Indonesian Press Still Has a Lot to Learn

It’s over now but its consequences may last more than we can fathom. The last presidential election proved to be the most destructive phase we have ever undergone ‎in the election history of the republic and also in the history of our national press.

In the previous two post-reform direct presidential elections (in 2004 and 2009), Indonesians had only ‎to choose one from 5 pairs of candidates. But this year, we only had two: Joko Widodo and Jusuf Kalla VS Prabowo Subianto and Hatta Rajasa. For this reason, the scale and intensity of polarization also mounted. Now the Indonesians are mainly segregated by their choice and it has never been this difficult to free them all from the spirit of political competition. Even for press which is supposed to remain neutral while performing their role as the fourth pillar of democracy, it is quite hard for them to stay untouchable from the‎ politics. That is what happens when these politicians happen to be business owners, prominent economic figures, entrepreneurs, etc. They are loaded with interests. And these interests proved to be more formidable than anthing else.

If you read a lot, you may know well that‎ Kompas.com, Tempo.co, Tribun News and The Jakarta Post implicitly and explicitly reveal their bias throughout the reporting by siding Jokowi. The Jakarta Post even published an editorial with the blatant advice for readers to support and vote for Jokowi. If you’re a Jokowi fan, you might like it even more. But if you want totally real and objective news, you simply had to stop wishing. It won’t happen anytime soon. At the same time, people with interests in Prabowo and Hatta Rajasa may turn to sites like VivaNews, Sindonews.com, Inilah.com and OkeZone.com.

Some news outlets, however, stay neutral and objective when it comes to reporting. Take JPNN (Jawa Pos News Network) and Indopos.co.id as two examples. These two are owned by entrepreneur cum bureaucrat Dahlan Iskan but it doesn’t necessarily mean the news is inclined to be in favor of Jokowi (in spite of the fact that Dahlan Iskan openly supports Jokowi)‎. Sadly, these are in fact truly rare.

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (3)

paul engle

Sebelumnya:

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

“Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)”

Schramm yang berbakat ini lebih tertarik dengan komunikasi massa yang saat itu masih dibutuhkan pemerintah AS yang terlibat dalam hiruk pikuk Perang Dunia II.

Paul Engle, Sang Sastrawan Entrepreneurial

Setelah Schramm meninggalkan Iowa ke Washington DC, muncullah sosok lainnya yang menggantikan kepemimpinannya. Paul Engle adalah nama ujung tombak itu.

Engle dibesarkan di Cedar Rapids, sebuah kota kecil. Ia menjalani pendidikan yang lebih tinggi dari sang ayah yang tidak lulus sekolah dan sang ibu yang hanya lulus sekolah menengah. Ia sendiri adalah yang pertama di keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi. Pekerjaan sang ayah adalah berjual beli kuda, sehingga cukup mengagumkan juga jika Engle muda bisa tumbuh sebagai seorang sastrawan terkemuka. Seperti pernah disinggung sebelumnya, tesis Engle adalah karya kreatif pertama di University of Iowa yang diterbitkan dan bisa dibaca oleh kalangan luas. Karyanya “American Song” (sebuah buku koleksi puisi terbitan 1934) diulas di The New York Times Book Review. Karya-karyanya yang lain ialah “Break the Heart’s Anger” dan “Worn Earth”. Engle dianggap sebagai sebuah suara baru dalam dunia puisi Amerika saat itu. Meskipun usianya masih relatif muda dibandingkan penyair-penyair lainnya, Engle disebut-sebut sebagai penyair yang memiliki masa depan cerah. Dan memang, Engle akan menjadi seseorang yang perannya amat penting dalam dunia sastra Amerika, meski bukan karena karya-karya besarnya.

Di tahun 1942, Iowa dikenal sebagai negara bagian dengan sektor pertanian yang menonjol. Saat Iowa belum banyak dikenal di dunia sastra itulah, Engle mengambil alih tampuk kepemimpinan The Iowa Writers’ Worskhop dari tangan Wilbur Schramm yang memilih pindah ke Washington DC untuk terjun dalam komunikasi massa selama berkecamuknya Perang Dunia II.

Engle adalah salah satu peraih gelar Master of Arts (jenjang S2) dalam bidang Creative Work di the State University of Iowa bulan Juni 1938. Sebelum belajar di Iowa, Engle kuliah di Coe College hingga tahun 1931. Ia kemudian belajar di Iowa, lalu Columbia dan melanglang buana ke Inggris, tepatnya di Oxford University sebagai peraih beasiswa Rhodes Scholarship. Engle berhak berada di sana selama 3 tahun. Selama 3 tahun itu, sang sastrawan muda mengelilingi benua Eropa. Begitu kembali ke AS, ia pun direkrut oleh fakultas. Engle menjadi kombinasi yang tepat karena ia adalah warga asli Midwest, berbakat besar sebagai sastrawan, memiliki pengalaman dan jejaring yang luas, memiliki tekad besar dalam mengangkat sastra lokal yang khas Midwest.

Sejak kecil Engle telah akrab dengan sastra. Awalnya Engle muda yang tumbuh di keluarga miskin itu bekerja sebagai seorang penjual koran di jalan-jalan. Setelah bersekolah dari 7.30 pagi hingga 3.30 sore, Engle beralih pekerjaan menjadi seorang pramuniaga toko obat yang bekerja dari pukul 7 malam sampai tengah malam selama 7 hari sepekan. Namun, Engle tidak banyak mengeluh dengan kewajiban bekerja di usia muda karena ia mendapatkan bos yang baik hati. Sang atasan mengizinkannya untuk memiliki satu sudut di belakang toko obat yang khusus diperuntukkan bagi Engle yang ingin membaca atau menulis puisi jika toko sedang sepi.

Terpilihnya Engle terbukti menjadi titik awal perkembangan The Iowa Writers’ Workshop yang lebih pesat dan signifikan. Engle dianggap sebagai sosok yang tepat, dengan perpaduan yang unik antara entrepreneur, akademisi dan sastrawan. Ia menggabungkan dunia bisnis dan sastra sedemikian rupa sehingga saling bisa mendukung perkembangan satu sama lain. Engle berinisiatif untuk membuat sebuah beasiswa bagi mahasiswanya dan dengan kepribadiannya yang hangat dan mudah bergaul, ia berhasil mengumpulkan dana dari kalangan pebisnis lokal Iowa. Sebagian menganggapnya sebagai pengajar yang unik karena Engle tidak meloloskan para calon mahasiswa dengan hanya mengandalkan selembar kertas permohonan tetapi ia juga mencoba menggali bakat-bakat terpendam yang ada.

Engle kemudian mencoba menggiatkan workshop yang ia pimpin dengan mengundang sejumlah sastrawan mapan di masa itu, seperti Robert Lowell, Robert Frost dan Dylan Thomas. Mereka ini didaulat untuk mengajar di kelas-kelas kepenulisan kreatif yang diadakan di sejumlah bangunan barak yang dibangun untuk menampung jumlah pelajar yang masuk ke sana. Setiap kelas akan membahas karya-karya mahasiswa yang sudah dikumpulkan.

Karena masih berlaku GI Bill, kelas-kelas Creative Writing masih didominasi para pria. Namun, kembang kampusnya tetap saja wanita. Flannery O’Connor menjadi mahasiswi yang karyanya cukup dikenal saat itu. Salah satunya ialah “Wise Blood”.

Di bawah kepemimpinan Engle ini, worskhop makin dikenal pasca PD II. Times, News Week dan Live memuat perkembangannya. Alhasil, The Iowa Writers’ Workshop mendapatkan sorotan nasional selama dekade 1950-an. Para mahasiswa dan lulusan makin produktif menghasilkan karya-karya baru.

Engle berperan sebagai seorang juru promosi bakat-bakat baru dan mediator antara kalangan akademisi dengan pebisnis. Salah satu upaya Engle menggairahkan dunia sastra Iowa ialah dengan menyelenggarakan konferensi sastra di akhir tahun 1950-an. Salah satu puncak prestasi yang ditelurkan oleh The Iowa Writers’ Workshop ini ialah diraihnya Pulitzer Prize oleh W. D. Snodgras dengan karyanya yang berupa kumpulan puisi dengan judul “Heart’s Needle”. Posisi Iowa sebagai kiblatnya sastra makin kokoh.

Dekade 1960-an menjadi saksi perkembangan Iowa yang menjadi pusat gaya hidup ala Bohemian. Para penulis muda ini juga tidak luput dari wabah tersebut. Salah satunya ialah Marvin Bell, yang kemudian menjabat sebagai anggota tim pengajar di Iowa Writers’ Workshop tahun 1965 hingga 2005. Program Creative Writing di Iowa ini makin disukai anak-anak muda yang ingin menjalani hidup dengan cara yang tidak konvensional.

Ditilik kembali kiprah dan upaya Engle, patut diakui bahwa ia adalah bidan bagi kelahiran The Iowa Writers’ Workshop. Ia membuat workshop tersebut menjadi lebih dikenal baik dalam skala nasional dan internasional, membawa pengarang-pengarang terkenal ke Iowa, menjembatani dunia bisnis, sastra dan akademis untuk bersinergi bersama. Dengan apa yang ia lakukan sepanjang hayatnya, Engle dapat dikatakan seorang entrepreneur top dalam bidang kebudayaan dan sastra. Engle berperan besar dalam mengelola dana yang masuk ke kampusnya di era GI Bill, saat AS ingin memberikan sejumlah fasilitas untuk memudahkan para veteran perang yang kembali ke tanah air. (bersambung)

Idul Fitri and The Frustration of an Introvert

Our fictitious superhuman Superman has kryptonite, and introverts have their own kryptonite as well: huge crowd, unfriendly jokes, inquisitive and annoying half-strangers having distant blood ties and plenty supply of awkward conversations coming afterwards. And all these things are summed up into one cultural moment: Idul Fitri. I’m not anti Idul Fitri, I am a moslem myself so I of course embrace the spiritual nuance of it but when it comes to social and cultural aspects, Idul Fitri brings more frustration than anything else to an introvert.

As I read Susan Cain’s book “Quiet”, I came to deeper understanding of my own self and psyche. The book really speaks to me. I cannot disagree on so many things elaborated in it. Cain recounts lengthy stories coupled with some scientific explanation on why introverts feel and act and think and work in different ways. ‎I cannot tell you how joyful I am to suddenly have a book which can easily explain and defend my being recluse in a huge congregation, why I find it uneasy to share private stuff in public where too many people can learn and hear without intending to eavesdrop, why I shun public speaking or any appearance that may result in unnecessary public attanetion. Back then I thought my being introverted is “curable”. Yes, I used to perceive it as a disorder because I don’t see many people around me having such personality, or even they are around, they don’t come to sight that much or noticably. Yet, now as I see more people, I encounter more people with this inclination.

Which is why I am so relieved to know I am not alone…

An ideal Idul Fitri, to an introvert, would be depicted as lovely as having no unwanted and unsensitive guests around your house, having no distant relatives that get too curious about your private life details, and the rather lenient convention of spending time in unnecessarily loud and meaningless celebrations. ‎

Cipularang, Keindahan di Jalur Selatan

‎Tahun ini berkat bermasalahnya jembatan Comal di Pemalang, Jawa Tengah, saya berhasil menemukan keelokan pemandangan yang sama sekali baru. Saya tidak mau bersumpah serapah atau stres hanya karena jembatan itu tidak bisa dilalui. Inilah mungkin salah satu cara menjadi fleksibel dalam hidup, yakni menikmati yang masih bisa dinikmati, tanpa harus banyak memusingkan hal yang di luar kendali kita.

Melewati tol Cipularang, saya terhibur dengan pemandangannya yang permai. Kalau lewat jalur Pantai Utara, yang bisa disaksikan adalah hamparan sawah berupa ribuan batang padi yang tumbuh sangat subur. Ada yang menguning, ada yang masih hijau, ada pula yang masih pendek batang-batangnya. Cuaca pun lebih basah, untuk ukuran bulan-bulan pertengahan tahun seperti Juli saat ini.

Bila saya melewati Cipularang di malam hari, mungkin yang saya rasakan adalah bergidik ngeri dengan rekam jejaknya yang relatif buram sebagai ruas jalan tol. Pernah terjadi beberapa kecelakaan fatal dan longsornya jalan di sini. Dan memang jika ditilik dari kontur tanahnya yang berbukit-bukit, sepertinya kondisi geologisnya bukanlah yang ideal sebagai lahan untuk jalan tol. Terlalu labil. Tanahnya terbukti penuh gerakan. Saya sempat menyaksikan retak-retak di badan jalan hotmix, yang bisa longsor atau ambles tanpa peringatan.

Namun, di sore dan petang itu pemandangan di luar masih bisa terlihat. Yang mengagumkan adalah menyaksikan bagaimana kokohnya jembatan-jembatan penyambung jalur kereta api peninggalan Belanda yang malang melintang antara satu bukit ke bukit lainnya. Meski hampir seabad berdiri di alam bebas, tak terlindung oleh apapun juga di bawah cuaca yang berubah-ubah dan ekstrim, toh masih berdiri kokoh. Bandingkan dengan banyak proyek saat ini yang menggunakan teknik konstruksi yang terkesan asal-asalan. Lengkungan-lengkungannya sungguh mengagumkan. Jarang dijumpai bangunan bergaya demikian di Indonesia.

Sawah-sawahnya juga mengingatkan saya dengan terasering khas Ubud di Bali. Sangat indah ditimpa sinar matahari sore yang makin redup di akhir bulan Syawal 1435 H.

Selamat Idul Fitri…
Minal aizin wal faidzin …
Taqoballahu minna wa minna wa minkum…

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

tabardSebelumnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

Kepenulisan Kreatif sebagai Disiplin Ilmu Akademis

Carl Seashore, seorang psikolog yang tertarik dengan pengukuran bakat musik dan skolastik, mengepalai Graduate College (semacam Program Master/ S2) saat 1922 Iowa menjadi kampus besar pertama di AS yang bersedia menerima karya-karya sastra kreatif untuk gelar lanjutan, bukan hanya sarjana/ S1. Mereka memberikan gelar Master of Fine Arts dengan 4 konsentrasi berbeda: Musik, Seni Drama, Seni Plastik dan Grafis, dan Kepenulisan Kreatif.

Dalam lingkup pascasarjana seperti ini, perkembangan seni menjadi makin bergairah. Edward C. Mabie (pengajar Bahasa Inggris dan Pidato 1920-1955) makin dikenal dengan program teaternya. Brent Wood muncul dengan kiprahnya dalam dunia seni lewat program seni University of Iowa karena tema regionalitasnya. Iowa juga tidak hanya makin melejit dalam sastra tetapi juga seni secara umum. Para mahasiswa berlomba-lomba menghasilkan komposisi musik baru, lukisan, koleksi puisi. Dua orang mahasiswa yang paling menonjol saat itu ialah Wallace Stegner dan Paul Engle. Engle menulis sebuah buku koleksi puisi, yang juga adalah bahan tesisnya, yang kemudian dipublikasikan untuk umum untu pertama kalinya di kampus tersebut. Ini berbeda dengan tesis-tesis di Indonesia yang kebanyakan menganalisis karya-karya sastra milik orang lain dan tidak diperkenankan untuk dibaca kalangan umum. Akibatnya, koleksi tesis menjadi kumpulan kertas berdebu di rak perpustakaan.

Tidak Cuma Jadi Kritikus, Tetapi Produsen

Meski kepenulisan kreatif sudah mulai berkembang, kurikulum bahasa Inggris di Iowa masih fokus pada beasiswa. John Towner Frederick, pengajar di University of Iowa dan pegiat klub kepenulisan, menyadari bahwa hal ini bisa kontraproduktif bagi perkembangan sastra Midwest. Jika jati diri sastra Midwest ingin ditegakkan, fokus yang terlalu berlebihan pada studi ilmiah terhadap bahasa dan sastra perlu dibatasi. Dalam sebuah surat pada pimpinan kampus, Frederick menuliskan:

“I know that you are fully aware of the many evidences of a rapidly awakening literary consciousness in Iowa and in the other states of the middle west. Chiefly because of the foundations laid by Professor Ansley and professor Hunt, and in some degree because of the work of Professor Piper, Professor Mott and myself, the University of Iowa is in position of acknowledged leadership in this development. I believe that the people of the state recognize and value this achievement of the university.

In recent years, however, the tendency in our English department has been toward increased emphasis upon philological investigation. It dominates our graduate work to the almost complete exclusion of creative effort. The natural effect is to fill the ranks of our instructors with men and women whose primary interests are in research, and this interets is of course expressed in their teaching. Within a few years, by the continuation of this process, our leadership in creative effort in our region will be lost. […]”

Inilah sebuah keprihatinan yang patut diapresiasi dari seorang akademisi yang ingin agar para mahasiswanya tidak cuma bisa membedah karya milik orang lain dengan perangkat teori dan penelitian kebahasaan tetapi juga mampu menghasilkan karya-karya sastra sendiri. Hal inilah yang sedang kita alami dan saya sendiri rasakan selama menempuh pendidikan di kampus-kampus Indonesia. Kecenderungan untuk menjadikan bangku kuliah sebagai sebuah meja penelitian daripada meja untuk menuangkan ide-ide kreatif terlihat dari preferensi para pengajar dan mahasiswa dalam penyusunan karya akademis untuk menentukan kelulusan. Seseorang dianggap lulus jika mampu menganalisis karya, bukan memproduksi karya. Alhasil, lulusan menjadi ‘kurang tajam’ saat harus menjadi sastrawan, dan berakhir menjadi kritikus semata. Namun, jangankan menjadi kritikus, sebagian besar malah tidak lagi menekuni sastra setelah mengantongi gelar Sarjana Sastra atau Magister Susastra.

Seorang pengajar sepakat dengan gagasan yang dilontarkan Frederick untuk memperkuat aspek produksi kreatif sastra di kampus mereka. Norman Foerster (Direktur School of Letters tahun1930-1944) yang belajar di Harvard University menyadari perlunya perhatian khusus pada kepenulisan kreatif.

Hingga dekade 1930-an, kelompok-kelompok sastra seperti The Times Club mengundang beberapa sosok terkenal dalam dunia sastra untuk berbagi karya dan pandangan mereka di Iowa. Audiens berkerumun untuk menyaksikan, misalnya, Thomas Hart Benton, Langston Hughes dan Stephen Vincent Benet. University of Iowa meneruskan tradisi tersebut.

Secara formal program kepenulisan kreatif (Creative Writing) dibuka tahun 1936. Di tahun 1939, jurusan ini baru memiliki pimpinan. Seorang lulusan Harvard bernama Wilbur Schramm datang ke kampus ini untuk mengikuti pendidikan S3 di bidang Sastra Inggris. Bakat menulis Schramm amat memukau. Ia sering menulis cerita di berbagai media dan sebagai pengajar, Schramm juga mengampu sebuah kelas bernama “Writers’ Workshop”. Istilah “workshop” seolah menjadi penegas bahwa ilmu menulis bukan cuma bakat bawaan seseorang tetapi juga bisa dipelajari, diajarkan dan dapat ditularkan pada sebanyak mungkin orang. Schramm seolah ingin menunjukkan bahwa meskipun bakat diperlukan jika ingin menjadi penulis, bakat itu sendiri bisa dibentuk dan ditempa melalui praktik yang intensif. Semangat utama dalam workshop semacam itu ialah bahwa bakat bisa ditemukan, bisa dibentuk, dan bisa diajarkan. Di saat yang sama, harus diakui bahwa ada elemen-elemen yang tak bisa diajarkan, misalnya seni di dalam sastra. Tetapi sekali lagi, ada juga unsur-unsur yang bisa diajarkan seperti bentuk dan tata cara menulis yang baik dan menarik bagi pembaca. (bersambung)

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)

iowa
Image credit: The University of Iowa

Midwest, bagian barat tengah negeri Paman Sam, di telinga saya lebih lekat dengan cerita-cerita koboi dan para penjelajah yang berani dan penuh semangat petualangan. Midwest yang terletak di tengah-tengah daratan Amerika Utara terdiri dari 12 negara bagian yakni Illinois, Indiana, Kansas, Michigan, Minnesota, Missouri, Nebraska, North Dakota, Ohio, South Dakota, Wisconsin dan yang tak kalah penting Iowa. Kawasan ini dianggap sebagai jantung Amerika, dan berperan penting dalam ekonomi dan politik AS. Midwest menjadi pusat pertanian dan industri berat AS. Dalam kacamata politik, negara-negara bagian di sini kerap menentukan kemenangan atau kekalahan kandidat atau partai yang bersaing.

Ketertarikan saya pada Iowa bermula setelah saya menyaksikan penuturan dua novelis top AS John Irving dan Anne Patchett yang mengatakan karir mereka sebagai sastrawan bermula di sini. Seperti apa Iowa? Dan mengapa sampai anak-anak muda yang ingin menjadi sastrawan berduyun-duyun ke sini sejak abad ke-19?

Saya belum bisa mendapatkan jawabannya secara langsung karena belum pernah datang ke Iowa langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di sana tetapi untungnya, saya menemukan sebuah dokumenter bagus berjudul “City of Literature” di YouTube mengenai Iowa dan perkembangannya sampai dijuluki sebagai ibukotanya sastra di dunia.

Surganya para penulis, itulah Iowa. Kota ini memiliki program pendidikan dalam penulisan kreatif (creative writing) yang dikenal sebagai The Iowa Writers’ Workshop. Selama lebih dari 4 dekade, tempat ini telah disambangi oleh para penulis tersohor dari berbagai negara. Alumni dan pengajar The Iowa Writers’ Workshop total telah mengantongi lebih dari 40 anugerah kepenulisan bergengsi Pulitzer Prize. Bagaimana Iowa bisa menjelma seperti sekarang? Berikut kisah perjalanannya.

Dari Pendatang yang Melek Sastra

Di pertengahan tahun 1800-an, penulisan kreatif sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu yang patut dipelajari secara terpisah dalam lembaga pendidikan akademis yang formal.

Seperti dituturkan oleh Loren Glass (Profesor Bahasa Inggris), University of Iowa didirikan pada tahun 1847. Saat itu, belum diajarkan penulisan kreatif. Kebebasan mengutarakan pendapat belum diwujudkan dalam jiwa sebuah institusi.Kampus itu lebih bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya.Di sini adalah tempat diproduksinya para dokter, pengacara, insinyur, dan kaum profesional terdidik yang dibutuhkan oleh masyarakat di “frontier state”, atau negara-negara bagian di AS yang masih sukar dijangkau atau masih jauh dari pusat keramaian seperti New York atau Boston yang banyak dikenal sebagai kota niaga dan pelabuhan yang hiruk pikuk.

Awalnya, bahasa dipelajari sebagai sebuah subjek studi ilmiah semata, bukan sebagai sebuah disiplin ilmu kreasi atau seni di kampus ini. Namun, dalam perkembangannya menjadi makin luas adari lingkup ilmiah tersebut.

Sementara itu, Mary Bennett dari State Historical Society of Iowa menyatakan akar ketertarikan kuat masyarakat kota Iowa pada dunia susastra adalah para kaum penjelajah kulit putih pertama saat masa-masa awal berkembanganya Iowa yang menunjukkan minat yang tinggi dalam belajar secara mandiri. Mereka memiliki banyak perpustakaan pribadi di rumah dan cakupan koleksinya tidak melulu kajian relijius tetapi juga kisah-kisah sastra klasik. Mereka membaca Injil, karya-karya Shakespeare hingga karya keluaran para sastrawan lokal AS. Sejumlah pegiat sastra AS dan Inggris pernah menyambangi Iowa. Tercatat ada Mark Twain yang mengunjungi Iowa pada tahun 1867 untuk memberikan ceramah, kemudian ada Ralph Waldo Emerson yang berkunjung di tahun yang sama. Sastrawan eksentrik dan flamboyan asal Inggris Oscar Wilde penulis “The Importance of Being Earnest” ini juga pernah mampir tahun 1882. Sastra asli yang berkembang di Iowa berkisah lebih banyak mengenai kisah eksplorasi kaum pendatang ini di daerah baru yang asing dan masih kosong.

Masyarakat Sastra Iowa ‘Berkecambah’

Geliat sastra di Iowa mulai muncul saat para mahasiswa di kampus University of Iowa. Terbentuklah Zetagathian Literary Society, masyarakat penyuka sastra Iowa, yang mulai mengakar di lingkungan akademis. Apa yang dilakukan oleh para pegiat sastra muda ini ialah membaca karya-karya puisi klasik dan populer saat itu bersama-sama dalam satu ruangan.

Satu hal yang membedakan kota Iowa dari kota-kota lain dalam hal atmosfer pendidikan ialah aroma egaliter yang kental. Di Iowa, karena jauhnya mereka dari kampus-kampus berpengaruh seperti Harvard dan Yale yang berlokasi di Pesisir Timur, mereka dapat berkembang lebih unik dengan mengedepankan semangat persamaan atau egaliterianisme. Ambil contoh saja Polygon Club (sekitar tahun 1893), yang menampung para penyuka sastra tanpa memandang jenis kelamin. Di negara-negara bagian lain, kesempatan belajar yang setara semacam ini belumlah ada. Itulah mengapa Iowa termasuk istimewa. Di sini, para pria dan perempuan sama-sama mendapatkan peluang yang setara dalam membuktikan diri dan mengikuti perbincangan yang bermakna mengenai berbagai karya sastra yang mereka produksi sendiri.

Beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah mata kuliah baru dalam katalog University of Iowa. Di musim semi 1897, “Verse Making” merupakan mata kuliah pertama yang bertema penulisan kreatif dalam bidang puisi. Pengampunya adalah Prof. George Cram Cook, yang warga asli Iowa dengan pendidikan dari Harvard University.

Cook dan rekan-rekannya masuk dan aktif dalam berbagai kegiatan klub-klub menulis yang bertebaran di Iowa. Banyak klub menulis tersebut yang didorong perkembangannya oleh sejumlah tenaga pengajar berpengalaman University of Iowa seperti Edwin Ford Piper (pengajar Creative Writing tahun 1905-1919), Frank Luther Mott (pengajar jurnalisme dan bahasa Inggris tahun 1921-1942) dan Clark Fisher Asley (pimpinan Jurusan Bahasa Inggris tahun 1899-1917). Para pengajar tersebut menjadi model-model pelaksana dan pencetus berbagai kegiatan lokakarya atau workshop kepenulisan.Selain Polygon Club, ada juga klub lain yang tak kalah menonjol, yakni Tabard Club yang dikenal tahun 1915. Yang menjadi ciri khas dari semua klub kepenulisan di Iowa ialah tema-tema karya sastra mereka yang fokus pada regionalitas.

Karya-karya sastra yang dihasilkan seolah ingin membedakan diri dari arus mainstream atau aliran sastra yang sudah mapan di Boston, New York dan sastra yang berkembang di daerah Pesisir Timur AS.

John Towner Frederick adalah orang yang percaya bahwa Iowa akan bisa menjadi sebuah tempat yang tiada duanya bagi kalangan sastrawan karena karakter Midwest yang kuat. Frederick yang juga mengajar di University of Iowa ini mewujudkan ambisinya dengan menerbitkan sebuah majalah bernama “Midland” di tahun 1915. Sosok lainnya yang setia dengan tema regionalitas ialah Benjamin Shambaugh, pengajar di Iowa sejak tahun 1900 hingga 1940. Mereka yakin bahwa Iowa juga harus mengangkat identitas mereka sendiri dalam karya-karya sastra mereka, tidak hanya menjiplak dari yang sudah populer di wilayah AS lainnya. Keteguhan Frederick dan Shambaugh dalam menunjukkan jati diri Iowa dalam sastra inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi Iowa untuk menduduki peran sebagai pusat perkembangan sastra yang tidak bisa diremehkan di negeri Paman Sam.

Baca Selanjutnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

Panduan Hootsuite untuk Pemula

Bagi Anda yang ingin mempelajari bagaimana menggunakan platform manajemen akun jejaring sosial Hootsuite secara praktis dan efisien serta GRATIS, video tutorial ini tepat untuk memberikan sekilas gambaran mengenai caranya. Dikemas dalam bahasa yang lugas, simpel dan mudah dipahami, Anda akan tahu mengenai dasar-dasarnya. Dan jika Anda memang memiliki kebutuhan berjejaring sosial yang lebih intens lagi, Anda bisa mendaftar untuk berlangganan Hootsuite Pro, yang keistimewaannya adalah memungkinkan Anda mengelola 6 akun jejaring sosial lebih! Belum lagi berbagai fitur analytics yang memudahkan marketing yang lebih jitu. Selamat menyimak

Once Upon an Afternoon in Monas

So I happened to be at the ‘epicentrum’ of another political drama that Friday afternoon. One of the presidential election candidates who was declared lost didn’t seem to give up. And they filed a legal suit against KPU and the triumphant opponent. As a nation, we have seen more than enough drama. I believe millions others feel and agreed on this. We’re all tired of these incessant exchange of libelous statements or insults, which in turn prove how disgraceful these politicians actually become. To make it all worse, the media plunged into the raging wars on the web, sparking tsunamis of overly optimistic claims, agitations, self defense, self bragging and so forth.

But my eyes were focused on more interesting a phenomenon. With all the political unrest going on, I saw a group of foreign tourists taking an afternoon stroll without fear. Another young Caucasian male with a backpack was also spotted walking alone without giving a damn to the demonstration just across the street. He was showing no anxiety as well. It was like another afternoon in Jakarta, literally. Everything ran normally, except when you watch TV or read the newspapers. Things would be a lot more different. Jakarta would look like a riotous city, though it was in fact peaceful. The demonstration was under control. No violence was involved in any movements. So far we haven’t seen anyone getting killed horrendously.

Two of the foreign tourists scattered throughout Jakarta that afternoon were Dieter and Pia who are from Switzerland, Europe. I bumped into them in National Monument or famously called “Monas”, Central Jakarta. When I asked them why they decided to visit Indonesia during this political turmoil, they quipped,”We believe Indonesia is safe.”

“Maybe it’s not the smartest idea to choose this point of time (to visit Indonesia),”said Dieter who I saw taking pictures with Pia. Compared to African and South American countries, Indonesia according to Dieter and Pia is relatively safer to explore. “The risk is not that big, we believe…” They have an acquaintance in the capital who told them it is not the best time to travel here. “It’s presidential election and Idul Fitri holiday, but well we have no option,”Dieter added. Although it is a vacation season where million people have booked all the available tickets, Pia explained, it is still relatively easy to get them. So far their trip runs well.

Though Indonesians are known for their hospitality, complained Dieter, some of them sometimes rip foreigners off by selling goods five times the price. “You have to be smart and start to negotiate.”

One thing that separates Indonesian tourists and foreigners is that these foreigners tend to prefer private tours while Indonesians like to be a guided tour in a huge group. This preference, I suppose, has something to do with budget. With more people on tour, you only need to pay less money, and vice versa. Yet, Dieter and Pia like going around and visiting locals better than anything else. They seem to be more interested in seeing how natives live their lives. Alas, they were too late! Jakarta was left by millions by the time they got here. The next time they really want to get to know Jakartans in reality. Indonesians most of the time only get interested in going shopping and taking pictures of landmarks. How do I know? Because I am one of them.

Dieter has also something to say about the democratic process in the country. As I raised the question on the presidential candidate who claimed there was unfairness in the recapitulation process, he said,”What we believe, which is really important because Switzerland has a direct democracy where people can vote on all kinds of stuff. What is important in our culture is that you accept if there is a vote on something, or in elections you accept the results. You know what I mean, it’s considered a bad habit if there is a democratic election and then your party loses, you have to accept it, that’s the process of democracy. After you lose something, you cannot go on the street and challenge. You shouldn’t do that.” Of course, we cannot expect Indonesia to be as democratic, efficient, violation-free and transparent as Switzerland, because we have more than a hundred million voters, but what matters most is the mindset of the people while democratic events are in progress. Indonesia as an emerging nation might still have a long way to go towards a better state of democracy but they are already on the right track.

Dieter points out that if Indonesia wishes to accelerate and maintain its economic growth, what it badly needs is a democratic political system. “I don’t believe that the Chinese system will work for a long time because only if people feel they have the control over their country then the full economic potential comes to them. There is no single country that historically has managed through way of a dictatorship that becomes a sustainable and suscessful in business. You see all the advanced economies at some point switched to a democratic system.” In China he thinks it’s only a matter of time when they have to open up and right now what they can do is suppressing the democratic unrests. “They (the Chinese ruler) can do it for some time, but not forever,”Dieter argued. Political freedom should go hand in hand with the freedom of economy, he affirmed. So he feels optimistic that Indonesia’s economy and welfare, provided that they continue practicing the democratic system, will improve. I couldn’t agree more on this. As I came back from China last June, I recall one punching line blurted by our tour guide. She said,”To be honest, Chinese people are not rich. It is the government which is wealthy.” As she uttered that, she cast her glance at the Shanghai sky which is full of towering magnificent skyscrapers.

To the West, the perception on Indonesia is “strong”, Dieter said. In Switzerland, people believe Indonesia is very attractive a market that will take some time to develop. As Dieter put it, there are a lot of potentials like we all have 250 million people, we have fertile ground, so it’s just a matter of making the right choice.

20140725-210921-76161215.jpg

Must an Aspiring Writer Take Paid Writing Courses and Have a Writing Mentor?

‎I am an aspiring writer myself and I once heard some award-winning authors in Indonesia like Ayu Utami opened a public writing courses or classes. This is not only as part of a writer’s credential or “license to write” to some. But to me it means a lot more than just something to add to your portfolio on LinkedIn so there would be more people on the web know your writing expertise.

At first I was just questioning. I argued paid writing classes would be just a waste of money. I thought it was only a way of these artists of words to make more money off of their fans base. Senseless, I know. But you know the main message:paid courses are relatively useless. I could just practice or write some books I can buy anywhere.

Yet, today I discovered it is not the case. I need living mentors. I need talks, inputs, feedbacks, criticism, praise as well as mockery. And books, however they can be inspiring and insightful, won’t bring me a great deal of invaluable lessons acquired through human interactions. These humans I interact with had better be a group of trusted, experienced professionals whose words I can rely on to propel myself forward.

So besides the lure of certificates to adorn the LinkedIn resume, ‎I am now trying to convince myself to sign up for a writing course. Because seriously, I want to improve my writing skills. I want to be as professional as I can be in this very field.

So if you ask me now the same question in the title above, I guess you now know the answer.

Diving into the World of Motions

‎Moving is the essence of life and by motions, we can identify whether someone is still alive or dying or simply dead.

In the world of dancing, you’ll have to see plenty of motions, coming up and down, moving left and right, swirling, tumbling, stomping, gasping. One may take a break but rarely does a dancer remains silent and still for too long a time. Especially when it is time to perform on stage.‎ ‎
For weeks, these young budding future professional dancers haven’t seemed to give up easily when it comes to going through the painful process of creation. The clock strikes 9 pm and some young men and women in their twenties still move ‎without stopping.

I am no professional dancer, or even an aspiring one. I was involved in the dance performance simply because I was expected to add some yogic flavor to it. I could be exploring the motions as much as I wanted to. Nothing to lose if I made any mistakes during the performance, but I would rather not anyway. ‎
A girl, who happened to be the choreographer, made me move in such a sequence I found it hard to memorize. Someone can be flexible but he is not necessarily able to dance like a pro. And that was exactly what I felt. The way these dancers moved their bodies simply didn’t resemble the way a yogi like me moved.

The next challenge arose when I was demanded to add some typical dancing movements in my yogic sequence. I, who is not really keen to memorize a series of movements (it even took me quite a while to memorize sun salutation A and B plus the breathin techniques back then), now was obliged to dance. Yet, I thanked my choreographer for acknowledging my non-dancing background by letting me move freely as long as I moved slowly and artistically and esthetically before the audience. “Just explore,”she told me. Suddenly, I likened the word ‘explore’ to ‘freedom’. A huge relief indeed because I hate to move under strict instructions (with yoga instructions as the exceptions. Double standard, I know).

That night, we rehearsed and everyone sweated, I didn’t. I moved but I didn’t sweat as profusely. That was because I had to perform only about 30 seconds. And I can’t tell you how much I thanked the photographer for that. Had she assigned me to dance much longer, maybe I would have given up it all.

As a writer and yogi, I found similarities between dancing and writing and yoga. One of them is the pursuit of perfection through repetition. Writing, as I once heard, can be defined as rewriting processes. To produce great works for readers, a writer needs to rewrite, again and again and again. John Green cannot agree more on this. It applies to yoga, too! I almost fainted out of accumulated boredom and pressure when my yoga guru made us all repeat the materials and cues and sequences. We got too tired, dead tired even, but he didn’t even consider making it all a bit loose in the process. A torment required to discipline the mind and body? I cannot say for sure but one thing I know for sure, I stop learning under overwhelming pressure. Yes, I break and don’t make it at times. But I stop condemning myself for being so weak and undisciplined. I once came to realization that whenever I study with a little or no pressure, I achieve better. ‎
‎However, I seem to have to admit that in some aspects of life, one needs to have much more rigid sets of rules to discipline oneself. And that is not easy. It is what we call total commitment; neglecting everything and focusing on only one thing. Here, in the performance I learn that the hard way.

Sinclair Lewis Declined Pulitzer

A Guy's Moleskine Notebook

I mentioned Sinclair Lewis declined the Pulitzer Prize. In 1926, on discovering that his novel, Arrowsmith, had been awarded what was then called the Pulitzer Prize for the Novel, author Sinclair Lewis wrote the following letter to the Pulitzer Prize Committee and declined the honor. He remains the only person to have done so. I enclose his letter in full:

For Release Thursday, May 26th, 1926

To the Pulitzer Prize Committee,
Courtesy of Mr. Frank D. Fackenthal, Secretary,
Columbia University
New York City

Sirs:—

I wish to acknowledge your choice of my novel “Arrowsmith” for the Pulitzer Prize. That prize I must refuse, and my refusal would be meaningless unless I explained the reasons.

All prizes, like all titles, are dangerous. The seekers for prizes tend to labor not for inherent excellence but for alien rewards: they tend to write this, or timorously to avoid writing that…

View original post 636 more words

Pilpres Bikin Stres

Karena pilpres, kita bisa dapat libur sehari dan pulang pagi. Enak ya? Tetapi itu kalau cuma dipandang dari kebebasan untuk tidak bekerja seperti biasa. Dalam kenyataannya pekerjaan malah menumpuk.

Helikopter beterbangan di atas langit sore. Para karyawan berhamburan pulang lebih awal, tak mau menyia-nyiakan waktu untuk bersantai di rumah dan menghindari terjebak dalam kemacetan yang bisa memaksa berbuka di jalanan penuh asap menyesakkan.

Paranoia menyeruak. Semua perhatian tertuju pada tengah kota ini, bak ada pusat gempa yang super raksasa, padahal kenyataannya di luar lensa kamera, keadaan aman-aman saja. Namun, siapa yang percaya begitu saja? Ada yang sedang gila di luar sana? Takut kalau ia mengamuk luar biasa? Biarkan saja. Masukkan rumah sakit jiwa.

Heran juga. Kapan kita semua bisa lepas dari prahara, atau “Prahara”? Apa susahnya, biarkan bangsa damai sekarang juga.

Kalau dari sisi sastra, pilpres ini bisa ditulis seperti epos atau babad. Banyak drama yang menghipnotis, seru, sendu, memeras air mata, merangsang sumpah serapah dan pelajaran moral plus etika yang berlimpah. Belum lagi debat-debat gila, intrik kotor, fitnah durjana, sampai manuver para penjilat, oportunis serta borjuis.

Mungkin 1000 tahun lagi, para akademisi akan mengumpulkan teks-teks yang mereka dapat dari tidak hanya buku-buku klasik di perpustakaan tetapi juga data-data triliunan terabyte yang tersimpan dalam server-server kuno ala abad-21 yang memuat artikel-artikel ilmiah yang objektif sampai tulisan di blog picisan, lautan file-file video, meme, foto, gif, pdf, podcast, tweet dan status Facebook yang menyampah tentang Hikayat Wowo Wiwi. Lalu badan-badan bahasa dan pendidikan akan menetapkannya sebagai karya “canon” dan mewajibkan para siswa membaca kisah legendaris itu. Orang-orang tua membacakannya sebelum tidur pada anak-anak mereka seperti orang-orang tua saat ini membacakan Kancil Mencuri Mentimun atau Bawang Merah Bawang Putih. Bisa jadi akan ada dramatisasi, distorsi dan bumbu di sana-sini, berkembang berbagai versi tetapi esensi masih sama.

Entah seperti apa isi kisah yang akan dibaca anak-anak abad ke-31 itu. Apakah protagonisnya Wowo atau Wiwi? Terlepas dari itu semua, bangga juga rasanya saya, Anda dan kita semua jadi bagian dari kisah bersejarah itu.

%d bloggers like this: