8 Tingkatan Yoga

Instructor de Hatha Yoga practicando la postur...

Instructor de Hatha Yoga practicando la postura inversa “Kapalasana” (Photo credit: Wikipedia)

Alat yang tepat sama pentingnya dengan tujuan akhirnya. Patanjali menyebutkan semua alat ini sebagai 8 tangga atau tingkatan Yoga untuk pencarian jiwa. Kedelapan tingkatan ini ialah:

  1. Yama (perintah moral universal)
  2. Niyama (pemurnian diri dengan menerapkan disiplin)
  3. Asana (postur)
  4. Pranayama (pengendalian pernafasan secara berirama)
  5. Pratyahara (penarikan dan penaikan pikiran dari dominasi indrawi dan objek eksternal)
  6. Dharana (konsentrasi)
  7. Dhyana (meditasi)
  8. Samadhi (keadaan sadar diri sepenuhnya yang dicapai dengan meditasi mendalam, yang di dalamnya sadhaka atau orang yang belajar menyatu dengan objek meditasinya – Jiwa Universal atau Paramatma)

Yama dan Niyama mengendalikan semangat dan emosi yogi dan menjaganya tetap selaras dengan mereka yang ada di sekelilingnya. Asana menyehatkan dan menguatkan tubuh serta menyelaraskannya dengan alam. Akhirnya, sang yogi terbebas dari kesadaran ragawi. Ia menaklukkan badan kasarnya dan mengubahnya menjadi sebuah kendaraan yang sesuai bagi jiwanya. Ketiga tahap yang pertama merupakan pencarian ke luar (bahiranga sadhana).

Kedua tahap berikutnya, Paranayama dan Pratyahara, mengajarkan pada yogi bagaimana mengatur pernafasan, dan mengendalikan pikiran. Ini membantu membebaskan indra dari cengkeraman objek-objek yang dikehendaki. Kedua tahapan Yoga ini dikenal sebagai pencarian ke dalam (antaranga sadhana).

Dharana, Dhyana, dan Samadhi membawa yogi menuju ketenangan jiwa yang paling dalam. Yogi tidak mencari ke atas untuk menemukan Tuhan. Yogi mengetahui bahwa Tuhan ada di dalam, yang dikenal dengan “Antaratma” (Jiwa Sejati). Ketiga tahap terakhir membuatnya selaras dengan dirinya sendiri dan Sang Pencipta. Tahap-tahap ini disebut juga sebagai antaratma sadhana, pencarian jiwa.

Namun, dengan meditasi yang mendalam, sang yogi, pengetahuan dan yang diketahui melebur menjadi satu. Kemudian sang yogi menjadi dirinya sendiri dan menyadari diri pribadinya (Atman), bagian dari Jiwa Tertinggi dalam dirinya.

Terdapat beberapa jalan (marga) yang mengantar seorang manusia menuju ke Penciptanya. Manusia yang aktif menemukan perwujudan melalui Marga Karmayang di dalamnya manusia menyadari sifat ilahiahnya melalui bekerja. Manusia yang emosional menemukan perwujudan itu melalui Marga Bhakti, yang artinya perwujudan itu terjadi melalui pemujaan dan kecintaan pada Tuhan secara pribadi. Manusia yang intelek mengikuti Marga Jnana yang menggunakan pengetahuan sebagai jalan untuk mencapai perwujudan. Sementara itu mereka yang suka merenung mengikuti Marga Yoga dan menyadari bahwa sisi ilahinya muncul melalui pengendalian pikiran.

Kebahagiaan tercapai oleh manusia yang mampu membedakan yang nyata dari yang tidak nyata, yang kekal dari yang fana, yang baik dari yang menyenangkan dengan pembedaan dan kearifannya sendiri. Mereka yang mampu mengetahui cinta sejati dan mencintai semua makhluk Tuhan menjadi manusia yang makin terberkati lebih banyak lagi. Mereka yang bekerja tanpa memikirkan diri sendiri demi kesejahteraan orang lain dengan berbekal cinta akan jauh lebih terberkati lagi. Namun, manusia yang menggabungkan pengetahuan kerangka kefanaan, cinta dan pelayanan demi orang lain adalah mereka yang mencapai kesucian dan menjadi tempat berziarah layaknya sungai Gangga, Saraswati dan Jamuna. Mereka yang bertemu dengan manusia semacam ini akan menjadi lebih tenang dan murni.

Pikiran merupakan raja dari segala indra. Seseorang yang mampu menaklukkan pikiran, indra, nafsu, pikiran dan akal budinya menjadi raja di antara manusia. Ia menjadi Raya Yoga, penyatuan yang tinggi dengan Jiwa Universal. Ia memiliki Cahaya dari Dalam.

Ia yang mampu menaklukkan pikirannya sendiri ialah Raja Yogi. Kata “raja” sendiri berarti penguasa. Kata “Raja Yoga” sendiri menyiratkan penguasaan penuh atas Diri. Meski Patanjali menjelaskan cara-cara mengedalikan pikiran, ia tidak menyebutkan kalimat bahwa pengetahuan ini adalah Raja Yoga namun menyebutnya Astanga Yoga atau 8 tangga dari Yoga. Sebagaimana tersirat di dalamnya, penguasaan penuh diri seseorang dapat disebut dengan Raja Yoga.

Swatrama, penulis Hatha Yoga Pradipika (Hatha = upaya yang teguh atau kekuatan) menyebut jalan yang sama sebagai “Hatha Yoga” karena Raja Yoga mensyaratkan displin yang ketat.

Diyakini bahwa Raja Yoga dan Hatha Yoga benar-benar berbeda, khas dan berlawan, bahwa Yoga Sutra Patanjali membahas disiplin Spiritual dan Hatha Yoga Pradipika dari Swatmarama hanya membahas disiplin fisik. Namun sebenarnya tidak demikian karena Hatha Yoga dan Raja Yoga saling melengkapi dan membentuk satu pendekatan menuju Pembebasan. Mereka yang menekuni Yoga memerlukan pengetahuan dan disiplin dari Hatha Yoga milik Swatmarama untuk menjangkau puncak tertinggi Raja Yoga yang dimaksud oleh Patanjali.

Jalan Yoga ini menjadi dasar bagi 3 jalan lainnya. Ini membawa ketenangan dan rasa khidmat dan mempersiapkan pikiran untuk pemasrahan diri yang tak bersyarat pada Tuhan yang pada akhirnya menjadi muara bagi ke 4 jalan ini. (BKS Iyengar, Light on Yoga)

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s