Menulis Jangan Pamrih Harta Apalagi Ketenaran

Ah masak iya?

KALAU ditanya, apakah yang kita mau dari menulis? Yang pertama terbersit dalam otak pastinya adalah mau terkenal, mau kaya.

Patut dimaklumi kok karena media massa juga mengeksploitasi berita soal penulis yang secara finansial memang mencengangkan dan sering diundang ke acara-acara publik penting baik di televisi maupun kanal YouTube atau akun media sosial populer.

Tapi di samping harta dan kepopuleran, apa sih yang bisa kita dapatkan dari aktivitas menulis?

Bagi saya, menulis sendiri merupakan kegiatan yang tidak sekadar keren untuk diri sendiri tapi juga demi kepentingan generasi mendatang. Generasi yang membutuhkan catatan informasi dan pengetahuan serta pengalaman kita sebagai warga dunia di era pandemi abad ke-21 ini. Haha.

Ini era yang sangat unik. Masyarakat dunia sudah tak mesti saling berperang. Kondisi relatif aman tenteram, peperangan besar-besaran juga belum ada sejak tahun 1945. Wacana Perang Dunia III seolah masih fiksi futuristik.

Dan karena tidak ada ancaman keamanan dari sesama manusia dari peperangan hebat, kita beranak pinak sampai tak terkendali sehingga bumi harus menanggung akibat dieksploitasi demi memberi makan hampir 7 miliar manusia.

Kita juga tak harus pusing memikirkan apa yang harus dimakan besok. Kita relatif aman sentosa.

Maka Coronavirus pun bertindak untuk sekadar mengisi catatan sejarah dengan sedikit pelajaran hidup umat manusia.

Karena itulah saya sempat menuliskan beberapa catatan soal kondisi pandemi di blog ini dengan label “pandemic diary“. Ya sekadar sketsa yang bisa menggambarkan kondisi peradaban di saat dipaksa berkonfrontasi dengan koloni makhluk hidup mikroskopik yang sangat menular dan mematikan bagi sebagian yang lemah dan rentan.

Rasanya mungkin asyik melihat entah 20 atau 30 atau 40 atau 50 tahun lagi, blog ini dibaca lalu dikutip seseorang yang tak saya kenal karena ia belum lahir sekarang tapi ingin memaparkan sekelumit soal zaman Coronavirus ini.

Betapa saya juga ingin mengatakan ambivalensi mengenai pencabutan kebijakan pemerintah untuk memberlakukan penghapusan cuti bersama Natal dan Tahun Baru 2022.

Di satu sisi, wah bagus deh buat memulihkan pertumbuhan ekonomi. Roda ekonomi sudah seret dan karena sekarang sudah mulai dirilekskan pembatasannya, aliran uang, produk dan jasa makin lancar jaya. Sesuatu yang patut disyukuri bagi kita yang merasakan kesulitan ekonomi maupun aspek lain dalam hidup akibat penerapan PSBB atau PPKM yang berseri.

Tapi di lain sisi juga ada kecemasan yang berdesir halus dalam benak. Benarkah ini sudah aman? Jangan jangan… Karena sesungguhnya tiada satu orang pun bisa memastikan apakah memang kondisinya sudah sepenuhnya aman atau belum untuk euforia lagi.

Ya sudahlah, mari kita tidak usah khawatir hingga tiba saatnya memang sudah harus khawatir. Yang penting siap saja untuk berbagai skenario. Mau yang terbaik siap. Mau yang terburuk juga kuat. Namanya hidup kan? Tak bisa maunya enak melulu. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in pandemic, writing and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.