Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku-3)

(Kisah sebelumnya bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini )

Setelah mushaf Al Qur’an itu terbuka, si B seolah mengeluarkan seluruh hafalan ayat-ayat pilihannya untuk mendukung gagasannya. Ia berkata dengan nada meyakinkan,” Indonesia adalah negara yang di akhir jaman nanti akan menjadi tempat terjadinya kebangkitan Islam yang sudah terpuruk selama beberapa abad.” Tanpa saya meminta, ia menjelaskan bahwa kesimpulan itu ia dapat dari terjemahan di salah satu ayat Al Qur’an yang saya baca setelah ia tunjuk.

Saya berusaha mencerna setiap kata dan gagasan yang ia lontarkan bertubi-tubi. Mungkin itulah tujuannya berbicara seperti salesman yang bersenjatakan katalog produk yang menunjukkan sejumlah keunggulannya.

Masalahnya, ia menggunakan kitab suci sebagai dasarnya. Saat pikiran saya masih berontak, ia menghujani saya dengan serentetan ‘bukti’ lain.

Dan saat si A yang juga masih bersama kami dan turut menyimak mengangguk-anggukkan kepala di samping saya menghadap si B dan berkomentar atas penjelasan si B, seketika saya terkesiap. Saya ibarat sebuah domba yang berada di muka 2 serigala berbulu domba yang saling berkonspirasi menjebak si domba dengan segala daya upaya.

Entah bagaimana, tiba-tiba saya berpikir si A berakting sebagai murid yang tidak tahu apa-apa di hadapan saya karena ia ingin saya meyakini dengan sepenuh hati semua yang disampaikan oleh si B. tapi akal sehat saya menolak.

Menolak Al Qur’an? Tentu tidak. Saya seorang muslim. Saya tentu meyakini kebenaran Al Qur’an. Jika tidak, saya sudah tidak berhak mengaku sebagai seorang muslim. Yang menjadi permasalahan di sini adalah bagaimana ia menggunakan ayat-ayat dan terjemahan literal Al Qur’an sebagai pondasi argumennya. Si B, yang saya yakin sudah demikian terlatih oleh apapun nama organisasi tempat ia bernaung, menggunakan ayat-ayat yang sudah secara cermat dipilih dan dihafal sebagai alat berkampanye tentang gagasan politiknya untuk membangun sebuah negara independen di luar kekuasaan presiden RI. Sekali lagi, ia memiliki penafsiran atas isi Al Qur’an yang memang jauh berbeda dari muslim kebanyakan.

Ia terus meyakinkan saya dengan interpretasi ‘ngawurnya’ itu. Dan saya semakin sadar, saya harus bisa keluar dari pembicaraan tak berujung yang bisa-bisa membuat saya makin terjerumus dalam sesuatu yang saya sendiri masih pertanyakan.

Si B tampaknya tahu bahwa saya sudah bosan. Ia belikan saya makanan. Gorengan yang ia belikan tidak membuat saya diam menyimak. Saya berulang kali melirik ke ponsel Motorola V3 saya yang sudah mulai habis baterainya. Saya panik juga. Muncul pikiran negatif: bagaimana jika saya tidak bisa menolak dan dibawa ke tempat mereka?

Kami pun bertukar nomor ponsel. Saya berikan ponsel saya dan si B memberikan nomornya pula. Inilah satu-satunya penghubung yang mereka pikir akan berguna untuk menjangkau saya tak peduli jarak yang memisahkan kami secara fisik. Namun saya berpikir lain, saya tak segan memberikan nomor saya agar mereka segera mengakhiri pembicaraan melelahkan dan saya tahu bahwa menggunakan alasan apapun untuk meninggalkan mereka akan sangat sulit.

Ponsel saya bergetar. Alhamdulillah! Begitu senangnya hingga saya mau sujud syukur di situ juga. Tapi itu akan mencurigakan tentunya. Pas, panggilan telpon ini bisa saya gunakan untuk mencuri waktu agar bisa mengatur siasat meninggalkan mereka.

Panggilan itu dari ayah. Sore itu saya rasanya menjadi orang paling beruntung memiliki ayah. He saved me by the phone call!

Saya berkata pada si A dan B, “Bentar ya, ada telepon nih.” Saya tak mau sebut siapa yang menelepon pada 2 orang ini.

Ayah menanyakan keadaan saya karena ia tahu saya sedang melamar kerja sendirian di tempat yang baru pertama kali saya kunjungi. “Bagaimana sudah selesai?” tanya ayah saya dalam bahasa Jawa, bahasa ibu saya. “Iya sudah pak, tapi mungkin harus menginap satu malam lagi untuk menunggu hasilnya,” jawab saya. Saya tidak mungkin menjawab:”Sudah selesai pak tapi di sini ada orang-orang dengan pemikiran khas aliran sesat yang mau merekrutku menjadi bagian dari jamaah mereka dengan mengajakku ke markas mereka di Lebak Bulus. Gimana nih pak? Please help!

Yang saya tak habis pikir adalah bagaimana tidak seorang pun yang merasa aneh dengan saya dan 2 orang ini yang di masjid dari zuhur sampai asar tiba, bahkan hingga pukul 4.30.

Well, setidaknya jika mereka niat melakukan brainwash pada saya, mereka memberikan saya makanan dan minuman yang proper. Yang layak. Masak hanya gorengan begini?

Setelah menerima telepon, si B kembali beraksi dengan agitasinya. Ia menceritakan bagaimana kini sedang dirintis sebuah negara Islam yang mandiri, terpisah dari Indonesia yang pemerintah dan rakyatnya sudah cenderung kafir dan durhaka terhadap Allah ini. Si B mengatakan pula bahwa tunduk pada pemerintah yang tidak Islami seperti sekarang dan perangkat-perangkat hukumnya yang jauh dari idealisme Islam dalam kitab suci dan hadis Rosul akan menyebabkan kita menjadi terlaknat pula.

Si B sekali lagi meyakinkan saya bahwa semua muslim dan muslimat di seluruh dunia perlu bersatu padu di bawah satu pemerintahan Islam yang ia sebut sebagai khalifah. Dan ia dengan nada mengajak mengatakan,”Kalau kamu mau bergabung, kami sambut dengan senang hati. Caranya mudah, jalani saja bai’at. Akan kami kenalkan kamu pada pimpinan kami. Kamu bisa tinggal dengan kami dulu di Lebak Bulus. Tidak usah khawatir, tempatnya lapang, bisa untuk menginap.”

Sang ‘juru dakwah’ kemudian bertanya dengan muka serius pada saya,”Siap bergabung?” Saya jawab dengan diplomatis saja,”Saya pikir-pikir dulu. Boleh kan?” Kabur tetapi cukup memberikan isyarat bahwa saya tidak tertarik. Tapi saya tahu orang-orang seperti ini tidak semudah itu menyerah, mereka tahu ‘calon anggota’ bisa berubah pikiran. Ibarat seorang swing voter dalam pemilihan umum, peluang saya untuk memilih dan tidak memilih sama imbangnya: 50%-50%.

Dan saya lapar. Mungkin satu pelajaran yang bisa dipetik oleh Anda yang mau menjadi juru dakwah andal (dalam pengertian apapun) adalah sediakan logistik (pangan) sebagai bahan bakar bagi otak untuk ber-logika (teringat kata teman penerjemah saya yang suka yoga, Dina Begum). Akan tetapi, bisa saja strategi mereka adalah dengan membuat si calon korban selapar mungkin hingga tidak dapat berpikir cermat dan kritis sehingga akan lebih mudah membujuknya masuk dalam organisasi mereka. Only Heaven knows. And why did I bother to find out?

To be continued…

2 Comments

Filed under writing

2 responses to “Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku-3)

  1. Pingback: Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku-1) « Akhlis' Blog

  2. Pingback: Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – Tamat) « Akhlis' Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s