Menggugat Paham “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga”

Hari yang sungguh absurd Jumat ini. Literally. Pertama, saya mengawali hari dengan hadir untuk urusan kerja di sebuah pameran bertema penumpukan kekayaan berjudul “Wealth Expo” di Senayan City, Jakarta. Pameran ini juga satu rangkaian dengan beberapa presentasi cara menjadi kaya raya dari pembicara-pembicara muda ternama. Yeah, you know them. Mereka ini adalah para public speaker, motivator, dan penulis buku yang wajahnya menghiasi rak buku best seller di toko-toko buku besar.

Apa yang dibicarakan juga sudah bisa ditebak. Pasar saham, properti, investasi, prospek, proyeksi, indeks, grafik, tren, jual beli, buyback, return, loss, kaya, makmur!

Saya menjadi merasa sangat munafik berada di sana. Mungkin ada benarnya kata koh Adam Khoo tadi pagi. Orang yang membenci orang kaya dengan sendirinya mencegah dirinya menjadi kaya. Just because you’re not rich, you can’t hate those who are. Menohok. Fullstop.

Fine, saya akan berdamai dengan orang-orang kaya di sekeliling saya karena bagaimanapun juga mereka itulah yang menggerakkan perekonomian bangsa dan negara.

Dan tidak ada yang salah dengan sistem distribusi pendapatan yang berlaku sekarang, kata Mr. Khoo. Rileks sebentar (para penganut sosialis mungkin langsung mengernyitkan alis dan siap mengepalkan tangan). Mungkin juga ia benar.

Itulah yang saya jumpai dan saksikan sehari-hari di Jakarta ini. Class struggle. Perjuangan kelas. Ingat Antonio Gramsci? Saya ingat. Ingat sekali bahkan. Bukan karena saya suka membaca Wikipedia atau menelisik lembaran-lembaran buku sejarah, tetapi karena di drama Korea “Memories of Bali“, 2 tokoh utamanya berdiskusi tentang teori yang digagas oleh Antonio Gramsci. Sungguh suatu cara yang tak terduga untuk belajar teori sosio-politik, bukan?

Antonio GramsciGramsci hanyalah seorang penulis biasa dari negeri pizza. Ia suka juga berkecimpung dalam dunia politik, mendalami sosiologi pula dan tak kalah piawai dalam urusan bahasa. Sayangnya, ia jelas bukan penggemar tren fashion. Gaya rambutnya terlalu ‘megah’. Lihat saja di foto samping. Terlepas dari preferensi gaya rambut yang eksentrik itu, mas Gramsci ikut mendirikan dan pernah menjabat sebagai pucuk pimpinan Partai Komunis Itali dan dijebloskan ke balik terali besi saat Benito Mussolini berkuasa. OMG, saya baru tahu ia seorang komunis. Teman saya di kampung yang mirip Aidit itu pasti langsung bangga.

Kembali menginjak tanah Batavia, di sini setiap saat saya menyaksikan jurang perbedaan pendapat dan pendapatan. Selisih paham di berbagai situasi sudah biasa ditemui di kota metropolitan ini. Apalagi perbedaan pendapatan. Buruh-buruh kontrak di proyek-proyek konstruksi di bilangan Satrio setiap pagi mengenakan sepatu boot dan pakaian lusuh seadanya untuk berpeluh-peluh sepanjang hari di lokasi pendirian gedung-gedung pencakar langit baru dan jalan layang penghubung Tanah Abang dan Kampung Melayu.

Mereka menyewa kamar kos di gang-gang sempit di belakang kantor. Dengan melihat fakta bahwa satu kamar kos sempit bisa diisi 4-5 orang pekerja konstruksi, kita bisa taksir besarnya penghasilan mereka dari bekerja sebagai buruh bangunan kontrak seperti itu. Saya sangsi apakah standar UMR juga sudah layak atau belum untuk mereka. Tapi pikiran itu langsung sirna begitu mendapati pekerja-pekerja itu dengan santai merokok sepulang kerja. “Siapa suruh bakar uang terus diisap seperti itu?” pikir saya yang punya sejarah cinta-benci dengan rokok.

Setelah pukul 11, acara pun jeda. Dan berikutnya, saya mendengarkan khotbah Jumat di dalam musholla kecil di mall raksasa itu. Serasa seperti tenggelam di lautan setelah 1 detik sebelumnya kehausan di gurun pasir. Mendengarkan khotib berceramah tentang kebahagiaan akhirat dengan pikiran masih terngiang-ngiang untung jutaan dollar dari bermain saham. Sangat menyeimbangkan. The most perfect equilibrium, I should say.

Bedanya saya tadi duduk di ruangan berpendingin yang membuat saya dehidrasi hingga bibir kering kerontang, duduk nyaman di satu kursi empuk sendiri dan menatap panggung megah menjulang dengan tata cahaya yang aduhai serta sistem suara yang menggelegar. Wajah dan ekspresi pembicara juga amat atraktif. Cuma orang sinting yang mau melewatkan kesempatan belajar seperti itu, apalagi setelah membayar tiket masuk ratusan ribu rupiah. Untungnya saya gratis karena tugas kantor.

Di musholla ini, saya tidak dehidrasi lagi. Setidaknya tidak tampak demikian lagi karena bibir saya sudah lembab dengan air wudhu. Tapi tunggu dulu, jangankan duduk nyaman, mau meluruskan kaki pun tidak leluasa di sini. Kepadatan jamaahnya tidak bisa dianggap remeh!

Saya yang semula suka berkeluh kesah saat orang satu barisan shaf di samping saya tidak mau mendekatkan kaki mereka ke kaki saya, kini harus menelan ludah saya sendiri karena tanpa diminta pun, orang-orang di samping saya sudah merapat tanpa dikomando karena ruangan yang terbatas. Saya pun berjejalan dengan satu orang pria bertubuh tambun dan berlengan gembur di barisan belakang dan satu orang di samping kiri yang sekonyong-konyong masuk barisan tepat sebelum takbir dimulai. Sangat WTF sekali pokoknya. Seperti selada dijepit roti.

Seperti biasa, tidak ada tidur yang paling nikmat kecuali tidur saat di dalam masjid/ musholla di tengah khotbah Jumat. Kenikmatannya tiada tara, saya berani menyimpulkan.

Di sini lain dari seminar tadi. Sama-sama ada orang yang berbicara tapi tidak ada panggung megah. Ada podium mungkin tapi percuma juga saya tak bisa melihat langsung wajah si khotib. Sound system juga bukan yang wah. Biasa saja. Banyak nasihat bagus bergema di antara dinding musholla ini tetapi kepala-kepala terkulai karena kantuk dan bosan. Mungkin kemalasan mendengarkan itu juga karena masuk menjadi jamaah solat Jumat itu wajib dan gratis.

Pak khotib tanpa wajah itu suara menggaung,”Kalau kebahagiaan dunia itu semu dan temporer… Tidak ada orang yang bahagia sepenuhnya di dunia ini, siapapun orangnya. Walaupun punya jabatan tinggi, punya harta melimpah, gelar berderet-deret, tidak akan luput dari kegelisahan. Maka kebahagiaan yang kita butuhkan tak cuma di alam dunia, tetapi juga di alam kubur.” Lalu ia melanjutkan dengan berandai-andai, menyebutkan bahwa di tahun 2112 nanti semua yang ada di sini sudah berpindah ke alam lain. Hasrat ingin kaya melumer sudah. Ya sudahlah, jadi orang baik juga sudah cukup. Nanti nunggu enak di akhirat saja.

Inti khotbahnya sebenarnya cuma 1: “kunci kebahagiaan dunia-kubur-akhirat: pelajari Al Quran, solat, dan infaq”. Tapi khotib ini dengan piawainya mengelaborasi hingga menjadi sebuah ceramah sepanjang 27 menit lebih. Bravo orators!

Dan tentang judul, karena hari ini adalah hari yang absurd, saya pikir tak ada salahnya memilih judul yang absur dan tidak relevan pula.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s