Menulis Novel dalam 10 Hari

woman typing writing programming

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Sejauh ini eksperimen dan upaya saya menyelesaikan tantangan menulis novel dalam sebulan (NaNoWriMo, National Novel Writing Month) yang popular di media sosial berbuah nihil. Alias nol besar!

Kalau ditanya, saya mungkin bisa mengkambinghitamkan rutinitas harian yang padat. Bekerja selama 8 jam sehari dan hanya bisa menyisipkan sedikit waktu menulis begitu jam kerja selesai.

Argumen ini tentu bergantung pada komitmen si penulis yang bersangkutan. Tidak semua penulis yang memiliki pekerjaan tetap selain menulis novel secara penuh waktu semalas itu. Buktinya, Hanya Yanagihara ‘hanya’ membutuhkan 1,5 tahun untuk bisa menyelesaikan draft novel epiknya “A Little Life”. Ia mengaku menulis novel itu setiap selesai kerja sebagai pimpinan editor di T Magazine selama 18 bulan lamanya. Penulis perempuan yang sempat ditolak naskahnya oleh sejumlah penerbit akibat ketebalan manuskrip yang menembus angka 1000 halaman ini mengaku duduk kembali menulis di apartemennya sampai pukul 12 dini hari setiap hari untuk menulis kisah tiga sekawan, terutama kisah hidup Jude Saint Francis yang teramat tragis itu.

Seorang penulis bernama Meg Elison mengatakan dirinya memiliki trik bagaimana menulis novel bisa dilakukan selama 10 hari di situs lithub.com pada 26 April lalu. Pikir saya, menarik juga. Mengapa tidak mencobanya?

Berikut adalah beberapa kiat dari Elison dan sedikit komentar dari saya.

JADI PENULIS DAN PEMBACA DULU

Pertama adalah Anda sudah menjadi penulis sebelumnya. Ya, masuk akal juga. Jika mau menulis novel dengan secepat itu, syarat paling mendasar adalah Anda sudah harus terbiasa dengan aktivitas menulis ini jauh-jauh hari. Tidak bisa tiba-tiba Anda ingin menulis novel begitu saja dan pasti bisa. Itu namanya tidak tahu diri dan ambisius.

Dan menurut saya juga tidak bisa hanya dengan membiasakan menulis tetapi juga membekali diri dengan menjadi pembaca yang ‘rakus’. Dengan menjadi pembaca yang ‘rakus’, kita akan tahu banyaknya novel-novel yang bagus dan patut menjadi acuan dalam berkarya.

Novelis Andre Atciman menyarankan kita membaca karya-karya klasik agar dapat menulis dengan lebih baik. Gaya menulis novel memiliki perbedaan dari menulis blog atau menulis buku teks yang lebih bersifat singkat, padat dan langsung menuju inti masalah. Dalam menulis novel, justru kita ditantang untuk mengulur jalannya cerita tanpa membuat pembaca mati kebosanan dan melempar novel yang kita tulis.

BUAT GARIS BESAR NOVEL

Outline atau kerangka dasar novel menurut saya adalah syarat kedua yang paling penting setelah menjadi pembaca dan penulis. Elison menempatkannya di urutan terakhir, padahal menurut saya ini lebih penting untuk dimiliki sebelum menulis novel dan bisa menyelesaikan dalam waktu yang terbatas.

Memang ada penulis yang lebih menyukai eksplorasi ide tanpa kungkungan outline tetapi jika Anda lebih memprioritaskan terselesainya naskah, menulis kerangka sebelumnya akan menghemat banyak waktu. Selama 10 hari, yang Anda tinggal lakukan adalah mengembangkan kerangka tersebut sehingga menjadi karya yang utuh. Dan jika memang masih ada kekurangsempurnaan, Anda bisa tinggal menyuntingnya nanti. Yang terpenting, Anda sudah bisa menyelesaikan penulisan satu karya utuh. Menulis ulang urusan nanti, tidak perlu dipikir sekarang.

HINDARI RUTINITAS

Nah, ini yang mungkin agak musykil dilakukan bagi mereka yang sudah terbelit dalam kegiatan regular yang padat. Entah itu bekerja penuh waktu, berkeluarga, beranak pinak, dan sebagainya.

Bagaimanapun caranya, kita mesti bisa sejenak ‘melarikan diri’ dari belenggu rutinitas agar bisa fokus menulis novel kita ini.

Novelis Inggris Sophie Kinsella membuktikan hal ini mungkin saja dilakukan. Dengan memiliki 5 anak, ia ternyata masih bisa menulis novel dengan produktif. Rahasianya cuma satu:”Sebuah pintu yang terkunci”. Ia mengurung diri dalam kamar kerja di loteng rumahnya agar ia bisa berkonsentrasi dalam menulis karya berikutnya tanpa terganggu aktivitas anak-anak.

Jadi, bagi Anda yang masih lajang, tak ada alasan untuk berkata “tidak mungkin”, bukan?

Jika Anda memiliki ambisi menulis novel hanya dalam waktu 10 hari, tidak ada jalan lan kecuali meninggalkan rutinitas Anda untuk sementara waktu.

KELUAR RUMAH

Jika memungkinkan, jangan menulis novel di tempat yang penuh dengan potensi distraksi. Misalnya di rumah yang ada banyak anggota keluarga.

Tinggalkan sementara rumah Anda dan pergilah ke tempat lain yang memungkinkan Anda bisa berkonsentrasi penuh untuk menulis novel Anda. Bisa jadi tempat itu adalah kafe langganan yang memberikan Anda ruang privat dan asupa kafein yang Anda perlukan. Saya sendiri tak begitu suka menulis di kafe karena lingkungan ini tiddak bisa dikendalikan sepenuhnya. Akan ada lalu lalang orang, pembicaraan para pengunjung kafe yang bisa saja volumenya mengganggu konsentrasi Anda, belum lagi potensi gangguan dari alunan lagu yang belum tentu sesuai dengan suasana hati kita. Bagaimana bisa menulis sebuah adegan yang menyayat hati jika tiba-tiba lagu yang diputar di kafe itu lagu rancak yang berlirik jenaka atau nakal?

Saya sendiri lebih memilih untuk menulis di perpustakaan umum. Ruangan public ini lebih tenang dan dengan sendirinya akan membuat semangat menulis lebih baik. Kelemahannya Anda tak bisa duduk di dalamnya selama yang Anda sukai. Senja datang, Anda mesti pulang karena jam kerja pustakawan usai.

Yang ideal tentu saja adalah di rumah atau ruangan pribadi yang nyaman dan sepenuhnya aman. Hanya saja, hemat saya tak semua orang memilikinya. Bisa saja ruangan pribadi tersebut kurang nyaman atau sumpek dan membosankan. Kadang menulis di tempat yang tak sering dikunjungi malah mendatangkan inspirasi.

PATUHI JADWAL SENDIRI

Jangan menggantungkan jadwal Anda pada orang lain. Jika orang lain memiliki jadwal dan preferensinya sendiri, Anda tidak perlu mengikuti jika memang tak sesuai. Misalnya, jika mereka mengajak menonton film di malam hari yang seharusnya bisa Anda habiskan untuk menulis, kenapa harus repot-repot mengiyakan tetapi kemudian merasa bersalah karena sudah meninggalkan jadwal menulis?

Bersikap disiplin dan patuhi jadwal menulis yang sudah kita tetapkan agar novel ini selesai tepat waktu.

HINDARI INTERNET

Meskipun mustahil meninggalkan Internet sama sekali, akan lebih baik jika kita memiliki disiplin dalam menggunakannya. Novelis Jonathan Franzen mengatakan tidak akan ada karya fiksi bagus yang bisa dihasilkan dengan menulis di sebuah laptop yang terkoneksi dengan internet. Dan dengan berbekal keyakinan tersebut, ia menulis di ruang kerjanya dengan sebuah laptop Dell tua yang sudah disumpal lubang konektor internetnya. Dengan demikian, ia sungguh-sungguh menulis dalam kondisi terputus dari dunia luar baik secara fisik (karena ia mengurung diri di ruang kerjanya) dan secara mental (karena ia terbebas dari gangguan notifikasi yang bisa muncul jika perangkat kita tersambung ke Internet).

Kalau menurut pengalaman saya sendiri, Internet memang seperti buah simalakama. Ada kalanya kita bisa memanfaatkan Internet untuk alat riset agar tulisan kita mencapai tingkat detail yang mengesankan pembaca. Novelis Gillian Flynn misalnya menggunakan Internet untuk mendapatkan nama-nama khas orang daerah Missouri yang kemudian ia pakai untuk novelnya “Gone Girl”. Dan ia juga menggunakan YouTube sebagai sarana melepas penat sehabis bergulat dengan kata-kata seharian penuh. Ia menari dan bermain game juga.

Namun, saat menulis, yang ada hanyalah Anda dan alat/media menulis Anda. Entah itu laptop atau mesin ketik ata secarik kertas dan pulpen. Internet tak termasuk di dalamnya.

JANGAN LUPA RILEKS

Menulis terlihat sebagai pekerjaan yang tidak melelahkan secara fisik. Tetapi secara mental dan intelektual, menulis sangat menguras energi!

Karena itu akan lebih baik meskipun Anda sedang mengejar tenggat waktu untuk bisa merampungkan draft novel ini dalam 10 hari, Anda bisa meluangkan waktu untuk ‘melupakan’ draft Anda barang sejenak.

Untuk menyegarkan pikiran, Anda bisa melakukan kegiatan atau kegemaran atau hobi. Akan lebih baik jika itu melibatkan kegiatan fisik (karena menulis sudah banyak mengharuskan kita duduk diam, jadi demi alasan kesehatan, bangkitlah dan keluar dari rumah) agar badan dan pikiran Anda kembali segar dan siap menulis keesokan hari.

DELEGASIKAN KEWAJIBAN SEHARI-HARI

Anda tentu masih harus makan dan minum dan mencuci pakaian dan membersihkan tempat tinggal selama 10 hari itu. Karena itu jika Anda memang berniat menulis novel selama 10 hari, pikirkan bagaimana Anda akan mendelegasikan semua kewajiban harian ini agar kehidupan Anda tak terhenti selama 10 hari juga.

Membeli/ memasak makanan tak mungkin Anda lakukan seleluasa sebelumnya sehingga terpaksa Anda harus menggunakan jasa orang lain. Kalau saya, jasa Go-Jek dan Go-Food bisa jadi andalan. Makan makanan instan memang bisa ditempuh tetapi menurut saya itu masih pilihan yang terakhir. Sebisa mungkin saya hindari jika masih bisa mendapatkan makanan segar dan sehat. Laundry service juga untungnya sudah ada sehingga saya tak terganggu kewajiban mencuci pakaian.

Semua kiat dari Elison ini mungkin sudah pernah terpikirkan oleh kita. Tidak ada yang baru karena semuanya jelas dan logis. Tetapi yang paling sulit ialah bagaimana mematuhi semua kiat ini agar bisa mewujudkan sebuah novel dalam 10 hari saja. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Menulis Novel dalam 10 Hari

  1. Wildan Fauzy says:

    harus bener bener disiplin waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.