Kutipan-kutipan Paling Berbobot dari Novel 1Q84 Karya Haruki Murakami (4)

“I am who I am, no matter who or what I am connected with – or not connected with.” – p 900

“But I found that the longer you teach, the more you feel like a total stranger to yourself.”- p 905

“Once you have achieved something so magnificent, you have to be content with it.”- p 909

“Knowledge and ability were tools, not things to show off.” – P914

“Blood had a frighteningly long memory.” – p919

“Ever since she could remember, she had always hated this thing called God. More precisely, she rejected the people and the system that intervened between her and God. For years she had equated those people and that system with God. Hating them meant hating God. (…) They preached about God’s kindness, but preached twice as much about his wrath and intolerance.” – p928

“Writers have to keep on writing if they want to mature, like caterpillars endlessly chewing on leaves.”- p946

“People need routines. It’s like a theme in music. But it also restricts your thoughts and actions and limits your freedom. It structures your priorities and in some cases distorts your logic.” – p 972

“If you do the same things everyone else does, in the same way, then you’re no professional.” – p 973

“There are lots of things ordinary people can do that I can’t. (…) On the other hand, there are a few things I can do that most other people can’t. And I do these few things very, very well. I’m not expecting applause or for people to shower me with coins. But I do need to show the world what I’m capable of.”- p 1005

“Life might just be an absurd, even crude, chain of events and nothing more.” – p 1048

“‘Your father must have really liked his job. Going around collecting NHK subscription fees.’
‘I don’t think it’s a question of liking or disliking it,” Tengo said.
‘Then what?’
‘It was the one thing he was best at.'” – p 1054

“That was his basic way of thinking. Principles and logic didn’t give birth to reality. Reality came first, and the principles and logic followed.”- p1056

“‘Cold or Not, God Is Present,'”- P1090

“If we die today, we do not have to die tomorrow, so let us look to the best in each other.” – p1091

“Good – that’s what’s most important, he thought. Everyone’s death should be mourned. Even if just for a short time.” – p 1096

“A certain amount of ambition helps a person grow.” – p 1098

“But I never count on luck. That’s how I survived all these years.” – p1100

“It’s very difficult to logically explain the illogical.” – p 1104

“The things she most wanted to tell him would lose their meaning the moment she put them into words.” I p 1106

“I’m the one who decides what’s good and what’s bad – and which way we’re headed. And people had better remember that.” p 1107

“Thinking about time only seemed to slow it down.” – p 1114

“If death brings about any resolution, it’s one that only applies to the deceased.”- p1123

“Sometimes our memory betrays us.” – p 1150

Leave a comment

Filed under writing

Koruptor Sejati ala Cak Lontong

Menjadi koruptor sejati itu sulit sekali. Salah satu syaratnya harus tangkas. Seperti saat menjawab salam yang dikatakan sendiri, karena saat menjawab salam ada pahala yang mengalir pula. Ketamakan itu membuat kami terus berlomba meski raihannya tidak konkret.

Koruptor sejati tidak perlu gelar tinggi apalagi pendidikan kampus yang mahal. Hanya dibutuhkan cita-cita tinggi nan mulia: memerangi kemiskinan. Hanya saja, koruptor sejati baru tahap belajar jadi mereka egois dalam memerangi kemiskinan; mereka hanya memerangi kemiskinan finansial dirinya sendiri. Sementara itu, orang lain sudah berpikiran lebih luas, kami baru sesempit itu.

Koruptor itu bukan orang yang melakukan korupsi, tetapi orang yang tertangkap atau ketahuan melakukan korupsi. Karena kalau belum ketahuan, masih dianggap bukan koruptor.

Untuk memberantas koruptor hanya bisa ditempuh dengan dua cara. Pertama, eksekusi mati koruptor. Kedua, jangan tangkap koruptor. Jumlahnya pasti tetap.

Kalau Anda punya cita-cita ingin kaya tetapi Anda tidak pintar, nah! Itu tandanya bakat koruptor Anda kuat.

Bangsa ini tidak akan bangkrut karena ribuan pengemis tapi akan bangkrut dengan hadirnya 10 koruptor.

Leave a comment

Filed under save our nation

Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Leave a comment

Filed under translation

Zero to One: Catatan Kampus yang Berisi Pemikiran Seorang Jenius

‎Blake Masters mungkin tak pernah menyangka catatan kuliahnya akan dibaca jutaan orang di dunia. Masters duduk di bangku kuliah Stanford Law School di tahun 2012, saat entrepreneur super sukses Peter Thiel menyambangi kampusnya untuk berbagi ilmu dan wawasan. Dengan tekun sekali, Masters mencatat pemikiran-pemikiran sang guru dalam catatan kuliahnya yang bertajuk “Computer Science 183: Startup”. Catatannya itu ia unggah ke dunia maya dan abrakadabra! Begitu banyak orang membacanya. Thiel pun turun tangan. Ia mengajak Masters merevisi catatan kuliah yang begitu bermanfaat itu bagi audiens global. Tahun 2014, buku ini pun lahir dan siap dikonsumsi pasar.

Dalam sebuah kesempatan, Thiel pernah mengatakan bahwa ia TIDAK menganggap kemajuan teknologi seperti iPhone sebagai suatu inovasi. ‎Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru dan segar serta aneh dari iPhone yang telah sampai ke seri keenam itu. Bukan berarti ia benci terhadap semua perkembangan teknologi informasi yang terjadi dengan pesat ini, tetapi Thiel yakin bahwa semua itu cuma kemajuan horisontal. Thiel mau kemajuan vertikal yang lebih banyak terjadi dalam kehidupan kita sekarang. Dan buku ini tampaknya memiliki misi untuk menanamkan pemikiran itu dalam benak para pembacanya, yaitu agar mereka terdorong membuat sesuatu yang baru dan aneh. Bukan cuma mengekor dan memperbanyak sesuatu yang sudah ada dan sudah terbukti sukses.

Sebagai sebuah himpunan informasi , buku ini memang berbeda. Bagi penyuka buku dengan judul yang berpola bombastis seperti “kiat sukses (masukkan ambisi apapun yang Anda mau)”, atau “rahasia menuju (ketikkan cita-cita paling muluk-muluk yang Anda pernah bayangkan), saya sarankan jangan membeli buku ini. Pasti Anda akan kecewa. Anda juga tidak akan menemukan formula-formula sukses dari Thiel atau kumpulan kisah keberhasilan yang standar, monoton dan bisa ditebak yang digemari kebanyakan orang. Itu karena buku ini menyasar mereka yang mau diajak berpikir berat, sangat berat.

Yang menarik, Thiel berpendapat entrepreneurship tidak dapat diajarkan hanya dengan menyuguhkan formula, akronim, rumus atau jargon ‎penjamin sukses. Dalam sekapur sirih di awal buku, Thiel menjelaskan:”Paradoks dalam mengajarkan entrepreneurship ialah bahwa formula (untuk sukses -pen) tidak ada; karena tiap inovasi itu baru dan unik, tidak ada pihak yang bisa merumuskan dalam istilah nyata cara untuk berinovasi. Sungguh, satu-satunya pola yang paling menonjol yang saya ketahui ialah bahwa orang-orang sukses menemukan nilai di tempat-tempat yang tidak terduga, dan mereka melakukan itu dengan memikirkan mengenai bisnisnya dari prinsip-prinsip pertama daripada (mengandalkan -pen) formula-formula” (Zero to One, hal 2-3).

Zero to One yang terdiri dari 14 bab itu membuat kita berpikir keras untuk memahami hakikat teknologi, perkembangannya, kegunaan sejatinya bagi kemaslahatan manusia, dan lain-lain. Thiel mungkin dapat dikatakan sebagai filsuf teknologi abad modern karena ia menggunakan sejumlah sudut pandang keilmuan di dalam penjelasannya. Dalam bab “You Are Not a Lottery Ticket” misalnya Thiel memakai tinjauan sejarah, budaya, psikologi dan ekonomi dalam menjelaskan 4 kelompok besar berdasarkan perspektif terhadap masa depan. Di sini ia mencomot sejarah bangsa-bangsa dan masyarakat besar dunia untuk memberikan gambaran lengkap mengenai pemikiran dan sikap yang berbeda-beda dalam memandang masa depan. Anda bisa menemukan penjelasannya di halaman 62.

Dalam bab pamungkas “Stagnation or Singularity?”, Thiel mencoba mengajak kita kembali berpikir dan mengambil simpulan besar. Dari sana, ia mendorong kita yang membaca untuk bertindak dengan memberikan tugas agung. Berikut kalimatnya di halaman terakhir buku itu:

“Tugas kita saat ini ialah menemukan cara-cara tunggal dalam membuat hal-hal baru yang akan membuat masa depan tidak cuma berbeda tetapi juga lebih baik – naik dari nol menjadi satu. Langkah pertama dan utamanya yaitu berpikir untuk diri Anda. Hanya dengan memandang dunia kita dengan cara baru, sesegar dan seaneh para leluhur memandangnya pertama kali dahulu kala, baru kita bisa menciptakannya kembali dan melestarikannya untuk masa depan”. (Zero to One, hal 195)

‎Setelah membaca buku ini, perspektif kita mengenai entrepreneurship tak akan pernah sama lagi. Tiba-tiba kita menjadi lebih kritis untuk bertanya,”Benarkah mereka yang dilabeli atau mengklaim diri sebagai entrepreneur itu betul-betul entrepreneur? Atau cuma hebat dalam menjual dan mengemas lalu mengeruk untung untuk ditimbun? Apakah inovasi yang selama ini dibangga-banggakan itu sungguh suatu inovasi sejati yang mengarah ke atas (vertikal)? Atau jangan jangan cuma ilusi yang Thiel sebut sebagai kemajuan horisontal?”

Leave a comment

Filed under entrepreneurship