Kenapa Pria Juga Harus Kencing Duduk/ Jongkok?

KEMARIN menjadi Jumat terakhir untuk menunaikan ibadah salat Jumat bagi pria muslim.

Dan menanggapi fakta itu, seorang teman yang agak-agak sekular berkicau begini di Twitter: “Hmm, tadi apa ya isi khotbahnya? Ya paling gitu-gitu aja. Nggak berubah dari 1400 tahun lalu.”

Hmm, saya sih nggak antipati sama ajarannya karena yakin itu baik, ada tujuan di baliknya meski sekilas nggak logis atau kurang akomodatif dari segi kepentingan kenyamanan manusia.

Tapi saya cuma hati-hati sama manusia yang menyampaikannya. Karena lewat mereka ajaran bisa sampai secara akurat atau tidak atau cuma setengah akurat.

Jadi bisa saja isi ajarannya satu tapi interpretasi dari para manusia yang menyerap dan mengajarkannya menjadi majemuk dan bisa jadi ‘menyimpang’ dari isi yang semula.

Mari singkirkan dulu deh prasangka bahwa isi khotbah Jumat pasti itu-itu saja dan membosankan.

Ya memang karena isinya adalah pengulangan dan pengulangan seperti kita tahu sangatlah perlu saat manusia belajar. Manusia harus terus diingatkan secara konstan sepanjang hidupnya karena sudah sifatnya menjadi lupa atau khilaf. Sudah sering diingatkan saja kita masih lupa dan khilaf kok. Apalagi tidak.

Nah, di salat Jumat terakhir 2021 itu saya mendengar sepatah nasihat yang lumayan klise tapi kok ya bagus buat membuat saya tetap fokus pada jalan hidup yang selurus mungkin.

Si khotib mengatakan ini jalan agar selamat dunia akhirat. Gitu lah.

Pertama adalah menjaga salat.Ya tau lah, ini nasihat paling klise buat muslim tapi memang di kenyataannya nggak semua yang KTP-nya muslim itu sanggup dan mau menunaikan salat 5 waktu dengan baik dan khusyuk.

Kedua adalah bersedekah secara teratur. Mau jumlahnya berapa juga nggak masalah asalkan ikhlas dan tidak ada motif lain selain untuk mengabdi pada Allah SWT. Kalau niatnya yang lain ya kurang murni. Saya sih nggak mau bilang pahala berkurang atau apa. Itu hak prerogatif Allah.

Ketiga adalah membaca Al Qur’an dengan teratur. Ini memang ironis sih. Muslim-muslim sekarang banyak yang belum bisa membaca Al Qur’an dan sampai tua masih malu belajar padahal ya itu kan bagian dari identitas mereka sebagai muslim. Itulah kelemahan menjadi muslim karena faktor kelahiran. Ya asal nerima keadaan aja. Nerima nggak, nolak juga nggak bisa. Jadinya hampa aja kehidupan religi dan spiritualnya.

Bahkan si khotib bilang jangan bangga kalau anak-anak muslim sekarang cuma pintar bahasa Inggris dan Matematika tapi baca Al Qur’an saja tak bisa sehuruf pun.

Keempat, kata si khotib, adalah istiqomah dalam membaca tasbih. Menurut banyak sumber, memang para malaikat ini senantiasa membaca tasbih.

Kemudian ia juga menyatakan 4 hal yang harus dihindari.

Pertama penyakit bohong, kedua khianat, ketiga adu domba dan terakhir yang paling tak terduga bagi saya adalah larangan kencing berdiri. Hmmm, saya pikir-pikir lagi.

Kenapa ya bisa begitu?

Ternyata kalau saya cari sumber dari AskMen.com, para pria disarankan kencing duduk agar air seni tak menciprat ke mana-mana. Kalau kita kencing berdiri, biasanya bakal susah menjaga air kencing itu tepat masuk ke lubang toilet. Apalagi kalau buru-buru. Ini juga menjengkelkan pengguna toilet selanjutnya karena menjijikkan duduk di atas toilet yang tak dibersihkan setelah kencing berdiri. Plus, kencing duduk atau jongkok tak membuat suara mengucur yang keras dan mengganggu apalagi jika di malam hari atau di suasana sepi.

Kenapa pria benci kencing duduk atau jongkok?

Katanya sih karena tak mau disamakan dengan perempuan. Masak kita cowok kudu ikut kencing duduk atau jongkok kaya perempuan padahal kita punya ‘selang’ atau ‘pipa’ yang bisa disesuaikan arahnya.

Ya masalahnya kadang pengarahan ‘selang’ itu sembarangan dan memercik kembali ke celana yang bisa jadi masalah karena najis. Dan tentu beribadah dengan celana yang bernajis membuat ibadah kita tak diterima. Setidaknya begitu sabda para ahli fiqih.

Sebuah eksperimen menarik dilakukan oleh para pria di video ini. Dan memang para pria masih dihantui stigma ‘kencing duduk cuma untuk cewek’. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.