Pemimpin Sejati Dibicarakan dengan Bangga oleh Pengikutnya

on
Terdapat 4 parpol di Korsel. Selain itu, kursi untuk pihak independen juga ada. Kata Rose Lee, di sini para wakil rakyat suka ‘berlatih taekwondo’. You know what she meant.

Lee Kye-suk (이계숙)  terus berbicara dengan pengeras suara di depan bus kami setelah turun dari Seoul Tower sore itu, “Kalau mobil lewat jalur busway padahal tidak berhak, ia akan didenda. Karena ada kamera di sepanjang jalan, pelanggar akan dideteksi dengan mudah. Bisa didenda 50-70 ribu won”. Aku mendengarkan dengan seksama, sambil melihat keluar jendela. Banyak warga Seoul dan pengunjung berjalan sore di jalanan yang menanjak dan menurun tajam itu. Pepohonan di bukit juga rimbun bak hutan. Hanya saja ini di tengah kota.

Kye-suk yang lebih suka dipanggil Rose Lee ini terus bercerita seolah tak peduli kami mendengarnya atau tidak. Bahasa Indonesianya cukup lancar meski ada beberapa pilihan kata dan pengucapan yang kurang pas. Kali ini ia bercerita tentang pemimpinnya,”Ide ini digulirkan Lee Myung-bak. Ia dulu CEO Hyundai selama 24 tahun. Dulunya dia miskin. Saat SMA, ia miskin, sekolahnya malam hari, siang hari berjualan topi di depan sekolah perempuan. Ia pakai topi dan masker saat berjualan. Ibunya baik dan melihat Myung-bak berjualan. Saat melihat Myung-bak memakai masker dan  topi, ibunya menamparnya, “Jangan panggil saya mama, kamu bukan anak saya. Kenapa kamu malu? Kenapa pakai topi? Malu karena apa? Apakah bekerja dengan rajin adalah sesuatu yang memalukan?” Setelah itu Myung-bak muda berpikir , menurutnya ibunya benar. Mencuri adalah sesuatu yang memalukan. Berjualan dengan jujur bukan sesuatu yg memalukan. Hari berikutnya Myung-bak berjualan jepit rambut tanpa masker dan topi. Karena itulah, makin banyak pelanggan karena mereka mengetahui ramah dan tekunnya Myung-bak. Mereka bersimpati pada Myung-bak yang juga sepantaran tapi sudah harus bekerja keras. Penjualannya pun akhirnya meningkat. Saat pertama masuk Hyundai ia diperhatikan oleh atasan karena bekerja lebih rajin dan bersih, kantor lebih cepat bersih saat ia kerja. Oleh karenanya, Myung-bak  diberi beasiswa oleh Hyundai untuk kuliah”.

Cukup seru juga ceritanya. Apalagi saat membayangkan Myung-bak ditampar. Adegan dramatis a la drama Korea di TV pun terlintas. Rose Lee terus berceloteh, “Myung-bak adalah tipe pemimpin yang berpikir entrepreneurial, bukan politis. Ia mengutamakan apa yang terbaik bagi bangsanya bukan golongan atau partainya. Ia juga menyukai tenis, bukan golf. Meski golf adalah olahraga yang biasa disukai orang kaya. Gaya hidupnya juga sederhana. Pakai sepatu hingga 3 tahun. Walau CEO, pakai pakaian pegawai biasa. Itu supaya ia bisa turun tangan di pabrik tanpa takut kotor. Semua pegawai pakaiannya sama. Jam 6 masuk kantor, jam 7 olahraga dan makan bersama. Semua harus bangun pagi meski malamnya lembur atau mabuk. Mobil Hyundai nomor 4 terbaik di dunia. Murah dan bagus. Orang Seoul senang saat Myung-bak menjadi presiden Korea”.

Di kesempatan lain, Rose Lee menyinggung mantan presiden Korsel lain, Park Jeong-hee (박정희) yang katanya “berkuasa hingga belasan tahun (1963-1979) tetapi tidak pernah ada isu korupsi”. Entah benar atau tidak Presiden Park korup atau bersih, tapi kata-kata “tidak ada isu korupsi” begitu ia tekankan, dan ia bangga. Rose Lee mengucapkan itu dengan bangga. Ia seperti membisikkan teguran halus dengan kata-kata itu, “Presiden Park kami lain dengan Soeharto kamu itu“.

President Park.PNG
Park jeong-hee

Rose Lee mungkin kurang mau menceritakan bagaimana akhir hidup Presiden Roh Moo-hyun (노무현) yang melakukan bunuh diri 23 Mei 2009 karena tuduhan penyuapan. Roh Moo-hyun dikabarkan harus menanggung malu dan rasa bersalah yang demikian berat akibat tuduhan itu sebab penyelidikan juga ikut mengarah ke orang-orang terdekatnya: kakak kandungnya, istrinya, dan yang terpenting para pendukungnya di seluruh Korsel. Wajar saja. Roh mencanangkan tekad untuk membersihkan pemerintahan dari korupsi sebagai janji di masa kampanyenya, dan saat itu justru ia malah menjadi tersangka kasus penyuapan dan korupsi. Sangat berat memang. Meski ia masih hidup pun sudah tidak bisa menegakkan kepala lagi.

Pikiran kembali melayang setelah Rose Lee meletakkan mikrofon dan mengucapkan “gamsahamnida” (terima kasih). Bisakah kita menceritakan kisah  para pemimpin kita saat ini dengan antusiasme dan kebanggaan yang lebih tinggi dari yang Rose Lee miliki terhadap Lee Myung-bak dan Park Jeong-hee? Only time will tell.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.