2 Jenis Ayah

LAYANGAN PUTUS sudah jadi buah bibir tak cuma di media sosial tapi juga di grup-grup WhatsApp klaster perumahan saya. Bahkan gegap gempitanya mengalahkan berita gelombang varian Omicron. Luar biasa memang.

Perbincangan soal zina dan perselingkuhan dalam pernikahan (bukan pacaran ya) sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan memang karena seolah dunia ini menjadi memposisikan pria sebagai pihak yang selalu birahi dan wanita sebagai pihak yang tersakiti.

Padahal juga banyak kok suami-suami yang tidak main cewek kayak Aris ini. Ya bukan berarti istrinya lalu yang nakal tapi istrinya juga baik-baik saja. Tidak ada yang selingkuh.

Baru-baru ini ada satu utas di Twitter yang dibanjiri para suami yang mewek karena harus menanggung beban pikiran akibat efek ekonomi pandemi pada mata pencaharian mereka. Mereka ini suami-suami yang masih punya dedikasi pada keluarga dan moral juga. Jadi nggak malah melarikan diri ke pelukan wanita lain atau menghilang begitu saja karena malu atau putus asa. Mereka punya cara berbeda menghadapi itu tapi bukan dengan melarikan diri dari masalah hidup.

Ada yang cerita saudaranya di Jakarta tak memberitahu istrinya saat kena PHK. Masih tetap pura-pura pergi ke kantor padahal cuma nongkrong di Masjid Istiqlal. Lalu ia rela meminjam uang supaya masih bisa beri uang belanja ke istri dan anak dan begitu diterima kerja baru membeberkan kondisi sesungguhnya. Wah, kalaupun ketangkap basah sih nggak bakalan dicerai ya. Makin sayang mungkin iya. kecuali istrinya ‘matre’, mungkin maunya ninggalin saja dan cari suami kaya.

Ada lagi yang pernah bertemu bapak-bapak di warung kopi. Perlente sih tampilannya tapi sebenernya nggak kerja lagi. Dia cuma pake baju kantor buat ‘nipu’ istrinya yang lagi hamil supaya nggak ikutan sedih.

Ada pula yang curhat sudah 2 tahun menganggur. Baru 3 bulan belakangan baru bisa bangkit ekonominya. Meski titel S2 tapi nggak segan ambil kerjaan jadi buruh bangunan. Yang penting halal dan nggak malu-maluin istri. Syukurlah kalau istrinya masih mau memaklumi ya.

Ada juga yang curhat ketemu bapak-bapak yang termangu sedih karena kerap didesak dan dimarahi anak dan istrinya yang mengira ia kerja kurang keras padahal ya sudah mati-matian. Tapi anak istrinya malah habisin duit buat keperluan yang nggak begitu berguna.

Tapi omong-omong banyak juga bapak-bapak yang senang Aris akhirnya cerai dari Kinan. Apakah mungkin mereka bersimpati pada Kinan dan kesel juga sama kelakuan Aris meski sesama cowok?

Sudahlah tak usah lagi bahas “Layangan Putus” ini. (*?)

Posted in miscellaneous | Tagged , | 1 Comment

“Don’t Look Up”, Satir Getir tentang Dunia yang Terpelintir

SELESAI menonton film yang dibintangi Leonardo Dicaprio dan Jennifer Lawrence ini, saya nggak habis pikir. Ini jenis film apa? Saya bingung apakah bisa menyebutnya fiksi ilmiah, futuristik, apocalyptic, tragedi, realis atau komedi? Karena film ini memuat semua elemen tadi secara merata kalau bisa saya katakan sebagai penikmat film amatir.

Uniknya film ini menyinggung semua orang di muka bumi, dari mereka yang menjabat sebagai petinggi negara adidaya sampai netizen jelata yang kekuasaannya cuma kekuatan jempol, hape dan kuota data/ wifi semata.

Film ini dengan sukses merangkum semua dagelan di panggung peradaban kita, tidak cuma di Amerika Serikat yang jadi latar belakang film ini tapi juga negara yang saya tinggali, Indonesia.

Di sini saya disuguhi olok-olok terhadap pers/ media dan integritas para awaknya. Media digambarkan begitu bobrok sampai memberikan bobot yang lebih banyak pada isu-isu romantika dan rumah tangga selebritas dan meremehkan masalah-masalah yang justru lebih penting bagi kemaslahatan kemanusiaan. Sebagai seseorang yang bekerja di dunia media, ini sebuah tamparan keras. Apakah separah itu ya media saat ini?

Lalu ada juga sindiran mengenai pemerintahan dan pejabat korup. Tapi anehnya manusia jelata di semua negara di dunia tak bisa lepas dari jeratan korupnya pejabat dan betapa tidak kompetennya orang-orang di pucuk pemerintahan itu seolah tidak ada pilihan lagi. Mereka memang bisa membuat rusuh, memberontak tapi cepat dilumpuhkan dan dibungkam lagi.

Yang paling getir adalah bagaimana kita tak bisa mengendalikan takdir kita tapi juga sekaligus bisa mengendalikannya pada taraf tertentu. Di sini kita seolah diberitahu bahwa teknologi tak bisa menjawab semua problem hidup kita. Ada banyak masalah pelik kehidupan yang cuma bisa dihadapi dengan kembali ke ‘akar’ kemanusiaan: kepercayaan pada adanya sesuatu di atas kita yang cuma manusia ini dan juga nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kasih sayang, kekeluargaan, dan saling menghargai sesama makhluk hidup.

Film ini bagus dan layak ditonton jika Anda ingin merenungkan alasan kita ada di muka bumi ini. Kenapa kita lahir dan melakukan apa yang kita lakukan saat ini? Apakah mati harus dihindari sekuat tenaga atau direngkuh dengan sukarela? Apa nilai-nilai yang kita harus junjung tinggi dalam hidup dan mesti kita rengkuh lagi jika kita sempat khilaf agar hidup kita berakhir dengan bahagia dan yang terpenting, bermakna? Tapi apakah hidup kita ini memang punya makna atau baru ada makna jika kita memberinya? Entahlah, saya sebagai satu butir debu kosmis yang melekat di bumi ini sendiri tak punya jawabannya hingga detik ini. Dan mungkin memang tak wajib punya. Asal bisa hidup bahagia… (*/)

Posted in save our nation | Leave a comment

Dilema Pengguna Teknologi: Antara Konsumerisme dan Keamanan Siber

TIGA tahun lalu saya beli smartwatch Garmin. Seperti arloji pintar lain yang mulai aus baterainya, begitu pun milik saya.

Karena saya sudah merasakan penurunan kapasitas baterainya yang signifikan, saya pun jarang memakainya. Bayangkan saja sudah cas 2 jam, dipakai 4-5 jam sudah modyar. Capek ngecasnya aja kan? Buang listrik aja.

Biasanya sih saya pakai kalau mau olahraga buat mengukur detak jantung atau kalori yang dibakar. Tapi karena sekarang sudah soak begini, ya sudahlah saya pensiunkan pelan-pelan.

Saya jadi ingin mengganti baterainya dan mengirimkan email pertanyaan ke alamat service.id@garmin.com dan inilah jawabannya:

Dear Bpk/Ibu Akhlis,

Mohon maaf sebelumnya, berikut kami informasikan bahwa produk ini sudah tidak diproduksi pada tahun 2018 dan berhenti menerima reparasi pada tahun 2020.

Mohon maaf sekali lagi, perangkat Anda dengan tipe Vivosmart HR+ sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Terima kasih telah menghubungi Garmin melalui jasa layanan e-mail.

Tim Layanan Garmin berterima kasih atas partisipasi Anda

Silahkan hubungi kami kembali apabila ada pertanyaan lain.

Terima Kasih!

Terima kasih telah memilih Garmin

Jennifer Tseng

Layanan Produk

Garmin APAC Customer Service

Kaget dong saya sebagai konsumen. Masak sih secepat itu lifecycle sebuah produk smartwatch? Cuma 2 tahun?? Serius?

Demi kenyamanan dalam mengukur detak jantung, jarak yang ditempuh, jumlah langkah kaki dan anak tangga yang sudah dilewati?

Otomatis saya memandang smartwatch saya dengan lesu. Masih bagus gini fisiknya sudah nggak bisa dipakai lagi?

Dengan jutaan kasus seperti ini, bagaimana tidak volume sampah elektronik kita menggunung dari tahun ke tahun??

Tangkapan layar Instagram saya

Belum pulih benar saya dari insiden smartwatch Garmin yang sudah dicap kuno dalam waktu kurang dari 3 tahun ini, saya kemarin malam diberitahu Apple bahwa MacBook Air milik saya yang keluaran awal tahun 2014 sudah tak bisa lagi mendapatkan sistem operasi versi terbaru mereka: Monterey.

Tapi tentu Apple tidak seperti Garmin yang baru 2 tahun sudah menghentikan layanan. Mengingat harganya yang juga hampir 7 kali lipat dari gawai Garmin ini, saya sih berharap masih bisa menggunakan laptop MacBook Air 2014 ini sampai 10 tahun. Pokoknya sampai benar-benar bobrok dan tak bisa dioperasikan lagi.

Soal dukungan dan layanan purnajual produk-produk teknologi semacam ini, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman juga yang sedang mempertimbangkan mengganti laptop Asus Vivobooknya dengan yang baru dan lebih bertenaga.

Ia masih ragu apakah membeli MacBook yang berprosesor M1 tapi memiliki layanan purnajual yang buruk dan durasi garansi yang cuma 1 tahun dari iBox sebagai distributor resmi (dan kalaupun ada servisnya ya harganya bisa selangit jadi mending beli baru aja haha) atau pilih laptop Windows keluaran Dell atau Lenovo.

Dell karena menurutnya garansi laptop ini bisa sampai 3 tahun. Bahkan sampai 5 tahun kalau mau membeli garansi ekstranya.

Sementara Lenovo juga terkenal dengan sensasi penggunaan keyboard yang tiada duanya, nyaman sekali. Maklum mereka berpengalaman membuat laptop IBM yang identik dengan laptop bisnis yang tangguh dan tahan lama serta bandel saat dipakai lembur. Durasi garansi mereka juga sama kok seperti Apple, cuma 12 bulan.

Tapi dari riwayat brand Lenovo dan masih banyaknya beredar di marketplace laptop jenis secondhand Lenovo seri lama yang ternyata masih bisa dipakai sampai tahun 2022 ini, saya bisa katakan Lenovo juga sebetulnya bisa dipakai sampai satu dekade lebih kalau kita pintar mengoprek dan mengutak-atik.

Nah, masalahnya saya bukan tipe orang yang paham hacking hardware komputer kayak gini. Maunya yang praktis aja lah, nggak mau mikir repotnya, beli antivirus atau stres karena data dan file sirna kena ulah virus. Ini sesuatu yang traumatis dan saya tak mau alami lagi. Makanya saya ‘cerai’ dari segala produk Windows.

Sempat seorang teman berkeluh-kesah juga pada saya: “Gila itu Apple ‘jahat’ banget lho. iPad aja baru berapa taun udah harus ganti karena aplikasi-aplikasi sekarang nggak bisa dijalanin di situ lagi. Akhirnya terpaksa beli baru deh…”

Kata “jahat” ini memang agak kurang enak tapi bagaimana ya, memang dari sisi konsumen, kita kan beli produk elektronik maunya ya supaya bisa dipakai selama mungkin tapi apa daya perkembangan teknologi juga sangat pesat. Produk sekarang jadi tak sanggup mengakomodasi perkembangan yang terkini. Begitulah jadinya, mesti ganti barang baru lagi saban beberapa tahun. Yang hasilnya juga volume sampah elektronik menumpuk parah di negara kita yang masih payah banget banget manajemen sampah elektroniknya. Jangankan pengelolaan sampah elektronik, smapah rumah tangga saja masih keteteran. Plastik dibuang di sungai dan laut. Hadeh!

Tapi kalau dipikir lagi dari sisi produsen juga memang harus ada pergantian supaya mereka juga bisa cuan terus lah. Kalau sekali beli terus produknya tahan seumur hidup, wah bagaimana bisa meningkatkan angka penjualan??

Dan dari level harga juga, kalau memang harga lebih mahal seharusnya lifecycle-nya juga lebih lama. Misalnya katakanlah laptop 2 jutaan saja bisa dipakai sampai 5 tahun, laptop 10 jutaan seharusnya ya lebih lama dari itu. Tapi sayangnya kenyataanya tidak demikian. Ongkos ekstra itu kita bayar demi mendapatkan kenyamanan ekstra juga seperti prestise (dari memakai brand yang bernilai tinggi), atau keamanan siber yang memang tak kasat mata dan belum dianggap penting semua orang di Indonesia.

Faktor keamanan siber inilah yang saya anggap makin penting bagi konsumen dan pengguna laptop apapun mereknya. Kenapa? Karena insiden peretasan makin sering dan bisa menimpa siapa saja. Bukan cuma orang kaya atau terkenal. Kita yang jelata dan bukan siapa-siapa juga bisa jadi korban kalau lalai dengan data pribadi kita sendiri.

Saya terkesan rewel dengan berhentinya dukungan pembaruan sistem operasi dari Apple untuk MacBook Air saya ini karena saat sistem operasi laptop atau ponsel atau produk teknologi apapun yang kita pakai itu sudah dihentikan dari pihak produsennya, otomatis kita akan kehilangan perlindungan dari risiko peretasan. Ibaratnya serangan hackers dan virus itu makin hebat kayak coronavirus. Variannya makin lama makin tak terhitung dan agar kita aman tentu saja haruslah kita pakai software terbaru yang sudah diperbaiki dan ditutup celah-celah keamanannya. Software dan sistem operasi lama lebih rentan terhadap hackers karena pastinya mereka sudah tahu celah-celah keamanan yang bisa dimanfaatkan. Tapi di software dan sistem operasi terbaru, semua celah sudah ditambal.

Nah, kita dalam kurang dari 2 tahun saja sudah harus suntik vaksin booster supaya lebih kuat dalam menahan serangan varian baru seperti Delta, Omicron, dan entah apalagi itu nanti yang keluar. Bayangkan jika itu laptop dan ponsel Anda yang dipakai untuk bekerja, mencari nafkah, berkomunikasi secara privat, bertransaksi keuangan. Jika privasi dibobol, data pribadi di laptop dan ponsel kita diumbar dan duit yang kita simpan di bank ditarik hacker ke rekening lain, kita bakal susah mendapatkan kembali semua privasi dan aset tadi (kalau dibilang tak mungkin sama sekali).

Jadi, mau mengutamakan keamanan siber (yang artinya harus beli baru segera) atau menghemat saja meski keamanan sudah menurun?

Akhirnya semua ini kembali ke isi saldo rekening masing-masing. Chuaksss! (*/)

Posted in technology | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Ambivalensi Pria Indonesia, Tariq dan Fogging Gratis

Film kekerasan seksual yang ditulis pelaku kekerasan seksual. [Wikimedia Commons]

BEGITU selesai menonton film “Penyalin Cahaya” (2019) saya langsung mengetik tulisan bernada komentar ini karena saking gatalnya. Meski secara umum saya bisa katakan film ini cukup mencerminkan kenyataan penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan kampus, ada beberapa hal yang mengundang komentar dari saya.

Saya yakin sudah banyak orang yang menonton film satu ini karena hype atau keriuhan pemberitaannya sudah dari lama. Saya sendiri bukan movie goer yang menderita sindrom FOMO, yang merasa harus menonton sebelum yang lain karena takut dianggap ketinggalan. Kalau saya sih ketinggalan ya ketinggalan saja. Santai.

Terus terang saat memasuki adegan penghapusan hak beasiswa Sur akibat unggahan foto-foto mabuknya di media sosial itu, saya langsung berkomentar di Instagram stories saya bahwa inilah kenapa kita tak boleh mabuk-mabukan. Bang Rhoma Irama itu benar 1000%, kan? Tapi ya meski anaknya sendiri juga terjerumus di penyalahgunaan obat-obatan.. That’s beside the point.

Tapi sejurus kemudian saya menyadari bahwa reaksi itu muncul dari pikiran patriarkal saya yang tumbuh dan dididik di lingkungan yang mengagungkan sistem patriarki.

Saya sadar dengan berkomentar demikian ternyata saya tak berpihak pada Sur yang jadi korban pelecehan seksual di sini. Saya malah menyalahkan Sur dengan berfokus pada asumsi “coba kalau Sur nggak mabuk atau menolak minum alkohol, pasti dia nggak bakal tertimpa kejadian tragis kayak gini…”

Di sini saya menyadari bahwa saya masih memiliki pola pikir konservatif, bahwa minum miras setitik pun terlarang karena ada akibat buruknya bagi diri kita dan keluarga dan orang lain (bisa lihat kasus Gaga Muhammad).

Tapi untuk itu saya tak perlu meminta maaf sepertinya karena memang itulah keyakinan saya. Kalau di kitab suci dilarang, pastilah ada kerugian yang lebih besar daripada manfaat di balik sebuah benda terlarang tadi.

Namun, di sisi lain saya juga tak setuju dengan representasi konservatif di film itu yakni bapaknya si Sur yang memang relijius tapi kok tidak ada empati dan kasih sayang sama sekali buat anaknya. Ia terkesan cuek dan tak membela anak kandungnya sama sekali. Ia tampak tak punya tanggung jawab keuangan karena ibunya Sur yang menjalankan warung makan dan dia-lah yang pertama mengeluh saat tahu beasiswa Sur dicabut.

Representasi konservatif lainnya yang membuat jengkel ialah bapak dewan etika yang menjadi tempat Sur memberikan dokumen bukti pelecehan seksual. Lha dewan etika kok malah tak punya etika, menyebarkan dokumen amanah orang yang harusnya dijaga ketat?

Tapi di samping secuil pola pikir konservatif dan patriarkis tadi, saya juga memiliki keberpihakan pada Sur sebagai korban. Saya juga pernah jadi korban perundungan senior kampus dan itulah kenapa saya bisa memahami kemarahan Sur yang ingin menyelidiki kasus ini sampai tuntas benar meski akhirnya… [no spoiler sorry].

Saya juga ingin ada perubahan di budaya masyarakat dan kampus kita yang dari zaman dulu sudah kental senioritas. Dan ini payahnya kok tak berkesudahan meski sudah digembar-gemborkan aturan anti perundungan di lingkungan kampus. Dengan begitu saya termasuk punya pandangan yang progresif, liberal, dan terbuka juga sebenarnya.

Saya malah curiga apakah saya menderita “ambivalensi”. Menurut KBBI, kata ini artinya “perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama atau terhadap seseorang pada waktu yang sama.”

Tapi seketika itu juga saya sadar bahwa ini jugalah yang korban-korban juga bisa rasakan terhadap para peleceh mereka. Peleceh ini bukan orang yang sepenuhnya jahat. Sering mereka adalah sosok ‘pengayom’ di sekitar kita. Mereka bisa baik, dermawan, penuh kharisma seperti Rama. Tapi mereka juga merusak, memperlakukan dengan hina, meludahi martabat korban. Sangat kompleks.

Lain kalau mereka tokoh antagonis sinetron Indonesia yang simpel: kalau jahat ya jahat banget dan kalau baik ya baik banget. Itu sih lebih mudah untuk menghakimi tapi sayangnya di dunia nyata tak begitu.

Dan saya curiga apakah pria-pria di Indonesia yang menonton ini juga merasakan ambivalensi ini atau mereka pura-pura tak mengalaminya?

Ambivalensi ini juga tecermin nyata dari terkuaknya rekam jejak Henricus Pria, penulis naskah film ini. Beberapa waktu lalu ia dikabarkan tersandung skandal pelecehan seksual juga. Bayangkan syoknya jadi cewek korban pelecehan seksual yang suka film ini karena sudah bisa menyuarakan aspirasi mereka tapi juga jadi eneg dan geram karena film ini dihasilkan dari otak seorang pelaku pelecehan seksual. Inilah ambivalensi yang saya maksud itu!

Lalu soal tokoh Tariq yang kelihatan seperti Alpha Male di sini tapi ternyata juga budak Alpha Male lain. Kenapa ia tak mau menuliskan kisahnya di selembar kertas atau menyuarakan itu lebih lantang? Bahkan saat korban perempuan lainnya dengan berani bersuara, ia cuma menyebarkan salinan luka sayatan di pergelangan tangannya.

Lho kok cuma segitu? Jelas dia masih setengah hati dalam membeberkan kisahnya sebagai kaum minoritas di semesta pelecehan seksual yang populasinya didominasi perempuan. Mungkin saja ia merasa minder dan tertekan lebih berat karena statusnya sebagai pria (tapi kena tindas pria lain yang lebih berkuasa dalam grupnya) dan sebagai pasien dengan kondisi kejiwaan tertentu.

Tariq juga menjadi cerminan pertemanan cowok zaman sekarang yang mungkin sekilas mirip keluarga. Tapi hanya karena saling menyapa “bro”, bukan berarti juga semua masalah pribadi bakal diceritakan. Ini lain dengan cewek yang cenderung lebih terbuka soal perasaan dan beban pikirannya dengan sesamanya. Ya ini mungkin juga andil dari toxic masculinity yang mengharuskan cowok-cowok harus tampil kuat dan teguh dalam kondisi apapun.

Terakhir, pengasapan (fogging) gratis itu sangat mengganggu pikiran saya. Kenapa sih ditampilkan dengan porsi yang menyita perhatian? Apa pentingnya sih sampai sutradara memberi ruang khusus untuk pengasapan pencegahan demam berdarah ini?

Kalau saya terawang, bisa jadi upaya untuk menyelipkan sebuah pesan melalui metafora bahwa fenomena pelecehan seksual itu mirip betul dengan penyakit demam berdarah di Indonesia. Dia itu laten. Bakal selamanya ada. Fogging gratis sebanyak apapun juga mustahil memusnahkan DB selama-lamanya. Nyamuk Aedes Aegypti itu bakal terus beranak pinak sampai kiamat nanti kok saya yaqin. Dan kalau fogging ini kebanyakan dilakukan malah bisa menyesakkan dan meracuni manusianya sendiri. Nyamuknya klenger memang tapi manusianya juga. Mirip dengan pengangkatan isu kekerasan seksual ini sebagai wacana atau diskursus di mana-mana tapi malah kita lupa di dunia nyata, penanganannya tak ada kemajuan. Buktinya RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual tak kunjung disahkan sampai detik ini.

Jadi, kok naif sekali ya kalau kita berpikir bahwa suatu saat pelecehan seksual sirna 100% dari Indonesia bahkan dunia. Cuma, yang bisa kita lakukan memang terus berjuang menegakkan keadilan untuk para korban pelecehan dan kekerasan seksual tanpa memandang gender dan hal lainnya bahwa ini tak semestinya terjadi karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan juga agama (kan katanya bangsa ini super relijius!). (*/)

Posted in save our nation | Tagged , , , | Leave a comment

Yang Lebih Penting dari Nasihat, Saran, dan Rekomendasi Orang Lain

SEBUAH entri yang mengejutkan saya temukan di website sebuah portal berita online yang ternyata memuat nama saya. Unggahan tertanggal 26 Agustus 2009 itu begini isinya:

Assalamualaikum wr. wb.,

Saya lulusan S2 bahasa Inggris yg ingin membuat lapangan kerja sendiri. Selama ini sudah mengajar tapi merasa monoton dan kurang bervariasi. Saya suka menulis dan terpikir untuk mendapat penghasilan dari menulis di internet. Saya juga sudah mulai menulis blog tapi masih agak buta dengan apa yg harus saya lakukan agar mendapat penghasilan seperti yang diharapkan. Banyak blogger yang konon bisa mencetak penghasilan hingga melimpah ruah namun sebagai pemula saya benar-benar memerlukan mentor yang dapat  memberi saran dan kritik. Kira-kira, menurut bapak, apa yang harus saya lakukan? Terimakasih.

Wassalamualakum wr. wb,

Akhlis Purnomo

————

Untuk saudara Akhlis,

Saya senang anda clear dengan potensi dan keinginan yang ingin dilakukan terutama tentang menulis, mengajar dan mendapatkan income lebih, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memulainya. Saran saya:

1. Jadikan keahlian mengajar dan menulis sebagai salah satu keahlian yang benar-benar dikuasai, caranya adalah dengan banyak melakukan “Practice & Improve”

2. Magang! Belajarlah pada orang yang sudah berhasil, yang anda kagumi dan banyak menghasilkan uang dari keahlian seperti yang anda miliki.

3. Dengan keahlian anda, ciptakan uang melalui berbagai cara, bukan satu cara saja. Contoh: menulis buku, menulis buku orang lain, menjadi dosen, menjadi trainer, menjual seminar, dsb

Semoga bermanfaat, salam Indonesia!

HT

Haha saya sungguh lupa dengan siapa saya melontarkan pertanyaan ini. Serius. Inilah kelebihan menulis di Internet. Tidak akan terhapus meski si pemilik sudah lupa atau tak menyimpan di komputer. Tapi juga menjadi sebuah potensi bahaya yang bisa disalahgunakan orang, terutama jika informasi di dalamnya sangat kurang elok dipertontonkan ke orang lain. Katakanlah konten atau tulisan yang memalukan kita sendiri di masa datang, memalukan bagi keluarga dan teman kita sendiri dan merongrong nama baik yang berusaha kita bangun dan pertahankan dengan segala cara.

Di tahun 2009 itu, saya memang masih di kota asal dan ingin sekali bekerja dari rumah (ya saat itu saya sudah sangat berambisi untuk mencari nafkah dari rumah saja tanpa capek-capek berangkat kerja yang kemudian terwujud di masa pandemi ini). Internet saat itu masih sangat mahal. Saya ingat harus membeli sebuah modem dari M2 Indosat yang harga pulsanya duhhh, bisa bikin kantong bolong karena mahal dan baru dibuat berselancar di dunia maya beberapa menit saja sudah habis. Tandasss! *menangis*

Jadi kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, saya sudah sangat sangat bersyukur karena sudah bisa menulis dengan nyaman dengan jaringan wifi di rumah yang murah (biaya abonemen koneksi Indihome bulanan saya pilih termurah Rp340.000an) dan kecepatannya sudah lebih memuaskan daripada 13 tahun lalu di sana.

Dari poin-poin nasihat pak HT (yang entah siapa kepanjangannya), saya mendapati bahwa sekarang saya sudah berhasil mencapai beberapa poin tadi.

Saya masih tetap mengajar meski bukan sebagai dosen tapi mengajar les menulis bahasa Inggris dan yoga secara partikelir serta bahkan mengajari sejumlah pegawai di birokrasi mengenai keterampilan bermedia sosial. Saya juga mengikuti kursus media sosial bersama Virtual Consulting yang digawaingi Iim Fahima dan alm. Nukman Luthfie. Dari bidang menulis tadi saya mencoba memperluas cakupan keterampilan saya ke dunia digital yang sangat booming saat awal tahun 2010-an. Saya juga bergabung dengan komunitas blogging Kompasiana untuk mengasah terus keterampilan ini dan sekarang saya bisa menulis artikel yang kemudian menjadi headline. Ini sebuah pencapaian yang menurut saya tak bisa dikecilkan maknanya.

Untuk nasihat magang, saya berkesempatan bekerja dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam sebuah tim yang solid. Saya kini memiliki koneksi ke dunia penerbitan, sastra, agensi periklanan, dan sebagainya yang masih berkaitan erat dengan dunia kepenulisan.

Soal nasihat ketiga, ciptakan uang melalui berbagai metode, saya bisa katakan saya sudah mencoba menghasilkan uang dari kemampuan menulis ini. Saya sudah pernah mengerjakan proses penulisan sebuah buku berbahasa Inggris, mengerjakan risetnya, mewawancarai orang-orang yang menjadi narasumber dalam buku tersebut.

Bahkan saya juga sudah mencoba sebagai penulis bayangan (ghostwriter) dengan menuliskan draft autobiografi/ memoar seseorang, kemudian saya juga menulis naskah pidato untuk klien korporat dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Saya juga pernah menerjemahkan sebuah ensiklopedia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang diterbitkan penerbit Singapura Springer.

Anehnya saya sendiri lupa sudah meminta nasihat ini dan secara alami saya mengikuti alur hidup saja dan semua ini bisa tercapai dengan ‘sendirinya’ (meski juga ada intervensi banyak pihak tentunya).

Ini jadi sebuah pengingat bagi diri saya sendiri agar saat merasa kebingungan dan tak pasti dalam menapaki kehidupan, just do it. Teruslah bergerak. Mau 1 langkah, 2 langkah tak masalah asal masih terus bergerak maju. Tidak tetap mematung di titik yang sama.

Saya harap saya akan masih bisa membaca refleksi/ renungan ini satu dekade mendatang dan mengatakan dalam hati: “Kamu sudah berada di jalur yang benar kok. Asal tetap mendengarkan kata hatimu. Bukan kata orang di sekitarmu…” (*/)

Posted in blogging, writing | Tagged , | Leave a comment

Memelihara Konsistensi Lebih Sulit daripada Intensitas

SEBUAH kalimat mutiara dari legenda seni beladiri Bruce Lee yang bisa diterapkan juga lho di dunia menulis dan blogging.

Karena menurut saya menulis itu butuh stamina jangka panjang yang tidak dimiliki sembarangan orang. Cuma mereka yang memiliki determinasi dan konsistensi yang tinggi dan stabil yang bisa mencapainya.

Mereka ini bukan orang-orang yang bekerja berdasarkan inspirasi dari muse atau ‘wahyu ilahi’ atau wangsit tapi membiasakan untuk terinspirasi dan mencari inspirasi tiap hari agar bisa produktif setiap saat.

Untuk Anda yang merasa bahwa Anda sangat ingin menekuni dunia tulis menulis profesional, lakukan dan belajar saja terus-menerus tanpa merasa terbebani atau terpaksa. Saat perasaan terpaksa itu muncul, lebih baik berhenti saja sih menurut saya. Saat Anda melakukan pengorbanan dan Anda merasa bersuka cita, sukarela dan bisa menikmati pengorbanan itu karena tahu bahagianya perasaan kita saat nantinya impian itu tercapai, maka Anda sudah berada di jalur yang benar. Bukan ‘sesat’. (*/)

Posted in blogging, writing | Tagged , , , | Leave a comment

Tipu-tipu Belanja Online

BERBELANJA online mensyaratkan satu hal buat Anda para pembeli: kejelian untuk berimajinasi.

Betul. Saya tidak bercanda untuk hal ini.

Sebagai pembeli melalui kanal daring, Anda mesti bisa membayangkan bagaimana penampilan Anda jika pakaian yang hendak Anda beli melekat di tubuh.

Kalau Anda tidak punya kemampuan seperti ini, please jangan beli daring. Daripada kecewa sih.

Ya memang bisa kalai mau retour, tapi kalau saya kok tidak punya kesabaran untuk bolak-balik seperti itu. Gemas saja kalau membayangkan betapa mudahnya beli di toko seperti zaman dulu.

Seperti kasus saya ini. Menyadari ukuran badan yang lebih di spektrum usia remaja tanggung daripada pria dewasa, saya pun mencari di section anak-anak saja. Saya capek membeli pakaian, lalu menyadari ukurannya kebesaran dan harus mengecilkan ke penjahit atau tukang permak terdekat.

Lalu saya coba mencari dan ketemu celana pendek yang lumayan menarik. Celana pendek golf anak laki-laki.

“Wah bagus nih. Potongannya juga rapi dan sleek,” gumam saya.

Begitu barangnya tiba dan saya coba di depan cermin, saya merasa tidak ada yang aneh.

Iya, saya merasa sedang memakai celana golf saja. Stylish pokoknya.

Lalu saya mencoba mengunggah foto saya dengan celana baru ini di Instagram.

Beberapa teman mengomentari seolah saya seorang anak SMP. Apakah itu karena saya pakai kemeja dan kaos kaki panjang sebetis?

Entahlah, tapi dari sana saya juga menyaksikan bahwa celana warna navy blue ini ternyata ikut andil dalam membuat kesan boyish style ini.

Setelag saya batin-batin lagi, iay betul, rasanya kok selintas saya sedang pakai celana seragam SMP.

Ah, kesal!!! (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , | Leave a comment

Kerokan Cuma di Indonesia? Ah Masa Iya?

(Foto: @shan.alexander)

SEPERTI batik, kerokan juga sebetulnya bukan budaya yang cuma ada di Indonesia lho.

Buktinya di Vietnam, apa yang kita sebut sebagai kerokan disebut sebagai terapi GUA SHA.

Kata orang Amerika yang diberi terapi ini sih rasanya nggak sakit tapi kelihatan ‘liar’ aja.

Iya lah badannya lumayan tebel. Coba kalau yang diberi terapi kurus kering. Pas kena tulang iga, meringis-ringis pastinya. (*/)

Posted in health | Tagged , | Leave a comment

Pola Judul-judul Berita Media Daring yang Jangan Sampai Diklik!

SEBAGAI anak media, emang ngeselin banget kalo baca berita-berita dengan judul yang hmm…klise dan clickbait banget. Menipu pembaca dan nggak mendidik karena biasanya sih nadanya memojokkan atau seksis atau diskriminatif dan bias.

Dari obrolan dan cuitan akun Twitter @ndorokakung, aku bisa rumuskan sejumlah pola yang biasanya dipakai para editor media online yang memburu pageviews dan klik ini.

Ini beberapa di antaranya pola judul/ headline yang jangan sampai dibaca nggak peduli gatelnya jempol buat nge-tap layar hape:

  • DITUDING … BEGINI PENJELASAN …
  • BEGINI PENJELASAN DARI … YANG DITUDUH …
  • VIRAL DITUDUH … , … BERI KLARIFIKASI
  • [ISI DENGAN ANGKA] FAKTA SOAL ….
  • VIRAL TUDINGAN ….., BEGINI KRONOLOGINYA
  • ….. BERIKAN KLARIFIKASI SOAL …
  • #KAMUHARUSTAU FAKTA MENARIK …. YANG DITUDUH ….
  • WASPADA! INI DIA [ISI DENGAN ANGKA] KALAU …
  • INILAH SOSOK …YANG DITUDUH …
  • …. CANTIK/ GANTENG/ SEKSI INI BIKIN NETIZEN GAGAL FOKUS
  • INI ISI …. [GARASI/ TAS/ DOMPET/ RUMAH/ MOBIL] MILIK [ISI DENGAN NAMA ORANG]

Kenapa jangan diklik atau dibaca?

Ya logikanya kalau diklik berarti udah kasih duit ke mereka yang tayangin berita kurang bermutu kayak gini.

Dengan mengklikdan membagikan, kita seolah memberikan dukungan.

Dengan menggunakan perhitungan jumlah klik tadi, mereka bisa menjual space beriklan ke orang lain dengan tarif yang WOW. (*/)

Posted in save our nation | Tagged , | Leave a comment

Setuju dengan Pak Luhut. Saring Turis Sesuai Saldo Rekeningnya!

PERNAH nggak lu ngajuin paspor ke Kantor Imigrasi dan karena lu masih kerja lepas, petugas bilang: “Sori nggak melayani…”?

WTF.

Ini kejadian ama gue yang kemudian jadi males ngurus paspor meski udah ada kerjaan formal lagi.

Sungguh mengerikan sih stigma pekerja lepas di Indonesia. Udah nggak dapet tunjangan pas puncak pandemi kemarin, masih didiskriminasi dalam hal layanan publik sefundamental paspor.

Kantor Imigrasi seakan menganggap kalo lu bikin paspor tanpa kerjaan formal (baca: kantoran), lu bakal jadi imigran gelap di negara orang atau penyelundup atau jual beli manusia atau melacur.

Heloow!

Secetek itulah masyarakat kita menganggap para pekerja lepas.

Pekerja lepas yang kerja di rumah apalagi sebelum pandemi saat tren WFH belum meluas kayak sekarang ini sering dicibir nggak punya kerjaan karena mendekam di rumah terus.

Eh gantian mereka bisa membiayai hidup dan makmur, dikira sama tetangga memelihara pesugihan. Tetangga jahanam kan?

Nah diskriminasi dari pihak masyarakat dan pemerintah kita sendiri juga makin diperparah nih sama ketatnya saringan negara luar sama turis Indonesia.

Buat bisa berkunjung sebagai turis di teritori Amerika Serikat misalnya harus ada ‘endapan’ dana di rekening bank kita sebanyak Rp50 juta konon (sumber: dari sini).

Dan alasannya sih katanya ini supaya mengurangi risiko jadi imigran gelap atau pekerja ilegal di negara tujuan.

Tapi kok gue cari-cari belum ketemu ya sumber apapun yang menyebut turis asing terutama negara Anglosakson (yang bahasanya Inggris kayak AS, Inggris, Australia) maupun negara Eropa lainnya, bahwa mereka juga wajib punya saldo rekening sebanyak itu supaya nggak jadi turis pengemis di negara kita?

Karena ini dari apa yang gue denger dari temen yang nyewain vila di Bali, turis-turis Rusia dan beberapa negara lain juga ada kok yang nggak sanggup bayar penginapan selama di sana dan bahkan ada yang melarikan diri dari vila karena menunggak parah.

Jadi kalau pak Luhut atau yang biasa netizen sebut dengan “Lord Luhut” menetapkan aturan saldo minimal buat turis asing pas mau masuk ke negara kita, gue setuju banget! No backpackers ga jelasss!😎

Indonesia, please jangan mau diinjek-injek terus! Kita mesti berhenti jadi ‘sapi perahan’ negara-negara lain yang mungkin di percaturan politik dunia udah kayak tirani. Maunya dihormati melulu tapi giliran dia disuruh kasih respek yang setimpal nolak. Hiyyh banget ga si?

Pas mereka masuk Indonesia wajib banget lah harus bisa bahasa Indonesia (kudu ambil tes sejenis TOEFL tapi buat kemampuan komunikasi bahasa Indonesia) dan harus nggak miskin-miskin banget. Jangan sampai jadi begpackers di sini!

Dan yang ngeselin sih emang sebagian orang asing itu nggak mau belajar bahasa kita. Loh, kamu itu tamu lhooo!

Hormati dong tuan rumah dengan belajar bahasa dan budayanya. Ini bisa ditemui di Jakarta kok, para ekspat yang udah bertahun-tahun kerja di the Big Durian tapi diajak ngobrol pake bahasa Indonesia cuma plonga plongo.

Jadinya orang Indonesia deh yang terpaksa beradaptasi pake English. Tapi itu pun memaksakan diri dan merasa rendah diri pula karena grammarnya ga jelas.

Haduh, sadar nggak sih kita ini justru lebih pinter karena bisa banyak bahasa daripada yang bisanya cuma bahasa ibu mereka?

Kenapa harus minder kalo grammar kaco atau pengucapan berantakan?

Ya wajar dong kan bukan bahasa ibu kita. Kecuali bapak atau ibu kita emang bule kayak Cinta Laura atau Sophia Latjuba itu.

Tapi ya kembali lagi ke topik pak Luhut tadi yang nyaring turis berdasarkan kemampuan finansial, tolong segera realisasikanlah pak.

Kalo kalian sendiri gimana? Setuju nggak sih ama pemikiran gue? (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , | Leave a comment

Kenapa Pria Juga Harus Kencing Duduk/ Jongkok?

KEMARIN menjadi Jumat terakhir untuk menunaikan ibadah salat Jumat bagi pria muslim.

Dan menanggapi fakta itu, seorang teman yang agak-agak sekular berkicau begini di Twitter: “Hmm, tadi apa ya isi khotbahnya? Ya paling gitu-gitu aja. Nggak berubah dari 1400 tahun lalu.”

Hmm, saya sih nggak antipati sama ajarannya karena yakin itu baik, ada tujuan di baliknya meski sekilas nggak logis atau kurang akomodatif dari segi kepentingan kenyamanan manusia.

Tapi saya cuma hati-hati sama manusia yang menyampaikannya. Karena lewat mereka ajaran bisa sampai secara akurat atau tidak atau cuma setengah akurat.

Jadi bisa saja isi ajarannya satu tapi interpretasi dari para manusia yang menyerap dan mengajarkannya menjadi majemuk dan bisa jadi ‘menyimpang’ dari isi yang semula.

Mari singkirkan dulu deh prasangka bahwa isi khotbah Jumat pasti itu-itu saja dan membosankan.

Ya memang karena isinya adalah pengulangan dan pengulangan seperti kita tahu sangatlah perlu saat manusia belajar. Manusia harus terus diingatkan secara konstan sepanjang hidupnya karena sudah sifatnya menjadi lupa atau khilaf. Sudah sering diingatkan saja kita masih lupa dan khilaf kok. Apalagi tidak.

Nah, di salat Jumat terakhir 2021 itu saya mendengar sepatah nasihat yang lumayan klise tapi kok ya bagus buat membuat saya tetap fokus pada jalan hidup yang selurus mungkin.

Si khotib mengatakan ini jalan agar selamat dunia akhirat. Gitu lah.

Pertama adalah menjaga salat.Ya tau lah, ini nasihat paling klise buat muslim tapi memang di kenyataannya nggak semua yang KTP-nya muslim itu sanggup dan mau menunaikan salat 5 waktu dengan baik dan khusyuk.

Kedua adalah bersedekah secara teratur. Mau jumlahnya berapa juga nggak masalah asalkan ikhlas dan tidak ada motif lain selain untuk mengabdi pada Allah SWT. Kalau niatnya yang lain ya kurang murni. Saya sih nggak mau bilang pahala berkurang atau apa. Itu hak prerogatif Allah.

Ketiga adalah membaca Al Qur’an dengan teratur. Ini memang ironis sih. Muslim-muslim sekarang banyak yang belum bisa membaca Al Qur’an dan sampai tua masih malu belajar padahal ya itu kan bagian dari identitas mereka sebagai muslim. Itulah kelemahan menjadi muslim karena faktor kelahiran. Ya asal nerima keadaan aja. Nerima nggak, nolak juga nggak bisa. Jadinya hampa aja kehidupan religi dan spiritualnya.

Bahkan si khotib bilang jangan bangga kalau anak-anak muslim sekarang cuma pintar bahasa Inggris dan Matematika tapi baca Al Qur’an saja tak bisa sehuruf pun.

Keempat, kata si khotib, adalah istiqomah dalam membaca tasbih. Menurut banyak sumber, memang para malaikat ini senantiasa membaca tasbih.

Kemudian ia juga menyatakan 4 hal yang harus dihindari.

Pertama penyakit bohong, kedua khianat, ketiga adu domba dan terakhir yang paling tak terduga bagi saya adalah larangan kencing berdiri. Hmmm, saya pikir-pikir lagi.

Kenapa ya bisa begitu?

Ternyata kalau saya cari sumber dari AskMen.com, para pria disarankan kencing duduk agar air seni tak menciprat ke mana-mana. Kalau kita kencing berdiri, biasanya bakal susah menjaga air kencing itu tepat masuk ke lubang toilet. Apalagi kalau buru-buru. Ini juga menjengkelkan pengguna toilet selanjutnya karena menjijikkan duduk di atas toilet yang tak dibersihkan setelah kencing berdiri. Plus, kencing duduk atau jongkok tak membuat suara mengucur yang keras dan mengganggu apalagi jika di malam hari atau di suasana sepi.

Kenapa pria benci kencing duduk atau jongkok?

Katanya sih karena tak mau disamakan dengan perempuan. Masak kita cowok kudu ikut kencing duduk atau jongkok kaya perempuan padahal kita punya ‘selang’ atau ‘pipa’ yang bisa disesuaikan arahnya.

Ya masalahnya kadang pengarahan ‘selang’ itu sembarangan dan memercik kembali ke celana yang bisa jadi masalah karena najis. Dan tentu beribadah dengan celana yang bernajis membuat ibadah kita tak diterima. Setidaknya begitu sabda para ahli fiqih.

Sebuah eksperimen menarik dilakukan oleh para pria di video ini. Dan memang para pria masih dihantui stigma ‘kencing duduk cuma untuk cewek’. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , | Leave a comment

Kenapa Lebih Baik Tidur daripada Begadang di Malam Tahun Baru

Matahari terbit pertama di 2022. (Dok. Pribadi)

HERAN banget sih sama banyak orang yang sangat gemar begadang demi perayaan tahun baru.

Karena ya mungkin karena aku juga nggak membiasakan diri buat begadang demi selebrasi pergantian kalender tahun masehi.

Daripada begadang, aku kok merasa lebih baik bangun pagi supaya nggak melewatkan keajaiban-keajaiban pagi hari.

Kayak ini nih…

Pelangi🌈 perdana 2022. (Dok. Pribadi)

Indah bangettt!

Sebuah busur pelangi raksasa yang nggak banyak orang bisa saksikan karena mereka masih tidur, masih bersembunyi dalam rumah karena cuaca pagi ini memang dingin dan basah karena rintik hujan yang sporadis.

Dan tentunya merekahnya matahari pagi yang meski agak tertutup awan hari ini tapi semoga nanti siangan bisa terik supaya hari ini lebih hangat. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , | Leave a comment