Pupuk Nasionalisme dengan Melancong

Screen Shot 2017-09-06 at 16.19.15.png

Nasionalisme dan melancong. Apa hubungannya?

Setelah begitu kerasnya membanting tulang, saya hadiahi diri saya sebuah liburan ke pulau Bali. Sebuah liburan yang direalisasikan secara impromptu karena jika direncanakan jauh-jauh hari justru berisiko buyar. Sebabnya bisa bermacam-macam. Hampir selalu begitu. Maka, saya putuskan hanya beberapa pekan sebelumnya untuk meluncur ke bagian tengah Indonesia dari Jakarta.

Di bandara Ngurah Rai, saya lepaskan beban apapun yang menggelayuti pikiran soal pekerjaan. Di depan, sudah menyongsong seorang teman. Narto namanya. Ia sendirian dan mengatakan sudah mengenali saya saat di gerbang.

“Saya cari orang berperawakan kecil dan kurus. Seperti di Facebook,” celetuknya. Tawa kami meledak. Kami memang belum pernah bertemu sebelumnya secara langsung. Janji kami untuk bertemu dirangkai lewat pesan di Facebook Messenger. Usia Marto memang sudah setara paman saya tetapi soal kekerapan menggunakan media sosial, saya mengaku kalah darinya.

Marto mengajak saya ke dalam mobil yang rupanya ia sewa dari seorang tetangga. Di belakang stir, seorang anak muda berperawakan penuh menyapa. Ia perkenalkan dirinya sebagai Wayan Amarta. Ia sedang libur sekolah dan tengah mencari uang tambahan untuk keluarganya. Marto memilih memakai jasanya sebab penggilingan padi mereka yang semula ramai pelanggan mulai sepi. Seorang tetangga lain membuka bisnis penggilingan yang sama dengan harga lebih murah. Hancurlah sumber penghidupan keluarga itu. Kini mereka memutar otak agar bisa bertahan hidup. Amarta ingin menabung agar bisa kuliah dan menjadi pekerja di kapal pesiar mewah yang mengarungi lautan luas.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.21.38

Bersantai di penginapan terjangkau di Ubud, Bali. Surga!

Mobil meluncur ke beberapa tempat wisata, dan kami sampai juga di Ubud yang menjadi tujuan saya. Narto memberikan penjelasan sepanjang jalan dengan sukarela. Karena saya dianggap teman dan ia sedang tidak sibuk menemani wisatawan, ia merelakan sejumlah waktu berharganya menemani saya. Sungguh baik hati dirinya. Di kala sibuk, ia berkelana mengawal turis manca ke pulau-pulau timur nusantara, berdiri di dek kapal pesiar mewah yang bertarif ribuan dollar untuk bisa ikut di dalamnya sebagai peserta.

Saya pun sampai di penginapan rekomendasinya. Dekat dengan sebuah hutan penuh monyet-monyet yang dibiarkan liar. Saya sempat lupa saya tinggal dekat hutan karena terlalu lama di Jakarta yang sesak dan gersang hingga esok harinya saya bangun dan makan pagi di teras.

Saya tersentak. Seekor monyet kecil entah dari mana sampai di balkon tempat saya bersantai dan menghirup udara segar. Tak cuma satu ekor itu. Ia disusul oleh serombongan lainnya, yang rupanya juga sama kelaparannya seperti saya. Sekeluarga monyet itu mengamati saya dan memastikan tidak ada ancaman yang berarti dalam gerak-gerik saya. Barulah mereka turun, mengaduk-aduk tempat sampah dan sempat menjamah sekantong buah yang saya baru dapatkan kemarin.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.13

Menikmati hidangan khas Indonesia di berbagai kesempatan menjadi bukti nasionalisme kita juga.

Senja turun dan kegelapan mulai melingkupi penginapan. Saya masih ingat tidak ada sinar rembulan dan sebagai orang yang terbiasa dengan kehidupan kota yang berlimpah cahaya, melihat pekatnya malam membuat saya bergidik panik juga.

Ponsel saya bergetar, sedikit mengusik ketenangan. Saya harap tidak soal pekerjaan. Untungnya dugaan tidak menjadi kenyataan.

Ternyata Narto yang menghubungi saya via WhatsApp. Ia dan istrinya mengundang saya bersantap malam. Mereka berdua menunggu saya di sebuah restoran dekat penginapan.

Saya memilih gado-gado dan sembari menunggu mereka datang, saya membuka laptop dan menuliskan beberapa pengalaman dalam perjalanan ini. Saya tidak mau sampai detail-detail berharga ini tidak tercatat dan terlupakan.

Mereka datang juga. Saya menutup laptop demi kesopanan dan kami segera memesan makanan. Saya nyaman dengan memakan gado-gado. Mereka dengan makanan ala Eropa. Maklum, istri Narto seorang perempuan Prancis totok.

“Claudine,” ia menjabat erat tangan saya dalam logat Prancis yang kental. Dari istrinya, Narto belajar bercakap bahasa Prancis hingga lancar. Ia memang pembelajar yang alami, sebagaimana saat ia mulai belajar bahasa Inggris hanya dengan mendengarkan siaran BBC setiap hari di radio pamannya. Saya mengagumi kemampuan istimewanya itu.

Kami mengobrol banyak hal, hingga sampai pada satu topik tentang frekuensi mudik Claudine ke tanah airnya. Saya menduga ia sekali setahun ke sana.

“Tidak, saya tidak sesering itu pulang, Akhlis. Tiket pesawatnya kan mahal! Haha,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata tetapi jelas bagi saya. Ia agak kesulitan melafalkan nama saya dengan benar tetapi saya paham lidahnya belum terbiasa dengan kata berakhiran /s/.

Ia mengatakan bahkan hanya beberapa tahun sekali jika ada penawaran tiket yang murah saja. Sebagai orang Prancis, ia memiliki kebiasaan mudik yang lain dari kebiasaan mudik orang Indonesia tiap Idul Fitri, yang mengharuskan menampakkan muka di rumah tempat keluarga besar berkumpul. Saat Natal, Claudine juga tidak menganggapnya sebagai suatu saat istimewa. Ia tidak lagi menjadi penganut Katholik yang taat karena ia bercerita sudah bosan dengan didikan dogmatis sepanjang masa kanak-kanaknya.

Ia sempat berceletuk,”Kalau saya bisa memilih tidak pulang ke sana, saya akan pilih demikian.”

“Kenapa?” selidik saya. Saya tidak paham dengan jawabannya itu. Bukankah seseorang pasti memiliki pertalian emosional yang erat dengan tanah kelahirannya?

“Karena saya sudah tidak merasa Prancis rumah saya. Saya lebih nyaman di sini,” ucap Claudine dengan mantap. Sejurus kemudian ia menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.

Lebih lanjut, tanpa saya tanya, Claudine terus mengemukakan alasannya. Saya memperlambat kecepatan makan saya untuk berkonsentrasi pada ucapannya yang lirih.

“Kau tahu, Akhlis?”

“Tidak…” jawab saya jujur.

“Bangsa Prancis menganggap diri mereka lebih tinggi daripada bangsa-bangsa yang lain. Dan karena itulah, mereka enggan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Tiap kali ada kegagalan mereka menganggap itu bukan kesalahan mereka tetapi  bangsa lain. Prancis menjadi bangsa yang stagnan, terjebak dalam kejayaan masa lalunya. Karena itulah, saya merasa lebih nyaman di sini, Akhlis,” terang Claudine panjang lebar. 

Jujur, saya tidak tahu harus berkata-kata apa. Karena selama ini, saya sebagai orang luar menganggap bangsa Prancis sebagai bangsa yang besar, hebat, dan superior dengan Revolusi Prancisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia modern ini. Belum lagi dengan bangunan-bangunan kuno mereka yang terawat apik, museum-museum, Paris yang selalu digadang-gadang orang sebagai Mekah-nya dunia mode. Tetapi toh ternyata, jika dikorek-korek, ada juga cacat dalam sebuah bangsa sebesar itu.

Kemudian inilah AHA Moment saya:

“Bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Indonesia?”

Saya selama ini hampir selalu mendengarkan pernyataan-pernyataan bernada inferiority complex yang banyak diderita bangsa bekas jajahan, bahwa Indonesia harus banyak belajar dari bangsa X, bangsa Y, bangsa Z. Tidak ada habis-habisnya. Seolah-olah bangsa ini tidak memiliki kelebihan dan kekuatan sedikit pun yang bisa diangkat dan dibanggakan.

Sudah saatnya persepsi negatif kita tentang bangsa sendiri diubah. Caranya? Dengan banyak melancong!

Dengan melancong di dalam negeri, kita lebih banyak mengenali dan memahami lebih mendalam tentang keragaman dan kekayaan budaya, alam, kuliner, filosofi dan berbagai jenis aset material dan imaterial lain yang dimiliki bangsa besar ini. Mari kita belajar dari bangsa-bangsa lain seperti Prancis dengan mengambil sisi positif, yakni kebanggaan atas budaya, sejarah dan aset-aset nasional lainnya tetapi di saat yang sama kita juga perlu membuka diri untuk terus bisa belajar demi kemajuan bangsa.

Soal dana untuk melancong, patut disadari bahwa masyarakat Indonesia masih menghabiskan dana wisata mereka untuk berbelanja. Tentu tidak sepenuhnya salah dengan itu (karena itu menggenjot perekonomian juga), tetapi hendaknya jangan hanya mengutamakan oleh-oleh saat melancong tetapi juga belajar lebih banyak mengenai orang-orang yang kita kunjungi di daerah lain.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.31

Kemacetan dan ketidaktertiban berlalu lintas selalu menjadi satu hal yang identik dengan sisi buruk Indonesia.

Pada Claudine, saya berharap saya bisa bertemu lagi dengannya untuk sekadar berterima kasih atas AHA Moment yang ia berikan pada saya. Sekaligus saya juga ingin menyampaikan kiat saya agar ia bisa pulang ke Prancis lagi lebih sering atau melancing ke negara lain sehingga bisa menemukan perspektif lebih baik mengenai bangsanya yang saya yakin ia rindu juga tak peduli banyaknya cacat yang dimiliki dalam kacamatanya.

Caranya mudah. Pakai layanan Skyscanner yang memiliki fitur pencarian tiket pesawat di bulan termurah. Fitur ini memudahkan kita menemukan momen pas saat tiket pesawat ke suatu destinasi berada di harga termurahnya. Ada juga fitur “Info harga” yang memungkinkan kita memonitor fluktuasi harga tiket pesawat via surel.

 

1 Comment

Filed under writing

Asyiknya Bekerja di Coworking Space Pertama Kolaborasi Swasta dan Pemerintah DKI Jakarta

21167636_10211882421953320_899711438857278829_o

Berdiri dan beroperasi sejak 22 Juni 2017 lalu, Jakarta Smart City Hive siap menjadi ruang kerja terpadu bagi pekerja kreatif dan entrepreneur digital. (Foto: Dokumen Pribadi)

Berdiri di tengah kepungan pencakar langit, gedung itu saya kenal sebagai Pusat Promosi Kesenian Jakarta. Letaknya di Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Semanggi, Jakarta Selatan. Sebelumnya saya ingat wajah gedung dua lantai itu lusuh, dengan cat kuning yang memudar terkena terpaan cuaca dan polusi Jakarta. Halamannya yang cukup luas terlihat kosong melompong. Ada tenda UMKM yang berdiri tetapi tidak terlihat adanya aktivitas yang signifikan. Singkatnya, bangunan itu bisa dikatakan menganggur.

Namun, tahun ini ada yang berubah dengan bangunan itu. Tiap kali saya melewatinya, saya temukan suasana yang berbeda. Aura suram sudah tersibak. Rupa bangunan juga berbeda. Desain depannya yang terutama menarik perhatian saya. Sangat kenal dengan nuansa futuristik. Batang-batang logam dirangkai sedemikian rupa membentuk pola bujursangkar, seolah ingin memberikan kesan yang industrialis dan tegas tetapi pada saat yang sama pencahayaan yang keemasan membuatnya hangat. Sekilas dari luar, kehangatan itu tecermin dari frame warna cokelat tua dan interior yang didominasi elemen kayu dan tembok dengan warna khas batubata.

Yang lebih penting lagi ialah bangunan ini tidak lagi kosong. Kini banyak orang beraktivitas di dalamnya. Seperti saat saya memasukinya beberapa hari lalu, seorang resepsionis menyambut saya dengan ramah. Meskipun tinggal di sekitar sini, saya belum tahu apa sebenarnya isi bangunan ini. Ternyata tempat itu sudah disulap menjadi sebuah ruang kerja bersama alias coworking space yang semarak, modern dan nyaman.

Dari luar, karena tidak ada plat atau papan nama yang besar, setelah masuk saya baru tahu bahwa namanya ialah JSC Hive (Jakarta Smart City Hive).

Saya bertanya pada Aulia, sang resepsionis yang menyambut saya, mengenai bagaimana caranya menikmati layanan di tempat ini. Saya lemparkan pandangan ke sekeliling. Ruang-ruangnya terlihat bagus, semuanya masih berkilau dan baru.

 

Apa itu JSC Hive?

JSC Hive sendiri – jika Anda baru kali ini mendengar namanya – ialah suatu hasil kerjasama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan EV Hive, sebuah bisnis ruang kerja bersama di Indonesia yang disokong oleh para pemodal ventura (venture capitalists), yakni East Ventures dan Sinar Mas Digital Ventures (SMDV) (sumber: LinkedIn). Misinya satu: memberikan ruang yang kondusif bagi pertumbuhan startup digital di ibukota.

“Cukup sign up (mendaftar -pen) ke situs EVHive.co, membayar di meja resepsionis, lalu bisa ke atas,” terang Aulia sambil mengarahkan telunjuknya ke lantai dua. Di sana tersedia ruang kerja yang nyaman dan disewakan per hari atau per bulan. Bergantung pada kebutuhan masing-masing orang.

“Harus bayar berapa?” tanya saya. Aulia menjawab singkat,”Lima puluh ribu rupiah.” Cukup terjangkau, batin saya.

Di sisi kiri pintu masuk JSC Hive Kuningan ini, saya sempat melihat foto-foto para penggagasnya. Di antaranya ialah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang kala itu masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Dua tahun sebelum ini Ahok pernah mengutarakan tekadnya untuk mengubah Jakarta menjadi lebih kondusif bagi perkembangan entrepreneurship digital dan ekosistemnya. “Jakarta berubah,” ujarnya saat memberikan sambutan di pembukaan event Global Entrepreneurship Week 2014 (sumber: Ahok, “The Mad Man”, of Jakarta, Tells Us More about His Views in Entrepreneurship and Jakarta). Dibangunnya JSC Hive seakan menjadi pengukuhan atas pernyataannya saat itu.

Di lantai dasar, saya menemukan sebuah event space dengan kapasitas sekitar 100 orang. Di ruang ini, workshop dan seminar dapat digelar. Kemudian Aulia menunjukkan “Reflexing Room” yang mirip ruang perpustakaan meskipun tidak banyak buku di situ. Di dalam ruang itu suasana lebih tenang sehingga cocok untuk membaca atau sekadar menunggu teman teman yang sedang bekerja.

Dekat tangga, tersedia “Meeting Room” bertarif Rp200.000/ jam yang didesain khusus bagi mereka yang kerap keluar masuk dan membutuhkan akses yang lebih mudah tanpa harus susah payah naik ke lantai atas.

Karena saya seorang diri dan ingin mencoba bekerja individual, Aulia menyarankan untuk menjajal “desk membership”, yang cuma Rp50.000 per hari. Saya dipersilakan naik ke atas dan sebelum saya duduk, Aulia menunjukkan enam “Private Offices” yang dirancang sebagai ruang kerja privat bagi para entrepreneur yang menginginkan kantor sewaan dengan biaya lebih terjangkau. Ada private office yang berkapasitas kecil (5-6 orang) dan besar (10-12 orang). Sebuah solusi hemat bagi startup dan entrepreneur yang masih kebingungan menentukan lokasi kerja.

 

Tarif Bersaing, Lokasi Prima

Menurut pengamatan saya, JSC Hive mengunggulkan tarif sewa yang lebih terjangkau dan yang penting, lokasi yang mudah dituju. Lokasi-lokasi di tengah Jakarta sungguh mencekik harga sewanya tetapi melalui JSC Hive, para entrepreneur dan startup digital bisa menyewa dengan tarif yang sesuai kemampuan finansial mereka. Memiliki ruang kantor di tengah Jakarta – selain memberikan prestis – juga memudahkan orang untuk berkumpul dan bekerja di satu ruangan khusus bersama-sama (karena harus diakui dengan jujur bahwa bekerja secara tatap muka tetap memiliki kelebihan tersendiri daripada dari jarak jauh dengan bantuan teknologi). Kebutuhan akan ruang kantor di tengah Jakarta mungkin belum terasa bagi startup dan entrepreneur yang belum banyak memiliki relasi dan koneksi. Namun, begitu mereka harus banyak mengadakan rapat dan mengundang klien atau mitra bisnis potensial, rasanya akan lebih praktis untuk berbicara di coworking space, alih-alih mengajak rapat di kafe, kedai kopi, restoran atau mall yang penuh distraksi dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Bagi entrepreneur, kemewahan bekerja dari mana saja memang ada tetapi tidak bisa diterapkan seratus persen dalam semua situasi. Akan selalu ada saat-saat ia harus keluar rumah karena ruangan kerja di rumah tidak representatif lagi. Di sini, tampaknya JSC Hive bisa memberikan solusi.

Walaupun baru dibuka dua bulan lalu (JSC Hive dibuka dan beroperasi secara resmi sejak 22 Juni 2017), tempat ini sudah mulai menarik para pekerja kreatif dan entrepreneur dari berbagai kalangan. Saat saya bertanya jumlah pengunjung sampai sekarang, Aulia menjawab bisa mencapai 50-an orang per hari.

Siang itu, saya sempat bekerja bersama di satu ruangan dengan sejumlah anak muda yang tampaknya sibuk menjalankan startup mereka. Di pagi hari mereka bertemu dan menyiapkan materi rapat sebelum keluar menemui klien dan kemudian baru kembali setelah makan siang. Barulah terjadi rapat singkat dan kemudian mereka pulang. Sangat efisien.

 

Ruang Kerja Untuk Semua

Karena digagas oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, saya menduga bahwa ruang kerja itu khusus untuk warga yang memegang KTP DKI Jakarta, atau setidaknya memberlakukan tarif khusus bagi warga DKI. Namun, ternyata saya salah. Tarif yang sama berlaku untuk siapa saja. Bahkan untuk mereka para ekspatriat yang belum menjadi WNI.

Saat saya lihat di ruang kerja bersama, memang tidak cuma WNI yang bisa menggunakan layanan JSC Hive, tetapi juga para entrepreneur atau pekerja lepas ekspatriat. Saya menemukan seorang anak muda Korea yang bercakap-cakap dengan rekannya di ruang teleconference. Di sebuah meja lain, juga duduk seorang pria Kaukasia yang sibuk dengan pekerjaan di laptopnya. Meskipun kebanyakan orang di dalamnya menggunakan laptop saat bekerja, ada juga yang lebih memilih untuk memakai desktop yang berat dan lebih banyak memakan tempat.

21248648_10211907683584845_6369588382713146080_o

 

Hemat dan Fleksibel untuk Pekerja Kreatif

Menariknya ada fitur “flexi desk” yang disuguhkan JSC Hive. Fitur itu memungkinkan seorang anggota untuk bekerja di salah satu lokasi JSC Hive sesuai seleranya. JSC Hive selain di Kuningan (Jl. Prof. Dr. Satrio no. 7), juga berlokasi di empat strategis lainnya yakni di Sentra Bisnis Sudirman (IFC 1 Building), Menteng (Jl. Riau no. 1), Kebayoran (Jl. Kyai Maja no 39), dan Bumi Serpong Damai atau BSD (The Breeze, unit #L 69-70).

Fitur ini menurut saya sangat memudahkan mereka yang aktif bekerja di sekitar Jakarta sehingga bisa menjangkau salah satu cabang JSC Hive yang terdekat dengan lokasi mereka dalam satu hari tertentu untuk mengurangi waktu yang dihabiskan di jalan akibat kemacetan.

Untuk mereka yang bekerja lepas (freelancing) atau ingin bekerja di luar kantor pada saat-saat tertentu, pilihan flexi desk harian terasa lebih cocok. Cukup merogoh Rp50.000 per hari, kita sudah bisa duduk dan bekerja dengan nyaman di JSC Hive mana saja. Untuk yang sering bekerja di kafe atau kedai kopi, biaya itu mungkin setara dengan satu cangkir kopi atau camilan. Dalam hal kenyamanan, saya pikir kafe dan JSC Hive sama saja tetapi dalam hal keamanan dan kepraktisan, tentu berbeda. Karena saat misalnya harus ke toilet, saya harus repot memberitahu petugas keamanan bahwa saya meninggalkan laptop dan tas saya di situ sembari terus was-was apakah si petugas benar-benar mengawasi barang-barang berharga saya atau lengah dan membiarkan pencuri mengambilnya. Sementara di JSC Hive, saya dengan leluasa bisa menikmati minuman secara gratis sepuasnya, lalu tanpa cemas bisa meninggalkan barang-barang berharga saya saat harus ke toilet dan salat atau makan siang.

Koneksi internetnya juga terbilang cepat, membuat kita betah bekerja. Dan tidak perlu berebut colokan listrik sebagaimana yang kita temui di kafe atau kedai kopi atau restoran. Saya kerap jengkel jika ada satu orang yang sengaja duduk di meja dekat colokan listrik dan berlama-lama seolah memonopolinya padahal gawai-gawai saya juga sudah hampir habis dayanya sementara saya masih harus bekerja. Hal semacam itu tidak akan terjadi di JSC Hive, karena setiap meja telah disediakan colokan listrik yang lebih dari cukup. Bukan hanya di meja, di lantai juga disediakan colokan ekstra. Sungguh-sungguh surga bagi mereka yang bekerja di dunia digital.

Bagi Anda yang tidak cuma ingin menumpang bekerja tetapi ingin menjadi bagian dari komunitas dan ekosistem besar JSC Hive, Anda bisa membayar Rp1 juta per bulan. Fasilitasnya jauh lebih komplit. Selain koneksi wi-fi, satu meja kerja yang bisa Anda duduki saban hari kerja (JSC Hive beroperasi selama 5 hari kerja dan beroperasi dari pagi sampai malam pukul 7-8 malam) dan kebebasan menikmati minuman sepuasnya, Anda juga akan diperbolehkan memakai ruang pertemuan (meeting room), loker, mendapat diskon khusus untuk event-event JSC Hive, akses ke jaringan komunitas JSC Hive.

Untuk mereka yang lebih menyukai ruang kerja yang tersendiri dan tidak bisa diganggu gugat, cukup sisihkan Rp1,5 juta sebulan. Untuk startup, dengan kebutuhan ruang kerja, harga sewanya Rp4 juta per bulan ke atas.

 

Coworking Space Plus-Plus!

Tentu JSC Hive tidak cuma menyediakan ruang fisik. Lebih dari itu, tersedia berbagai fasilitas edukasi seperti workshop, diskusi panel, kelas spesial, dan sebagainya. Sebagai suatu ekosistem, JSC Hive juga menyediakan infrastruktur non-fisik yang krusial bagi startup dan entrepreneur digital, misalnya piranti lunak untuk manajemen bisnis, penasihat hukum yang dapat diminta bantuannya dalam hal hukum hak cipta dan paten (yang mutlak diperlukan dalam melindungi produk). JSC Hive turut memberikan akses menuju jaringan (network) yang diperlukan entrepreneur dalam mengembangkan startupnya seperti jaringan investor potensial, perusahaan besar maupun startup lain di lingkup global.

JSC Hive, dalam pandangan saya, memiliki sebuah kelebihan yang tidak bisa disaingi oleh coworking space lain, yakni dukungan riil yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sepanjang pengetahuan saya, masih belum ada coworking space di luar sana yang turut menggandeng pemerintah setempat yang secara serius ingin memajukan ekosistem entrepreneurship digital (sumber: TechInAsia). Sebagaimana kita ketahui, pertumbuhan sebuah ekosistem memerlukan dukungan dari banyak pihak. Tidak bisa sepotong-sepotong atau sektoral.

Dalam beberapa tahun lalu, terkesan bahwa sektor swasta (entrepreneur-startup dan korporasi besar) dan pemerintah masih berjalan sendiri-sendiri. Bahkan saya sempat mendengar seorang entrepreneur berceletuk,”Pokoknya, asal pemerintah tidak ‘mengulik’ kami, kami bisa kok berkembang sendirian.” Itu dulu, saat pemerintah dan swasta masih belum membangun hubungan yang dekat terkait entrepreneurship terutama di ranah digital.

https://www.forbes.com/forbes/welcome/?toURL=https://www.forbes.com/sites/danisenberg/2011/05/25/introducing-the-entrepreneurship-ecosystem-four-defining-characteristics/&refURL=https://www.google.com/&referrer=https://www.google.com/

Kompleksnya ekosistem entrepreneurship digambarkan di infografis yang disuguhkan Daniel Isenberg. Dari sini kita tahu betapa menantangnya menumbuhkan entrepreneur dalam sebuah lingkungan yang belum kondusif seperti di Indonesia. (Sumber: Forbes.com)

Namun, dalam dua atau setahun belakangan, sebuah itikad baik untuk menjadikannya sebagai satu upaya sinergis dan terarah sudah muncul dan patut diapresiasi. Dan kita tentu berharap bahwa JSC Hive bisa menjadi salah satu percontohan hasil kolaborasi swasta dan pemerintah secara apik untuk memajukan entrepreneurship di nusantara.

Untuk mereka yang mengunjungi JSC Hive pertama, diperkenankan menggunakan fasilitas yang ada secara cuma-cuma alias GRATIS! Tetapi tunggu dulu, Anda tidak bisa langsung datang begitu saja sebab setiap pengguna wajib memesan tempat sehari sebelumnya secara daring di EVHIVE.CO. Tinggal bayar di meja resepsionis dan Anda bisa bekerja dengan nyaman dan aman di coworking space keren ini. (*)

6 Comments

Filed under entrepreneurship, writing

Mr. Spruce

“Nama Anda seperti nama pembalap,” komentar saya begitu membaca kartu namanya. Sebagai orang asli suatu negeri lengang di belahan bumi utara sana, tingginya cuma rata-rata orang nusantara. Untuk ukuran keturunan suku Viking, saya pikir ia kurang menjulang.
.
Saya baca jabatannya. Atase, menangani urusan konsuler. Saya pandang lagi raut mukanya dan tampilannya. Dengan kaos sederhana begitu, siapa nyana ia pejabat tinggi di sini. Usianya tidak muda lagi dengan wajah berberewok abu-abu di sana sini. Saya tebak di masa mudanya rambutnya yang mulai membotak dan memutih juga sepirang gadis-gadis muda Skandinavia yang bersama dengannya. Gadis-gadis yang dengan seksisnya disapa jahil oleh oknum pegawai birokrat kroco yang sambil merokok berkata,”Neng, sini. Mau ke mana, Neng?” Norak.
.
Sebelum ia sodorkan kartu nama, saya sempat mengobrol beberapa lama setelah iseng menanyajan padanya apakah ada rilis pers dalam peristiwa yang baru saja kami saksikan bersama.
.
“Kenapa pohon ini yang ditanam? Apakah ini pohon asli negeri Anda?” Saya lontarkan pertanyaan tanpa banyak pertimbangan, untuk kemudian sedikit menyesali kekonyolan yang terkandung di dalamnya.
.
Ia menjelaskan panjang lebar bahwa tentu pohon yang dipilih ditanam di Jakarta bukan pohon asli tanah airnya yang dekat dengan kutub utara. “Jelas pohon itu tidak akan bisa tumbuh di Jakarta yang panas sepanjang tahun.” Saya tersenyum kecut. Tentu demikian logikanya.
.
Pohon aslinya bernama Home Spruce. Saya yang seumur hidup mendekam di wilayah tropis tak bisa membayangkan rupa dan ciri fisik pohon itu.
.
Ia bersedia membantu menyusun imaji Home Spruce dalam benak saya. “Pohonnya mirip cemara. Kami sering pakai sebagai pohon natal juga. Ini pohon menjadi kebanggaan nasional kami.”
.
“Apakah hanya tumbuh di negara Anda?” Timpal saya tanpa berani menyebut nama. Beginilah kalau keasyikan berbicara, lupa berkenalan.
.
Home Spruce, imbuhnya, hanya tumbuh di belahan bumi utara. Kayunya bisa dipakai apa saja. Termasuk membangun rumah dan perabotan. Multiguna. Bahkan getahnya bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan luka. Untuk meredakan kemerahan di kulit, biasanya getah tadi dicampur dengan lilin lebah alias bee wax. Oleskan dan keluhan raib. Tetapi getah itu juga yang membuat kayu Home Spruce mesti dikeringkan dulm dulu sebelum diolah sebagai elemen bangunan.
.
Saya pernah dengar negerinya yang damai dan hening. Penduduknya sedikit, tak banyak berulah, relatif tertib dan waras. Politik domestik tak banyak menjadi berita. Lain dari sini yang hingar bingar. Untuk bertanya soal politik, saya merasa tidak tergelitik. Cukup.
.
Saya bersimpati padanya. Kesulitan beradaptasinya luar biasa untuk bisa hidup di Jakarta. Lalu lintas dan cuaca menjadi tantangan utama. Ia stres dengan Jakarta yang penduduknya setara total rakyat negerinya. Hanya saja mereka hidup di lahan yang jauh lebih lapang dari sini. Saya bergurau bahwa hutan menjadi pemisah antarrumah. Bukan pagar atau halaman. Saya terka dari deskripsi latar tempat novel Jonas Jonasson.
.
“Kami punya lelucon khas,” tuturnya. Ia tunjukkan kartun di layar iPhonenya. “Dua orang di negeri kami jika bertemu biasanya hanya bertatap mata lalu tersenyum.” Itu karena mereka tinggal begitu jauhnya dari tetangga terdekat sampai mereka tidak tahu apa yang mesti dibicarakan saat bersua.
.
“Pernah saya mengantar orang Indonesia untuk tinggal di sebuah rumah. Ia datang di saat terburuk. Bulan September sampai April. Gelap dan dingin. Dua bulan saja ia bertahan. Tidak kuat,” ujarnya.
.
Depresif memang. Makhluk tropis yang malang terkungkung dalam cengkeraman iklim ekstrim.
.
Tetapi setidaknya itu tempat ideal untuk beryoga dan bermeditasi, tandas saya.
.
“Ya, Anda betul. Hahaha!”
.
Saya lempar pandangan beberapa puluh meter ke depan, mengamati kendaraan-kendaraan yang menggeram tak bisa melaju dikekang merahnya lampu. Para pengendara yang berpeluh dan tak sabaran tertimpa sinar surya. Ah, bagaimanapun keramaian semacam inilah yang mungkin membuat orang tropis dari sini tetap optimis dan bergairah. Meski menggerutu lebih sering, kami juga tertawa lebih sering. Dan bagaimanapun dahsyatnya setan bernama inferiority complex bersemayam dalam otak kami yang membuat kami memuja negeri dan bangsa asing, kami akan selalu merindukan juga tempat yang panas, hiruk pikuk, dan kacau balau ini tak peduli banyaknya tempat lebih indah dan cantik yang terkunjungi oleh kami di muka bumi. (*)

Leave a comment

Filed under environment

Soal “Kaphe”

Sedino iki pengene nggur moco novel. Ora kepengin moco berita opo maneh ndelengi Whatsapp, Facebook utowo Twitter. Mblenger, takkandani. Diarani ora gaul yo ora popo, ora patheken, batinku.
.
Tapi yo jenenge kebeneran, milihe wacanan sing ono hubungane karo sejarah negoro iki pas lagi dijajah Walondo satus selikur taun kapungkur senajan novele kuwi sakjane rodho picisan amarga isine yang-yangan ora karuan.
.
Dadi ono bab ning buku novel kuwi sing judule “Kaphe”. Takkiro jeneng wong utowo panggon utowo pakanan. Bareng sakwise diwoco entek, lagi ngerti nek topike ugo nyerempet perkoro agomo lan politik.
.
Dadi ning bab “Kaphe” sing ono ning buku karangane Remy Sylado kuwi diceritakake menowo ono prawiro soko Walondo sing ditugasi dadi pawicoro ning upocoro pembekalan kanggo prajurit-prajurit KNIL sing asline wong-wong enom soko pirang-pirang wilayah Indonesia, kayoto Ambon, Manado, Sundo, lan sapanunggalane.
.
Jenenge prawiro Walondo kuwi Letnan J. C. J. Kempees. Senajan jenenge mirip ‘kempes’, nanging isine omongane marai ati lan emosi mongkog. Amargo wong iki ngedu wong Aceh karo wong Jowo, Ambon lan Manado. Kempees ngomong ngene:”Kene (tentara KNIL) ora oleh kalah ning Aceh. Wong Aceh ngundang kene iki ‘kaphe’ (soko kene aku mudeng maksute kuwi ‘kafir’), lan mungsuhi kene kuwi dianggep jihad. Aku wis takon karo ahline, Dr. Snouck Hurgronje, perkoro istilah-istilah kuwi, lan jawabane kuwi ora sakkabehe bener. Kene ora kaphe. Ning kene ugo ono wong Jowo sing Muslim. Iki ora perang agomo babar blas. Tapi pancen kasunyatane Hurgronje dewe ngakone menowo jihad kuwi gerakan suci sing dadi kuwajibane wong Islam kanggo mungsuhi kafir.”
.
Dadi koyo mengkono kuwi kahanane rikolo semono. Menowo dipikir-pikir yo mirip meneh koyo kahanane negoro saiki senajan wis suwi bedo wektune.
.
Walondo pancen wis ora ono. Ananging gantine kuwi sing rupane macem-macem. Akeh-akehe malah londo musuhe Indonesia saiki rambute podo irenge, kulite podo coklate, irunge ugo podo peseke. San soyo angel mbedaknone. Mbiyen yo angel, saiki soyo angel. Polane mirip, nanging pancen wujute wis manglingi. Wong-wong Indonesia sing mbiyen ngertine pelajaran PSPB wis lali, keblasuk meneh ning jebakan lawas tapi anyar carane ngemas. Dadi ontran-ontran koyo saiki wis ora barang anyar meneh ning tlatah Jowo.
.
Tapi sing paling penting, senajan wis meh 72 taun merdeka, Indonesia isih perlu sinau meneh bab toto negoro, agomo lan demokrasi. Sik sik, iki Facebook utowo Panyebar Semangat? (*)

Leave a comment

Filed under save our nation