Jerry Yan dan Gong Yoo: Para Perjaka Tua yang Awet Muda

KTP 45, penampilan 25. Itulah Jerry Yan. (Foto: weibo)

CITRA para pria yang belum menikah di usia ‘matang’ di mata masyarakat Asia yang masih konservatif memang ‘miring’.

Ya maklum saja karena di Asia yang kolot, orang-orang masih berpikir bahwa menikah seharusnya di usia 20-an atau awal 30-an. Setelah itu ya kadaluarsa. Telat. Ibarat produk yang dipajang di rak supermarket, expiry date sudah lewat. 

‘Miring’ bagaimana? Ada yang menganggap mereka tidak ‘laku’, sebuah tuduhan yang dilayangkan pda para perempuan yang belum menikah di usia 30-40 tahun juga. 

Mereka dicap sebagai ‘ampas’ dalam dunia asmara. Terlalu pilih-pilih sampai akhirnya malah tidak ada yang mau dengan mereka. 

Tapi ada dua orang perjaka tua dari negara Asia yang mungkin bisa dijadikan teladan bagi para pria yang belum menikah di luar sana. Mereka adalah Jerry Yan dan Gong Yoo. 

Sebenarnya ada juga selebritas pria yang belum menikah di usia 40-an. Sebut saja Chris Evans yang baru-baru ini heboh diberitakan soal iPhone 6S yang baru saja ia pensiunkan setelah dipakai tujuh tahun (padahal ya banyak orang juga melakukannya dengan beragam alasan dari tak punya duit untuk upgrade ponsel sampai alasan anti konsumerisme ). 

Ada juga Milo Ventimiglia yang menyita perhatian publik berkat celana super pendek yang memamerkan otot kakinya yang kencang. Tapi mereka hidup di masyarakat Barat yang lebih progresif. Jadi permakluman atas keterlambatan menikah sudah tidak begitu istimewa ya meski masih ada mungkin.

Berasal dari Taiwan, Jerry Yen dikenal berkat perannya yang legendaris cowok tsundere Tao Ming-tse di serial televisi Meteor Garden yang mengudara di Indonesia di awal dekade 2000-an lalu. Artinya sudah lewat 22 tahun. 

Tapi baru-baru ini Yen tampil ke depan publik dengan mencengangkan karena setelah dua dekade berlalu ia tampil masih sama persis dengan dirinya dua puluh tahun lalu. Tubuhnya masih tegap, kulit wajah dan tubuhnya juga masih kencang, perutnya masih ramping. Jadi saat ia berpakaian dengan kostum Tao Ming-tse lagi, ia masih sangat amat cocok dan menjiwai. 

Singkatnya ia sekilas tidak menua meski itu sama sekali tidak mungkin juga. Pastilah sudah ada perbedaan dalam fungsi tubuh seseorang di usia 40-an. Tapi Yen tampaknya merawat dirinya dengan begitu baik sehingga tidak ada alasan baginya untuk punya tubuh yang tidak elok dipandang. Dad bod bagi pria usia 40-an rasanya sudah jadi sebuah keniscayaan tapi sebagian pria mencoba melawan kemalasan mereka dengan berolahraga dan mengatur gaya hidup agar lebih sehat.

Gong Yoo sedikit lebih muda dari Jerry Yen yang 45 tahun. Ia 42 tahun tapi penampilannya masih sesegar pemuda usia 20-an. Kerutan sama sekali tidak terlihat di wajahnya yang pastinya sudah dirawat setiap hari dengan optimal. Ya namanya juga orang Korea Selatan yang masyarakatnya dikenal pemuja kemolekan ragawi. Karena inilah ‘aset jualannya’, kalau istilah kasarnya. 

Gong Yoo rajin nge-gym dan rawat muka tentu saja seperti kebanyakan pria Korea. (Foto: Viva News)

Cewek-cewek masih menantikan para perjaka tua seperti Yan dan Yoo meski mereka sudah pantas dipanggil om oleh mereka. Seolah mereka tak peduli dengan usia.

Tapi anehnya, kalau lihat pria Indonesia sendiri umur 40-an belum menikah pasti cewek-cewek itu nyinyir, kasak kusuk. Kemungkinan karena pria Indonesia paruh baya itu ya sudah awut-awutan penampilannya. Tidak merawat diri, malas olahraga, kalaupun rajin olahraga ya paling futsal seminggu sekali kalau ingat bersama circle kantor. Itupun sudah ngos-ngosan napasnya saat mengejar bola. Perut membuncit dan menggelembung sana sini. Dad bod, katanya. Ada yang suka katanya, tapi ya berapa sih persentasenya? (*/)

Posted in health | Tagged , , , | Leave a comment

Anna Politkovskaya, Jurnalis Perempuan Rusia Musuh Vladimir Putin

ANNA POLITKOVSKAYA lahir dari orang tua berdarah Ukraina tapi bekerja sebagai diplomat Soviet. Karena itulah dia punya privilege mengakses banyak informasi dari Barat sejak kecil. Bahkan ortunya sering menyelundupkan bahan bacaan karya penulis-penulis Barat yang dilarang di Rusia.

Dengan masa kecil yang erat dengan dunia informasi, tidak aneh Anna tertarik menekuni jurnalisme saat kuliah. Dia kuliah di Universitas Negeri Moskow. Di sini saja bibit pemberontakannya mulai terlihat karena dalam skripsinya ia mengangkat Marina Tsvetaeva, seorang penyair perempuan yang karya-karyanya diharamkan Stalin untuk dibaca rakyat Rusia. 

Pengalaman kerja Anna setelah kuliah sangat mencengangkan jika dipamerkan dalam CV. Ia bekerja untuk media resmi Komite Pusat Tertinggi Soviet dan tentu saja isinya 100% memihak rezim saat itu. Beberapa tahun kemudian ia bekerja untuk majalah Aeroflot, maskapai penerbangan Uni Soviet. Di sini ketangguhan Anna diuji juga karena ia harus memutar otak membuat tulisan-tulisan yang memukau penumpang sekaligus menyembunyikan sisi kelam Uni Soviet saat itu. Dalam hatinya, ia sangat jijik dengan kemiskinan dan kekejaman yang mesti diderita kelompok akar rumput.

Begitu Uni Soviet rontok dan Mikhail Gorbachev naik tahta, Anna berharap dirinya bisa mengerjakan karya jurnalisme layaknya media Barat. Ia mendirikan Novaya Gazeta (Suratkabar Baru) dan meliput perang Chechnya.

Kebetulan di era perang Chechnya ini Putin juga mulai muncul ke panggung politik dan menunjukkan ‘taringnya’ sebagai salah satu macan politik baru di Rusia yang berguncang pasca keruntuhan Uni Soviet. Putin sendiri melihat presidennya, Gorbachev sebagai sosok yang kurang bisa menyatukan Uni Soviet.

Anna-lah yang mengabarkan juga kekejaman tentara Soviet pada penduduk sipil di Chechnya sehingga pada akhirnya membuat rakyat Rusia mendesak Boris Yeltsin untuk memilih perdamaian dengan Chechnya.

Anna meyakini juga bahwa Putin dan antek-anteknya di KGB berada di balik proklamasi sepihak ‘teroris’ Chechnya Shamil Basaev yang memicu pertumpahan darah di Dagestan tahun 1999. Insiden ini dijadikan Putin sebagai alasan untuk menggunakan kekerasan kembali di Chechnya dan menaklukkannya di bawah kendali rezim Rusia. (bersambung)

Posted in book review | Tagged , | Leave a comment

Bahaya ‘Kecanduan’ Amal

Khotbah Jumat adalah khotbah yang banyak ditinggal tidur orang. Haha. Serius, faktanya memang berapa banyak dari jamaah yang benar-benar menyimak isi dan mengingat intisari khotbah yang disiapkan dengan susah-payah oleh khotib?

Anda bisa menjawabnya sendiri…

Kalu minggu kemarin ga inget apa-apa karena ingetnya khotibnya cuma teriak-teriak, minggu ini mayan bisa diinget.

Yang pertama khotib cerita bahwa amalan yang membuat Allah SWT senang itu bukan amalan-amalan kayak salat, puasa, zikir.

Karena salat itu kalau dilakuin yang terhindar dari perbuatan keji dan munkar ya manusianya sendiri. Jadi benefitnya di manusia itu saja.

Puasa juga begitu. Kesehatan fisik dan ketenangan yang kita peroleh dari puasa ya cuma bisa dinikmati kita saja.

Zikir juga begitu. Setelah zikir, jiwa kita merasa tenang tapi nggak bisa otomatis buat orang lain di sekitar kita tenang dan hepi.

Lain cerita dengan amalan sedekah atau infak yang langsung bisa dirasakan oleh orang lain yang menerimanya.

Tapi kata khotib, sedekah nggak cuma berupa duit kok. Semua perbuatan baik dengan maksud menolong sesama atau makhluk lain bisa termasuk kategori sedekah.

Lalu juga kita jangan menyandarkan diri pada satu jenis amalan saja dan otomatis optimistis bakal masuk surga.

Kata khotib sih banyak orang ‘kecanduan’ dengan satu jenis amalan favorit lalu meninggalkan amalan lain. Mengira bahwa dengan amalan favorit itu saja dirasa sudah cukup mengantar ke surga padahal belum tentu. Ekspektasi semacam itu adalah bentuk kesombongan manusia.

Dan gongnya sih soal orientasi atau goal dalam beramal. Janganlah beramal demi mendapatkan surga karena surga itu ciptaan Allah. Dengan beramal demi surga, kita malah terjebak dalam penuhanan surga, padahal kan kita beramal untuk Yang Menciptakan Surga. Jadi cek dulu niat beramal: demi surga atau …?

Posted in miscellaneous | Leave a comment

Pandemi Diary: Siap-siap Gelombang Entah ke Berapa…

COVID-19 belum sirna dari muka bumi dan memang takkan pernah musnah.

Alih-alih hilang, ia terus bermutasi, berubah dan beradaptasi dengan lingkungan.

Dan celakanya mungkin ia berubah menjadi lebih kuat daripada sebelumya.

Dikabarkan di media massa akhir-akhir ini jumlah kasus Covid kembali naik.

Tapi apakah itu bisa dipercaya?

Kalau kata salah satu pakar (virologi) Prof. G. N. Mahardika dari Universitas Udayana Bali, jumlah kasus di Indonesia sama sekali tidak bisa dijadikan patokan, guys.

Haha Ya bagaimana lagi kan memang cara pengujian dan jumlah pengujian juga rendah sekali.

Kita masih menggunakan rapid antigen, bukan PCR. 

Rapid antigen ini tingkat sensitivitasnya lebih rendah dan tidak akurat.

Latar belakang / pemicu kenaikan kasus juga belum diketahui dengan akurat. Apakah itu karena peningkatan testing karena makin banyak yang masuk rumah sakit, atau karena ada pasien yang mendapatkan perawatan tertentu atau karena perjalanan yang makin sering akhir-akhir ini terutama di kelompok yang belum divaksinasi booster (ketiga)? Atau apakah memang pemerintah melakukan pengujian secara acak di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta?

Dengan kata lain, pernyataan kenaikan jumlah kasus Covid itu tidak bisa diketahui secara akurat.

Yang pasti adalah protein di virus mutasi baru BA 2 hingga BA 5 ini tidak berbeda jauh dari nenek moyangnya. Tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa proteinnya berbeda jauh dari Covid Omicron.

Omicron ini bahkan dikatakan sudah menginfeksi 60-80% warga dunia. Jadi sebenarnya kita sudah tervaksinasi secara alami di samping menjalani vaksinasi buatan.

Lalu soal kemampuan virus Covid varian BA 4 dan 5 menghindari vaksin sehingga dikatakan varian ini lebih kuat, kurang beralasan. Kecepatan replikasinya juga tidak banyak berubah dari nenek moyangnya dulu. Makanya kekuatan vaksin menghadapi varian-varian baru ini juga masih bisa diandalkan. Ketakutan bahwa vaksin sudah tidak mempan menghalau varian baru Covid ini tidak beralasan.

Sebagai gantinya, tolok ukur yang bisa digunakan adalah tingkat okupansi rumah sakit saat ini dan juga prevalensi global. Menurut virolog ini, tren prevalensi varian-varian Covid ini menurun juga di seluruh dunia. Hanya saja varian BA2,4, dan 5 ini memiliki tingkat penularan lebih tinggi daripada Omicron.

Jadi ya kembai lagi ke protokol kesehatan yang jadi senjata pusaka kita itu. Haha. 

Kalau ditanya bagaimana bisa varian baru ini menular? Ya karena memang protokol kesehatan sudah diabaikan. Jangankan di ruangan terbuka, di ruangan tertutup juga orang sudah mulai mengabaikan pemakaian masker. 

Mau bagaimana lagi? Karena pemerintah juga sudah mencabut level PPKM dan juga tidak peduli lagi dengan penularan ini. Presiden sudah mengizinkan buka masker di ruang terbuka saat bertemu orang lain. 

Dengan vaksinasi, pemerintah seolah sudah ‘lepas tangan’. Kalau masih tertular itu urusan Anda masing-masing ya. 

Masalah kita dalam penanganan pandemi dari dulu smapai sekarang juga masih sama kok: 100% masyarakat bersama-sama menjalankan protokol kesehatan.

Ini yang dari dulu sulitnya minta ampun! Karena ada saja yang membandel. Entah itu berkerumun, menurunkan masker karena berbagai alasan, dan sebagainya. (*/)

Posted in pandemic | Tagged , , , , | Leave a comment

Pandemic Diary: Angka Kasus Covid Naik Lagi

BERITA kenaikan jumlah kasus Covid santer lagi. Detik.com mengabarkan kita mesti hati-hati dengan potensi gelombang entah ke berapa ini.

Memang benar sih kewaspadaan pasca mudik kemarin sudah menurun drastis. Semua orang sudah berani membuka masker di luar rumah, sesuatu yang bukan hal baru di Indonesia.

Negeri tetangga Singapura meningkatkan kewaspadaan lagi karena kemunculan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

Apakah kita akan kembali terjebak dalam rumah? Atau akankah kita mengantre lagi demi vaksinasi booster untuk ke sekian kalinya?

Posted in writing | Leave a comment

Pandemic Diary: Apakah Benar Indonesia Sukses Lewati Pandemi Covid-19?

SETELAH presiden Joko Widodo mengumumkan masyarakat boleh copot masker di ruang terbuka beberapa waktu lalu dan penurunan level PPKM ke level terendah serta dibolehkannya mudik Lebaran tahun ini, masyarakat Indonesia seakan tumpah ruah ke berbagai wilayah untuk melampiaskan keterkungkungan mereka selama 2 tahun ini dalam rumah.

Saya sendiri melihat pusat-pusat perekonomian makin menggeliat. Mall mulai ramai lagi, bioskop pun dibuka kembali. Ini bisa dilihat dari berbagai unggahan di media sosial terutama Instagram stories yang menunjukkan kembalinya orang Indonesia ke fasilitas umum, layaknya sebelum pandemi menyerang.

Dan setelah apa yang terjadi selama 2 tahun ini, saya pernah mendengar seseorang bertanya: “Memangnya Covid itu ada ya?”

Haha serius. Saya tidak bohong. Ya begitulah kondisi di lapangan. Sudah dibombardir dengan berbagai berita dan informasi tapi kalau sudah tak percaya dari dalam hatinya, ya sudah. Tidak bisa dipaksa. Bahkan hingga ia sudah terjangkit pun, bisa saja lho masih berkata: “Ini bukan Covid.” Lalu harus bagaimana?

Pengumuman copot masker di ruang terbuka itu sendiri dikatakan sangat terlambat. Bahkan jadi lucu karena sesungguhnya di lapangan masyarakat sudah sejak lama sudah mencopot masker mereka. Imbauan pemerintah untuk selalu pakai masker saat di luar rumah hanya mempan saat di tempat umum dengan kepentingan ekonomi yang tinggi semacam pasar, mall, sekolah, pabrik, stasiun kendaraan umum, dan sebagainya. Tapi di luar itu semua ya masker tak pernah dipakai lagi. Bahkan aparat kalau keluar area kerja juga sudah copot masker meski belum dibolehkan presiden kok. Dan tak perlu ke kampung-kampung, Anda bisa temukan orang tak pakai masker di tengah Jakarta.

Setelah pengumuman presiden ini, masker menjadi semacam pernyataan sikap dan pemikiran seseorang mengenai kesehatan mereka. Mereka yang bersikap waspada dan hati-hati dengan kesehatan, masih memilih untuk mengenakan masker. Apalagi mengingat level pencemaran udara bagi Anda yang tinggal di perkotaan itu tinggi. Masker bisa mengurangi dampak pencemaran pada paru-paru kita. Lalu belum lagi virus selain Covid, misalnya TBC, flu, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang bisa menjangkiti kita semua di lingkungan yang makin tak terbendung saja.2

Meski RI ditunjuk menjadi tuan rumah Forum Penanganan Bencana PBB tahun ini, tapi untuk mengatakan RI sukses melewati pandemi ini, rasanya kok terlaku pongah ya.

Kita jangan lupa deh dengan berbagai pekerjaan rumah yang masih terbengkalai di dalam rumah. Termasuk penyesuaian hidup dengan perubahan iklim yang konon juga berkaitan dengan munculnya Covid-19 ini. Penularan virus hewan ke manusia ini awalnya ya dari perambahan hutan dan eksploitasi satwa liar yang seharusnya dibiarkan hidup di hutan, bukan dikonsumsi manusia.

Tapi namanya juga manusia. Makin dilarang, makin bernafsu malahan.

Soal keberhasilan vaksinasi, ada yang mengklaim kita bisa menghasilkan vaksin sendiri dari Biopharma. Tapi nyatanya di lapangan kan stoknya tak bisa mencukupi untuk satu negara. Malahan yang populer dan lebih membanjiri program vaksinasi itu jenis vaksin asing macam Pfizer, Moderna, Astrazeneca, Sinovac, dan sebagainya. Memang vaksinnya gratis tapi kita tidak tahu apa yang harus digadaikan negara demi mendapatkan hibah vaksin ini ya.

Sekarang pemerintah menepuk dada bahwa hasil penanganan pandemi mereka sukses. Hasilnya sekarang masyarakat Indonesia sudah bisa kembali beraktivitas, roda ekonomi kembali berputar, semuanya kembali bekerja seperti sediakala. Ekonomi pun digenjot terus demi mencapai target pertumbuhan di atas 5% tahun ini. Optimisme meluber ke mana-mana dengan dibukanya kran turis baik ke dalam dan ke luar negeri. Pokoknya optimis teruslah ya.

Resiliensi dan daya lenting masyarakat Indonesia memang mencengangkan tapi itu bukan berarti pemerintah bisa mengakuinya sebagian hasil kerja kerasnya selama ini. Itu prestasi milik rakyat. Please jangan diakui sebagai hasil kerja Anda, bapak-bapak birokrat.

Ketangguhan masyarakat ini bukan berarti pemerintah lalu membiarkan masyarakat begitu saja. Tetap dong bapak-bapak harus kerja keras memberikan perlindungan dan kemudahan bagi rakyat yang sudah bekerja membanting tulang begini. Jangan malah tambah dipajaki makin tinggi. (*/)

Posted in pandemic | Tagged , , | Leave a comment

Pengalaman Belanja Online di Uniqlo Indonesia

UNIQLO bisa dikatakan jenama pakaian paling saya suka dari dulu. Entah kenapa ya, dari model, warna dan (terpenting!) ukuran saya merasa busana-busana Uniqlo adalah yang paling pas di badan ini.

Soal ukuran badan, saya memang agak ‘problematik’. Karena tak terakomodasi di section dewasa, akhirnya saya lebih sering ke section anak-anak. Seringnya saya bawa pulang pakaian ukuran remaja 14-15 tahun. Ini pas, tapi masalahnya lengan mereka lebih pendek, sehingga jaket dan kemeja terasa agak kependekan di lengan dan bahu. Badan saya yang siluetnya sudah kurus kering ini makin menonjol saat diberi pakaian pas badan begini.

Tapi kalau saya beli pakaian ukuran pria dewasa ukuran S terkecil pun saya masih kedodoran. Dilema ini terus saya hadapi. Tak jarang saya mesti ke penjahit karena mesti mengepaskan ukuran pinggan, bahu, lengan. Capek banget dan boros. Apalagi sekarang saya sudah tak tinggal di tempat dahulu. Keberadaan penjahit yang mumpuni untuk melakoni pekerjaan mempermak dengan bagus kok rasanya susah ditemukan. Sedih…

Akhirnya saya mencoba melihat-lihat toko online Uniqlo lagi. Iseng sih, tak ada niat beli. Nanti kalau mau beneran beli ya ke tokonya saja di Bintaro, gumam saya.

Tapi begitu saya browsing dan banyak yang saya pikir pas dan bagus, saya berpikir: “Kenapa mesti susah-susah ke sana? Di sini tersedia fitur belanja online juga.”

Akhirnya ya sudah saya coba lah kemudahan ini.

Karena saya orangnya tak ingin kecewa, saya mencermati ukuran pakaian satu persatu. Tabel ukuran saya baca teliti, dan tentu saya cari ukuran terkecil.

Dan ternyata sekarang ada ukuran XS! Ini kabar menggembirakan buat saya karena itu berarti Uniqlo mendengar aspirasi pelanggannya. Entah dari mana mereka tahu bahwa ada lho sekelompok pria Indonesia yang badannya lebih kecil dari rata-rata dan tentu tak bisa membeli pakaian anak-anak karena meski ukurannya pas tapi model pakaian anak-anak berbeda sekali dari pakaian oramg dewasa. Serius ini. Saya sendiri merasakannya saat memakai karena lho saya merasa modelnya memang makin membuat saya malah jadi anak remaja. Padahal di situasi formal, saya mau membuat orang tahu saya pria dewasa. Hahaha. Susah ya.

Singkat cerita pemesanan saya lakukan dan 2 hari kemudian paket ini datang di pintu rumah. Jasa kurirnya menggunakan Ninja. Tidak ada ongkos kirim yang dibebankan ke saya dari Uniqlo. Tapi mungkin harga jual pakaiannya di toko online mereka sudah di-mark up? Saya tak mengecek di toko offline mereka untuk membandingkan sih.

Sebagai gambaran, satu Celana Smart Ankle 2WAY Stretch (Cotton) harganya di toko online Uniqlo adalah Rp599.000. Kemeja Broadcloth Extra Fine Cotton Lengan Panjang Rp399.000. Sweater Washable Milano Rib Lengan Panjang Rp299.000. Kemeja Premium Linen Kerah Tegak Rp499.000. Kemeja Katun Linen Kerah Tegak Rp299.000. T-Shirt Dry Warna Crew Neck Lengan Pendek Rp99.000 untuk warna putih dan Rp79.000 untuk warna biru. Dua Celana Boxer Tenun Kotak Multi Warna Rp118.000.

Saya sendiri memberikan bintang 5 untuk kualitas pelayanan belanja daring Uniqlo Indonesia. Sudah lancar dan mulus banget.

Di dalam paket pakaian ini saya temukan busana yang saya pesan, formulir pengembalian jika memang ada pakaian yang saya tak sukai setelah coba, dan katalog busana perempuan berhijab. Saya agak sayangkan kenapa Uniqlo memberikan saya sebuah katalog demikian karena saya kan pria. Buat apa saya diberi katalog perempuan begitu? Tak bakal membuat saya beli pakaian lagi. Mending saya diberi katalog pakaian pria supaya bisa jadi wishlist berikutnya.

Kalau saran saya, kemasan pakaian harusnya sudah diinovasi agar tak memakai bahan plastik bening lagi. Karena kecemasan akan kelestarian lingkungan hidup kan sekarang sudah makin meningkat. Uniqlo sudah sepatutnya memikirkan hal tersebut, mencari bahan alternatif pengganti bungkus plastik ini. (*/)

https://platform.twitter.com/widgets.js
Posted in miscellaneous | Tagged , , , | Leave a comment

Pengalaman Membeli Rumah Pertama dan Tinggal di Citra Maja Raya [Bagian 2]

BACA SEBELUMNYA DI BAGIAN PERTAMA: “PENGALAMAN MEMBELI RUMAH DAN TINGGAL DI CITRA MAJA RAYA [2020-SEKARANG]

BEBERAPA waktu terakhir terutama di awal 2022 ini, saya mengamati bahwa jumlah pengunjung dan pembaca artikel bagian pertama soal pengalaman membeli rumah dan tinggal di Citra Maja Raya (CMR) ini makin banyak. Tampaknya makin banyak orang yang penasaran dan sedang mempertimbangkan untuk membeli rumah di sini entah itu untuk investasi atau mau dihuni.

Saya juga memahami karena CMR digadang-gadang bakal jadi sebuah kota mandiri layaknya BSD atau Bintaro begitu. Konsepnya memang masih sebagai kota penyangga aktivitas manusia-manusia ibukota. Tapi menurut sata sendiri ke depan mestinya kota ini juga bisa menjadi sebuah pusat ekonomi yang mandiri, terpisah atau setidaknya bisa beroperasi tanpa harus melulu ke Jakarta.

Saya menulis bagian kedua secara terpisah di sini setelah sebelumnya memperbarui terus artikel pertama saya. Tapi lama-lama kok makin panjang dan terasa agak susah di-scroll. Haha. Saya sendiri kalau mau menulis update terbaru juga kerepotan mesti lama scroll ke bawah. Ya sudahlah saya putuskan membuat artikel lanjutannya di halaman terpisah supaya pembaca tidak capek scroll dan tetap bisa menikmati.

Kalau saya katakan di CMR ini kemarin sempat macet karena arus balik Lebaran 2022, itu memang suatu anomali. Arus lalin untuk hari seterusnya kembali lagi seperti semula. Cuma 1-2 kendaraan saja. Kemacetan jadi hal mustahil dijumpai.

Tapi soal trotoar dan tempat bersepeda dan jogging di sini saya lihat kok tidak ada lajur yang terdedikasi khusus untuk itu. Ini sangat amat disayangkan. Kalau sekarang sih memang masih bisa jogging ke mana-mana dengan nyaman tapi bayangkan 5-10 tahun mendatang saat populasi di sini melonjak (mungkin ya), jalan yang sepi dan halaman ruko yang lapang pasti sudah luber terisi kendaraan bermotor.

Seharusnya kalau menurut saya pengembang memikirkan bagaimana menampung para pemakai sepeda dan moda transportasi non-motor lainnya seperti otopet, segway yang mestinya diakomodasi karena lebih futuristik dan ringkas bagi mobilitas orang-orang urban di masa depan. Sepeda motor itu sudah mesti dianggap kuno lho. Ini supaya kita tidak terjebak permasalahan yang sama dengan Jakarta dan kota-kota besar di Asia Tenggara yang berjibaku dengan kemacetan.

Untuk jarak dari stasiun Maja yang tak begitu jauh tapi juga tak bisa dikatakan dekat dengan berjalan kaki, moda transportasi sekunder untuk mengangkut manusia dari stasiun ke rumah mereka mestinya harus yang lebih ringkas dan murah. Di stasiun Maja saja sekarang halaman parkir sepeda motor sudah lumayan penuh lho di siang hari. Belum lagi kalau ada pemilik mobil yang naik komuter, wah bisa penuh cuma untuk beberapa unit mobil saja.

Makanya dari kasus para penyuka sepatu roda di Jakarta beberapa hari lalu, kita yang di CMR ini mestinya harus mengantisipasi. Jangan sampai masalah Jakarta terulang lagi. Harus ada pelajaran yang bisa dipetik dari kacaunya Ibu Kota Negara yang makin tenggelam itu.

https://platform.twitter.com/widgets.js

UPDATE 13 MEI 2022

Hari ini saya iseng jalan pagi dan ternyata bertemu dengan sebuah jalur baru. Di calon kota mandiri ini memang selalu ada kejutan sebab perkembangannya masih belum bisa ditebak sepenuhnya. Yang bisa diketahui cuma rencana tata ruang kota tapi pengejawantahannya bagaimana di lapangan kan belum tahu persis.

Ternyata dari klaster Benoa ada jalan tembusan ke arah selatan yang dulunya saya cuma bisa lewati dengan memutari klaster Sanur. Buldoser tampaknya dipakai untuk meratakan medan jalan.

Lalu dari situ saya terkesima dengan sebuah danau buatan yang sebelumnya saya tak pernah tahu ada di situ. Saya pernah sekali jalan kaki memutari sini, jauh sekali tapi kok tidak lihat ada danau ini.

Di tepi danau ini tampaknya akan dibangun klaster lain karena tanah tampak diratakan di sini dengan tujuan untuk dibangun tentunya.

Di sekitarnya masih banyak ladang dan pepohonan. Asri tapi tetap saja karena musim jelang kemarau begini, pukul 7 pagi saja matahari sudah teriknya minta ampun. Gosong tidak ditanggung.

UPDATE 15 MEI 2022

Kalau Anda punya unit rumah di CMR tapi belum sempat menempati atau ingin menyewakan setelah lama kosong, biasanya rumah harus dibersihkan. Nah, kalau Anda malas membersihkan sendiri karena sudah terlampau awut-awutan dan tumbuhan liar sudah tumbuh di halaman sampai jadi pohon tinggi besar melampaui atap rumah (ini benar terjadi), jangan khawatir karena ada jasa untuk membersihkan dan merawat rumah kosong Anda. Namanya zaman susah, semua yang mendatangkan duit pastilah dijalani orang. Sepanjang halal tak begitu masalah kan?

Ada beberapa pertimbangan dalam penentuan tarif pembersihan rumah kosong biasanya di CMR. Setelah diobservasi, biasanya penyedia layanan bersih-bersih rumah ini bakal mematok tarif.

Kalau layanan dasar seperti mengepel lantai kotor dan mencabuti rerumputan liar di halaman rumah sih masih termasuk standar. Tapi kalau sudah mengharuskan penebangan pohon liar sih harus dilihat sebesar apa ukuran pohonnya. Makin besar, tentunya makin mahal nanti jasanya.

Dengan kondisi CMR yang masih saja sepi begini, memang tak heran jika ada sebagian pemilik unit di sini yang gamang dan ingin menjual saja rumah mereka. Karena mungkin di sini cuma investasi dan sudah butuh duit. Tapi jika Anda masih belum begitu butuh duit, lebih baik sih ditunda saja menjualnya karena kalau Anda bersabar harga jualnya bakalan lebih tinggi dari harga belinya, begitu kata seorang makelar rumah di sini.

Untuk pemilik unit rumah di CMR Tahap 1, ada yang merasa lebih baik beli tanah kavling saja dan membangun sendiri unitnya. Hal itu bisa dilakukan di klaster Padma, dekat bundaran kantor pemerintahan desa Maja Baru, yang juga dekat gerbang CMR 2. Harganya sih dengar-dengar Rp2 juta per meter persegi. Kalau di sekitar Maja ini, kavling di luar CMR sih mungkin tak semahal itu. Ada selisih harganya tapi tentu nantinya ada bedanya kalau rumah Anda masuk kota mandiri CMR dan tidak. Suasana sekitarnya bakal beda. Percuma membangun rumah bagus dan megah tapi di sekitarnya awut-awutan dan manajemen sampahnya kurang baik. Saya tidak berlebihan, karena di Maja (di luar CMR) ini penanganan sampah masih memprihatinkan sekali. Warga masih seenaknya buang sampah di pinggir jalan dan tanah kosong. Karena pemerintah daerahnya belum peduli betul dengan penegakan hukum buang sampah sembarangan. Kalau Anda punya rumah bagus, apakah rela jika tanah di sekitar Anda jadi tempat menimbun sampah? Tentu tidak kan? Dalam lingkungan perumahan, hal ini dijamin tidak bakal menimpa kita. Semuanya lebih sedap dipandang karena ada manajemen kota yang mengaturnya. Kalau ada yang melanggar bakal ditegur dan dikenai sanksi.

Mereka yang tinggal di CMR biasanya adalah mereka yang juga sudah punya rumah atau dulunya tinggal dan bekerja di Alam Sutra, Bumi Serpong Damai (BSD), dan sekitarnya. Mereka pagi-pagi biasanya berangkat dengan kereta komuter line pagi-pagi. Kereta terpagi pukul 4 subuh. Mereka parkir sepeda motor di stasiun Maja dan pulang malamnya, cukup bayar Rp5.000.

Kalau ditanya apakah di CMR sudah ada Go-Jek atau Grab, saya katakan SUDAH. Please jangan dikira daerah ini setertinggal itu. Di sini memang sepi tapi cuma 2 jam kurang dari Jakarta lho. Ini bukan Papua. Dan keberadaan Go-Jek dan Grab juga masih sedikit memang karena di sini ada Trans Baduy, semacam layanan online ojek lokal dan abang-abang ojek panggilan di pangkalan-pangkalan masih banyak. Kalau belum ada layanan Go-Jek dan Grab mana mungkin juga Janji Jiwa buka gerainya di CMR ini? Buktinya mereka sudah buka satu gerai di dekat klaster Tevana.

Untuk masuk ke dalam CMR, Anda bisa memilih satu dari 3 pintu yang tersedia: pintu gerbang patung kuda CMR 1, CMR 2, jalan akses dekat klaster baru Agate dan Tampaksiring yang akan tembus ke Jasinga, Bogor.

PROSEDUR IZIN RENOVASI RUMAH DI CITRA MAJA RAYA

Renovasi di CMR sudah jadi hal jamak alias normal. Ya bagaimana lagi, wong pengembang cuma membangun setengah rumah saja sebetulnya. Dari luas tanah yang tersedia, yang dibiarkan kosong bisa setengahnya kalau dihitung cermat. Makanya tidak heran kalau harga rumah tapak di CMR bisa miring sekali. Beda dari Jakarta dan sekitarnya yang sudah berjuta-juta untuk per meter perseginya.

Kalau Anda punya rumah di CMR dan ingin memperluas bangunan unit Anda yang terasa sempit sekali, bisa mengajukan segera perizinan renovasi. Kalau Anda cuma mengerjakannya sendiri, semua ini harus diurus sendiri juga. Tapi kalau Anda punya dana ekstra buat renovasi, serahkan saja semuanya ke agen yang merenovasi karena seharusnya itu sudah jadi tanggungan mereka. Ini berdasarkan dari pengalaman saya merenovasi sih. Tapi patut diketahui ini agen yang profesional, bukan cuma tukang bangunan yang diserahi proyek renovasi rumah lho. Karena tidak mungkin kalau harus memberikan tanggung jawab itu ke tukang bangunan.

Cara mengajukan renovasi ialah mengumpulkan beberapa dokumen sebagai berikut:

  1. fotokopi KTP pemilik rumah
  2. fotokopi KTP tukang bangunan yang mengeksekusi renovasi
  3. fotokopi BAST alias Berita Acara Serah Terima
  4. fotokopi PPJB alias Perjanjian Pengikatan Jual Beli (halaman depan dan belakang saja)
  5. foto gambar kerja renovasi
  6. Melunasi Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) bulanan Anda

Nah begitu sudah terkumpul, bisa diserahkan langsung ke kantor Manajemen Kota CMR/IPL di gerbang Citra Maja Raya 1. Anda juga bisa menngirim file dokumen ini semua ke renovasi.citramaja@gmail.com. Tapi sekali lagi, jangan kaget lah kalau sudah kirim softcopy begini lalu masih diminta hardcopy juga. Anda tahu negeri ini kan? Di era Revolusi Industri 4.0, NFT dan Metaverse begini, tradisi fotokopi masih terus lestari.

Lalu jangan kaget juga kalau Anda diminta menyetor sejumlah duit ke pengembang sebagai jaminan untuk pengerjaan renovasi ini. Tujuannya menurut saya agar renovasi yang akan dilakukan tidak melanggar aturan yang diberikan pengembang. Karena kalau tidak diatur, saya juga pasti yakin kalau perumahan ini bakal sudah jadi kayak perkampungan biasa yang carut marut, kacau balau. Dan di sinilah aturan itu semestinya membuat lingkungan bisa menjadi relatif lebih rapi dan enak dipandang mata. Kalau tinggal di perumahan tapi lingkungannya tidak teratur sih lalu apa bedanya dengan tinggal di luar sana? Haha.

Ketentuannya kalau tak salah adalah membiarkan facade atau bagian muka rumah seperti semula saat dibangun pengembang dalam jangka beberapa tahun pertama. Dan jujur sudah ada beberapa pemilik rumah yang sengaja melanggar demi keinginan mereka sendiri. Mereka berpikir: “Lha wong rumah-rumah saya sendiri, sudah beli kok dilarang-larang mau renov kayak gimana?” Ada betulnya, tapi meski ini rumah Anda tapi Anda tinggal di perumahan yang tentu terikat dengan peraturan. Mohon ditaati, kalau tak mau ya angkat kaki. Sesimpel itu. Ada sebagian orang yang saya lihat belum siap dengan ini, cara berpikirnya seperti orang yang punya rumah di kampung ortunya sendiri, renovasi seenaknya. Tidak bisa begitu, Pulgoso! Jadi paham kalau Manajemen Kota bakal memberikan sanksi. Apa sanksinya? Saya belum tahu persis sih. Apakah bisa sampai dibongkar paksa? Kurang tahu juga. 

Ada juga seorang tetangga yang berulah begini. Muka rumahnya dipermak habis. Sampai Manajemen Kota mampir dan menegur. Sampai sekarang pengerjaan renovasinya belum ada tanda-tanda dimulai lagi sejak berhenti libur Lebaran lalu. Apakah kena sanksi atau disuruh berhenti pihak Manajemen Kota? Saya kurang paham juga sih. Saya sendiri memantau kasus ini sebagai suatu preseden. Jika MK tegas, saya pikir tata ruang dan tata kota CMR bakal bagus seterusnya. Tapi kalau dari sini saja sudah lembek, wah bisa gawat nantinya. Ketidaktegasan pada satu oknum bisa merembet ke yang lain. Pasti yang lain merengek juga diizinkan merenovasi sesuai selera.

Berikut tata cara pengambilan uang jaminan izin renovasi:

1. Tukarkan Surat Ijin Renovasi dan Bukti Transfer dengan tanda terima ke Kantor Manajemen CMR

2. Tunggu 2-3 bulan

3. Setelah 2-3 bulan telepon/datang ke kasir Citra Raya (Citra Raya Tangerang ya, bukan Citra Maja Raya)

4. Kasir Citra Raya untuk pelayanan CMR bukan Senin DAN (bukan “sampai”) Kamis tanggal 1 s/d 25 setiap bulannya pukul 10.00 – 14.00 WIB.

Untuk langkah pertama dapat menyerahkan dokumen ke kantor Customer Care/MK dengan cc dokumen Pak Kennedy dan pembayaran bisa via virtual account yang nanti tertera di surat izinnya atau bisa ke kasir yang di kantor marketing. Untuk info selanjutnya, bisa hubungi Pak Kennedy (Manajemen Kota CMR) +62 813-9946-6477.

UPDATE 1 JUNI 2022

Ada kabar di media sosial Instagram @aboutcitramaja yang menyatakan bahwa terjadi peristiwa perampokan di warung tegal di seberang masjid Al Ikhlas CMR. Detailnya sebagai berikut.

https://platform.twitter.com/widgets.js
//www.instagram.com/embed.js

Kalau dari pengamatan saya sendiri sih tadi sekitar maghrib memang ada mobil patroli sekuriti CMR mangkal di depan warung tegal naas itu. Tapi begitu Isya, sudah tidak ada mobilnya dan cuma ada 2 orang petugas berjaga di sana. Entah apa maksudnya. Karena mustahil juga ya pelaku melakukan kejahatan dua kali berturut-turut di lokasi yang sama persis.

Yang patut disayangkan memang penerangan di CMR yang sekarang ini agak kurang sehingga mungkin dimanfaatkan pihak-pihak yang kurang baik niatnya. Tapi kalaupun itu alasannya, lokasi kejadian pencurian motor dan perampokan itu justru ada di area yang lumayan terang di bundaran CMR Tahap 1. Kalau yang kerap gelap itu justru di area CMR Tahap 2.

Apalagi ini terjadi setelah pihak manajemen menaikkan IPL yang dikeluhkan pihak penghuni karena katanya pengangkutan sampah saja tidak tiap hari.

Tapi terlepas dari semua kejadian kriminal ini, sebetulnya kondisi di CMR masih relatif aman kok.

Dan pagi tadi meski sehari sebelumnya hujan dan mendung seharian, cuacanya cerah dan bisa untuk jogging dengan nyaman.

//www.instagram.com/embed.js

UPDATE 6 JUNI 2022

Saya bertanya ke staf legal Citra Maja Raya dan mendapat kabar bahwa dokumen rumah saya sudah jadi dan siap dijemput. Saya pun hubungi petugas yang ditunjuk staf legal itu via WhatsApp dan mendapatkan undangan sebagai berikut:

Sehubungan dengan telah tersedianya dokumen legalitas atas tanah dan bangunan yang terletak di Perumahan Citra Maja Raya, melalui surat ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb atas UNIT di maksud pada :

Hari : Senin-Jumat (tanggal merah libur)
jam : 09:00-16:30
Tempat : Ruko Legal Citra Maja Raya sebrang Management Office Citra Raya Cikupa (sebelah ruko OPPO)

Adapun persyaratan yang harus di penuhi untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb sebagai berikut :

1.Membawa asli Ktp dan Fc Ktp
2.Membawa Surat Ket Lunas dan Fc Surat Ket Lunas (apabila sebelumnya proses KPR)

Penjadwalan untuk melakukan pengambilan legalitas berupa Sertipikat, Ajb dan Imb bisa dikonfirmasi minimal h-2 sebelum legalitas diambil.

Terima kasih atas perhatiannya.

Saya sebenarnya keberatan kalau harus jauh ke Cikupa. Ini agak mengesalkan karena saya sudah bermukim di Maja sini. Tapi seakan pihak pengembang masih memuastkan kegiatan legal mereka di Cikupa. Bikin kesel memang. Dipikirnya mereka semua penghuni Citra Maja Raya ini masih di Jakarta apa bagaimana ya? Kalau saya masih di Jakarta sih Cikupa mungkin lebih dekat. Tapi mbok ya disediakan alternatif bagi mereka yang sudah menetap di Maja untuk mengambil di kantor marketing Citra Maja Raya. Ini kebijakan yang saya tidak habis-habisnya berpikir!

Begini lho kenapa itu mengesalkan, karena ke sana itu butuh waktu setidaknya sejam dari Maja dan jia ada yang ketinggalan, otomatis harus esok hari ke sana lagi karena bolak-baliknya itu sudah capek sekali.

Kalau kata petugas legal CMR, ini semua adalah bentuk Standard Operational Procedure (SOP). Tapi apakah harus menyusahkan seperti ini? Apakah memang lazim ya membeli rumah di satu area tapi urus dokumen di area lain yang jauh begitu? Kalau menurut pengalaman Anda bagaimana? Apakah memang ini hal yang bisa dimaklumi atau sebenarnya pengembangnya yang harus lebih akomodatif?

UPDATE 9 JUNI 2022

Dari undangan yang sudah saya terima tempo hari, saya pun ke lokasi yang dimaksud: ruko legal Citra Maja Raya di seberang Management Office Citra Raya Cikupa.

Di perjalanan, saya diberitahu oleh sopir saya bahwa memang kadang pemilik rumah harus ambil sertifikat kepemilkan di luar kantor perumahan yang dihuni karena perusahaan pengembang bekerjasama dalam hal legalitas tanah dan rumah dengan perusahaan lain. Dalam kasus saya perusahaan ini adalah PT Putra Asih Laksana (PAL). Perusahaan ini membayari pajak bumi dan bangunan saya dulu sebelum saya menerima sertifikat kepemilikan secara sah.

Tapi argumen itu ternyata kurang masuk akal karena saya lihat di kolom nama dan alamat wajib pajak, alamat PAL ini ada di Jl. Kopi Sangiang No 21 Rt 0 RW 0 Maja Baru, Lebak. Berarti deket banget dong dengan rumah saya tapi kenapa saya mesti ke Citra Raya Cikupa yang notabene puluhan kilometer?? Ini yang saya masih tidak paham. SOP macam apa yang dimaksud staf legal CMR itu?

Saya ditemui oleh seorang pria yang ternyata teman pak Fauzan yang mengundang saya via WhatsApp. Ia membawakan beberapa dokumen: SPPT PBB tahun 2022 dari Pemkab Lebak-Badan Pendapatan Daerah Lebak yang harus mulai saya bayar sendiri lewat bank atau kantor pos atau Tokopedia, Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Bukti Pembayaran Pajak/ Retribusi BPHTB Lebak dari Bank BJB yang sudah dilakukan oleh notaris yang kita tunjuk, Sertifikat (Tanda Bukti Hak).

Di sertifikat tertera pemegang hak semula adalah APL tadi yang dialihkan ke saya sebagai pemilik unit rumah tersebut. Lalu ada salinan Akta Jual Beli (AJB) dari notaris yang berkedudukan di Citeras, Maja. Dari alamat notaris ini juga sebenarnya dekat Maja. Jadi kenapa saya harus ke Cikupa? Haha.

Si staf legal ini menerangkan bahwa sertifikat ini sudah hak milik karena lunas. Ia menyebutkan detail-detail penting seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan luas tanah, lalu menyuruh saya membaca dan memeriksa jika ada kesalahan yang tidak seharusnya ada.

Dan ternyata yang lucu ini nih: di undangan tertera pengambilan AJB, Sertifikat dan IMB. Nah di sini stafnya berkata: “Untuk IMB-nya lagi proses, pak. Belum bisa diambil.”

Lho, kalau begitu kenapa di undangan WhatsApp itu ada tulisan “IMB”??? Alasannya karena masih proses PBB.

“Paling nunggu beres dan nanti diinfoin….,” kata si staf legal.

Hahahaha…

Untung saya masih berkepala dingin. Kalau saya orangnya temperamental, mungkin sudah ada drama di sana.

Oke saya coba bertanya apakah bisa saya ambil di kantor manajemen atau pemasaran di CMR. Kalau saya harus jauh ke Cikupa lagi sementara saya sudah tinggal di CMR, saya sangat amat keberatan apalagi saya juga sudah mulai bekerja di kantor. Masak saya mesti ke sana lagi 2 jam pulang pergi di jalanan Maja-Cikupa yang jauh dari kata mulus dan menunggu lagi entah sampai kapan? Kalau memang belum ada IMB ya bilang saja lah jujur. Sangat disayangkan sih. Apa kurang teliti saat mengirim undangan itu atau bagaimana tapi saya kecewa sekali terus terang. Karena kalau memang IMB masih belum keluar kan masih bisa memberitahu saya dalam waktu beberapa hari sebelum saya mengambil jauh-jauh begitu. Makanya saya ngotot meminta ambil IMB di Citra Maja Raya saja.

Si staf ini berkata saya bisa janjian dengan petugas legal nanti (Fauzan) agar saya bisa ambil IMB saat yang bersangkutan mampir ke CMR untuk tandatangan akad pembelian rumah di sana. Nah, kenapa itu bisa?!

Lalu saya tandatangani semua salinan surat dan proses pengambilan sudah selesai meski belum tuntas dan lega karena IMB masih belum ada. Jadi catatan saja buat Anda yang mau ambil dokumen begini di Cikupa sana, bersabarlah. Banyak-banyak tanya kalau memag sudah keluar semua suratnya. Jangan seperti saya. Sudah dikabari bisa ambil 3 dokumen, eh yang ada cuma 2. Mending nunggu sampai semuanya ada saja baru diambil.

Tapi saya juga agak ragu kalau nanti saya minta ambil di CMR, apakah memang si staf legal mau? Jangan-jangan ditampik lagi: “Sudah SOP-nya, pak!” Hahaha. Capek deh!

Kalau ada manajemen CMR baca ini, please lah jangan menyusahkan pemilik rumah yang sudah rela pindah dari Jakarta dan memutuskan untuk meninggali rumah di kawasan yang masih sepi begini. Kalau tidak, proyek Anda itu bakal terkesan makin sepi! Hargailah warga CMR yang hendak mengurus dokumen atau izin renovasi dengan memindahkankan divisi legal Anda ke sini, ke CMR ini. Kami beli rumah di CMR, kenapa ambil dokumen di Cikupa?

UPDATE 21 JUNI 2022

Berita buruknya mutu kualitas udara Jakarta merebak lagi (sumber: indonesiaexpat.id). Banyak teman yang mengeluh terjebak macet di Jakarta. Jadi kemacetan seperti sebelum pandemi sudah kembali. Saya selalu mendapati berita buruknya mutu udara ini kalau musim kemarau mulai datang ke Jawa. Di Sumatra sendiri berita kabut asap sudah mulai muncul. Jadi ya begitu deh, mutu udara kita tak makin bagus.

Kondisi begini bakal terus terjadi tiap tahun karena dari pemerintah sendiri juga belum bisa menyebar aktivitas ekonomi kita agar tidak cuma di Jakarta. Pemindahan ibukota ke Kalimantan masih jauh dari harapan dalam upaya desentralisasi dan de-Jakartasentrisme ini.

Saya pernah dengar dari seorang teman bahwa memiliki pekerjaan di tengah ibukota memaksa orang untuk tinggal di dekat kantornya sehingga mereka mati-matian harus beli rumah dengan KPR yang entah lunas saat usia sudah kepala 6 atau 7. Ini semua karena terlalu banyak orang di tengah kota. Lahan sempit diperebutkan terlalu banyak orang. Harga naik tak terkendali. Mau sampai kapan?

Solusi satu-satunya ya menyebarlah kita yang masih mau hidup sehat dan waras. Saya berkata begitu karena hidup di kerumunan perkotaan yang menyesakkan seperti Jakarta sudah tak sehat secara fisik, psikologis, mental dan entahlah, segalanya.

Ini diperparah dengan tradisi WFO yang kembali lagi membuat macet jalanan ibukota. Padahal ya WFH sesekali juga bisa kok tetap produktif.

UPDATE 29 JUNI 2022

Tadi saya mendapat informasi bahwa manajemen kota CMR ingin mendata warga CMR pengguna layanan Komuter Line yang ada di tiap klaster. Tujuannya untuk mendata jumlah warga yang ada di sini dan jika memang cukup banyak ya akan dibuatkan sebuah stasiun sendiri di dalam lingkungan perumahan CMR ini.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna KRL, jarak dari rumah saya ke stasiun Maja memang tak bisa dibilang dekat. Makan waktu setidaknya 10 menit untuk mencapai stasiun dengan naik sepeda motor. Saya pernah coba naik sepeda jenis city bike (bukan sepeda balap mahal seperti Bianci yang bisa melesat cepat ya) makan waktu 15 menitan. Dan kalau berangkat siang sedikit pastinya sudah bermandikan keringat lagi sih. Haha.

Di website resminya pengembang membanggakan kedekatan itu seperti ini:

Citra Maja Raya memiliki lokasi strategis, hanya 500 meter dari Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Maja yang sudah terhubung ke Jakarta Pusat dan telah dilengkapi fasilitas skala kota yang lengkap.”

Faktanya yang dekat dengan stasiun ya gerbang pintu CMR Tahap 1 itu, bukan rumah Anda masing-masing. Haha. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pandemic Diary: PPKM Lanjut Habis Idulfitri

SEMPAT beredar kabar bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM yang sama saja artinya dengan lockdown ala-ala itu akan berakhir segera.

Ya bagaimana lagi, wong mudik saja sudah diperbolehkan kok. Mobilitas rakyat sudah jor-joran ke luar rumah, ke tempat wisata bahkan sampai ke luar negeri. Mulai banyak yang jalan-jalan lagi. Insta stories di bandara dan terminal sudah banyak lagi.

Intinya kehidupan pra-pandemi sudah kembali, jadi omong kosong kalau kita bilang PPKM belum berakkhir.

Tapi pemerintah memang belum berniat menghapuskan PPKM. Buktinya ini:

https://platform.twitter.com/widgets.js
Posted in writing | Leave a comment

Kalenji Run Active Jogging Shoes: Sepatu Jogger Pemula dari Decathlon

LEPAS Idulfitri begini rasanya memang mesti kembali ke jalur pola hidup aktif dan sehat kembali. Bukan berarti puasa itu tidak sehat ya tapi buktinya sebagian orang mengurangi gerak badan dan berbuka dengan makanan yang tak sehat pula. Alhasil berat badan naik dan badan tak karuan rasanya. Puncaknya pas Lebaran, kebiasaan makan berlebihan (overeating) membebani pencernaan dan sebagian orang jatuh sakit di saat harus mondar mandir silaturahmi.

Seperti biasa, banyak manusia yang baru sadar pentingnya olahraga dan pola hidup sehat saat sudah sakit. Maka sehabis Lebaran ini, banyak orang memulai mengubah pola hidupnya. Dan mereka yang selama puasa sedang jeda berolahraga, habis Lebaran mulai menggiatkan diri lagi.

Bagi Anda yang ingin memulai berolahraga tanpa harus ke pusat kebugaran yang mahal, olahraga jogging menjadi salah satu pilihan yang terjangkau. Jogging bisa dilakukan di mana saja meski tidak kapan saja (siapa yang mau jogging tengah malam? Haha).

Olahraga jogging juga murah meriah. Cukup berbekal sepatu yang nyaman dan fungsional, siapa saja bisa memulai melakukannya. Kalau jalan beraspal sebagai medan jogging juga mudah ditemukan. Kita bisa menyusuri jalan kompleks rumah atau ke lapangan berpaving atau berumput. Asal bukan berlumpur atau basah.

Nah, salah satu pilihan sepatu jogging murah meriah adalah sepatu jogging Run Active Kalenji dari Decathlon Indonesia ini. Dari situs Decathlon.co.id, harganya sekarang (saat tulisan ini ditayangkan) adalah Rp350.000. Lumayan murah apalahgi setelah didiskon 22% dari harga Rp450.000 sebelumnya.

Saya sendiri sudah mengincar sepatu ini sejak lama. Eh, tak disangka-sangka, sebelum Lebaran lalu saya ditawari sepatu jogging ini gratis oleh pihak Decathlon Alam Sutera untuk pembuatan konten Instagram mereka. Tujuannya ingin mengajak orang memulai olahraga kembali sehabis bulan puasa yang biasanya membuat orang malas bergerak.

Saya sendiri tidak diwajibkan menulis ulasan tapi saya menulis ini karena merasa ingin memberikan informasi sebagai pertimbangan Anda yang membaca dan sudah mengincar sepatu ini tapi masih ragu. Apakah sepatu ini sesuai dengan banderol harganya? Yuk kita bahas bersama.

KENYAMANAN

Jenis sol sepatu ini relatif tebal. Entah berapa milimeter tebalnya tapi membuat telapak kaki, pergelangan kaki dan sendi lutut saya tetap nyaman dan aman saat berbenturan dengan jalan beraspal atau semen keras tempat kita berjogging.

Dengan ukuran bervariasi, bisa pilih ukuran yang sedikit lebih besar untuk memberi ruang buat kaos kaki.

Sepatu ini mungkin tak cocok untuk pelari profesional atau marathon. Tapi itu memang sudah sepatutnya karena ini dibuat untuk pelari pemula.

Bagian dalam sepatu nyaman karena tebal tapi saat dipakai berlari tetap terasa ringan. Bahkan tanpa kaos kaki pun mungkin kulit tungkai kaki tak lecet.

PILIHAN WARNA

Di website Decathlon, saya menemukan 4 varian warna sepatu ini. Selain biru yang saya terima, ada putih, hitam dan abu-abu. Menurut saya varian biru ini lebih kalem dan tak begitu mencolok mata.

Namun demikian, kalau Anda lari di kegelapan, ternyata sepatu ini bisa bersinar karena ternyata garis putih di tengah sepatu ini bisa gemerlapan kalau tertimpa sinar.

Tentu tak bakal menolong saat Anda jogging pagi hari. Kecuali pagi hari itu gelap gulita, atau Anda jogging malam hari.

HARGA

Sebagaimana saya sudah kemukakan di atas, harganya Rp350.000. Level harga seperti ini tergolong masih murah bagi masyarakat kebanyakan.

Dengan desain sepatu yang lumayan bagus dan bergaya, harga seperti ini layak. Sudah bisa membedakan dari sepatu yang lebih murah. Dan memang tak sebagus sepatu lari ‘serius’ yang rata-rata Rp500.000 ke atas.

MULTIGUNA

Kalau dipakai di luar sesi jogging, sepatu ini masih tampak modis dan tidak memalukan. Anda masih bisa diterima masyarakat saat memakai sepatu ini ke mall atau pesta atau event publik lain. Asal pilihan warnanya tak terlalu ngejreng. Dan menurut saya varian biru ini paling cocok di segala suasana dibandingkan varian warna lainnya.

Jadi menurut saya sepatu Kalenji ini memang worth the money. Apalagi setelah didiskon begini.

Poin plusnya sepatu Run Active ini sudah memenuhi kebutuhan jogger pemula dengan harga yang masuk akal. Kenyamanan juga bagus.

Poin minusnya sih katanya belum ada ukuran besar buat mereka yang tak muat di ukuran kaki 39-43 yang dimiliki mayoritas populasi. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , , , | Leave a comment

Pandemic Diary: Setelah Kedaruratan Lewat, Wajibkah Vaksin Covid-19 Mulai Disertifikasi Halal?

VAKSIN Covid-19 di awal pandemi dulu tahun 2020 memang sempat menuai kontroversi soal kehalalan. Maklum mayoritas warga 62 adalah muslim. Isu ini pun jadi maha penting.

Saat itu MUI memang sudah mewanti-wanti. Halal haram tiap jenis vaksin yang disuntikkan ke masyarakat harus dipastikan.

Lalu perdebatan ini pun dimanfaatkan kalangan pengingkar Covid-19, dengan mengatakan bahwa vaksin itu haram dan seharusnya tak diberikan ke manusia Indonesia.

MUI melunak karena vaksin Merah Putih produksi RI sendiri tak kunjung diluncurkan ke pasar. Bahkan Menkes Terawan seolah ‘tenggelam’ dalam pusaran badai pandemi. Suaranya lenyap total dari publik, seakan ia sudah dilucuti dari kewenangan dan jabatan Menkesnya secara halus.

Beberapa vaksin menurut MUI memang diharamkan tapi karena jumlah vaksin lain yang halal masih terbatas, ya sudahlah dipakai saja dulu daripada lebih banyak yang mati karena Covid-19.

Vaksin produksi Sinopharm (bukan Sinovac) resmi dinyatakan haram oleh MUI (sumber: CNBC). Bahkan vaksin Astrazeneca juga dicap haram.

Alasan pengharamannya karena ada kandungan tripsin babi dan kita tahu bersama babi dalam bentuk apapun dilarang masuk ke dalam badan muslim.

Nah sekarang begitu pandemi mulai menyurut, ada pihak yang mengungkit kembali isu halal haram vaksin ini.

Alasan mereka adalah kita sudah melewati fase darurat. Di fase ini, semua orang termasuk muslim boleh memakai vaksin apapun yang bisa menekan tingkat kematian akibat Covid meski itu haram karena ada kandungan babinya.

Tapi begitu masyarakat Indonesia sudah mulai menikmati penurunan level PPKM dan vaksin ketiga sebagai booster disebarkan, sudah seharusnya dibahas mengenai kehalalan vaksin juga.

Kini setelah lolos uji klinis, vaksin diharapkan bisa memenuhi standar kehalalan untuk rakyat Indonesia yang muslim.

Kalau menurut saya, kalau sudah dianggap patut memberlakukan standar kehalalan vaksin ini, silakan saja. Tapi apakah ada vaksin Covid-19 yang halal? Kalau belum bisa tersedia untuk semua, ya artinya kita masih dalam kondisi darurat dong!

Dengan terus memaksakan masyarakat muslim mengonsumsi vaksin haram, pemerintah sendiri gagal dalam mematuhi UU Jaminan Produk Halal dan Jaminan Perlindungan Konsumen dalam hal ini umat muslim. (*/)

Posted in pandemic | Tagged , , , , | Leave a comment

Pandemic Diary: Mudik ‘Balas Dendam’ Terheboh dalam Sejarah Jadi Akhir Pandemi RI?

DENGAN kemunculan varian baru di AS dan lockdown di Shanghai China akibat merebaknya Covid-19 lagi, Indonesia menikmati keberuntungan dengan diizinkannya masyarakat untuk kembali mudik.

Tak kurang 79 juta orang kembali ke kampung halaman secara gila-gilaan di akhir bulan Puasa dan April 2022 lalu. Jumlah ini konon memecahkan rekor.

Dan memang terjadi kekacauan di berbagai titik jalan yang menjadi rute mudik di Jawa. Terutama memang Jawa sih yang tingkat mobilisasinya sangat tinggi.

Akibat kemacetan yang tak tertahankan di ruas tol Cipularang Bandung-Jakarta, sempat ada pengemudi stres dan mencak-mencak nggak karuan di sana.

Menurut detik.com, tol Cikampek-Bandung macet karena dampak sejumlah pengguna jalan tol yang dari Bandung-Jakarta protes turun ke jalan karena terlalu lama tidak bisa masuk tol Cikampek pada hari Jumat (29/4).

Pemerintah memang menyarankan halal bihalal dilakukan dengan Protokol Kesehatan. Tidak ada makan-makan apalagi mengobrol.

Menurut Medcom.id, aturan halal bihalal Lebaran 2022 adalah sebagai berikut:

  • PPKM level 3: maksimal tamu 50 persen dari kapasitas
  • PPKM level 2: maksimal tamu 75 persen dari kapasitas
  • PPKM level 1: maksimal tamu 100 persen

Untuk acara makan bersama juga diatur. Jumlah tamu dengan jumlah di atas 100 orang, makanan dan minuman harus disediakan dalam kemasan yang bisa dibawa pulang. Serta tidak boleh ada makanan atau minuman yang disajikan di tempat (prasmanan). Intinya buka masker di tempat yang sama tak diperbolehkan.

Tapi pada praktiknya sih ya tidak memungkinkan dilakukan. Masyarakat sudah merasa pandemi ini berakhir karena pemerintah mengendurkan larangan ini itu, masker juga tak dipakai tak masalah menurut mereka, karena vaksin menjadi alasan untuk merasa aman membuka masker. Kalau yang sudah sejak dulu tak percaya Covid sih malah makin membandel.

Lalu arus kembali ke Ibu Kota juga sama puyengnya. Tol Cikampek macet lagi menurut Sindo News.

Itulah kenapa ini bisa dikatakan mudik paling heboh sepanjang sejarah modern. Populasi makin banyak, pemudik beranak pinak, dan semua ingin menghemat biaya mudik dengan menggunakan mobil pribadi (karena cukup bayar bensin saja katanya).

Volume pemudik darat memang menggila karena di bandara kenaikan pemudik tak begitu signifikan sepengetahuan saya. Suasana bandara baik saat saya berangkat dan pulang terlihat sama saja. Arusnya datar. Tidak ada antrean panjang. Yang tentu saja melegakan saya sebagai pengguna moda transportasi ini.

Apakah pandemi sudah usai di bumi Indonesia?

Mungkin saja. Tapi tak menutup kemungkinan juga bakal ada lagi lockdown jika jumlah kasus naik dan varian baru muncul. Ah, memang tiada henti pandemi ini. (*/)

Posted in pandemic | Tagged , , | Leave a comment