Gonjang-Ganjing Rupiah (Indonesia Belum Kiamat)

Indonesia seperti tertampar. Sanjungan-sanjungan super manis mengenai betapa cerahnya prospek ekonomi negeri yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-68 bulan ini seolah menguap seiring makin merosotnya nilai tukar rupiah. Inikah realitas yang sesungguhnya?
Lembaga pemeringkat investasi Fitch juga sudah memperingatkan pemerintah kita agar secepatnya mengambil tindakan jika tidak ingin terseret arus krisis ini. Kabar gembiranya, kita tidak tenggelam sendirian. India juga demikian.
Kondisi Indonesia memang tidak seburuk tahun 1998 atau bahkan 2008. Namun, Bank Indonesia sudah mengambil tindakan pencegahan krisis. Ok, why the hell should I write about this here on my blog?
Karena saya sedang menyaksikan acara talkshow MNC TV (3rd anniversary MNC TV) bertema makro ekonomi yang diadakan entrepreneur dan politisi Hary Tanoesoedibyo.
Sekali lagi, memang sinkronisasi visi dan misi mengenai arah kebijakan perekonomian kita sangat PAYAH! Pemerintah mau kita terus maju, cepat, pesat, melesat. Akan tetapi di sisi lain BI seolah hendak mengerem pertumbuhan itu.
Melihat ke panggung, seolah ada 2 kubu: kubu pengusaha dan pelaku bisnis yang diwakili Hary dan Sofjan Wanandi ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan kubu pengambil kebijakan yang diwakili Difi Johansyah Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia dan ekonom Purbaya. Yang lucu di panggung, mereka awalnya seperti mau berkelahi, di sesi break juga masing-masing menolak berbicara sepertinya. Sofjan mencondongkan tubuhnya ke Hary, dan Difi ke Purbaya yang tampaknya lebih membela BI dengan statement: “Tak semudah teorinya pak!”. Lalu di sesi break berikutnya, mereka berempat sudah akrab dan saling bertukar pendapat. Ah, boys will be boys. Setua apapun manusia pasti ada sisi kekanak-kanakannya.
Jika Indonesia memang bisa lolos kali ini, patut dihargai bahwa perjuangan para penentu kebijakan ini dilakukan tanpa intervensi lembaga asing seperti IMF atau CGI.
Tetapi yang paling penting lagi apakah semua ini bisa membantu rakyat dari himpitan kemiskinan dan beban hidup yang tidak ada habisnya.
(Ok, itu gaya jurnalis formal untuk situs bisnis. Lalu sekarang pakai gaya blogger yang lebih lepas.)
Ultah MNC Business yang ketiga ini memang berkesan relatif meriah kalau disaksikan di layar kaca tetapi saat saya di sana menyaksikannya sendiri, ternyata ukuran ruangnya tidak sebesar bayangan saya. Mungkin bisa dikatakan seperempat kapasitas ballroom di hotel Mulia Senayan.
Pengaturan acara ini aneh. Pertama, ada teman saya yang bernama Ailsa yang mewakili Unesco yang diundang tetapi tidak mendapat kursi di meja untuk jamuan makan malam. Untuk awak media seperti saya, mungkin masih bisa memahami kalau kami dipisahkan dari tamu undangan penting alias VIP, tetapi teman saya diundang bukan sebagai pewarta. Sangat aneh. Jangan salahkan jika Ailsa pulang segera setelah masuk ruangan.
Sebagai sebuah perusahaan media yang sedemikian besar, MNC tidak menyediakan naskah press release apapun. Dan saya tidak bisa memahami ini. Apakah penyediaan selembar press release itu terlalu berlebihan, memberatkan atau menguras tenaga, waktu dan uang? Sebagai jurnalis, saya hanya mau deskripsi singkat tentang acara yang saya liput. Saya mau tahu nama-nama orang yang hadir, nama dewan juri yang dilibatkan, rincian mengenai poin-poin penting yang disampaikan CEO dan itu semua supaya laporan yang saya susun lebih akurat.
Dan saya menyayangkan sikap kurang profesional sebagian panitia yang berteriak kepada temannya,”Fotonya cuma dikasih untuk tamu VIP ya!!” Saya ada di hadapannya di meja pendaftaran dan saya bukan tamu VIP. Jadi saya agak terkejut dengan ekspos informasi internal yang terlalu frontal ini. Saya bukan gila hormat tetapi setidaknya instruksi itu diberikan secara lebih tertutup dan terpisah sehingga tidak melukai perasaan mereka yang tergolong “Not Very Important Person”.
Sangat tidak adil kalau saya menilai acara ini buruk seluruhnya. Tenang, tidak seburuk itu. Sebagian panitianya ramah-ramah dan mengatakan bisa membantu meski nyatanya tidak demikian. Misalnya, saya meminta press release. Alih-alih membuat saya kecewa dengan jawaban telak seperti “Press release tidak disediakan,pak”, mereka memberikan jawaban yang menggembirakan tetapi kabur. Semacam lip service. Saya girang mulanya, menunggu press release sembari menyibukkan diri berkeliling ruangan lalu akhirnya menyerah pasrah dengan kenyataan tak ada press release resmi untuk acara ini.
Tentang makanan, tidak ada masukan dari saya. Semuanya ok. Bakwan Malangnya pas, terasa gurih dan hangat di badan yang agak meriang di kepungan pendingin ruangan terpusat di Menara MNC. Nasi Langgi yang disediakan juga lezat. Sayang, mungkin kalau menu buah dan sayur segar ada, pengalaman bersantap akan lebih baik.

1 Comment

Filed under writing

One response to “Gonjang-Ganjing Rupiah (Indonesia Belum Kiamat)

  1. Iya nih aku mewakili bos bule ga dikasih kursi, cuma dikasih goody bag. Wondering, kalau Bosku sendiri yang datang apakah akan dikasih kursi atau nggak.

    Daripada repot ngundang nggak ngasih kursi kan mendingan mereka bayar rombongan alay aja. Bikin repot, buang2 bensin pulak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s