SOSOK PARA EDITOR DI SERIAL NETFLIX: DARI NARSISISTIK SAMPAI PERAGU

PERNAH nggak kalian nonton sesuatu dan pekerjaan si tokoh utama atau tokoh protagonisnya sama persis dengan pekerjaan yang kamu lakoni sehari-hari?

Pastinya kita jadi lebih sadar dengan detail-detail yang remeh tapi penting dalam profesi kita yang sedang digambarkan di situ. Detail-detail ini mungkin terlewatkan bagi banyak orang awam yang ada di luar dunia profesi tersebut tapi buat mereka ‘orang dalam’ pasti tahu sedikit banyak. Kalau tokoh itu pekerjaannya digambarkan agak kurang akurat, kita kadang protes dalam hati: “Kok gitu sih?”

Setelah beberapa kali menonton serial-serial yang bertema dunia penerbitan dan media di Netflix beberapa pekan ini, saya sendiri menemukan sejumlah sosok editor yang bikin gemas karena … agak lebay dan well, ya ini kan memang tontonan yang mesti dibuat sedramatik mungkin. Kalau biasa-biasa saja ya mana ada yang mau menonton?! Haha.

Tapi kadang merasa tersindir karena memang ada deskripsinya yang akurat. Nah, seperti apa tuh yang akurat dan menohok?

Jacqueline Carlyle sang editor yang sempurna (duduk kanan) bersama Jane Sloane (duduk tengah). (Foto: Freeform)

Karakter editor pertama yang saya temukan di gudang kontennya Netflix adalah Jacqueline Carlyle, sang editor in-chief majalah perempuan Scarlet di serial “The Bold Type”. Kebetulan di sini protagonis utamanya adalah seorang penulis junior bernama Jean Sloan yang berada di bawah bimbingan si Jacqueline. Karena Jacqueline ini seorang pekerja media yang sudah malang melintang, Jane memandangnya sebagai seorang panutan, ikon, dan sosok inspiratif.

Penggambaran sosok Jacqueline sebagai editor di sini sungguh kuat. Salut banget sih buat Sarah Watson yang menggagas serial ini. Di sini, Jac tuh sosok editor idaman banget. Dia punya pengalaman segudang, kenalan banyak, keluarga yang harmonis (padahal dia gila kerja), dan yang terpenting dedikasi dan kematangan pribadi yang diperlukan untuk bisa menahkodai redaksi majalah yang sedang bertransformasi dari media lama (cetak) ke media baru (digital).

Sebagai seorang editor, dia selalu punya kalimat-kalimat yang cetar sebagai wejangan, pengusir kegundahan saat anak-anak buahnya lagi ragu dengan diri mereka sendiri, overthinking, atau harus mengambil keputusan penting dalam kerjaan atau kehidupan pribadi. Mereka udah kayak anak-anak Jac sendiri. Akting Melora Hardyn yang memerankan Jac sungguh mantap, setidaknya di mata saya sebagai penonton. Bener-bener Jac menjadi standar sih tentang bagaimana seorang editor seharusnya.

Tapi yang agak membuat aneh adalah kedekatan Jac yang sampai melebihi batas sih. Sampai masalah keretakan rumah tangga dengan suaminya saja bisa dia bahas dengan Joan yang notabene bawahannya pada saat mereka di kantor. Ya aneh aja sih, kalau kita bandingkan dengan kultur kerja di Indonesia yang mengharuskan atasan untuk menjaga kewibawaan di depan bawahan. Nggak kebayang sih kalau kita sebagai atasan dengan terbuka bisa membahas masalah pribadi dan keluarga dengan bawahan seleluasa itu. Atau apakah karena Jac dan Jane adalah sama-sama wanita? Entahlah, bisa saja ada faktor sisterhood yang memang konon sangat kuat.

Olivia yang diperankan dengan sempurna oleh Marla Mindelle. (Foto: Screen Rant)

Sosok kedua yang saya temukan adalah editor blog Eggwoke bernama Olivia di serial “Special” yang protagonisnya ialah Ryan Hayes yang diperankan Ryan O’Connel. Aktor ini memang benar-benar menderita cerebral palsy dan ia sepertinya menggunakan pengalaman-pengalaman pribadinya sebagai seorang pria muda gay dan memiliki kondisi khusus yang abu-abu (dibilang cacat tidak, dibilang normal juga tidak).

Olivia adalah perempuan yang sangat…ugh, narsisistik, arogan, kasar secara verbal, sarkastis, dan culas. Ia mempekerjakan Ryan sebagai tenaga magang secara tak manusiawi. Lalu mengolok-olok kepincangannya, dan merisaknya di depan orang lain di tempat kerja. Dan Olivia tak pernah merasa bersalah atas itu. Ia gambaran atasan atau editor yang suka menyiksa batin dan pikiran para bawahan dengan kata-kata yang menusuk dan tajam layaknya silet anyar. Bahkan ia memanggil Ryan sebagai “diva” hanya karena ia dianggapnya cari perhatian dengan kondisi cerebral palsy-nya itu. Untung saja serial ini genrenya komedi jadi perilaku karakter Olivia ini bisa disikapi dengan senyuman meski kecut.

Tapi kalau ada di kehidupan nyata, Olivia ini mungkin ada sih. Meski memang harus diakui Olivia adalah versi ekstrim dari sosok-sosok editor yang mulutnya tajam di lapangan. Ugh, tapi inilah yang membuat saya ngeri juga sih: kebanyakan editor sepertinya memang bermulut tajam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Entah kenapa, apakah mereka terlalu pandai dan piawai dalam memilih kata yang paling mengena di hati??

Untungnya Ryan yang nrimo ini punya teman Kim, yang berdarah India dan bersikap tegas di depan Olivia untuk membela Ryan yang kerap dijadikan bulan-bulanan. Untuk ini, penggambaran Kim juga lumayan akurat sih. Seperti tipikal orang India, Kim juga suka menentang hal-hal yang menurutnya kurang adil dan memuaskan. Ia berani-beraninya minta naik gaji ke Olivia padahal dua bulan sebelumnya sudah dinaikkan gajinya. Alasannya? Karena terjerat utang kartu kredit akibat belanja baju bermerek. Duh! Tapi tentu saja Olivia menampik dingin.

Diperankan Tom Basden, karakter Matt Braden bukan sosok editor panutan. (Foto: RadioTimes)

Lalu sosok editor ketiga adalah Matt Braden, editor yang menjalankan surat kabar lokal bernama “Tambury Gazette” di kota kecil bernama Tambury di serial “After Life”. Matt adalah saudara ipar Tony, sang protagonis yang baru saja kehilangan istrinya Lisa akibat kanker payudara. Tony bekerja sebagai penulis artikel feature di surat kabar gratis itu. Pribadinya ceria dan suka bercanda mendadak menjadi muram dan suicidal begitu Lisa meninggal tragis.

Di sini, Matt digambarkan sebagai seorang pimred/ editor yang lemah dalam mengambil keputusan. Ia terlalu peduli pada kesulitan yang dihadapi Tony secara pribadi. Mungkin saja karena perannya bercampur antara saudara ipar dan atasan Tony di kantor.

Tak terhitung upaya Matt untuk membuat Tony lebih bersemangat menjalani sisa hidupnya tanpa Lisa. Dan bahkan di sini Matt begitu peduli pada Tony sampai dirinya harus rela rumah tangganya retak.

Sebagai seorang editor, Matt sungguh menyedihkan karena seharusnya ia karakter yang kuat. Bukan lembek dan mudah diteror. Kebetulan karena masalah rumah tangga itu, ia harus menemui seorang terapis/ psikiater yang nggak becus, punya mentalitas toksik, suka berteman dengan orang-orang yang berkata kotor, bahkan bertingkah konyol di bar. Pokoknya terapis ini bukan tipe terapis ideal. Tapi anehnya Matt mempercayai nasihat-nasihatnya. Dan meski diteror dan diintimidasi, Matt malah terdorong ke sisi buruk maskulinisme.

Dan yang menyedihkan, Matt ini digambarkan tak punya inisiatif untuk menyelematkan surat kabar itu saat pemiliknya memutuskan ingin menjualnya karena tak ada laba dari situ. Justru Tony yang nekat menemui si pemilik dan bernegosiasi dengannya agar menunda penutupan itu. Mengecewakan sih. Karena sebagai seorang pucuk pimpinan sebuah media, editor adalah nahkoda. Jadi tidak seharusnya mudah terombang-ambing. Baik boleh, peduli orang lain boleh tapi bukan berarti menjadi tidak tegas dan tak berprinsip.

Satu lagi yang saya ingin protes dari penggambaran editor adalah meski sekarang sudah jamak menggunakan email dan piranti lunak pengolah kata tapi penulis-penulis di serial-serial ini masih menyerahkan draft mereka dalam bentuk cetakan di kertas. Haha! Paham sih kalau memang mengedit di layar laptop itu sering selip membetulkan typo tapi mana semangat go green-nya?!! (*/)

Posted in journalism | Tagged , , , , , | Leave a comment

“PARDON MY ICELANDIC”: RASANYA JADI BANGSA MUNGIL DENGAN POPULASI 0,13% DARI POPULASI INDONESIA

SIAPA yang sudah bosan dengan film dan konten apapun dari negara-negara mesin pengekspor konten semacam Amerika Serikat, Inggris, Korsel, Jepang, China?

Beberapa dekade terakhir ini rasanya mayoritas sajian untuk otak kita adalah konten yang diproduksi negara-negara Anglosaxon (yang ngomongnya pake bahasa Inggris muluk) dan negara-negara Asia Timur (China, Jepang, Korsel) yang kreativitasnya dalam bidang satu ini memang membagongkan seluruh dunia.

Tapi pernahkah kita berpikir: “Owh ada yang nggak kalah bagus loh di luar semesta Korea, China, Jepang dan Amerika serta Inggris ini!”

Maksud saya, ayolah, jangan cuma makan menu itu-itu melulu. Lakukan sedikit riset dan perjuangan untuk menemukan konten-konten yang tidak ada dalam daftar rekomendasi Netflix.

Mengkonsumsi konten demi agar bisa memiliki bahan pembicaraan dengan teman-teman sepergaulan memang ada untungnya (terutama buat yang FOMO parah) tapi keseragaman konsumsi konten yang dikonsumsi itu juga membuat kita menjadi mirip kura-kura dalam tempurung. Daya pikir kritis menurun, wawasan juga segitu-gitu aja. Bubble atau gelembung yang diciptakan setelah menonton konten yang seragam dengan formula yang itu-itu saja rasanya sangat mengungkung. Pengap saja sih rasanya.

Dari sejumlah tontonan non-Asia Timur dan Anglosaxon yang saya mulai cari di Netflix, saya menemukan ini. Bukan film atau seri sih tapi lumayan membuat terhibur dan membuka mata.

Ari Eldjárn: Pardon My Icelandic

Menonton aksi komika Ari Eldjárn dari Islandia ini membuat saya sadar betapa beruntung dan tidak beruntungnya menjadi sebuah bangsa yang populasinya melimpah ruah kayak Indonesia.

Dalam sebuah pertunjukannya, Ari membeberkan kompleksitas pengalamannya sebagai seorang warga Islandia di tengah masyarakat Eropa yang penuh dengan dominasinya masing-masing.

Di dalam candaan-candaannya, Ari mengungkap sindrom “inferiority complex” yang diderita bangsanya terutama yang bisa dirasakan tatkala ia bergaul dengan orang Eropa lainnya atau setidaknya dengan sesama bangsa Skandinavia.

Saat ia tinggal di Inggris dan menyaksikan pertandingan sepakbola antarnegara, tentu ada sesi pemutaran lagu nasional. Ari berkelakar di saat banyak lagu kebangsaan bertema kebanggaan menjadi sebuah bangsa yang kuat, tak terkalahkan, justru lagu nasional Islandia sama sekali jauh dari kesan sangar dan gahar yang lazimnya dicerminkan dalam lagu-lagu kebangsaan negara.

Lagu kebangsaan Islandia berjudul “Lofsöngur” atau “Ó Guð vors lands” yang liriknya digubah Matthías Jochumsson dan digubah Sveinbjörn Sveinbjörnsson. DI tahun 1944, negara itu mengadopsi lagu ini sebagai lagu kebangsaan mereka.

Isi liriknya begini:

Our country’s God! Our country’s God!
We worship Thy name in its wonder sublime.
The suns of the heavens are set in Thy crown
By Thy legions, the ages of time!
With Thee is each day as a thousand years,
Each thousand of years, but a day,
Eternity’s flow’r, with its homage of tears,
That reverently passes away.
Iceland’s thousand years,
Iceland’s thousand years!
Eternity’s flow’r, with its homage of tears,
That reverently passes away.

Our God, our God, we bow to Thee,
Our spirits most fervent we place in thy care.
Lord, God of our fathers from age unto age,
We are breathing our holiest prayer.
We pray and we thank Thee a thousand years
For safely protected we stand;
We pray and we bring Thee our homage of tears
Our destiny rest in Thy hand.
Iceland’s thousand years,
Iceland’s thousand years!
The hoarfrost of morning which tinted those years,
Thy sun rising high, shall command!

Our country’s God! Our country’s God!
Our life is a feeble and quivering reed;
We perish, deprived of Thy spirit and light
To redeem and uphold in our need.
Inspire us at morn with Thy courage and love,
And lead through the days of our strife!
At evening send peace from Thy heaven above,
And safeguard our nation through life.
Iceland’s thousand years,
Iceland’s thousand years!
O, prosper our people, diminish our tears
And guide, in Thy wisdom, through life!

Di sini liriknya lebih berisi pada tema pasifis dan objek-objek yang menenteramkan jiwa seperti bunga, doa, keabadian, pengabdian pada Tuhan. Tak ada nasionalisme yang membuncah atau patriotisme yang meluap-luap. Apalagi tekad baja untuk mempertahankan negara dan bangsa sebagaimana yang kita miliki.

Indonesia tanah airku/ Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri/ Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku/ Bangsa dan Tanah Airku

Marilah kita berseru/ Indonesia bersatu


Hiduplah tanahku/ Hiduplah negriku

Bangsaku Rakyatku semuanya/ Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya/ Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya

Di sini ada penyebutan “tumpah darah” yang menekankan bahwa ini semua bukan gratisan. Kita berjuang mati-matian untuk mendapatkan kemerdekaan. Sebuah hal yang sama sekali tak disinggung di lagu kebangsaan Islandia padahal kalau kita mau bisa lho mengangkat keindahan alam kita ini. Bayangkan berapa banyak flora dan fauna yang indah dan bisa dibanggakan.

Karena Islandia cuma negara kecil dengan populasi 350.000 jiwa, Ari mengatakan inferiority complex itu biasanya mereka tutupi dengan tameng “per kapita”. Apapun bisa dibuat lebih perkasa saat frasa “per kapita” diberikan di belakangnya. Secara teori mereka memang bisa dibilang lebih makmur dan maju dibandingkan bangsa kita yang populasinya ‘pecah’ luar biasa tak terkendali.

Karena populasi yang kecil banget dan peran dalam geopolitik dunia yang relatif kecil, orang-orang Islandia sampai nggak begitu peduli apakah negaranya masuk berita untuk publisitas positif atau negatif tapi asal sudah dimasukkan berita saja sudah bangga. Eksistensi mereka seakan sudah diakui. Mau dibicarakan soal yang baik atau buruk bukan masalah besar buat mereka. Serius. Tak pernah dibicarakan adalah sebuah pengakuan bahwa kamu tak ada. Dan itu sangat mengerikan buat negara yang sudah berjuang melawan inferiority complex. Indonesia masih sangat beruntun dibandingkan Islandia, karena setidaknya kita masih punya sumber daya alam, keindahan banyak sudutnya, luasnya yang tak terperi, belum lagi masalahnya yang skalanya masif, kolossal dan tak pernah berhenti. Bagaimana bisa dunia mengalihkan perhatian dari kita? Indonesia mirip seorang gadis yang mencari jatidiri, mabuk-mabukan, suka bolos, coba-coba ganja dan sabu-sabu, sering dipanggil guru BP tapi juga punya kecerdasan sedikit banyak di kelas dan saat berdebat dengan guru dan ortunya dan pintar bersolek saat akan berkencan jika ia mau. Ia primadona banget, cuma agak ceroboh dan slengean aja. Islandia lebih mirip seorang anak laki-laki yang tubuhnya kecil dan lemah dan suka duduk di pojok kelas lalu diketahui seorang gay pula. Ia di ujung spektrum “aneh dan ganjil”. Ia tak bisa menjadi populer dengan cara yang lazim. Ia harus menemukan jalannya sendiri untuk bisa dikenal atas kelebihannya.

Meski jumlah populasinya sangat kecil, bukan berarti luas wilayah Islandia secuil kayak Singapura atau Vatikan. Islandia luasnya 102.775 km persegi, yang melebihi Irlandia dan hanya lebih kecil dari Inggris Raya (Great Britain). Jadi ia pulau kedua terbesar di Eropa lho.

Inferiority complex yang diderita bangsa Islandia ini bisa tecermin saat Ari bertandang ke Denmark. Ia mencoba berbicara dalam bahasa Denmark tapi gagal dipahami dan malah disuruh berbahasa Inggris saja. Kemudian Ari menyaksikan sendiri bagaimana orang Denmark malah lebih menghargai orang yang berakses Inggris. Ia merasa orang yang berakses Inggris lebih dihormati di Denmark daripada orang Islandia. Mungkin karena Islandia adalah dulunya pulau yang dikuasai Denmark. Dan Inggris dianggap lebih superior dalam hal kebudayaan.

Gunung adalah aset kebanggaan Islandia, tapi jangan salah, gunung juga yang membuat mereka dibenci penduduk Eropa lainnya. Dengan topografi yang dipenuhi gunung berapi yang ganas dan aktif, Islandia kerap dijadikan bulan-bulanan saat banyak penerbangan terpaksa ditunda karena kepulan abu di angkasa Eropa. “Emangnya kita bikin abu itu berterbangan?” protes Ari saat menemukan seorang pria yang berkata dirinya membenci Islandia di sebuah bandara karena penerbangannya dibatalkan akibar hujan abu.

Tapi gunung juga yang membikin negara itu kesusahan membangun infrastruktur transportasinya. Bayangkan untuk membangun jalur kereta api yang efisien saja, Islandia mesti menyiapkan dana miliaran krone demi membor pegunungan yang banyak sekali di wilayahnya. Sangat membuat frustrasi kan?

Susah dan lamanya membuat jaringan kereta api ini membuat Islandia diolok-olok orang Eropa lain yang negara-negaranya relatif rata, tanpa gunung-gunung yang menjulang tinggi. Denmark, Belanda, Inggris, Jerman… semuanya punya jaringan kereta api yang terkena efisien dan bagus. Tapi Islandia tidak, dan mereka berjuang keras untuk mewujudkannya. Negara-negara tadi lansekapnya cenderung rata sehingga mudah dimodifikasi untuk jaringan transportasi, apalagi Denmark yang ketinggiannya tak melebihi permukaan laut dan juga memiliki bukit sebagai ‘gunung tertinggi’. Dan Ari mengolok-olok bukit itu sebagai balas dendam atas olok-olok orang Eropa daratan atas ketertinggalan Islandia di bidang transportasi tadi. (*/)

Posted in writing | Leave a comment

Bagaimana Mengasah Keterampilan Menulis dengan ‘Marathon’ Netflix?

ITULAH pertanyaan yang sempat saya tanyakan pada diri saya sendiri karena nggak mungkin lah nonton sambil mikir ini itu? Otak kan dalam modus santai bukan modus belajar.

Tapi seseorang mencoba menjawab itu dengan menuliskan sebuah panduan belajar menulis dengan menonton Netflix. Dan dari pertama memang syaratnya: harus menonton dengan niat untuk belajar, bukan cuma mendapat hiburan.

Saya ajak Anda mencoba mencermati pendapat Jim Woods berikut ini ya. Saya juga penasaran apakah nasihatnya itu bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata saat nonton Netflix? Sebenarnya ia menulis sampai 30 kiat tapi sisanya kok saya pikir melantur, mengada-ada dan tak relevan. Cuma 11 ini yang terasa cespleng bagi saya.

  • Analisis bagaimana cerita di dalam film itu dibuat: Kita cermati konflik dan pemecahan konflik serta struktur cerita.
  • Pastikan tulisanmu mengalir: Sambil menonton, kita harus mencatat (di kertas atau di pikiran) bagaimana adegan-adegan dianyam, dijahit dan disatukan. Gunakan itu sebagai perbandingan bagi cara menulis kita? Apakah kita bisa menulis dengan mengalir atau terasa meloncat-loncat?
  • Pelajari cara menulis dialog yang baik: Menulis dialog yang alami tak mudah. Ini adalah salah satu keterampilan yang wajib dimiliki penulis.
  • Kembangkan karakter dalam cerita: Buatlah karakter dalam cerita kita berkembang dan berubah. Tidak stagnan. Kalau bisa malah perkembangannya tidak terduga dan penuh kejutan.
  • Ambil ide karakter dari film: Punya karakter yang menarik dan ingin angkat di tulisanmu? Coba gunakan karakter yang ada di sebuah film.
  • Kaitkan dengan dunia nyata: Ada beberapa film yang terasa sangat nyata, dan kita bahkan pernah mengalaminya. Inilah yang membuat orang kecanduan menonton. Mereka merasa sebagian dirinya ada dalam karakter di film. Begitupun saat menulis, selalu kaitkan tulisan dengan apa yang bisa dialami orang lain.
  • Buat akhir yang baru: Tak puas dengan akhir sebuah episode atau seri? Mengapa tidak menulis bagian akhir itu sendiri?
  • Kembangkan kekosongan alur: Pernahkah merasa ada sesuatu yang terlompati dalam sebuah film? Ya itulah yang namanya kekosongan alur. Cobalah menulis dengan mengisi adegan yang tak ada itu.
  • Jelaskan perasaan/ emosi yang bangkit: Pernahkah menangis atau terharu saat menonton film? Kenapa itu bisa terjadi padamu? Jelaskan dalam sebuah tulisan.
  • Telaah lebih dalam karakter favoritmu: Kalau ada karakter yang sangat menarik di film, coba fokus padanya dan tuliskan segala yang menarik dalam dirinya.
  • Baca bukunya: Sejumlah film di Netflix diangkat dari novel atau karya tulis lain. Cobalah membandingkan versi film dan novelnya. Misalnya “Eat, Pray, Love” yang filmnya ternyata kayak blah…hambar dibandingkan dengan memoar yang ditulis Liz Gilbert. Sad. Bahkan Julia Roberts tak sanggup memaksa saya memberikan 5 bintang untuk film itu. Sesedih itu lah.

Saya sendiri mencoba untuk mulai mencatat dan menganalisis saat menonton film apapun di Netflix. Dan rasanya memang agak merepotkan. But definitely worth it kalau kita memang mau menjadi penulis yang lebih baik. (*/)

Posted in writing | Tagged | Leave a comment

Netflix: Sumber Inspirasi atau Adiksi?

SAYA mengaku baru 2 bulan ini menikmati layanan Netflix yang tersohor dari 5 tahun lalu itu. Iya, saat Netflix diblokir sama Telkom itu lho. Makanya kayak wow banget itu kedengerannya langganan Netflix. Tahu sendirilah, apapun yang diblokir status quo pasti mengundang decak kagum, tanda tanya dan keinginan memiliki. Semacam buku Pram yang dinyatakan subversif oleh negara dulu. Makin dilarang, wah makin menggelinjang nafsu untuk menerobos ‘pagar-pagar’ itu. Namanya juga manusia!

Saya sendiri mencoba untuk bertanya ke diri sendiri sebelum membeli paket langganannya yang cukup ehem, mahal. Yang termurah Rp54.000 itu cuma bisa dinikmati di layar ponsel yang sempit. Duh, bisa juling kelamaan nonton di layar sesempit 5 inchi. Nggak bisa, pikir saya. Upgrade-lah saya. Mau nonton di laptop saja.

Sebenarnya saya ingin membuktikan apakah dari Netflix ini saya bisa setidaknya belajar sesuatu. Karena saya orangnya bukan movie goer yang ada film baru dikit langsung kesetanan ngantre di bioskop. Rileks aja napa. Saya nggak begitu demen setting publik yang agak merepotkan. Apalagi sekarang bioskop dibuka dengan protokol seketat-ketatnya. Dan tempat tinggal sekarang juga jauh dari bioskop. Jadi saya memilih Netflix sebagai sumber hiburan dan inspirasi.

Ada seseorang yang bilang di LinkedIn bahwa dengan mengamati konten populer di Netflix, kita juga sebenarnya bisa belajar banyak hal. Karena saya dan orang ini sama-sama bergerak di bidang kepenulisan, jadi ia menyarankan menimba ilmu dari konten-konten Netflix yang populer.

“Di konten yang populer itulah kita bisa belajar banyak soal formula kesuksesan sebuah film, naskah film, bla bla bla…,” tulisnya.

Hmm, masuk akal sih sebetulnya tapi setelah saya berlangganan kok saya malah lupa untuk belajar sesuatu dari konten Netflix yang saya konsumsi itu ya? Haha, malah larut dalam pusaran hiburan yang mudah dan menyenangkan ini. Damn it.

Sudah ada beberapa film yang saya nikmati sejak awal Agustus lalu:

  1. Navillera
  2. Athlete A
  3. Kotaro Lives Alone
  4. Move to Heaven
  5. Can’t Write- Live without Scenario
  6. Run On
  7. Sex/ Life
  8. The Chair
  9. The Bold Type
  10. Nureyev
  11. Eat, Pray, Love
  12. Breaking Bad

Ada satu serial dari Arab, entah Turki atau Saudi Arabia yang berjudul “The Writer” tapi kok jalan ceritanya agak …entahlah. Saya tinggalkan setelah menonton beberapa episode awal.

Sekarang saya masih mencoba menikmati “Breaking Bad” yang sebetulnya bukan selera saya. Tapi toh saya coba ikuti ceritanya karena katanya serial ini sungguh bagus pengembangan karakternya. Bayangkan ada seorang guru kimia SMA yang karena butuh duit banget jadi produsen dan pengedar meth, substansi terlarang yang bahkan lebih gila lagi efeknya daripada ganja.

Awalnya jijik sih karena atmosfer serial ini tuh dunia pengguna, pengedar narkoba dan polisi yang udah kayak Tom dan Jerry. Bedanya ini nggak lucu sama sekali. Ada kepala terpenggal, ada yang kehilangan kaki, ada mayat yang dihancurkan dengan larutan asam, ada yang dicekik sampai mati, ada yang…entahlah apalagi yang saya akan jumpai di season 2 ini.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Marathon nonton juga sudah jadi kebiasaan. Dulu saya suka menyewa VCD serial dan menikmatinya di laptop setelah pulang kerja. Sekarang zaman berubah dan saya beralih ke layanan streaming. Tak ada bedanya sih. Cuma persewaan VCD itu bisa diganti katalog virtual yang sangat mudah dilihat dan dipilih. Bahkan saya tak perlu membaca dan memutar episode pertama. Cukup arahkan kursor ke serial itu dan muncul cuplikan yang paling menarik dari konten yang dimaksud. Semudah itu.

Untuk sekarang, saya mungkin akan menonton sambil mencatat perubahan karakternya. Atau cuma menikmatinya saja lalu mengulang bagian yang menarik.

Tapi mungkin nanti saya akan tuliskan beberapa yang patut saya catat.

Kadang ingin menonton film yang sama sekali bukan selera saya tapi jadi bertanya ke diri sendiri: Ini hiburan atau siksaan? (*/)

Posted in movie | Tagged , | 1 Comment

PERHATIAN, IKEA BUKAN TEMPAT TAMASYA!

Tuh baca! Perlengkapan rumah, bukan taman bermain. Dikira Ancol! (Foto: IKEA Indonesia)

KALAU Anda ketinggalan obrolan terbaru di jagat maya Indonesia, sini saya beritahu.

Ada seorang ‘influencer’ (tahulah bagaimana abu-abunya istilah ini) yang mengeluhkan dirinya sudah bersiap membawa 7 orang anggota keluarganya ke IKEA terdekat.

Kejutannya IKEA tak mengizinkan masuk mereka semua kecuali sang ‘influencer’ yang sudah divaksin dua kali.

Di Instagram story-nya, sang ‘influencer’ pun meracau: “Nggak diberitahu harus begini begitu di website dan Instagramnya tapi pas masuk diperiksa.”

Netizen yang jengah dengan tingkahnya langsung menggigit umpan. Ibarat hiu kelaparan dikasih setetes darah saja langsung bisa mendeteksi.

Masalahnya IKEA sudah mengumumkan kewajiban vaksin sebelum masuk tokonya melalui linktree di bio akun Instagramnya. Makin ganaslah para warganet nusantara yang jempolnya terkenal lincah dan tak mengenal ampun ini.

Saat dikonfrontasi netizen, ia langsung defensif dengan mengatakan IKEA seharusnya tak cuma menjelaskan di linktree dong.

“Harus juga dipasang di highlight IG dan website resminya karena dua ini sering dilihat calon pengunjung,” alasan sang ‘influencer’ yang nggak tahu juga pengaruhnya apa ke peradaban masyarakat Indonesia ini.

Dan ternyata dia nggak sendirian. Karena ia mengaku banyak keluarga yang ditolak masuk rame-rame karena kebijakan protokol kesehatan ketit (saking ketatnya) tadi.

Dia segera meminta maaf via Instagram story-nya sih tapi poin yang ingin saya angkat adalah: HARUS BANGET YA IKEA JADI GANTI TEMPAT REKREASI KELUARGA?

Duh rasanya terdengar judgmental ya. Tapi mau gimana lagi, masyarakat kita ini memang unik sih. Toko furnitur dijadikan tempat tamasya keluarga. Ya memang semua orang berhak mengunjungi IKEA sih tapi ini kan masih masa pandemi dan toko IKEA itu ruang tertutup meski segede itu juga ya.

Dan memang benar pendapat sebagian netizen bahwa kalau memang butuhnya beli furnitur atau makanan di sana ya bisa dibeli secara online atau dipesan untuk dibawa pulang (takeaway).

Kalau memang keluarga butuh tamasya, lakukan saja di alam terbuka yang lebih aman.

Memang ada benarnya IKEA bertindak tegas seperti itu karena tahu sendirilah masyarakat kalau dilemesin sedikit jadi ngelunjak. Hahaha. Good move IKEA! (*/)

Posted in save our nation | Tagged , | Leave a comment

MASA KECIL STEVE JOBS

Semua produk Apple terinspirasi desain Joseph Eichler, pengembang real estate kesukaan Steve Jobs. (Photo by Pixabay on Pexels.com)

Untuk menuangkan saripati kehidupan Jobs dalam kertas, Walter Isaacson membutuhkan 1200 lebih lembar kertas. Tak mengejutkan karena Jobs adalah sosok yang gimana ya… udah hampir kayak nabi di zaman modern ini. Kalau semua produk Apple adalah kitab suci dan pemilik perangkat Apple adalah penganut ajaran Jobs, itu artinya dia seorang yang sukses besar. Mirip seorang pemimpin ‘cult’, punya kuil sendiri (Apple Stores), warisan yang terus digemari dan diamalkan (Mac, iPad, iPhone, Watch, TV, Music) dan hebatnya juga terus diperbarui agar tak usang.

Buku ini mengandung 42 bab yang diawali dengan penjelasan orang-orang yang terlibat dalam kehidupan Jobs. Mereka digambarkan sebagai karakter sebuah naskah drama. Seolah mempersiapkan pembaca dari dini agar Isaacson sebagai penulis nggak harus repot menjelaskan X itu anunya Jobs, Y itu anunya Jobs. Jadi pas cerita ya udah cerita aja ngalir. Kalau pembaca lupa siapa adalah apanya Jobs ya tinggal balik ke halaman karakter. Clever!

Bab pertama menceritakan masa kanak-kanak Jobs yang sebenernya tragis. Ia anak kandung dari hubungan di luar nikah. Ayah biologisnya mahasiswa kelahiran Suriah Abdulfattah Jandali, anak bungsu keluarga terpandang dan tajir melintir di negaranya (raja minyak, literally) dan ibu biologisnya Joanne Schieble yang cuma mau memberikan anaknya pada ortu angkat yang lulusan sarjana. 

Steve Jobs bayi kemudian diadopsi Paul dan Clara Jobs yang sejak awal mengatakan bahwa Steve anak adopsi jadi nggak ada drama ala sinetron Indonesia atau K-drama gitu ya. 

Tapi meski minim drama, tetap saja ada luka batin. Ada perasaan tidak diinginkan yang ia harus hadapi seumur hidupnya, yang Isaacson katakan diduga  keras juga menjadi alasan kuat Jobs menjadi begitu terobsesi dengan kontrol. Control freak, istilahnya. Ia nggak bisa mengendalikan fakta bahwa ia lahir dan tak diinginkan ortunya maka hal lain dalam hidupnya harus bisa dikendalikan agar hidupnya tak tambah kacau, begitu mungkin instingnya menuntun.

Ada betulnya kalau sebelum kita jadi orang tua, kita harus menyembuhkan luka batin sendiri karena jika dibiarkan, luka batin itu akan kita ‘wariskan’ ke anak-anak kita. Steve Jobs saat dewasa juga melakukan kesalahan yang sama dengan Abdulfattah. Ia memiliki anak di luar ikatan pernikahan dan menelantarkannya, meski kemudian ia menyesali dan mengakui anak tadi.

Penelantaran ini semacam tema utama dalam hidup Jobs. Jadi tidak ada salahnya menganggap jika tahun tahun pertama kehidupan anak adalah fondasi. Sekali ada yang salah, kurang pas, ya makin besar makin parah kalau nggak langsung dikoreksi. 

Isaacson juga menulis penelantaran ini membuat Jobs sangat keras dan kasar. Berdarah dingin, gitu deh. Sakit hatinya ditelantarkan itu jadi luka permanen dan mencap ortu biologisnya sebagai bank sperma dan telur semata. Ortuku cuma Paul dan Clara, katanya.  

Tapi Steve tanpa Paul Jobs bakal jadi kayak anak anak biasa. Paul-lah yang memperkenalkan asyiknya mendesain, menciptakan dan mengutak-atik barang apapun. Paul mengajarkan pentingnya kesempurnaan mendesain perabotan, dan ini bakal jadi bekal yang maha penting bagi Steve saat ia merintis karier di bidang teknologi.

Paul memang bukan lulusan sarjana yang tajir kayak Abdulfattah tapi justru itulah yang membuat Steve punya kemampuan bisnis yang bagus. Paul sering mengajak Steve cilik berburu suku cadang dan komponen bekas lalu menawar dengan sadis😂. Keahlian ini sangat vital buat pebisnis karena memang kalau berbisnis dengan mindset “ya udahlah mahal dikit nggak masalah” itu ga bisa. Kalau mau untung gede ya kudu sadis pas nego. 

Nah di sini kalo kita mau bahas soal privilege, Steve sebenernya ya punya privilege ( punya ortu kandung yang pinter dan kaya karena itu artinya proses perkembangan janin terutama otaknya prima banget, ia tinggal di pusat perkembangan ekonomi dan teknologi dunia) dan kelemahannya sendiri (luka batin sebagai anak adopsi). Tapi yang penting ia bisa mengoptimalkan privilegenya dan berhasil mengkompensasi kelemahan dia. 

Satu sosok yang menginspirasi Steve ialah Joseph Eichler, pengembang real estate terkenal di California. Desain rumah Eichler dikenal minimalis dan resik, rapi. Mari Kondo approves pokoknya. Tapi semua itu bisa didapat dengan biaya terjangkau. Dinding dan pintu geser terbuat dari kaca, pilar yang dibiarkan telanjang tanpa dekorasi, dan lantai berpenghangat yang ga bakal bikin masuk angin kalo ketiduran di atasnya. Steve ngomong kalo desain Eichler ini mengilhami dirinya bikin produk dengan feel yang mirip. Minimalis, rapi, dan yang penting ‘murah meriah’. Desain ala Eichler dicoba diterapkan Steve ke Mac dan iPod pertama.

Meski Paul jago nawar, bukan berarti dia jago jual. Karena gigih dan mau nyoba profesi baru di real estate, dia ngabisin duit buat bayar lisensi agen real estate tapi hasilnya nol. Keuangan keluarga ambruk dan Steve jadi kena imbasnya. 

Setelah dewasa Steve sadar Paul ga cocok jadi agen real estate karena ayahnya itu ga punya mental penjilat atau sikap suka menyenangkan orang lain dan mengarang apapun agar keinginannya tercapai. (*/)

Posted in writing | Tagged , | Leave a comment

PRINSIP-PRINSIP “CYBER SECURITY”

Photo by ThisIsEngineering on Pexels.com

BANYAK yang belum sadar pentingnya keamanan siber sampai akun mereka kena hack, duit disedot hacker, email diretas, keluarga kena tipu orang yang meretas akun aplikasi chat, dsb. Makanya masih banyak yang pake password “12345”, PIN rekening bank pake tanggal lahir atau apapun yang terlalu mudah ditebak. Begitu di-hack ya bikin akun baru lagi. Gitu aja teros. Wkwkw. Tapi nggak mau belajar gimana sih menekan risiko akun diretas.

Dulu pernah ketemu pebisnis yang menawarkan produk asuransi khusus keamanan siber. Jadi mereka menjamin kerugian yang bisa diderita kalau website jualan atau korporasi dibobol lalu kerugiannya nggak bisa dihitung jari.

Kupikir dulu agak gimana ya. Masak jual gituan di Indonesia, sebuah negara yang notabene mindset masyarakat, birokrat dan korporatnya belum sejauh itu. Boro-boro ngomong cyber security, bikin dan ngelola online presence mereka di jagat maya aja masih harus banyak belajar. Tapi kalau dipikir-pikir itu sangat visioner dan berpikir jauh ke depan. 

Tapi sebagai pengguna internet awam, janganlah sampai nunggu korporat dan birokrat sadar. Kelamaan!

Dua hal yang sangat berharga bagi pengguna internet ialah PRIVASI & ANONIMITAS. Tanpa ada 2 unsur ini, layanan  digital apapun nggak bakal ada yang mau pake. Secanggih apapun itu.

PRIVASI didapat saat tidak ada seorang manusia pun tahu apa yang kita lakukan tapi mungkin aja tahu siapa kamu. Ibaratnya pipis di toilet mall. Orang lain tau kita masuk ke toilet karena namanya juga mall. Tapi semua orang itu nggak bisa lihat yang kita lakukan saat di toilet. Privasi harus ada di layanan email atau chat karena kalau nggak, apa bedanya dengan status FB, atau tweet yang diumbar ke seluruh dunia?

ANONIMITAS kebalikan dari PRIVASI, orang lain bisa lihat apapun yang kita lakukan tapi nggak tahu identitas kita. Di medsos, kita sering nyebut akun tanpa identitas jelas sebagai akun anonim. Itu keliru. Harusnya “pseudo anonim”. Kenapa? Karena setidaknya masih ada identitas maya yang digunakan di situ, misalnya twitter handle atau nama akun Instagram. Disebut “pseudo” karena memang setengah-setengah, palsu, nggak murni bener-bener anonim. Kalau pihak penyedia layanan mau melacak dengan meyalahgunakan informasi yang diberikan juga bisa tapi kan itu melanggar aturan hukum yang ada. Kecuali pengguna itu melakukan sebuah tindak kejahatan siber seperti yang dinyatakan di UU ITE.

ASET ialah apapun yang kita anggap berharga dan harus dilindungi dari ANCAMAN dan MUSUH. 

Photo by Andri on Pexels.com

Ancaman adalah hal-hal buruk yang bisa menimpa aset kita, contohnya malware, virus komputer, program mata-mata yang dilegalkan pemerintah, spyware, dsb. 

MUSUH adalah pihak-pihak yang melancarkan ANCAMAN tadi. Mereka ini bisa berupa pemerintah, hackers, crackers, dsb. Tapi jangan lupa musuh paling utama: SIKAP MASA BODOH kita sendiri. Sesimpel pikiran: “Ah siapa yang mau hack akun medsos gw, kan gw bukan artis ato orang tajir?” Kamu akan terkejut bahwa hackers nggak peduli kamu blangsak atau seleb. Tetep aja digasak.

Alat-alat KEAMANAN yang bisa digunakan untuk melindungi aset berharga kita bisa berupa VPN, enkripsi, firewall, https, dan masih banyak lagi yang eug aja belum pernah denger istilahnya. Wkwkw. 

Satu hal yang harus dipahami soal keamanan siber, privasi dan anonimitas ialah TIDAK ADA jaminan 100% yang bisa didapatkan saat alat keamanan digunakan. Kenapa? Ya karena semuanya pasti ada celahnya. Ingat kata bunda Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah. Wkwk. Kalau antivirus udah sempurna, mana perlu update terus tiap hari? Kalau software atau OS udah sempurna, mana perlu kita update OS atau download security patches buat ‘nambal’ celah keamanan? Pakai VPN juga ga 100% bisa jamin nggak ada orang lain tahu apa yang kita akses.

Kalau mau aman 100%, privasi terjaga 100%, bisa anonim 100%, ya saran terbaik adalah nggak usah pake internet. Wkwkw. Atau lebih baik lagi, nggak usah terlahir sekalian. Karena bahkan jabang bayi yang baru lahir aja udah dimasukin namanya ke database dukcapil yang entah itu dijaga dengan baik atau… taulah? 

KEAMANAN juga berkaitan dengan keseimbangan antara kemudahan penggunaan dan perlindungan. Makin tinggi aset yang dimiliki, tentu keamanan wajib diperketat dan akibatnya saat beraktivitas di internet pun jadi lebih ribet. Jadi sesuaikan dengan kebutuhan saja. Jangan sampai terlalu boros dan ‘lebay’. Misalnya untuk mengamankan aset pribadi aja tingkat keamanannya mirip korporat. Ngamanin laptop yang buat game iseng aja pake antivirus yang berbayar mahal (kecuali atlet esports ya). Chill~~~

Pertama kita harus ketahui RISIKO:

RISIKO = tingkat kerawanan X ancaman X akibat

Contoh menaksir risiko siber kita: jika laptop kita dicuri, musuhnya adalah maling, kerawanannya adalah data di laptop yang bisa disalahgunakan (draft skripsi atau list akun digital kita dan passwordnya), dan akibatnya ialah rusaknya nama baik jika akun itu semua disalahgunakan dan identitas kita dicuri.

Untuk itu kita perlu menerapkan 4 langkah:

PILIH => TERAPKAN => EVALUASI => PANTAU

Misalnya dalam kasus laptop yang bisa hilang tadi, kita bisa pilih enkripsi diska dengan kunci dan autentikasi yang bisa menangkal masuknya ancaman. Terapkan langkah tadi lalu evaluasilah efektivitasnya dengan memeriksa apakah itu benar-benar bekerja dan pantau efektivitas langkah-langkah tadi. Jika ada celah atau kelemahan, mulai kembali dari PILIH. 

Yang menarik di sini adalah bagaimana kita harus mencari titik keseimbangan antara privasi, anonimitas dan keamanan. Menurut pakar keamanan dan privasi Bruce Schneier, privasi bukanlah bersembunyi dari dunia. Tapi kemampuan mengatur cara menampilkan diri kita ke dunia luar. Masih bisa mempertahankan harga diri dan nama baik tapi juga masih bisa berpikir dan bertindak secara pribadi, tanpa diawasi.  Di sinilah seorang manusia bisa menikmati hidup yang bermartabat. Kalau anonim 100%, apa bedanya ama orang mati? Kalau privat 100%, juga mustahil karena manusia makhluk sosial. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , | Leave a comment

“Ugly Truth”: Mengacak-acak ‘Daleman’ Facebook

(Foto: Amazon.com)

Masih inget sih zaman zaman dulu masih jadi tech reporter. Zaman saat startup mulai bermunculan di Indonesia. (Hampir) Semuanya karena anak-anak muda Indonesia itu terobsesi dengan kesuksesan Facebook. Tiap gw wawancara selalu sedikit banyak ada penyebutan Silicon Valley dan Zuck dan Facebook. Sampe eneg sih😂

Dan beberapa orang entrepreneur kita juga udah nyoba bikin medsos sendiri. Dari Koprol yang diakuisisi Yahoo dan lenyap karena Yahoo bangkrut lalu ada Sebangsa dan Fupei. Masih banyak lagi tapi intinya semuanya ga ada kabarnya sampai sekarang. Sebangsa masih ada tapi kayak di kondisi ‘’mati segan hidup tak mau”.

Ya anak-anak muda Indonesia itu memang masih naif-naifnya. Belum tau betapa ngerinya kalau startup itu makin mendominasi sebuah ceruk industri lalu sampai menggurita jadi kayak sebuah kerajaan kecil yang tentakelnya menancap di keseharian kita sampai adiktif.

Di buku ini kita diingatkan kalau sesuatu yang awalnya lucu, cute, gemesin bisa tumbuh gede, buas dan menelan diri kita sendiri. 

Jadi memang ada benernya langkah pemerintah China buat memperingatkan entrepreneur-entrepreneur super tajir di sana supaya jangan terlalu tajir. 😂 Harus ada pihak yang mengerem startup-startup teknologi ini karena kalau nggak kita bisa dijadikan budak ama mereka. 

MAU HEBAT KUDU JAHAT?

Kita kalau nonton acara talkshow pebisnis-pebisnis hebat ngomong di TV kayak terkagum-kagum banget ngga ada habisnya.

Dulu gw juga gitu tapi pelan-pelan nyadar dan nanya ke diri sendiri: “Perbuatan gila dan jahat apa yang bisa dia lalukan demi bisa di posisi itu sekarang?”😂

Bukannya suuzhon ya tapi mengingat gilanya office politics, politik internal negara dan antarnegara saat ini, pertanyaan ini nggak bisa untuk nggak dilontarkan ke orang-orang ‘hebat’ tadi.

Zuck sendiri bisa mengakuisisi WhatsApp dan Instagram lalu menumbuhkan kekaisaran bisnisnya seperti sekarang karena DIA TANPA RAGU DAN MALU MELANGGAR JANJI pada pendiri Instagram dan WhatsApp. Pada dasarnya integritas dirinya sebagai manusia sudah tercoreng. 

Janji apa itu? Janji supaya Zuck dan tim Facebooknya nggak ngutak atik tampilan, operasional dan feel dari aplikasi Instagram yang udah punya tempat di hati penggemarnya. 

Tapi Zuck dan Sheryl Sandberg pelan pelan mencampuri operasional Instagram dan memasukkan iklan ke Instagram. 

Dua pendiri Instagram pastinya kesel banget karena ngomongnya di awal iya iya tapi di tengah kok pait🤣Akhirnya mereka ga tahan dan mundur aja.

‘NGACANGIN’ WHATSAPP

Seperti Systrom, pendiri WhatsApp Jan Koum dan Brian Acton juga dicurangi ama Zuck. Pada keduanya, Zuck janji akan menjaga WhatsApp sebagai ekosistem terpisah dari Facebook sebelum meneken perjanjian akuisisi. 

Sebenernya Facebook dah punya aplikasi mirip WhatsApp tapi daripada susah-susah nggedein produk sendiri, kenapa nggak beli aja langsung yang udah jadi? Duit perusahaan numpuk juga. Diakuisisilah WhatsApp oleh Facebook.

Dalam sebuah pertemuan, Sandberg dan Zuck menekan Acton untuk mendapatkan cara memonenitisasi WhatsApp yang jadi lawan berat Messenger, produk chat Facebook sendiri. 

Acton bilang kasih aja tarif ke pengguna karena privasi diutamakan di sini. Inilah kenapa dulu ada berita berhembus bahwa WhatsApp akan berbayar tapi nggak jadi. Itu karena Sandberg nolak rencana pemberlakuan tarif berbayar buat pengguna WhatsApp. 

Sandberg bilang sistem tarif gitu gak bakalan bikin untung gede. Lalu ia memaksa penerapan konsep iklan yang tertarget alias targeted advertising di WhatsApp. Inilah kenapa kalau kita habis chat tentang produk X di WhatsApp, iklannya bisa muncul di Facebook atau Instagram setelah itu. Pinter sih tapi… creepy!

“Aku janji….Tapi bo’onggg,” gitu deh attitude Zuck ama Sandberg. Pebisnis ulung tapi ga punya integritas. 

SANDBERG VS. DORSEY

Jack Dorsey sama kayak Zuck dalam hal status mereka sebagai pendiri medsos yang sukses secara spektakuler. Tapi dalam hal sikap, visi dan langkah bisnis mereka kayak Merkuri dan Pluto.

Saat dipanggil untuk bersaksi untuk penyelidikan federal terkait kasus pelanggaran privasi oleh Cambridge Analytica tahun 2018, Sandberg menyeret Dorsey dan Sundar Pichai si CEO Google sebagai saksi lain. Mudah diendus bahwa motifnya adalah mencoba menjerat Twitter dan Google juga dalam isu pelanggaran privasi. Sungguh rubah betina😂

Pichai menolak mentah-mentah. Tapi Dorsey menerima undangan jadi saksi di acara dengar pendapat yang digelar di Washington DC itu. 

Sandberg dateng ke pengadilan dengan pakaian resmi, punya banyak asisten, naskah dan cara berbicara yang sudah jelas direncanakan dengan matang sebelumnya.

Tapi Dorsey nggak. Dia dateng dengan jenggot ga dicukur, pakaian yang serampangan, kalimat-kalimat yang dilontarkannya pun spontan dan kadang terbata-bata. 

Sandberg tampak arogan, percaya diri dengan kata-kata yang tertata apik, seolah menjawab tapi cuma mengalihkan topik. Lain banget dengan Dorsey yang blak-blakan, nggak pake embel embel, kata-kata indah. Dan ternyata, pejabat-pejabat federal lebih percaya kata-kata Dorsey daripada Sandberg.🤣😂

DILEMA SEMITIS

Bagaimanapun suksesnya Zuck, ia tak bisa melarikan diri dari identitas etnisnya: Yahudi. Dalam sebuah wawancara dengan Kara Swisher, seorang jurnalis yang vokal dan kritis di Silicon Valley, Zuck ditanya kenapa dia nolak menghapus postingan yang masuk ujaran kebencian dan berbahaya. Dalihnya sih semua orang punya hak berpendapat. Ya kalo ada salah-salah dikit ya ga masalah lah, gitu katanya. Toh juga Facebook dah kasih solusi: kasih konten tadi flag supaya susah ditemuin. Bukan dihapus sih. 

Di sini Swisher bertanya apakah jika ada postingan bahwa insiden penembakan murid SD di Sandy Hook itu dianggap karangan belaka, apakah Facebook akan menghapus?

Zuck bilang postingan itu emang ga sesuai fakta tapi Facebook ga bakal hapus. Lalu dia bikin blunder sendiri dengan mengatakan: “Gini ya gue itu Yahudi dan ada orang-orang yang ga percaya Holocaust itu pernah terjadi. Gue tersinggung kalo ada orang bilang itu fiksi. Kupikir mereka nggak sengaja memiliki informasi yang salah mengenai itu (tentang pernah terjadi tidaknya Holocaust).”

Intinya Zuck ngotot kalo Facebook itu tugasnya unik dan nggak ada duanya di dunia ini yaitu memberikan ruang bagi semua orang untuk membagikan pengalaman dan berinteraksi dan berkumpul dengan cara yang baru. Wkwkw. Omong kosong sih itu, kata Swisher yang mencap argumen Zuck itu malah jadi bumerang.

Bener aja, habis bilang Facebook ga bakal menghapus postingan penyangkal Holocaust, Zuck langsung kena damprat sejumlah kelompok Yahudi di AS, Eropa dan Israel. 

Nada tanggapan mereka pada pernyataan Zuck itu kayak gini: “Lu gila ya? Anti Semitisme itu ancaman abadi buat Yahudi di seluruh dunia.” Mereka sepakat Facebook punya tanggung jawab moral dan etis untuk menghentikan penyebaran informasi anti semitis. 

But again, memangnya Zuck peduli apa soal moral dan etika? Chuaksss…

BUMERANG

Banyak orang non-Yahudi yang menganggap kaum ini sebagai satu kesatuan yang solid. Tapi nggak juga. Di dalam, mereka juga saling sikut. Bagi Zuck, kejayaan kerajaan bisnis Facebooknya adalah yang utama dan pertama bahkan di atas identitas Yahudinya.

Di sebuah kesempatan, taipan berdarah Yahudi terkenal yang pernah disangkutpautkan dengan Krisis Moneter Asia 1998 George Soros murka besar pada Facebook dan pembuatnya. Soros cemas dengan pembiaran disinformasi dan kampanye propaganda yang gila-gilaan di Facebook dan Google selama pilpres AS yang akhirnya membuat sosok seedan Trump terpilih. Soros kesal dan mencap kedua tech companies itu mau untungnya sendiri dan cuek sama akibat dari penggunaan platform mereka yang tak semestinya. 

Facebook melalui Zuck dan Sandberg menggemakan dampak positif kebebasan berpendapat yang bisa mengubah dunia tapi membutakan diri mereka dengan akibat buruk penyalahgunaan kebebasan berpendapat tadi di medsos. 

Sebuah laporan internal Facebook mengejutkan Zuck karena menyatakan makin banyak pengguna Facebook usia millennial yang notabene cerdas berinternet yang termakan postingan yang menyangkal Holocaust. Mereka ini mikir Holocaust cuma kejadian pembunuhan massal yang dilebih-lebihkan. Emang ada orang Yahudi yang dibunuhin sih tapi ya nggak sampe jutaan juga kali, pikir millennials yang percaya bahwa sejarah Holocaust itu lebay.

INDONESIA, PENYALAHGUNA FACEBOOK

Di bab ketujuh buku ini, nama Indonesia disebut. Bukan karena sesuatu yang membanggakan sih. 

Negara ini disebut bersama dengan Turki sebagai kedua negara yang menurut laporan internal dan rahasia Facebook adalah negara-negara yang melancarkan kampanye disinformasi yang bertujuan untuk membentuk dan menggiring opini masyarakat dan pemilihan-pemilihan yang nggak cuma digelar di dalam negeri tapi juga di negara-negara tetangga mereka. 🥲Parahhh!

Apa sih beda “disinformasi” dari “misinformasi”? Kalau “misinformasi”, orang yang menyebarkan itu ga tahu kalau infonyang disebarkannya salah. Dalam “disinformasi”, orang yang menyebarkan info yang salah itu tahu betul kalau info itu salah tapi masih menyebarkannya karena punya tujuan menyesatkan dan membingungkan orang yang membacanya. Jadi pelaku disinformasi lebih keji daripada misinformasi. 

Fakta tersebut terkuak dari laporan Alex Stamos, chief security officer Facebook. Ia mendorong pembuatan kebijakan penggunaan yang mencegah Facebook dipakai jadi alat politik negara-negara semacam Rusia, Turki dan glek, Indonesia untuk mencampuri urusan rumah tangga tetangga-tetangga mereka. Tapi pejabat-pejabat teras Facebook lain ga sepakat. Ngapain sok ngatur negara-negara itu, kita kan korporat, ga usah masuk urusan politik, pikir mereka sambil mengabaikan desakan Stamos. 

ASAL USUL “UGLY TRUTH”

Buku ini berawal dari serangkaian liputan investigatif soal Facebook di tengah skandal pelanggaran privasi yang dilakukan Cambridge Analytica. Editor Pui-Wing Tam mengompori Cecilia Kang dan Sheera Frenkel agar mau menulis lebih mendalam.

Seperti karya jurnalisme investigatif umumnya, “Ugly Truth” ditulis bukan dengan mengandalkan gosip atau “katanya” tapi berdasarkan pernyataan dari banyak sumber internal Facebook. Ada mantan karyawan, ada juga yang masih berstatus karyawan di perusahaan itu. Jadi risiko yang harus ditanggung oleh mereka ini sangat besar dari segi hukum. Mereka bisa tersangkut banyak masalah hukum karena pasti ada Non-Disclosure Agreement (NDA) yang terpaksa mereka langgar.

Sebagai sebuah organisasi, Facebook memang sudah terlalu besar pengaruhnya sehingga risiko menjadi jahat dan rakus pun membesar pula. Sementara di dalamnya, orang-orang yang masih percaya dengan moral dan etika serta nurani berusaha memberontak dan mengubah keadaan dari dalam meski harus melawan status quo yang kekuatannya melebihi kekuasaan sekjen PBB sekalipun. Yang kewalahan memilih keluar karena meski gaji tinggi dan prestise sebagai bagian dari tech company ini oke banget, kerja dengan melawan kata hati ya menyiksa batin juga. Lama-lama bisa sakit jiwa dan yang lebih nggak tahan adalah perasaan ikut bersalah karena merusak tatanan dunia. Nggak membuat dunia lebih baik tapi malahan bobrok.

ZUCK + SANDBERG = DEADLY COMBO

Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg adalah dua zat kimia yang sebenarnya tak berbahaya tapi jika dicampur hasilnya sangat mematikan, seperti pemutih dan cuka yang bisa menghasilkan gas klorin.

Seperti programmer pada umumnya, Zuck makhluk nokturnal. Ia suka begadang kalau kerja. Koding sampe lewat tengah malam. Masuk kantor kalau udah mau siang. Bawahan-bawahannya sering harus menyesuaikan waktu kerja Zuck yang kayak kelelawar itu, kayak meeting jam 11 malem. Dia lagi semangat-semangatnya, orang lain udah pada klenger.

Sandberg 15 tahun lebih tua dari Zuck. Pola tidurnya teratur. Menaikkan selimut pukul 21.30 dan bangun pukul 6 pagi teng lalu olahraga kardio intensitas tinggi. Sebagian eksekutif Silicon Valley emang sadar banget dengan kesehatan mereka karena mereka yakin itu kunci ketajaman pikiran saat mengambil keputusan penting.

Gaya kerja Zuck lebih santai dan digital. Ke mana-mana bawa laptop dan telat hadir dalam rapat atau bahkan melewatkan rapat sama sekali karena lebih suka ngoding sendiri. Seorang nerd dan geek sejati.

Sandberg sendiri lebih kolot. Ia suka bikin rencana kegiatan di buku agendanya dan mencatat dengan tangan saat rapat. 

Zuck sadar Sandberg bisa menjadi pelengkap yang sempurna di Facebook. Wanita itu punya jejaring luas di perusahaan top Fortune 500 dan pemerintahan.

PANDEMI SEBAGAI PELUANG POLES CITRA DIRI

Yang menarik ialah membaca bagaimana Facebook memasuki era pandemi tahun lalu. Sebagai pebisnis yang hyper-connected, Zuck tahu betul bahaya dan penularan Covid yang begitu cepat bahkan sebelum virus itu terdeteksi di AS.

Tanggal 26 Januari, Facebook bersiap dengan strategi kerja jika Covid melanda AS. Mereka menyiapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH), menyiapkan alat cek fakta untuk memberantas info tentang teori konspirasi Covid yang beredar di Facebook, bahkan menyiapkan artikel blog untuk membantu memberantas misinformasi, penyebaran info pencegahan Covid ke pengguna, hingga memberi kesempatan WHO dan CDC untuk memasang iklan layanan masyarakat. 

Harus diakui Zuck sangat responsif. Ia CEO AS pertama yang mengizinkan karyawannya tanpa kecuali kerja di rumah. Ia juga menyiapkan bisnis supaya tidak syok saat kehilangan pengiklan di masa pandemi dan menyiapkan infrastruktur vital Facebook (pusat data) agar lebih solid karena ia tahu miliaran pengguna akan aktif lebih banyak saat pandemi. Dan ia benar!

Keputusan tepat dan cepat Zuck itu menaikkan spirit staf Facebook. Ditambah dengan tampilnya sang istri Priscilla Chan yang juga seorang dokter ke muka publik. Via Facebook Live, Chan mengundang Dr. Anthony Fauci (Prof. Wiku-nya AS) untuk ngobrol soal pandemi. Lebih dari 5 juta pengguna menyimak. 

APAPUN DEMI CITRA

Tapi itu semua bukan 100% demi kepentingan karyawan. Sebulan memasuki pandemi, Zuck puas banget karena dapet laporan divisi humas bahwa citra Facebook di mata masyarakat membaik meski sempat anjlok karena skandal Cambridge Analytica.

Seberapa terobsesi Zuck sama citra? SANGAT.  Obsesinya ngalahin obsesi capres jelang pilpres soal pencitraan karena survei soal citra perusahaan ini ia terus gencarkan TIAP HARI hari selama beberapa tahun belakangan. Kebayang budget untuk PR-nya berapa?

Apa sih yang ada di survei itu? Dua poin utama di survei pencitraan itu adalah GFW dan CAU.

GFW (Good for the World) adalah poin pertanyaan yang ingin mengetahui persepsi pengguna soal seberapa baiknya eksistensi Facebook bagi dunia dan manusia-manusia di dalamnya.

CAU (Cares about Users) mengacu pada poin survei yang menggali persepsi atau anggapan pengguna mengenai seberapa peduli Facebook pada kepentingan para penggunanya. 

Berdasarkan survei April 2020, diketahui bahwa penanganan pandemi di lingkungan kerja Facebook yang cepat dan tepat tadi menaikkan level GFW di mata pengguna sejak citra perusahaan ambruk akibat skandal Cambridge Analytica. Zuck pun tersenyum puas! (*/)

Posted in writing | Tagged , | Leave a comment

Capek Mata Boleh. Capek Hati Jangan.

SEORANG teman di kantor lama mengeluhkan kesehatn matanya terganggu akhir-akhir ini.

Pandangannya buram. Tak sejernih biasanya. Lalu terasa matanya kering.

Usut punya usut setelah ke dokter mata, ia divonis mengalami kelelahan mata.

“Kamu kalau work from home seharian di depan laptop ya? Kalau nonton Netflix sambil tiduran miring ya?”

Fix, diagnosisnya akurattt!

Semua kebiasaan buruk teman saya tadi sepertinya juga menjadi bagian kebiasaan kita dan termasuk saya juga sih😅

Saya selalu mengingatkan diri sendiri agar mematikan lampu dan ponsel sebelum tidur karena saya bisa juga mengalami keluhan yang sama kalau saya tak cegah dari sekarang.

Karenanya saya sesekali merehatkan mata dari laptop dan ponsel. Sekadar menyaksikan langit dari atap rumah. Seperti yang saya saksikan sore ini. Tidak ada sunset yang spektakuler sih tapi lumayan menghibur.

Selamat berakhir pekan!😘

Posted in pandemic | Tagged , , | Leave a comment

Susahnya Beralih ke Digital

ORANG Indonesia memang aneh tapi nyata.

Sudah diberi kemudahan fasilitas online dan digital, masih mengeluh juga.

Seperti seseorang yang mengeluhkan ini.

Terus maunya gimana? Apakah mau bawa dokumen cetak ke mana-mana? Kayak fotokopi gitu?

Ya kalau baterai mudah habis ya diirit aja pakainya. Dibuka kalau memang mendesak. Dan cas sampai penuh kalau akan bepergian jauh.

Suka heran kan sama orang Indonesia? Haha. Padahal saya sendiri juga orang Indonesia. (*/)

Posted in writing | Leave a comment

Ruwetnya Pelecehan Seksual dan Cancel Culture

BEREDAR sebuah daftar yang memuat jenama-jenama yang diduga keras memberi panggung bagi pesohor SJ yang baru saja keluar dari bui setelah menjalani hukuman akibat melakukan pelecehan seksual pada remaja pria. Label pedofilia pun kini tersemat dan seakan masyarakat hendak dilenakan dengan kenyataan bahwa pria ini pernah melakukan kekhilafan yang membuat masa depan seseorang tak sama lagi.

Di satu sisi ada sekelompok orang yang geram dengan perlakukan ini. Mereka nggak rela banget dengan sebuah pemikiran bahwa pendosa layak dapat kesempatan kedua. Dengan segala cara mereka menghimpun dukungan di dunia maya untuk mendesak berbagai pihak yang berwenang dan berkepentingan untuk setop melibatkan si SJ itu. Mereka mengatasnamakan perasaan si korban dan juga mencerca betapa mudah lupanya masyarakat kita dengan dosa-dosa seseorang yang terkenal, berpengaruh,dan sebagainya.

Di sisi lain ada yang bersimpati. Mereka ini mengatasnamakan paham bahwa manusia seburuk apapun itu bisa berubah. Please jangan terlalu keras pada orang yang sudah menjalani hukuman yang ‘setimpal’. Apalagi sampai ‘mematikan rezeki orang lain’ hanya karena masa lalunya.

Ruwet ruwet…

Sementara itu, sambutan masyarakat pada kemenangan atlet-atlet paralimpiade Tokyo 2020 malah lebih hambar daripada Olimpiade lalu. Padahal mereka berhasil melejitkan peringkat Indonesia lho secara signifikan. Dari 76 ke 43. Lumayan lah ya, meski ya harusnya bisa lebih baik lagi. Ingat, dari segi jumlah populasi tuh kita nomor 4 dunia lho. Masak cari atlet top di antara sebanyak manusia di bumi Indonesia ini susah banget?

Yang menggembirakan dan patut diapresiasi adalah penghargaan presiden terhadap para pemenang medali. Tak kalah dengan nilai imbalan bagi pemenang medali di Olimpiade lalu. Selamat ya! (*/)

Posted in writing | 1 Comment

Pelecehan Seksual di KPI Bukti Fenomena Gunung Es Pelecehan Seksual Pria

KOMISI PENYIARAN INDONESIA sedang disorot karena mengalami masalah kekerasan, perisakan dan pelecehan seksual di lingkaran internalnya.

Miris melihat sang korban harus sampai menahan diri melapor bertahun-tahun bahkan nekat memviralkan di media sosial. Semua karena pengaduannya tidak digubris. Ya karena dia cowok. Dan pelakunya juga cowok. Di lingkungan kerja yang birokratis dan patriarkis pula. Tekanannya berlapis-lapis.

Tapi seperti lumpur Lapindo, tekanan hebat pun tidak bisa mencegah yang di bawah diam. Suatu saat ia akan menemukan jalannya untuk muncul. Menggelegak. Atau meletus?!

Berikut sikap resmi sang ketua institusi. Kita awasi bersama bagaimana ini berlanjut.

Posted in save our nation | Tagged , | Leave a comment