Longevity is Not That ‘Sexy’

‎As I saw this movie played on TV, I was desperately thinking what novel I could pick as an object of study. The end of my post graduate study was drawing nearer, which frustrated me in some way because nearly everytime I attended classes in the third semester, everyone else seemed to have chosen one piece of literary work they truly like and would spend much of their last semester for studying it. I didn’t particularly interested in any single novel. A loser was what I felt like.

But then I realized the movie was so rich in themes to analyze, study and write‎ a thesis based on. It turned out the movie was titled “The Green Mile”. Or sort of. A movie adaptation of a novel, a best-seller one I was sure. It told a story of a gigantic black man who happened to have a supernatural power. And there was a kind guy. I assumed he was a police officer, played mesmerizingly by Tom Hanks. To cut the story short, the officer lived on, even when his peers succumbed to the death angel’s calling. There was only this cute mouse who was as ‘immortal’ as he had become. Together they stayed in a small hut in the woods while everyone their age was at the brink of death or already gone for good. Apparently, that was a consequence of the ‘power’ the black man had passed (un)deliberately onto him, and the mouse.

This forlorn depiction of the good guy (good-natured, optimistic people are said to live longer, some say) and the rodent may ‎take us to a moment of contemplation. Because these days we all want to live longer, whatever it takes. Inasmuch as, living longer is closely associated with higher level of happiness, satisfaction in life. There have been efforts – either scientifically or pseudoscientifically – to discover ways to turn back the clock. Alas, that’s in vain!

An article I stumbled upon on the web recounted the similar sense, that longevity is not that fun actually. It is horrible to experience, not to mention depressing. So this article writer‎ shared her own story of living as a middle-aged woman. Suddenly she thought of living too long. “How if I stay alive still until my 100th birthday when everyone I knew, loved and used to talk with every day is dead and buried or cremated already? What is this longevity for eventually if all you can feel is loneliness and incessant pain in old age?”

‎Upon reading the latest edition of Time Magazine yesterday, I can get the sense once again. That scent of purposelessness in the quest of fountain of youth and immortality. It reads:”How old can we live to be? That remains to be seen but if a promising drug does to humans what it does to mice – a big if – the answer is 142. Mice have a median survival time of 27 months but with treatment, the longest-living mouse hit 48 months, a life 1.77 times longer. The median human lifespan is 80 years – so if the oldest person lived 1.77 times longer, he or she would reach 142.”

‎Apart from all these debates on how important to stay healthy and young in and out, all I want to remind myself of is the advice of a lecturer back then. What matters most is not how we die – or in this very topic, how old when we die. We do not even have to worry a tiny bit about that. It is beyond our complete and utter control. We will never know how, where and when we perish from this world. Yet, what we must be more concerned with is how we live this life. Whether it be long or brief, your life is not supposed to get wasted.

Leave a comment

Filed under health

Untuk Perkuat Tulang, Makan Buah. Bukan Minum Susu.

Lupakan susu jika ingin menjaga kesehatan tulang. Buah lebih ampuh dalam memperkuat tulang, menurut temuan sebuah studi ilmiah.

Untuk tetap menjaga kesehatan tulang, konsumsi berlebihan secara terus menerus makanan yang berkandungan lemak dan gula yang tinggi ‎juga harus dipantang. Riset juga menunjukkan bahwa makanan tinggi lemak dan gula memperlemah tulang dan memicu osteoporosis.

Meskipun tren konsumsi makanan tinggi gula dan lemak serta risiko osteoporosis ini terus naik, masih ada harapan untuk melawannya. Demikian pernyataan Ron Zernicke, profesor dalam bidang teknik biomedis dan pembedahan ortopedi di University of Michigan. Komunitas medis dan masyarakat umum bisa membalikkan tren ini melalui diet, olahraga dan dalam beberapa kasus tertentu, pengobatan medis.

‎Para warga di AS menuntut tindakan nyata sekarang, kata Cy Frank, direktur eksekutif Alberta Bone and Joint Health Institute dan ahli bedah ortopedi yang berpraktik di kota Calgary. Generasi baby boomers merupakan generasi pertama yang mengkonsumsi makanan cepat saji, menciptakan tren makanan tinggi gula dan lemak dalam sejarah. Akibatnya wabah obesitas pun meluas.

‎Zernicke berpendapat generasi baby boomers (mereka yang berusia maksimal 66 tetapi lebih tua dari generasi X yang lahir tahun 1980-an) telah mencapai tahap dalam kehidupan saat mereka paling rentan terhadap masalah tulang dan persendian.

Prediksi umum ahli bedah AS bahwa hingga tahun 2020, separuh warga AS berusia di atas 50 tahun akan menderita atau berisiko menderita osteoporosis di pinggul. Ini menjadi berita buruk bagi kaum wanita yang lebih rentan menderita osteoporosis hingga 2-3 kali lebih tinggi dari para pria.

‎Dikatakan bahwa ada dua cara bagaimana gula dan lemak memperlemah tulang. Pertama, keduanya menghalangi penyerapan kalsium sehingga kalsium terbuang keluar bersama air seni. Kedua, lapisan lemak yang menyelubungi usus mempersulit penyerapan kalsium. Berat badan berlebih membuat tulang belakang juga terbebani dan melemah, ujar Zernicke.

Diet dan olah fisik menjadi dua senjata utama melawan osteoporosis. Makanan sehat dan aktivitas fisik yang cukup membuat pertumbuhan jaringan tulang optimal sehingga risiko osteoporosis menurun pula.

Namun, pencegahan juga mencakup banyak hal di luar makanan dan olahraga. Menyingkirkan makanan siap saji dan menerapkan gaya hidup sehat di dalam keseharian kita juga sangat membantu, ungkap Zernicke. (University of Michigan)

Leave a comment

Filed under writing

Inspirator vs Inspirer

‎Mana yang betul menurut Anda, “inspirator” atau “inspirer”?

Inilah salah satu kasus yang menunjukkan bahwa yang benar justru tampak salah hanya karena lebih jarang dipakai atau diucapkan.

Saya pun pertama kali terkecoh saat seseorang bertanya pada saya,”Kata ‘inspirator’ itu dalam bahasa Inggris ada nggak ya?”‎ Spontan saja saya mengangguk, karena kata itu begitu familiar dalam bahasa Indonesia. Semua orang tampaknya juga berpikir demikian.

‎Begitu diperiksa di kamus bahasa Inggris, ternyata tidak ada kata “inspirator”! Mencengangkan juga. Bagaimana bisa?!

Usut punya usut, betul juga kalau kata “inspirator” itu sebenarnya kesalahan yang melanggar logika bahasa, terutama morfologi. Hanya saja, karena ia lazim sehingga kesalahan itu dianggap benar saja oleh khalayak ramai.

Jadi begini penjelasannya: Kata “inspire” (menginspirasi) dapat diubah menjadi pelaku (agent/ doer) dengan ditambahi akhiran (suffix) -er/or/r . Jadi bagaimana bisa “inspire” menjadi “inspirator” (orang yang menginspirasi)? Bahasa Inggris tidak mengenal akhiran -ator/tor. Nah, dari aturan itulah akhirnya kita bisa memahami secara logis bahwa “inspire” haruslah menjadi “inspirer”.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Senyawa dalam Minyak Zaitun Murni Bunuh Sel Kanker, Tak Bahayakan Sel Sehat

Sekali lagi terkuak manfaat kesehatan minyak zaitun bagi manusia. Sebuah bahan dalam minyak zaitun jenis extra-virgin diketahui memiliki kekuatan membunuh sejumlah sel kanker tanpa membahayakan sel-sel tubuh yang masih sehat.

Para ilmuwan mengetahui bahwa bahan bernama oleocanthal membunuh sel-sel kanker tetapi belum diketahui bagaimana mekanisme pastinya. Mereka berpikir bahwa senyawa itu dapat membidik protein penting dalam sel kanker yang memicu kematian sel secara terprogram, yang diketahui sebagai apoptosis, dan memutuskan untuk menguji hipotesis mereka.

“Kami harus menentukan apakah oleocanthal membidik protein itu dan menyebabkan kematian sel,” ujar Paul Breslin, profesor ilmu gizi di School of Environmental and Biological Sciences di Rutgers dan salah satu peneliti utama dalam studi anyar yang diterbitkan dalam Molecular and Cellular Oncology.

Setelah oleocanthal dalam sel kanker, peneliti menemukan bahwa sel kanker sekarat dengan amat cepat – bahkan dalam jangka waktu 30 menit hingga 1 jam. Kematian sel yang terprogram itu membutuhkan waktu 16 hingga 24 jam sehingga para ilmuwan menyadari bahwa ada hal lain yang memicu kematian sel kanker.

Mereka menemukan bahwa sela kanker dibunuh oleh enzim-enzimnya sendiri. Oleocanthal melubangi vesikel (kantong) dalam sel kanker yang menyimpan zat buangan sel. Bagian ini juga bisa dikatakan sebagai pusat daur ulang dalam sel.

Vesikel yang juga diketahui sebagai lysosomes berukuran lebih besar dari sel-sel kanker daripada di sel-sel sehat dan mengandung banyak residu/ sampah.

“Setelah Anda membuka salah satunya, semuanya berakhir,” kata Breslin.

Bahkan yang lebih mencengangkan, senyawa ini tak membahayakan sel yang sehat. Ia hanya bisa membunuh siklus hidup mereka secara temporer atau membuat sel sehat berhibernasi, ungkap Breslin. Setelah satu hari, sel-sel sehat mulai giat bekerja kembali.

Langkah berikutnya ialah menerapkannya di luar laboratorium dan menunjukkan bahwa oleocanthal bisa membunuh sel-sel kanker dan menyusutkan sel tumor dalam badan hewan, demikian kata peneliti senior David Foster dari Hunter College.

“Kami juga harus memahami mengapa sel-sel kanker lebih peka terhadap oleocanthal daripada sel-sel non-kanker.”

Leave a comment

Filed under health