Hoi Jan!

Pukul 10.55 pagi di Jakarta sini. Tigapuluh tiga derajat celcius. Tadi pagi aku bersepeda dan berkeringat banyak sekali. Dan setelah itu masih juga bersepeda ke kantor. Tidak banyak pekerjaan di kantor sekarang jadi sambil menunggu waktu istirahat makan siang, aku teringat untuk membalas emailmu akhir pekan lalu yang belum sempat aku balas.

Dari ponselku, aku tahu di Amsterdam masih pukul 4 pagi dini hari dan pasti kau masih tertidur pulas. Suhunya lebih dingin 24 derajat dari Jakarta. Ya ampun, tentu saja aku lupa ini. Tentu dingin karena sekarang sudah musim gugur dan bulan depan sudah musim dingin.

Tentang ceritamu di email tentang 15 hal yang belum banyak diketahui turis di Amsterdam, hmm aku sangat TERGODA! Haha. Terutama soal bersepeda ke mana-mana. Di Jakarta, hanya satu hal tentang sepeda yang kusukai: kau tidak akan cemas sepedamu dicemas. Itu karena orang di sini tidak peduli semahal apapun sepedamu, mereka lebih suka sepeda motor. Lebih mudah dijual dan kalaupun tidak terjual bisa dipreteli dan dijual terpisah onderdil-onderdilnya.

Omong-omong, kursus bahasa Belandaku di sini berjalan lancar. Ini sudah pertemuan ke tujuh dan sekarang aku sedang sibuk belajar topik membuat kalimat negasi. Kadang susah juga membedakan kapan harus menggunakan “geen” atau “niet”. Ini mirip kebingunganmu saat belajar membedakan penggunaan “tidak” dan “bukan”. Dalam beberapa konteks, mereka bisa saling menggantikan, tapi di konteks lain, keduanya tidak bisa tergantikan. Dan sialnya, tidak ada pola atau rumus yang pasti untuk itu.

Karena aku sangat tertarik dengan sejarah, aku akan pertama-tama memintamu untuk mengantarku mengunjungi Hermitage Museum dan menikmati karya-karya Rembrandt, Vermeer, dan Frans Hals, mungkin aku akan habiskan waktu seharian penuh untuk menelusurinya. Aku selalu ingin tahu soal masa lalu. Belanda yang jaya di abad ke-17, karena mengisap kekayaan tanah airku, Jan. Sudahlah itu luka masa lalu tetapi aku ingin tahu bagaimana bangsamu mendirikan pasar saham pertama di dunia saat bangsaku bahkan mungkin belum mengenal uang dan masih mengandalkan barter hasil bumi.

Kemudian Volendam. Desa historis itu sangat Belanda, dan aku hendak ke sana untuk menemukan keunikan kebudayaan lokal. Bisakah aku menemukan atau bahkan membeli sepasang ‘klompen’ di sana, Jan? Aku ingin sekali membeli satu atau dua pasang untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Soal genever atau gin yang kau ceritakan itu, tentu aku tidak bisa mencicipinya, Jan. Kau tahu aku tidak bisa minum alkohol dengan alasan yang sudah jelas. Tapi aku masih tidak percaya bagaimana bisa minuman keras (berkadar alkohol sampai 20% kau bilang? Gila) itu dulu dijual sebagai minuman kesehatan atau obat di apotek. Kami punya tuak di sini tapi kami tidak pernah menjualnya sebagai minuman kesehatan. Ya, aku tahu kau akan menyangkal dengan bertanya: bagaimana dengan anggur kolesom? Kau tahu, setiap masyarakat memiliki standar gandanya. Kami di Indonesia juga. Haha.

Untuk tawaran mencoba ikan herring itu, aku sangat tergiur. Kau bilang Amsterdam herring dari Norwegia ya? Bagaimana bisa? Apakah Amsterdam tidak punya herring mereka sendiri?

Museum Prostitusi juga amat menarik, aku pikir. Tapi apakah di dalamnya akan ada atraksi-atraksi yang mendebarkan? Semoga tidak, karena jika ada aku akan menarikmu keluar bersamaku. Haha! Kau tahu aku anak baik-baik, kan?

Katamu aku juga harus mencoba pengalaman mencoba ‘de krul’, urinal di tepi jalan yang dibuat agar pria-pria yang mabuk tidak sembarangan kencing di kanal lalu terjerembab ke dalamnya dan mati tenggelam sebelum bahkan sempat menutup resleting celana mereka. Di Jakarta, buang air kecil di tepi jalan, bisa kukatakan, bukan lagi pengalaman aneh dan eksotis, Jan. Jadi, kalau kau mau aku membuka celanaku dengan menghadap urinal yang tidak beratap di tengah lalu lintas Amsterdam yang tak seberapa dibandingkan Jakarta yang seperti neraka ini, aku tentu tidak akan gentar. Hanya saja aku pikir hawanya agak dingin. Apakah air seni akan membeku begitu bersentuhan dengan udara bebas apalagi saat nanti aku akan sampai di sana?

Karena aku penggemar gaya hidup minimalis, aku pikir usulanmu mengunjungi rumah termungil itu juga sangat menggoda. Konsepnya menarik. Hidup di rumah selebar 2 meter dan tinggi 6 meter aku rasa akan sangat menarik untuk dijalani, apalagi di Jakarta yang juga harga tanahnya makin membubung di luar kewajaran.

Vrolik Museum mungkin akan kukunjungi jika waktuku masih ada di Amsterdam nanti. Karena serius, aku tidak akan tahan menatap jenazah-jenazah manusia dengan berbagai jenis cacat fisik yang tak pernah terbayangkan sebelumnya yang diawetkan dengan khloroform di gelas-gelas kaca raksasa. Ugh! Membayangkannya saja aku sudah mual, Jan!

Het Trippenhuis’ mungkin sama besarnya dengan rumah merah di Kota Tua Jakarta. Untung di Jakarta, rumah tidak dikenai pajak menurut lebar bagian depan rumah. Kalau tidak, semua orang akan berlomba-lomba melebarkan rumah mereka.

Pastinya aku akan mengunjungi Amsterdam Cheese Company yang tersohor itu. Aku selalu membayangkan diriku makan keju, seperti tikus-tikus dalam cerita komik Walt Disney. Aku rasa aku harus makan lebih banyak keju agar tubuhku bisa sama tingginya denganmu. Ya, walaupun agak sedikit terlambat.

Aku juga ingin melihat patung Ratu Wilhelmina yang sedang berkuda dengan dua kaki kudanya di sisi yang sama yang terangkat bersamaan. Musykil, tapi bisa terjadi, hanya jika sang pematung menghendakinya.

Perlu kau ketahui, Jan, pekan kemarin setelah kau memberitahukan padaku bahwa tantemu dari Utrecht akan datang dan menginap di rumah keluargamu, aku sudah hampir putus asa. Hampir saja aku membatalkan rencana kunjunganku ke Amsterdam, dan tentunya rumahmu yang hangat itu, teman. Karena saat itu aku hanya memikirkan biaya perjalanan udara dan tidak terlintas untuk memikirkan memesan tempat menginap jikalau kamar di rumahmu penuh.

Jadi, aku harus mengubah rencana. Kupikir tentu saja akan mudah menemukan hostel murah atau penginapan yang nyaman dan aman di Amsterdam. Tetapi sepertinya aku salah, karena memesan hotel tidaklah semudah memesan tiket pesawat. Ada begitu banyak pertimbangan seperti tarif per malamnya, lokasi, kenyamanan, dan yang pasti keamanan. Kau tentu tahu aku sangat trauma dengan kejadian kriminal sepanjang liburanku di China saat salah seorang temanku kehilangan paspornya. Liburan kami sudah porak poranda seketika. Gairah bersenang-senang kami langsung sirna. Karena itu, Jan, aku tidak mau memilih tempat menginap secara sembarangan.

Untungnya, om Ari adik mamaku memberitahuku bahwa sekarang memesan tiket pesawat dan hotel tidak perlu dilakukan secara terpisah. Aku juga awalnya tidak percaya layanan semacam itu ada tetapi setelah om Ari mengatakan dirinya juga sering menggunakan layanan paket ‘Pesawat + Hotel’ dari Traveloka, aku baru mempercayainya. Kata om Ari, paket itu membuatnya bisa lebih banyak berhemat saat mesti memesan tiket dan akomodasi selama melancong. Ah, sungguh menyenangkan rasanya. Aku suka sekali dengan inovasi ini.

Barulah setelah aku memesan tiket pesawat pergi-pulang ke Amsterdam dengan Traveloka dan mendapatkan konfirmasinya, aku buru-buru menulis email balasan ini untukmu. Ah, sudah hampir jam makan siang di sini, Jan. Kutunggu balasanmu.

Doei,

Akhlis

 

*) P. S. : Aku akan bawakan beberapa ‘kudapan eksotis dari Timur’ sambal pecel, tempe, dan seblak.

Leave a comment

Filed under writing

AC Daikin: Sejuk, Tidak Bikin Tagihan Listrik ‘Meleduk’

PERNAHKAH Anda merasa sangat tersiksa berada dalam ruangan yang dinginnya terlalu menusuk?

Itulah yang saya kerap rasakan dalam ruangan di gedung-gedung pencakar langit yang pernah saya kunjungi. Karena saya tidak berdaya dan tidak kuasa untuk mengatur temperaturnya, yang saya bisa lakukan cuma menyesuaikan pakaian agar merasa lebih hangat sehingga mesti memakai pakaian berlapis-lapis.

Saya sering bertanya,”Apakah harus sedingin ini?”

Ternyata tidak cuma saya yang mengeluhkan. Banyak teman kerja yang mengeluhkan derita yang sama.

Ternyata makin dingin suhu ruangan, makin banyak energi listrik atau bahan bakar yang dikonsumsinya. Mubazir jika menyalakan pendingin ruangan dengan suhu yang terlalu dingin. Apalagi bagi orang tropis seperti kita, yang merasa sudah cukup sejuk berada dalam ruangan bersuhu sekitar 20-25 derajat celcius. Di bawah kisaran itu, rasanya malah menggigil. Dan karena terlalu dingin, jari-jemari menjadi kaku dan mengetik menjadi sulit apalagi pekerjaan saya mengharuskan mengetik sepanjang hari.

Kemudian saya berkunjung ke sebuah perpustakaan yang suhunya ternyata tidak serendah ruangan-ruangan yang biasa saya kunjungi. Saya lihat pendingin ruangannya Daikin.

Penasaran, saya coba mencari informasi. Maklum tinggal di kota sepanas Jakarta, saya merasa butuh pendingin ruangan juga. Dengan begitu banyaknya produk pendingin ruangan di pasar, sulit untuk menentukan pilihan.

Riwayat Panjang Daikin

Daikin dikenal sebagai salah satu jenama (brand) terbaik di dunia perihal pendingin ruangan. Tidak heran, karena pengalamannya di bidang ini sudah 90 tahun. Berasal dari negeri matahari terbit, jenama ini dikenal sebagai produsen pendingin ruangan kelas premium, bukan abal-abal. Inovasi dalam fitur-fitur pendingin ruangannya membuat Daikin terus digemari konsumen dan diakui dalam bentuk penghargaan kaliber global.

Karena saya memiliki perhatian pada isu perubahan iklim, saya pun menjadi lebih cermat memilih produk pendingin ruangan. Saya ingin memilih yang paling hemat energi dan nyaman agar emisi karbon dan risiko pengikisan ozon saya dapat ditekan seminimal mungkin. Ini karena Daikin memakai R32, refrigerant terbaru yang lebih ramah lingkungan.

Pendingin udara Daikin yang dipakai di perpustakaan itu ternyata lebih baik daripada pendingin udara yang digunakan para pemilik gedung yang saya sambangi. Produk ini memiliki kemampuan unik untuk menyesuaikan suhu ruangan agar sesuai dengan cuaca. Rupanya ini kenapa kami makin menggigil karena AC kantor makin dingin tiba-tiba saat hujan deras.

Daikin memiliki solusi juga untuk memangkas konsumsi energi. Saat biaya listrik terus naik, memiliki AC Hemat Energi juga merupakan sebuah investasi besar.

Ada tiga cara AC Daikin menurunkan biaya listrik.

Pertama

AC Daikin menghubungkan pendingin ruangan ke data prakiraan cuaca. Anda tinggal atur agar suhu lebih nyaman. Untuk saya, suhu nyaman artinya suhu ruangan tidak drop saat cuaca dingin di luar rumah tetapi juga tidak naik banyak saat cuaca gerah.

Kedua

AC Daikin memudahkan pengaturan sesuai kondisi ruangan. Jika ruangan dimasuki banyak orang, aturlah agar pendingin ruangan bekerja sedikit lebih banyak. Begitu tidak ada orang di ruangan, aturlah agar pendingin ruangan mati otomatis.

Ketiga

AC Daikin menyediakan pengaturan konsumsi listrik maksimal. Dengan adanya batasan atas ini, mati listrik mendadak sebab penggunaan berbagai alat elektronik secara bersamaan bisa dihindari.

Untuk menemukan lokasi toko Daikin, kunjungi laman ini.

Jadi, kalau AC ya Daikin! (*/)

 

 

Leave a comment

Filed under writing

Tortue Yoga Mat: Seawet Kura-kura

Kura-kura dan yoga sekilas memang tidak ada kaitannya. Tetapi kura-kura dianggap sebagai salah satu satwa yang menginspirasi yogi zaman dahulu. Saya selalu teringat dengan analogi yang disampaikan oleh seorang guru yoga mengenai resep usia yang panjang dalam sebuah ceramah singkat. Ia berceloteh demikian kurang lebih:”Anda tahu mengapa anjing dan kura-kura berbeda umurnya?”
Saya yang belum tahu apa-apa cuma termangu menunggu jawabannya. Begitu juga hadirin yang lain.
Guru itu pun menjawab sendiri pertanyaannya, setelah beberapa saat menunggu jawaban. “Lihatlah anjing dan kura-kura saat bernapas.”
Anjing menurutnya bernapas lebih cepat. Itu dapat dilihat dari gerakannya yang trengginas dan agresif. Lidahnya komat-kamit untuk mengeluarkan sebagian panas tubuhnya.
Sementara itu, seekor kura-kura bergerak jauh lebih lamban sebab cangkang keras di badannya tidak memungkinkannya bermanuver selincah anjing. Gerakan yang lamban membuatnya juga bernapas lebih lamban.
Soal usia kedua spesies berbeda ini, anjing terbukti lebih pendek. Saat anjing cuma bisa hidup sekitar 20-an tahun, seekor kura-kura bisa menembus usia seabad. Bila hidup di alam bebas yang tanpa gangguan predator, seekor kura-kura bisa mencapai usia 175 (jenis Galapagos) bahkan 250 tahun (jenis Aldabra).
Terkait dengan yoga terutama olah pernapasan (pranayama), diyakini bahwa semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Karena tertarik dengan filosofi ‘biar lambat asal panjang umur’ ini, saat saya memilih mat yoga baru untuk saya pakai, saya cari juga yang memiliki filosofi tersebut. Selama 7 tahun belakangan, saya tidak pernah secara khusus mengalokasikan dana dan waktu untuk memilih dan memiliki sebuah mat yoga. Mat yoga pertama saya hanyalah selembar banner yang tipis dengan fungsi sekadar untuk membuat tidak kotor saat duduk, berbaring dan tengkurap. Lain dari kebanyakan orang, saya tidak begitu meributkan soal mat di awal saya mulai berlatih. Kemudian mat pertama saya yang memang benar-benar mat ialah sebuah mat PVC pemberian penyelenggara event yoga massal yang lumayan tebal tetapi berpermukaan licin. Meski tangan saya bukan tipe yang mengeluarkan keringat demikian deras saat berlatih, tetap saja terasa kurang nyaman. Tapi saya tetap bersyukur juga dengan mat itu. Buktinya saya tetap menggunakannya hingga suatu saat saya diberi mat baru juga sebagai hadiah oleh beberapa kolega kerja. Mat ini lebih bagus dari yang pertama tapi permukaannya tetap agak licin. Tekstur permukaannya menurut saya terlalu halus hingga kekesatanya kurang memuaskan. Dalam posisi downward facing dog, tangan saya bisa berjalan sendiri ke depan.

13402315_1731860410385475_1059588841_n

(Source: lmgrum)

Setelah sekian lama mendapatkan mat dengan spesifikasi yang kurang pas, hati saya akhirnya tertambat pada Tortue Travel Mat. Logonya sekali lagi menarik karena berbentuk kura-kura, yang memiliki makna khusus dalam dunia yoga sebagaimana saya kemukakan di awal tulisan.
Kelebihan lain yang membuat saya menyukai mat satu ini ialah ketipisan yang pas (3 mm) sehingga mudah dilipat hingga bisa dimasukkan dalam tas punggung saya. Ini sungguh memudahkan karena saya tidak perlu repot membawa tas yoga khusus yang panjang dan merepotkan terutama jika sedang bepergian untuk hadir dalam acara-acara lain selain yoga. Membawa tas khusus mat yoga terasa aneh jika masuk ke kafe, toko, mall apalagi di gedung perkantoran. Saya tidak mau terlalu menarik perhatian orang apalagi sekuriti. Karena jangankan di Indonesia, di Amerika Serikat saja seorang wanita dikeluarkan dari gedung saat Donald Trump berkampanye dulu gara-gara dicurigai membawa peledak (atau bazooka?) yang bisa membahayakan nyawa banyak orang. Padahal yang dibawa itu cuma gulungan mat yoga!
Meski tipis, yoga mat ini tidak serta merta meninggalkan unsur kenyamanan saat berasana. Saya pernah meminjam travel mat brand lain yang dimiliki teman tetapi tipisnya membuat pemakai kesakitan saat harus membiarkan lutut menumpu di lantai. Mat yang terlalu tipis juga cukup riskan jika dipakai di paving yang kurang rata (apalagi saya menyukai beryoga di ruang terbuka) dalam jenis pose-pose inversi karena kepala, leher dan bahu lebih peka dan rawan terhadap tekanan. Travel mat dari Tortue ini sekali lagi mampu melindungi pengguna dari sensasi kurang menyenangkan yang biasa ditemukan saat memakai mat tipe travel.
Tortue jenis ini juga bisa dipakai untuk mereka yang kurang suka mat licin. Permukaan yang bertekstur lebih menonjol membuat risiko terpeleset saat kelas vinyasa atau ashtanga yang intens juga lebih rendah.
Untuk penggunaan perdana, mat ini memang terasa agak licin. Untuk membuatnya lebih kesat, pakailah kain lap basah untuk menyekanya dengan lembut. Setelah lapisan licinnya terangkat, mat akan terasa lebih lengket (sticky).
Karena jenis material mat ini ialah closed cell, akan lebih mudah bagi kita membersihkannya. Tidak perlu dicuci dengan banyak air. Cukup seka dengan kain basah yang bersih kemudian anginkan di tempat teduh jika dirasa sudah kotor. Pemeliharaan mat jenis ini juga lebih mudah karena lebih tahan jamur meski disimpan dalam kondisi lembab. Hal ini berbeda dengan mat berbahan karet alam yang lebih mudah ditumbuhi jamur.
Jika kulit kita rentan pada alergen, mat ini juga lebih disarankan untuk dipilih karena lebih mudah dibersihkan (karena tidak berpori yang membuatnya menjadi tempat alergen seperti debu atau bulu hewan berkumpul dan menempel). Mat berbahan karet alam yang meski harganya lebih mahal – sepanjang pengalaman saya – justru membuat kulit bisa gatal dan ruam-ruam merah.
Menyoal harga, mat satu ini berada di kisaran Rp700.000 yang tergolong terjangkau untuk ukuran travel mat dengan brand dari luar negeri. Sebab mat Tortue ini berasal dari Jerman dan telah mulai diproduksi sejak 1988.
Untuk saya, travel mat ini sudah menjawab kebutuhan saya dalam berlatih yoga. Mudah dibawa ke mana-mana, ringan sehingga tidak begitu membebani area bahu, tetap kesat saat dipakai, mudah dibersihkan selesai beryoga dan mudah-mudahan bisa dipakai selama mungkin seperti kura-kura yang awet hidupnya. Bagaimana dengan Anda? (*)

2 Comments

Filed under yoga

Pupuk Nasionalisme dengan Melancong

Screen Shot 2017-09-06 at 16.19.15.png

Nasionalisme dan melancong. Apa hubungannya?

SETELAH begitu kerasnya membanting tulang, saya hadiahi diri saya sebuah liburan ke pulau Bali. Sebuah liburan yang direalisasikan secara impromptu karena jika direncanakan jauh-jauh hari justru berisiko buyar. Sebabnya bisa bermacam-macam. Hampir selalu begitu. Maka, saya putuskan hanya beberapa pekan sebelumnya untuk meluncur ke bagian tengah Indonesia dari Jakarta.

Di bandara Ngurah Rai, saya lepaskan beban apapun yang menggelayuti pikiran soal pekerjaan. Di depan, sudah menyongsong seorang teman. Narto namanya. Ia sendirian dan mengatakan sudah mengenali saya saat di gerbang.

“Saya cari orang berperawakan kecil dan kurus. Seperti di Facebook,” celetuknya. Tawa kami meledak. Kami memang belum pernah bertemu sebelumnya secara langsung. Janji kami untuk bertemu dirangkai lewat pesan di Facebook Messenger. Usia Marto memang sudah setara paman saya tetapi soal kekerapan menggunakan media sosial, saya mengaku kalah darinya.

Marto mengajak saya ke dalam mobil yang rupanya ia sewa dari seorang tetangga. Di belakang stir, seorang anak muda berperawakan penuh menyapa. Ia perkenalkan dirinya sebagai Wayan Amarta. Ia sedang libur sekolah dan tengah mencari uang tambahan untuk keluarganya. Marto memilih memakai jasanya sebab penggilingan padi mereka yang semula ramai pelanggan mulai sepi. Seorang tetangga lain membuka bisnis penggilingan yang sama dengan harga lebih murah. Hancurlah sumber penghidupan keluarga itu. Kini mereka memutar otak agar bisa bertahan hidup. Amarta ingin menabung agar bisa kuliah dan menjadi pekerja di kapal pesiar mewah yang mengarungi lautan luas.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.21.38

Bersantai di penginapan terjangkau di Ubud, Bali. Surga!

Mobil meluncur ke beberapa tempat wisata, dan kami sampai juga di Ubud yang menjadi tujuan saya. Narto memberikan penjelasan sepanjang jalan dengan sukarela. Karena saya dianggap teman dan ia sedang tidak sibuk menemani wisatawan, ia merelakan sejumlah waktu berharganya menemani saya. Sungguh baik hati dirinya. Di kala sibuk, ia berkelana mengawal turis manca ke pulau-pulau timur nusantara, berdiri di dek kapal pesiar mewah yang bertarif ribuan dollar untuk bisa ikut di dalamnya sebagai peserta.

Saya pun sampai di penginapan rekomendasinya. Dekat dengan sebuah hutan penuh monyet-monyet yang dibiarkan liar. Saya sempat lupa saya tinggal dekat hutan karena terlalu lama di Jakarta yang sesak dan gersang hingga esok harinya saya bangun dan makan pagi di teras.

Saya tersentak. Seekor monyet kecil entah dari mana sampai di balkon tempat saya bersantai dan menghirup udara segar. Tak cuma satu ekor itu. Ia disusul oleh serombongan lainnya, yang rupanya juga sama kelaparannya seperti saya. Sekeluarga monyet itu mengamati saya dan memastikan tidak ada ancaman yang berarti dalam gerak-gerik saya. Barulah mereka turun, mengaduk-aduk tempat sampah dan sempat menjamah sekantong buah yang saya baru dapatkan kemarin.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.13

Menikmati hidangan khas Indonesia di berbagai kesempatan menjadi bukti nasionalisme kita juga.

Senja turun dan kegelapan mulai melingkupi penginapan. Saya masih ingat tidak ada sinar rembulan dan sebagai orang yang terbiasa dengan kehidupan kota yang berlimpah cahaya, melihat pekatnya malam membuat saya bergidik panik juga.

Ponsel saya bergetar, sedikit mengusik ketenangan. Saya harap tidak soal pekerjaan. Untungnya dugaan tidak menjadi kenyataan.

Ternyata Narto yang menghubungi saya via WhatsApp. Ia dan istrinya mengundang saya bersantap malam. Mereka berdua menunggu saya di sebuah restoran dekat penginapan.

Saya memilih gado-gado dan sembari menunggu mereka datang, saya membuka laptop dan menuliskan beberapa pengalaman dalam perjalanan ini. Saya tidak mau sampai detail-detail berharga ini tidak tercatat dan terlupakan.

Mereka datang juga. Saya menutup laptop demi kesopanan dan kami segera memesan makanan. Saya nyaman dengan memakan gado-gado. Mereka dengan makanan ala Eropa. Maklum, istri Narto seorang perempuan Prancis totok.

“Claudine,” ia menjabat erat tangan saya dalam logat Prancis yang kental. Dari istrinya, Narto belajar bercakap bahasa Prancis hingga lancar. Ia memang pembelajar yang alami, sebagaimana saat ia mulai belajar bahasa Inggris hanya dengan mendengarkan siaran BBC setiap hari di radio pamannya. Saya mengagumi kemampuan istimewanya itu.

Kami mengobrol banyak hal, hingga sampai pada satu topik tentang frekuensi mudik Claudine ke tanah airnya. Saya menduga ia sekali setahun ke sana.

“Tidak, saya tidak sesering itu pulang, Akhlis. Tiket pesawatnya kan mahal! Haha,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata tetapi jelas bagi saya. Ia agak kesulitan melafalkan nama saya dengan benar tetapi saya paham lidahnya belum terbiasa dengan kata berakhiran /s/.

Ia mengatakan bahkan hanya beberapa tahun sekali jika ada penawaran tiket yang murah saja. Sebagai orang Prancis, ia memiliki kebiasaan mudik yang lain dari kebiasaan mudik orang Indonesia tiap Idul Fitri, yang mengharuskan menampakkan muka di rumah tempat keluarga besar berkumpul. Saat Natal, Claudine juga tidak menganggapnya sebagai suatu saat istimewa. Ia tidak lagi menjadi penganut Katholik yang taat karena ia bercerita sudah bosan dengan didikan dogmatis sepanjang masa kanak-kanaknya.

Ia sempat berceletuk,”Kalau saya bisa memilih tidak pulang ke sana, saya akan pilih demikian.”

“Kenapa?” selidik saya. Saya tidak paham dengan jawabannya itu. Bukankah seseorang pasti memiliki pertalian emosional yang erat dengan tanah kelahirannya?

“Karena saya sudah tidak merasa Prancis rumah saya. Saya lebih nyaman di sini,” ucap Claudine dengan mantap. Sejurus kemudian ia menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.

Lebih lanjut, tanpa saya tanya, Claudine terus mengemukakan alasannya. Saya memperlambat kecepatan makan saya untuk berkonsentrasi pada ucapannya yang lirih.

“Kau tahu, Akhlis?”

“Tidak…” jawab saya jujur.

“Bangsa Prancis menganggap diri mereka lebih tinggi daripada bangsa-bangsa yang lain. Dan karena itulah, mereka enggan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Tiap kali ada kegagalan mereka menganggap itu bukan kesalahan mereka tetapi  bangsa lain. Prancis menjadi bangsa yang stagnan, terjebak dalam kejayaan masa lalunya. Karena itulah, saya merasa lebih nyaman di sini, Akhlis,” terang Claudine panjang lebar. 

Jujur, saya tidak tahu harus berkata-kata apa. Karena selama ini, saya sebagai orang luar menganggap bangsa Prancis sebagai bangsa yang besar, hebat, dan superior dengan Revolusi Prancisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia modern ini. Belum lagi dengan bangunan-bangunan kuno mereka yang terawat apik, museum-museum, Paris yang selalu digadang-gadang orang sebagai Mekah-nya dunia mode. Tetapi toh ternyata, jika dikorek-korek, ada juga cacat dalam sebuah bangsa sebesar itu.

Kemudian inilah saat saya bertanya:

“Bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Indonesia?”

Saya selama ini hampir selalu mendengarkan pernyataan-pernyataan bernada inferiority complex yang banyak diderita bangsa bekas jajahan, bahwa Indonesia harus banyak belajar dari bangsa X, bangsa Y, bangsa Z. Tidak ada habis-habisnya. Seolah-olah bangsa ini tidak memiliki kelebihan dan kekuatan sedikit pun yang bisa diangkat dan dibanggakan.

Sudah saatnya persepsi negatif kita tentang bangsa sendiri diubah. Caranya? Dengan banyak melancong!

Dengan melancong di dalam negeri, kita lebih banyak mengenali dan memahami lebih mendalam tentang keragaman dan kekayaan budaya, alam, kuliner, filosofi dan berbagai jenis aset material dan imaterial lain yang dimiliki bangsa besar ini. Mari kita belajar dari bangsa-bangsa lain seperti Prancis dengan mengambil sisi positif, yakni kebanggaan atas budaya, sejarah dan aset-aset nasional lainnya tetapi di saat yang sama kita juga perlu membuka diri untuk terus bisa belajar demi kemajuan bangsa.

Soal dana untuk melancong, patut disadari bahwa masyarakat Indonesia masih menghabiskan dana wisata mereka untuk berbelanja. Tentu tidak sepenuhnya salah dengan itu (karena itu menggenjot perekonomian juga), tetapi hendaknya jangan hanya mengutamakan oleh-oleh saat melancong tetapi juga belajar lebih banyak mengenai orang-orang yang kita kunjungi di daerah lain.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.31

Kemacetan dan ketidaktertiban berlalu lintas selalu menjadi satu hal yang identik dengan sisi buruk Indonesia.

Pada Claudine, saya berharap saya bisa bertemu lagi dengannya untuk sekadar berterima kasih atas inspirasi yang ia berikan pada saya. Sekaligus saya juga ingin menyampaikan kiat saya agar ia bisa pulang ke Prancis lagi lebih sering atau melancong ke negara lain sehingga bisa menemukan perspektif lebih baik mengenai bangsanya yang saya yakin ia rindu juga tak peduli banyaknya cacat yang dimiliki dalam kacamatanya. (*)

2 Comments

Filed under writing