Perampok Ruang Publik

‎Tidak terhitung kasus yang menunjukkan betapa ahlinya orang Indonesia kebanyakan – termasuk saya mungkin – dalam menjarah ruang publik. Serius. Entah kenapa sepertinya sikap ini mendarah daging tetapi ini sungguh memalukan dan memuakkan.

Lihat saja bagaimana lelaki ini. Sekonyong-konyong ia datang di depan kami. Di jalan gerbong kereta nan sempit ini, ia menggelar peraduan sementaranya. Gila! Lembaran koran itu ia rentangkan di lantai. Tanpa permisi, ia kemudian meletakkan bantal sewaan di lantai juga, yang melengkapi‎ tempat tidurnya yang keras itu. Bantal yang tak terlalu empuk dengan warna sarung bantal biru dari PT KAI. Saat saya melemparkan pandangan ke sepanjang gerbong kereta ekonomi AC ini, ternyata pria tadi tidak sendirian. Ada 3 orang lainnya yang juga tidak malu tidur di bawah bak pengemis dan tunawisma.

Saya anggap ia – dan kita semua yang menganggap ini biasa dan juga menjadi pelakunya – sebagai perampok ruang publik. Jalan di antara tempat duduk di gerbong ini, meski kosong dan tidak setiap saat dilalui orang, tetap milik semua orang yang ada dalam kereta, baik kru PT KAI yang bertugas dan mereka yang sudah membayar tiket dan naik ke dalamnya. Bagaimana bisa kita mengklaimnya begitu saja sebagai tempat ‘leyeh-leyeh’?! Hak untuk berjalan dengan lebih nyaman di gerbong menjadi terampas. Dan yang paling bodoh lagi, dengan tidur di bawah, ia membahayakan diri dengan risiko terinjak oleh mereka yang lewat. Siapa yang salah sebenarnya? Kalau terinjak, apa yang lewat itu bisa disalahkan karena dianggap tidak sopan, atau kurang hati-hati, atau kurang sigap dalam bergerak di kereta yang terus bergerak ini?

Ini sungguh mirip dengan apa yang terjadi dengan trotoar-trotoar kita. Trotoar kita banyak dirampas oleh orang-orang kita sendiri yang menganggapnya sebagai ruang publik dengan fungsi yang fleksibel. Trotoar bisa dipakai untuk ‎berdagang asongan, sebagai tempat membuka warung makan tenda, tempat pembuangan sampah, lajur sepeda motor tatkala kemacetan melanda, tempat strategis untuk mendapatkan banyak uang dengan berakting sebagai orang papa. Sungguh tak ada habisnya. Andai trotoar Indonesia bisa bicara, ia pasti sudah berkeluh kesah, merana karena terus menerus dianaya semua.

Sebenarnya ada dua hal yang bisa dianggap sebagai faktor pemicu yang berada di balik semua kasus perampokan ruang publik ini. ‎Pertama, kebebalan kita sendiri, yang kerap menghalalkan segala cara untuk bisa senang dan nikmat sendiri. Persetan dengan kepentingan orang lain. Asal diri sendiri serta anak istri bisa menikmati meski yang lain harus menangis iri. Saya pikir ada kemunafikan yang membuat mual saat ada orang Indonesia yang memvonis orang Barat itu lebih individualis. Belum tentu. Dalam sebagian kasus, orang-orang Barat yang dikatakan individualis itu mampu menunjukkan kepedulian sosial yang lebih tinggi dari kita yang bangsa Indonesia. Mereka berpikir lebih panjang dalam hal-hal tertentu, terutama yang berkenaan dengan kepentingan bersama, karena mereka sadar bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang lebih besar.

Kedua, desain kursi di gerbong kelas ekonomi ini yang ‎memang kurang nyaman untuk perjalanan jauh sehingga bisa dimaklumi orang merasa tidak betah duduk apalagi tidur sepanjang malam di atasnya. Tetapi bukankah itu konsekuensinya untuk harga termurah?

An Open Letter to Some Moronic, Stubborn So-called “Media Intrapreneur”

ev

Dear media intrapreneur,

You’re such an underperformer, even to admit you suck at leading in the first place. You know almost nothing about the industry and business you make money from and still you think you know it all and you’re pretty successful. Don’t you know you’ve always been our target of mockery for being so delusional. It’s delusional, as we all know, as we know who you really are in reality.

The first time I saw you, you claimed yourself to be an advisor. That was impressive back then. Now, I almost puke every time I remember that. Not that you’re disgusting in apperance or manner. But it’s more about what you talk and walk are quite different. You’d opened my eyes that not only males can brag. Females have the potentials as well. And I thank you for that.

First of all, I won’t call you an entrepreneur. Even in your wildest dream. But if I do, believe me it’s just a pure, honest insult for you.

I initially wanted to send you this piece. A very important piece of writing Evan Williams titled “Pageviews are Obsolete”. But I digressed. I’m so convinced your conviction that hits is everything is ARCHAIC, FOOLISH, SHEER REPRESENTATION OF YOUR LACK OF EXPERIENCE AND KNOWLEDGE ON MEDIA INDUSTRY.

But anyway, I’ll let you know his writing. Here it is.

Remember when web site traffic was talked about in terms of “hits”? You’d read about how many millions of hits Netscape got per month and other sites bragged about getting 30,000 hits a day. Eventually, we moved away from the term hit because everyone realized it was pretty meaningless. You see, a hit was often counted (depending on who was counting them) not just for a page load, but for every element (e.g., graphic) included on the page, as well. One visit of this page, for example, would be worth about 40 hits (if the browser had images turned on). But a site that was less graphical and had equal usage would register half the hits.
Pageviews replaced hits as the primary traffic metric not just because they’re more meaningful, but because it also determined how many ads could be served. Ads were sold primarily on a CPM basis, so multiply your CPM by every 1,000 pageviews you got, and that’s your dot-com revenue.
Reach (number of unique visitors) is also important, of course. comScore/Media Metrix uses uniques as its primary metric, because mainstream advertisers want to reach a lot of people, not just the same people over and over. You can also get pageviews, time spent, and several other data points from Media Metrix, but if you’re the number one site on MM, it’s because you have the most unique visitors for the month. Of course, if uniques were all that mattered, Blogger.com would be considered as big as MySpace by some accounts:

Whereas, if you look at pageviews, MySpace dominates:

That’s why Alexa Rank is a combination of Reach + Pageviews, so you get something like this:

But it’s this pageviews part that I think needs to be more seriously questioned. (This is not an argument that Blogger is as popular as MySpace — it’s not.) Pageview counts are as suseptible as hit counts to site design decisions that have nothing to do with actual usage. As Mike Davidson brilliantly analyzed in April, part of the reason MySpace drives such an amazing number of pageviews is because their site design is so terrible.
As Mike writes: “Here’s a sobering thought: If the operators of MySpace cleaned up the site and followed modern interface and web application principles tomorrow, here’s what the graph would look like:”

Mike assumes a certain amount of Ajax would be involved in this more-modern MySpace interface, which is part of the reason for the pageview drop. And, as the Kiko guys wrote in their eBay posting, their pageview numbers were misleading because the site was built with Ajax. (Note: It’s really easy to track Ajax actions in Google Analytics for your own edification.)
But Ajax is only part of the reason pageviews are obsolete. Another one is RSS. About half the readers of this blog do so via RSS. I can know how many subscribers I have to my feed, thanks to Feedburner. And I can know how many times my feed is downloaded, if I wanted to dig into my server logs. But I don’t get to count pageviews for every view in Google Reader or Bloglines or LiveJournal or anywhere else I’m syndicated.
Another reason: Widgets. The web is becoming increasingly widgetized — little bits of functionality from one site are displayed on many others. The purveyors of a widget can track how many times their javascript of flash file is loaded elsewhere — but what does that mean? If you get a widget loaded in a sidebar of a blog without anyone paying attention to it, that’s not worth anything. But if you’re YouTube, and someone’s watching a whole video and perhaps even an ad you’re getting paid for, that’s something else entirely. But is it a pageview?
Pageviews were never a great measure of popularity. A simple javascript form validation can easily cut down on pageviews (and save users time), while a useless frameset can pump up your numbers. But with the proliferation of Ajax, RSS, and widgets, pageviews are even more silly to pay much attention to — even as we’re all obsessed with them.
It’s about Time
So what’s a better measurement? Good question. Like many good questions, the answer is “it depends.” If you’re talking about what’s important to pay attention to on your own site, you have to determine what your primary success criteria are and measure that as best you can. For some sites, that could be subscribers, or paying users, or revenue, or widgets deployed, or files uploaded, or what have you. It may even be pageviews.
At Blogger, we determined that our most critical metric was number of posts. An increase in posts meant that people were not just creating blogs, but updating them, and more posts would drive more readership, which would drive more users, which would drive more posts. Of course, posts alone wasn’t our only measure, because someone could have written an automated posting script to fill up our database (which some did), and by that metric, we’re happy about it. So we paid attention to pageviews and posts per user and user drop off, and other things.
Of course, we all want to know how we’re doing compared to other people/sites/companies, so internal metrics aren’t enough. And things like Media Metrix and Alexa are paid attention to by investors, and advertisers, and acquirers, and the press. So some apples-to-apples comparison is useful. If I had to pick one, in addition to unique visitors, I’d say time spent would be much more useful than pageviews.
After all, everyone’s competing for a bigger share of the one scarce resource, which is people’s attention (although it is a growing resource, because people keep making babies, and those babies keep getting Internet connections). More or less, what you need is people’s attention before you can meet whatever goals you have.
Time spent interacting with a site is a much better basis on which to compare sites’ relative ability to capture attention/value than pageviews is. When it comes to media like audio or video, an increasing percentage of the web consumption, time obviously means a great deal more than a pageview.
However, time is a bit harder to measure. HTTP, being stateless, doesn’t actually have a concept of time spent. If you read this whole post and then click off to another site, my web server won’t know whether you were here for five minutes or five seconds. However, most web analytics packages do estimate time spent (as does Media Metrix). (The Alexa toolbar could actually measure it even better.)
Widgets are still a bit tricky, because a user may or may not be paying any attention to a widget that’s on a page they’re viewing. If you could measure time spent interacting with a widget (or media being streamed through the widget), that would be ideal. RSS consumption is harder to measure by time, but there are other efforts to measure attention in that realm.
[Added:] Finally, there’s a big argument against time as a measure: People don’t spend much time on Google search, because it gives them what they want so fast, and they go away. Which is obviously good for them and for users. Of course, Google doesn’t drive many pageviews per visit either, but it’s so good people return again and again. So aggregate time is probably still high. But just as pageviews can be gamed, you can slow your users down unecessarily (or accidentally because your servers are too slow) and increase time spent. In the long run, this is going to be bad for you, but it would screw up a market that paid too much attention to time spent, just as much as BS pageview counts do now.
In summary, there’s no easy solution. There’s a big opportunity (though very tough job) for someone to come up with a meaningful metric that weighs a bunch of factors. But no matter what, there will come a time when no one who wants to be taken seriously will talk about their web traffic in terms of “pageviews” any more than one would brag about their “hits” today.

[Originally published at evhead.com.]

If it doesn’t change your views on how you manage your business, I have no idea what will.

Lessons from the Book Launch

The coach mentioned, as long as my memory serves right, about this site called future.me. As he told in an exuberant manner on why everyone should visit the site and write down to his own future self, I got a shiver.

“You can write down your own life plans there to your future self. And what matters most is that… y’all will get the plans in your email inbox at the specified time. So if you set it to be sent 10 years from now, you’ll get the email 10 years from now. As simple as that. So if you cannot rach your desired goals, you’ll be so sorry. That means you suck and you must work harder and find the answer as to why you suck in this life,” the coach extolled the undertaking of planning life.

The audience kept silent. They moved nothing. Their eyes might roll in bewilderment. “What this ambitious, seemingly successful and wealthy young man was trying to tell us?”they might think.

I was stunned by this. Do we really have to think that way? Do we need to insult ourselves in the future just because we fail to achieve the objectives in our 10-year, or 20-year, life plans? Some people think we do.

I don’t, however.

I’m not that mad to plan my life in such a way. Not because I don’t have any ambitions in life. Not at all. I do have a list of ambitions. I want to get published a lot. I want to meet great people. I want to write books and anything useful for others. I want to have more freedom in life, making choices and taking responsibilities. I want to have my own family someday. I want to enrich my life with yoga, whether it be teaching or practicing. I want to be happy, ample and free. And the list goes on.

But life doesn’t always go your way. You cannot control life anyhow, no matter how great you are. Life is too powerful to conquer and to be controlled.

All these years, it has dawned on me that being a human being means accepting the fact you’re microscopic cosmic dusts in this infinite universe. Seriously, we in fact almost means nothing. Whether we exist or not, the world keeps going as it has to be. The sun keeps on shining even if your most beloved ones are dead. The Milky Way is still up there even if it’s time for us to leave this world. We’re really a mere complement to this world. Not more.

That said, I arrive to the conclusion that life always offers you failures. But some failures are not real failures. This type of failure leads us to a better life at times. What seems to be bad luck sometimes changes into an unbeaten, hidden path leading us to a higher level of life achievement which you didn’t even plan or never cross your mind before.

So when my future self receives the email in 2025, I might crack a smile and write a satire of it. Because it feels like I read a letter from a childlike version of me. Life so far has taught me how fast humans can change their minds, their beliefs, their spouses, their careers. And chronicling it enables us to track down the development of our foolishness.

I may lose some things in life but it doesn’t mean I’m a total loser. So long as I do my best in life, how can I become a loser?

To the coach, I wish I could say this:”Get a life.”

But thank God I held my sharp tongue. He’s still in his twenties. I hope he learns a lot over time.

Sekuriti Cari Mati

Sore yang indah tadi dikotori oleh sebuah insiden. Semuanya karena seorang sekuriti dan aktor sinetron di pusat perbelanjaan premium distrik bisnis ibukota yang megah luar biasa di dekat tempat kerja.

Sekuriti itu tak saya lirik. Sederhana saja alasannya. Mata saya fokus ke depan. Saya melangkah tergopoh-gopoh ke mesin ATM, hendak membayar tagihan kartu kredit di bank pemerintah dengan aset terbesar di negeri ini. Kalau terlambat dan sampai lupa, kena denda berupa bunga, bisa masuk neraka saya. Jadi saya tak mau ambil risiko. Bagi saya kartu kredit cuma sebagai alat penunda pembayaran selama sebulan, tidak lebih. Dan kalau masih bisa bayar tunai, saya lebih memilih tunai saja. Membayar tunai kadang menjadi kebanggaan tersendiri selain juga lebih aman dari peretasan. Kata teman Korea saya, tunai itu untuk orang kaya. Dan kartu kredit untuk orang miskin. Kalau begitu jutaan orang Indonesia yang tak punya kartu kredit adalah orang kaya? Tak berarti begitu pula, sanggah saya dalam hati.

Begitu saya melintas di depannya, saya merasa sekuriti lelaki berambut cepak – ya mana ada sekuriti berambut gondrong terurai – itu mendekati saya.

“Mau apa dia?”batin saya. Detak jantung saya memburu, selain karena berjalan cepat juga karena ia mendekati saya dengan tangan yang seakan siap menangkap saya.

Sekuriti itu menyentuh lengan saya yang kurus dengan tangannya yang besar dan berjari gemuk serta kapalan. Bisiknya,”Mas, fotoin ama itu ya?”

Saya hanya menganga. Tidak percaya. “Bagaimana bisa?!!”teriak saya dalam hati lagi. Sementara sekuriti gagah itu melirik sang aktor sinetron di depan lift yang masih tertutup, tangannya mengulurkan sebuah blackberry seri lama. Saya hapal wajah aktor itu walaupun saya sudah 4 tahun tidak secara rutin menonton televisi. Maklum di kamar tak saya sediakan layar kaca.

Apa yang saya sudah perbuat hingga saya harus diminta menjadi fotografer oleh seorang sekuriti? Karena setahu saya, tamu dan pengunjung itu yang menjadi raja. Saya masih ingat seorang sekuriti hotel tempat teman Korea saya itu menginap. Ia disuruh oleh beberapa tamu memotret di lobi hotel. Tapi saya? Bagaimana bisa raja disuruh membidikkan kamera pada sekuriti dan idolanya saat raja itu sedang punya hajat darurat?! Saya saja belum melepas kartu identitas karyawan saya. Gila! Mungkin Anda mengira saya menderita megalomania. Ya, mungkin saja.

Yang tak saya pahami adalah saat si sekuriti melirik seorang pramuniaga jaringan waralaba kecantikan di sampingnya beberapa meter. Siapa yang mau foto dengan aktor itu? Si pramuniaga perempuan atau sekuriti itu? Kalau memang sekuriti itu yang nafsu mau berfoto, saya makin tak habis pikir. Sungguh tak habis pikir.

Ternyata tidak cuma anak-anak zaman sekarang yang makin gila. Sekuriti juga!

Jack Unterweger: Dari Residivis Jadi Penulis, Kembali Jadi Residivis

Penulis bagi banyak orang adalah sosok manusia yang paling tidak membahayakan dalam aspek fisik. Mereka terbiasa duduk, diam, mengetik atau menggoreskan pena ke kertas selama berjam-jam dalam sehari, sehingga tidak terbiasa menggunakan otot-otot mereka bak sprinter, binaragawan, pesenam, perenang atau atlet profesional lainnya. Dan meskipun ada sebagian penulis yang berolahraga yang intens seperti Haruki Murakami yang suka berlari marathon dan John Irving yang menekuni olahraga gulat, tak banyak penulis yang dikenal agresif atau memiliki predikat sebagai makhluk yang membahayakan bagi keselamatan orang lain. Mungkin ada penulis yang membahayakan posisi atau nyawanya sendiri, misalnya wartawan investigasi atau penulis buku atau novel sekontroversial Ayat-ayat Setan milik Salman Rushdie, tetapi citra penulis sebagai makhluk yang bisa membunuh sangatlah tidak lazim.

Apalagi jika Anda menyaksikan wajah manis Jack Unterweger. Siapapun mungkin akan meragukan apakah pria yang populer di kalangan wanita ini bisa menyakiti hewan sekalipun. Wajahnya tidak bisa dikatakan jelek. Tubuhnya tergolong kecil dan kurus untuk orang Eropa, tingginya hanya 5 kaki 5 inci. Jadi jangan membayangkan Jack sebagai seorang yang tinggi besar.

Unterweger berasal dari negeri yang membanggakan diri dengan tingkat kriminalitas yang rendah dan kebudayaannya yang tinggi, Austria. Musik-musik klasik baroque lahir di negara yang tidak berpantai ini.

Kehidupan Unterweger yang lahir 16 Agustus tahun 1950 itu dari kecil sangat malang. Ia tumbuh sebagai anak yang dibuang oleh sang ibu. Ibunya, menurut pengakuan Unterweger sendiri, adalah seorang pekerja seks komersial. Ayahnya adalah salah satu tentara yang bertugas untuk Amerika Serikat di masa perang. Pria ini pelanggan sang ibu.

Selama 7 tahun, Jack kecil harus tinggal bersama sang kakek yang tinggal di sebuah gubuk reot. Kakeknya juga bukan pengaruh yang baik bagi kejiwaan sang cucu. Ia seringkali mengajak PSK masuk ke gubuknya di malam hari, dan tidak peduli apakah sang cucu melihatnya asyik masyuk bersama wanita yang ia sewa. Dikatakan bahwa di dalam gubuk itu hanya ada satu kamar, sehingga saat Jack tidur, ia bisa mendengar sang kakek sedang bermesraan dengan PSK.

Masa remaja menjadi makin sulit bagi Jack. Menjelang masa dewasa, ia menghadapi berbagai masalah hukum dan dijebloskan ke pusat
rehabilitasi anak dan remaja pelaku kenakalan. Ia berkelana di Swiss dan Jerman. Di periode ini, ia sudah berhadapan dengan tuduhan kriminal, dari perkosaan, penganiayaan, bahkan penyekapan.

Tahun 1974 menjadi saksi bagaimana Unterweger makin mengarah pada dunia kekerasan. Margaret yang dikenal Jack sebagai teman pacarnya menjadi korban pencurian dan pembunuhan keji Unterweger. Unterweger tidak hanya menjarah harta bendanya tetapi juga menyeretnya ke tempat sepi kemudian menyuruh korbannya menanggalkan pakaian dan memukuli atau menjerat lehernya hingga mati tercekik.

Di Salzburg, Unterweger kemudian diadili atas tuduhan itu dan terbukti bersalah. Ia menjalani hukuman pidana selama 15 tahun lamanya. Penjara membuatnya menjadi seseorang yang berbeda. Entah bagaimana, ia berubah dari seorang penjahat menjadi seseorang yang sangat lihai memanfaatkan kata dan kalimat menjadi senjata yang menamenginya dari stigma negatif masyarakat. Dikisahkan bahwa Unterweger mampu belajar sebagai sastrawan dan menghasilkan karya berupa buku dengan banyak membaca di perpustakaan di lembaga pemasyarakatan tempatnya menjalani hukuman pidana. Kemampuan sastrawinya makin berkembang.

Di kalangan birokrat dan masyarakat Austria sendiri 6 tahun sebelum keluarnya Unterweger terjadi sebuah perubahan, yakni munculnya keyakinan bahwa siapapun yang menjalani hukuman pidana atas kejahatan bisa direhabilitasi sehingga dapat kembali berperan positif di kehidupan masyarakat luas. Dan semua ini berkontribusi pada dilepasnya Unterweger ke dunia bebas. Menurut wartawan Gunther Nenning, langkah ini didasari atas keinginan untuk membantu mereka yang kurang beruntung karena sudah mengalami ketidakadilan sosial dalam
masyarakat, seperti Unterweger muda yang lahir dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan seks bebas.

Dengan keahlian menulisnya, pasca dilepas dari hotel prodeo ia menghasilkan puisi, naskah drama, bahkan buku anak-anak dan buku autobiografinya sendiri yang cukup menarik perhatian dunia sastra setempat.

Karya-karyanya itu meyakinkan masyarakat bahwa Unterweger bukanlah sosok yang sangat keji sebagaimana yang mereka sangka. Ia bisa sangat lembut dan memahami perasaan yang halus sekalipun dan mengungkapkannya dalam kalimat-kalimat indah.

Unterweger bahkan kemudian secara perlahan masuk lingkaran budayawan dan sastrawan elit Austria. Dia juga menjadi simbol kesuksesan program rehabilitasi residivis di Austria. Semua berkat kharismanya dalam menggunakan kata-kata. Sebagian berpendapat Unterweger menjadi contoh kasus bagaimana sastra memiliki pengaruh kuat dalam “menyembuhkan dan menebus dosa” dalam jiwa seseorang.

Salah satu bukunya berjudul “Fegefeur” (Purgatory/ Penyucian) diterbitkan tahun 1983. Kisah dalam buku ini mengenai masa sang penulis menjalani hukuman pidana. Sutradara Willi Hengstler tertarik membuat filmnya dan film itu dirilis tahun 1989.

Namun, bukan berarti Unterweger lupa caranya menjadi pembunuh. Ia menganggap bahwa menjadi seorang penulis akan membantunya keluar dari penjara lebih cepat dan diterima di masyarakat, bahkan menjadikannya sebagai pesohor. Dan yang penting, ia dihormati dan hidup makmur.

Pada tanggal 23 Mei 1990 Unterweger dibebaskan secara bersyarat setelah 15 tahun mendekam di penjara. Jumlah hukuman 15 tahun itu adalah masa hukuman minimal yang harus dijalani dalam hukuman seumur hidupnya.

Unterweger yang baru lepas dari hukuman itu langsung mencuat menjadi selebriti. Ia diundang dalam acara diskusi televisi nasional yang disaksikan secara luas mengenai reformasi hukum pidana di Austria. Melalui acara itulah, publik makin diyakinkan dengan tingkat intelektualitas dan kharisma Unterweger sebagai sosok panutan dan pujaan. Pria itu tampil bersih dalam setelan jas putih, berbicara dan berdebat dengan cerdas dengan para jurnalis dan sosok intelektual secara langsung di media.

Meski sudah terkenal dan menjadi penulis yang disegani masyarakat serta memiliki basis fans tersendiri, ia tidak berniat untuk menjadi warga baik-baik. Ia kembali ‘kambuh’, dan kali ini cakupannya meluas. Di Los Angeles, Amerika Serikat, Unterweger juga melakukan tindakan yang sama. Begitu juga di kota Praha, Chekoslowakia. Korban-korbannya kesemuanya adalah wanita muda, sebagian pekerja seks komersial, seperti sang ibu, yang ia benci karena sudah menelantarkannya begitu saja di dunia yang kejam ini.

Singkat cerita, Unterweger berhasil diringkus aparat setelah dituduh menghabisi 11 korban perempuan: 7 di Austria, 3 di AS, 1 di
Cekoslowakia. Para penggemar Unterweger masih memberikan dukungannya dengan hadir di pengadilan.

Publik makin lama makin mengetahui bahwa Unterweger adalah pribadi yang manipulatif dan mampu menggunakan kata-kata dan mimik muka serta menggunakan kedekatannya dengan lingkaran elit intelektual. Para pendukung Unterweger mulai meragukannya.

Unterweger memberikan pembelaan yang sangat meyakinkan dan menggugah emosi bagi banyak orang yang menyaksikannya. Namun, berkat juri yang menggunakan bukti-bukti yang kuat, Unterweger tak dapat lolos kali ini. Ia terbukti dengan meyakinkan sudah bersalah dalam 9 kasus pembunuhan tersebut. Dan ia juga dituduh menjadi pelaku dalam 2 kasus lainnya.

Ia mengancam akan bunuh diri begitu gugatan bandingnya ditolak dan dijebloskan ke penjara. Pria itu yakin dengan kemungkinan untuk bebas dari semua tuduhan. Rupanya ia telah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tak akan pernah lagi menginjakkan kaki dalam penjara.

Unterweger tidak memberikan gertakan sambal. Ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dengan berbekal sebuah tali dalam pakaiannya, ia menggantung diri di selnya.

More Dramas, Fuel for the Journalism Industry

‎I plan to be a lot more optimistic in 2015 and here I am now drenched in the streams of information about the political drama. Last year’s epic drama seemed to keep us in high spirit and it still has a lot of sequels to come.

I don’t want to talk about whoever or whatever related to the political dramas staged currently. We all can consume the news on mainstream news websites. I’m bored with it all. So are you, I suppose.

What I’m more interested in is the fact that we have an endless supply of dramas throughout the year and journalismwise, it’s wildly SUPERB. It’s all there for us to cover, rant, write or simply sneer, mock and spit at. ‎The material is so so abundant you’ll find yourselves drowned in it before you even try to plunge.

This is how I choose to be optimistic this year. Understanding that the industry is stimulated by such never-ending dramas ‎keeps the industry of journalism happy and alive, and ultimately growing fast. And when this happens, there’re more jobs for writers and reporters like me or even hopefuls out there.

Thus, I’m lit up. Aren’t you?

Burung Pertapa

‎Kantin ini alami. Bukan karena makanannya yang bebas vetsin, atau disajikan oleh chef asing yang bersekolah di Paris yang menganut paham raw food, atau makanannya dipanen dari lahan organik yang sudah disertifikasi badan tertentu sehingga membuatnya berhak dibanderol mahal.

Kantin ini alami karena kita bisa bersantap pagi, siang dan malam dengan ditemani kicau burung. Burung hidup. Yang hidup bebas. Tanpa sangkar. Atau diikat oleh tali. Ia terbang ke sana ke mari tanpa takut dengan semua manusia yang lalu lalang di bawah. Sesekali ia ke langit-langit. Entah mungkin membangun sarang yang nyaman di atas pipa-pipa yang malang melintang di atas kepala kami‎ atau hanya sekadar membuat sebuah tempat beristirahat yang sesuai keinginannya.

Burung yang malang, atau malah senang, pikirku. Malang, karena siapa tahu di otaknya yang kecil itu ia meratap ingin keluar dari ruangan yang mirip akuarium ini. Senang, sebab ia bisa jadi sengaja masuk ke sini mencari tempat yang hangat dan terlindung dari cuaca yang mendera gila di luar sana dan mendapat pasokan makanan yang ‎stabil dan berlimpah dari sisa-sisa makanan orang.

Entah mana yang benar, tetapi yang pasti ia sangat tahu bagaimana menjadi burung pertapa. Mengasingkan diri dari dunia dan sesamanya. Kini kicauannya tak bermakna di tengah kerumunan manusia. Kami tak paham makna cuitnya, ia juga musykil mengerti makna celotehan kami di antara suapan makanan. Burung dan manusia saling ada di tempat yang sama tanpa harus membuat sengketa‎. Alangkah indahnya…

Compass in Life after Losses of Significant Others

‎It’s called compass pose in yoga. Though it’s not the easiest pose ever invented, it’s not the most challenging either. Compass pose is great when you need a lot of stretch in your hamstring and both sides of the torso. It works so efficiently for the enhancement of bodily flexibility. Also, it awakens your body in the morning if coupled with lots of backbending postures that help stimulate the heart rates and blood circulation in vital organs.

Aside from the physical layer of the pose, the pose reminds me of the fact that I ought to stay faithful to the Ultimate Cause of life after I’ve lost 4 relatives in my big family since 2005. My paternal grandfather died first when my father was still a teenager. So I had no strong relationships and memory of his. We know what makes it hurt to lose someone is the loss of the memory shared together between us and them. But with my maternal grandfather, I was quite close. He was a quite and stern man with big moustache who smoked and drank coffee, two things I almost never do and never want to do in my entire adulthood up to now.

The second – which is the most abrupt and painful – is when in 2013 I lost my younger cousin to a fatal traffic accident leaving us troubled and deeply saddened till now. ‎She at first lost both her legs and also, after a series of surgeries, her entire life.

Later is when my paternal grandmother died in March 2014. ‎She was the one who dedicated her life to the sons, never wanting to remarry in fear of making her sons suffer from an unjust step father.

The latest is my maternal grandmother, who just passed away last Sunday (25/1). We came close as I grew up with her during my early and teenage years. It was still fresh as I recall her hugging me shedding tears upon knowing her husband left her alone for good. It took 10 years before she reunited with him. Well, they might be. I have no idea.

So when you encounter such losses of significant ones in life‎, you’ll get used to the idea that you cannot mourn every death. It’s true. Mourning is such a tiresome business to deal with. Dwelling in sadness would be too depressing and destructive like nothing can ever do to our psyche.

‎Making our beloved ones a purpose and sole driver of living this life sounds too ridiculous to me. I imagine someone, a survivor of tsunami disaster for example, who may go nuts and get mentally troubled after losing whoever he had in life. Is it any better to commit suicide as well? But of course, you can’t just do it, even if you really wish you were allowed to do so.

And when it comes to making anything your compass of life, consider thinking an ultimate cause higher than yourself, even your beloved people. Something timeless, unworldly, eternal and ‎almighty. So even if the rest of the world perishes in a blink of an eye, you won’t lose your direction.

J. D. Salinger:Penulis yang “Terkutuk” oleh Kesuksesan Karyanya

‎Persis lima tahun berlalu sejak penulis J. D. Salinger meninggal dunia di usia 91 tahun. Ia meninggal 27 Januari 2010. Karyanya yang pertama dan paling sukses serta paling berpengaruh hingga saat ini ialah The Catcher in the Rye.

Namun, Salinger bukannya bahagia menjadi terkenal. Ia lebih merasa terkutuk oleh apa yang ia tulis di dalam novel pendek itu. Apa pasal? Tiga kasus pembunuhan terjadi sebagian karena “dipicu” oleh ‎novel yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Hauden Caulfield tersebut. Dalam pembelaan Mark David Chapman (pembunuh John Lennon), novel ini dipakai sebagai penjelasan tindakan keji itu. Ada dua pembunuhan lagi yang menyebutkan novel itu sebagai alasan.

Kepada wartawati Betty Eppes yang sengaja mencarinya 6 bulan sebelum penembakan Lennon, Salinger ‎berkata,”Saya menyesal menulis tentang Haulden (Caulfield).”

Salinger‎, melalui Eppes, berkata bahwa ia bekerja untuk dirinya selama mengurung diri dari pergaulan sosial. “Seorang penulis harus menulis karena memang ia harus menulis. Yang paling penting adalah menulis”.

Saya baru membeli The Catcher in the Rye 13 Januari kemarin. Dan apakah saya juga akan terinspirasi melakukan hal-hal radikal?

Why Tablets Never Attract Me

‎Tablets belong to a clumsy, awkward and outlandish category of gadgets, which is why I cannot care about them less. They are too cumbersome as a mobile device we can use at ease on the go. They attract more people with huge thumbs and fingers, and sadly also more pickpockets and thieves. While you can easily conceal your phone with a 4-5 inch display inside your pockets, phablets (phone-tablet) and tablets are slightly bigger. And it cannot slip smoothly into your trouser’s pockets. Never ever.

Tablets with cellular connection also make you like a dumb caller. I at times see people calling or answering calls on their tablets and I almost giggle when they holler,”Helloo?!” I would say using tablets as a phone is too unfashionable on so many levels.

‎And if you write on daily basis like me, ‎tablets are disastrous tools of writing. A novelist friend gave her tablet a try as a writing tool. She posted it on Facebook. “I’m now trying it!” she announced in a proud tone and ever since she has never bragged about the experience of writing (typing) on a tablet. I am certain she abhorres it to no end after learning how to accurately type words fast with fewer typos. Believe me tablets are not designed for writing. They are more for gazers, window shoppers, consumers, readers.

‎ (Image: GQ Magazine)

Trik Tendangan dalam Ardha Viparita Salabhasana

‎Banyak yang bertanya bagaimana cara mengangkat kedua kaki di udara dalam pose ardha viparita salabhasana seperti yang ada dalam foto. Ada yang mencoba mengangkat dengan langsung menaikkan kedua kaki ke atas perlahan dengan menggunakan tangan sebagai titik tumpuan.

Cara ini memang mudah bagi yang otot-otot core miliknya sudah kuat sekali. Berbanggalah mereka yang memilikinya.

Namun, bagi mereka yang sekurus saya dan kekuatan batang tubuhnya kurang bagus, ada cara lain sebagaimana juga disarankan oleh mendiang B.K.S. Iyengar di bukunya Light on Yoga.

Triknya adalah melakukan tendangan ke udara. Jadi begini caranya. Tengkuraplah di mat, kedua tangan di samping tubuh. Tarik napas dalam, kemudian langkahkan kaki mendekat ke atas. Ingat, bagian tubuh lain masih menempel di matras yoga Anda. ‎Yang boleh bergerak cuma kaki. Angkat satu kaki ke atas dan gunakan satunya sebagai tumpuan. Tarik napas dalam-dalam lalu lecutkan kaki yang sudah di atas dengan diikuti kaki yang lain. Setelah kedua kaki di udara, perlahan hembuskan napas keluar sembari dekatkan telapak kaki ke depan bawah. Anda bisa memilih untuk tidak menyentuh kaki sampai puncak kepala atau ke lantai/ tanah jika memang belum bisa. Versi mudahnya adalah yang di atas. Kaki bisa divariasikan seperti kaki garudasana. Atau lurus saja. Sesuai selera.

Setelah kaki berada di udara, ganti mereka yang otot corenya kuat yang harus kesulitan untuk melengkungkan tubuhnya karena pose ini termasuk jenis asana back bend yang cukup dalam.

Punggung bawah sangat berisiko cedera jika belum cukup banyak pemanasan dan bagi yang sudah pernah cedera otot punggung bawah, berhati-hatilah atau cedera yang lebih parah bisa terjadi.

Dengan kedua kaki di atas, cobalah tahan pose sembari mencoba bernapas normal. Meski sulit, cobalah mengatur napas. Inilah puncaknya, Anda harus tenang dan ‘menikmati’ pose. Ketenangan dan kesadaran akan mengurangi risiko cedera.

Jangan menyudahi pose ini dengan sembarangan. Gunakan satu kaki sebagai penopang tubuh saat mendarat. Turunkan satu kaki kemudian diikuti yang lainnya. Kedua tangan tetap bekerja menopang tubuh dan kaki agar tidak terjatuh ke sisi depan atau samping.

Begitu kedua kaki sampai di tanah‎, jangan serta merta duduk dan berdiri. Idealnya Anda perlu melakukan pose penetralisir (counter pose) sebagai penyeimbang. Pose fetus atau child’s pose bisa dilakukan selama beberapa hitungan napas atau hingga detak jantung kembali normal. Jika lower back masih terasa pegal, berbaringlah kemudian tarik kedua paha ke perut, dan gulingkan badan ke kedua sisi samping. Atau jika masih belum mantap, lakukan pose memilin tubuh (twisting) dalam kondisi telentang. Kaki kanan dilipat kemudian lutut diletakkan ke arah kiri hingga menyentuh mat tanpa harus membuat bahu terangkat. Lakukan sisi sebaliknya. Dan tetaplah bernapas.

Selamat mencoba!

Norah Jones, Election Day, and Disappointment

norah jonesNorah Jones could be one of the greatest jazz female singers of all time. There’s something in her voice that sounds natural. I like the natural-ness of hers as a whole. So honest and sincere. Simply likeable. There’s no abundant use of synthesizer or audio modification to her voice resulting in a heavily edited record. That explains a lot why acoustic music has been my favorite all this time.

In her song below titled “My Dear Country”, I can feel it. And it’s basically not a cheesy love song. So this is very special. Probably one of its kind. A patriotic jazz song.

You’ll like an artist when you hear something clicking after enjoying his or her works of art. You don’t have to speak up but suddenly upon enjoying her/ his work works, you know you’re not alone. You know you’re very well understood. Almost perfectly even. And all of a sudden, the world is lit up.

Even she’s American by nationality, but here I can feel she sings about Indonesia, my country. Because I feel the same confusion as a citizen as well. I don’t know where this nation is heading, to be honest. Even after the new president was appointed, things don’t change at an instant. Yes, I know it takes time to make changes but the more I wait, the more I get drained and my hope is thinning. Are we really headed to betterment? Or another form of destruction? Heaven knows.

The days after the election day show no improvement. There’s only political uproar day by day on media outlets and some nonsensical battle of ‘wits’, if they — those politicians and so-called statesmen — still have.

We Indonesians chose Joko Widodo because “who knows, maybe he’s not deranged”, says Ms. Jones. He may not be as megalomaniac as Prabowo or Soeharto or as melancholic as Susilo. We keep our fingers crossed until now, hoping he doesn’t turn a monster, or even worse, a loser, like the predecessors. We’ve had enough with low quality, corrupt leadership.

Here’s the lyrics for you.

“My Dear Country”

‘Twas Halloween and the ghosts were out,
And everywhere they’d go, they shout,
And though I covered my eyes I knew,
They’d go away.

But fear’s the only thing I saw,
And three days later ’twas clear to all,
That nothing is as scary as election day.

But the day after is darker,
And darker and darker it goes,
Who knows, maybe the plans will change,
Who knows, maybe he’s not deranged.

The news men know what they know, but they,
Know even less than what they say,
And I don’t know who I can trust,
For they come what may.

’cause we believed in our candidate,
But even more it’s the one we hate,
I needed someone I could shake,
On election day.

But the day after is darker,
And deeper and deeper we go,
Who knows, maybe it’s all a dream,
Who knows if I’ll wake up and scream.

I love the things that you’ve given me,
I cherish you my dear country,
But sometimes I don’t understand,
The way we play.

I love the things that you’ve given me,
And most of all that I am free,
To have a song that I can sing,
On election day.

There are, I admit, moments when I want to scream,”I wish my country of origin were not Indonesia!!!” I want to move to Switzerland or any more developed country where welfare is way more well guaranteed by my government. Indonesia is pathetic in many aspects despite its nature beauty and abundant natural and human resources.

Jones loves the things her country has given her and cherish it but she still cannot understand the way the country is run and managed by the insane statesmen and politicians. So do I.

%d bloggers like this: