Tortue Yoga Mat: Seawet Kura-kura

Kura-kura dan yoga sekilas memang tidak ada kaitannya. Tetapi kura-kura dianggap sebagai salah satu satwa yang menginspirasi yogi zaman dahulu. Saya selalu teringat dengan analogi yang disampaikan oleh seorang guru yoga mengenai resep usia yang panjang dalam sebuah ceramah singkat. Ia berceloteh demikian kurang lebih:”Anda tahu mengapa anjing dan kura-kura berbeda umurnya?”
Saya yang belum tahu apa-apa cuma termangu menunggu jawabannya. Begitu juga hadirin yang lain.
Guru itu pun menjawab sendiri pertanyaannya, setelah beberapa saat menunggu jawaban. “Lihatlah anjing dan kura-kura saat bernapas.”
Anjing menurutnya bernapas lebih cepat. Itu dapat dilihat dari gerakannya yang trengginas dan agresif. Lidahnya komat-kamit untuk mengeluarkan sebagian panas tubuhnya.
Sementara itu, seekor kura-kura bergerak jauh lebih lamban sebab cangkang keras di badannya tidak memungkinkannya bermanuver selincah anjing. Gerakan yang lamban membuatnya juga bernapas lebih lamban.
Soal usia kedua spesies berbeda ini, anjing terbukti lebih pendek. Saat anjing cuma bisa hidup sekitar 20-an tahun, seekor kura-kura bisa menembus usia seabad. Bila hidup di alam bebas yang tanpa gangguan predator, seekor kura-kura bisa mencapai usia 175 (jenis Galapagos) bahkan 250 tahun (jenis Aldabra).
Terkait dengan yoga terutama olah pernapasan (pranayama), diyakini bahwa semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Karena tertarik dengan filosofi ‘biar lambat asal panjang umur’ ini, saat saya memilih mat yoga baru untuk saya pakai, saya cari juga yang memiliki filosofi tersebut. Selama 7 tahun belakangan, saya tidak pernah secara khusus mengalokasikan dana dan waktu untuk memilih dan memiliki sebuah mat yoga. Mat yoga pertama saya hanyalah selembar banner yang tipis dengan fungsi sekadar untuk membuat tidak kotor saat duduk, berbaring dan tengkurap. Lain dari kebanyakan orang, saya tidak begitu meributkan soal mat di awal saya mulai berlatih. Kemudian mat pertama saya yang memang benar-benar mat ialah sebuah mat PVC pemberian penyelenggara event yoga massal yang lumayan tebal tetapi berpermukaan licin. Meski tangan saya bukan tipe yang mengeluarkan keringat demikian deras saat berlatih, tetap saja terasa kurang nyaman. Tapi saya tetap bersyukur juga dengan mat itu. Buktinya saya tetap menggunakannya hingga suatu saat saya diberi mat baru juga sebagai hadiah oleh beberapa kolega kerja. Mat ini lebih bagus dari yang pertama tapi permukaannya tetap agak licin. Tekstur permukaannya menurut saya terlalu halus hingga kekesatanya kurang memuaskan. Dalam posisi downward facing dog, tangan saya bisa berjalan sendiri ke depan.

13402315_1731860410385475_1059588841_n

(Source: lmgrum)

Setelah sekian lama mendapatkan mat dengan spesifikasi yang kurang pas, hati saya akhirnya tertambat pada Tortue Travel Mat. Logonya sekali lagi menarik karena berbentuk kura-kura, yang memiliki makna khusus dalam dunia yoga sebagaimana saya kemukakan di awal tulisan.
Kelebihan lain yang membuat saya menyukai mat satu ini ialah ketipisan yang pas (3 mm) sehingga mudah dilipat hingga bisa dimasukkan dalam tas punggung saya. Ini sungguh memudahkan karena saya tidak perlu repot membawa tas yoga khusus yang panjang dan merepotkan terutama jika sedang bepergian untuk hadir dalam acara-acara lain selain yoga. Membawa tas khusus mat yoga terasa aneh jika masuk ke kafe, toko, mall apalagi di gedung perkantoran. Saya tidak mau terlalu menarik perhatian orang apalagi sekuriti. Karena jangankan di Indonesia, di Amerika Serikat saja seorang wanita dikeluarkan dari gedung saat Donald Trump berkampanye dulu gara-gara dicurigai membawa peledak (atau bazooka?) yang bisa membahayakan nyawa banyak orang. Padahal yang dibawa itu cuma gulungan mat yoga!
Meski tipis, yoga mat ini tidak serta merta meninggalkan unsur kenyamanan saat berasana. Saya pernah meminjam travel mat brand lain yang dimiliki teman tetapi tipisnya membuat pemakai kesakitan saat harus membiarkan lutut menumpu di lantai. Mat yang terlalu tipis juga cukup riskan jika dipakai di paving yang kurang rata (apalagi saya menyukai beryoga di ruang terbuka) dalam jenis pose-pose inversi karena kepala, leher dan bahu lebih peka dan rawan terhadap tekanan. Travel mat dari Tortue ini sekali lagi mampu melindungi pengguna dari sensasi kurang menyenangkan yang biasa ditemukan saat memakai mat tipe travel.
Tortue jenis ini juga bisa dipakai untuk mereka yang kurang suka mat licin. Permukaan yang bertekstur lebih menonjol membuat risiko terpeleset saat kelas vinyasa atau ashtanga yang intens juga lebih rendah.
Untuk penggunaan perdana, mat ini memang terasa agak licin. Untuk membuatnya lebih kesat, pakailah kain lap basah untuk menyekanya dengan lembut. Setelah lapisan licinnya terangkat, mat akan terasa lebih lengket (sticky).
Karena jenis material mat ini ialah closed cell, akan lebih mudah bagi kita membersihkannya. Tidak perlu dicuci dengan banyak air. Cukup seka dengan kain basah yang bersih kemudian anginkan di tempat teduh jika dirasa sudah kotor. Pemeliharaan mat jenis ini juga lebih mudah karena lebih tahan jamur meski disimpan dalam kondisi lembab. Hal ini berbeda dengan mat berbahan karet alam yang lebih mudah ditumbuhi jamur.
Jika kulit kita rentan pada alergen, mat ini juga lebih disarankan untuk dipilih karena lebih mudah dibersihkan (karena tidak berpori yang membuatnya menjadi tempat alergen seperti debu atau bulu hewan berkumpul dan menempel). Mat berbahan karet alam yang meski harganya lebih mahal – sepanjang pengalaman saya – justru membuat kulit bisa gatal dan ruam-ruam merah.
Menyoal harga, mat satu ini berada di kisaran Rp700.000 yang tergolong terjangkau untuk ukuran travel mat dengan brand dari luar negeri. Sebab mat Tortue ini berasal dari Jerman dan telah mulai diproduksi sejak 1988.
Untuk saya, travel mat ini sudah menjawab kebutuhan saya dalam berlatih yoga. Mudah dibawa ke mana-mana, ringan sehingga tidak begitu membebani area bahu, tetap kesat saat dipakai, mudah dibersihkan selesai beryoga dan mudah-mudahan bisa dipakai selama mungkin seperti kura-kura yang awet hidupnya. Bagaimana dengan Anda? (*)

Leave a comment

Filed under yoga

Pupuk Nasionalisme dengan Melancong

Screen Shot 2017-09-06 at 16.19.15.png

Nasionalisme dan melancong. Apa hubungannya?

Setelah begitu kerasnya membanting tulang, saya hadiahi diri saya sebuah liburan ke pulau Bali. Sebuah liburan yang direalisasikan secara impromptu karena jika direncanakan jauh-jauh hari justru berisiko buyar. Sebabnya bisa bermacam-macam. Hampir selalu begitu. Maka, saya putuskan hanya beberapa pekan sebelumnya untuk meluncur ke bagian tengah Indonesia dari Jakarta.

Di bandara Ngurah Rai, saya lepaskan beban apapun yang menggelayuti pikiran soal pekerjaan. Di depan, sudah menyongsong seorang teman. Narto namanya. Ia sendirian dan mengatakan sudah mengenali saya saat di gerbang.

“Saya cari orang berperawakan kecil dan kurus. Seperti di Facebook,” celetuknya. Tawa kami meledak. Kami memang belum pernah bertemu sebelumnya secara langsung. Janji kami untuk bertemu dirangkai lewat pesan di Facebook Messenger. Usia Marto memang sudah setara paman saya tetapi soal kekerapan menggunakan media sosial, saya mengaku kalah darinya.

Marto mengajak saya ke dalam mobil yang rupanya ia sewa dari seorang tetangga. Di belakang stir, seorang anak muda berperawakan penuh menyapa. Ia perkenalkan dirinya sebagai Wayan Amarta. Ia sedang libur sekolah dan tengah mencari uang tambahan untuk keluarganya. Marto memilih memakai jasanya sebab penggilingan padi mereka yang semula ramai pelanggan mulai sepi. Seorang tetangga lain membuka bisnis penggilingan yang sama dengan harga lebih murah. Hancurlah sumber penghidupan keluarga itu. Kini mereka memutar otak agar bisa bertahan hidup. Amarta ingin menabung agar bisa kuliah dan menjadi pekerja di kapal pesiar mewah yang mengarungi lautan luas.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.21.38

Bersantai di penginapan terjangkau di Ubud, Bali. Surga!

Mobil meluncur ke beberapa tempat wisata, dan kami sampai juga di Ubud yang menjadi tujuan saya. Narto memberikan penjelasan sepanjang jalan dengan sukarela. Karena saya dianggap teman dan ia sedang tidak sibuk menemani wisatawan, ia merelakan sejumlah waktu berharganya menemani saya. Sungguh baik hati dirinya. Di kala sibuk, ia berkelana mengawal turis manca ke pulau-pulau timur nusantara, berdiri di dek kapal pesiar mewah yang bertarif ribuan dollar untuk bisa ikut di dalamnya sebagai peserta.

Saya pun sampai di penginapan rekomendasinya. Dekat dengan sebuah hutan penuh monyet-monyet yang dibiarkan liar. Saya sempat lupa saya tinggal dekat hutan karena terlalu lama di Jakarta yang sesak dan gersang hingga esok harinya saya bangun dan makan pagi di teras.

Saya tersentak. Seekor monyet kecil entah dari mana sampai di balkon tempat saya bersantai dan menghirup udara segar. Tak cuma satu ekor itu. Ia disusul oleh serombongan lainnya, yang rupanya juga sama kelaparannya seperti saya. Sekeluarga monyet itu mengamati saya dan memastikan tidak ada ancaman yang berarti dalam gerak-gerik saya. Barulah mereka turun, mengaduk-aduk tempat sampah dan sempat menjamah sekantong buah yang saya baru dapatkan kemarin.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.13

Menikmati hidangan khas Indonesia di berbagai kesempatan menjadi bukti nasionalisme kita juga.

Senja turun dan kegelapan mulai melingkupi penginapan. Saya masih ingat tidak ada sinar rembulan dan sebagai orang yang terbiasa dengan kehidupan kota yang berlimpah cahaya, melihat pekatnya malam membuat saya bergidik panik juga.

Ponsel saya bergetar, sedikit mengusik ketenangan. Saya harap tidak soal pekerjaan. Untungnya dugaan tidak menjadi kenyataan.

Ternyata Narto yang menghubungi saya via WhatsApp. Ia dan istrinya mengundang saya bersantap malam. Mereka berdua menunggu saya di sebuah restoran dekat penginapan.

Saya memilih gado-gado dan sembari menunggu mereka datang, saya membuka laptop dan menuliskan beberapa pengalaman dalam perjalanan ini. Saya tidak mau sampai detail-detail berharga ini tidak tercatat dan terlupakan.

Mereka datang juga. Saya menutup laptop demi kesopanan dan kami segera memesan makanan. Saya nyaman dengan memakan gado-gado. Mereka dengan makanan ala Eropa. Maklum, istri Narto seorang perempuan Prancis totok.

“Claudine,” ia menjabat erat tangan saya dalam logat Prancis yang kental. Dari istrinya, Narto belajar bercakap bahasa Prancis hingga lancar. Ia memang pembelajar yang alami, sebagaimana saat ia mulai belajar bahasa Inggris hanya dengan mendengarkan siaran BBC setiap hari di radio pamannya. Saya mengagumi kemampuan istimewanya itu.

Kami mengobrol banyak hal, hingga sampai pada satu topik tentang frekuensi mudik Claudine ke tanah airnya. Saya menduga ia sekali setahun ke sana.

“Tidak, saya tidak sesering itu pulang, Akhlis. Tiket pesawatnya kan mahal! Haha,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata tetapi jelas bagi saya. Ia agak kesulitan melafalkan nama saya dengan benar tetapi saya paham lidahnya belum terbiasa dengan kata berakhiran /s/.

Ia mengatakan bahkan hanya beberapa tahun sekali jika ada penawaran tiket yang murah saja. Sebagai orang Prancis, ia memiliki kebiasaan mudik yang lain dari kebiasaan mudik orang Indonesia tiap Idul Fitri, yang mengharuskan menampakkan muka di rumah tempat keluarga besar berkumpul. Saat Natal, Claudine juga tidak menganggapnya sebagai suatu saat istimewa. Ia tidak lagi menjadi penganut Katholik yang taat karena ia bercerita sudah bosan dengan didikan dogmatis sepanjang masa kanak-kanaknya.

Ia sempat berceletuk,”Kalau saya bisa memilih tidak pulang ke sana, saya akan pilih demikian.”

“Kenapa?” selidik saya. Saya tidak paham dengan jawabannya itu. Bukankah seseorang pasti memiliki pertalian emosional yang erat dengan tanah kelahirannya?

“Karena saya sudah tidak merasa Prancis rumah saya. Saya lebih nyaman di sini,” ucap Claudine dengan mantap. Sejurus kemudian ia menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.

Lebih lanjut, tanpa saya tanya, Claudine terus mengemukakan alasannya. Saya memperlambat kecepatan makan saya untuk berkonsentrasi pada ucapannya yang lirih.

“Kau tahu, Akhlis?”

“Tidak…” jawab saya jujur.

“Bangsa Prancis menganggap diri mereka lebih tinggi daripada bangsa-bangsa yang lain. Dan karena itulah, mereka enggan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Tiap kali ada kegagalan mereka menganggap itu bukan kesalahan mereka tetapi  bangsa lain. Prancis menjadi bangsa yang stagnan, terjebak dalam kejayaan masa lalunya. Karena itulah, saya merasa lebih nyaman di sini, Akhlis,” terang Claudine panjang lebar. 

Jujur, saya tidak tahu harus berkata-kata apa. Karena selama ini, saya sebagai orang luar menganggap bangsa Prancis sebagai bangsa yang besar, hebat, dan superior dengan Revolusi Prancisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia modern ini. Belum lagi dengan bangunan-bangunan kuno mereka yang terawat apik, museum-museum, Paris yang selalu digadang-gadang orang sebagai Mekah-nya dunia mode. Tetapi toh ternyata, jika dikorek-korek, ada juga cacat dalam sebuah bangsa sebesar itu.

Kemudian inilah AHA Moment saya:

“Bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Indonesia?”

Saya selama ini hampir selalu mendengarkan pernyataan-pernyataan bernada inferiority complex yang banyak diderita bangsa bekas jajahan, bahwa Indonesia harus banyak belajar dari bangsa X, bangsa Y, bangsa Z. Tidak ada habis-habisnya. Seolah-olah bangsa ini tidak memiliki kelebihan dan kekuatan sedikit pun yang bisa diangkat dan dibanggakan.

Sudah saatnya persepsi negatif kita tentang bangsa sendiri diubah. Caranya? Dengan banyak melancong!

Dengan melancong di dalam negeri, kita lebih banyak mengenali dan memahami lebih mendalam tentang keragaman dan kekayaan budaya, alam, kuliner, filosofi dan berbagai jenis aset material dan imaterial lain yang dimiliki bangsa besar ini. Mari kita belajar dari bangsa-bangsa lain seperti Prancis dengan mengambil sisi positif, yakni kebanggaan atas budaya, sejarah dan aset-aset nasional lainnya tetapi di saat yang sama kita juga perlu membuka diri untuk terus bisa belajar demi kemajuan bangsa.

Soal dana untuk melancong, patut disadari bahwa masyarakat Indonesia masih menghabiskan dana wisata mereka untuk berbelanja. Tentu tidak sepenuhnya salah dengan itu (karena itu menggenjot perekonomian juga), tetapi hendaknya jangan hanya mengutamakan oleh-oleh saat melancong tetapi juga belajar lebih banyak mengenai orang-orang yang kita kunjungi di daerah lain.

Screen Shot 2017-09-06 at 16.22.31

Kemacetan dan ketidaktertiban berlalu lintas selalu menjadi satu hal yang identik dengan sisi buruk Indonesia.

Pada Claudine, saya berharap saya bisa bertemu lagi dengannya untuk sekadar berterima kasih atas AHA Moment yang ia berikan pada saya. Sekaligus saya juga ingin menyampaikan kiat saya agar ia bisa pulang ke Prancis lagi lebih sering atau melancing ke negara lain sehingga bisa menemukan perspektif lebih baik mengenai bangsanya yang saya yakin ia rindu juga tak peduli banyaknya cacat yang dimiliki dalam kacamatanya.

Caranya mudah. Pakai layanan Skyscanner yang memiliki fitur pencarian tiket pesawat di bulan termurah. Fitur ini memudahkan kita menemukan momen pas saat tiket pesawat ke suatu destinasi berada di harga termurahnya. Ada juga fitur “Info harga” yang memungkinkan kita memonitor fluktuasi harga tiket pesawat via surel.

 

2 Comments

Filed under writing

Mr. Spruce

“Nama Anda seperti nama pembalap,” komentar saya begitu membaca kartu namanya. Sebagai orang asli suatu negeri lengang di belahan bumi utara sana, tingginya cuma rata-rata orang nusantara. Untuk ukuran keturunan suku Viking, saya pikir ia kurang menjulang.
.
Saya baca jabatannya. Atase, menangani urusan konsuler. Saya pandang lagi raut mukanya dan tampilannya. Dengan kaos sederhana begitu, siapa nyana ia pejabat tinggi di sini. Usianya tidak muda lagi dengan wajah berberewok abu-abu di sana sini. Saya tebak di masa mudanya rambutnya yang mulai membotak dan memutih juga sepirang gadis-gadis muda Skandinavia yang bersama dengannya. Gadis-gadis yang dengan seksisnya disapa jahil oleh oknum pegawai birokrat kroco yang sambil merokok berkata,”Neng, sini. Mau ke mana, Neng?” Norak.
.
Sebelum ia sodorkan kartu nama, saya sempat mengobrol beberapa lama setelah iseng menanyajan padanya apakah ada rilis pers dalam peristiwa yang baru saja kami saksikan bersama.
.
“Kenapa pohon ini yang ditanam? Apakah ini pohon asli negeri Anda?” Saya lontarkan pertanyaan tanpa banyak pertimbangan, untuk kemudian sedikit menyesali kekonyolan yang terkandung di dalamnya.
.
Ia menjelaskan panjang lebar bahwa tentu pohon yang dipilih ditanam di Jakarta bukan pohon asli tanah airnya yang dekat dengan kutub utara. “Jelas pohon itu tidak akan bisa tumbuh di Jakarta yang panas sepanjang tahun.” Saya tersenyum kecut. Tentu demikian logikanya.
.
Pohon aslinya bernama Home Spruce. Saya yang seumur hidup mendekam di wilayah tropis tak bisa membayangkan rupa dan ciri fisik pohon itu.
.
Ia bersedia membantu menyusun imaji Home Spruce dalam benak saya. “Pohonnya mirip cemara. Kami sering pakai sebagai pohon natal juga. Ini pohon menjadi kebanggaan nasional kami.”
.
“Apakah hanya tumbuh di negara Anda?” Timpal saya tanpa berani menyebut nama. Beginilah kalau keasyikan berbicara, lupa berkenalan.
.
Home Spruce, imbuhnya, hanya tumbuh di belahan bumi utara. Kayunya bisa dipakai apa saja. Termasuk membangun rumah dan perabotan. Multiguna. Bahkan getahnya bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan luka. Untuk meredakan kemerahan di kulit, biasanya getah tadi dicampur dengan lilin lebah alias bee wax. Oleskan dan keluhan raib. Tetapi getah itu juga yang membuat kayu Home Spruce mesti dikeringkan dulm dulu sebelum diolah sebagai elemen bangunan.
.
Saya pernah dengar negerinya yang damai dan hening. Penduduknya sedikit, tak banyak berulah, relatif tertib dan waras. Politik domestik tak banyak menjadi berita. Lain dari sini yang hingar bingar. Untuk bertanya soal politik, saya merasa tidak tergelitik. Cukup.
.
Saya bersimpati padanya. Kesulitan beradaptasinya luar biasa untuk bisa hidup di Jakarta. Lalu lintas dan cuaca menjadi tantangan utama. Ia stres dengan Jakarta yang penduduknya setara total rakyat negerinya. Hanya saja mereka hidup di lahan yang jauh lebih lapang dari sini. Saya bergurau bahwa hutan menjadi pemisah antarrumah. Bukan pagar atau halaman. Saya terka dari deskripsi latar tempat novel Jonas Jonasson.
.
“Kami punya lelucon khas,” tuturnya. Ia tunjukkan kartun di layar iPhonenya. “Dua orang di negeri kami jika bertemu biasanya hanya bertatap mata lalu tersenyum.” Itu karena mereka tinggal begitu jauhnya dari tetangga terdekat sampai mereka tidak tahu apa yang mesti dibicarakan saat bersua.
.
“Pernah saya mengantar orang Indonesia untuk tinggal di sebuah rumah. Ia datang di saat terburuk. Bulan September sampai April. Gelap dan dingin. Dua bulan saja ia bertahan. Tidak kuat,” ujarnya.
.
Depresif memang. Makhluk tropis yang malang terkungkung dalam cengkeraman iklim ekstrim.
.
Tetapi setidaknya itu tempat ideal untuk beryoga dan bermeditasi, tandas saya.
.
“Ya, Anda betul. Hahaha!”
.
Saya lempar pandangan beberapa puluh meter ke depan, mengamati kendaraan-kendaraan yang menggeram tak bisa melaju dikekang merahnya lampu. Para pengendara yang berpeluh dan tak sabaran tertimpa sinar surya. Ah, bagaimanapun keramaian semacam inilah yang mungkin membuat orang tropis dari sini tetap optimis dan bergairah. Meski menggerutu lebih sering, kami juga tertawa lebih sering. Dan bagaimanapun dahsyatnya setan bernama inferiority complex bersemayam dalam otak kami yang membuat kami memuja negeri dan bangsa asing, kami akan selalu merindukan juga tempat yang panas, hiruk pikuk, dan kacau balau ini tak peduli banyaknya tempat lebih indah dan cantik yang terkunjungi oleh kami di muka bumi. (*)

Leave a comment

Filed under environment

Soal “Kaphe”

Sedino iki pengene nggur moco novel. Ora kepengin moco berita opo maneh ndelengi Whatsapp, Facebook utowo Twitter. Mblenger, takkandani. Diarani ora gaul yo ora popo, ora patheken, batinku.
.
Tapi yo jenenge kebeneran, milihe wacanan sing ono hubungane karo sejarah negoro iki pas lagi dijajah Walondo satus selikur taun kapungkur senajan novele kuwi sakjane rodho picisan amarga isine yang-yangan ora karuan.
.
Dadi ono bab ning buku novel kuwi sing judule “Kaphe”. Takkiro jeneng wong utowo panggon utowo pakanan. Bareng sakwise diwoco entek, lagi ngerti nek topike ugo nyerempet perkoro agomo lan politik.
.
Dadi ning bab “Kaphe” sing ono ning buku karangane Remy Sylado kuwi diceritakake menowo ono prawiro soko Walondo sing ditugasi dadi pawicoro ning upocoro pembekalan kanggo prajurit-prajurit KNIL sing asline wong-wong enom soko pirang-pirang wilayah Indonesia, kayoto Ambon, Manado, Sundo, lan sapanunggalane.
.
Jenenge prawiro Walondo kuwi Letnan J. C. J. Kempees. Senajan jenenge mirip ‘kempes’, nanging isine omongane marai ati lan emosi mongkog. Amargo wong iki ngedu wong Aceh karo wong Jowo, Ambon lan Manado. Kempees ngomong ngene:”Kene (tentara KNIL) ora oleh kalah ning Aceh. Wong Aceh ngundang kene iki ‘kaphe’ (soko kene aku mudeng maksute kuwi ‘kafir’), lan mungsuhi kene kuwi dianggep jihad. Aku wis takon karo ahline, Dr. Snouck Hurgronje, perkoro istilah-istilah kuwi, lan jawabane kuwi ora sakkabehe bener. Kene ora kaphe. Ning kene ugo ono wong Jowo sing Muslim. Iki ora perang agomo babar blas. Tapi pancen kasunyatane Hurgronje dewe ngakone menowo jihad kuwi gerakan suci sing dadi kuwajibane wong Islam kanggo mungsuhi kafir.”
.
Dadi koyo mengkono kuwi kahanane rikolo semono. Menowo dipikir-pikir yo mirip meneh koyo kahanane negoro saiki senajan wis suwi bedo wektune.
.
Walondo pancen wis ora ono. Ananging gantine kuwi sing rupane macem-macem. Akeh-akehe malah londo musuhe Indonesia saiki rambute podo irenge, kulite podo coklate, irunge ugo podo peseke. San soyo angel mbedaknone. Mbiyen yo angel, saiki soyo angel. Polane mirip, nanging pancen wujute wis manglingi. Wong-wong Indonesia sing mbiyen ngertine pelajaran PSPB wis lali, keblasuk meneh ning jebakan lawas tapi anyar carane ngemas. Dadi ontran-ontran koyo saiki wis ora barang anyar meneh ning tlatah Jowo.
.
Tapi sing paling penting, senajan wis meh 72 taun merdeka, Indonesia isih perlu sinau meneh bab toto negoro, agomo lan demokrasi. Sik sik, iki Facebook utowo Panyebar Semangat? (*)

Leave a comment

Filed under save our nation