Begini Rasanya Bersepeda di Jakarta

Jepretan Layar 2018-05-12 pada 07.53.22

Kendaraan mewah bernama sepeda. [Dok pribadi]

DALAM suasana macet seperti di atas, kadang saya ingin sekali melenggang di sela-sela kendaraan bermotor roda empat dan roda dua seraya mengacungkan jari tengah pada sekeliling saya dan berteriak lepas:”F*@#$%^&*()(%$#  YOU, JAKARTAAAA!!!”

Tapi tentu saja tidak akan ada yang mendengar dengan jelas teriakan frustrasi saya sebab mulut saya dibekap masker karbon aktif agar tetap bisa bernapas lega di antara kepulan asap kendaraan bermotor yang membuat paru-paru bisa rontok seketika.

Kalau ditanya bagaimana rasanya bersepeda di Jakarta, saya akan menjawab rasanya campur aduk. Enaknya bersepeda di Jakarta adalah semua jalannya sudah beraspal jadi tidak bakal becek dan berlumpur parah.

Cuma itu enaknya.

Sisanya derita.

Misalnya soal ketersediaan “biker lane” alias jalur pesepeda. Itu cuma sebuah utopia di sini. Di jalur-jalur protokol memang ada jalur semacam itu. Indah terlihat, seolah mengatakan,”Pemerintah sudah memberi apa yang pesepeda butuhkan lho! Jangan bilang tidak peduli sama sekali.”

Baiklah itu benar tapi apakah itu cukup? Sementara di jalur pesepeda yang biasanya di badan jalan paling kiri dipenuhi dengan galian-galian PLN atau PAM Jaya. Ini tidak cuma sekali dua kali. Tapi RUTIN! Saya juga tidak habis pikir kenapa tidak dipikirkan sebuah sistem yang lebih enak dan awet dan efisien daripada gali dan tutup lubang semacam itu. Sekali lagi itu tetap misteri.

Dan karena galian yang tampaknya akan selalu diadakan secara berkala demi tujuan pemeliharaan atau peningkatan itu [seperti sekarang saat pembangunan dan peningkatan kapasitas listrik untuk Asian Games 2018 digalakkan],  permukaan jalur pesepeda juga akhirnya jadi tidak rata dan cenderung membahayakan pesepeda karena jika dilintasi dengan kecepatan tinggi bisa membuat oleng dan kalau sedang sial, bisa disambar kendaraan bermotor lain yang kebetulan melintas dengan kecepatan tinggi. Dengan kata lain, setelah digali, biasanya akan dtimbun dan diaspal lagi dan pengaspalan kembali ini biasanya kurang sempurna. Dan untuk kendaraan roda dua apalagi sepeda yang lebih ringan bobotnya dari sepeda motor, tentu permukaan yang bergelombang ini sangat terasa. Jangan dibandingkan dengan mobil yang sudah ber-shock breaker bagus!

Infrastruktur lain pendukung sepeda yang sangat kurang di Jakarta ini ialah lahan parkir yang ramah pesepeda. Okelah di beberapa gedung perkantoran dan mall di sini sudah memberikan ruang parkir yang aman dan nyaman tapi kesungguhan pengelola untuk menyambut pesepeda di areanya masih saya ragukan? Kenapa? Karena ambil contoh di Pacific Place, di sana ruang parkir sepeda agak susah ditemukan karena tersembunyi di pojok. Yang absurd adalah saat saya bertanya seorang pria yang sedang duduk terpekur memegang ponsel (yang saya duga petugas penjaga), saat saya tanya apakah saya harus ambil nomor untuk menitipkan sepeda saya, ia menganga seolah tidak pahammaksud pertanyaan saya. Rupanya ia bukan petugas jaga dan hanya kebetulan istirahat di antara shift kerjanya di mall itu. Ini saya tanyakan karena di sepeda-sepeda lain di area parkir itu, ada nomor-nomornya.

Pengalaman saya menitipkan sepeda di mall lain, Lotte Shopping Avenue, lain lagi. Tempatnya memang aman sekali dan ada petugas khusus yang disuruh manajemen untuk mengurusi sehingga tidak ada keraguan sedikitpun akan ada pencuri sepeda. Penitipan ini juga dikelilingi jeruji besi, sehingga seolah kami masuk ke sebuah penjara mini. Kami bisa meminta nomor ke petugas dan mengunci ke jeruji lalu ke mall. Masalahnya ialah tempat penitipan sepeda ini di basement yang agak susah ditemukan. Lain dengan parkiran di Pacific Place.

Tempat publik lain yang pernah saya sambangi dengan sepeda ialah FX Sudirman. Di sana parkirannya tidak mesti masuk ke basement sehingga lebih praktis dan hemat waktu. Letaknya di samping mall dan teduh sehingga lumayan nyaman. Sayangnya tidak ada petugas khusus dan areanya terbuka sehingga jika ada maling, kita harus ikhlas. Parkiran ini juga dekat dengan lalu lalang mobil yang keluar masuk mall sehingga agak miris,”Jangan-jangan nanti bisa diseruduk mobil sepeda kesayangan gue…”

Lemahnya infrastruktur ini ditambah dengan ketidakpedulian orang-orang di sekeliling dengan pesepeda. Saya tanya petugas parkir motor dengan harapan mereka tahu parkiran sepeda tapi kadang mereka sendiri tidak tahu apapun. Sungguh mengenaskan! Pada jajaran manajemen geudng yang sudah memiliki area parkir sepeda, tolong dong Anda edukasi mereka yang Anda bawahi itu untuk tahu lokasi parkir sepeda di tempat mereka bekerja! Saya paling jengkel kalau sampai di satu tempat umum, dan saya sudah membaca pengalaman biker lain di weblog bahwa di situ ada parkir sepeda tapi saat saya memastikan ke staf di sana, tidak ada yang tahu persis lokasinya. Jadi ini yang salah siapa? Tapi baiklah daripada mencari kambing hitam, kita cari solusinya saja. Saya berusaha mencari dengan cara saya sendiri dan mereka sebagai pekerja di sana juga paham seluk beluk tempat kerjanya.

Bersepeda di sini juga jangan sampai melupakan masker karbon agar napas tidak sesak dipenuhi emisi kendaraan bermotor yang populasinya melebihi kapasitas jalan.

Saya sering bertanya,”Sampai kapan orang Jakarta akan bertahan hidup dalam pola seperti ini? Hidup di dalam kompartemen mobil selama berjam-jam dalam sehari, menginjak rem dan gas bergantian, menahan berak dan kencing sampai wasir dan infeksi saluran kemih dan dehidrasi ringan sampai berat. Batas sabar dan gila memang tipis…”

Tapi saya pikir ini semua akan terpecahkan jika orang Jakarta dan sekitarnya sudah beralih ke moda transportasi umum sehingga mereka mau meninggalkan kendaraan pribadi.

Nah, masalahnya pemerintah masih ‘memble tapi tidak kece’ dalam mengelola sistem transportasi umum sampai sekarang. Betul sekarang akan ada LRT, MRT dan segala perbaikan di sistem bus Trans Jakarta. Tapi dibandingkan negara-negara lain yang merdekanya sama dengan kita (pertengahan abad lalu), kita itu tertinggal jauh. Dengan kata lain, Jakarta itu masih PURBA. Karena kota-kota di masa depan atau kota-kota di negara maju saat ini tak lagi sesak dengan mobil. Mobil itu justru lebih banyak dipakai penduduk di perdesaan karena di sana kendaraan umum lebih jarang. Jadi kalau di kota besar seperti Jakarta masih disesaki motor dan mobil, itu sebenarnya mencerminkan kenyataan bahwa memang Jakarta belum menjadi kota metropolitan. Ia adalah kota hasil penggabungan yang kacau antara kemajuan kota dan budaya desa. Kemajuan kota adalah mall dan gedung pencakar langit serta toilet-toiletnya yang bersihnya melebihi kamar tidur warga jelata. Budaya desa ialah rumah tapak dan warung  tegal di sekitar perkantoran dan kebiasaan membuang sampah sembarangan karena mereka pikir plastik pembungkus makanan dan minuman bisa membusuk sendiri laksana daun pisang dan jati.

Tapi sekali lagi, saya tidak mau menyerah dengan semua tantangan itu. Mari bersepeda terus. Sebab kita harus menjadi perubahan yang kita inginkan, sabda Mahatma Gandhi. (*/)

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health, save our nation and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.