara untuk membalas penolakan yang pahit itu.

Yang sebenarnya bersalah di sini, kalau saya boleh berkata sih, si Modesto Cunanan. Bukan Andrew.

Andrew adalah seorang korban dari orang tua yang tak becus mendidik dan gagal menjadi panutan bagi anak-anak mereka.

Jadi, kalau Anda bilang pasangan child-free itu egois dan menentang ketentuan Tuhan dan alam, saya juga bisa katakan bahwa memiliki anak akibat sembarang berhubungan seks atau mendidiknya secara sembarangan sehingga kemudian ia menjadi sampah masyarakat juga sangat egois karena merugikan masyarakat dan juga menentang hukum alam dan ilahi. (*/)

Pola Lama Jurnalisme Firasat Indonesia

SEOLAH mengungkit firasat memiliki manfaat, jurnalisme kita terus saja sungkan meninggalkan zona nyaman dalam pola lamanya.

Menjemput Ide Itu Mudah

Di hari blogger nasional yang baru berlalu, saya membagikan cara-cara praktis mendapatkan ide menulis.

Ide menulis konon sangat susah ditemukan tapi anehnya sebagian orang tak merasa demikian kok.

Saya jelaskan bahwa mereka yang menulis biasanya ada 2 kelompok utama: yang sangat percaya diri dan yang sangat tidak percaya diri.

Yang sangat percaya diri cenderung terlalu mudah mengambil ide dan akibatnya tulisannya jadi bermutu kurang baik dan tak banyak memenuhi kebutuhan pembaca.

Sementara itu, yang tak percaya diri lebih condong terlalu selektif memilah ide sampai ide yang sebetulnya sudah bagus pun ia tolak untuk bagikan ke pembaca.

Di sini saya tekankan pentingnya keseimbangan antara ego penulis dan realita. Ego yang terlalu besar membuat penulis buta dan tak mau menerima kritik. Sementara ego yang lemah membuatnya terlalu peka sampai tak bisa menghasilkan apapun.

Jadi di sini pun saya jelaskan bahwa menemukan ide menulis bisa dipelajari. Ide menulis bukan sesuatu yang sangat langka seperti wahyu ilahi. Ia bisa diusahakan datang saban hari. Asal kita mau membuat upaya konsisten.

Membaca yang banyak dan rakus tentunya sangat berguna memberikan ide menulis. Jadilah pembaca dulu baru penulis.

Dan saya tekankan juga bahwa definisi membaca bukan cuma membaca materi tertulis seperti buku tapi bisa juga kok “membaca” manusia atau alam atau fenomena apapun.

Lalu mendengar. Apapun yang kita dengar , pasti bisa disarikan dan ditulis.

Yang tak kalah penting ialah berani keluar dari lingkaran pergaulan nyaman. Carilah orang-orang baru di komunitas anyar yang sebelumnya kita belum kenal sama sekali.

Selain itu, tips lain ialah keluar rumah, mandi, olahraga. Hal -hal ini bisa membantu otak bekerja lebih tajam dan responsif terhadap rangsangan di sekeliling kita.

Nah, yang tak kalah penting tentunya kedisiplinan dan konsistensi kita dalam menulis. Semua teori sia-sia bila kita tak mempraktikkannya langsung. Jadi kenapa tidak kita mulai dari sekarang? (*/)

Jadi Orang Dewasa Jangan Sampai Kehilangan Asa

(Wordpoint.com)

MAKOTO SATO berselimut dalam sebuah ruangan apartemen sendirian. Di luar matahari muncul tapi tidak ada keinginan dalam dirinya untuk menyibak tirai dan membanjiri ruangan itu dengan sinar matahari.

Ia malah asyik meringkuk dengan laptop Sharp di depannya. Sekilas ia tampak sedang menulis novel, karena ia pernah mengaku pada temannya Kenta Sekiguchi bahwa dirinya ingin menulis novel dan mengundurkan diri dari Great International, sebuah perusahaan kecil pembuat grafis untuk stasiun televisi tempat mereka bekerja bersama-sama.

Kenta berkata pada Makoto bahwa dirinya akan meninggalkan perusahaan itu segera karena anaknya akan lahir dari pacarnya. Bekerja di sana tak mencukupi kebutuhan keluarga barunya, pikir Kenta.

Tapi Makoto tidak sedang menulis apapun yang akan menjadi naskah novelnya. Ia bercakap dalam ruang chat online yang memberikannya penghiburan atas sepinya hidupnya dari kebermaknaan.

“Aku tidak punya apa-apa,” teriaknya lalu kembali berbaring, meninggalkan laptopnya di meja.

Beberapa tahun sebelumnya saat ia bercakap dengan pacarnya yang habis membaca novel tentang seorang juru ketik yang saat mabuk berhasil menulis sebuah novel, Makoto mengaku tidak memiliki apapun untuk ditulis meski tubuhnya memang penuh dengan kata-kata milik orang lain.

“Kau akan baik-baik saja. Kau menarik…,” kata si pacar menghibur. 

Dan memang 2 dekade bergulir setelah itu pun, Makoto masih bisa bertahan di industri yang sama. Membuat grafis. Dunia berubah tapi ia masih tetap saja menjadi juru ketik orang lain.

Kalau dicermati sih film ini mencoba menangkap kegalauan para geriatric millennial yang sedang memasuki usia paruh baya seperti Makoto Sato yang berusia 46 di tahun 2020.

Film ini merunut perkembangan cara orang berkomunikasi dari zaman surat menyurat, era sahabat pena sampai ke era media sosial (film ini bermula dengan munculnya permintaan pertemanan seorang mantan pacarnya di Facebook).

Dari korespondensi via surat dan kartu pos, film ini mendeskripsikan evolusi komunikasi menjadi pager dan telepon umum koin, lalu ponsel fitur (bukan cerdas). 

Di sini diceritakan juga bagaimana asyiknya memiliki sahabat pena yang memiliki idola yang sama. Sahabat pena itu bisa ditemukan di iklan majalah. Lucu ya, mau punya sahabat pena yang memiliki idola yang sama dengan berdiskusi via surat yang ditempeli guntingan foto idola itu. Tentunya guntingan foto-foto itu dari majalah yang masih populer di akhir 1990-an, saat media baru (online) belum merebut pangsa pasar.

Dengan sahabat penanya Inu-Cara, Makoto di tahun 1995 begitu getol menulis surat sampai ia mengoleksi setumpuk surat Inu-Cara dan ngoto kopi darat dengan Inu-Cara yang kemudian menjadi pacarnya yang di tahun 2020 ternyata sudah menikah dan punya anak serta entah kenapa mengirimkan permintaan pertemanan padanya di Facebook. (*/)

Hebatnya satu aktor ini bisa didandani sedemikian rupa sehingga bisa memerankan anak muda awal 20-an sampai usia kepala 4. (Foto: AsianWiki)

%d bloggers like this: