Senam Artistik Berjuang Temukan Keseimbangan Antara Akrobatik versus Estetik

Akhir-akhir ini saya tertarik mengikuti perkembangan dunia senam artistik (artistic gymnastics) dan menemukan bahwa pesenam artistik putri dari Amerika Serikat Simone Biles memecahkan rekor dunia dengan memenangkan gelar jawara nomor serba bisa (all-around title) di kejuaraan gymnastics dunia. Tidak ada pesenam lainnya yang bisa mengalahkan dia hingga kini. Gadis 22 tahun kelahiran Columbus, Ohio itu terus melaju dengan keterampilan gerakannya yang sangat menantang hingga hampir mustahil pesenam lain melakukannya juga.

Namun, yang agak kurang ‘sreg’ bagi saya sendiri yang baru tertarik dengan senam artistik selama beberapa tahun belakangan ini adalah gerakan-gerakan Biles yang terlalu akrobatik dan sangat mengandalkan kekuatan (strength) daripada seni (art) padahal senam artistik (artistic gymnastics) sendiri mengandung unsur keindahan (artistik).

Untuk itu, saya akan mendefinisikan istilah “artistik” dahulu agar kita bisa sepakat dengan pembahasan selanjutnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford, kata “artistic” mengacu pada “berkaitan dengan atau memiliki karakteristik seni” dan “menyenangkan secara estetika”. Intinya, ada elemen keindahan di sana.

Tapi jika Anda melihat gerakan-gerakan pesenam artistik dari Amerika Serikat, mereka lebih mengedepankan aspek kekuatan dan akrobatik. Hal ini bisa dilihat dari fisik para pesenamnya yang sangat solid dan kekar (meski itu perempuan).

Hal ini bukannya muncul begitu saja. Terdapat sejumlah perubahan dalam sistem penilaian senam artistik yang membuat para pesenam dituntut untuk mengambil risiko saat melakukan gerakan-gerakan di beragam nomor. Mereka tidak hanya harus melakukan gerakan yang indah secara estetika tetapi juga berani mengambil risiko dengan menggabungkan beragam gerakan dengan tingkat kesulitan yang tinggi dengan teknik yang sesempurna mungkin.

Di sini saya merasa sangat menyayangkan para pesenam Rusia yang ‘kalah’ akibat perubahan paradigma dalam sistem penilaian senam artistik.

Dahulu tatkala sistem penilaian (code of points) masih lebih sederhana, Nadia Comaneci bisa mendapatkan skor sempurna (10) yang legendaris tersebut. Namun, dengan sistem seperti sekarang ini cara penilaian menjadi begitu rumit sehingga orang awam sangat susah memahami, kecuali mereka juri profesional atau pelatih profesional senam artistik.

Dan sistem penilaian baru ini sangat menguntungkan para pesenam Amerika yang mengandalkan keberanian mengeksekusi gerakan-gerakan akrobatik yang ‘gila’.

Saya justru lebih suka dengan gaya yang akrobatik namun tetap indah seperti Viktoria Komova, yang garis tubuhnya mirip ballerina. Ini bukan kebetulan semata karena senam artistik di Rusia diajarkan dengan menggabungkan elemen tari balet juga.

Dan ini bukan cuma berlaku di senam artistik putri. Di senam artistik putra, tradisi balet meresap ke setiap gerakan pesenam putranya juga.

Saya menemukan para pesenam putra Rusia yang dilatih Andrey Telitsyn ini juga dikenalkan dengan teknik balet yang identik dengan keanggunan dan estetika yang tinggi tersebut.

Jadi, sekuen gerakan senam artistik mereka tidak cuma mempertontonkan kekuatan dan keberanian mengeksekusi gerakan-gerakan akrobatik sulit yang musykil dilakukan orang awam tetapi juga koreografi yang kompleks dan menghibur karena indah dipandang mata. Bagi saya, inilah makna ‘artistik’ yang sejati: perpaduan kekuatan dan keindahan dalam satu gelaran.

Ada beberapa pihak yang pro Biles dan menuduh bahwa sentimen pro-artistik ini cuma upaya menjegal kepiawaian Biles dalam menunjukkan keterampilannya yang belum bisa disaingi siapapun hingga sekarang. Dan acara menjegal itu ialah dengan menggunakan alasan estetik terutama bentuk tubuh dan garis tubuh (body line) . Seperti kita ketahui bentuk tubuh Biles memang terbilang padat dan kekar. Dan kakinya juga secara proporsi kurang jenjang, tetapi malah padat dan pendek.

Sementara itu, kalau kita lihat bentuk tubuh para pesenam Rusia, mereka cenderung lebih ramping, tanpa massa otot berlebihan di bagian atas tubuh mereka (kecuali para pesenam pria yang harus berkompetisi di nomor gelang-gelang terutama).

Bukannya saya tidak menyukai para pesenam yang secara natural memiliki bentuk tubuh yang gempal tetapi apa bedanya senam artistik jika ia lebih mirip dengan sirkus? (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: