Kompensasi 1001 Kekurangan Kita dengan Menjadi yang Terbaik di 1-2 Bidang

Bahasa dan yoga: Dua spesialisasi saya

 

Saya masih ingat betapa saya bersedih dan tertekan saat nilai matematika hanya 54. Saat itu saya kelas 4 SD, dan rasanya sudah seperti the end of the world alias kiamat bagi anak 10 tahun. Apa yang harus saya lakukan? Saya butuh keajaiban untuk bisa membuat nilai saya terdongkrak agar orang tua saya yang guru tidak malu. Ahhh!

 

Begitu tertekannya saya sehingga saya lupa bahwa penguasaan saya di IPS lebih tinggi dibandingkan teman-teman sekelas. Saya suka membayangkan berkeliling dunia dan karenanya saya suka membuka-buka atlas, mengetahui nama-nama ibukota setiap negara di dunia. Itu sangat mengasyikkan. Saya bisa lepas dan bersantai di pelajaran IPS.

 

Tetapi begitu pelajaran matematika dimulai saya tercekam. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kecepatan berhitung saya lumayan payah. Guru yang semula netral di mata saya, begitu saya tersadar saya tidak bisa berhitung sebaik teman-teman lain, saya seolah merasa terongrong, seperti hewan buruan yang senantiasa curiga dengan gerak-gerik hewan buas yang bisa jadi tidak bermaksud memangsanya. Saya merasa tiba-tiba semua perkataannya adalah lecutan cambuk yang melukai. Dan naluri saya adalah bertahan di sepanjang pelajaran. Saya harus tahu  bagaimana caranya ‘selamat’ dari siksaan ini. Siksaan yang datangnya beberapa jam seminggu.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, saya kemudian bertanya: Apakah begitu wajibnya bagi saya dan setiap orang di dunia untuk menjadi sempurna dalam segala hal? Apakah tidak cukup saya pandai di satu dan dua hal yang saya sangat sukai dan menjadikannya sebagai permakluman atas ketidakmampuan saya di bidang atau pelajaran lain?

 

Terus terang saya muak untuk memenuhi semua tuntutan menjadi sempurna. Dan saya pikir itulah sumber keruwetan hidup manusia: keinginan untuk menjadi paling sempurna di dalam semua hal. Itu karena kita memang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Manusia selalu punya keterbatasan dan terimalah itu!

 

Sebagai konsekuensi logis, manusia harus menerima kenyataan bahwa dia boleh saja ‘sempurna’ di beberapa aspek dan payah atau sangat payah di aspek-aspek lain dalam kehidupannya. Itu sangat wajar. Menjadi payah, buruk, tidak kompeten, goblok, suck, adalah hak bagi setiap manusia sepanjang ia masih memiliki spesialisasi yang ia benar-benar kuasai. Saya rasa wajar bila kita temui tukang bangunan yang tidak bisa memasak, atau penari balet yang gagap teknologi, atau mahasiswa teladan Fisika yang tidak tahu menahu tentang anatomi tubuh manusia.

 

Saya biasa-biasa saja, standar… So what?

 

Tidak ada yang perlu diperolok atau dibanggakan jika kita memang tidak sebaik orang lain dalam banyak hal dalam hidup ini. Kepayahan (keadaan payah) yang artinya bisa “pas-pasan”, “biasa”, “standar”, “rata-rata”, bagi banyak orang harus dihindari dengan segala cara. Tampaknya kondisi ini memang mengerikan. Saya juga berpikir saya bersumpah tidak mau menjadi orang-orang kebanyakan yang biasa-biasa saja. Mediocre itu mengerikan! Saya mau menjadi achiever. Apalagi akhir-akhir ini marak berbagai jenis motivator a la Mario Teguh, atau Bong Chandra. Semua orang terpacu untuk menjadi lebih sukses, kaya, bijaksana dengan menuruti semua nasihat dan kata mutiara yang digelontorkan di berbagai media. Tidak ada yang salah. Saya bukan anti motivator. Dan saya sadar kadang kita membutuhkan figur-figur luar biasa seperti mereka yang bisa melejitkan semangat di kala lesu darah. Namun, apa yang saya kurang sukai adalah bagaimana kita terlena dengan menganggap semua itu adalah manual kehidupan. Tidak ada buku petunjuk untuk menjalani kehidupan yang sejelas manual produk elektronik. Kitab-kitab suci pun masih menyimpan banyak gagasan yang multiinterpretatif di dalamnya. Setiap orang bisa memiliki penafsiran sendiri, dan memang kita berhak untuk itu.

 

Kembali ke topik mediocrity (keadaan rata-rata, biasa saja), saya pikir waktu kita di dunia ini adalah aset yang terbatas. Semua yang manusia ‘miliki’ juga terbatas karena pada dasarnya semua adalah pinjaman. Kita bisa bekerja begitu lama dan keras sepanjang hari 24 jam. Namun, sayangnya waktu, energi dan pikiran adalah sumber daya yang sangat terbatas. Kita tidak bisa bekerja terus menerus sepanjang hari dengan tingkat produktivitas yang stabil. Dalam jangka panjang, bekerja terus menerus juga tidak mungkin kecuali kita sudah bosan hidup.

 

Keterbatasan semua hal ini menjadi faktor penting karena itu berarti kita tidak bisa sempurna dalam semua hal. Kita tidak memiliki banyak waktu untuk menjadi koki kelas dunia, pasangan hidup yang hebat, teman yang hangat, pekerja yang sangat produktif, pemain golf yang menjuarai turnamen-turnamen bergengsi dunia dalam sekali waktu. Bahkan kita bisa simpulkan seorang manusia hanya bisa sangat piawai dan menguasai keahlian di 1 hingga 2 bidang saja. Selebih itu hanyalah mitos.

 

Menurut Malcolm Gladwell, pakar psikologi populer, seorang ahli membutuhkan setidaknya 10.000 jam untuk benar-benar menguasai satu bidang. [1] Meski ini bukan acuan yang akurat tetapi intinya adalah untuk menjadi seorang pakar/ ahli dalam sebuah bidang, seseorang perlu bekerja sangat keras dan menghabiskan waktu yang panjang sekali. Dan kita juga masih harus melakukan berbagai kegiatan rutin seperti makan, tidur, menikmati hidup, dan sebagainya. Dengan fokus pada bidang-bidang spesialisasi kita saja, kita tidak perlu mengalami banyak stres dan frustrasi. Semua akan menjadi lebih mudah.

 

Dan untuk menemukan spesialisasi itu, kita perlu banyak bereksperimen dan mendengarkan kata hati. Saya banyak menemukan mahasiswa yang saya ajar berkeluh kesah mengapa kuliah sangat sulit, skripsi sangat susah diselesaikan. Ternyata usut punya usut keluhan itu datang dari motivasi yang rendah, dan pangkalnya adalah karena mereka hanya mendengarkan ‘saran’ koersif orang tua untuk mengambil jurusan itu. Mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka sukai dan mereka hanya mengekor orang tua atau malah teman-teman.

 

Untuk orang yang introverted tetapi lumayan asertif dan beruntung memiliki orang tua yang demokratis seperti saya, menemukan minat yang menjadi spesialisasi adalah sebuah perjalanan yang cenderung mulus. Sebagian lainnya menemukan jalan yang lebih terjal dan mereka bisa menaklukkannya. Sebenarnya mudah saja: lihat ke dalam diri sendiri dan temukan prinsip-prinsip, passion (gairah) dan tujuan hidup kita. Terlalu filosofis mungkin bagi anak-anak muda. Tetapi mudahnya, lakukan saja apa yang kita senangi dan nikmati. Jangan ada keterpaksaan. Meski ada keterpaksaan pun kadarnya tidaklah besar dan masih jauh lebih besar passion kita.

 

Dan kita perlu menyerasikan tujuan hidup kita dengan apa yang kita kejar dan ingin sempurnakan. Habiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki hal-hal yang bermakna paling besar bagi diri kita. Misalnya, jika kita memiliki passion di bidang seni dan gembira serta menikmati bekerja menjadi seniman, pada saat yang sama kita tidak perlu memaksa diri menjadi pesenam yang andal, pebisnis unggul dan pemain game berpengalaman. Mengapa? Karena semua itu tidak selaras dengan tujuan hidup kita: seni. Bolehlah menjadi selingan, tetapi sangat tipis kemungkinan Anda bisa memiliki kepakaran yang sama dengan profesi seniman yang menjadi fokus Anda.

 

Karena itu takutlah kita pada mediocrity di bidang yang menjadi fokus kita saja dan terima saja kenyataan bahwa kita payah di bidang-bidang lain.

Nah karena saya ingin menjadi penulis (sekarang baru menulis di dunia online saja), saya ingin mengutip satu penulis buku yang cukup menarik meski saya belum pernah membaca karya-karyanya. Kutipan di bawah ini adalah kalimat Eric Brown, seorang penulis, yang mengatakan dirinya menulis sekitar 5000 kata per hari saat mengerjakan sebuah proyek buku. Sungguh seperti sebuah lomba lari marathon. Untuk cerpen ia hanya menulis 3000 kata per hari (artikel ini saja baru sekitar 1200 kata). Brown juga menyisihkan waktu libur antara proyek menulisnya dengan membaca, berkebun dan mencari inspirasi untuk buku atau kisah berikutnya. Dan satu lagi resepnya untuk mencari inspirasi ialah dengan melancong. Brown sendiri melakukan perjalanan ke Yunani dan sejumlah negara Asia  hingga sekarang. Ah, betapa mengasyikkannya melancong bagi seorang penulis!

 

 

 

Leave a comment

Filed under blogging, writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s